Ketika Cinta Bertasbih

sungai-nil

KETIKA CINTA BERTASBIH

 

 

Tanpa terasa kebersamaan 35 hari telah usai. Kalimat perpisahan pun mengganti ucapan selamat datang yang diucapkan sebulan yang lalu. Dua hari yang lalu Sinemart yang menggarap film Ketika Cinta Bertasbih, bersama sutradara, penulis novel, aktor dan aktris dan kru resmi berpamitan pada malam tasyakuran yang diadakan di lapangan Wisma Duta, KBRI Cairo di Garden City.

Saya memang tak selalu mendampingi mereka dalam setiap shooting, baik di beberapa tempat di Cairo maupun di kota Alexandria. Sesekali saja, saat diperlukan, karena –hanya- sekedar membantu para aktor/aktris ketika ada adegan berbahasa arab dan atau dengan lawan main orang-orang setempat.

Meski demikian saya bisa merasakan suasana keakraban, kekeluargaan dan kebersamaan yang sangat dalam antara mereka dan teman-teman yang membantu mereka selama di sini. Sesekali saya menjumpai mereka menitikkan air mata, tak sedikit ternyata. Saat sebagian di antara mereka mengabadikan gambar kebersamaan, detik-detik menjelang kepergian sang sahabat kembali ke tanah air. Saya ikut terharu.

Memang saat Sinemart memberanikan diri untuk shooting di lokasi asli sebagaimana di novel, merupakan sebuah keajaiban tersendiri. Keberaniaan yang laik diapresiasi. Apalagi ketika mengangkat sebuah film relijius yang berbasic novel laris karya seorang Habiburrahman, sarjana hadits dari Universitas Al-Azhar. Penggarapannya pun tidak main-main. Keseriusan ini sangat nampak dari sejak audisi mencari lima pemeran utama, sampai mengadakan sebuah karantina pemondokan terakhir bagi para pemain demi menjaga lingkungan dan penjiwaan terhadap film.

Pembuatan skenario film juga berkali-kali mengalami revisi. Belum lagi, murajaah lughawiyah (pengecekan bahasa arab) yang juga beberapa kali direvisi, hunting lokasi shooting, menentukan partner kerja PH dari Mesir, menjadwal shooting, dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah lembaga profesional, tentunya nuansa bisnis dalam pembuatan film ini pasti tak dinafikan. Tapi nuansa dakwah dan perwajahan lain bagi perfilman Indonesia juga terselip di sana. Saya berharap film relijius yang mencerahkan dan menyejukkan seperti ini bisa digarap secara profesional sehingga nantinya memberi warna baru bagi dunia perfilman Indonesia. Sebuah genre baru yang sangat mencerahkan dan menampilkan hiburan yang mendidik. Ke depan medan dakwah sekaligus perbaikan sosial masyarakat di antaranya bisa ditempuh melalui jalur ini.

Sehingga produser-produser yang mengejar untung dan berbisnis ansich akan segera tersadar. Film-film yang membodohi masyarakat dengan sendirinya akan tersingkir. Sehingga nantinya, tak ada lagi film-film yang terlalu mengekspos dunia mistik, mengumbar aurat dan nafsu serta kehidupan yang hedonis. Dan hiburan memang tak selalu identik dengan hura-hura. Karena sambil menimati hiburan pun kita masih bisa mendewasakan diri. Sehingga bukan hanya kepuasan otak kita dapat, hati kita pun akan tetap stabil.

Selamat jalan kami ucapkan kepada segenap kru dan pemain. Kami hanya bisa membantu dengan doa. Segala keterbatasan selama kami membantu proses pengambilan gambar dan adegan semoga bisa tertutupi dengan keakraban dan beberapa masukan konstruktif.

Sebagaimana, khususnya saya mendapatkan banyak pelajaran dari proses ini. Pelajaran prfesionalisme, kesungguhan, kedisiplinan selain pelajaran dari isi cerita film dan novel KCB ini sendiri.

Kini semua telah kembali seperti semula. Saya sempat berpesan kepada sebagian teman-teman yang tergabung dalam Rafii Travel Groups -yang menjadi partner Sinemart- untuk kembali menekuni fungsi semula sebagai thalibul ilmi. Sebagaimana tuntutan profesionalisme di masyarakat, saatnya dibuktikan dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Dari pengalaman selama sebulan ini ambillah sebanyak-banyaknya hal-hal yang bermanfaat dan segera tinggalkan bekas-bekas dan kenangan yang mengganggu. Baik mengganggu hati maupun cita-cita. Sekaligus bisa dijadikan sebuah momentum untuk sebuah permulaan. Memperbarui semangat belajar. Menjadi pembelajar sejati. Bagi yang berada di S1 sebulan lagi akan segera menghadapi ujian musim dingin, semester ganjil.

Kelak al-Azhar akan kembali menjadi kiblat intelektual Islam dan dunia. Para alumninya fasih dan mumpuni dalam berbahasa arab, berwawasan keagamaan dan umum yang luas, argumentatif dalam berdialog serta metodologis dalam menyampaikan suatu gagasan, mudah dipahami audiens sekaligus terlihat kualitas dan mutu ide yang brilian. Kita tak lantas sekedar bangga memakai jubah kebesaran namanya. Karena jika itu terjadi, bagaikan orang yang kedodoran, kecil badannya dan pakaian yang dikenakan terlalu besar untuk ukurannya. Jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan masyarakat yang sudah –terlanjur- berekspektasi terlalu tinggi terhadap kita.

Kita tak akan mengecewakan mereka. Buktikan dengan kesungguhan kita menuntut ilmu dan kejernihan niat kita untuk kembali berbuat dan memberi kontribusi dan kemanfaatan buat mereka.

Meski kita tak sedang memerankan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta atau sebagai Azam dalam Ketika Cinta Bertasbih. Cukup kita menjadi diri kita yang sebenarnya.

Saat itulah cinta benar-benar bertasbih. Sebagaimana tasbihnya matahari dan bulan, bintang dan pepohonan, bahkan burung-burung yang mengepakkan sayapnya. Cinta yang akan memudarkan ruwetnya jiwa-jiwa yang dipenuhi dengki dan permusuhan. Terutama umat Islam yang dibelenggu oleh berbagai skat bernama baju primordial, kelompok, organisasi atau golongan. Hingga kelak kita bisa memajukan negeri yang tak henti-hentinya dirundung bencana dan krisis. Menjadi negeri baru berwajah teduh, berkarakter dan bermartabat serta berprestasi.

 

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh,

Rabu malam – Cairo, 26.11.2008

Hidangan Allah-9 (Annur 41-45)

 

DAN BURUNG-BURUNG PUN

BERTASBIH

 

Dr. Saiful Bahri, M.A

 

Pagi ini saya duduk-duduk sejenak menadabburi surat An-Nur bersama beberapa orang teman sambil mengiringi matahari terbit. Suasana pagi yang sejuk dan kicauan burung menambah suasana semakin terlihat bersenyawa dengan dunia nyata. 5 ayat surat an-Nur ini terasa sangat istimewa. Ayat 41 hingga ayat 45.

Dalam ayat ini Allah menjeaskan bahwa semua makhluk ciptaan-Nya bertasbih kepada-Nya. Pendahuluan yang dipilih Allah pun sangat terasa seolah kitalah yang menjadi audiens ayat-ayat ini. ”Tidakkah kamu lihat?” semakin menyadarkan kita, jangan-jangan selama ini kita tidak melihat fenomena alam yang tunduk pada Allah. Jangan-jangan hati kita tertutup oleh nafsu. Dan tema ayat ini memang Allah. Dzat yang sangat laik untuk ditasbihkan. Dzat yang sangat laik untuk disucikan, dipuji dan dmintai pertolongan. Dzat yang kepada-Nya bertasbih orang-orang yang di langit dan di bumi.

Menariknya, burung-burung pun bertasbih kepada-Nya. Sangat luar biasa. Dalam surat al-Mulk ayat 19 pun Allah pun menempatkan burung sebagai pelajaran bagi manusia. Ketika Allah menyuruh kita merendahkan hati dengan menggunakan ”rendahkan sayap” semakin terasa sebuah ketawadhu’an karena burung yang tadinya terbang tinggi di atas awan, bagaimana mungkin bisa menukik. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar jernih hatinya. Tawadhu. Tak ada keangkuhan di hati, apalagi kesombongan.

Pun ketika Rasululah saw mengajarkan ketawakkalan meminta kita bisa belajar dari burung, pagi pergi berusaha mencari rizki dengan perut kosong, ketika pulang perut mereka pun penuh terisi. Sebuah pelajaran ketawakkalan dari burung yang –hanya- bermodalkan sepasang sayap.

Dalam surat al-Hajj ayat 18, bahkan Alah menjelaskan bahwa yang bersujud padanya adalah semua orang di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung dan pepohonan serta binatang-binatang melata serta tak sedikit dari manusia. Tapi tak sedikit pula manusia yang membangkang dan kemudian justru mendapatkan adzab-Nya. Waliyadzu billah.

Lihat pula di akhir-akhir surat Ali Imran, salah satu ciri-ciri Ulil Albab selain selalu berdzikir kepada Allah, mereka juga bertasbih kepada-Nya. ”Subhânaka faqinâ adzâbannar” Maha Suci Engkau, lindungilah dari adzab dan siksa neraka.

Ibnul Qayyim menadabburi ayat ini dengan sebuah perumpamaan jika ada pakaian kotor maka sangat laik dan perlu segera untuk dibersihkan. Jika penuh dosa dan khilaf maka seorang hamba sangat perlu untuk segera beristighfar, mohon maaf dan ampunan kepada Rabbnya. Setelah itu, ibarat pakaian yang sudah bersih kemudian perlu untuk disetrika. Demikian juga jika kita telah beristighfar, perbanyaklah bertasbih, menyucikan diri. Menyucikan Allah. Membersihkan sisa-sisa kotoran sambil menampilkan kerapian dan keteraturan jiwa yang fitrah ini.

Istighfar dan tasbih merupakan dua proses penampilan ideal. Mencuci baju dan menyetrikanya, demikian juga merupakan performance ideal manusia di depan sesamanya.

Karena Allah yang menjadi tema besar, karena Allah yang seperti itulah yang layak disucikan, disembah. Bagi-Nya segala kerajaan di tujuh langit dan bumi. Raja segala kerajaan yang pernah ada, sedang ada bahkan yang akan ada dan segala sesuatu yang pernah atau belum dibayangkan makhluk-makhluk-Nya.

Pada ayat selanjutnya kita lihat bagaimana Allah memperlakukan awan-awan yang diciptakan berlapis-lapis. Sebagian membawa rizki berupa air yang akan dikembalikan ke bumi. Bila kita sempat merenunginya dari tepi jendela tatkala kita seang berada dalam pesawat betapa gumpalan awan berada di bawah kita dengan berbagai bentuk dan macamnya. Awan tersebut menyimpan air yang diturunkan Allah ke bumi. Turunnya pun tidak seperti air bah. Tapi sedikit demi sedikit. Bahkan dimulai dari daerah yang tinggi, pegunungan dan pepohonan. Untuk di serap di bumi dan sebagian menjadi persediaan. Sebagian manusia mendapatkan rizki ini dan sebagian lainnya dipalingkan oleh Allah. Turunnya hujan ini pun kadang diikuti dengan kilatan petir yang cahayanya sangat menyilaukan mata.

Itulah Allah yang menjadikan fenomena alam demikian. Dialah yang membolak-balikkan siang dan malam. Coba kita bayangkan seandainya Allah menjadikan sepanjang hari kita malam saja. Maka dunia ini akan sangat gelap gulita. Siapakah yang akan memberikan penerangan. Demikian tutur Allah dalam surat al-Qashash ayat 71. Di akhir ayat Allah pun menggunakan ” afalâ tasma’ûn” (Apakah kalian tidak mendengar). Karena secara umum pada malam hari indera pendengaran kita lebih peka dibanding pada waktu siang. Pada ayat 72 Allah pun menanyakan, siapakah yang akan menjadikan malam sebagai tempat istirahat, seandainya Allah menjadikan sepanjang hari siang selamanya. Kemudian ditutup dengan ” afalâ tubshirûn” (Apakah kalian tidak melihat). Itu karena di waktu siang indera penglihatan kita lebih tajam dibanding pada waktu malam yang kekurangan cahaya/penerangan.Yang demikian tentunya hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang berakal saja.

Pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan tabiat penciptaan makhluk-makhluk-Nya. Uniknya, kali ini yang dijelaskan Allah adalah perilaku makhluk-makhluk Allah yang berjalan di muka bumi. Sebagian ada yang berjalan dengan ”perutnya”, sebagian lagi berjalan dengan ”dua kaki” dan sebagian lainnya berjalan dengan ”empat kaki”. Semua berjalan sesuai tabiat penciptaannya. Jika kiaskan dalam kehidupan kita sehari-hari, saat kita bisa berjalan kita sangat bersyukur betapa sebagian orang tidak bisa melakukannya atau seperti anak kecil ang tertatih-tatih berjalan. Kemudian saat berkendaraan roda dua kita pun bisa menyukuri keadaan. Ketika berkendaraan roda empat pun kita bisa semakin bersyukur.

Dan bukan berarti makhluk Allah yang berjalan dengan perut selalu menjadi lemah. Lihatlah ular, binatang melata ini tak punya kaki. Tapi ia hidup dengan jaminan Allah. Ia difasilitasi Allah sehingga bisa survive. Bahkan ia terlihat ganas dan buas. Lihatlah ikan dengan berbagai jenisnya, mereka tak memiliki kaki. Demikian pula makhluk Allah yang berkaki dua atau empat, masing-masing memiliki keistimewaan yang dibekali oleh Allah. Yang jelas semuanya bertasbih kepada Allah ”Tapi kalian takkan memahami (cara) mereka bertasbih kepada-Nya”.

Tak terasa lima ayat ini benar-benar menjelma menjadi hidangan Allah yang sangat lezat. Terutama bila kita menadabburinya dengan kejernihan hati. Surat An-Nur ini benar-benar mencerahkan seperti namanya ”annur” yang berarti cahaya. Semoga hati kita senantiasa diterangi oleh cahaya Allah sehingga kejernihannya tetap terjaga. Amin.

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh, Sabtu Petang,
Mengiringi Sang Surya ke Peraduan – Cairo, 29.11.2008

MELEPAS TAMU ALLAH

kabah

MELEPAS TAMU ALLAH

 

 

Jam di tangan menunjukkan pukul 09.15 malam. Salah seorang adik kelasku berpamitan, mohon doa restu hendak berangkat ke tanah suci. Aku baru ingat kalau malam ini adalah pemberangkatan terakhir rombongan haji mahasiswa Indonesia di Mesir.

Aku segera turun dari bus 65 yang membawaku dari depan kampus putri, sepulang dari rumah temanku, berdiskusi dan membicarakan beberapa hal di sana. Pelataran yang demikian luasnya itu terlihat menyempit. Meski tidak cukup penerangan tapi semua orang bisa melihat banyak orang di tempat itu. Memang tak sepadat saing hari tadi. Karena setiap Jumat selalu menjadi tempat jualan mobil bekas.

Di pasar mobil itulah sekitar puluhan orang sedang menanti keberangkatannya menjemput panggilan Allah ke tanah haram. Diiringi beberapa teman dekat dan keluarga. Sebagian hendak menitip doa, sebagian lagi membantu membawakan barang bawaan, sebagian lagi sekedar menyapa memberikan doa keselamatan dalam perjalanan.

Di penghujung tahun hijriyah ini, menjelang penghujung tahun masehi, para jamaah haji mengejar maghfirah Allah. Bergabung bersama 210 ribu jamaah haji Indonesia dan kafilah lain dari berbagai belahan bumi.

Mereka akan memaknai arti pengorbanan yang dicontohkan abul anbiya` Ibrahim as. Memerankan kepasrahan ibunda Hajar ketika ditinggal suaminya di tanah kering tak berpenghuni. Menelusuri jejak ketaatan dan ketundukan Ismail muda. Serta berikrar melawan para syetan dengan simbol jamarat. Berputar di depan ka’bah, berwukuf di padang arafah, menyatu dalam pakaian yang sama, dengan bahasa doa yang sama, mengesakan Tuhan yang sama, menyerukan kalimat-kalimat yang relatif sama. Kebersamaan yang melewati berbagai skat ras, suku, bahasa, dan lain sebagainya.

Itulah yang kurasakan saat melepas beberapa temanku yang sempat aku jumpai di depan tanah lapang pasar mobil semalam. Meskipun tak sedikit dari mereka yang harus ”berdarah-darah” untuk mendapatkan visa. Maklum, selain semakin tingginya biaya yang dikeluarkan quota pun makin dibatasi. Semakin jelas buruknya monopoli. Sulit rasanya membayangkan pengurusan haji seperti beberapa tahun lalu. Visa haji yang selalu ditulis ”gratis” itu ternyata hanya simbol basa-basi yang dimanfaatkan oleh salah satu travel saja. Ketika mereka mendapatkan monopoli itu. Maka harga pelayanan jasa ini tak terkendali. Setiap tahun naik dengan pesatnya. Wallahu a’lam. Meskipun demikian memang tak menyurutkan niat orang-orang yang memiliki azam dan tekad lebih kuat dari makhluk angker bernama birokrasi dan monopoli itu.

Sangat tipis memang membedakan antara dua hal. Membantu mereka sekaligus mencari rizki melalui jasa pelayanan pengurusan dan keberangkatan mereka. Hanya Allah yang tahu hakikat kebenaran yang kadang samar di depan hamba-hamba-Nya. Meski aura kezhaliman sudah sering dirasakan tapi seolah tak ada yang mampu menghentikannya.

Semoga Allah membuka jalan kembali bagi mereka yang zhalim untuk menyadari kelakuannya sebelum hukum Allah yang berlaku atas orang-orang zhalim.

Semoga orang-orang mazhlum yang hanya berharap rahmat-Nya, disampaikan pada muara cinta dan rahmat-Nya yang maha luas.

Semoga Allah mengaruniakan haji mabrur kepada mereka. Mengampuni dosa dan kekhilafan mereka. Menjadikan mereka orang-orang yang bermanfaat bagi sesamanya, merefleksikan ruh kemuliaan yang mereka dapatkan dalam jihad di tanah suci.

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh, Jum’at jelang tengah malam

Cairo, 28.11.2008

SAIFUL BAHRI

LabbaikalLâhumma labbaik… labbaika lâ syarîka laka labbaik… innal hamda wann’mata laka wal mulk lâ syarîka lak…

Renungan Metodologi Berpikir

OBYEKTIFITITAS DAN SUBYEKTIFITAS

Totalitas obyektifitas. Begitu syarat seseorang dalam memberikan cara pandangnya. Sebagai standar ilmiah yang diakui oleh orang banyak, menurut sebagian orang.

Namun, sesungguhnya obyektifitas itu sendiri adalah sesuatu yang subyektif. Subyektif dalam pandangan orang tertentu meskipun jika si penggagas/penyampai ide sudah berusaha seobyektif mungkin.

Menanggalkan subyektifitas secata total merupakan sebuah kemustahilan. Juga, totalitas dalam obyektifitas merupakan mazhab subyektifitas baru.

Misalnya obyektifitas memperlakukan secara sama dengan perasaan sama, semua serba sama lahir dan batin antara tiga orang teman kita. Tentu sangat mustahil. Pasti ada satu diantara ketiganya yang mendapatkan subyektifitas tadi, meski tentunya hanya bersifat batin.

Ada lagi orang yang menyaratkan sebuah obyektifitas dengan cara memandang sesuatu dari luarnya. Inilah definisi obyektif yang akurat. Tandasnya.

Hal mungkin ini bisa kita analogkan dengan seseorang yang baru saja memasuki rumah kita mengabarkan bahwa di luar sedang turun hujan (lebih tepatnya rumah kita sedang kehujanan). Baju yang dikenakannya pun ada tanda-tanda basah meskipun tak kuyup.

Apakah kemudian yang dikatakan obyektif tanpa subyektifitas kita mesti segera keluar dan membuktikan sendiri bahwa memang sedang hujan ketika baju kita basah oleh air hujan. Padahal tanda-tandanya cukup kuat. Dengan kabar yang dibawa orang yang bajunya basah, suara hujan itu sendiri dan beberapa tanda lainnya.

Nilai obyektifitas yang total ini bisa digunakan. Hanya saja timingnya akan sangat terlambat. Memerlukan proses yang sangat yang cukup panjang dengan jalan melingkar dan memutar. Tidak melalui jalan tembus yang langsung.

Seseorang yang memandang Islam dengan nilai obyektititas tinggi `mesti` keluar dulu dari keislamannya. Itulah Islamologi yang paling obyektif. Menurut penganut mazhab totalitas dalam obyektif.

Kerawanannya, dikhawatirkan tak mampu kembali lagi. Ini akan berakibat fatal, manakala kita tidak sanggup lagi meyakinkan diri kita bahwa kita adalah bagian dari umat Islam.

Lebih beratnya kemanfaatan iman dan Islam itu terlambat, ketika benar keyakinan sesuatu yang yakin telah tiba. Sebagaimana ketika Fir`aun menemui ajalnya.

Tuntutlah untuk melihat Tuhan. Setelah itu baru beriman. Maka keimanan setelah melihat-Nya merupakan penyesalan yang terlambat.

Sebut saja, orang-orang yang mendengungkan modernitas pola pikir adalah dengan totalitas obyektif dalam mengemukakan cara pandang. Keluarkan diri Anda dari Islam, niscaya Anda akan obyektif dalam menilai Islam.

Dengan demikian sebuah ide dan gagasan, baik berupa tulisan atau yang lainnya yang berhubungan tentang keislaman, akan dianggap memiliki obyektifitas yang tinggi bila digelindingkan oleh seorang non muslim atau oleh mereka yang mengikuti `penanggalan` identitasnya.

Sementara keislaman yang dilontarkan oleh intelektual muslim dan para ulama`nya cenderung subyektif bahkan bisa dikatagorikan lebih terwarnai oleh fanatisme yang dipengaruhi emosional yang bersangkutan.

Benarkah antitesa ini.

Subyektifitas yang kita kembangkan sebenarnya diistilahkan dengan terminologi yang baik. Yaitu //tamassuk biddin//, berpegang teguh pada agama. Hanya saja terminologi ini kemudian dipelintir dengan istilah lain yaitu //ashabiyah// atau fanatisme kelompok dan golongan saja. Tepatnya kelompok fundamentalis dan radikal -menurut mereka (sang pemberi label).

Munculnya totalitas dalam obyektif ini berangkat dari keraguan fungsi Islam sebagai //rahmatan lil alamin//, rahmah bagi alam semesta. Sehingga seorang non muslim khawatir bahwa jika ada umat Islam berkuasa mereka akan tertindas. Sebuah bayangan yang mengerikan, bukan?

Padahal Islam sudah memberikan kebijakan dalam berinteraksi. Baik dengan sesama muslim ataupun dengan non muslim. Bahkan dengan lingkungan disekitarnya, baik yang hidup maupun benda-benda mati.

Kita diajarkan untuk menyapa sesama dengan bahasa manusia, berinteraksi dan bergaul dengan bahasa Islam, mengajak dan mengarahkan mereka dengan bahasa dakwah serta menggerakkan potensi kebaikan mereka demi menegakkan Islam dibumi Allah. Indah. Sangat indah kode etik ini. Hanya saja kita perlu sosialisasi lebih gencar.

Obyektif -menurut saya- bila cara pandang dalam gagasan dan ide kita disertai data yang akurat serta argumen atau dalil yang kuat.

Sedang subyektif lebih menonjolkan letupan-letupan emosional dalam mengemukakan sebuah gagasan, ide dan cara pandang. Namun tanpa disertai data yang akurat dan argumen yang kuat.

Dengan demikian kita tak perlu menanggalkan identitas kita untuk mengemukakan sebuah gagasan dengan obyektif. Meski obyektifitas tersebut belum total, menurut sebagian orang.

Kewajiban kita hanya menyampaikan. Dengan data, argumen dan dalil. Setelah itu, barang siapa yang mau mempercayainya maka ia akan beriman tanpa paksaan. Dan barang siapa yang mau mengingkarinya engganlah ia untuk beriman. (lihat QS.18:29)

Saiful Bahri

Pusat Pengajaran Bahasa, Dokki

Mengiringi Matahari Senja, 20.11.2008

Politik dan Umat Islam

UMAT ISLAM DAN POLITIK

Saiful Bahri, MA.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”.

(QS. 3:104)

Pendahuluan

Politik adalah kotor”. Barangkali slogan ini sempat terbersit di sebagian kalangan aktivis Islam (islâmiyyîn). Realitas lapangan tidak sepenuhnya mendukung pernyataan tersebut. Namun, untuk mengatakan sebaliknya atau menafikan sama sekali, realitas lapangan juga tak mampu menjawab dengan citra yang positif.

Manusia secara umum memerankan misi rabbani sebagai penjaga bumi-Nya. Karena langit dan bumi menolaknya, bahkan gunung pun tak mampu mengembannya (QS. 33:72)

Apakah misi ini dipahami oleh semua manusia? Tentu tidak. Tak semua manusia memahami peran “menjaga” ini. Terbukti, ada kerusakan-kerusakan yang dilakukannya, baik dengan sadar dan sengaja atau pun tanpa disadarinya.

Peran yang lebih
spesifik adalah, mengajak dan menyeru kepada kebaikan.  Umat Islam lah yang seharusnya tampil
mengemban amanah ini untuk menjadi “… umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah…”(QS. 3:110). Lantas, apakah peran amar ma’ruf nahi
munkar ini mampu dipikul oleh semua kaum muslimin. Meskipun pada ayat
sebelumnya,–(QS.3:104)–kata yang digunakan adalah “minkum” (di
antara/sebagian kamu); bukan berarti tugas ini hanya diperankan sebagian dari
umat Islam. Hal ini lebih terkesan sebagai penegasan bahwa tugas tersebut
sangat mulia di sisi Allah (QS.41:33), serta tak semua orang mampu
melaksanakannya. Bukan karena tak mampu, namun tidak memiliki azam untuk
berbuat demikian dan tidak mendapat taufik dari Allah.

Luasnya Konteks Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Bila amar ma’ruf nahi munkar merupakan kerja sosial yang wajib dan sangat mulia tentunya memiliki konteks penerapan yang luas. Karena dimensi obyeknya pun tak sempit. Sasaran kerja sosial ini berlevel, dari sejak individu (afrâd), keluarga (usrah), masyarakat (mujtama’), negara (daulah) bahkan seluruh umat manusia.

Barangkali untuk level individu dan keluarga, tidak terlalu memerlukan tatanan yang rumit. Demikian juga untuk konteks masyarakat, amar ma’ruf dan nahi munkar ini cukup–lumayan–banyak yang memerankannya secara individu maupun kolektif. Nah, untuk konteks negara, cukupkah hanya dengan gerakan kultural melalui organisasi dan lembaga sosial yang ada pada masyarakat? Mengingat perangkat resmi pelaku kebijakan terkadang tidak tersentuh oleh kerja sosial tersebut. Maka amar ma’ruf nahi munkar ini, saatnya menyentuh negara. Perlu kekuatan besar yang bisa berpengaruh. Dan, karena Islam adalah dîn wa daulah.

Ini sama artinya berpetualang di pentas politik. Tak ada jalur alternatif selain politik? Ada apa dengan politik? Sebegitu menyeramkan kah?

Partai Politik

Konsekuensi terjun di bidang politik adalah melalui partai politik (parpol). Terlepas dari citra negatif politik yang ada, apakah parpol merupakan sarana yang masyru’ (dibolehkan)?

Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang parpol, kita perhatikan pesan politik Abu Bakar ra. dalam pidato pertamanya ketika menggantikan Rasulullah Saw. Yaitu meminta dukungan ketika dalam kebenaran dan meminta teguran pada saat sebaliknya. Secara implisit diperlukan orang atau badan yang mengontrol kinerja beliau. Fungsi kontrol ini selaras dengan hadits nabawi,”Sesungguhnya jika manusia menjumpai seorang zhalim dan tidak–segera–mencegahnya, dikhawatirkan akan turunnya azab Allah yang menimpa mereka semua” (HR. Abû Dâwûd dan al-Imâm Ahmad).

Dalam konstelasi politik modern, lembaga yang memerankan fungsi kontrol terhadap penguasa adalah badan legislatif; yang di negara kita dikenal dengan DPR/MPR. Jalan legal untuk duduk dalam badan legislatif tersebut adalah melalui pemilihan umum. Dan satu-satunya wadah pemilu tersebut–sampai saat ini–dinamakan partai politik. Parpol ini akan memerankan dua peran sekaligus. Sebagai penguasa dan sebagai pengontrol.

Dalam pelaksanaannya, baik penguasa (eksekutif) ataupun pengontrol (legislatif) bukanlah representasi dari satu parpol tertentu, melainkan kombinasi dari berbagai parpol yang mendapatkan suara dalam pemilu yang sah. Permasalahannya, kembali kepada kepentingan parpol yang berjuang untuk memenangkan pemilu.

Saat itulah kita berbicara tujuan parpol dan pemenangan pemilu. Tujuannya adalah memerankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Pemenangan pemilu bukan berarti mengalahkan parpol lain. Tapi menggalang dan mobilisasi masa untuk memahami kerja sosial tersebut. Semakin banyak tersebarnya pemahaman ini maka angka kemenangan akan semakin tinggi.

Bila demikian, kita gunakan kaedah ushuliyyah,”mâ lâ yatimmu al-wâjib illa bihî fahuwa wâjib” (suatu kewajiban yang tak lengkap kecuali dengan itu maka hukumnya wajib). Dan makna kewajiban ini sangat luas disamping bisa individu atau kerja kolektif, juga mencakup arti mendesak (fauri) atau pelahan-lahan (mutarâkhi).

Umat Islam wajib mempertahankan eksistensinya, dan hal tersebut tak hanya bisa diperankan oleh personil-personil tertentu. Melainkan perlu kinerja kolektif. Adapun letak kemampuan mewujudkan sarana kewajiban tersebut secara eksplisit, berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi. Untuk konteks Indonesia, sarana tersebut bukan lagi sekedar urgen, namun sudah sangat mendesak untuk diperankan.

Hanya Satukah?

Dapat kita bayangkan jika penguasa memerintah tanpa kontrol. Yang akan terjadi adalah kebijakan satu arah. Meskipun, kontrol sosial bisa diperankan pers dan lembaga atau organisasi sosial masyarakat, namun kurang bisa berpengaruh dan menekan secara signifikan dalam tataran legal. Karena itulah diperlukannya parpol lebih dari satu. Dalam bahasa modern dikenal sebagai oposan. Sayangnya, oposisi lebih dikesankan sebagai “musuh” penguasa. Padahal fungsinya sebagai pengontrol, bukan mencari-cari kesalahan.

Demikian halnya umat Islam. Apakah umat Islam hanya boleh memiliki satu partai saja? Tentu tidak. Ini sama artinya kita diajarkan untuk berbeda dan berpecah? Tentu tidak demikian. Perbedaan tak selamanya identik dengan perpecahan. Ia hanya berbeda cara dan sarana saja. Tujuannya tetap satu, amar ma’tuf nahi munkar.

Keberadaan satu parpol sebagai aspirasi tunggal umat Islam itu bagus dan ideal. Namun, dalam tataran realitas hal tersebut sangatlah sulit terwujud. Dan hal itu bukanlah aib. Yang menjadi aib adalah bila ada klaim bahwa partainya lah merupakan satu-satunya partai yang aspiratif (terhadap umat Islam), dan bukan partai lainnya. Klaim seperti inilah yang akan menumbuhkan benih perpecahan dan permusuhan; dua hal yang diperangi dan dilarang oleh Allah.

Mantiq sederhanya, dimana pun umat Islam berada, sesungguhnya ia memainkan peran kerja sosial di atas (amar ma’ruf nahi munkar). Baik secara individu  dengan menyuarakan aspirasi di tengah partai non Islam yang dimasukinya maupun secara kolektif melalui partai Islam yang menyuarakan aspirasi tersebut secara kelembagaan melalui partai Islam. Namun yang kedua–sepertinya–lebih memungkinkan untuk menyuarakannya dengan kuat dan berpengaruh.

Menjawab Tantangan Realitas

Kembali ke kancah politik yang terkesan demikian mengerikan. Kehadiran parpol Islam di tengahnya, setidaknya merupakan fenomena lain. Lain, karena ingin mengubah pencitraan menjadi positif tentang perhelatan politik yang legal dan santun. Bahwa politik bukan hanya memburu kekuasaan dan kepentingan, namun politik adalah sarana kebaikan, sarana kerja sosial amar ma’ruf nahi munkar.

Bila kesan penghalalan segala cara untuk memenuhi kehausan kekuasaan telah menyebar ke masyarakat dan demikian lekat dengan parpol, maka kehadiran parpol Islam sebagai alternatif untuk memperbaiki kesan tersebut.

Namun, kerja sosial dalam skup besar ini perlu selektifitas yang tinggi. Kader-kader terbaik yang direkrut secara kultural–insya Allah–mampu memenuhi tantangan ini. Tertantang untuk membuktikan, bukan untuk mengalahkan yang lain.

Bukan Aib

Fenomena parpol lebih dari satu adalah wajar dan natural, serta bukan merupakan aib umat ini. Namun, bila yang terjadi adalah eufhoria dan kekagetan sosial yang memicu menjamurnya parpol, perlu untuk segera ditilik ulang kondisi riilnya. Apakah hal tersebut berangkat dari salah pemahaman dan ketidak-mengertian umat ini, bahwa hal tersebut sangat mengganggu strategi pemenangan misi kerja sosial? Ataukah ada hal lain, bahwa umat ini sudah terjangkit penyakit ambisi berkuasa? Bila yang menjadi jawaban yang pertama, maka tugas kita adalah mensosialisasikan pemahaman strategi tersebut secara merata. Bila yang menjadi masalah yang kedua, maka tugas kita adalah mengobati penyakit dan kesalahan orientasi serta penyimpangan misi kerja sosial.

Partai-partai Islam bagaikan madzhab-madzhab fikih dalam Islam. Keberadaannya merupakan rahmat bagi umat ini. Rahmat Allah, karena umat bisa memilih dengan penuh kesadaran. Bukan hanya sekedar memilih, namun dengan pembelajaran dan memahaminya.

Hal ini sama halnya dengan jama’ah/organisasi/partai/lembaga–atau apapun namanya–yang ada dalam umat Islam sebagai potensi kebaikan dan sarana kerja sosial di atas. Bila ia ada, ia bukanlah merupakan satu-satunya jama’ah/organisasi umat Islam. Namun, ia adalah jamâ’ah min al-muslimîn, bukan jamâ’ah al-muslimîn. Ia merupakan salah satu jama’ah (sarana) dari sekian yang ada pada umat ini. Tapi bukan satu-satunya. Karenanya, tidak dibenarkan adanya klaim kebenaran tertentu. Karena ini semua merupakan lapangan ijtihad yang memiliki dua kemungkinan, benar atau salah. Tentunya setiap ijtihad memiliki pertimbangan tertentu sebagai proses untuk sampai pada hasil final. Bahkan ada kalanya ijtihad ini perlu diperbaiki. Seperti yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i dengan adanya qaul jadid dan qaul qadim.

Maka sarana di atas pun akan berubah sesuai tuntutan dan kondisi. Bisa jadi suatu ketika parpol sudah tak lagi diperlukan. Karena, sebagaimana luasnya konteks kerja sosial di atas, sarananya pun tidaklah terbatas hanya beberapa saja.

Penutup

Perbincangan kita di atas memang dikondisikan untuk mengarah pada terbentuknya tatanan Islam dalam skup yang lebih luas. Diharapkan mampu memerankan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Rahmat bagi sesama umat Islam, non muslim dan seluruh manusia serta bagi alam seisinya.

Ketika kita membicarakan negara Islam tidaklah sama artinya dengan mengidentikkan sebagai negara agama. Yang pertama sebagai terjemahan integral dan universalitas ajaran Islam yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Yang kedua sebagai gambaran traumatif sejarah Eropa di era pertengahan yang mengekang kebebasan. Dan secara kebetulan diperankan oleh tokoh-tokoh agamawan (baca: nasrani) pada waktu itu.

Karenanya para pelaku kekuasaan negara, meskipun ia merupakan representasi umat Islam–nantinya–, tetap saja merupakan kumpulan manusia–bukan malaikat–yang rentan akan kesalahan. Karena itu, justru peran kontrol menjadi sangat urgen, di sini.

Sebagai catatan akhir, bila kita membicarakan umat Islam (=kita) bukan berarti kita tidak memikirkan umat selain kita. Karena semua ini berangkat dari diri kita sendiri. Bila kita belum mampu memperbaiki diri sendiri, akankah kita memperbaiki orang lain? Itulah sebaik-baik interpretasi pesan kenabian “Yang terbaik diantara manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.[]

Arsip : Menjelang Pesta Demokrasi 2004

Ekstrimisme VS Islamisme

EKSTRIMISME VS ISLAMISME

Di permulaan Januari 2002 lalu saya bersama Prof. Bill Liddle dan Gunawan Muhammad, diundang menjadi pembicara dalam sebuah panel diskusi di Asia Society New York dan menampilkan Prof John Bresnan dari Columbia university selaku moderator. Tema diskusi adalah: “Islam in Indonesia”.

Dalam presentasi saya tegaskan, sesungguhnya Islam sebagai “keyakinan” dan sistim hidup tidak memiliki perbedaan berdasarkan letak geografis dan zona alam. Islam memiliki sumber abdi, yaitu Al Qur’an dan Sunnah RasulNya. Kedua sumber ini kapan dan di mana saja, akan tetap terpakai dan difahami oleh kaum Muslim. Yang berbeda kemudian adalah pemahaman terhadap kedua sumber tersebut, mengikut pada konteks kehidupan masing-masing. Dengan demikian, sesungguhnya yang berbeda bukan Islam tapi pemahaman terhadap Islam itu sendiri.

Sehingga ketika seseorang cenderung memahami Islam Indonesia berbeda dari Islam Timur Tengah misalnya, dapat dicurigai sebagai pengelabuan terhadap universalitas Islam itu sendiri. Artinya, pemahaman seperti ini belum bisa membedakan antara pemahaman manusia dan Islam sebagai agama itu sendiri. Tentu pemahaman keliru seperti ini timbul karena pendekatan yang dipakai adalah pendekatan yang non Islamic, di mana pada agama lain dapat terjadi perbedaan fundamental karena letak georafis pemeluknya.

Yang menarik dari dIskusi tersebut adalah banyaknya “ocehan” atau “pengaduan” akan tingginya tingkat ekstrimisme atau radikalisme di Indonesia. Walaupun dengan sangat hati-hati, bahkan ada yang seolah menyimpulkan bahwa tingkat terorisme di Indonesia tumbuh dengan sangat menakutkan. Bagi saya pribadi, tentu cukup terkejut dengan kesimpulan ini. Sebab yang saya kenal, Islam dengan ajarannya yang damai, santun, logic serta mengedepankan nilai-nilai rasio, telah mendapatkan lahan suburnya pada bangsa Indonesia, yang sebelum Islam pun memiliki “nature” seperti itu. Sehingga kedatangan Islam di Indonesia begitu mulus tanpa ada aral sedikitpun. Bahkan tidak memutuhkan waktu yang lama, akhirnya menjadi agama super mayoritas bangsa Indonesia.

Ada dua alasan yang paling menonjol untuk menjustifikasi akan tingginya tingkat radikalisme di Indonesia:

Pertama: Semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam proses pengambilan kebijakan nasional, khususnya dalam upaya “islamisasi” kehidupan bernegara dan berbangsa. Semaraknya partai-partai yang berasaskan Islam, gerakan non politis yang berbasis Islam semakin agresif, serta tingginya kesadaran mengekspresikan kehidupan Islami seperti jilbab, bank-bank syari’ah, asuransi Islam (takaaful), dll. Kekhawatiran terbesar adalah adanya upaya-upaya dari kalangan apa yang mereka sebut sebagai Muslim radikal untuk menjadikan Indonesia sebagi negara Islam.

Kedua: Tingginya tingkat resistensi terhadap berbagai kebijakan Amerika, khususnya yang berkenaan dengan dunia Islam dan Timur Tengah. Bagi kebanyakan mereka, menentang kebijakan Amerika adalah symbol radikalisme, ekstremisme dan tidak jarang mengarah kepada tuduhan terorisme. Maraknya demonstrasi dari kalangan aktifis Muslim dalam mengekspresikan resistensi tersebut, dianggap sebagai bentuk “kekerasan” yang tidak bisa ditolerir.

Kedua alasan di atas perlu dicermati, sehingga tidak menimbulkan sebuah kesimpulan yang keliru. Betulkah bahwa semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk tumbuhnya berbagai partai yang berasaskan Islam, dapat dijadikan barometer radikalisme atau ekstremisme? Betulkah bahwa semaraknya “islamisasi” kehidupan baik pada tataran pribadi maupun pada tataran sosialnya seperti semaraknya pemakaian jilbab, semaraknya majelis ta’lim, semakin ramainya masjid dengan kegiatan-kegiatan pemuda, bank-bank syari’ah atau takaful islami, dll., dapat dijadikan barometer radikalisme dan ekstremisme? Betulkah bahwa adanya keinginan dari kalangan umat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dianggap sebagai gerakan radikal dan ekstrim? Betulkah bahwa maraknya demonstrasi menentang berbagai kebijakan Amerika dapat dianggap sebagai gerakan radikal atau ekstrim?

Sungguh sangat keliru jika semaraknya umat Islam kembali menjalankan agamanya lalu dituduh radikal atau ekstrim. Atau kalau memang yang demikian adalah barometer radikalisme dan ekstrimisme, maka ekstrimisme dan radikalisme dapat disamakan dengan islamisme. Yaitu semangat kaum Muslim untuk kembali melaksanakan ajaran agamanya secara kinsisten dan jujur. Maraknya pemakaian jilbab, pengajian, tingginya tingkat partisipasi jama’ah di masjid-masjid, dll., adalah indikasi kesadaran beragama. Untuk itu, jangan sampai fenomena tersebut dijadikan barometer untuk mengukur tingkat radikalisme dan ekstrimisme suatu bangsa. Di negara-negara ketiga non Muslim, seperti di Amerika Latin dan Tengah, tingkat partisipasi keagamaan masyarakat masih cukup tinggi. Gereja-geraja masih ramai dan orang tua masih ketat mengajarkan nilai-nilai agamanya kepada anak-anak mereka. Tapi pernahkan kita dengar, bahwa mereka menjadi sebuah ancaman? Bahkan jika anda menginjakkan kaki di airport Nikaragua, salah satu negara Amerika Tengah, anda dengan mudah melihat motto negara tersebut: “Jesus is Lord of the country”.

Keinginan masyarakat Muslim untuk bangkit menjalankan ajaran agamanya, sesungguhnya suatu kesadaran baru yang perlu disyukuri. Di Amerika Serikat, justeru salah dilemma peradabannya adalah karena agama dari masa ke masa semakin sakarat. Tuhan bagi kebanyakan di negeri tersebut tak lebih dari sebuah sosok yang tak berdaya di rumah-rumah ibadah, dan perlu dijenguk sehari sepekan. Bahkan akibat merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap agama (baca kristiani), di tengah gencarnya berbagai upaya untuk merintangi laju perkembangan Islam di Amerika, kaum Muslim justeru giat mengumpulkan dana untuk membeli bebera gereja yang akan dijual. Dalam pandangan Islam, semakin agama ini diimani dan dipraktekkan akan semakin meciptakan ketentraman hidup, baik pada tataran individu maupun pada tataran sosialnya. Sehingga semaraknya kehidupan beragama di Indonesia tidak dianggap sebagai “threat” (ancaman), melainkan sebuah kesadaran (conscience).

Adapun keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas bernegara, sesungguhnya adalah fenomena biasa yang dapat terjadi di mana saja. Manusia adalah makhluk yang secara fitrah memiliki kecenderungan ideologis. Ideologi yang diyakininya akan dimenangkannya dalam berbagai fora kehidupannya, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangan demokratis, kecenderungan ini sesungguhnya bukanlah suatu kesalahan apalagi ancaman. Melainkan sebuah proses demokrasi yang terjadi. Untuk itu, keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas berbangsa dan bernegara adalah keinginan dan cita-cita yang sah-sah saja dalam pandangan demokrasi, selama ditempuh dengan cara-cara elegen pula. Dan saya yakin, partisipasi umat Muslim dalam proses kehidupan berbangsa adalah cara pendekatan yang paling elegan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Lalu dari sudut mana sehingga keinginan dan cita-cita tersebut dianggap radikalisme atau ekstrimisme? Saya justeru menilai, penentangan kepada keinginan tersebut secara tidak demokratis, misalnya dengan manipulasi informasi dan ketidak jujuran dalam melemparkan tuduhan, adalah bentuk radikalisme dan ektrimisme pada sisi yang lain. Sehingga pelemparan tuduhan radikalisme dan ekstrimisme justeru merupakan justifikasi terhadap radikalisme dan ekstrimisme sekaligus. Peperangan terhadap radikalisme dan ekstrimisme justeru dilakukan dengan cara-cara eksrtim dan radikal.

Adapun tingginya tingkat resistensi kepada Amerika, sesungguhnya perlu dilihat dari berbagai sudut. Penglihatan ini pula perlu diikuti dengan sebuah kesadaran, bahwa cara-cara yang mereka lakukan merupakan cara-cara umum yang dilakukan hampir di mana saja di dunia ini. Ketika kita melihat demonstarsi di Jakarta dengan tema menentang kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah, khususnya dalam masalah konflik Palestina-Israel, maka perlu disadari bahwa hal tersebut adalah reaksi dari sebuah kenyataan yang ada. Kesalahan tidak berada pada aksi atau reaksi itu sendiri, tapi ada pada kenyataan yang menjadikan timbulnya reaksi tersebut. Setiap kejadian ada konteks dan latar belakangnya. Maka seharusnya rekasi-reaksi seperti ini juga dilihat pada konteks dan hal yang melatar belakanginya.

Jadi bukan karena radikalisme atau ekstrimisme sehingga terjadi resistensi dalam bentuk demonstrasi, melainkan karena adanya ketidak puasan terhadap berbagai kebijakan luar negeri Amerika yang bersentuhan langsung dengan perasaan umat. Sehingga untuk merespon terhadap fenomena tersebut diperlukan keinginan untuk merespon konteks dan latar belakangnya. Apalagi, reaksi semacam ini juga sering terjadi di berbagai negara Eropa dan bahkan di Amerika sendiri. Perbedaannya, belum kita dengar bahwa demonstrasi seperti ini di Eropa atau yang di Amerika adalah bentuk radikalisme dan ekstrimisme yang mengancam. Tiga minggu silam, tidak kurang dari 100.000 warga Amerika, Muslim dan non Muslim berkumpul di ibu kota Amerika, Washington DC, melakukan rally menentang kebijakan luar negeri Amerika yang sangat mendukung penjajahan Israel di Palestina. Tapi belum kita dengarkan bahwa rally tersebut adalah indikasi tingginya tingkat pertumbuhan radikalisme dan ekstrimisme di Amerika Serikat.

Untuk itu, ada baiknya barangkali, jika kita kembali merenungkan apa sesungguhnya di balik dari berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia. Tuduhan radikalisme atau ekstrimisme terhadap kelompok-kelompok Islam di tanah air, apakah betul telah mengenai sasaran atau justeru tuduhan tersebut menyulut sesuatu yang tidak pernah ada. Selain itu, akankah lebih dihargai jika berbagai terminology yang dilemparkan dapat diperhatikan konsekwensi akhirnya. Jangan-jangan “islamisme” atau kesadaran suatu bangsa untuk kembali kepada kehidupan beragama justeru dituduh sebagai radikalisme atau ekstrimisme yang mengancam. Kalau ini terjadi, maka tuduhan tersebut dapat dicurigai sebagai upaya untuk mematikan peranan agama dalam kehidupan manusia. Dan ini berarti, tanpa disadari semangat atheism kembali dihidupkan justeru oleh mereka yang anti atheism.

Syamsi Ali

16 Mei 2002

Menelisik Sejarah Zionisme

SEJARAH ZIONISME

Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sering menjadi musuh bagi siapa saja. Sepanjang sejarah, mereka pun menjadi bangsa “yang terusir”, semenjak mereka enggan memasuki Palestina beberapa abad silam sebelum masehi. Padahal dua orang terbaik mereka mendukung perintah wahyu yang di bawa Nabi Musa as. Namun mereka bersikeras menolak untuk memasuki Palestina. (QS.5: 20-26) Padalah jika mereka lakukan itu, mungkin akan ada cerita lain yang lebih sejuk.

Adapun saat ini, mengapa terkesan seolah bangsa Yahudi “menguasai” dunia. Tulisan berikut tidak dimaksudkan untuk membesar-besarkan mitos ini. Namun bisa kita jadikan titik tolak untuk memahami musuh yang selalu membenci umat Islam. Sehingga kita pun bisa mengatur strategi melawan konspirasi mereka. Ketika kita merasa sedang “kalah”, kita tidak pesimis tanpa tahu mengapa kita bersikap demikian. Ketika kita ingin bangkit dari ketertindasan, kita pun optimis. Namun optimisme dengan kesadaran mengapa kita perlu optimis

Konspirasi Yahudi, secara umum tak bisa dilepaskan dari mazhab dan ideologi NURANIYYIN (The Illuminati) yang berarti “pembawa cahaya”, “mencerahkan dunia”, yang dibesarkan dan dipopulerkan oleh Prof. Adam Weishaupt. Seorang guru besar teologi di Universitas Ingoldstat, Bavaria.

Mereka merekrut tokoh-tokoh terkemuka dunia untuk merealisasikan mazhab mereka; Syetan Menguasai Dunia. Sebuah slogan yang diusung aliran ini. Mazhab ”pencerahan” ini menafikan segala bentuk aturan:

1. Aturan kebangsaan

2. Aturan hukum waris

3. Aturan Kepemilikan pribadi

4. Aturan ikatan suci keluarga

5. Sebagai pengantar untuk membumihanguskan agama dari kehidupan manusia. Karena manusia bebas dengan akalnya, maka tak perlu lagi diberi aturan.

Kemudian dikembangkan bahwa tak ada yang layak memimpin dunia kecuali mereka. Sebuah paham rasisme fanatik. Dab permulaan konspirasi ini muncul dan dikendalikan secara sentral dari Frankfurt (Jerman)

Sebelum kita melihat konspirasi mereka, ada baiknya kita mengetahui bahwa bangsa Yahudi menjadi bangsa terusir dari berbagai negara di Eropa. Karena mereka sering menjadi sumber masalah, selalu menerjang aturan yang dibuat dan berlaku.

Tahun 1253 Yahudi terusir dari Perancis karena mereka selalu menyalahi aturan kerajaan, kemudian mereka mengungsi ke Inggris. Lalu diikuti negara lain, tahun 1306 Prancis mengadakan pembersihan lagi dari Yahudi bekerja sama dengan pemerintah Inggris, Siksonia tahun 1348. Kemudian diikuti Hongaria tahun 1360, Belgia tahun 1370, Slovenia tahun 1380, Austria tahun 1420. dan akhirnya dari Spanyol tahun 1492.

Juga pada tahun 1495 M mereka diusir dari Lituania, tahun 1498 dari Portugal, tahun 1540 dari Italia kemudian tahun 1551 M dari Bavaria.

REVOLUSI INGGRIS (1640-1660 M)

Raja Edward I Raja Inggris Pertama dianggap oleh bangsa Yahudi melakukan kesalahan terbesar mengusir dan menyengsarakan bangsa Yahudi. Sehingga mereka pun terlunta-lunta mencari pengungsian. Kemudian para pemodal dan pengusaha kaya Yahudi yang belum ketahuan identitasnya berkumpul (Mereka tersebar di Perancis, Belanda dan Jerman). Ingin menjadikan Inggris sasaran konspirasi pertama mereka. Sebagai jalan untuk memudahkan eksistensi Bangsa Yahudi berikutnya. Saat itu bangsa Yahudi tersebar dan hidup terasing dari penduduk pribumi di negara-negara yang menjadi pengungsian mereka.

Langkah pertama mereka adalah dengan menimbulkan kekacauan yang timbul dari permusuhan intern antara orang-orang Inggris. Kelompok aristokrat dan kapitalis dengan para buruh. Kemudian membuat jarak antara kerajaan dan gereja.

Setelah itu mereka mengelompokkan orang Inggris menjadi Protestant dan Katolik. Protestant pun terbagi menjadi : Fundamentalis dan Liberal.

Ketika konflik ini muncul ke permukaan para spionase the illuminati rapat di Belanda guna mendukung oposisi Inggris, Oliver Cromuell. Inilah cikal bakal konspirasi munculnya Revolusi Inggris (1640-1660 M). Mereka benar-benar ingin meledakkan dendam mereka terhadap Inggris. Sebagai jalan menguasai dunia.

Tahun 1649 Cromuell menyerbu Irlandia (Bergejolaknya konflik Inggris Irlandia tidaklah bisa dipisahkan dari sejarah revolusi Inggris)

Tahun 1651 Salah seorang perwira Inggris ingin mendongkel Cromuell, namun gagal. Sebagai balasannya ia di hukum mati.

Tahun 1652 Inggris di adu dengan Belanda sehingga terjadi peperangan.

Tahun 1654 Inggris memperluas peperangan dengan sens kolonialismenya

Tahun 1657Cromuell mati dan diganti anaknya. Yang juga tak jauh berbeda dengan bapaknya.

Serta banyak peristiwa yang kemudian menjadi pembuka bagi Revolusi Perancis tahun 1789 M.

Jika kita mengikuti berbagai peristiwa tersebut dari sejak terbunuhnya Charles I (raja Inggris waktu itu) tahun 1649 sampai terbentuknya Bank Inggris tahun 1694, hutang negara membengkak. Sehingga stabilitas negara kacau. Perekonomian morat-marit.

Dalam kurun waktu yang tak lama para pemodal Yahudi yang tersebar di Belanda, Perancis dan Jerman plus para pelaku di Inggris berhasil mengeruk keuntungan dan menguasai perekonomian Inggris dengan angka yang fantastis waktu itu. 1 juta 250 ribu Poudsterling. Sebuah jumlah yang besar saat itu.

Namun keberadaan mereka tetap belum diketahui oleh penduduk pribumi. Sebuah konspirasi rahasia!

REVOLUSI PERANCIS (1789 M)

Inggris bukan tujuan akhir mereka. Hanya sebagai permulaan dan percobaan saja. Setelah berhasil dengan gemilang melaksanakan konspirasi atas Inggris mereka hendak menyerbu Perancis, negara Eropa yang pertama menyusahkan mereka bekerja sama dengan Inggris saat-saat pengusiran Yahudi.

Saat itu mulai dikembangkan wacana bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terpilih. Sedang orang selain Yahudi adalah budak yang tak layak memimpin dunia. Mereka memulainya dengan hegemoni ekonomi. Ini terlihat dari jalannya perekonomian Inggris. Terutama pasca revolusi.

Langkah pertama mereka, melalui rekrutmen anggota freemasonry. Perekrutan ini tidak tanggung-tanggung melibatkan para tokoh masyarakat dan pemuka kerajaan. Menggunakan senjata “perempuan” dan uang serta dukungan terhadap jabatan; seperti biasanya

Kedua: Dengan menerobos ruang-ruang diplomasi.

Ketiga: Perang terhadap ekonomi kerajaan

Keempat: Memperalat generasi muda. Bagi mereka, akan lebih mudah jika menggunakan pemuda sebagai pelaku revolusi. Terutama pemuda yang akhlaknya berhasil dilucuti dari hati nurani dan perilaku kehidupan mereka.

Kelima: Menimbulkan konflik dan isu revolusi kaum tertindas. Melawan dan mendongkrak borjuisme. Tentunya para buruh dan orang-orang miskin mereja jadikan kendaraan dan mereka peralat demi kepuasan dan kepentingan mereka.

Setelah itu mereka mendongkrak Perancis. Dengan cara yang lebih keras, lebih konspiratif dan dengan sensasi yang dahsyat.

Bauer Roth Schild pada tahun 1773 masih berusia 33 tahun. Milyader yunior keluarga “Roth Schild” Embrator Keuangan Yahudi di Jerman ini mengumpulkan 12 orang pengusaha Yahudi kaya di Eropa. Mereka berkumpul untuk mengevaluasi kelambatan jalannya Revolusi Inggris yang memakan usia mereka selama dua dasa warsa.

Perancis sebagai sasaran berikutnya. revolusi ini dimaksudkan sebagai jalan mengakarnya Freemasonry di jantung Eropa. Dan di kota Ingoldstadt, Bavaria (Jerman), Pusat pengendali Freemasonry mereka merencanakannya dengan matang.

William Gey, seorang Perwira Tinggi Jerman, menceritakan bagaimana mereka merangkul, merekrut dan memasukkan beberapa tokoh penting, terpandang, kaya dan berpengaruh kedalam barisan mereka. Tanpa mereka sadari, sampai mereka terjebak dalam permainan Iblis. Mavia freemasonry.

Sebut saja misalnya, Mirabo, seorang bangsawan yang mempunyai kaitan erat dengan Douq. Yang direncanakan sebagai tunggangan untuk menggolkan Revolusi Perancis.

Mirabo seorang pemuda pemabuk dan tak berbudi baik. Kesempatan ini digunakan oleh “The Illuminati“. Sehingga Mirabo terjebak hutang yang banyak. Mirabo juga terjebak dengan seorang perempuan Yahudi cantik, sehingga hati Mirabo telah benar-benar takluk.

Berikutnya Mirabo dimasukkan ke dalam “The Illuminati“. Tentunya dengan beberapa syarat yang berat dan ketat disertai ancaman bunuh jika terjadi pengkhianatan. Mirabo pun tak mampu mengelak karena ia terlilit berbagai masalah dan hutang.

Tugas Mirabo selanjutnya, membujuk Douq Dur Layyan untuk menjadi pemimpin Revolusi Perancis. Tentu saja mereka berdua tidak diberitahu rencana “The Illmuninati” untuk menjagal raja serta beberapa pembesar kerajaan. Mereka hanya tahu revolusi ini sebagai cara untuk membersihkan politik dan agama dari khurafat dan ototiter penindasan.

Setelah terjadi revolusi tahun 1789 M. Misi utama mereka mulai dilanjutkan yaitu untuk memperkuat jaringan freemasonry.

Lewat Philip Douq Durlayyan Freemasonry Perancis masuk salah satu bagian Freemasonsy Timur Besar yang dikendalikan oleh Prof. Adam Weishaupt. Tahun itu (1789) tak kurang dari 2000 distric di Perancis berhasil dijaring. Beranggota sekitar 100.000 orang.

Seperti biasanya goncangan ekonomi merupakan pintu untuk menggoyang Perancis. Tahun 1780 saja hutang negara sudah membengkak 800.000 Lira (sekarang Frank). Dan embrator keuangan Yahudi “Roth Schild” mengulurkan tangan kehancuran.

Setelah Revolusi Perancis benar-benar “meletus”, maka sasaran berikutnya adalah mengendalikan hegemoni atas kerajaan. Perancis benar-benar dipegang. Segala kebijakan mesti harus mereka kuasai dan kendalikan.

Namun “kerahasiaan” ini tak selamanya benar-benar bisa dipendam dan diredam. Sebut saja penulis biografi Napoleon asal Inggris menyebutkan, bahwa tokoh kunci dan pemain utama dalam revolusi Perancis adalah wajah-wajah asing.

Dan boneka revolusi ini benar-benar mengeksekusi orang-orang penting Perancis. Tahun 1782, di penjara Paris saja tak kurang dari 8000 orang tahanan “dibantai”.

NAPOLEON BONAPARTE

Sosok ini pada tahun 1804 benar-benar telah menjadi seorang Kaisar besar setelah berhasil menusuk jantung-jantung Eropa dan berkuasa di sana.

Beriringan dengan itu, hegemoni keuangan keluarga “Roth Schild” telah benar-benar menguasai ekonomi Perancis, Jerman, Belanda dan Inggris.

Jika kemudian Napoleon menunjuk saudaranya, Jozef sebagai raja di Napoli, Louis menjadi raja Belanda serta Gerum raja Westfalia. Maka Natsan Roth Schild menunjuk empat saudaranya menjadi “raja” keuangan di Eropa. Ketika itu mereka memilih Swiss sebagai tempat “persembunyian” baru mereka. Dengan Jeneva sebagai pusat kendali baru.

Dan Napoleon menjadi boneka baru bagi “Roth Schild”. Salah satu bukti keterkaitan ini, pada tahun 1798, Napoleon mengajak bangsa Yahudi untuk “kembali” ke Palestina, mengambil hak mereka.

Namun, Napoleon hanya sebuah boneka. Sejarah menyebutkan bahwa tahun 1814 ia benar-benar menyerah. Mahkota kerajaan terlepas darinya. Konspirasi Roth Schild menyedotnya dalam kekalahan melawan Jerman. Mereka bertujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, meskipun seorang Napoleon harus dikorbankan.

Di samping faktor Jerman yang mulai bangkit melalui momentum persatuan menjadi federasi yang kuat. Terlebih setelah penguasa Jerman saat itu meminta bantuan kepada Khilafah Ustmaniyah. Maka 200 pakar strategi dikirim khalifah dari Bosnia. Dan Goethe seorang menteri kerajaan saat itu menjadi jembatan yang punya hubungan sangat dekat dengan orang-orang Turki Usmani.

REVOLUSI AMERIKA

Dari beberapa negara Eropa yang mereka kuasai, ekonomi Inggrislah yang paling parah. Mereka benar-benar menjelma menjadi kekuatan ekonomi tak terlawan di Inggris, pasar ekonomi terbesar di Eropa saat itu. Rakyat Inggris pun bias merasakan kelicikan konspirasi mereka. Ketika itu Amerika masih berada di bawah penjajahan kerajaan Inggris.

Rencana mereka selanjutnya adalah menghancurkan dan memecah-mecah United Kingdom Inggris, kerajaan-kerajaan yang berada di Inggris beserta koloninya mesti dipecah-pecahkan. Dengan demikian perputaran uang yang dibutuhkan untuk biaya perang akan menyebabkan mereka mengeruk keuntungan yang besar dari pertikaian tersebut.

Hutang Inggris membengkak menjadi 16 juta Pound tahun 1698, dan membengkak hebat pada tahun 1815 menjadi 885 pound.

Tahun 1775 kerajaan Inggris gonjang-ganjing, terutama Luxenton dan Concord.

Tahun 1776 Konggres Amerika di Philadelphia menunjuk George Washington sebagai pemimpin angkatan udara dan laut Amerika kemudian memberanikan untuk memproklamirkan pelepasan dan kemerdekaan dari Kerajaan Inggris.

Selama peperangan dan revolusi yang terjadi ditubuh kerajaan-keraan Inggris, perputaran uang kerajaan “Roth Schild” membuahkan keuntungan yang berlipat-lipat.

Tahun 1781 Inggris pun menyerah tanpa syarat.

Tahun 1783 Amerika telah benar-benar merdeka, dalam sebuah perjanjian damai di Paris.

Dan rakyat Inggrislah yang paling dirugikan. Karena mereka semakin banyak hutang. Sehingga setir ekonomi negara benar-benar mutlak ditangan Bangsa Yahudi.

Saat itu, mulailah sejarah Amerika yang terlahir, menjadi wajah baru di akhir abad 18.

Hegemoni ekonomi ini selalu memakan tumbal. Dan tumbalnya berupa peperangan. Amerika pun tak lepas dari rekayasa dan konspirasi perang saudara. Ketika Inggris beserta Perancis kembali dipanasi semangat koloninya untuk kembali memegang Amerika Utara. Kerajaan Inggris menyanggupinya. Amerika Utara dijadikan jalan sebagai kendali hegemoni keuangan Amerika.

Kendali keuangan Amerika Serikat (mantan koloni Inggris) diwujudkan melalui kebijakan keuangan sendiri.

Natsan Roth Schild pada tahun 1815 menjadikan emas untuk menutup uang kertas yang beredar di Eropa. Ia sangat kesulitan mereka merampas hegemoni ekonomi atas Amerika Serikat dikarenakan tutup uangnya menggunakan perak. Saat itu Inggris memiliki cadangan emas cukup banyak sedang Amerika Serikat memiliki cadangan perak yang melimpah.

Bank Dunia “Roth Schild” di Jeneva merasa perlu turun tangan langsung untuk memberdayakan ekomoni Amerika demi menguasai ekonomi dunia selanjutnya.

Tahun 1899 Wakil-wakil Roth Schild di seluruh dunia mengadakan konferensi di Inggris untuk merumuskan monopoli ekonomi dunia. Menghasilkan perlunya siasat “PENIMBUNAN“.

Pada akhirnya kebijakan ekonomi Amerika Serikat pun mereka pegang. Dari sejak menyusupkan orang di pemerintahan, hingga menteri keuangan sampai pada mengatur undang-undang keuangan. Kemudian menjadikan uang dollar sebagai simbol hegemoni dunia. Lengkap dengan filosofi perjuangan bangsa Yahudi. Saat itu orang-orang Yahudi yang berhijrah ke Amerika sudah mulai berani menampakkan hidungnya.

Tepatnya tahun 1882, orang-orang Yahudi yang bersembunyi di Eropa Timur mulai menyebar ke seluruh dunia dan banyak diantara mereka yang menetap di Amerika. Sebagian mendirikan kelompok Pecinta Yahudi di Rusia.

REVOLUSI RUSIA – LENIN (1917)

Pemerintah Rusia mulai kerepotan dan merasakan desakan Yahudi. Akhirnya pada tahun 1834 mereka memutuskan harus mencampur bangsa Yahudi di sekolah-sekolah umum. Untuk menghindari eksklusifisme Yahudi. Namun doktrin Yahudilah yang menjadikan perkiraan mereka terbalik. Justru anak-anak Yahudi dengan sistem ini menjadi lebih banyak wawasannya di banding orang-orang Rusia pada umumnya.

Pelahan namun pasti, Bangsa Yahudi mulai hijrah ke Rusia. Dan mereka memasuki kebijakan pendidikan. Sehingga rakyat dan pemerintah Rusia tambah semakin merasakan intervensi terlalu dalam yang menyebabkan berbagai kerancauan negara.

Berikutnya disusunlah rencana revolusi. Hal ini dimulai dari berbagai pembunuhan tokoh-tokoh penting serta mendukung oposisi-oposisi keras.

Terlebih bangsa Yahudi terprovokasi buku Theodor Hertzel (Wartawan Austria kelahiran Budapest) –Jewish Back to Israel Movement– tahun 1896 dicetak dalam lima bahasa.

Saat itulah sejarah menyebutnya sebagai Gerakan Zionisme. (silsilah gerakan zionisme kuno yang lahir akibat terusirnya Yahudi di beberapa negara Eropa).

Kembali ke Rusia yang mulai panas sejak 1900. Ketika Partai Sosialis Buruh yang menjadi kendaraan Revolusi melancarkan teror-terornya. Tokoh pentingnya, Lenin yang sempat ditangkap pihak kerajaan hingga mengakhiri masa penjara tahun 1897, lari ke Eropa.

Tahun 1905 revolusi berdarah di Pettersburg. Lenin berada di Jeneva namun tak menghalanginya untuk mengobok-obok Rusia dengan tangan-tangan anak buahnya. Termasuk menjebak Rusia dalam perang melawan Jepang tahun yang sama 1905.

Kondisi kekaisaran Rusia semakin parah dengan provokasi partai-partai pro revolusi. Bahwa keruwetan ekonomi dan berbagai peristiwa anarkis serta otoritas kerajaan, hanya ada satu solusi. Yaitu Revolusi.

Kekaisaran Nikola, Pasca 1905 benar-benar ambruk. Sistem kerajaan dan kekaisaran mutlak diubah menganut sistem kerajaan dengan mazhab Inggris. Majelis Duma mulai bekerja. Perdana Menteri Stolypin memegang pemerintahan.

Murid kepercayaan Lenin, Stalin juga berperan aktif dalam merencanakan Revolusi Rusia ini.

Akhirnya kesempatan itu datang tahun 1917. Ketika kondisi sosial, ekonomi dan kerajaan telah benar-benar morat-marit. Dan para buruh serta pengangguran serta orang-orang muda Rusia bisa dikendalikan dengan issu revolusi.

Namun sangat menyedihkan, orang-orang penting pro revolusi yang menghantarkan Lenin ke tampuk pimpinan pada akhirnya mereka pun dihabisi Lenin, setelah kepentingannya tercapai. Lenin sendiri sebelum tutup usia 1924 tercampak sebagaimana Napoleon. Hanya sebagai alat orang-orang Yahudi belaka.

Adapun Yahudi Rusia pasca 1918 terbagi menjadi dua. Sebagian adalah orang-orang revolusi yang bermazhab Marxisme yang berambisi menjadikan Rusia sebagai negara sosialis besar. Sebagian lagi berusaha kembali ke Palestina (merekalah orang-orang Zionisme)

Murid Leninlah, Stalin -lelaki kelahiran Georgia 1879- yang melanjutkan obsesi diktator itu. Ia mulai terkenal setelah Lenin sakit-sakitan tahun 1922. Sehingga dinilai sudah tak layak memegang amanat revolusi.

Kemudian dibentuklah pemerintah pengganti sementara, terdiri dari tiga orang. Stalin, Kaminiev dan Zienofev. Dua orang terakhir adalah tangan kanan Lenin.

Pada sebuah pembukaan munas Partai Komunis di Moskow, Zienofev dipandang paling senior diantara ketiganya. Maka orang-orang partai menawarinya untuk menyampaikan pidato sambutan. Leninlah yang selama ini melakukannya tanpa pengganti siapapun. Zienofev terlihat kurang cakap. Stalin lah yang kemudian naik, memimpin rapat dan menyampaikan pidato. Jadilah ia orang nomor satu sampai meninggalnya Lenin 1924.

Awal tahun 1926 saingan utama Stalin, Zienofev disingkirkan dari Kantor Federasi. Menyusul kemudian pertengahan tahun Kaminiev dan Trotsky didepak.

Tahun 1927 orang-orang tersingkir ini mengadakan pemberontakan. Namun sang diktator baru lebih kejam dari Lenin. Mereka dikubur bersama impian mereka, pengikutnya diasingkan dalam proyek raksasa kerja paksa.

Kemudian Stalin pun hendak merambah Eropa. Dimulai dari Spanyol, atas saran dan bisikan “The Illuninati” yang punya kepentingan atas Spanyol.

PERANG DUNIA I (1914-1917)

Teori yang diterapkan sebagaimana teori perpindahan hegemoni ke Amerika dari Inggris. Serta menimbulkan kekacauan dunia. Untuk mengeruk keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya. Dengan banyaknya peperangan, kebutuhan akan uang untuk mendanai peperangan semakin besar. Maka “Roth Schild” lah yang paling diuntungkan.

S T A L I N

Adapun Stalin mendapat dukungan “The Illuminati“. Kebengisan dan kediktatoran Stalin juga yang membantu program rahasia Freemasonry.

Komunisme dan Marxis lekat dengan Stalin. Sampai akhir hayatnya ia begitu getol menyebarkan mazhabnya tersebut. Rusia (Uni Soviet) telah berhasil ia merahkan. Bahkan dunia tak bisa mengelak dari pengaruh komunisme dan sosialisme ketika itu.

Stalin merancang beberapa ekspansi berikutnya, setelah berhasil di beberapa daerah di Soviet Selatan. Spanyol adalah sasaran ekspansif selanjutnya.

Pasca Perang Dunia I, kemakmuran ekonomi berpihak ke Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Sebagai pihak yang memetik kemenangan. Meski sesungguhnya embrator “Roth Schild” merupakan pihak yang paling diuntungkan.

Siasat politik dalam negeri dengan mengatasnamakan kebersamaan, Stalin membuat proyek sawah umum. Sayangnya program ini terlalu dipaksakan. Tak kurang dari 5 juta orang tewas karena berhadapan dengan hukum mati akibat pembangkangan mereka atau karena tak kuat melawan kelaparan. Hanya kediktatoran Stalin lah yang sanggup melakukannya.

Spanyol resmi dijadikan sasaran “The Illuminati”. Maka partai komunis disana diperkuat. Tiga pemimpin teras partai komunis ini (Morin, Sergis dan Nien) telah menamatkan studi komunisme dan revolusi di sebuah yayasan Lenin di Moskow. Khususnya Morin yang memiliki sejarah hidup penuh revolusi dan tantangan penjara serta pengasingan sejak usia muda.

Di luar dugaan, Morin cs berseberangan kebijakan dengan Stalin. Bahkan mereka menuduh Stalin hanya memperalat Marxisme demi nafsu ekspansi dan haus penindasan belaka. Stalin pun berang dan berusaha segera mengakhiri cerita mereka.

Pertikaian ini akhirnya membuka kedok komunisme sebenarnya. Bahwa ternyata revolusi Spanyol serta perang saudara di negeri itu adalah hasil dari konspirasi Komunisme dan tangan-tangan rahasia “The Illuminati“. Morin dan Sergis membuka mulut atas konspirasi ini.

SPANYOL

Tahun 1923-1936 Spanyol mirip Kanada saat itu. Sebagian penduduk berbahasa Inggris, sebagian lagi berbahasa Perancis. Adapun Spanyol, ada kelompok Basque yang memiliki adat dan bahasa tersendiri, berpegang teguh dengan agama katholik mereka. Basque berkeyakinan sebagaimana orang Kanada berbahasa Perancis bahwa kemerdekaan adalah hak mereka. Mereka ingin memisahkan diri.

Sementara itu sebagian besar rakyat Spanyol telah terpengaruh oleh gerakan komunisme yang didoktrinkan oleh Stalin dan para alumni Yayasan Lenin.

Perang Saudara di Spanyol mulai tahun 1936. Spanyol terbagi menjadi dua blok.

1. Kaum Loyalist yaitu semua kelompok kiri yang menginginkan Spanyol bergabung dengan USSR (Uni Soviet)

2. Kaum Nasionalist, yaitu mereka yang menginginkan liberalisme mutlak atas Spanyol meski dengan sistem diktator seperti Stalin. Seorang Jendral yang baru naik daun, Franco berada di blok ini.

Terpecahnya komunis menjadi dua golongan serta beberapa kelompok lain menelan korban jiwa tentu tak dapat dielakkan. Ribuan nyawa digadaikan. Sepertiga perwira Spanyol dibantai.

Obsesi kaum kiri yang bernafsu mendirikan Uni Soviet untuk memayungi dunia benar-benar menutupi naluri kemanusiaan. Yahudi bertepuk tangan. Tangan mereka tak perlu basah oleh darah. Mereka hanya memetik buah dari kekejaman anak buah Lenin dan Stalin itu.

Di samping itu, bukan hanya Stalin yang mendapat dukungan The Illuminati. Jerman pun diam-diam dipersenjatai oleh “Roth Schild” dan didekati wakil The Illuminati di Eropa.

Isu yang dicoba untuk disebarkan bahwa Jerman tidak akan kalah dalam Perang dunia I jika tidak ada pengkhianatan. Konspirasi AS,Perancis dan Inggrislah yang membuat mereka pasrah dengan keputusan “kalah” tersebut.

Prinsip inilah yang dijadikan orang-orang komunis untuk membangun kembali Jerman, menjadi sebuah mazhab baru yaitu FASISME. Jerman harus menundukkan orang lain. Bangsa Jerman di atas segalanya. Kebalikan dari itu, sumber kerusakan zionisme dan komunisme mesti dituntaskan dari Eropa dan dunia.

Fasisme dikembangkan oleh Franco, Hitler dan Musolini. Mereka berusaha mengeluarkan negeri mereka dari ketergantungan ekonomi terhadap Inggris, Perancis dan AS. Hutang mereka tekan, dan menggantinya dengan income dalam negeri. Ini diikuti oleh Jepang, Itali dan Spanyol.

Fasis merupakan tandingan baru. Dan dari madzhab ini bangsa Jerman juga para tetangganya mengetahui beberapa konspirasi Yahudi yang bermain dibelakang komunis dan revolusi yang mengorbankan banyak nyawa anak manusia. Mereka kemudian berobsesi untuk menggulung AS, Inggris dan Perancis. Menghancurkan hegemoni Stalin dan komunisme di Eropa.

Maka bekerjalah Jepang, Itali dan Jerman dengan rencana ini. Sebagai permulaan, Nazi Jerman dibawah Hitler berobsesi juga untuk membersihkan Inggris dan AS dari mavia ekonomi Yahudi juga orang-orang Yahudi dari manapun. Ketika itu Hitler masih dipenjara, tahun 1934.

Adapun siasat politik Hitler berbeda dengan Stalin yang menjadikan Inggris menjadi musuh.

Hitler perlu patner kuat. Tak lain adalah kerajaan-kerajaan di Inggris. Namun pendekatan ini tak semudah yang Hitler kira. Meskipun Hitler menggunakan jurus memanas-manasi, bahwa Revolusi Rusia 1917 mengorbankan ribuan orang kristen yang dibantai.

Hitler, adalah seorang orator ulung yang pandai memprovokasi. Maka provokasi “Habisi Komunis dan Zionis” terus didengungkannya. Ia mengalami dan mengetahui kejinya konspirasi mereka. Karena itu ia menyerukan pembebasan ekonomi dari konspirasi mereka yang menggunakan alat “The Bank of International Settlemens” di Swiss. Hegemoni Roth Schild.

Hitler satu madhzab dengan Musolini juga dengan Franco, hanya saja yang terakhir mempunyai obsesi sendiri tentang Spanyol, tidak bergabung dengan Jerman dan Itali. Meski Hitler menggabungkannya dalam Fasis-nya.

Adapun Hitler yang telah mengambil hati orang Jerman, dibenturkan oleh “The Illuminati” dengan gereja, baik Katholik maupun Protestan yang menganggap Fasis sama dengan Komunis.

Jadilah TIGA kekuatan dibenturkan. (Kaum gereja, komunis dan fasis)

Sementara itu otoritas kekuatan Rusia, diam-diam menyokong persenjataan Jerman. Sedang Itali, di bawah Musolini telah menggerakkan kapal selam-kapal selamnya.

Franco yang memisahkan diri, mengurusi kerancuan negaranya pasca perang saudara sejak 1936.

Inggris sudah merasa beberapa kekuatan sedang mengincarnya. Ia perlu dukungan “moyang“nya, The Illuminati.

Waktu itulah tersebar dipenjuru Eropa “calo-calo setan” yang memperkeruh keadaan. Dengan uang suap, perempuan, pembunuhan, pencurian, menghalalkan segala cara untuk membuat keadaan yang sedang panas tambah berapi dan terbakar.

Propaganda Hitler ini disambut. Benturan dan konflik senjata dengan orang Yahudi dan Komunis terjadi, di Jerman. Hal ini kemudian di besar-besarkan menjadi sebuah MITOS. Hitler mengubur jutaan orang Yahudi. Bangsa yahudi perlu dikasihani. Diberi tanah untuk berlindung mereka. Supaya terlepas dari kekejaman diktator seperti Hitler.

Jiwa revolusioner Hitler digunakan untuk membenturkan kondisi politik antara komunis dan gereja di Jerman dan Inggris serta Itali.

PERANG DUNIA II

Inggris bersikeras untuk mempertahankan diri. Semantara Jerman dengan komando Hitler semakin beringas. Hanya saja Hitler masih tetap mempertahankan kerajaan Inggris, ia hanya ingin menundukkannya dibawah superioritas Nazi/Fasis Jerman, propagandanya ini diabadikan dalam bukunya Meim Kampf.

Awal tahun 1940, kekuatan bersenjata Jerman benar-benar merengsek Inggris. Hasilnya Inggris terdesak habis oleh obsesi dan ambisi Hitler. Namun sebenarnya Hitler masih bisa diajak untuk sedikit `bersabar` dengan perjanjian. Karena obsesinya untuk menundukkan kerajaan dan menjaga keutuhannya dituruti. Namun, The illuminati tidaklah menghendaki peperangan berubah menjadi sebuah “damai”. Mereka ingin mengubahnya menjadi perang hancur-hancuran.

Ketika Winston Leonard Spencer Charcel naik menjadi PM (aristokrat pro Yahudi Mantan Menhan 1911 dan MenWil Jajahan Inggris 1920), ia menginstruksikan untuk menyerang. Maka diserbulah kota-kota Jerman dengan bom udara. Demikian juga Perancis pun bergabung. Dengan alasan sederhana, karena Jerman menduduki Polandia. Bisa kebayang, kan? Hitler marah besar.

Lalu Stalin. Ke manakah dia?

Murid Lenin ini terkenal cerdas. Tiba-tiba terkesan bingung. Benarkah ia berada dalam barisan The Illuminati. Atau sekedar diperalat oleh mereka. Maka detik berikutnya ia mengetes keikhlasan mereka.

Stalin berniat bergabung dengan Jerman. Ia mencium bau pengkhianatan. Charcel, ternyata seorang boneka zionis “the Illuminati“. Alasan ia menggempur Jerman hanya beberapa titik militer saja karena sebuah perintah atasan. Untuk memenuhi keinginan konspirasi “The Illuminati” yang sedang diuji keikhlasannya oleh Stalin.

“Stalin,.. lihatlah. Kami masih bersama Anda. Jerman, terutama Jerman Timur masih tetap kami biarkan”.

Di pihak lain, para pemimpin teras Nazi tanpa sepengetahuan Hitler, ternyata bersekongkol untuk menghabisinya. Karena ia terlalu ambisius dan lamban dalam mengeksekusi Stalin dan Komunis. Ini juga merupakan siasat provokasi calo the Illmuninati. Untuk menarik simpati Stalin. Maka keputusannya bisa dilihat tawaran para pemimpin Nazi itu ditolak oleh pihak Inggris.

Nazi, memutuskan untuk menggulung Stalin, baru kemudian membumihanguskan Inggris dan Amerika dengan kerjasama Jepang dan Itali.

Tahun 1941 Jerman menyerang Rusia. Stalin pun kembali didukung oleh Inggris untuk menangkal bahaya Fasisme Hitler dan Musolini. Simpati Stalin semakin kuat. Demikian kira-kira The Illuminati menyangkanya.

Namun, Stalin semakin manjadi-jadi. Ia meminta fasilitas yang berlebihan. Tentunya dengan uang yang ia tahu kunci konspirasi mereka di sana. Stalin menjadi penonton sekaligus sutradara berbagai kerusuhan, sementara ia bersembunyi di Teheran.

Charcel, juga Rosevelt berhasil merangkul kembali Stalin. Mereka mengajak Stalin untuk menggempur habis Jerman, dengan janji keuntungan yang melimpah usai perang.

Adapun Stalin tetaplah seorang culas. The Illuminati kecolongan. Stalin tidak mau diatur. Ia bergerak dengan politik dan kemauannya sendiri. Karena Rusia (Uni Soviet) saat itu merasa kuat.

Inggris dan Perancis kuwalahan. Menunggu kebijakan baru dari Amerika Serikat. Sementara itu Jepang pun tak kalah ganasnya. Hanya saja momen Fasis ala Jepang ini kemudian dijadikan para pemegang kebijakan dan keputusan di AS. Peristiwa Pearl Harbour sebenarnya hanya sebuah peristiwa kecil. Kemudian dijadikan legalitas untuk menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menelan korban kemanusiaan yang maha dahsyat. Mengapa kedua kota ini? Nagasaki pun sebenarnya merupakan “kesalahan prediksi” informasi intelijen yang salah memprediksi.

Kok, tidak di Jerman yang saat itu lebih membahayakan?

Ini hanya sebuah siasat. Salah satu aset Roth Schild ada di sana. Juga terlalu spekulatif bila menjatuhkan bom di dekat pusat konspirasi mereka. Sedang Jepang tak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Di samping itu untuk menakut-nakuti Stalin. “Kembalilah ke jalan semula, Stalin. Jika Anda tak melakukannya, nasib Anda seperti Jepang!” Namun gertak sambal ini dilecehkan Stalin.

Stalin tetap saja dengan politik ekspansi militernya dengan semangat “merahnya”. Benar-benar anak The Illuminati yang salah asuhan. Apalagi bergaining Stalin dengan Tito (Yugoslavia) cukup kuat. Meskipun Tito akhirnya “cerai” dengan Stalin pasca Perang Dunia II, karena Tito masih loyal dengan The Illuminati.

Stalin bandel, meski ia sebenarnya minder dengan gertakan AS. Soviet belum mampu mengoptimalkan nuklirnya.

Stalin tutup usia sebagaimana seorang perampok biasa. Hitler pun hilang dengan legenda pembantaian jutaan Yahudi dan Komunis, yang hanya merupakan obsesinya saja.

Perang dunia berakhir dengan kecongkakan Amerika, Inggris dan Perancis. Tiga negara yang tak bisa melepaskan diri dari konspirasi The Illuminati.

TRAGEDI PALESTINA..

Berdirinya sebuah negara Yahudi adalah ibarat cerita fiktif. Obsesi mengumpulkan gelandangan kerdil dan pengecut semula merupakan dongeng belaka. Theodor Hertzel melontarkan ide realisasi impian bangsanya tersebut.

Tahun 1896, bukunya –Jewish Back to Israel Movement– dicetak dalam lima bahasa. Buku ini memuat rancang bangun modernitas tentang Zionisme yang bertujuan membangun sebuah negara yang dikhususkan untuk orang-orang Yahudi.

Beikutnya tahun 1897 Ia memimpin konferensi Yahudi sedunia di Swiss, sekaligus memimpin gerakan zionisme modern. Pasca konferensi Basle ini Zionisme internasional mendukung kependudukan bangsa Yahudi di Palestina. Dan pada tahun yang sama persatuan Yahudi Amerika berdiri.

Tahun 1901 Prof. Hertzel membujuk penguasa Turki Usmani untuk menyerahkan Palestina. Memberi tanah untuk bangsa Yahudi. Khilafah Usmaniyah menolaknya mentah-mentah.

Tahun 1903, Konferensi Yahudi VI sepakat dengan alternatif pendudukan di Afrika Timur.

Tahun 1904, Konferensi Yahudi VII menolak alternatif yang diberikan karena wilayahnya sangat tidak strategis menurut mereka.

Tahun 1909, Konferensi Yahudi IX menetapkan pengadaan kerjasama pembangunan pemukiman Yahudi di Palestina. Pada tahun yang sama organisasi militer Yahudi didirikan untuk menjaga daerah pemukiman.

Tahun 1917, Menlu Inggris, Arthur Balfour mengeluarkan statement terkenal. Bangsa Yahudi punya hak atas Palestina. Belakangan janji ini dikenal dengan Perjanjian Balfour.

Tahun 1918, Jerman dan Itali setuju dengan gagasan dan perjanjian Balfour. Presiden Amerika pun, Word Wilson mengirim surat ke rahib Yahudi menyetujui perjanjian Balfour.

Tahun 1919, bangsa Arab (Konferensi Palestina I) menolak perjanjian Balfour.

Tahun 1920, Inggris memproklamirkan penguasaan penuh terhadap Palestina, penyerangan Yahudi semakin meningkat. Inggris berada dibelakangnya.

Tahun 1921, Bangsa Yahudi mulai hijrah ke Palestina dan jumlahnya semakin meningkat. Diiringi perlawanan dari rakyat Palestina.

Dengan data singkat diatas kita mengetahui. Mengapa Palestina menjadi incaran. Selain nilai strategis, sejarah dan sekaligus berada di bawah koloni Inggris. Mereka pun merekayasa mitos Haikal Sulaiman di Masjid Al Aqsha.

Inggris dan Yahudi memiliki kaitan yang sangat kuat. Inggris tak lepas dari cengkraman pengaruh zionis. Demikian juga Amerika Serikat.

Tahun 1925 Universitas Ibrani di Al Quds didirikan, Balfour pun ikut hadir saat itu.

Tahun 1933, Konferensi Yahudi XVIII membahas pemindahan Yahudi ke Eropa. Mereka mulai merasakan ancaman kekuatan baru yang muncul selain kekuatan merah. Fasisme dan Nazi. Mitos berikutnya yang berkembang. Yahudi Jerman dihabisi oleh Nazi. Maka perlu diberi tempat berlindung. Ini sekedar teori untuk memudahkan lobi mereka mendapat dukungan ke Palestina.

Tahun 1935, Izzuddin al Qassam syahid dalam perang Qastel melawan imperialisme Inggris.

Tahun 1942, Konferensi Yahudi Amerika menghasilkan program Baltimour. Berisi ajakan membuka Palestina bagi pendatang Yahudi dan melepaskan campur tangan Inggris serta ajakan mendukung berdirinya negara Israel di Palestina. Janji Balfour (1917) baru berupa tawaran otoritas wilayah, bukan negara. Hotel Baltimour, New York menjadi saksi ambisi mereka mendirikan sebuah negara Yahudi. Amerika menjadi tumpuan utama. Sedang secara politik mereka bersembunyi dibalik Inggris.

Tahun 1945, Presiden Amerika, Henry Thurtman mendukung kependudukan Yahudi di Palestina

Tahun 1947, PBB memutuskan pembagian tanah Palestina dan menghentikan koloni Inggris atas Palestina. Pada tahun yang sama Lobi Yahudi berhasil menembus PBB sebagai pembukaan pra proklamasi negara Yahudi.

Tahun 1948, PBB basa-basi, mengeluarkan ketetapan no.194 berisi kembalinya pengungsi Palestina ke negaranya.

Pada tahun yang sama Negara yahudi diproklamirkan. Negara Israel dengan 78% atas tanah Palestina. Soviet segera mengakuinya. Tepatnya tanggal 14 Mei 1948. Dideklarasikan oleh David Ben Ghorion (1886-1973). Dan 11 menit setelah proklamasi Presiden Amerika Thurtman mengakui negara Israel.

Keberhasilan Yahudi ini tak terlepas dari kelihaian mereka mendompleng kolonialisme Inggris atas Palestina juga konspirasi mereka mendukung oposan Khilafah Usmaniyah. Mereka menganggap selama Usmaniyah masih berdiri Palestina hanya menjadi negeri impian. Mereka kemudian bersekongkol dengan kaum ittihadiyyun dan taraqqi (kita ingat tokoh Yahudi Turki yang berlabel muslim moderat, Kamal Ataturk). Kemudian ikut meledakkan revolusi Arab. Negara-negara Arab diprovokasi untuk melepaskan diri dari khilafah Usmaniyah. Motto Turki adalah penjajah bangsa Arab dikembangkan. Nampaknya propaganda ini berhasil. Bangsa Arab satu-demi-satu melepaskan diri dari Khilafah “The Sick Man“. Yahudi bertepuk tangan.

Tahun 1949, Israel diterima sebagai anggota PBB.

Tahun 1954, Aksi Istisyhad mulai dan diberangkatkan secara sembunyi-sembunyi dari Mesir.

Tahun 1958, Gerakan Pembebasan Al Fath berdiri

Tahun 1964, PLO berdiri atas keputusan KTT Liga Arab

Tahun 1967, Perang Arab Israel I. Israel tetap bersikeras mempertahankan daerahnya sejak saat itu. Bangsa Arab pun tetap teguh mempertahankan haknya. (terutama rakyat Palestina yang paling tertindas, juga Yordania, Libanon, Syiria dan Mesir)

Tahun 1973, Benteng Berliev dihancurkan tentara Mesir. Bersamaan dengan Itu kekuatan Syiria juga Libanon juga mengempur Israel. Pil pahit kekalahan ditelan Israel.

Tahun 1978, Perjanjian Camp David ‘i, Israel dan Presiden Mesir Anwar Sadat. Berikutnya Mesir dikucilkan dari Liga Arab, Markaz Liga Arab pindah dari Kairo. Bahkan Presiden Anwar Sadatpun dihadiahi beberapa peluru yang menembus dada dan keningnya pada saat parade Militer di kawasan Nasr City, Kairo Timur.

Tahun 1987, Lahirnya Intifadhah. Perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel besar-besaran untuk pertama kalinya.

Tahun 1988, HAMAS berdiri da Syeikh Ahmad Yasin didapuk sebagai pemimpin spiritual.

Tahun 1991, Yahudi berbondong-bondong, hijrah besar-besaran ke Israel (Palestina)

Tahun 1993, Penandatanganan Oslo (Israel-Palestina)

Tahun 1994, Tragedi pembantaian Yahudi terhadap umat Islam di Masjid Ibrahimy

Tahun 1995, Perjanjian Oslo II tentang perincian pelaksanaan otonomi Palestina. Aktivis HAMAS, Al Jihad banyak ditangkap sehubungan dengan berbagai aktivitas bom syahid yang saat itu masih kontroversi.

PM Israel Yitzaq Rabin terbunuh ditangan seorang Yahudi Ekstrim. Simon Peres naik menjadi PM menggantikannya.

Tahun 1996, Netanyahu naik jadi PM Israel. Israel-Turki sepakat bekerjasama di bidang perdagangan dan militer.

Pada Tahun yang sama Putra Batalyon Al Qassam, Yahya Ayyasy syahid. Tepatnya pada tanggal 5 Januari 1996.

Tahun 1998, Target Yahudi Internasional, Zionisme Timur Besar untuk mendirikan Imperium Israel Raya. Namun rencana ini belum berhasil. 100 tahun dari 1898 adalah target menjadikan Palestina (saat itu mereka tidak menyebut Israel) menjadi negara bagi Yahudi yang bersih dari etnis manapun terutama bangsa Arab.

Di tahun ini, terjadi penandatangan perjanjian Way River yang sangat merugikan Palestina.

Tahun 1999, Netanyahu turun tahta. Ehud Barak naik jadi PM. Barak pura-pura tak tahu perjanjian Way River dan memperluas pemukiman Yahudi. Ia merekomendasi 1145 unit perumahan baru untuk 180 ribu Yahudi.

Tahun 2000, Si jagal Shabra Syatila Ariel Sharon “berkunjung” ke Masjidil Aqsha. Mengotori kesucian umat Islam. Sekaligus menjadi pemicu meletusnya Intifadhah II.

Tahun ini juga menjadi saksi kekejaman Israel. Syahidnya si kecil Muhammad Jamal Durrah dipangkuan ayahnya. Dihujani peluru pasukan Israel.

Tahun 2001, Ketika dunia geger dengan peristiwa WTC, Israel berpesta membantai rakyat Palestina. Ariel Sharon terdesak dengan tuntutan ekstrim keras Yahudi yang mendesak realisasi Imperium Raya, Israel.

Tahun 2002, meningkatnya aksi militer Israel di wilayah-wilayah Palestina.

Dengan mengenal sejarah zionisme dari zaman dulu hingga kini, kita bisa mengetahui bahwa tokoh-tokoh penting dunia berhasil mereka peralat untuk memuaskan ambisi mereka. Bahkan untuk sekarang ini mereka cenderung mendukung pemimpin negara-negara Arab yang di negara mereka masing-masing di kenal diktator. Mereka angkat sebagai pahlawan. Tentu saja rakyat bangsa Arab jengkel. Tapi, kenyataan menuturkan demikian. Akan tetapi kelihaian dan kelicikan mereka tetaplah ada batasnya. //”Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allahlah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. 3:54)//. Bukan seperti mitos “sundul langit” yang sering kita dengar. Buktinya mereka ketakutan dengan aksi bom syahid dan batu-batu beterbangan dari putra-putra Palestina. Padahal mereka bersenjata lengkap dengan peralatan yang serba canggih.

Kapankah saudara kita di Palestina merasakan kemerdekaan bangsanya dari kelicikan Yahudi. Kapankah Masjidil Aqsha akan terbebas dari kotornya kaki-kaki Yahudi.

Kemenangan itu dekat, jika kita meyakininya demikian. Malam semakin kelam. Penindasan dan penderitaan saudara kita di Palestina semakin parah. Dan… fajar pun akan segera terbit. Menyambut senyum kemenangan.

Allâhummanshurnâ… `ala al yahûd al mutawakhkhisyîn, wa man wâlâhum yâ Rabb.

Saiful Bahri

Renungan Akhir tahun 2002

Kampung Delapan, Taman-Taman Kebaikan, Cairo

Bahan tulisan:

  • Konflik Palestina Dua Abad (1798-2001) terbitan SINAI (Studi Informasi Alam Islami) Cairo, 2001
  • Catatan Perwira Jerman, William Gey. “Batu-batu di Atas Papan Catur“. Edisi terjemah bahasa arab “Ahjâr `alâ Riq`ati Syathranj” terbitan Darun Nafais, Beirut. Cet.XIII. 1991
  • Majalah Izzah edisi 11, April 2002 (terbitan SINAI Cairo)

Tafsir dan Pendekatan Antropologis

Tafsir, dan Antropologi Sosial(*)

(Sebuah Pendekatan Metodologi; Urgensi, Relevansi dan Penyalahgunaannya)

Saiful Bahri, M.A.(**)

Prolog

Antropologi dalam KBBI didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaannya pada masa lampau ([1]). Sedangkan sosiologi adalah ilmu tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur sosial, proses sosial dan perubahannya ([2]).

Iftitah

Salah satu pendekatan tafsir modern adalah melalui pendekatan sosial. Corak ini muncul sebagai salah satu corak tafsir modern sebagaimana dikatagorikan Dr. Muhammad Hussein adz-Dzahabi ([3]). Di antara tokoh-tokohnya –tutur adz-Dzahabi- Syeikh Muhammad Abduh dan muridnya Sayyed Rasyid Ridha serta Syeikh Musthafa al-Maraghi. Corak sosial yang dimaksudkan adz-Dzahabi di sini adalah sebagai sebuah pendekatan dalam kerangka menyuguhkan solusi bagi beberapa problematika sosial, dan bukan sekedar interpretasi kering yang berpijak pada linguistik dan pemaknaan atas kata-kata serta satuan-satuan bahasa saja. Namun, Abduh – yang dikenal reformis juga- mewanti-wanti urgensi filterisasi kemurnian akidah ini dari ”penyelundupan” tafsir yang salah sehingga mengakibatkan perubahan yang eksterm dalam kehidupan umat Islam ke arah yang desdruktif ([4]).

Belakangan, seiring dengan perkembangan filsafat modern pendekatan sosial dalam kajian keislaman pun mengalami berbagai pergeseran pemahaman. Memang benar obyek dan sasarannya tak mengalami pergeseran, namun ada perluasan titik studi. Menjadi bukan sekedar mempelajari manusia dan budayanya, akan tetapi meluas pada pengaruh budaya dan lingkungan terhadap perilaku keberagamaan seseorang atau sebuah komunitas sosial. Simpelnya akan ada blok-blok eksklusif dalam praktek keberagamaan bila kurang tepat dalam melakukan pendekatan sosial. Terlebih bila penekanan pendekatan metode ini dititikberatkan pada budaya dan kelekatan perilaku keberagamaan sebuah komunitas tertentu. Bisa jadi akan mengebiri universalitas al-Qur’an. Karena tidak mustahil akan ada penafsiran regional atas al-Qur’an sesuai komunitas sosialnya. Ada tafsir sosial Arab, Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Afrika, Eropa dan lain sebagainya yang bercorak eksklusif.

Padahal antropologi sebagai sebuah ilmu kemanusiaan sangat berguna untuk memberikan ruang tafsir yang lebih elegan dan luas. Sehingga nila-nilai dan pesan al-Qur’an bisa disampaikan pada masyarakat yang heterogen.

Oleh pengusung sekaligus penganut hermeneutika, semisal Nasr Abu Zeid –intelektual Mesir yang menjadi Guru Besar Islamic Studies di Universitas Leiden- dengan jargon ”produk budaya”nya sebenarnya tidaklah membidik langsung al-Qur’an. Karena beliau tidak sedang berlogika al-Qur’an adalah [hasil] karya [budaya] manusia, meskipun bisa jadi hendak menggugat sakralitasnya. Namun, sasaran tembak beliau adalah buku-buku tafsir otoritatif yang ditulis oleh para mufassir salaf. Karena mereka –para mufassir salaf- menurutnya tidak menguasai antropologi dan sosiologi modern. Dikarenakan mereka hidup di masa yang berbeda dengan kita. Maka, sebagian penafsiran mereka menjadi tidak relevan dengan kondisi sosial modern. Dan memang perbedaan itu selalu terjadi bahkan di antara para mufassir yang sezaman. Namun, naif bila mengecilkan peran mereka sama sekali. Bangunan metodologi para mufassir dan fuqahâ dengan berbagai klasifikasinya menjadi buyar –hanya- karena mereka ketinggalan ”pelajaran” yang bernama sosiologi modern dan antropologi. Muhammad al-Ghazali mengakui bahwa al-Qur’an bukan semata menjadi monopoli tempat istinbâth para fuqahâ. Karena al-Qur’an memberi ruang yang luas juga bagi para mufassirin, pakar bahasa dan mutakallimin untuk ikut menikmati al-Qur’an sebagai jalan memopulerkan kemukjizatannya ([5]).

Urgensi Pendekatan Antropologi dalam Studi Tafsir

Seberapa pentingkah metodologi antropologi sosial dalam studi tafsir? Di dalam al-Qur’an banyak kita jumpai urgensi peran sebuah tokoh. Sebagai contoh kata al-muttaqûn([6]) /al-muttaqîn([7]) sebagai sarana menjelaskan hakikat ketakwaan seperti yang terdapat pada awal surah al-Baqarah dan Ali Imran, ayat: 133-136, ash-shabirûn([8])/ash-shabirîn([9]) dipakai untuk memaparkan konsep kesabaran, shâdiqûn([10])/shâdiqîn ([11])/ shadiqât ([12]) untuk lebih mendalami makna kejujuran, kesungguhan serta etios kerja; serta kata-kata pelaku (fâ’il) lainnya.

Ini menunjukkan betapa pentingnya manusia sebagai pelaku peradaban. Maka mempelajari segala sesuatu yang bersangkutan dengan manusia, terlebih dalam konteks memahami kitab Allah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan. Inilah -yang dalam bahasa Syeikh Muhammad Abu Syahbah- al-Qur’an disebut sebagai pintu ilmu-ilmu modern sebagai perangkat mengikuti kemajuan zaman ([13]).

Contoh lain, adalah klasifikasi surat-surat al-Qur’an menjadi makky dan madany. Yang tentunya sangat memperhatikan peristiwa dan lingkungan serta setting turunnya al-Qur’an. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qader menyebutkan beberapa faedah klasifikasi masalah ini:

  1. Untuk mengetahui nasakh-mansukh dalam hal beberapa ayat yang berbicara dalam satu tema tertentu. Apalagi jika terjadi perbedaan hukum antara keduanya.
  2. Untuk mengetahui tarikh tasyri’ (sejarah dan proses suatu hukum)
  3. Untuk semakin menguatkan argument otentisitas al-Qur’an, karena diketahui mana yang turun di Makkah dan mana yang turun di Madinah; manayang turun siang hari dan mana yang turun di malam hari ([14]).

Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ’khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam ([15]).

Kerangka Teoritis Pendekatan Antropologi

Secara garis besar kajian agama dalam antropologi –tulis Jamhari Ma’ruf dalam makalahnya ([16])-dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis; intellectualist, structuralist, functionalist dan symbolist.

Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E.B. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Namun , dampak dari pendekatan seperti ini bisa mengarah pada penyamaan sikap keberagamaan.

Ketiga pendekatan setelahnya; teori strukturalis, fungsionalis dan simbolis dipopulerkan Emile Durkheim, dalam magnum opusnya The Elementary Forms of the Religious Life, telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama dari sisi yang sangat sederhana sekaligus menggabungkannya secara struktur.

Durkheim mengritik terori intelektual di atas dengan tesis masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah ”struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral.” Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme, utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Demikian halnya mengenai fungsi agama bagi masyarakat. Keduanya sangat berhubungan erat.

Adapun teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim, walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama ([17]).

Dalam pandangan ilmu sosial, pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya, melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris, sebagaimana realitas sosial lainnya, sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, tentu hal-hal yang empirislah, walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting, yang menjadi perhatian kajian sosial ([18]).

Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia menjadi bagian realitas ketuhanan. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia, yang itu menjadi pusat perhatian antropologi, menjadi sangat penting.

Relevansi Antropologi dalam Penafsiran al-Qur’an

Syeikh Muhammad Abduh berpendapat yang dibutuhkan oleh umat ini adalah pemahaman kitab suci sebagai sebuah hidayah yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga al-Quran pasti dapat menyuguhkan berbagai solusi beragam atas pelbagai polemik sosial dan problem yang sangat kompleks ([19]). Atas ajakan ini, corak sosial yang kental dalam penafsiran beliau menjadi pijakan dasar pengembangan sosiologi modern. Terutama dalam menyikapi permasalahan yang menyentuh masyarakt sosial.

Penjabaran kegiatan-kegiatan ekonomi yang dijabarkan dari tafsir sosial permasalahan masyarakat; seperti kemiskinan, melawan monopoli dan ihtikâr, perlakuan zhalim terhadap harta anak yatim, sampai pada distribusi zakat dan kinerja para amilin zakat. Sebagai penyeimbang kasus-kasus polemik epistimologis yang dihasilkan dari premis desakralisasi teks (al-Qur’an), dari sejak wacana penyetaraan gender sampai menggugat jenis-jenis hukuman kriminal.

Relevansi pedekatan antropologi dicontohkan al-Qur’an sendiri dalam kasus pelarangan meminum khamr yang turun dalam tiga tahapan: pertama, tahapan balance informasi ([20]) . Kedua, tahapan peringatan ([21]) . Ketiga, tahapan final pengharamannya ([22]). Struktur perintah termasuk redaksi dan pola penyampaiannya sangat memperhatikan kondisi sosial masyarakat saat itu.

Demikian halnya dalam konteks penyampaian isi al-Qur’an dan penafsirannya pada skup yang sangat mikro dan lokal yang diperhatikan adalah konteks metode penafsirannya dan bukan pada pengubahan substansinya. Bila tidak problem budaya akan semakin menjadi tema polemik yang menarik antar komunitas yang berbeda. Seperti pengertian dan batasan tentang jilbab. Benarkah batasan wajibnya hanya pada aurat kubrâ? Selebihnya diserahkan pada nilai kebiasaan dan adat masyarakat setempat. Benarkah hijab atau jilbab hanya menjadi sebuah simbol keberagamaan. Atau ada maqashid syariah di sana? Jika sebagai symbol apakah mewakili symbol keberagamaan universal atau mewakili kultur tertentu saja. Atau sebaliknya dengan dalih maqashid, simbol seperti ini bisa digantikan dan tidak dipakai?

Bila yang dijadikan patokan hukum adalah adat maka tidak mustahil suatu kondisi kemungkaran yang menyebar berubah penilaiannya menjadi makruf. Sedang sebaliknya pengingkaran terhadap ini menjadi mungkar karena melawan suara mayoritas. Lebih dahsyatnya bila umat ini kehilangan imunitas saat serangan globalisasi peradaban dan budaya datang bertubi-tubi.

Gelombang globalisasi budaya ditandai dengan akhir dari periodisasi keyakinan atau budaya Amerika ([23]) yaitu bagaimana menyalurkan pemikiran-pemikiran ini ke seluruh penjuru dunia menembus batas-batas geografis dan keyakinan bangsa lain. Pada akhir abad 20 kita masih sering membuat anti tesa antara peradaban Islam dengan peradaban Barat, atau antara Timur dan Barat. Akan tetapi anti tesa ini pelahan bergeser dan berubah dengan anti tesa antara Islam dan Amerika. Sehingga Islam diwacanakan sebagai common enemy (musuh bersama). Atau meminjam istilah Ibnu Kholdun sebagai konspirasi penafsiran sejarah (at-Tafsir at-Ta’amury li at-Tarikh). Tak aneh, jika suatu saat ada anekdot pilihan menjadi manusia hanya dua; menjadi pluralis (yang mengakui persamaan/penyatuan semua agama) atau menjadi teroris (yang selain itu[?])

Serangan globalisasi budaya bila disikapi dengan pendekatan antropologi terhadap penafsiran al-Qur’an bisa mengakibatkan mindset terbalik yang bertujuan desakralisasi nilai-nilai dan sangat propagandis. Sebagai misal, sebut saja pengalihan wacana pertikaian dan kepentingan politik Amerika di Timur Tengah menjadi seruan perhatian dunia terhadap lingkungan hidup. Ini ajakan yang bagus. Hanya saja shâhib fikrahnya adalah perusak lingkungan maka dagangan politik ini cenderung kurang laku meski tak henti-hentinya didengungkan.

Karena itu perlu penyikapan realitas sosial dengan bijak. Pembacaan minor internal umat Islam dengan sikap mental inferior, meminjam istilah Malik ben Nabi sikap qâbiliyah umat untuk dijajah akan memperparah menjadi inferiority complex. Akibatnya, dengan serta merta mengikut dan mengadopsi budaya eksternal dengan filter terlalu lebar atau tidak sama sekali. Demi melihat glamournya kemajuan dan kemapanan kehidupan sebuah komunitas sosial seperti di Eropa dan Amerika. Hal senada ditegaskan Syeikh Muhammad al-Ghazali ([24]).

Penyalahgunaan Pendekatan Antropologi dalam Kajian al-Qur’an

Pada prakteknya sosiologi maupun antropologi modern tak jarang dijadikan senjata untuk mereduksi otoritas al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi dalam Islam. Karena metode yang ditonjolkan adalah fungsi akal dan nalar di atas segala-galanya.

Karena dominasi pandangan hidup sekuler-liberal-ultra liberal seperti di atas, maka nilai-nilai yang ada pada tradisi dan agama –yang sudah mapan- menjadi terpinggirkan bahkan dibongkar. Renè Descartes, -bapak filsafat modern- dengan prinsip aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum) menjadikan rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Wahyu dalam struktur epistimologi menjadi terpinggirkan. Sekularisasi epistimologi semakin bergulir dengan munculnya filsafat Hegel dan Marx yang mengangap realitas sebagai perubahan dialektis. Akhirnya, sekularisasi epistimologi memasuki ruang lingkup agama. Hasilnya tidak ada lagi yang benar-benar sakral, abadi dan universal. Semuanya manusiawi belaka ([25]). Manusia lebih tahu tentang dirinya sehingga tak perlu campur tangan kitab suci dan aturan dari Tuhan.

Oleh kelompok liberal, antropologi dijadikan ilmu alat untuk mereduksi kemapanan sebagian tafsir al-Qur’an. Lihat saja bagaimana tafsir emansipatoris yang berkembang –justru- dibidikkan untuk menggugat ayat-ayat yang diopinikan misogini dan memberi peran sub-ordinat bagi perempuan. Penyuaraan penyetaraan gender yang berlebihan dengan dalih porsi ini masih minim dalam penafsiran al-Qur’an para ahli tafsir salaf. Pada tataran ekstrim ada yang menyuarakan amandemen ayat-ayat di atas. Na’udzubillah min dzalik. Dr. Muhammad Belatagy menambahkan bahwa pemikiran seperti ini lebih masuk karena disuarakan oleh orang-orang Islam yang terkontaminasi oleh pergolakan budaya internal dan serangan budaya eksternal yang hedonis. Mengingat bahwa tema-tema perempuan menjadi salah satu sasaran empuk desakralisasi teks-teks al-Qur’an ([26]) . Sebagai contohnya, dengan pendekatan sosial menyuarakan penafian poligami oleh al-Qur`an sendiri, dengan dalil penasakhan hukum aslinya. Ayat yang digunakan adalah surat an-Nisa, ayat 129 ([27]). Tentunya pembacaan seperti ini tidak dibenarkan. Final destinasinya adalah penyetaraan gender dan penguapan supremasi laki-laki atas perempuan dalam praktek-praktek keberagaman ([28]).

Dalam konteks lebih luas, penggunaan metode ini akan menjadi kurang tepat bila mengadopsi peleburan istilah kata. Karena kata-kata dalam al-Qur’an ada haqiqah lughawiyah (makna bahasa) dan haqiqah syar’iyyah (makna syar’i). Seperti kata ash-shalah, al-jihad, al-Islam dan seterusnya. Penghapusan dua limit inilah yang menjadi masalah.

Sebagai contoh, klasifikasi kata (lafazh) Arab, seperti majâz (kiasan) dan haqîqah (hakiki), memang dibahas oleh teori hermeneutika, sebagaimana kajian ilmu tafsir, tetapi teori hermeneutika tidak mengenal haqîqah syar’iyyah. Padahal, realitas tersebut ada di dalam al-Qur’an, ketika lafadz tersebut telah direposisi oleh sumber syara’ dari makna bahasa menjadi makna syara’. Karena teori hermeneutika tidak mengenal haqîqah syar’iyyah, maka kedua lafadz tersebut tetap diartikan sebagai haqîqah lughawiyah, sehingga masing-masing diartikan dengan kerja keras untuk jihâd, dan berdoa untuk shalâh atau kepasrahan total untuk al-Islam.

Dengan kerangka yang sama, kaidah bahasa: muthlaq-muqayyad, seperti dalam kasus hukuman pencuri yang muthlaq ([29]) kemudian di-taqyîd dengan hadits: majâ’ah mudhtharr (kelaparan yang mengancam nyawa), tidak diakui. Tentu, karena kedudukan Rasul saw hanya dianggap sebagai tokoh sejarah, bukan sebagai bagian dari as-syâri’ (sumber hukum otoritatif). Akibatnya, tindakan ‘Umar ketika tidak memotong tangan pencuri yang mencuri pada tahun paceklik (‘âm ar-ramâdah) dianggap sebagai tindakan tak menerapkan hukum potong tangan dan kemudian dijadikan justifikasi untuk keluar dari sakralitas teks alQur’an ([30]). Padahal, ini bagian dari konteks muthlaq-muqayyad. Dengan Rasul saw yang diposisikan sebagai tokoh historis, berarti konteks mujmal-mubayyan juga tidak bisa diterima. Padahal seperti tutur al-Qurthubi, hal ini pernah dilakukan juga oleh Rasululla saw dan khalifah Abu Bakar ra ([31]). Hanya saja Umar ra populer dengan pernyataannya: ”Aku tidak memotong (tangan) pada tahun ini([32]).

Tak kalah serunya, juga ketika Umar ra memiliki penilaian khusus tentang menikahi perempuan ahli kitab. Saat sebagian besar ulama shahabat membolehkanya, bahkan Usman bbin Affan ra memperistri kitabiyah Nasrani, Talhah memperistri kitabiyah Yahudi; Umar melarang Hudzaifah. Hanya saja, pertanyaan cerdas Hudzaifah menjadi solusi polemik hukum ini. Hudzaifah menanyakan: Apakah ini halal atau haram? Umar menjawabnya: bukan, masalahnya tidak di situ. Hal ini halal. Hanya saja aku takutkan mereka berbuat makar dan mengalahkan perempuan-perempuan kalian sehingga kalian lebih tertarik pada mereka ([33]) . Sebuah pandangan sosiologis yang matang. Sebuah langkah prefventif sosial yang cerdas. Dan tidak harus melawan otoritas teks yang memang benar menghalalkannya.

Obyektifitas: Bagian dari Hermeneutika?

Pendekatan antropologi dalam kajian epistimelogi bisa berkaitan erat dengan hermeneutika. Dalih obyektifitas –yang ambigu- juga digunakan dalam pendekatan ini. Semua anggapan harus dibuang, padahal obyek kajian yang dihadapi bukanlah realitas empiris yang bisa diuji dengan kaidah eksperimental layaknya obyek kajian ilmiah. Kesalahan inilah yang menyebabkan kesalahan-kesalahan berikutnya, termasuk ketika teori ini digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an. Dengan kata lain, obyektivitas tafsir al-Qur’an ditentukan oleh tunduk dan tidaknya akal dalam melakukan pembacaan terhadap teks. Karena akal hanya berfungsi untuk memahami, maka dikatakan obyektif, jika tafsiran akal tunduk pada kedua sumber di atas—syara’ dan bahasa— tersebut. Jika akal tidak tunduk pada kedua sumber tersebut, berarti al-Qur’an —seperti yang diklaim Arkoun— hanya menjadi alat justifikasi. Justru inilah yang menyandera tafsir hermeneutika Fazlur Rahman, Arkoun, Nash Abû Zayd dan kawan-kawannya. Di sinilah letak persoalan metode tafsir hermeneutika yang mereka kembangkan, ketika anggapan-anggapan dasar yang seharusnya digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an semuanya dibuang, seperti akidah dan syariat Islam, misalnya. Jadi pendekatan kultur yang dipakai dalam penafsiran al-Qur’an adalah memaknai letak berlakunya tafsir secara elegan bagi masyarakat setempat dan bukan berdasar kaidah universal sebagaimana dipahami para para mufassirun.

Adanya peleburan istilah syara’ dalam budaya atau adat sebuah komunitas sebagai patokan perilaku dan akhlak, misalnya; juga akan mendatangkan penafsiran yang melenceng. Padahal al-Qur’an telah menurunkan kerangka umum dan batasan-batasanya. Sifatnya mulzam (wajib diikuti dan dilaksanakan) serta mendapatkan balasan sesuai kriteria yang ada, yang baik akan diganjar pahala dan yang buruk akan diancam siksaan-Nya ([34]).

Ikhtitam.

Al-Qur’an sebagai ruh –seperti ungkap Muhammad Quthb- akan memengaruhi cara pandang dan pola hidup seseorang. Terlebih bila ia sangat dalam merasakannya. Siapa yang hidup dengan al-Qur’an berarti ia hidup bersama Allah ([35]). Tak kenal takut dan minder. Meski berhadapan dengan kebudayaan yang bagaimana pun atau di depan kedigdayaan seperti apapun. Apalagi dengan keyakinan bahwa kitab Allah ini dijaga-Nya sebagaimana Ia berjanji. Dan jug akarena Islam adalah sebuah agama, bukan sebuah gerakan pemikiran atau fenomena sosial yang bersifat sementara ([36]).

Karena itu semoga kajian kita tentang antropologi ini tidak –malah- menjauhkan kita dengan al-Qur’an. Karena tujuan pengajian al-Qur’an dan perintah untuk menadabburinya adalah untuk melunakkan hati dan selanjutnya mudah menerima kebenaran dan hidayah al-Qur’an dan bukan dengan mengangkuhkan diri dengan mendewa-dewakan superioritas akal yang terbatas.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan bisa membantu kita –penulis khususnya- untuk lebih rajin rajin membaca dan mengkaji sehingga tidak terjebak pada stigmatisasi golongan. Karena sampai orang-orang yang menempatkan diri sebagai kaum netral dan obyektif secara tak sadar telah menelan sebuah subyektifitas tertentu. Wallâhu al-Musta’ân wa`a’lam bi ash-Shawâb.

Kampung Sepuluh, Siang Menjelang Sore

Cairo, 01 Oktober 2007 M/ 19 Ramadhan 1428 H

Endnotes


* Disampaikan dalam kajian reguler FORDIAN (Forum Studi al-Qur’an) Cairo, di Hay. 7 , Cairo pada hari Selasa, 2 Oktober 2007.

** Peserta program doktoral Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar, Cairo


([1]) Lihat: KBBI, Balai Pustaka, Edisi Ketiga, cet. I, 2001, h. 58

([2]) Ibid., h. 1085

([3]) Dr. Muhammad Hussein adz-Dzahabi, at-Tafsîr wa al-Mufassirûn, vol. II, h. 588

([4]) Dr. Hamdy Zaqzouq, al-Islam wa Qadhâyâ al-Hiwâr; Buhûs wa Dirâsât fi Dhaui al-Qur’an al-Karim, Cairo: Kementrian Wakaf, Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Mesir, Cet. 2002 h. 160

([5]) Syeikh Muhammad al-Ghazali,Kaifa Nataámal ma’a al-Qur’an, Mansoura: Dar al-Wafa-Virginia: IIIT, Cet. V , 1997, h. 46

([6]) Diulang sebanyak 6 kali

([7]) Diulang sebanyak 43 kali

([8]) Diulang sebanyak 6 kali

([9]) Diulang sebanyak 15 kali

([10]) Diulang sebanyak 6 kali

([11]) Diulang sebanyak 50 kali

([12]) Diulang sebanyak 1 kali

([13]) Dr. Muhamad Abu Syahbah, al-Madkhal li Dirasat al-Qur’an al-Karim, Cairo: Maktabah as-Sunnah, Cet. I, 1992, h.13

([14]) Dr. Jum’ah Ali Abd. Qader, Ma’âlim Suar al-Qur’ân wa Ithâfat Durarihi, t.t. ,vol. I, h. 90-91

([15]) Jamhari Ma’ruf, Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam [makalah]

([16]) Ibid.

([17]) Ibid. (dengan sedikit tambahan dan perubahan)

([18]) Ini yang perlu kita kritisi. Karena Islam mengajarkan kita untuk meyakini sesuatu dengan dalil dan argumen yang kuat. Dan karena realitas kebenaran agama tidak –serta merta- bisa diteorikan secara empiris sebagaimana berbagai eksperimen-eksperimen dalam kajian ilmiah. Karena selalu ada ruang ghaib yang tak mampu ditembus manusia dan hanya berbekal pada wahyu. Meskipun porsi sosial yang membicarakan manusia tentu sangat dan jauh lebih lebih banyak.

([19]) Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Manâr, Beirut: Dar al-Fikr, 1998, Vol. I, h. 24

([20]) lihat QS. Al-Baqarah, ayat: 219.

([21]) lihat QS. An-Nisâ’, ayat: 43

([22]) lihat QS. Al-Mâ’idah, ayat: 90

([23]) Sejarah Amerika dapat dibagi menjadi beberapa periode, pertama: periode keluar dari dataran Eropa menuju benua baru yaitu benua Amerika sekarang ini, kedua: permusuhan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, ketiga: penyebaran budaya Amerika ke seluruh penjuru dunia. (lihat: Muhammad Abdul Munim, Al-Islam Wa Hadaiq As-Syaithon, Kitab Mahrajan lil-Jami’, Cairo: Maktabah Usrah, 2000, h. 98-99

([24]) Syeikh Muhammad al-Ghazaly, Op. Cit, h. 59

([25]) Adnin Armas, MA, Gagasan Frithjof Schuon tentang Titik Temu Agama-Agama, Jurnal ISLAMIA, Thn. I, No. 3/ September-November 2004, h.10

([26]) Dr. Muhammad Beltagy, Makânah al-Mar`ah fi al-Qur`an al-Karim wa as-Sunnah ash-Shahihah, Cairo: Darussalam, Cet. I, 2000, h.13

([27]) Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nataámal ma’a al-Qurán al-Azhim, Beirut: Dar el- Syourouq, Cet. III, 2000, h. 318.

([28]) Muhammad Quthb, Wâqi’unâ al-Mu’âshir, Beirut: Dar el- Syourouq, Cet. I, 1997, h. 239

([29]) lihat. QS. Al-Ma`idah, ayat: 38

([30]) Syeikh Muhammad al-Ghazaly, Op. Cit, h. 167

([31]) Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi (W. 761 H), al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadis, 2002, vol. VI, h. 160

([32]) Dr. Muhammad Beltagy, Manhaj Umar ibnu al-Khaththab fi at-Tasyri’, Caio: Darussalam, Cet. VIII, 2003, h. 214

([33]) Ibid., h. 259, 260

([34]) Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Op. Cit, h. 61

([35]) Muhammad Quthb, Dirasat Qurániyyah, Beirut: Dar el-Shourouq, Cet. 8, 2004, h. 509

([36]) Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq, Al-Islam Fi ’Asri Al-’Aulamah, Bunga Rampai diterbitkan oleh Kementerian Waqaf Mesir, Cairo, edisi 53 tahun 1420/1999, h. 8

يوسف القرضاوي

YÛSUL AL-QARADHÂWY:

KARUNIA ALLAH DI ABAD MODERN*

(Da’i, ‘Âlim, Aktivis, Faqîh, Guru, Sastrawan, Intelektual, Orator dan Pemikir)

Saiful Bahri**

Mukaddimah

Mengkaji pemikiran seseorang memerlukan penguasaan yang cukup baik terhadap perkembangan pemikiran serta pengaruh-pengaruh yang dialami olehnya. Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana sang tokoh tumbuh dalam keluarga dan berada di lingkungannya.

Tulisan berikut belum bisa dikatakan mewakili penguasaan pemikiran seorang Syeikh al-Qaradhâwy, dikarenakan penulis belum banyak berinteraksi dan membaca karya beliau. Bahkan hanya sedikit saja buku yang selesai terbaca. Penulis sempat bertemu beliau sekali, ketika beliau datang ke Mesir di suatu musim panas dan mengisi sebuah ceramah di Masjid Musthafa Mahmud, Muhandisin, Cairo. Penulis tertolong dengan diterbitkannya sebuah buku yang dipersembahkan dalam rangka memperingati usia beliau yang ke-70 tahun[1]. Selain itu beberapa buku yang mudah terjangkau oleh kemampuan penulis yang terbatas.

Profil Tokoh

Yusuf Abdullah al-Qaradhâwy dilahirkan di kota al-Mahallah al-Kubrâ, propinsi al-Gharbea, 09 September 1926. Dalam usia dua tahun al-Qaradhâwy telah yatim. Ayahnya meninggal dan hanya memiliki putra semata wayang serta tak sempat menyaksikan karunia Allah tersebut tumbuh dewasa dengan kecerdasan dan kesalihannya. Tak berapa lama, sang Ibu pun menyusul ayahnya; berpulang ke pangkuan Allah. Sang Ibu sempat menyaksikannya selesai menghafal al-Qur’an dengan bacaan yang bagus. Al-Qaradhâwy menghafalnya sebelum genap berusia 10 tahun.

Beliau menempuh semua jenjang pendidikannya di Lembaga Islam al-Azhar, Mesir. Menyelesaikan strata S1 pada tahun 1953 di Fakultas Ushuluddin dan memperoleh Diploma mengajar pada tahun 1954. Pada tahun 1960 menyelesaikan (tamhidy) masternya di jurusan Tafsir Hadits. Kemudian pada tahun 1973 meraih gelar doktor dengan disertasi: Az-Zakâh wa `Atsâruhâ fi Halli al-Musykilât al-Ijtimâ’iyyah. Yang kemudian dicetak dengan sebuah judul yang sangat terkenal; Fiqhu az-Zakâh: Dirâsah Muqâranah li `Ahkâmihâ wa Falsafatihâ fi Dhau`’i al-Qur’ân wa as-Sunnah.

Al-Qaradhâwy muda sibuk mengajar dan berkhutbah di beberapa masjid. Kemudian beliau bekerja di kantor Pengembangan Budaya Keislaman di Al Azhar. Menjadi Pengawas Masalah Keagamaan di Kementrian Wakaf Mesir. Tahun 1961 beliau bertuas di Qatar dan menjadi Kepala Ma’had Tsanawy di sana. Tahun 1973 setelah Fakultas Tarbiyah dibuka di Universitas Qatar beliau memprakarsai didirikannya Jurusan Studi Islam. Pada tahun 1990 beliau bertugas ke Aljazair dan setelah itu kembali lagi ke Qatar sebagai Direktur Pusat Studi Sunnah dan Sirah.

Beliau aktif di beberapa Majma’ dan Lembaga-lembaga Ilmiah dan Dakwah, diantaranya: Majma’ Fikih Rabithah ‘Alam Islamy di Makkah, Majma’ Buhus al-Hadharah al-Islamiyah di Yordania, Pusat Studi Islam di Oxford, Majelis Pemangku Amanat Universitas Islam Internasional Islamabad serta mengepalai beberapa Badan Pengawas Syariah di berbagai Perbankan Islam.

Al-Qaradhâwy sangat terkesan dengan kepribadian beberapa tokoh. Di antaranya Hasan al-Banna, pendiri al-Ikhwân al-Muslimûn. Disamping beberapa tokoh lain seperti Syeikh Muhammad Khidhr Husein, Syeikh Mahmud Syaltut, Dr. Abdul Halim Mahmud, al-Bahi al-Khuly, Syeikh Muhammad al-Ghazali dan Sayyid Sâbiq.

Pengenalannya terhadap pribadi Hasan al-Banna yang kharismatik sebagai seorang guru dan penceramah yang bernuansa lain, membuat beliau tertarik. Dan pada akhirnya bergabung dalam kafilah dakwah al-Ikhwân al-Muslimûn. Semasa kuliah bahkan sempat menjadi ajudan Mursyid kedua al-Ikhwân al-Muslimûn, Syeikh Hasan al-Hudhaiby. Menemani beliau dalam berbagai perjalanan dakwah.

Keaktifan beliau dalam dakwah tak pernah putus dan berhenti. Baik dari sejak muda di usia-usia sekolah dan kuliah. Ataupun pada saat beliau aktif menulis dan menggoreskan karya-karya brilian.

Al-Qaradhâwy sempat beberapa kali dipenjara. Pertama kalinya pada tahun 1949, di akhir tahun Tsanawiyah pada masa Raja Farouk. Kemudian pada tahun 1954-56. Dan kembali ditahan pada tahun 1965 di masa pemerintahan Gamal Abdun Naser.

Dalam keluarganya al-Qaradhâwy dikenal sebagai suami yang baik bagi istrinya serta putra-putrinya. Serta bertanggung jawab dalam membina mereka sebagaimana al-Qaradhâwy mendakwahkan Islam di luar keluarganya.[2]

Karya al-Qaradhâwy

Sejak usia 17 tahun al-Qaradhâwy muda mengumpulkan tulisannya menjadi sebuah karya yang siap cetak. Akan tetapi pasca keterlibatan al-Ikhwân al-Muslimûn dalam pembebasan Palestina yang berujung pada penangkapan para aktivisnya, Al-Qaradhâwy ikut merasakan akibatnya. Al-Ikhwân al-Muslimûn dilarang, kekayaannya disita dan disegel. Beberapa karya beliau juga ikut hilang.

Karya-karya al-Qaradhâwy tidaklah sulit untuk dipahami. Beliau lebih suka menggunakan bahasa yang lugas dan mudah dipahami serta tidak bertele-tele. Tidak berputar-putar pada tataran filosofis saja, namun lebih menekankan aspek praktik dan mengangkat realita serta menghubungkannya sengan penyelesaian dan pendekatan keislaman. Buku-buku, khutbah dan ceramahnya mudah dipahami.

Hingga saat ini karya-karya al-Qaradhâwy sudah lebih dari 100 buku diberbagai disiplin dan wawasan, tentang fikih, ekonomi Islam, tafsir hadits, aqidah, akhlak dan pembinaan spiritual, dakwah dan tarbiyah, silsilah proyek kebangkitan umat dan pergerakan Islam, seputar Islamiyyat ‘ammah, biografi dan siroh tokoh, adab dan sastra serta beberapa kumpulan ceramah dan khutbah. Ada 9 buku yang ditulis para tokoh-tokoh tentang al-Qaradhâwy serta ada 5 tesis dan disertasi yang membahas metodologi dakwah, peran pemikiran dan karya-karya beliau.[3] Di antara sekian karya al-Qaradhâwy tak sedikit yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku dan karya al-Qaradhâwy selalu ditunggu untuk segera ditransfer ke seluruh pelosok dunia.

Al-Qaradhâwy Moderat dan Universalitas Islam

Salah satu masalah yang sering diperdebatkan orang adalah tentang hubungan antara Islam dan Arabisme. Untuk menjawab pemahaman parsial dan kepingan pemikiran sebagian pemikir,al-Qaradhâwy menjawab dengan bahasa sederhana dengan tujuan mensosialisasikan dan mendakwahkan Islam sebagaimana mestinya untuk dipahami. Yaitu keutuhan Islam sebagai ajaran Allah. Al-Qaradhâwy menulis beberapa karakteristik utama ajaran agama Islam. Ajaran Islam yang memiliki tujuh karakter pokok: Rabbâniyah (bersumber dari Tuhan), Insâniyyah (humanis), Syumûl (integral dan universal), Wasathiyah (moderat), Wâqi’iyyah (realistis), Wudhûh (jelas) serta integrasi antara yang konstan dan fleksibel (tsabât dan murûnah)[4].

Fondasi pemahaman yang kokoh tentang karakteristik inilah yang kemudian akan mengokohkan pemahaman yang mapan tentang Islam dan Arabisme. Secara khusus bahkan beliau meluangkan waktunya untuk kembali menulis sebuah buku yang berjudul ats-Tsaqâfah al-‘Arabiyyah al-Islâmiyyah wa al-Mu’âshirah. Al-Qaradhâwy membidik kebimbangan pemikiran yang mempertanyakan keaslian peradaban Islam. Benarkah bisa disebut sebagai peradaban Islam, bukan peradaban Arab. Di mana letak perbedaannya? Apa hubungan Islam dan Arab. Setelah itu bagaimana umat ini semestinya mempertegas identitasnya. Identitas dan loyalitasnya. Untuk Islam dan bukan Arab. Al-Qaradhâwy bermaksud menengahi perseteruan dua kubu ekstrim. Satu pihak yang bermaksud meniadakan nasionalisme Arab dan di lain pihak para murid orientalis yang tergila-gila dengan wacana Nasionalisme Arab dengan mengatasnamakan revolusi dan memarginalkan peran serta identitas Islam.

Lebih lanjut al-Qaradhâwy kembali menjelaskan pembahasan Peradaban dan Kebudayaan dalam konteks modern dalam sebuah buku yang cukup baru Tsaqâfatunâ Baina al Infitâh wa al-Inghilâq. Al-Qaradhâwy ingin mengajak umat Islam berintrospeksi diri terhadap sikap dan gaya hidup serta kreatifitas serta peradaban umat. Pembicaraan masalah ini bukanlah kepentingan orang lain. Namun, menjadi kepentingan kita sebagai umat untuk memperhatikan masalah kita. Untuk sebuah perbaikan dan peningkatan ke arah yang lebih baik. Introspeksi dalam artian apakah sikap kita selama ini kolot dan kaku atau cenderung membuka diri tanpa selektifikas. Al-Qaradhâwy ingin melepaskan umat dari belenggu perdebatan wacana peradaban dan kebudayaan menjadi perbincangan peran riil terhadap perbaikan dan reformasi internal[5].

Seruan moderat yang diusung al-Qaradhâwy adalah berada pada kesatuan dan sebuah titik temu antara dua kutub ekstrim, dari pemahaman konservatif dan pemahaman liberal yang lepas. Titik temu moderat ini tercermin dalam akidah. Yaitu keberadaan umat antara kepercayaan tahayyul dan khurafat serta anti ketuhanan (atheisme). Moderat dalam beribadah, yang tercermin dalam kemudahan yang tidak menganggap mudah atau menyepelekan. Dalam dimensi akhlak, menujunjung pekerti mulia. Namun, tetap menempatkan manusia sebagai manusia yang bukan malaikat dan selalu terhindar dari kesalahan. Titik temu berikutnya pada garis tengah antara spiritualisme dan matrealisme.[6]

Sebagai ‘alim yang moderat al-Qaradhâwy juga mengambil jalan tengah untuk mengambil sebuah hukum. Sebagai contoh sederhana, bagaimana beliau melihat peran cinema dan perfilman dalam dakwah serta seni dan dunia sastra. Lebih jelasnya pada pembahasan fikih al-Qaradhâwy.

Al-Qaradhâwy Seorang Fakih

Sebagai seseorang yang menekuni spesialisasi al-Qur’an dan al-Hadits secara akademik beliau laik untuk disebut orang yang memahami agama, seorang faqih. Akan tetapi yang dimaksud dengan faqih di sini lebih dalam dari itu. Penguasaan yang matang tentang berbagai madzhab fikih membuatnya seimbang dalam memberikan fatwa. Dengan penggalian hukum dari dua sumber aslinya, al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kematangan fikih al-Qaradhâwy sebenarnya dimulai dari orientasinya yang obsesif untuk tidak terkungkung dalam sebuah pemahaman tertentu tanpa melihat pendapat lain atau fanatisme madzhab. Cara pandang dan pembelajaran fikih seperti inilah yang menyebabkan cara pengambilan hukum serta fatwanya menjadi lebih terbuka, lintas madzhab dengan didasarkan pada sikap moderat (wasathiyah) dan penuh toleransi (tasâmuh) serta memudahkan pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama (taysîr).

Tak mengherankaan jika kemudian Syeikh al Azhar, Mahmud Syaltut menugaskan al-Qaradhâwy untuk menulis sebuah buku yang kemudian diberi judul al-Halâl wa al-Harâm fi al-Islam. Dalam mukadimah cetakan pertama al-Qaradhâwy mengatakan, “Kantor Kebudayaan Islam al-Azhar memberitahukan pada saya keinginan Syeikh al-Azhar agar saya ikut serta dalam proyek ilmiah dengan menulis buku-buku sederhana yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Untuk mengenalkan Islam dan ajarannya di Eropa dan Amerika serta mendakwahi orang-orang non muslim.”[7] Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia dan menjadi salah satu buku terlaris al-Qaradhâwy.

Al-Qaradhâwy juga menulis sebuah buku sederhana yang mengupas tentang berbagai permasalahan yang berkaitan dengan puasa. Tulisan tersebut dikemas dalam fikih taysir.[8]

Lebih dari itu sifat faqih secara spesifik dilekatkan pada pribadi al-Qaradhâwy bila dihubungkan dengan teori-teori maqâshid syarî’ah. Yaitu kandungan maksud teks-teks agama dari Allah, baik yang berbentuk perintah atau anjuran maupun yang berbentuk larangan.

Al-Qaradhâwy tak memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan jumhur ulama dalam masalah ini. Yang kemudian diterjemahkan dalam kasus-kasus kontemporer. Sebagai contoh tentang permasalahann monopoli. Al-Qaradhâwy menyebutkan pentingnya keikutsertaan publik dalam menikmati hasil-hasil bumi dan kekayaan sosial sebagaimana contoh tentang pembagian fay’. Yaitu prioritas pada golongan-golongan lemah seperti fakir miskin, yatim piatu dan ibnu sabil[9]. “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”[10]

Al-Qaradhâwy menggali khazanah maqâshid ini dengan mengupas terlebih dahulu tangga-tangga hal-hal primer (dharûriyât) dalam Islam. Adapun urutan tangga-tangga tersebut Al-Qaradhâwy memilih pendapat Imam al-Ghazali, yaitu: agama, jiwa, akal, nasab dan harta[11]. Bertolak dari hal ini kemudian al-Qaradhâwy memformat sebuah fikih baru sebagai tuntutan realita. Fikih realita ini kental dalam studi fikih prioritas dan muwâzanah.

Al-Qaradhâwy menjelaskan dengan membuka urgensi fikih prioritas bagi umat ini. Kemudian menghubungkan keterkaitan permasalahan ini dengan pembelajaran fikih-fikih lainnya, seperti fikih muwâzanah., fikih maqâshid dan fikih nushûsh. Prioritas yang berlevel dan bermacam-macam ini dirinci dengan contoh-contoh relita kontemporer. Prioritas kualitas/ cara (kaif) atas kuantitas (kam). Prioritas dalam berbagai aspek, seperti dimensi ilmu dan pemikiran, dakwah dan fatwa, dimensi praktek dan proyek-proyek Islami, prioritas dalam hal-hal yang diperintahkan dan dianjurkan, prioritas dalam hal-hal yang berhubungan dengan larangan Allah serta prioritas dalam urgensi perbaikan sosial dan reformasi (ishlâh)[12].

Prof. Dr. Ahmad ar-Raisuny[13] menilai bahwa keistimewaan fikih al-Qaradhâwy terletak pada ketekunannya dalam meletakkan berbagai ta’lil (alasan) serta analisa maqâshid syari’ahnya. Al-Qaradhâwy sering mengulang-ulang pernyataan Ibnul Qayyim, ”Sesungguh-nya ajaran syari’ah ini dibangun atas dasar hukum dan kemaslahatan hamba baik di dunia maupun di akhirat, semuanya keadilan, kerahmatan, hikmah dan penuh maslahat.[14]

Dalam mukaddimah Fatâwâ Mu’ashirahnya al-Qaradhâwy menjelaskan metodologi pengambilan fatwa dan hukum fikih. Mencoba menggali rahasia hikmah tasyri’ dan ta’lil fiqhy. Sebagai misal sederhana ketika al-Qaradhâwy menyinggung permasalahan maslahat.

“Sebagian manusia menyempitkan keluasan makna maslahat menjadi beberapa dimensi yang kecil. Tak heran jika pemahaman ini kemudian terbelenggu menjadi parsial, individual, lokal, maslahat sesaat dan bersifat duniawy.”[15]

Hal di atas sangat menggelisahkan al-Qaradhâwy. Apalagi jika pemahaman ini menjangkiti para tokoh dan pemuka masyarakat yang didengar perkataannya. Sungguh akan sangat memprihatinkan. “Padahal semestinya kita memandang maslahat ini dengan lebih luas. Ada dimensi integral, jamaah, universal, matari, spiritual, kepentingan yang akan datang, kekal, serta orientasi masa depan dan akhirat.”[16] Sebagaimana beliau membuat wacana baru yang hendak disosialisasikan kepada umat ini bahwa pemahaman tentang terminologi fikih tak selamanya berkutat tentang masalah peribadatan dan hal-hal furû’iyyah. Akan tetapi lebih luas dari itu. Yaitu mengaitkan segala permasalahan hidup dan hajat manusia dengan aturan Allah. Inilah yang kemudian kita kenal sekarang ini dengan terma fikih realita (Fiqh al-Wâqi’)

Al-Qaradhâwy, Dakwah dan Palestina

Ketertarikan al-Qaradhâwy terhadap figur Hasan Al-Banna membuatnya ingin mengetahui lebih jauh metode dakwah lelaki kharismatik tersebut. Al-Qaradhâwy memulai halaqah ilmiahnya bersama Syeikh Bahi al-Khuly. Saat itu al-Qaradhâwy bergabung bersama para pelajar tsanawiyyah dalam pelajaran Ahad dan Selasa pagi. Al-Qaradhâwy memulai bergabung dalam pelajaran kisah-kisah al-Qur’an. Di saat yang sama al-Qaradhâwy kadang mengikuti ceramah-ceramah yang disampaikan Hasan al-Banna.

Al-Qaradhâwy muda menjadi seorang dai dan orator yang hebat. Kata-katanya bukan hanya tegas dan berwibawa akan tetapi menyentuh karena disampaikan dengan hati dan segenap perasaan. Meyakini pesan gurunya, al-Banna ketika memberi wejangan “Perangilah manusia dengan cinta.”

Setelah berakhir perang dunia kedua, al-Banna menyeru pada dunia Islam untuk bangkit melepaskan diri dari kungkungan kolonialisme. Diantaranya menentang pendudukan Palestina dan menolak eksistensi Yahudi Israel di Palestina.

Seruan al-Banna segera menyebar ke seluruh pelosok Mesir. Adapun di Thantha, al-Qaradhâwy berperan sebagai penggerak para pemuda. Dalam waktu yang tak terlalu lama kafilah jihad al-Ikhwan al-Muslimun segera bergerak ke Palestina.

Tahun 1949 merupakan cobaan pertama untuk seorang al-Qaradhâwy. Ketika pemerintah kemudian menangkapi para aktivis al-Ikhwan al-Muslimun. Pada tanggal 8 September 1948 keluar keputusan militer pembubaran al-Ikhwan al-Muslimun. Penyitaan dan penyegelan kekayaannya dilakukan di mana-mana. Penangkapan para aktivisnya dilakukan secara besar-besaran. Dan al-Qaradhâwy muda merupakan salah satu tokoh yang dicari dan kemudian ditangkap oleh pihak security.

Dakwah al-Qaradhâwy berlanjut ketika meneruskan studinya di Universitas al-Azhar. Baik dilakukan antar sesama temannya ataupun kepada al-Azhar secara institusi untuk mengadakan reformasi. Otokritik terhadap ini sebenarnya telah lama ditulisnya. Namun, hilang bersama berbagai peristiwa intimidasi, penangkapan dan penyitaan khazanah al-Ikhwan al-Muslimun. Berkat taufik Allah lah akhirnya al-Qaradhâwy dapat kembali mempersembahkan otokritiknya terhadap al-Azhar dalam rangka memperingati 1000 tahun al-Azhar[17]. Sebagaimana al-Qaradhâwy mempersembahkan sebuah buku yang ditulisnya dalam rangka 70 tahun al-Ikhwan al-Muslimun, sebagai refleksi perjalanan dakwah[18].

Pasca revolusi tahun 1952 cobaan itu kembali menyambanginya. Al-Qaradhâwy kembali ditangkap pada tahun 1954. Setelah menyerukan independensi al-Azhar dan terjadi penagkapan besar-besaran. Terlebih pasca peristiwa Rekayasa Mansyiyah. Beliau dijebloskan ke penjara militer selama 20 bulan. Dan pada awal Juni 1956 beliau kembali menghirup udara kebebasan.

Penangkapan, intimidasi dan cobaan ini tak membuat al-Qaradhâwy berhenti berdakwah. Karena pemahaman dakwah yang sangat luas membuatnya mampu berdakwah di mana dan kapan saja. Baik melalui mimbar atau pena. Hanya saja, sebagian tulisan-tulisannya menghilang hingga saat ini dikarenakan penyitaan dan penangkapan para aktivis al-Ikhwan al-Muslimun.

Pada tahun 1960 beliau berangkat ke Qatar untuk bertugas di sana. Dan tabiat da’inya membuatnya mengabdikan diri untuk dakwah dengan totalitas penuh. Beberapa proyek dakwah berhasil dicanangkan dan dirintis di Qatar. Bahkan dari sana al-Qaradhâwy berpikir merambah dunia Eropa dan Amerika.

Sebagai pemikir dan intelektual andalan al-Ikhwan al-Muslimun, al-Qaradhâwy menjadi salah satu pilar penting untuk menyebarkan pemahaman dakwah ke seluruh pelosok dunia. Bukan hanya dengan karya saja al-Qaradhâwy mengunjungi berbagai belahan dunia. al-Qaradhâwy juga mendapat tugas melakukan perjalanan dakwah terutama di awal-awal perintisan dakwah di luar negeri. Al-Qaradhâwy ke Palestina dan Syiria. Datangnya seorang tokoh seperti al-Qaradhâwy dapat menjadikan spirit baru bagi para pelaku dakwah di luar pusatnya.

Geliat dakwah al-Qaradhâwy juga terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya. Terutama dalam silsilah asShahwah al-Islâmiyyah. Ini merupakan proyek dakwahnya yang bertujuan untuk menyadarkan umat akan kebangkitan Islam. Serta menempuh jalan-jalan kemanusian dengan melengkapi perangkat-perangkat kebangkitan tersebut. Al-Qaradhâwy menulisnya dalam Min `Ajli Shahwah Râsyidah. Kemudian secara terperinci al-Qaradhâwy memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan pemahaman kebangkitan; Ash-Shahwah al-Islâmiyyah wa Humûm al-Wathan al-‘Araby, Ash-Shahwah al-Islâmiyyah baina al-Juhûd wa at-Tatharruf, Ash-Shahwah al-Islâmiyyah baina al-Ikhtilâf al-Masyrû’ wa at-Tafarruq al-Madzmûm dan Ash-Shahwah al-Islâmiyyah min al-Murâhaqah `ilâ ar-Rusyd.

Dalam mengokohkan fondasi kebangkitan ini diperlukan sebuah gerakan riil dengan tujuan dan target yang jelas. Untuk kepentingan ini diperlukan pula perangkat bernama jaringan, network atau gerakan. Al-Qaradhâwy merumuskannya dalam prioritas pergerakan Islam yang dibutuhkan umat untuk proyek kebangkitan[19]. Al-Qaradhâwy memulainya dengan membuka cakrawala pandangan tentang pergerakan Islam dan kaitannya dengan gerakan pembaruan keislaman. Setelah itu menjelaskan keluasan lapangan kerja proyek ini. Baik dari sejak kerja pembinaan (takwin) sampai lapangan politik atau ekonomi dan sosial serta berbagai lapangan lain.

Kemudian al-Qaradhâwy menjelaskan karakteristik dan sifat-sifat gerakan Islam yang diperlukan di masa-masa mendatang. Yaitu sebuah gerakan yang integral dan mendunia. Garapannya dari sejak dimensi keilmuwan dan pemikiran sampai pada dakwah dan pengayaan wawasan serta pembinaan dan pembentukan pribadi sampai pada perangkat supremasi bernama politik.

Al-Qaradhâwy dan Problematika Perempuan Kontemporer

Al-Qaradhâwy memang bisa dikatakan tak memiliki buku khusus tentang perempuan yang ditulisnya secara spesifik, kecuali beberapa buku kecil dalam silsilah Rasâ`il Tarsyîd ash-Shahwah. Akan tetapi al-Qaradhâwy sering mengangkat tema-tema yang berkaitan tentang perempuan dalam berbagai tulisannya. Dr. Hibah Rauf Izzat[20] mengamati perhatian al-Qaradhâwy tentang berbagai problematika kontemporer yang dihadapi perempuan[21].

Pola pandang moderat al-Qaradhâwy terlihat dalam penegasan kata-katanya,

“Laki-laki memiliki beberapa keistimewaan dalam hukum, bukan karena keberadaan laki-laki lebih mulia dan dekat di sisi Allah dari pada seorang perempuan. Sesungguhnya yang paling mulia adalah yang paling bertakwa di antara mereka; laki-laki ataupun perempuan. Keistimewaan ini dikarenakan tugas yang disesuaikan dengan kondisi fitrah masing-masing laki-laki dan perempuan[22].”

Islam sebagai agama yang memuliakan perempuan mengatur secara global interaksi perempuan di tengah pluralitas komunitas sosial. Pengaturan ini bukan dimaksudkan untuk mengekang, namun sebagai rambu-rambu penjaga kehormatan dan kelaikan fitrah yang dimilikinya. Sehingga perempuan selain sebagai potensi individu juga sebagai anggota masyarakat yang sama-sama bisa memberikan sumbangan riil untuk masyarakatnya.

Al-Qaradhâwy membeberkan panjang beberapa hadits dan peristiwa dalam sirah Nabi saw. serta para sahabat tentang keterlibatan perempuan dalam perbaikan sosial serta di medan jihad sekalipun.

Al-Qaradhâwy menyayangkan pandangan sebagian kaum muslimin tentang perempuan. Apalagi di tengah problematika kontemporer seperti saat ini. Pandangan yang terlalu “mengekang” justru akan berakibat pada pemberontakan perempuan. Karena itu sudah sepatutnya perempuan mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai sebagaimana laki-laki. Bahkan seharusnya lebih dari itu. Karena fitrah perempuan pertama sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Sempitnya pandangan ini bisa dipengaruhi ketidakpahaman terhadap teks-teks agama yang mengedepankan taysîr (kemudahan) serta mengambil dalil-dalil yang hanya untuk mendukung pendapat ini. Atau bisa juga dikarenakan peletakan dalil/teks-teks tidak dalam konteks yang benar. Atau sebaliknya pandangan yang menjurus pada paham emansipasi liberal yang cenderung membebaskan perempuan sebebas-bebasnya.

Sebuah contoh, al-Qaradhâwy mencoba menganalisa sebuah hadits yang kadang cenderung disalahgunakan untuk mendiskreditkan kaum perempuan. Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id al-Khudzry. Suatu ketika Rasulullah saw. dalam kesempatan Khutbah Idnya beliau berpesan pada kaum perempuan: Wahai kaum perempuan bersedekahlah sesungguhnya aku diperlihatkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah kalian (kaum perempuan-pen). Mereka bertanya: Karena apa wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Kalian banyak fitnah dan sering mendurhakai suami. Aku tak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang sanggup menghilangkan akal seorang laki-laki yang teguh dari pada salah satu dari kalian. Mereka kembali bertanya: Apa kekurangan agama dan akal kami wahai Rasullullah? Beliau menjawab: Bukankah persaksian perempuan setengah persaksian laki-laki? Mereka menjawab: benar. Beliau berkata: itulah sebagian kekurangan akalnya. Bukankah ketika dia sedang haidh dia tak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa? Mereka menjawab: benar. Beliau mengatakan: itulah sebagian kekuarangan agamanya. (HR. Bukhari Muslim)[23]

Untuk mengetahui konteks dan pemahaman sebuah teks hadits al-Qaradhâwy mengajak untuk menelusurinya dari sumber yang orisinil serta membaca beberapa konsideran dan hadits-hadits lain baik yang qawliyah, fi’liyah ataupun taqririyah[24].

Hadits di atas bukanlah sebuah pengukuhan untuk sebuah ketentuan umum atau menghukumi. Lebih tepatnya sebagai ungkapan keheranan dari fenomena kekurangan perempuan yang ada yang kemudian mampu menghilangkan rasionalitas cerdas laki-laki yang teguh[25]. Konteks utama hadits ini adalah perintah bersedekah dan melindungi diri dari api neraka.

Dalam kesempatan lain[26] al-Qaradhâwy meyakinkan bahwa kata-kata “kekurangan akal dan agama” hanya sekali disebut. Itu pun dalam rangka nasehat lembut yang dimukaddimahi khusus untuk para perempuan. Kalimat di atas tidak datang tiba-tiba atau berada dalam suatu momen independen dalam bentuk pengukuhan. Tidak dalam majelis umum, tidak juga dalam majelis khusus perempuan atau bahkan majelis khusus laki-laki.

Lebih menarik lagi analisa al-Qaradhâwy tentang keterlibatan politik kaum perempuan. Terutama dalam pencalonan di parlemen dan peran-peran lainnya[27]. Diawali dengan meneliti dan menganalisa firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”[28] Apakah benar ayat ini diperuntukkan kepada semua kaum muslimat?

Kemudian al-Qaradhâwy juga menyinggung soal perwalian umum seorang perempuan. Laikkah seorang perempuan menjadi presiden, mentri atau sebagai kepala proyek besar. Bagaimana al-Qaradhâwy memandang semua masalah ini?

Al-Qaradhâwy terkenal dengan ketajaman studi maqâshid dalam setiap pandangan dan analisanya. Itulah yang kemudian menjadikan pendapatnya berada di tengah, moderat. Namun, bukan berarti mengambang. Al-Qaradhâwy senantiasa mengajak untuk kembali kepada dua referensi pokok ajaran agama ini, al-Qur’an dan as-Sunnah.

Al-Qaradhâwy Sastrawan

Dr. Naguib Kaelani pernah menulis, ”para sastrawan muslim… selaiknya memperhatikan asal dari estetika dan keindahan serta kandungan orisinilitas pemikiran. Karena percobaan lapangan membuktikan seleksi yang sebenarnya. Keberhasilan pencitraan yang benar akan membuka cakrawala adab islami di tengah-tengah alur kata-kata dan untaian kalimat.”[29] Dan al-Qaradhâwy merupakan salah satu sastrawan yang membuktikan kebenaran bisa diterima secara baik.

Sebagai sastrawan yang pandai merangkai huruf-huruf untuk bukan sekedar dinikmati sebagai hiburan atau estetika al-Qaradhâwy tak pernah lupa untuk menyisipkan nilai dakwah sebagai jiwa dan ruh pesan satranya. Dari sejak yang berbentuk narasi dan makalah, khutbah ataupun syi’ir dan drama.

Karya yang berbentuk dialog drama beliau ada dua yaitu Yusuf ash-Shiddiq dan ‘Alim wa ath-Thagiyah. Kisah drama yang kedua menuturkan perhelatan haq dan bathil antara seorang ulama sahabat yang teguh bernama Said bin Jabir dan seorang penguasa yang lalim Hajjaj ats-Tsaqafy. Kisah dramatis dalam kungkungan sel-sel kecongkakan ini berakhir dengan unhappy ending, syahidnya sang alim yang teguh berpendirian di tangan penguasa yang kehilangan hati nurani.

Selain itu al-Qaradhâwy menulis sejumlah diwan syi’ir dan auto biografi perjalanan hidup yang dialaminya sebagai refleksi kepribadian yang matang dalam berbagai perkembangan dan peralihan masa. Auto biografi itu diberi judul Ibnu al-Qaryah wa al-Kuttâb; malamih sirah wamasirah.

Al-Qaradhâwy dan Permasalahan Sosial Serta Ekonomi Islam

Salah satu persembahan utama al-Qaradhâwy kepada khazanah Islamiyah adalah karya monumentalnya; Fiqh az-Zakâh. Ini menunjukkan perhatian penulisnya yang sangat mendalam terhadap penyelesaian Islami terhadap kasus-kasus dan peristiwa ekonomi dan sosial. Fikih Zakat didedikasikan untuk memberikan solusi praktis dilema zakat dan masalah perpajakan. Zakat sebagai solusi kebuntuan masalah-masalah sosial yang dihadapi negara-negara berkembang.

Al-Qaradhâwy memulai pembahasan ini dari memperjelas hakikat perbedaan antara zakat dan pajak. Kemudian membahas dasar-dasar teoritis perlunya zakat dan pajak. Perbandingan kebutuhan keduanya. Prioritas dan fungsi balance zakat. Dan bila koordinasi dan pengelolaan zakat ini dilakukan secara profesional, maka keseimbangan dan keadilan sosial akan terwujud[30]. Selain itu beliau juga tidak melewatkan berbagai permasalahan yang berhubungan tentang zakat. Sebagaimana para salaf menulis dan ditambah dengan berbagai kasus-kasus kontemporer. Tak heran jika buku ini menjadi referensi penting tentang perzakatan[31].

Karya-karya beliau yang lain yang didedikasikan untuk kepentingan ekonomi Islam: Daur al-Qiyam wa al-Akhlâq fi al-`Iqtishâd al-`Islâmy, Fawaidu al-Bunuk, Daur az-Zakah fi ‘Ilaj al-Masyakil al-`Iqtishadiyyah.

Dalam permasalahan perbaikan sendi-sendi sosial permasalahan masyarakat beliau menulis persoalan serius tentang pengangguran dan kesenjangan sosial, Musykilatu al-Faqr wa Kaifa ‘Alajaha al-Islam. Bahwa nilai-nilai normatif akhlak sosial merupakan ruh syariah Islam[32]. Karenanya kepentingan umum yang dimaksud adalah konsep keadilan sosial.

Perbaikan sosial yang dimaksudkan beliau adalah totalitas peran seorang muslim untuk memperbaiki masyarakatnya. Perbaikan sebagaimana metode dakwah yang dipelajarinya dari pendiri al-Ikhwân al-Muslimûn, Hasan al-Banna. Perbaikan yang dimulai dari pendekatan dan kesalihan individu yang akan menunjang terbentuknya keluarga sinergis yang baik untuk menopang keseimbangan sosial yang Islami dan berkeadilan. Dan bahwa tujuan untuk membangun khilafah islamiyah tak hanya menggunakan pendekatan-pendekatan politik. Karena itu perlu upaya-upaya serius untuk mendekati masyarakat dengan pendekatan akar bawah dan kesejahteraan. Karena itu beliau mengajak dan menyeru untuk membentuk jam’iyyah-jamiyyah khairiyah, lembaga-lembaga zakat dan panti asuhan serta penggalangan dana untuk para penuntut ilmu disamping untuk solidaritas dunia Islam[33]. Dan karena Islam adalah ajaran yang integral serta universal. Beliau meyimpan pertanyaan obsesif dalam benak reformisnya, bagaimana jika orang-orang kaya umat Islam ini mengumpulkan uang. Kemudian mereka menjadikannya sebagai modal untuk diputar sebagai aktivitas ekonomi Islam[34]. Namun, permasalahannya tak semudah yang beliau khayalkan. Kendala teknis lapangan menjadi ganjalan kedua setelah ganjalan pertama, yaitu kesadaran para orang-orang kaya tersebut. Di samping tak bisa dilepaskan dari sebuah pertanyaan baru, siapa yang mengoordinir pengumpulan harta tersebut. Belum lagi dihadapkan pada stigma negatif Islam phobia yang melekatkan predikat teroris dengan sangat congkaknya.

Al-Qaradhâwy, Pers dan Media Massa

Dalam dunia pers dan media massa al-Qaradhâwy sangat aktif berperan dalam perbaikan dan pencitraan pers Islam yang profesional. Dimulai dari keaktifan al-Qaradhâwy menulis sebagai kontributor atau konsultan di sejumlah majalah seperti al-Ummah, ad-Dauhah, Jaridah al-Arab, asy-Syarq, ar-Rayah dan ar-Rayyan. Selain itu al-Qaradhâwy sering tampil di mesia audio (radio) dan audio visual (televisi).

Sumbangsih pers al-Qaradhâwy tak berhenti sampai di situ. Al-Qaradhâwy mencoba merambah dunia maya dan menyerukan proyek besar ini sebagai jihad kontemporer untuk mengkaunter hal-hal yang negatif yang ada di jaringan internet. Al-Qaradhâwy menggagas berdirinya Jam’iyyah al-Balagh ats-Tsaqafiyyah sebagai fasilitator terluncurnya website islam terkemuka islamonline.net. Website ini terupdate dengan bagus dan terbit dalam edisi dua bahasa, Arab dan Inggris. Pertama kali diluncurkan pada tanggal 1 Oktober 1999[35].

Al-Qaradhâwy dan Para Kritikusnya

Walau bagaimanapun al-Qaradhâwy tetap seorang manusia biasa yang sarat dengan kekurangan. Tak ada seorang pun yang perkataan dan ide-idenya diterima semua pihak. Demikian halnya seorang al-Qaradhâwy. Meskipun banyak kalangan menerima ide dan gagasan-gagasan moderatnya, namun tetap ada pihak yang beroposisi dan mengambil jarak sebagai kritikus.

Permasalahannya bukan terletak pada siapa yang mengkritik, namun lebih bagus jika difokuskan pada apa muatan kritik tersebut dan bagaimana kritik tersebut disampaikan.

Di antara ulama yang mengkritik al-Qaradhâwy sekaligus menghormatinya sebagai seorang ‘alim adalah Syeikh Abdullah bin Bas, Syeikh Nasiruddin al-Albany serta Syeikh Rasyid al-Ghanusi. Syeikh al-Albany misalnya, menulis sebuah buku khusus yang diberi judul Ghâyah al-Marâm fî Takhrîj Hadîts al-Halâl wa al-Harâm. Al-Albany mengadakan studi analitik (takhrîj) kesahihan hadis-hadis yang ada dalam buku al-Halâl wa al-Harâm fî al-Islâm.

Selain itu, menurut Isham Talimah[36], kelompok yang keras mengkritik pemikiran Qardhawi adalah mereka yang menamakan diri sebagai kaum Salafî. Ia telah menemukan ada oknum yang menulis sebuah buku yang berjudul al-Qardhâwi fî al-Mîzân. Buku ini beredar luas di Sudi Arabia. Buku ini telah dijawab secara ilmiah oleh salah seorang mantan hakim Syari’ah Qatar, Syaikh Walid Hadi.[37]

Penutup

Rasanya terlalu singkat perjalanan pustaka menyusuri jejak kepribadian dan biografi seorang alim seperti al-Qaradhâwy. Semoga tulisan ini bisa mewakili sedikit gambaran tentang pemikiran moderat beliau. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberkahi dan memperbanyak orang-orang seperti beliau. Amin.

Cairo, 24 Agustus 2004


ë Pernah dipresentasikan pada Workshop Pemikiran Ulama Kontemporer, Keluarga Pelajar Jakarta-Mesir, 26-27 Agustus 2004 di Wisma Nusantara, Cairo.

ëë Peserta Program S3 Universitas Al Azhar Cairo, Fakultas Ushuludin, Jurusan Tafsir.

[1] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Muhdâh `Ilaihi bi Munâsabati Bulûghihi as-Sab’în, (Cairo: Darussalam), Cet.I, 2004.

[2] Seperti yang dituturkan Dr. Abdurrahman Yusuf al-Qaradhâwy, Aby, dalam Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op.Cit, hal. 394

[3] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op.Cit, hal. 969-977

[4] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Khashâ`ish al-‘Âmmah li al-Islâm, (Beirut: Muassasah Risalah), cet. VIII, 1993

[5] Saiful Bahri, Dr. Yusuf al-Qaradhâwy: Kebudayaan Umat Islam; Ekslusif atau Inklusif?, dalam Diskursus Kontekstualisasi Pemikiran Islam, (Cairo: Kelompok Studi Walisongo), cet. I, 2003, hal. 195

[6] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Khashâ`ish al-‘Âmmah li al-Islâm, Op. Cit, hal. 127-156

[7] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Halâl wa al-Harâm fi al-Islâm, (Cairo: Maktabah Wahbah), cet. XXII, 1997, hal. 9

[8] lihat karya beliau yang berjudul Taysîr al-Fiqh fi Dhau’’i al-Qur’an wa as-Sunnah (Fiqh ash-Shiyam), (Beirut: Muassasah Risalah), Cet. III, 1993.

[9] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, As-Sunnah Mashdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadhârah, (Beirut: Dar Syuruq), cet.II, 1998, hal. 231

[10] QS. Al-Hasyr:7

[11] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, As-Siyâsah as-Syar’iyyah fi Dhau’i Nushus asy-Syari’ah wa Maqâshidiha, (Cairo:Maktabah Wahbah), cet. I, 1998, hal. 311-313

[12] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Fi Fiqhi al-Awlawiyât; Dirâsah Jadâdah fi Dhau`’i al-Qur’an wa as-Sunnah, (Cairo: Maktabah Wahbah), cet. II, 1996

[13] Guru Besar Ushul Fikih dan Maqashid Syari’ah Universitas Muhammad al-Khamis dan Ketua Gerakan at-Tauhid wa al-Islah, Maroko.

[14]Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 120

[15] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, As-Siyasah as-Syar’iyyah fi Dhau’i Nushus asy-Syari’ah wa Maqashidiha, Op. Cit, hal. 255

[16] Ibid hal. 256

[17] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Risâlah al-Azhar Baina al-`Ams wa al-Ghadd, (Cairo: Maktabah Wahbah), cet. I, 1984

[18] Yaitu buku beliau, Al-Ikhwan al-Muslimun; 70 ‘Aman fi ad-Da’wah wa at-Tarbiyah.

[19] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Awlawiyat al-Harakah al-Islamiyyah fi al-Marhalah al-Qadimah, (Bahama: Bank at-Taqwa), tanpa tahun.

[20] Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu-ilmu Politik Universitas Cairo.

[21] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 917

[22] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Malâmih al-Mujtama’ al-Muslim `Alladzi Nunsyiduhu, (Cairo:Maktabah Wahbah), Cet.I, 1993.

[23] Al-Bukhari, hadits 293, Kitab: Haydh, Bab: Tarku al Hâ`idh as-Shaum. Dan Muslim, hadits 114, Kitab: al-Imân, Bab: Nuqshan al-Iman bi Naqs at-Tha’at.

[24] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Marji’iyyah al-‘Ulya fi al-Islam li al-Qur’an wa as-Sunnah, (Cairo: Maktabah Wahbah), 1992, hal. 197

[25] Ibid. 199

[26] Saat beliau memberikan kata pengantar untuk buku salah satu sahabat terdekatnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrir al-Mar’ah fi Ashri ar-Risalah.

[27] Pandangan-pandangan moderat beliau tentang perempuan bisa dibaca dalam buku-bukunya: Min Fiqh ad-Daulah, Muslimatul Ghad dan Markaz al-Mar’ah fil-Hayah al-Islamiyah.

[28] (QS. Al-Ahzab: 33)

[29] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 508

[30] Lihat pada bahasan tentang Zakat dan Pajak pada jilid kedua, Fiqh az-Zakah (Beirut: Muassasah Risalah), cet.VII, 2001

[31] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 948. Buku Fiqh az-Zakah memuat 300-an hadits dan 227 ayat al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah ekonomi

[32] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, Madkhal li Dirasati as-Syari’ah al-Islamiyyah, (Cair: Maktabah Wahbah), cet. IV, 2001, hal. 75

[33] Dr. Yusuf al-Qaradhâwy, al-Hall al-Islamy; Faridhah wa Dharurah, (Bahama: Bank at-Taqwa), tanpa tahun.

[34] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal. 957

[35] Yusuf al-Qaradhâwy: Kalimât fi Takrîmihî wa Buhûs fi Fikrihi wa Fiqhihi, Op. Cit, hal.226

[36] Sekretaris al-Qaradhâwy, alumni Universitas al-Azhar.

[37] Cecep Taufikurrohman, S.Ag, Syaikh Qardhawi: Guru Umat Pada Zamannya, www.islamlib.com, published: 9/7/2002.