Yusuf dan Zulaikha

Yusuf dan Zulaikha*

(Antara Fitrah, Pergulatan Psikis dan Imunitas Samâwy)

Oleh Saiful Bahri, MA.**

Pendahuluan

Al-Qur’an menjadikan kisah atau cerita merupakan salah satu sarana pembinaan. Bahkan tak jarang terjadi beberapa pengulangan di berbagai tempat yang berbeda dengan gaya bahasa dan momentum yang berbeda pula sesuai dengan rûh dan tema umum sebuah surat.

Di antara kisah-kisah tersebut adalah kisah Nabi Yusuf Alaihissalâm. Sebuah kisah yang memiliki karakteristik tersendiri. Semua kisahnya dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah surat yang dinamakan dengan namanya. Tak ada pengulangan di tempat lain. Kisah ini tidaklah menggambarkan seluruh kehidupan Yusuf as dari kecil sampai wafatnya. Namun, dimulai dari sejak usia kanak-kanak dan menggambarkan kehidupan keluarga ayahnya, Ya’qub. Kemudian masa keterasingan beliau di perantauan, sebagai budak. Kemudian mendapat berbagai ujian hingga mendapatkan hasil dan buah kesabarannya. Dimuliakan Allah dan rakyatnya. Menjadi orang terpandang. Hingga ditemukan kembali dengan keluarganya, sebagai takwil dari mimpi pada masa kecilnya. Bulan, matahari dan sebelas bintang yang sujud kepadanya.

Nama Yusuf sendiri diulang dalam al-Qur’an sebanyak 27 kali. 25 diantaranya berada di surat Yusuf. Satu kali di surat al-An’am (ayat: 86), disebut setelah nama para nabi Allah dalam ayat tersebut. Dan satu kali dalam surat Ghafir (ayat: 34), juga disebut setelah beberapa kisah para nabi pada ayat sebelumnya.

Secara umum dalam kisah ini kita belajar berbagai kesabaran, sikap memaafkan, pendidikan dan pembinaan dalam keluarga, menunjukkan profesionalitas pada kondisi yang diperlukan. Serta berhati-hati dengan berbagai pernik fitnah dunia, sikap iri dan dengki yang berlebihan. Juga pelajaran bagi pada dai, bahwa menyampaikan risalah Allah tidak mengenal waktu dan dalam berbagai kondisi. Sekalipun dalam penjara seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as.

Yusuf Alaihissalâm dan ’Imra’atu al-’Azîz

Salah satu hikmah tidak diulangnya kisah Yusuf, –wallahu a’lam– tidak seperti kisah pertentangan antara para nabi dan rasul dengan kaumnya. Kisah Yusuf as lebih merupakan cermin perjalanan hidup yang datar.

Ada benarnya apa yang disampaikan Dr. Muhammad Mahmoud Hegazy, di dalamnya ada pergolakan psikis dan tipu daya perempuan, yang tentunya kurang laik bila diulang-ulang. Maka tema diskusi kita kali ini -yang memfokuskan tentang fitnah yang dihadapi oleh Nabi Yusuf- sudah selaiknya tak terlalu memaksa kita untuk menelusuri sumber-sumber yang kurang laik untuk dijadikan tafsir pendukung untuk memerinci kejadian yang sesungguhnya. Sebagian besar kisah terperinci tentang ini adalah israiliyat yang lemah sanadnya bahkan diantaranya dikatagorikan maudhu’ (palsu). Semoga kita tak terjebak dalam hal-hal yang menjauhkan kita dari hikmah dibalik kisah tersebut.

Yusuf muda dengan segala sifat-sifat yang dimiliki oleh umumnya para pemuda yang punya ketertarikan pada lawan jenisnya. Hanya saja kisah ini datang setelah penegasan Allah : ”Dan tatkala dia cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 22) Di antara para ahli tafsir ada yang memerinci usia Yusuf antara 30-40an tahun. Yang jelas dari gaya bahasa yang dipakai al-Qur’an menunjukkan bahwa Yusuf saat itu telah sampai pada kematangan dan kedewasaan. Setidaknya kematangan seorang pemuda yang akan disiapkan untuk mengemban risalah. Dan akan diuji dengan sebuah ujian yang sangat berat bagi gairah jiwa seorang pemuda yang normal. Sayed Quthb membahasakannya dengan sifat basyariyah (manusiawi) Yusuf, tidak mengurangi penyiapan psikis dan pribadinya sebagai pembawa risalah.

Sejenak, kita lihat penuturan al-Qur’an tentang ujian yang dihadapi Yusuf muda : ”Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim takkan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Gelora nafsu yang dipendam oleh Zulaikha (demikian sebagian ahli tafsir menyebutnya) telah menyebabkan dirinya terjebak dalam pergolakan psikis yang dahsyat. Al-Alusiy menggambarkannya dengan pengulangan yang dilakukannya dalam menutup pintu. Perbedaan gaya bahasa ini dijelaskannya dengan gamblang. Di sini digunakan kata ”ghallaqat” bukan ”aghlaqat”. Yaitu menutup dengan berulang-ulang, bukan sekedar menutup pintu. Bisa jadi dikarenakan banyaknya pintu, atau dimaksudkan untuk meyakinkan pintu telah benar-benar tertutup.

Zulaikha sebagai seorang perempuan bangsawan aristokrat yang merasa segala keinginannya adalah titah yang tak terbantahkan. Namun, kali ini ia benar-benar takluk di depan gejolak nafsunya. Yusuf yang tampan yang telah sampai pada kematangan yang benar-benar didambakan oleh seorang perempuan. Bahkan mungkin oleh perempuan yang telah bersuamikan seorang yang terpandang dan berpangkat sekalipun.

Sikap yang ditunjukkan Yusuf muda pun menjadi sikap yang sangat langka bagi kebanyakan pemuda. Dihadapan rayuan seorang perempuan yang cantik, kaya dan terpandang serta memiliki kedudukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, sikap yang demikian menjadi salah satu penyebab digolongkannya dari tujuh orang yang mendapatkan keteduhan di hari kiamat.

Namun, ada sedikit perdebatan tentang apa yang sebenarnya mereka berdua rasakan; baik Yusuf atau pun Zulaikha. Karena al-Qur’an hanya menggambarkannya dengan singkat. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Kata-kata yang menimbulkan perbedaan penafsiran di sini adalah penggunaan istilah ”hamm”. Apakah ada perbedaan antara hamm yang didarasakan oleh Zulaikha dengan hamm yang dirasakan oleh Yusuf. Sebagian besar para ahli tafsir menerjemahkan hamm di sini adalah keinginan yang diikuti azam dan perbuatan. Ketiga runtutan makna hamm ini untuk menafsiri ”hammat bihi”. Adapun hal ini tidaklah terjadi pada Yusuf. Hal tersebut karena beliau diproteksi oleh ”burhan” dari Tuhannya yang dilihatnya.

Hal ini disesuaikan dengan kehormatannya sebagai orang yang akan menerima risalah. Beliau tidaklah berkeinginan untuk melakukan perbuatan keji atau melayani gelora nafsu yang dirasakan oleh Zulaikha. Hal ini lebih pada menggambarkan betapa dahsyatnya godaan itu. Adapun beliau tetaplah juga seorang pemuda, yang oleh Sayed Quthb dibahasakan dengan basyariyah (manusiawi) tadi. Secara umum, siapa yang tidak tertarik dengan seorang perempuan cantik yang terpandang seperti Zulaikha. Hanya saja akal sehatnya mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengatakan ”Maádzallah”. Beliau sangat menyadari bahwa tuannya telah mengentaskannya dari keterasingan dan kesendirian. Kemudian menghidupinya dengan laik. Apakah kemudian ia membalasnya dengan pengkhianatan. Pengkhianatan yang bisa jadi menyebabkan dirinya kembali terbuang. Tersisih. Bahkan ternistai dengan perbuatan terkutuk. Sungguh hal tersebut tidaklah menjadi pilihannya. Apalagi untuk melayani keinginan dan membuka pintu perselingkuhan istri orang yang selama ini sangat memuliakannya.

Namun sikapnya bukan tidak mengundang resiko. Menolak keinginan istri tuannya. Saat Yusuf tersadar bahwa ia terperangkap dalam jeratan dan tipu daya seorang perempuan, ia segera bangkit dan berlari ke arah pintu. Menjauhi sejauh-jauhnya perempuan yang memperdayakannya. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?”.” (QS. Yususf: 25)

Tepat di depan pintu, sang tuan telah berdiri keheranan menyaksikan keduanya berkejaran ke arahnya. Belum sempat ia bertanya-tanya, istrinya telah memulai dengan pembelaan untuk menutupi gelora nafsunya. Makar berikutnya, dengan menimpakan kesalahan pada Yusuf. Namun, Yusuf pun segera menolaknya. Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)” (QS. Yusuf: 26). Dan untuk menyelesaian permasalahan ini didatangkan saksi dari keluarga Zulaikha untuk memberikan persaksiannya, ”Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar” (QS. Yusuf 26-27)

Kemudian jelaslah siapa yang benar dan siapa yang salah. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)

Sebagai keluarga terpandang tentunya hal seperti ini sangat aib. Maka Sang Menteri tersebut meminta Yusuf untuk menyudahi permasalahan ini serta memendamnya sebagai sebuah rahasia. Serta dengan bijak menyuruh istrinya, ”… mohon ampunlah atas dosamu itu, Karena kamu Sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah” (QS. Yusuf: 29)

Ketika Fitnah Meluas

Cobaan yang dihadapi Yusuf tidaklah berhenti sampai di sini. Apa yang terjadi antara yusuf dan Zulaikha tidaklah kemudian benar-benar lenyap tak berbekas. Justru sebaliknya, menjadi bahan pergunjingan para wanita di kota tersebut. Lebih khusus lagi para istri bangsawan, yang tentunya dekat dengan kehidupan aristokrat seperti halnya Zulaikha. Mereka menganggap kejadian tersebut sungguh sangat memalukan. Menurut mereka apa yang sebenarnya dilakukan Zulaikha sangatlah bodoh. Tertarik oleh seorang budaknya. Apa yang dicari oleh seorang istri salah satu pembesar kerajaan yang ternama.

Zulaikha tentu saja tidak menerima perlakuan ini. Kembali, disiapkannya rencananya berikutnya. Sebuah rencana untuk menjustifikasi apa yang telah dilakukannya terhadap Yusuf beberapa waktu lalu. Menandakan bahwa memang gelora asmara yang dirasakannya belumlah benar-benar padam. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), Kemudian dia Berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada(keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tak lain hanyalah malaikat yang mulia..” (QS. Yusuf: 31)

Maka, Zulaikha pun puas dengan apa yang dilakukannya. Bahwa mereka tidaklah seperti dirinya yang setiap hari harus bertemu dengan Yusuf. Menahan gelora yang dahsyat dalam dadanya. Lantas, bagaimana mereka yang baru melihat Yusuf sekejap saja bisa semena-mena mengklaimnya sebagai perempuan bodoh. ”Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. dan Sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina..” (QS. Yusuf: 32).

Dengan segala keangkuhan aristokratnya pun ia mengakui bahwa dirinya lah yang sebenarnya berhasrat pada Yusuf. Hanya saja Yusuf pun menolaknya. Dan ia merasa terhinakan oleh sikap ini. Kali ini ia kembali menegaskan, jika Yusuf tak mau lagi menaatinya ia akan sanggup menghinakannya. Memenjarakannya. Apa yang tak bisa dilakukan oleh seorang pejabat. Dan apa yang bisa dilakukan oleh seorang hamba yang lemah dihadapan dinding aristokrat dan keangkuhan kekuasaan. Tentunya selain mengeluhkannya kepada Raja segala raja. Yusuf pun berdoa, ”Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orangorang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Para ahli tafsir memperbincangkan kembali pilihan kata yang digunakan di sini. Kata ”ahabbu `ilayya” (lebih aku cintai) bukanlah berarti mengindikasikan beliau sangat mencintai penjara. Karena menyukai kondisi seperti itu sangat tidak dianjurkan. Karena bertentangan dengan fitrah manusia. Ini semata menunjukkan betapa beliau benar-benar ingin terbebas dari tipu daya para perempuan bangsawan tersebut. Terlebih dari makar Zulaikha yang bisa jadi akan menyiapkan makar berikutnya. Hal tersebut mengalahkan segala rasa yang ada padanya. Sebagian ahli tafsir ada yang menambah, agar Allah memalingkannya dari memikirkan Zulaikha. Hal ini dikaitkan kembali dengan kata ”hamm” yang telah kita bicarakan di depan. Maka untuk memadankannya akan lebih mengena bila menggunakan kata ahabbu yang berarti lebih aku cintai. Dan Allah pun mengabulkannya. Yusuf dipenjara hingga beberapa tahun.

Hari Pembebasan dan Kemuliaan

Saatnya Yusuf pun hendak menghirup udara kebebasan setelah sekian tahun terkurung dalam penjara. Namun beliau tak hendak menginginkan pembebasan tu sekedar pembebasan fisik. Sementara masyarakat akan tetap menganggapnya sebagai pihak yang bersalah. Karena masuknya beliau dalam penjara bukanlah karena kesalahan. Namun, karena sebuah pilihan. Saat datang penawaran untuk menakwilkan mimpi Sang Raja Yusuf pun tak lantas menganggapnya sebagai peluang untuk pembebasannya. Namun, beliau gunakan untuk benar-benar membersihkan namanya. ”Berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.”(QS. Yusuf: 50).

Maka Sang Raja pun mengabulkan keinginan Yusuf. Ingin mencari kebenaran sesungguhnya dari apa yang terjadi beberapa tahun silam. Dipanggillah para perempuan itu. Dan Sang Raja pun menanyai mereka: ”Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. Berkata isteri Al Aziz: ”Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.”(QS. Yusuf: 51)

Maka saat-saat hati nurani telah terbuka. Dan saat kejernihannya tidak tertutup oleh kepongahan duniawi dan keangkuhan jabatan dan kekuasaan. Dengan segenap perasaan yang ia pendam sekian tahun Zulaikha pun mengumpulkan keberaniannya untuk mengakui perbuatannya. Dan hal tersebut lah yang kemudian menjadi bukti kebersihan Yusuf dari jebakan nafsu dan bisikan hawa. Sekalipun tidak dinafikan bahwa Yusuf pun sempat terpedaya.

Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa Sesungguhnya Aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.. Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.”(QS. Yusuf : 52-53)

Adapun kedua ayat di atas sebagian ahli tafsir menganggapnya sebagai kelanjutan pengakuan Zulaikha. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai komentar Yusuf. Terlepas dari kedua perbedaan ini, keduanya sama-sama menegaskan bahwa baik Yusuf maupun Zulaikha tidaklah mengkhianati al-Aziz. Yusuf tak membalas budi baiknya dengan menjerumuskan dirinya pada perbuatan keji. Demikian juga Zulaikha tak sampai mengkhianati suaminya, karena diselamatkan oleh sikap kokoh Yusuf yang mulia dan jujur seperti pengakuannya. Hal tersebut tak lain merupakan ketidakberdayaannya di depan bisikan nafsu dan gelora serta pergulatan psikis yang wajar dirasakan oleh seorang terhadap lawan jenisnya.

Kisah Yusuf dan Zulaikha berhenti pada ayat ini. Al-Qur’an tak menjelaskan lebih rinci lagi bagaimana kelanjutan kisah Yusuf dan Zulaikha. Karena akan segera beralih pada babak berikutnya, yaitu kehidupan Yusuf yang lebih mapan. Sebagai orang mulia yang dimuliakan dan profesional yang ahli menangani paceklik dan krisis yang melanda negerinya. Bahkan negeri-negeri di sekitarnya. Sebagai pakar manajemen kesejahteraan dan perbendaharaan kala itu.

Penulis juga tak menemukan cerita yang akurat bahwa Yusuf dan Zulaikha kemudian menikah, sebagaimana kisah yang beredar dan dikenal disebagian (besar) masyarakat kita. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Kisah Yusuf dan Zulaikha

Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari penggalan kisah di atas.

  1. Bahwa rasa cinta dan ketertarikan antara laki-laki dan perempuan dewasa adalah fitrah. Karena hal tersebut merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah (lihat QS. Ar-Rum: 21)
  2. Namun, fitrah tersebut akan bergejolak dengan hebat ketika tidak terdidik oleh iman yang dan kedewasaan yang matang.
  3. Keadaan di atas akan diperparah bila didukung oleh lingkungan yang tidak kondusif. Seperti terbiasanya khalwah (berdua-duaan) antara seorang laki-laki dan perempuan. Karena tipu daya syetan serta bisikan nafsu akan semakin menghebat.
  4. Seorang mukmin berkewajiban menjauhi tempat atau kondisi yang menyebabkan dirinya berada pada posisi tertuduh melakukan perbuatan yang tercela.
  5. Pantang menyerah dalam kondisi apapun, dan tetap memperjuangkan hak serta kebenaran dalam kondisi apapun.
  6. Melanjutkan peran risalah dalam kondisi apapun seperti yang dicontohkan Nabi Yusuf saat berdakwah dalam penjara.
  7. Menunjukkan profesionalisme dan keahlian dianjurkan untuk menyalamatkan suatu kondisi yang buruk.
  8. Berhati-hatilah dengan tipu daya perempuan. Dan bagi perempuan untuk berhati-hati terjebak dari memperdaya dan menjauhkan (kaumnya dan lelaki) dari Allah serta memperturutkan bisikan an-Nafs al-Ammârah bis-Sû`.

Penutup

Demikian, sejenak kebersamaan kita bersama sepenggal kisah Nabi Yusuf, yang penuh dengan ibrah dan pelajaran. Penuh hikmah bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Seorang yang dimuliakan Allah dan manusia, dengan segela kerendahan hati memanjatkan sebuah ketulusan doa, ”Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau Telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101). Memohon dikumpulkan dengan orang-orang salih dan diwafatkan dalam keadaan muslim. Seorang Nabi. Seorang kepercayaan Raja yang dikenal amanah dan salih. Maka, tak ada jaminan bagi orang-orang seperti kita. Selain terus memanjatkan doa Yusuf yang mulia ini dan senantiasa mendidik nafsu kita agar tidak memperdaya dan melenakan. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wallahu a’lam.

Daftar Bacaan

1. Abdurrahman an-Nahlawy, at-Tarbiyah bi al-Qishshah, Damascus: Darul Fikr, Cet. I, 1427 H – 2006 M.

2. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahris li `Alfâdhi al-Qur’ân al-Karim, Cairo: Darul Hadits, Cet. I, 1417 H-1996 M.

3. Ismail Abul Fida Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet. I, 1417 H-1996 M.

4. Sayyed Quthb, Fi Dhilal al-Qur’an, Beirut :Dar el Shourouq, Cet. XXXII, 1423 H-2003 M.

5. Dr. Muhammad Mahmoud Hegazy, al-Wahdah al-Maudhuiyah fi al-Qur’an, Zaqaziq: Maktabah Dar at-Tafsir, Cet. II, 1424 H-2004 M.

6. Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âniy fî Tafsîr al-Qur’ân al-’Adhîm wa as-Sab’ al-Matsânîy, Beirut: Daril Fikr, 1417 H – 1997 M.

7. Ismail Abul Fida Ibnu Katsir, Qashash al-`Anbiyâ’, Cairo: Dar al-Manâr, Cet. II, 1419H-1999 M.

8. Abu Ishaq az-Zajjaj, Ma’âniy al-Qur’ân wa `I’râbuhû, Cairo: Darul Hadits, 1424 H-2004 M

9. Dr. Abdul Karim Zaydan, al-Mustafâd min Qashash al-Qur’ân li ad-Da’wah wa ad-Du’âh, Beirut: Muassasah Risalah, Cet. I, 1421 H – 2000 M.

Kampung Sepuluh, Selasa Dini Hari

Cairo, 03 Ramadhan 1427 H – 26 September 2006 M

(Pernah didiskusikan dalam kajian Fordian [Forum Studi al-Qur’an] Cairo September 2006)


* Sebuah tadabbur sebagian kandungan Surat Yusuf Alaihissalâm.

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Cairo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s