Sunnah Perubahan

SUNNAH PERUBAHAN

Upaya Memaksimalkan Peran Reformatif Seorang Mukmin*

Saiful Bahri[1]

Tak ada di dunia ini yang tidak berubah. Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan bagi selain Allah adalah konstan. Karena itulah, Allah meletakkan sunnah perubahan ini sebagai tradisi bagi manusia untuk selalu berubah. Berubah dari keadaannya dengan kemampuan kemanusiaannya menggapai ruang otoritas Allah yang bernama takdir. Bukan untuk membantahnya atau bahkan untuk mengubahnya. Namun, untuk berdamai dan menerima dengan segala bentuk kepasrahan dan interpretasi cerdik seorang makhluk lemah bernama manusia. Tapi bukan untuk menyerah.

Betapa sejak diciptakannya, manusia mendapat curahan lebih kasih sayang, rahmat dan cinta dari Sang Pencipta. Dari sejak penciptaan dalam bentuk yang sempurna[2], dititahkan untuk memakmurkan bumi dan menjadi wakil-Nya di sana[3], dan masih banyak lagi nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia. Dan sebagai manusia, kita takkan pernah mampu menghitungnya. Walau mengerahkan peralatan hitung super canggih sekalipun.

Namun, “keberpihakan” Allah ini mempunyai misi. Yaitu bermuara pada pengesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan bagi seluruh alam semesta. Dan misi khusus ini hanya diemban oleh orang-orang khusus dari manusia. Pengkhususan ini bukan sebuah diskriminasi. Namun sebuah seleksi (tamhîsh) yang akan memunculkan seorang mukmin yang terbaik yang mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran[4]. Dan Allah menyebut karakteristik kerja persuasif ini dengan predikat yang paling baik disisi-Nya[5].

Yang dimaksud perubahan di sini adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Misi perubahan yang diemban oleh seorang da’i adalah perubahan reformis ke arah perbaikan. Bukan perubahan haddâm (menghancurkan) yang tidak menyisakan. Namun perubahan ishlâh (memperbaiki) yang sudah ada.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.[6]” Sebenarnya Allah tak perlu menyertakan tangan manusia untuk sebuah perubahan. Mengapa Allah memberi kesempatan pada manusia untuk melaksanakan sunnah perubahan ini? Inilah keberpihakan Allah. Inilah cinta Allah. Karena hasil dari perubahan ini –juga- manusia lah yang memetiknya. Baik berupa kebaikan dunia (materi dan non materi) ataupun kebaikan yang tertunda di hari pembalasan.

Dalam melaksanakan perubahan seorang mukmin mesti mengetahui etika dan ilmu perubahan itu sendiri. Diantaranya:

1) Menguasai potensi kebaikan yang ada pada dirinya dan masyarakat yang hendak diajak berubah

2) Memulai perubahan dari diri sendiri

3) Pengemban misi perubahan adalah anggota masyarakat yang dikenal baik

4) Memulai perubahan dari hal yang terkecil

5) Lakukan perubahan dari akar permasalahan (keyakinan/aqidah)

6) Melakukan perubahan dengan bertahap dan langkah-langkah bijak

7) Menyelesaikan perubahan dengan membiasakan perubahan. Bahwa perubahan bukan sesuatu yang harus di lawan. Tapi sesuatu yang dipahami

8) Memahami idealisme perubahan yang diembannya serta fikih realita dan ilmu berinteraksi dengan massa.

9) Memilih patner yang memahami kerja dan karakter kerja dan kesuksesan kolektif. Dan ini memerlukan kesabaran ekstra[7].

Akan tetapi perubahan merupakan sebuah tantanga. Tidak semua orang mampu melewatinya. Dan tidak semua orang mempu mengemban misi reformatif ini. Karena dalam prakteknya ada banyak kendala;

1) Kerasnya tabiat masyarakat yang mengkristal pada sikap anti perubahan

2) Belenggu tradisi dan warisan leluhur yang terlalu dikultuskan

3) Kurang memahami maksud perubahan dengan pandangan lebih matang dan jauh ke depan.

4) Kurang adanya kesiapan mental menerima kebaikan

5) Kurangnya persiapan mental dan ilmu sang pengemban misi

6) Adanya gengsi yang diperturutkan.

Sebagaimana yang lain dalam melaksanakan perubahan juga ada beberapa pantangan yang perlu diperhatikan oleh siapa saja yang memahami misi perubahan ini, dan kemudian tertarik bergabung dalam kafilah reformis ini, dakwah ilalLâh.

1) Klaim dan stigma

2) Putus asa dan menyerah

3) Memaksakan kondisi nyata agar sesuai dengan idealisme

4) Target yang tidak realistis

5) Menghadirkan kesempurnaan

6) Menunda-nunda kerja

7) Tidak menguasai lapangan dan psikologi massa

Bila ikhtiar dan usaha mengemban misi perubahan ini sudah dimaksimalkan, maka peran seorang mukmin sebagai da’i takkan pernah dipandang kecil oleh Allah, Sang Pemilik misi ini. Karena Dia hanya memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha. Sedang dia yang akan melihatnya[8] kemudian menentukan.

Setelah ruang-ruang kemanusiaan sudah dimaksimalkan perannya dengan ikhtiar penuh, saatnya kita menunggu kejelasan ruang-ruang kekuasaan yang memiliki otoritas prerogatif untuk memutuskan. Dan kita jangan pernah terlambat. Berbuatlah sekarang juga. Sebagaimana al-Fârûq memesan untuk jangan pernah menunggu pagi ketika kita berada di petang hari. Dan jangan pernah menanti petang ketika pagi sudah ada di hadapan kita.

Satu hal lagi yang menjadi bekal seorang pengemban misi perubahan. Berani dan hanya takut kepada Allah. Dengan bekal ini ia siap menjadi manusia aneh (gharîb) di tengah lingkungannya. Sekalipun sebelumnya ia dikenal sebagai orang baik dan diterima oleh kalangannya. Ia bagian terkhusus dari manusia secara umum yang terbagi menjadi orang-orang beriman dan tidak. Orang-orang beriman pun terseleksi menjadi mukmin yang sungguh-sungguh dan beramal. Ini terseleksi lagi menjadi golongan yang sangat menginginkan orang-orang menjadi baik. Bahkan lebih baik dari dirinya. Orang tersebut laik disebut sebagai pahlawan bagi kemanusiaan. Ia lah pewaris Nabi-nabi Allah yang tak meminta upah kerjanya selain cinta-Nya. Yang tak membenci umatnya selain kemungkaran yang mereka lakukan. Yang tak menunggu pamrih apa-apa selain tersebarnya kebaikan di hati setiap manusia. Karena ia sadar misinya di bumi ini untuk melakukan perubahan yang diemban oleh orang yang memahami kehadirannya di dunia ini.

Suatu ketika Luqmanul Hakim melakukan perjalanan dengan putranya. Ia mengendarai seekor keledai dan putranya berjalan disampingnya. Ketika lewat di sebuah perkampungan ia dicerca penduduknya lantaran mereka menganggapnya tak punya belas kasihan pada anaknya. Pada perjalanan berikutnya ia menyuruh anaknya naik keledai dan ia berjalan di sampingnya. Penduduk perkampungan yang dilewatinya pun mencerca anaknya. Mereka menuduhnya sebagai anak yang tak punya etika. Kemudian, pada perjalanan selanjutnya mereka berdua menaiki keledai bersama-sama. Penduduk perkampungan yang dilewatinya pun berkomentar bahwa mereka berdua sungguh tak punya belas kasihan sedikit pun pada seekor keledai yang keberatan menanggung beban mereka berdua. Ketika mereka memutuskan untuk menuntun keledai, ia dan putranya berjalan disamping keledai dan meneruskan perjalanan. Komentar penduduk perkampungan berikutnya menuduh mereka berdua sebagai orang-orang pandir yang bodoh. Ada kendaraan kok tidak dipergunakan. Aneh bukan? Setiap yang kita lakukan selalu saja tak pernah benar di mata orang. Dan memang, ridha semua manusia adalah sesuatu yang mustahil untuk diharapkan.

Karenanya Luqmanul Hakim berpesan untuk tidak terpengaruh perkataan orang dan kemudian menghentikan kerja perubahan ini. Karena apapun yang kita lakukan akan selalu dikomentari orang.

Jangan selalu menunggu hujan reda untuk memulai berjalan. Tak ada yang salah bila kita basah dan berani menerjang butiran-butiran air dan berada di tengah-tengah kilatan petir dan teriakan halilintar. Bukankah akan selalu ada hujan dalam hidup kita?

Siapkah Anda berubah menjadi lebih baik?

Siapkah Anda mengemban misi perubahan ini?

Bila Anda siap. Segera bergabunglah bersama kafilah dakwah, pengemban misi perubahan warisan Nabi-nabi utusan-Nya. Dan mulailah dari sekarang. Kemudian bekerjalah sepenuh tekad dan keikhlasan. “Katakanlah: Aku diperintah supaya menyembah Allah dengan kemurnian ketaatan dalam (menjalankan) agama.[9]Time to act… BISMILLAH.

Wisnu-Cairo, 11 September 2004


* Tulisan pengantar dalam Paket Sarjana Muslim, ASY-SYATHIBI CENTER (Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Belajar), Senin, 13 September 2004 di Wisma Nusantara, Cairo

[1] Peserta Program S3 Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Cairo.

[2] (QS. 95: 4)

[3] (QS. 2: 30)

[4] (QS. 3: 110)

[5] (QS. 41: 33)

[6] (QS.13: 11)

[7] (QS. 18: 28)

[8] (QS. 9: 105)

[9] (QS. 39: 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s