SAAT BERTEMU DIA

 

Jam di tanganku menunjukkan pukul empat sore. Aku berdiri gelisah di halte Nasr, Rab’ah. Sudah 10 menit aku menunggu, bus atau mikro bus jurusan Hay ‘Asyir tak datang juga. Maklum, mencari kendaraan umum di Cairo pada sore hari bulan Ramadhan sangatlah sulit. Semua mengejar buka puasa.

 

Alhamdulillah

, bus hijau model baru bernomor 178 segera tiba. Aku bermaksud ke rumah temanku. Selain sudah lama tak bertemu, aku ada sedikit keperluan dengan teman serumahnya. Alhamdulillah, hari ini aku sudah bersilaturrahmi dan akan kugenapi minimal ke rumah salah satu teman dekatku. Aku berharap ia baik-baik saja. Ah, ternyata dengan alasan kesibukan, cukup lama tak kudengar kabarnya. Bahkan sekedar telpon dan sms pun tak sempat.

 

 

Aku turun di depan Masjid as-Salam. Salah satu masjid besar yang ramai dipadati jamaah tarawih yang menyimak khusyuk bacaan Syeikh Yasir Salamah. Tak ada yang aneh dengan masjid besar di awal distrik Hay ‘Asyir ini. Namun, yang menarik perhatianku adalah seorang perempuan. Ya, seorang perempuan berkacamata dan berjilbab coklat susu. Menurutku ia berusia di atas 50 tahun. Entah mengapa, kemudian aku memutar memoriku tentangnya. Sepertinya aku mengenalnya sudah cukup lama.

Kurang pasti kapan pertama kali aku mengenalnya. Yang jelas sudah cukup lama. Saat itu aku hanya tahu ia berdiri mematung dan sesekali duduk di pintu keluar masjid. Ia menunggu uluran tangan para dermawan yang peduli terhadapnya. Entah 25 piester atau 50 piester atau mungkin lebih dari itu, ia terima dengan lapang dada. Wajahnya juga terlihat biasa. Tidak diset terlalu berlebihan atau tampang belas kasihan. Biasa.

Mungkin hal itu biasa-biasa saja. Tapi bagi yang sering memperhatikannya, ada yang unik. Karena beberapa saat berikutnya perempuan itu muncul dengan penampilan lain. Dia menjual beberapa bungkus tisyu yang ditawarkan pada setiap orang saat keluar masjid.

Aku bersyukur. Ibu itu ada peningkatan. Meski hanya beberapa bungkus tisyu, tapi ia sudah berusaha. Usaha yang sangat perlu untuk di dukung.

Beberapa saat kemudian perempuan itu sudah punya sebuah tempat kecil berisikan tisyu dan minyak wangi. Tak banyak memang. Namun, dengan setia dan sabar ia menunggui dagangannya dari tengah hari hingga tutupnya masjid setelah selesai jamaah shalat ‘Isya.

Kini entah mengapa aku pun ingin mengenalnya lebih dekat setelah cukup lama aku tak mengetahui perkembangan perempuan itu. Sesudah menyelesaikan keperluanku aku segera mengejar waktu berbuka. Hari pertama Ramadhan ini aku berbuka tidak dirumah. Ah, tak mengapa. Toh aku masih bisa berbuka. Allah menyediakannya untuk para hamba-Nya yang berpuasa. Bahkan rizki-Nya selalu terbuka untuk siapa saja. Untuk semua makhluk-Nya.

Aku berniat pulang setelah tarawih di as-Salam. Aku ingin ikut menyimak bacaan Syeikh Yasir Salamah. Sekaligus ingin melihat lagi sang ibu yang sabar itu. Aku sungguh ingin bertemu dengannya.

Perempuan itu kini banyak perkembangan. Ia tak hanya menjual tisyu dan minyak wangi. Namun, ada juga gunting kuku, mushaf kecil, sisir dan beberapa benda lain. Meski masih sederhana tapi telah banyak perkembangan dari sebelumnya. Meski sekarang ia tak sendiri. Ada bebepapa pedagang kaki lima menemaninya. Ada yang menjual kaos kaki untuk persiapan musim dingin. Ada yang menawarkan peci dan tutup kepala dan sebagainya.

Sebelum datang Ramadhan ia seorang diri. Kini ia banyak teman. Dan ia tak pernah menganggap mereka sebagai saingan. Mereka semua senasib dengannya. Ah, mengapa tiba-tiba ada sesuatu menyeruak, menyusup dalam hatiku. Ada kuncup-kuncup keharuan menyedak. Apalagi Imam Masjid as-Salam mengakhiri tarawih hari ini dengan ayat-ayat sadaqah (akhir Surat Baqarah). Rasanya aku belum berbuat banyak. Kalau pun sudah, aku merasa ada saja keikhlasan yang terganggu.

Aku bahkan malu. Aku yang tergolong masih muda ternyata mudah menyerah dan menjadi apatis menghadapi problematika hidup yang berganti-ganti atau kesibukan yang tak kunjung reda. Aku tak sekokoh perempuan itu.

Sebelum menaiki bus yang membawaku pulang, aku masih sempat melihatnya sibuk melayani beberapa orang yang mampir di depan dagangannya. Mataku masih terus menerawang.

Satu yang kuingat, ternyata sang ibu bukanlah penduduk Hay ‘Asyir. Temanku pernah melihatnya menaiki bus setelah selesai menutup dagangannya. Entah di mana ia tinggal, aku tak tahu.

Betapa gigihnya ia berjuang mencari nafkah. Semoga Allah memberkahi rizkinya. Semoga Allah melindunginya. Selalu.

Tiba-tiba saja aku teringat ibuku. Perempuan yang kuhormati dan kusayangi itu kutinggal merantau sejak 12 tahun yang lalu, setelah aku menamatkan pendidikan menengah pertamaku di kota kelahiranku. Semoga aku tak kehilangan kesempatan untuk berbakti pada orang tuaku. Semoga.

 

 

 

 Saiful Bahri

Cairo, 1 Ramadhan 1425

One thought on “SAAT BERTEMU DIA

  1. IWANKA mengatakan:

    Saya jadi teringat dengan ibu itu. Tapi, tidak memiliki kenangan tersendiri dengannya. Tak seperti ustaz.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s