Renungan (1)

JADIKAN AKU CERMIN, JAGALAH KEBERSIHANNYA
Saiful Bahri, MA
Laiknya seseorang membersihkan kaca dari bercak dan noda-noda bandel, ada kalanya ia perlu sedikit menekan dan menggosok agak keras. Demi memulihkan kejernihan dan kebeningan kaca. Pun ketika gigi seseorang hendak dibersihkan dari plak-plak yang mengeras. Kadang terasa agak sedikit ngilu dan nyeri. Bahkan ketika seseorang hendak meminum obat pembersih perut, ia akan merasakan sedikit sakit.
Demikian analog sederhana dari sebuah kritik dan masukan yang diberikan oleh seseorang kepada saudaranya. Bukankah seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya? Dan bukankah cermin adalah sebuah simbol kejujuran.
Akankah kita marah saat cermin memberi tahu bahwa di kening atau di pipi kita ada beberapa butir jerawat. Atau kita mencoba membohongi diri ketika dahi kita sudah banyak berkerut. Rambut sudah mulai memutih. Tapi kita justru meragukan informasi tersebut. Ah, rasanya tidak seperti itu. Mungkin sama kagetnya ketika seseorang mendengarkan hasil rekaman suaranya. Suaraku kok seperti ini? Tetapi itulah. Begitulah sebuah kejujuran. Kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apalagi bila dihubungkan dengan sesuatu mengenai diri kita, tepatnya dengan sesuatu yang kurang mengenakkan. Maka secara reflek kebanyakan kita sibuk merasionalisasi atau mencari pembelaan.
Bila kita hendak mencari cermin bagi diri kita maka carilah cermin yang jernih. Yang akan memberikan informasi tentang kita dengan obyektif. Karena di saat yang sama, diri kita pun akan menjadi cermin yang serupa.
Cermin yang kita gunakan melihat diri kita pun harus kita jaga dari noda, debu dan bercak yang membuatnya keruh dan tidak jernih. Sama halnya, saat kita menjaga kejernihan hati kita untuk memaksimalkan peran kita sebagai cermin bagi saudara kita.
Bila kita siap menjadi cermin yang jernih, maka kita takkan kesulitan mencari cermin yang jernih pula. Karena senyawa kejernihan akan melebur jadi satu dalam tautan cinta dan persaudaraan.
Lantas mengapa ada orang yang marah ketika cermin yang jernih itu memberi informasi yang benar. Hingga ia merasa perlu untuk geram dan memecahkan cermin tersebut. Hal tersebut, bisa jadi dikarenakan beberapa faktor internal: pertama, merasa dirinya sudah tidak mungkin bersalah. Kedua, merasa dirinya selalu lebih dalam hal apapun dan dari siapapun. Ketiga, merasa bahwa dirinya selama ini selalu dipuji dan dimuliakan di mana-mana dan kapan saja. Keempat, terlalu mendewakan akal dan kecerdasannya. Kelima, tertipu oleh posisi strategis pada strata sosial di tempatnya berada serta terlenakan dengan popularitas yang diraihnya dengan berbagai cara. Keenam, tidak siap menerima kritik dan nasihat. Ketujuh, secara eksternal, berada di lingkungan orang-orang yang membiarkan kesalahan merajalela dan menjadikan kemalasan sebagai kebiasaan mereka serta memahami pola hidup individualis yang acuh tak acuh dengan sekelilingnya.
Cermin yang bagus bukanlah cermin yang tak tersentuh debu dan bercak-bercak noda. Tapi cermin yang terjaga. Karakter cermin selain kejujuran adalah kepercayaan dan amanah. Karena cermin takkan memberikan informasi dan kekurangan orang lain selain kepada yang bersangkutan. Sungguh tak masuk akal, bila si A bercermin namun yang ada dalam cermin adalah bayangan si B.
Setelah ini, siapkah Anda menjadi cermin bagi saudara Anda. Dan siapkah Anda menerima informasi yang valid tentang diri Anda melalui penuturan cermin yang jernih.
Dan bukankah Anda lebih puas bila bercermin di dalam kamar Anda. Karena Anda bisa mengamati diri Anda dengan detail dan seksama. Ataukah justru Anda lebih puas menenteng cermin kecil dan memasukkannya dalam tas mungil Anda. Sehingga Anda bisa menggunakannya dengan segera di saat Anda memerlukannya.
Orang sekharisma Umar bin Khattab saja menerima dengan lapang dada sebuah teguran bernada protes dari seorang perempuan tentang pembatasan mahar. Atau ketika seorang Umar bin Abdul Aziz ditegur oleh putranya ketika ia berbaring hendak memejamkan kedua matanya, “Ra’ayaka ya Abi” (Rakyatmu wahai Bapakku!) Beliau langsung berdiri menunaikan amanah sebagai seorang pimpinan kaum muslimin. Bahkan tak sedikit para ulama taraju’ (menarik kembali) dari pendapatnya yang lama setelah dirasakan salah atau kurang tepat.
Adapun cara penyampaian kritik dan saran, tentunya Anda lebih tahu dari saya. Dan sebagaimana cermin pun lebih sering digunakan secara tersembunyi. Ia juga akan digunakan dengan sangat hati-hati supaya tidak pecah.
Dan budaya saling menasihati ini merupakan salah satu ciri orang yang kecualikan Allah dari katagori orang merugi (surat al-Ashr). Yaitu orang yang saling berwasiat dan menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Setelah ini, Anda akan semakin yakin dan percaya diri dalam berpenampilan. Karena Anda telah memiliki sebuah cermin yang sangat jernih. Karena Anda merawatnya. Karena Anda menjaga kebersihannya. Siapkah jika kemudian Anda diminta untuk menjadi cermin itu?

2 thoughts on “Renungan (1)

  1. Agus Susilo mengatakan:

    Pada dasarnya, seorang sahabat yang memberikan kritik dan saran (yang membangun) kepada kita, secara tidak langsung berarti dia telah mengobarkan perasaan “Tidak Enak”-nya terhadap diri kita. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan pengorbanannya. Terima kasih atas nasihatnya ustadz Saiful. Jazakumullah khaira-l-jaza’.

  2. Agus Susilo mengatakan:

    Pada dasarnya, seorang sahabat yang memberikan kritik dan saran (yang membangun) kepada kita, secara tidak langsung berarti dia telah mengorbankan perasaan “Tidak Enak”-nya terhadap diri kita. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan pengorbanannya. Terima kasih atas nasihatnya ustadz Saiful. Jazakumullah khaira-l-jaza’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s