Nostalgia (1)

KEPERGIAN BERMAKNA

Menjelang buka puasa 11 Ramadan yang lalu seseorang memberitahu sebuah berita duka. Tiga hari sebelumnya, 8 Ramadan Ustadz Abbas As-Sisy wafat setelah tak sadar selama dua pekan dan mendapat perawatan medis secara intensif di sebuah rumah sakit di Alexandria.

Jika Allah memuliakan sebagian tempat atas lainnya. Maka untuk meraih tempat berkah tersebut kita mesti menjangkaunya dan pergi ke sana. Selain itu Allah juga meninggikan derajat sebagian waktu atas yang lainnya. Kita tunggu atau tidak, waktu tersebut akan melewati kita. Dan setelah itu terserah kita. Memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya atau cuek atau bahkan bersikap tak acuh dan seolah ia tak ada.

Apapun sikap kita, Ramadan telah mendatangi kita. Ustadz Abbas pun mendapat sebuah kehormatan dipanggil Allah di bulan mulia ini. Meskipun mungkin selama Ramadan beliau tak melakukan apa-apa. Tapi bukankah ketika beliau sadar beliau mendermakan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan dakwah Islamiyah. Karenanya tak berlebihan seandainya 8 hari beliau di bulan ini dihitung dan dilipatgandakan oleh Allah. Dia lah yang Maha Tahu. Maha Pengasih yang sangat luas cintanya.

Ustadz Abbas memang tak sepopuler Syeikh Yusuf al-Qaradawy yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Lelaki yang tutup usia pada tahun ke 86 ini mendermakan hidupnya untuk sebuah idealisme obsesif dakwah. Semasa kecil beliau sangat mahir memainkan bola dengan lincah. Beliau bahkan mengaku tak pernah membayangkan akan bisa menulis. Seperti yang diungkapkannya di mukaddimah Fi Qafilah al-Ikhwan al-Muslimin.

Buku setebal 855 halaman ini merupakan sebagian catatan perjalanan hidupnya. Perjumpaannya dengan Hasan al-Banna, teman dan sekaligus gurunya yang mengajarkan kekuatan cinta. Beliau meresapi benar petuah sang guru, “Perangilah manusia dengan (senjata) cinta.”

Saya baru saja berandai-andai untuk bertemu dengan beliau. Karena lintasan berbagai peristiwa yang beliau rekam dengan goresan tinta benar-benar sarat pelajaran dan ibrah. Saya belum sempat menamatkannya. Karena ingin pelan-pelan menelusuri sejarah beliau. Kisah yang sangat unik, menarik dan bukan fiktif.

Beliau adalah guru cinta bagi dakwah al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Ceramah dan tulisan-tulisannya selalu ditargetkan membidik hati. Bukan sekedar menebar pesona dan simpati. Namun, kekuatan kharisma, cinta dan rasa persaudaraan yang tinggi.

Beliau adalah “sisa-sisa” generasi awal IM yang melewati hari-hari pahit dibalik jeruji dan berbagai intimidasi serta klaim stigma subversif. Kegigihannya tak menjadikan gaya hidup beliau menjadi keras. Sebaliknya, lelaki berambut putih itu selalu menebar senyum untuk siapa saja. Dalam keadaan apa saja. Di mana saja. Jelas, keteduhan yang dalam akan nampak dalam wajahnya yang meski dimakan usia tapi tetap berseri menawarkan semangat hidup yang tak pernah padam.

Lihat saja dalam tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da’wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain. Bacalah bukan hanya dengan mata. Hati Anda benar-benar telah ditariknya.

Kegigihan dan keberaniannya jangan pernah diragukan. Beliau terlibat dalam perang dunia 1940 di Gurun Barat (Gharbea). Beberapakali mengalami penangkapan. Dan pada awal 80-an menjadi salah satu perintis dakwah IM di luar negeri.

Saya sebenarnya kecewa. Tak ada satu media pun yang memberitakan kepergiannya. Mengulas profilnya untuk diketahui perjuangannya dan dijadikan spirit reformasi. Sabtu, Ahad, Senin pun terlewat. Tak satupun menyebut namanya. Sampai akhirnya saya menemukannya di Tabloid Mingguan Afaq Arabia. Tabloid partai oposisi ini mengulas panjang profil beliau dan komentar tokoh-tokoh penting IM. Termasuk diantaranya, pimpinan spiritualnya, Syeikh Muhammad Mahdy ‘Akif.

IM kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Dan umat Islam juga merasakannya. Jasadnya memang tertanam dalam perut bumi. Namun, hatinya selalu hadir di tengah-tengah pada da’i, penerus obsesinya. Sebagaimana obsesi para pendahulunya.

Kini lelaki itu telah pergi. Menjumpai kekasihnya. Meninggalkan kefanaan yang kadang membuat terlena. Dan memasrahkan estafet dakwah pada generasi setelahnya. Maukah kita menyambut tongkat estafet dakwah tersebut?

Cairo, 20 Ramadan 1425

Saiful Bahri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s