Mempertahankan Idealisme

Sebuah Manajemen Harapan

 

 

Sebuah dialog menarik antara sahabat-sahabat Nabi Muhammad laik kita simak. Ketika ada orang yang baru bergabung masuk Islam, para sahabat memberikan sebuah apresiasi dan mengungkapkan kebahagiaannya. ”Antum aqalluna dzanban” (Anda lebih sedikit dosanya dari pada kami). Dan oleh mereka tentu sebuah kehormatan mendapatkan sebuah apresiasi seperti ini. Sebagai tata karma dan tahu diri mereka pun membalasnya dengan apresiasi yang tak kalah baiknya. ”Antum aktsaruna amalan” (Namun, Anda semua lebih banyak amalanya dari pada kami)

Interaksi simpatik antara para sahabat Nabi di atas sangat patut kita teladani. Terutama dalam rangka menyambut kedatangan adik-adik kita dari tanah air ke bumi para nabi ini untuk sama-sama mengais mutiara ilmu.

Sebuah perilaku saling menghormati dan menghargai orang lain, yang kemudian melahirkan sinergi dakwah dan produktivitas amal. Paduan generasi tua yang penuh hikmah dan bijak serta generasi muda yang penuhs emangat dan vitalitas akan memunculkan ide-ide segar serta karya-karya besar yang monumental serta prestasi yang laik dicatat sejarah.

Bila kita tarik permasalahan dalam skup mikro, kita akan memfokuskan pembicaraan tentang kedatangan adik-adik kita. Sudah selaiknya kita sebgai orang yang lebih dulu berada ditempat ini memberikan gambaran yang jelas kepada mereka. Minimalnya kalimatu at-tarhib (ucapan selamat datang). Bagusnya kita tingkatkan dengan supply informasi yang bisa menumbuhkan semangat berprestasi dan mempertahankan idealisme mereka ketika berbenturan dengan realita lingkungan.

Bila kita merasa atau setidaknya dianggap sebagai orang yang berprestasi, maka menjadi kewajiban besar untuk menularkan semangat itu kepada orang setelah kita. Jika kita merasa atau dinilai belum berprestasi, kita juga bisa menitipkan obsesi prestasi itu kepada adik-adik kita untuk meraihnya lebih optimal dan agar mereka tak melakukan kesalahan yang kita terjatuh di sana. ”Hum aqalluna dzanban” ya, mereka lebih sedikit kesalahannya disbanding kita. Karena peluang mereka masih sangat lebar. Ibarat kain putih mereka bebas menghiasnya dengan tinta apa saja.

Sebaliknya adik-adik kita, para mahasiswa baru ini yang pertama dilakukan adalah bersyukur atas limpahan karunia Allah. Kemudahan yang diberikan Allah dengan peluang yang tak diberikan kepada banyak orang. Meskipun penuh dengan pernik dan berbagai hambatan, nikamt ini sangat patut disyukuri sebagai langkah awal mempertahan idealisme thalabul ilmi. Agar tekad mencari ilmu itu tak padam meski berbagai rintangan selalu ada. Sebagaimana rintangan ada di Indonesia, maka perjalanan menuntut ilmu di Mesir juga tak segampang yang dibayangkan orang. Karena itu perlu penggemblengan mental agar tetap survive mempertahankan idealisme dan cita-cita yang obsesif. Setidaknya –sebagaimana kita- mereka perlu sebuah manajemen harapan untuk bisa mewujudkan cita-cita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertama

, fokus pada target utama. Bila target utama adalah menuntut ilmu maka fokuskan untuk belajar dan banyak membaca. Minimalnya untuk meloncati tantangan pertama; tahun pertama di Mesir. Setidaknya tidak mengecewakan. Lebih dari itu pasang target juga jangan terlalu underestimate dengan potensi diri kita sendiri. Bila target tersebut membuat kita obsesif kenapa kita pasang target pas-pasan.

Kedua

, cari teman yang bisa diajak kerja sama. Target pribadi akan semakin lengkap bila diimbuhi dengan prestasi kolektif. Kolektifitas kerja dan belajar ini bisa mendongkrak semangat dan saling melengkapi. Disamping juga berfungsi sebagai control positif untuk saling mengingatkan tujuan awal dan utama datang ke negeri seribu menara ini.

Ketiga

, menciptakan lingkungan yang kondusif. Tentunya kondusif untuk belajar dan berprestasi. Lingkungan yang menyukai bacaan dan dahaga ilmu pengetahuan. Lingkungan yang peka dengan keadaan sekelilingnya. Menciptakan lingkungan juga sebagai kontra dari terbawa arus yang kadang dijadikan kambing hiam bila terjadi kegagalan.

Keempat

, pemetaan prioritas. Membuat prioritas dan list kegiatan bukan berarti untuk meninggalkan banyak kegiatan. Tapi lebih kepada pemilihan kegiatan sesuai kemampuan waktu yang kita punya serta kecenderungan dan nilai dari sebuah kegiatan. Karena –harus jujur diakui- terlalu banyak kegiatan ekstra kampus yang ada di lingkungan Masisir.

Kelima

, menyiasati keterbatasan waktu. Kendala waktu memang seolah menjadi common enemy bagia setiap orang. Tapi khusus adik-adik kita yang baru akan menjadi salah satu kendala utama. Dari sejak keterlambatan kedatangan, proses administrasi perkuliahan, penyesuaian diri/adaptasi serta berbagai kendala non teknis lain memerlukan kejelian dalam menata waktu. Kapan harus ”memaksa diri” untuk suka membaca. Kapan untuk belajar kelompok, menghafal al-Qur’an, kuliah, rileks dan sebagainya.

Keenam

, menebar kesalihan pribadi dan lingkungan. Kesalihan yang dimaksud adalah kesalihan integral. Visioner, memiliki kemampuan memperluas wawasan, berakhlaq mulia. Dengan semakin banyak nilai-nilai seperti ini tersebar di lingkungan kita, saya optimis adik-adik kita akan lebih siap mencetak rekor-rekor baru. Baik rekor akademis, maupun non akademis. Rekor-rekor positif yang menginspirasikan para pendahulu mereka untuk lebih lagi memperbaiki prestasi yang telah mereka torehkan.

Ketujuh

, dekat dengan Allah. Ini sebagai upaya untuk mengingatkan diri kita bahwa ada sebuah ruang yang hanya bisa gapai dengan harapan. Setelah ruang-ruang kemanusiaan kita optimalkan dengan usaha dan kerja nyata maka ruang ketuhanan yang perlu kita raih. Berdamai dengan takdir Allah. Damai bukan berarti menyerah, tapi bersemangat mencapainya dengan doa yang khusyu’ dan amal yang optimal serta ikhlas.

Itulah tujuh pilar manajemen harapan sebagai oleh-oleh untuk adik-adik mahasiswa baru. Sebagai akhir, tak ada salahnya bila kita ambil spirit manajemen harapan ini dari obsesi optimis Rasulullah dengan tiga futuhât Islâmiyah (Persi, Romawi, dan Yaman) saat sedang terjepit konspirasi pada detik-detik perang Ahzab. Dan para sahabat Rasul SAW mempertahankan idealisme obsesif ini sehingga impian itu bisa diwujudkan jauh setelah Rasulullah wafat. So, press any key to continue

 Saiful Bahri

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s