Maaf, Boleh Saya Membantu?

Maaf, Boleh Saya Membantu?

 

 

Kemarin malam saya bertemu dengan salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo. Beliau merupakan salah seorang yang terlibat dalam penanganan bantuan untuk korban tsunami. Selain sebagai senior mahasiswa di Mesir. Mantan aktivis dan sering menjadi rujukan serta gudang curhat para yunior, juga masyarakat Indonesia di Mesir.

Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercenung dan kemudian membuat saya termenung dalam perjalanan.

Beliau mengisahkan, beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki. Sebut saja, Fulan. Dia datang dari salah satu daerah di propinsi Giza. Jauh-jauh ia mendatangi KBRI. Ternyata ia bertujuan hendak membantu korban tsunami yang terjadi di Indonesia.

“Saya mendengar berita dari radio yang menceritakan kengerian tsunami itu. Saya belum pernah menyaksikannya. Tapi saya tahu itu bencana hebat” tuturnya, “Sejak saat itu saya berusaha mengumpulkan uang untuk membantu saudara saya yang tertimpa bencana tersebut.”

Dengan semangat lelaki itu menyampaikan hasratnya untuk membantu. Dan, oleh Kedutaan direspon cukup baik, sebagai penghargaan atas jerih payahnya.

Tahukah Anda berapa jumlah uang yang ia sumbangkan.

(Hanya) Lima Pound Mesir.

 

Ajaib, bukan? Bukan jumlah yang banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Untuk sampai nilai tukar US$ 1 saja masih harus ditambah sekitar 80-an piaster. Artinya, uang tersebut belum cukup untuk membeli US$ 1 (satu dollar Amerika Serikat)

Mengapa kemudian ada keharuan menyeruak dalam rongga-rongga nafas saya. Ya, saya terharu. Karena, saya merasa belum banyak berbuat. Sedangkan (mungkin) kemampuan saya lebih baik dari lelaki tersebut.

Masih menurut penuturan staf KBRI yang saya temui, “Dari penampilannya, mungkin ia seorang tukang sapu. Atau setidaknya mata pencahariannya tidak jauh berbeda dengan pemasukan seorang tukang sapu. Tapi yang kita hargai bukan nominalnya. Namun, semangat dan jiwa solidaritasnya. Ia pun menanyakan. Apakah ini sudah isa membantu mereka. Saya ingin membantu mereka. Ungkapnya bersemangat.”

Bahkan Anda kemudian bisa saja berimajinasi atau bertanya-tanya. Perjalanannya dari Giza? Apakah ia naik mobil pribadi? Tentu Anda akan sepakat dengan saya; tidak mungkin. Paling banter dia akan naik bus merah putih punya pemerintah, hai’atunnaql al-‘am bil qahirah (Dinas Transportasi Umum Cairo) yang tiketnya sebesar 50 piaster atau bernilai sekitar 750 rupiah.

Sekedar tahu saja. Bahwa sejak mendengar bencana tsunami yang terjadi di negeri Serambi Mekah, para dermawan Mesir terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan. Baik secara kelembagaan maupun secara individu. Saya kembali teringat awal-awal krisis tahun 1998 dulu, sampai-sampai takmir masjid menyediakan kotak amal untuk membantu mahasiswa Indonesia. Dan himbauannya disampaikan melalui koran-koran serta khutbah jum’at. Gerakan sosial mereka luar bisa. Meskipun mungkin respon pemerintah sini ke Indonesia bisa dibilang agak terlambat, bahkan dokter utusan mereka pun (agak) mengecewakan. Kalau tidak diperbaiki citranya oleh utusan parlemen dan delegasi dokter dari Persatuan Dokter Mesir (niqabah al-athibba’) yang datang berikutnya.

Dengan berbondong-bondong para dermawan itu mengunjungi Wisma Nusantara, tempat mangkalnya PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir, juga posko-posko lainnya. Bahkan ada yang ke Kedutaan. Umumnya para dermawan itu mau menyalurkan bantuannya langsung kepada para korban. Dalam hal ini para mahasiwa/i di sini yang kehilangan familinya. “Saya mau mengkafil 10 orang”. Yang lain juga mengatakan yang serupa.

Sebagian ingin mengetahui langsung bahwa bantuan mereka sampai kepada yang berhak. Untuk mengelola ini tidaklah mudah. Imej kepercayaan publik kepada pemerintah yang mulai runtuh, menuntut kita bijak menyikapi tuntutan para dermawan tadi. Para dermawan tersebut “menteror” terus dengan pertanyaan yang sama, “Uang saya sudah dibagikan kepada mereka? Sudah apa belum?”

Ah… rasanya saya akan banyak bercerita tentang kepedihan ini. Tentang betapa proses perbaikan ini perlu kesabaran dan kejujuran serta usaha keras dan sangat panjang waktunya. Jangan sampai kepedihan ini melahirkan kesedihan dan luka di atas duka yang menghilangkan cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada seorang lelaki yang lemah mengatakan, “Maaf, Boleh Saya Membantu?”

Bisa saja kemudian orang mencibirnya. Karena uang 5 poundnya belum bisa menyelesaikan masalah. Tapi ia tak pernah pesimis untuk ikut membantu. Bahkan ia sangat percaya bahwa usahanya takkan pernah sia-sia. Berbeda pada umumnya orang ketika dengan segala keterbatasannya ia akan berapologi dengan mengatakan sebaliknya, “Maaf, saya belum bisa membantu!”

Ah… betapa saya ingin meniru perkataan lelaki tua itu, “Maaf, boleh saya membantu?”

dedicated to

seorang lelaki tua yang mengajari arti cinta pada saya.

Cairo, 23 Februari 2005

Saiful Bahri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s