KETIKA GUNUNG ES MENCAIR

“Rasa-rasanya aku baru nemuin cowok cool banget seperti ini!” Sani menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, sambil melemparkan tas kecilnya disamping. Kelakuan anehnya, kontan mengundang keheranan Nina, teman sekamarnya.

“Ada apa sih, Non. Pulang dari kampus kok malah uring-uringan. Diganggu lagi ama si Joe,” Nina tambah memberondong, sambil membuka kulkas kecil. Tak lama kemudian ia menyodorkan segelas minuman.

Tak ayal akhirnya Sani terpaksa bangkit. Tergoda juga dengan segelas jus jeruk dingin itu.

“Kamu kenapa, San?” Nina kali ini duduk menyebelahinya.

“Si Arya. Sombong banget. Norak, pokoknya norak!” Sani masih emosi.

“Idih. Lagian, siapa yang suruh naksir cowok cool itu. Semua juga tahu Nona cantik!”

Arya, cowok cool yang barusan dibicarakan Sani dan Nina adalah tipikal cowok ideal di mata seorang cewek. Ganteng, berkulit bersih, tambah manis dengan kacamata minusnya. Seorang aktivis kampus yang super sibuk tapi tetap saja mampu meraih prestasi akademis yang mencengangkan. Banyak fansnya. Kekurangannya hanya satu, beku. Sedingin es. Sudah beberapa kali mahasiswi di kampusnya mendekatinya. Tapi, pelan namun pasti mereka mundur teratur karena batu es itu sangat sulit dicairkan. Tidak juga oleh Sani. Si Bunga jurusan akuntansi yang sangat mengaguminya. Salah satu peserta ekstrakulikurer kaligrafi di kelas putri. Cowok cool tersebut, salah satu pembimbing dan tutor utamanya. Sebenarnya Sani tak sungguh mempunyai hobbi dengan kaligrafi. Tulisan arabnya bahkan sangat kriting. Tapi sarana paling rasional untuk sering berinteraksi dengan Arya, pujaannya, hanya bisa melalui kegiatan ekstra itu. So… Sani mesti berjuang mati-matian untuk suka kaligrafi.

Namun, benarkah cowok cool tersebut betul-betul menutup diri dari menaksir lawan jenisnya?

Sore itu, seperti biasanya kelas kaligrafi putri sangat padat. Baik oleh peserta lama, maupun para peminat baru. Lebih tepatnya fans-fans si cowok cool. Namun, ada kejanggalan kecil yang mungkin kurang diperhatikan orang banyak. Sejak kapan cowok itu grogi. Apalagi jika Anti bertanya atau ketika matanya secara tak sengaja beradu pandang dengan gadis itu.

Peserta baru itu sangat berbakat. Aku melihat potensi yang OK pada gadis itu

. Arya berdialog dengan dirinya. Salahnya, ia berdialog di depan para peserta ekstra kaligrafi tersebut. Sehingga lama-kelamaan sikap anehnya terbaca.

“Maaf, Kak!Bisa ngoreksi sebentar tulisan lafdzul jalalah bikinan Sani.”

Seperti biasa Sani mencoba mencari perhatiannya. Apalagi ia merasa tersaingi oleh kehadiran Anti. Dan tulisannya sangat jauh kualitasnya. Tulisan Anti sangat bagus. Ia lebih berbakat dari Sani.

…. Selengkapnya ada dalam Kumpulan Cerpen Saiful Bahri,  BULAN, MATAHARI DAN SEBELAS BINTANG (Jakarta: Cakrawala, 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s