Hidangan Allah (1)

KARUNIA YANG MAHA*

Saiful Bahri, MA**

Dzat Yang Pemurah dan Penyayang

Salah satu refleksi kasih sayang (rahmah) Allah yang terlihat adalah dengan pertautan hati manusia dan hamba-hamba-Nya dalam rahmah-Nya. Ia turunkan setiap malam di sepertiga waktu akhir. Ia turunkan pada sepertiga pertama di bulan Ramadhan. Ia jadikan salam pembuka persuaan dua sahabat “Assalâmu’alaikum warahmatullâh wabarakâtuh”. Ia jadikan sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah, ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS.3:159). Ia turunkan dalam al Qur’an-Nya dengan salah satu al‘asmâ’ alhusnâ, surat Arrahmân. Satu-satunya surat dalam al-Qur’an yang menggunakan nama dari al-‘asmâ’ al-husnâ. Ia jadikan salah satu tujuan pernikahan,”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”(QS. 30:21)

Arrahmân. Demikian bunyi awal surat ini. Sebuah pemberitahuan kepada jin dan manusia. Pemberitaan umum kepada yang ada di jagad-Nya. Bahwa yang sedang berbicara adalah Dzat yang serba maha. Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang.

Tema sentral surat ini adalah mengingatkan jin dan (terutama) manusia akan karunia ArRahmân (Sang Maha Pemurah) dari sejak karunia al-Qur’an, penciptaan, pengajaran berbicara, nikmat matahari dan bulan, bintang-bintang dan tumbuhan, langit, bumi dan isinya berupa tumbuhan, buah-buahan serta biji-bijian, dan luasnya lautan beserta mutiara-mutiara yang ada di dalamnya. Manusia dan jin termasuk nikmat-nikmat itu semua adalah fana. Akan lenyap. Sirna dari peredaran jagad-Nya. Karena kekekalan hanya milik-Nya.

Kemudian Allah membuka tabir ghaib kehidupan setelah kefanaan. Dengan tujuan memperingatkan orang-orang zhalim dan durhaka serta para pendusta. Sekaligus motivasi yang sangat persuasif kepada hamba-hamba-Nya. Dengan menggambarkan kehidupan yang nan indah serta nikmat keabadian dan karunia yang maha di surga-Nya. Taman-taman, bidadari-bidadari yang jelita yang pemalu dan bening mata serta kulitnya bak permata. Permadani dari sutra dan berbagai macam buah-buahan yang sangat mudah didapat.

Di sela-sela itu semua, ada sebuah tantangan kepada jin dan manusia sebanyak 31 kali. Dengan mengulang-ulang “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Laikkah setelah itu semua Dzat Yang Maha Pemurah itu untuk didustakan? SubhânalLâh. Maha Agung Tuhan yang mempunyai kebesaran dan berbagai karunia.

Nikmat al-Qur’an dan Penciptaan

Karunia ArRahmân pertama yang besar adalah dengan menurunkan al-Qur’an ke bumi. Terutama untuk manusia, sebagai pedoman langit untuk bumi. Karena manusialah pengemban amanah khilafah-Nya. Karena langit, bumi dan gunung-gunung telah menolak amanah ini. Lebih spesifik lagi adalah bagi pengemban risalah-Nya, Rasulullah saw. Yang kemudian diwarisi oleh para penerus dakwahnya. Dengan pengajaran ini diharapkan para pengemban amanah ini mampu survive dalam menempuh hidupnya. Dalam keadaan apapun. Bahagia, sedih, marah, ditimpa bencana dan musibah, tertindas, berkuasa, ketika berada dalam kemenangan dan kegembiraan, berdinamika, bermasyarakat, sepanjang zaman, lintas generasi dan di berbagai tempat di penjuru-penjuru bumi-Nya. Karena itulah nikmat ini laik untuk disebut pertama kali.

Setelah itu “Dia menciptakan manusia.”(QS. 55: 3) Adakah yang mengatakan bahwa penciptaan manusia sangatlah sederhana? Manusia pertama diciptakan-Nya dari tanah. Kemudian pasangannya diciptakan dari rusuk kirinya. Dan para keturunan mereka dari “setetes air”. Manusia yang berasal dari satu sel ini kemudian mengendap di rahim perempuan. Dari kecil tak berbentuk berubah menjadi ribuan bahkan jutaan sel. Ada segumpal daging, darah, otot, tulang, syaraf, kulit. Dan saat keluar dari rahim ibunya ia mulai belajar mendengar, kemudian melihat, dan kemudian merasa. Saat ia tumbuh besar, ia pun belajar berjalan. Dan berbicara! Dia juga yang “… mengajarnya pandai berbicara.”(QS. 55:4)

Adapun proses berbicara, ada yang mengatakan mengalami proses yang cukup panjang serta melibatkan berbagai organ manusia. Sel dan syaraf otak, mulut, lidah, bibir, tenggorokan, langit-langit mulut, dan gigi.

Kemudian huruf-huruf itu terangkai dalam kalimat yang bisa dipahami sesama manusia. Namun, bagaimana dari huruf-huruf itu berkembang menjadi ribuan bahkan jutaan ragam bahasa? Keberagaman bahasa ini telah dituturkan-Nya sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. ” (QS. 30: 22)

Matahari, Bulan, Bintang, Langit dan Bumi Seisinya

Matahari dan bulan. Simbol karunia Allah yang berpasangan untuk para manusia. Darinya manusia belajar membagi peran antar laki-laki dan perempuan. Adanya permisalan kerjasama dan bukan rivalitas antara keduanya. Keteduhan cahaya bulan tak pernah diremehkan. Sengatan terik sinar matahari sangat dibutuhkan manusia. Semuanya beredar dengan titah Sang Rahman. Besar ukuran masing-masing serta perputarannya, semuanya sesuai perhitungan.

Andai Allah mencipta bulan lebih besar dari matahari? Andai Allah mendekatkan sedikit saja jarak antara matahari dan bumi? Andai Allah menambah persentasi sengatan matahari ke bumi? Atau Allah menjauhkan beberapa jarak saja matahari dari bumi? Tahukah kita bahwa di sana ada jutaan bintang yang lebih panas dari matahari? Tahukah kita setelah ini seberapa luaskah jagad raya-Nya.

Dan bintang serta pohon-pohonan, kedua-duanya tunduk kepada-Nya.“(QS. 55: 6) Bagaimana lantas manusia berani untuk melawan ketundukan itu? Atas dasar apa manusia tinggi hati dan merasa sombong?

Sang Rahman pun menciptakan bumi, sebagai planet yang laik untuk dihuni manusia. Di dalamnya ada buah-buahan, biji-bijian serta bunga-bunga. Sebagai penghias kehidupan, sekaligus demi kemanfaatan manusia.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

Apakah lantas manusia yang tercipta dari tanah kering seperti tembikar serta jin yang tercipta dari nyala api, mendustakan nikmat-nikmat itu? Mendustakan Dzat yang serba Maha. Sang penjaga dan pemelihara dua tempat terbit dan tenggelamnya matahari serta bulan. Dzat yang membentangkan lautan dan mengalirkan airnya. Membuatnya tenang untuk berlayarnya bahtera-bahtera. Dia sanggup menjadikannya menggelegak, menerjang daratan dan meluluhlantakkannya. Dari laut itu manusia mendapatkan berbagai mutiara nan indah. Berbagai macam ragamnya. Dijadikan sebagai perhiasan hidupnya.

Kefanaan

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. 55: 26) Nikmat dan karunia di atas termasuk jin dan manusia akan fana. Semua yang hidup akan mati. Semua yang ada di jagad-Nya akan sirna. Musnah. Karena kekekalan hanyalah milik Dzat yang memiliki semuanya. Dzat yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Sebagian di antara jin dan manusia itu lalai. Tenggelam dalam kenikmatan dunia. Lupa memberi hak syukur kepada pencipta mereka. Sebagian lagi tak sadar bahwa karunia yang mereka nikmati saat ini akan habis dan sirna. Bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir. Dan tak sedikit di antara mereka yang tak merasa akan terbalas perbuatannya. Kelak sesudah nafasnya terhenti. Kelak setelah ruhnya terpisah dari jasadnya.

Dzat yang Selalu Sibuk

Dialah satu-satunya yang tak binasa. Yang memiliki segala kekekalan. “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu dia dalam kesibukan.” (QS. 55: 29) Dia selalu sibuk mencipta, menghidupkan dan mematikan. Memberi rizki dan melayani segala permintaan hamba-hamba-Nya. Ada yang memohon dipanjangkan umur, meminta pekerjaan, jabatan, rumah-rumah dan istana. Ada yang memohon diterimanya amal, disembuhkan dari penyakit, dibebaskan dari penderitaan dan penindasan. Ada yang meminta dimudahkan jodohnya, dikaruniai keturunan, tidak dimusuhi orang, dimudahkan perjalanan dari berbagai kesulitan. Ada yang memohon ilmu yang bermanfaat serta kelulusan di sekolah. Bahkan ada yang mengajukan permohonan yang keluar dari lamunan dan khayalannya.

Ar-Rahmân pun melayani dan mendengarkan segala permohonan itu. Semua yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Namun, kesibukan itu tak sedikit pun mengganggu-Nya. Ia tetaplah Dzat yang Mahatahu atas segala yang bergerak dan berhenti. Jatuhnya dedaunan kering, biji hitam yang kecil di kegelapan malam, bulu-bulu yang ada pada badan binatang, semua atas sepengetahuan-Nya. Jutaan macam ikan di laut-Nya, ulat-ulat dan binatang melata lainnya, binatang buas di belantara, hewan-hewan yang dipelihara manusia, burung-burung yang melayang di udara yang meninggalkan anak-anaknya, telur-telur yang ada disarangnya; semua berada dalam tanggungan-Nya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 30)

Ancaman Untuk Orang-orang Durhaka

Adapun jin dan manusia yang senantiasa diperhatikan oleh Allah. Kebesaran dan keagungan-Nya tak membuat sebagian mereka sadar. Untuk segera menundukkan segala keegoan yang bodoh. Sombong yang diperturutkan. Takabbur yang membuat mereka lupa diri. Dan orang-orang seperti ini laik untuk mendapatkan ancaman-Nya. “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).” (QS. 55: 35) Tak ada yang sanggup menolong mereka. Tak ada yang mampu menyelamatkan mereka. Ketika “… langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” (QS.55 : 27), sesal pun tiada guna saat itu. Karena keinsafan seperti itu sangatlah terlambat. Ketika semua jagad-Nya menemui batas waktu yang ditentukan-Nya. Bintang-bintang, bulan dan matahari, gunung, dan lautan semua hancur berkeping.

Hari setelah kebinasaan tersebut adalah waktu persidangan agung yang tiada terbantahkan. Karena persaksian yang ada bertutur atas titah kejujuran. Anggota-anggota tubuh mereka sendiri.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 45)

Karunia dan Kenikmatan Untuk Orang-orang Baik

Sedangkan hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Yang senantiasa takut akan kemurkaan-Nya. Yang senantiasa sabar dalam penghambaan kepada-Nya. Mereka akan mendapat “dua surga.” Yang di dalamnya ada buah-buahan dan pohon-pohon yang rindang. Mengalir di bawahnya sungai yang jernih. Mereka menikmatinya dengan bersantai di atas permadani yang halus. Yang bagian dalamnya terbuat dari sutra yang kelembutannya tiada tertandingi. Disertai oleh bidadari-bidadari yang pemalu dan jelita, yang berkulit bersih bak permata. Yang “… tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (Qs. 55: 56)

Setiap mereka akan mendapat balasan yang berlipat-lipat. Bertingkat-tingkat sesuai dengan amalan dan kebaikan mereka. Satu dan yang lainnya akan saling bersilaturrahmi.

Penghuni di tingkatan pertama dikaruniai dua surga dengan segala isinya. Setelah itu dua surga lagi diperuntukkan kepada mereka yang berada satu tingkat di bawahnya, dan seterusnya. Di dalamnya ada dua sumber mata air yang memancar, sebagai pelepas dahaga.

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. 55: 60)

Kasih Sayang yang Tiada Pernah Berbilang

Betapa besar nilai sebuah rahmat dan kasih sayang. Siapa yang sanggup menghitung dan mengeja karunia di atas. Dari sejak kefanaan sebelum manusia ada, hingga menikmati segala fasilitas yang diperuntukkan kepadanya. Sampai kemudian jaminan kebaikan sebagai balasan atas kebaikan. Siapa yang bisa menghitungnya?

Bila ruh dan nilai kasih sayang itu menyusup ke relung hati setiap kita, sudah seharusnya kita pun memiliki rasa kasih sayang. Meski tidak menandingi kasih sayang-Nya. Sudahkah kita menjadi penyayang bagi yang lemah. Pengasih bagi yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf atas segala khilaf saudara kita. Menolong yang tertindas. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang menghantarkan kita pada cinta-Nya. Menebar cinta pada mereka yang membenci. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya, karena ketidaktahuan atau sebuah kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk hidup di sekeliling kita. Makhluk Allah, sekalipun ia seekor burung atau ikan di akuarium atau kucing yang berada di dalam rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah.

Adakah pantulan kasih sayang-Nya pada sikap dan perilaku harian kita? Kita hanya perlu kejernihan jiwa dan kebeningan hati untuk menjawabnya. Setelah itu kita baru bisa merangkai permohonan dalam sebuah tanya, laikkah setelah itu kita mengharap kasih sayang-Nya? Siapa yang tak mengasihi tiada pernah disayang dan dikasihi.

Adakah karena kesibukan kita melalaikan hak-hak orang di sekeliling kita? Mendoakan kedua orang? Memenuhi hak-hak bersaudara sesama muslim? Menunaikan hak-hak kemanusiaan sesama manusia? Menghargai hak semua makhluk-Nya untuk dipelihara dan dimakmurkan? Hanya karena kesibukan. Sesibuk apakah kegiatan kita sehingga hati menjadi keras? Lantas kita enggan menyemai kelembutan dan kasih sayang. Tak lagi merasa perlu memohon kasih sayang-Nya.

Jika seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua tunduk dalam kepasrahan kepada-Nya; maka tidaklah yang demikian itu menambah kemanfaatan bagi-Nya. Bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua menentang-Nya. Maka tidaklah hal itu mengurangi kebesaran-Nya. Dan bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua memohon kepada-Nya. Dan semua permohonan itu dikabulkan-Nya, tidaklah hal itu mengurangi kekuasaan dan kebesaran kerajaan-Nya. Kecuali seperti sehelai benang yang dicelupkan ke dalam bentangan samudera.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 77)

Tanpa ada yang meminta pun, Dia tetaplah Dzat yang Penyayang, Pengasih dan Pemurah. Maha suci Allah, “…Dzat yang mempunyai kebesaran dan karunia.” (QS. 55: 78)

Berlin, 19 September 2008


* Tadabbur surat Ar-Rahmân. Bingkisan Ramadan dalam acara buka bersama di KBRI Berlin, Jum’at, 19 September 2008

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar, Cairo. Penulis esai kontemplatif Kemenangan Cinta (Solo: Era Intermedia, Februari 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s