Benarkah Nabi Muhammad Punya Niat Bunuh Diri?

Hadits terhentinya wahyu di awal masa kenabian

dan “isu”bunuh diri Rasulullah saw.

Menyambung beberapa riwayat yang sering dijadikan senjata untuk “menembak” Rasulullah saw. Mencela kepribadian beliausebagai seorang Nabi sang tauladan dan uswah hasanah kita semua.

Yaitu sebuah hadits yang diulang beberapa kali oleh Imam Bukhori di tiga tempat yang berbeda dengan penambahan yang berbeda pula. Yaitu tentang hadits terhentinya wahyu dan “isu” bunuh diri Rasulullah saw.

Bunyi (terjemahan) haditsnya sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah: “Awal dari dimulainya wahyu ke Rasulullah adalah mimpi yang benar pada saat tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi itu kecuali datangnya seperti cahaya shubuh. Beliau mendatangi (gua) Hira’ dan bertahannuts di sana. Yaitu beribadah pada malam hari beberapa waktu lamanya dan membawa bekal untuk kepentingan tsb. Kemudian beliau kembali ke Khadijah seraya dibekali dengan yang serupa. Hingga suatu ketika di Gua Hira’ beliau dikejutkan. Malaikat mendatanginya seraya berkata: Bacalah. Nabi saw. menjawabnya: Aku berkata: Aku tak bisa membaca. Dia menarikku. Mendekapku erat sehingga aku kepayahan, kemudian melepaskanku. Dia berkata (lagi): Bacalah. Aku menjawab:Aku tak bisa membaca. Dia menarikku dan mendekapku untuk kedua kalinya……(berhubung haditsnya panjang sayapotong sampai di sini)… Waraqah berkata: Ya. Tidaklah ada seorang lelakipun yang datang serupa dengan apa seperti yang kau bawa kecuali dia dimusuhi. Jika aku sempat menemui harimu akan kutolong engkau dengan sungguh-sungguh. Kemudian tak lama kemudian dia meninggal. Dan wahyu pun terputus (berhenti sementara). Sehingga Nabi Saw bersedih. Seperti apa yang sampai ke kami, kesedihan yang mengakibatkan beliau pergi berkali-kali untuk menolakkan dirinya dari puncak bukitdst

(HR Imam al-Bukhary)

Keterangan:

  1. Warna Merah adalah bunyi hadits yang disepakati (mu’tamad dan banyak dipakai). Yaitu berhenti pada bunyi itu. (diriwayatkan Imam Bukhary di Kitab I: Bad’i al Wahyi (Permulaan Wahyu) Bab III hadits ke 3)
  2. Warna Hijau. (diriwayatkan Imam Bukhary di Kitab 65: at Tafsir (Tafsir al-Qur’an) Bab I hadits ke 4953) Tambahan yang didapat dari riwayat Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab.
  3. Warna Coklat. (diriwayatkan Imam Bukhary di Kitab 91: at Ta’bir (sesuatu yang bisa diekspresikan dan diinterpretasikan) Bab I hadits ke 6982) Tambahan riwayat yang didapatkan oleh Ma’mar dari Imam az-Zuhry.

Analisis Hadits:

Analisis Ibnu Hajar, penulis Fathul Bary, Syarah Shahih Bukhary: Banyak ulama yang meragukan keaslian teks tersebut berasal dari Aisyah, rawy tertinggi hadits ini. Maka tambahan ini ditimpakan sebagai analisa dan perkataan Imam Zuhry. Dalam hadits ini dinamakan MUDROJ. Namun Ibnu Hajar tak melemahkan hadits ini. Beliau menambahkan: seandainya benar pun hal tersebut dapat dimaklumi. Karena ini berkaitan dengan keberlangsungan status beliau. Benarkah status beliau sebagai Nabi ini diteruskan. Kok berhenti wahyunya. Kecemasan-kecemasan ini membawa beliau berkali-kali bolak-balik ke gua dan gunung/bukit. Tempat beliau menerima wahyu pertama. Ini urusan besar. Dan bersangkutan dengan hajat orang banyak. Bahkan seluruh umat manusia. Selain itu saat itu belum ada penjelasan tentang (hukum)+larangan bunuh diri.

Kalau bahasa sekarang kalau pun saat ini orang-orang bunuh diri karena tertekan dengan masalahnya sendiri. Belum pernah ada cerita bunuh diri karena merasa bertanggung jawab kepada nasib orang banyak.

Ada yang bilang tambahan itu ditelusuri dari Imam Abdul Rozaq yang hidup setelah az-Zuhry. Itu yang terlacak satu-satunya yang beda berasal dari dia. Karena orang sekaliber Imam Zuhry sulit dipercaya rasanya bila salah atau lupa atau sengaja memasukkan lafaz tambahan.

Memang kemudian saya pun agak heran ketika orang sekaliber Syeikh Ramadhan al Buthy dan Mubarakfury membiarkan begitu saja riwayat tersebut tanpa ada komentar. Menurut saya ini sangat penting untuk dikomentari. Agar tidak salah mempersepsikan kondisi psikis Rasulullah saw saat itu. Memang benar Rasul cemas dan sedih. Tapi untuk sampai pada level itu. Entar dulu…J

Kurang lebih saya simpulkan dari hasil bacaan saya dari beberapa buku yang ada dirumah. Kurang lebihnya sebagai berikut:

Sebenarnya saya ingin berpihak pada orang yang mengatakan bahwa tambahan tersebut adalah lemah. Tapi saya takut implikasinya mengakibatkan pada “meragukan validitas Shahih Bukhory” yang jelas-jelas diperas dari ratusan ribu hadits. Ini fatal. Maka saya mengambil pendapat yang tengah-tengah. Tidak juga menerima langsung atau menolaknya. Kira-kira seperti Ibnu Hajar lah. Sang Penulis Fathul Bary. Imam Bukhory sendiri menempatkannya di belakang. Hadits yang disepakati ditempatkan di Kitab pertama, di awal buku. Kemudian setelahnya yang ada tambahan sedikit. Dan terakhir dibelakangkan pada Kitab Ta’bir (yang disana ada berbagai mimpi, simbol dan beberapa hal yang bisa diinterpretasikan). Karena hadits ini (hadits tambahan maksudnya) masih bisa ditakwilkan dan diinterpretasikan.

Ada kejanggalan lagi. Yaitu berulangnya malaikat menegur dan mengatakan :Engkau benar utusan Allah. Dan beliau tetep saja berulang kali mencoba terjun. Mestinya beliau percaya dengan Jibril sebagai utusan Allah yang mengawalnya.

Namun lagi-lagi beberapa ulama mencoba menginterpretasikannya: Hal tsb bisa jadi karena beberapa hal. Diantaranya beliau mengkhawatirkan terhentinya/terputusnya wahyu karena sebab atau kesalahan yang beliau lakukan. Atau hukuman dari kesalahan yang dilakukan. Atau tekanan-tekanan yang dilakukan oleh kaumnya nanti. Kecemasan-kecemasan dalam rangka mensosialisasikan diri pada umatnya. Bagaimana nanti tanggapan mereka. Serta berbagai interpretasi lain.

Yang kedua. Ketika seseorang mendapat nikmat atau sesuatu yang berharga di tempat itu. Kemudian terhenti, ia akan mencoba mendatangi tempat tersebut. Menunggu-nunggu kedatangannya kembali. Menaiki gunung ke arah yang lebih tinggi lagi. Berputar-putar. Cemas dan gelisah. Mungkin saat menerima hadits ini sang rawi mengira Rasul saw berusaha bunuh diri. Padahal Cuma mondar-mandir saja. Menengok kanan kiri kadang sesekali ke bawah gunung. Ini wajar. Namanya juga orang menunggu.

Ini juga sekaligus mengajarkan pada beliau bahwa Tidak boleh memastikan. Karena urusan wahyu adalah urusan Allah. Beliau hanya menunggu dan meminta petunjuk dari-Nya. Ini nanti juga terjadi seperti yang ada pada (Surat al-Kahfi: 23-24).

Kalau kita telusuri kembali bahwa proses turunnya wahyu pertama juga cukup panjang. Berawal dari mimpi. Kemudian Allah memupuk kecenderungan dan kesukaan menyendiri dalam beribadah dan bertahannus di gua Hira. Hingga pada saat yang pas Allah menurunkan wahyu-Nya. Ini justru menunjukkan kemanusiaan Rasul. Artinya beliau memang manusia. Bisa saja cemas-gelisah-takut dll.

Jadi sebaiknya untuk cari amannya. Yang paling laik dipakai adalah hadits pertama (merah). Kemudian kalau pun untuk menggambarkan kesedihan cukuplah pakai riwayat kedua (hijau). Adapun riwayat ketiga (coklat) hanya digunakan untuk perbandingan saja. Ga usah terlalu diangkat dan dipopulerkan sampai ngalahin yang petama. Karena secara otomatis pengulangan sampai yang terpanjang pun maka yang terpendek (yang merah) tetep saja begitu. Maka ia menjadi riwayat yang disepakati. Serta jalan (riwayat)-nya kuat dan banyak. Beda dengan yang ketiga (coklat). Ini dibilang mudroj. Juga terputus. Karena ini adalah perkataan perawi. Bukan isi hadits yang diriwayatkan. Ini menjadi lemah. Jadi keshahihannya hanya sampai yang disepakati.

Lalu mengapa Imam Bukhari perlu memuat riwayat ini. Tentunya beliau sudah berpikir panjang akan aksesnya. Ini menurut Dr Said Showaby (dosen sirah saya dulu di S1) agar kita bisa membedakan ketiga hadits tersebut. Derajatnya tentu berbeda. Karena disana beliau jeli membedakan jalannya lingkaran riwayat satu persatu.

Sebenarnya bukan masalah bunuh diri yang bisa jadi syubhat penting. Yaitu sebuah celah yang dipakai untuk memukul akidah. “Bagaimana mungkin Rasul meragukan kenabian beliau?” Bolehkah itu terjadi?

Dan masalahnya tidak terletak pada masalah ragu atau tidak. Adalah masalah manusiawi atau tidaknya sikap dan perasaan Rasul. Toh, kemudian beliau mantap dan lalu menyampaikan risalah tersebut kepada segenap umatnya. Perebatan masalah ini cukup panjang.

Saya masih belum puas membaca pembacaan Ibnu hajar saja. Tapi sekaligus mengakui bahwa dari sekian syarah Shahih Bukhori memang laik jika kemudian beliau diletakkan di nomor wahid. Terlepas dari beberapa pembacaan beliau yang tentunya ada beberapa yang perlu untuk diikritisi tanpa harus mengurangi rasa hormat pada beliau..

Dan memang sepertinya tidak masuk akal jika orang sebaik dan sehebat Nabi Muhammad saw memiliki niatan untuk bunuh diri. Wallahu a’lam

Lanjutan Kajian Hadits Nabi

Akhir Pekan, Kamis, Dokki

30.10.2008

Islam dan Demokrasi

ISLAM DAN DEMOKRASI

Saiful Bahri

 

Memperbincangkan demokrasi berarti membicarakan sebuah sistem sosial. Baik pada tataran perangkat kedaulatan (pemerintah) ataupun yang menyentuh kehidupan dasar bermasyarakat.

Bila Islam telah memiliki konsep matang tentang sistem sosial ini, lantas bagaimana ketika ada sistem lain yang datang? Ketika Islam telah meletakkan sistem syura ada sistem lain yang dikenal masyarakat internasional, demokrasi.

Demokrasi, “sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya, pemerintahan rakyat” (KBBI, Ed.III, cet.I, 2001: 249)

Mengapa kita memerlukan frame Islam? Karena kita memerlukan sarana kedaulatan Islam dalam skup internasional dan global, ustâdziyât al âlam. Pembinaan ke arah sana pun berjenjang dan berlevel. Dari sejak level individu dan personal, keluarga, masyarakat, negara dan terakhir khilafah.

Pentingnya perbincangan negara Islam karena adanya stigma-stigma tertentu yang melekat bila kita menyebut negara Islam. Orientasi semangat reformasi yang disalurkan melalui sistem negara (daulah) Islam ini berubah paradigma menjadi pengekangan hak dan suara. Ini yang sering dikatakan sebagai sistem ‘pembunuh’ demokrasi. Benarkah demikian?

Ketika kita membicarakan negara Islam tidaklah sama artinya dengan mengidentikkan sebagai negara agama. Yang pertama, sebagai terjemahan integral dan universalitas ajaran Islam yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Yang kedua sebagai gambaran traumatif sejarah Eropa di era pertengahan yang mengekang kebebasan. Dan secara kebetulan diperankan oleh tokoh-tokoh agamawan pada waktu itu.

Bila yang dimaksud demokrasi adalah adanya kontrol rakyat terhadap pemerintah atau penguasa, maka hal tersebut juga senada dengan sistem syura. Ada ahlul halli wal ‘aqdi sebagai badan pertimbangan dan pengontrol kekuasaan.

Namun, bila yang dimaksud adalah kedaulatan mutlak di tangan rakyat, ini merupakan sebuah distorsi orientasi syura. Karena kedaulatan tertinggi tetap di tangan Allah. Hukum-hukum-Nya lah yang bisa diterapkan. Bisa jadi tatanan sosial masyarakat menghendaki suatu hal yang menentang kebijakan Allah. Maka kedaulatan seperti ini mesti direm dan dibenarkan orientasinya.

Meski tentunya penerapan hukum dan syariat Allah Swt. tidaklah mungkin dipaksakan kepada masyarakat tanpa bertahap dan sosialisasi yang matang melalui gerakan kultural yang kemudian dibackup secara struktur melalui perangkat negara.

Naifnya bila penerapan hukum Allah selalu diidentikkan dengan hukum hudud dan kriminal saja. Padahal hukum dan aturan Allah tak sesempit itu. Banyak dimensi kemanusiaan lain yang belum diungkap.

Dalam berpolitik, agama tak mungkin ditinggalkan. Disinilah perbedaannya dengan ‘politik’ serba boleh dan menghalalkan segala cara. Politik tak bisa memisahkan Islam dari akidahnya, syariatnya maupun akhlaknya. Karena Islam di sini bukan simbol tapi nilai normatif yang menjadi ruh. Maka untuk menempuh tujuan yang baik hanya bisa melalui cara yang baik pula, bukan segala cara dibolehkan. Meskipun simbol tetap diperlukan sebagai sarana pendewasaan rakyat dan ciri khas identisas.

Pada hakikatnya ada sisi kesamaan antara syura dan demokrasi. Ada unsur keterlibatan rakyat. Seperti apa yang pernah dikatakan Umar bin Khattab,”Jika kalian melihat pada diriku penyelewengan maka luruskanlah dengan pedang ini…”. Saat itu seorang pemimpin benar-benar menjadi milik rakyat. Keberadaannya selalu didukung dan ditemani. Tak sedikitpun ia dibiarkan sendiri. Dukungan berarti support terhadap yang baik dan teguran serta islâh terhadap kesalahan dan kekhilafannya.

Lalu benarkah negara demokrasi menjadi satu-satunya alternatif untuk menjalankan sebuah kehidupan demokrasi atau memasyarakatkan syura dan istisyârah?

Anehnya negara-negara bekas penganut sistem kerajaan atau dinasti yang berubah kiblat menjadi nation state yang berhaluan demokrasi secara resmi malah kondisinya lebih buruk. Citra kebebasan menjadi terpasung. Oposisi hanya sebatas lipstik konstelasi politik. Sebagai contoh dalam pemilihan presiden yang ada hanya referendum setuju/ya atau tidak. Bukan memilih dengan menghadirkan calon alternatif. Contoh lain bila dalam suatu kondisi calon presiden terjegal Undang-undang maka UU nya yang perlu direvisi dengan dalih mengikuti perkembangan zaman.

Praktek demokrasi dinegara-negara Islam seperti ini justru melahirkan para diktator baru yang sangat otoriter. Berbeda jauh dari kiblat mereka, demokrasi liberal yang dipraktekkan di negara-negara Barat. Kepala negaranya akan turun bila udah sekarat atau dikudeta atau dibunuh atau diprotes rakyatnya. Masing-masing diantara mereka telah menyiapkan penggantinya sebagai back up pengaman aset yang dipunyainya.

Dalih Undang-undang Darurat sebagai tameng resmi untuk membungkam orang-orang yang mensosialisasikan kesadaran berpolitik umat. Mahkamah militer untuk rakyat sipil yang dituduh melakukan konspirasi. Belakangan semakin dilegalkan dengan isu globalisasi jaringan terorisme. Setelah peristiwa 11 September. Semua tak ada yang berani mengatakan tidak. Bukan tak berani namun tak mampu. Karena tak ada keberdayaan. Fasilitas untuk menyuarakan itu dibungkam dan ditutup.

Memang ada konspirasi Barat dalam membingkai baju demokrasi ini agar terlihat indah. Enak diucapkan namun pahit untuk dirasakan. Terutama oleh rakyat yang selalu menjadi tumbal dan dijadikan percobaan. Kepentingan ini disadari sebagai senjata ampuh untuk mencegah persatuan umat Islam sebagaimana upaya penyatuan Uni Eropa. Uni Eropa saja sudah menjadi tandingan dan ancaman bagi Bapak Globalisasi dunia ‘Amerika Serikat’. Apalagi dengan persatuan umat Islam. Keduanya tentu tak menginginkannya. Ada trauma sejarah yang cukup panjang bernama perang salib. Memang bisa diusahakan untuk ditutup-tutupi namun tetap saja menganga dan menyisakan luka. Mengapa praktek demokrasi di Aljazair yang sudah fair tiba-tiba harus dibatalkan. Sebagai gantinya dimunculkan isu barbarian modern yang bangkit sebagai fenomena terorisme. Akibatnya pencidukan aktivis Islam menjadi legal untuk membungkam demokrasi yang sesungguhnya.

Sementara dinegara lainnya. Para ‘raja’ di negara demokrasi tersebut dibiarkan untuk terus bernafas panjang meski sebenarnya mereka telah susah bernafas. Para diktator tersebut justru menjadi kuat, padahal berada ditengah sebuah negara demokrasi. Negara Islam, bahkan. Maksudnya negara yang penduduknya mayoritas memeluk agama Islam. Anehnya sebagian negara ini menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.

Itulah baju demokrasi yang dipaksakan kepada rakyat yang dikelabuhi para elit dan pemimpinnya. Sehingga rakyat bukan hanya dibohongi namun dibodohkan dan diteror untuk selalu mengatakan “ya”. Mengatakan tidak adalah ‘dosa’ dan ‘aib’.

Bahasa-bahasa yang digunakan adalah ‘arahan’ yang tak tertolakkan bukan lagi gagasan atau ide atau usulan yang bisa dipertimbangkan dan didiskusikan oleh wakil rakyat.

Benar, pemimpin atau penguasa memiliki hak dalam decision making. Namun peran pengontrol dan pemberi pertimbangan seharusnya tidak dimatikan. Jika ruh demokrasi menghendaki keterlibatan rakyat maka ruh syura pun tidak melarang itu, bahkan mendukung dan melegalkan. Hanya saja bukan sembarang rakyat yang bisa mewakili aspiasi mereka.

Lantas mekanisme demokrasi tersebut seperti apa? Ini tergantung situasi sosial politik masyarakat. Bila masyarakatnya masih belum ‘melek’ secara politik dan masih dalam kondisi pembodohan, maka sistem yang demokratis tak menjamin akan melahirkan sosok penguasa yang demokratis dan putra terbaik mereka. Yang ada hanyalah kondisi masyarakat yang diikat oleh ikatan emosional. Icon-icon emosional inilah yang kemudian dijual untuk meraup suara ‘demokrasi’ tersebut. Seperti keberpihakan terhadap rakyat kecil. Sayangnya ketika kekuasaan sudah ditangan rakyat pun ditinggal. Seperti pendorong mobil mogok, ketika sudah jalan ia pun ditinggal. Jangankan ditawari untuk naik, ucapan terima kasih pun tak didapatinya.

Sebenarnya bukan mutlak kesalahan Barat, namun kita mesti melakukan otokritik. Dan kesalahan terbesar adalah kurangnya imunitas umat Islam terhadap isu-isu baru. Demam kiblat modernisme didengungkan namun tak dibarengi dengan memahami substansi wacananya. Akhirnya yang menjadi tren adalah meniru bukan mengambil bagian yang terbaik untuk diterapkan. Ada selektifitas yang dibarengi kepekaan dengan ilmu.

Disamping itu kepentingan terselubung untuk mengekang kehidupan demokrasi, tak pernah dilawan atau ditandingi. Cenderung dinikmati sebagai upaya melanggengkan kekuasaan. Padahal kekuasaan adalah amanah bukan kesempatan untuk menunjukkan kemuliaan. Kekuasaan adalah sarana perbaikan sosial. Ia berperan secara struktur memback up proses perbaikan sosial yang terjadi secara kultural di tengah masyarakat. Keduanya berjalan seiring. Bila masyarakatnya baik, maka untuk memilih dan melahirkan pemimpin yang baik tak sulit.

Kembali ke permasalahan demokrasi, bahwa kedaulatan Allah bukanlah berarti memasung kedaulatan rakyat atau manusia yang bebas. Kedaulatan Allah artinya hukum-Nya yang dipakai, bukan dengan standar hukum konvensional atau suara mayoritas rakyat atau segelintir shahib al qarar (decision maker). Sekalipun rakyatnya adalah muslimin dan negaranya Islam.

Lalu, dari mana kita bisa menerapkan wacana ideal seperti di atas kalau tidak ada perangkat resmi dan legal. Negara Islam? Apa lagi kalau bukan negara. Karena dia menjadi skup regional terkecil yang bisa menjadi sarana loncatan ke arah yang lebih global.

Adapun dalam urusan sistem ketatanegaraan juga memiliki dimensi yang berbeda secara lahiriyahnya. Pada hakikatnya tetap memiliki substansi yang sama. Jika Machiavelli menerjemahkan demokrasi melalui trias politika, maka sistem yang tak jauh berbeda juga pernah diterapkan oleh para sahabat Nabi Saw. Peran eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan (perangkat pemerintahan), legislatif dan yudikatif sebagai pengontrol, pengawas dan pemberi pertimbangan. Bagaimana bentuknya, tiap negara memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang memakai sistem presidentil atau lainnya.

Hanya saja ada sebuah idealisme yang tinggi terhadap wacana kepemimpinan dalam Islam. Bahwa prototype penguasa yang ideal menggabungkan dua unsur kepemimpinan. Kepemimpinan agama (ulama’) dan kepemimpinan dunia (umara’). Nabi Muhammad Saw. adalah seorang nabi yang alim yang sangat menguasai perihal keagamaan sekaligus seorang politikus praktis.

Kemunculan seorang pemimpin pun bermacam-macam. Sebagai contoh, perbedaan munculnya kepemimpinan setelah Rasulullah Saw. wafat. Abu Bakar ra. di Saqifah Bani Saidah melalui pemilihan kolektif. Kemudian Umar bin Khattab ra. melalui wasiat. Usman bin Affan ra. melalui dewan. Dan Ali bin Abi Thalib ra. melalui bai’at. Kemudian setelah Hasan bin Ali ra. berubah menjadi Dinasti Bani Umayyah. Namun semua pemimpin tetap milik rakyat.

Perbedaan ini memberikan gambaran terjadinya perubahan zhahir dalam penerapan sistem syura atau demokrasi. Hanya saja ruh asasinay tetap terjaga. Keterlibatan rakyat dan kedaulatan Allah dengan menjunjung hukum-hukum-Nya.

Sudah saatnya kita menghentikan polemik perdebatan demokrasi dan syura. Selama kita mengetahui batasan kebolehan yang bisa kita manfaatkan. Jangan sampai kita membuang demokrasi dengan dalih mencukupkan dengan syura. Namun pada prakteknya justru mengekang kebebasan yang meminimalisir proses musyawarah di tengah rakyat. Toh kita tak memakai sistem asing secara mutlak tanpa sensor. Tapi kita menggunakannya dengan iqtibas sesuatu yang positif. Wallahu A’lam.[]

 

Kampung Sepuluh, Tengah Malam

Cairo, 11 September 2007

 

Kajian Kepemimpinan Perempuan

Perempuan dan Peranan Kepemimpinannya

(Menilik Tinjauan al-Quran dan Hadits) *

Saiful Bahri, MA**

Pendahuluan

Laki-laki dan perempuan dalam lingkungan sosial memiliki kesamaan sebagai bagian dari anggota masyarakat. Saling menyayangi, membantu dan menopang proses amar makruf nahi munkar, mendirikan shalat, membayar zakat serta menaati Rasulullah. Dan masing-masing mereka juga dijanjikan oleh Allah balasan yang maha agung. (lihat: QS. at-Taubah: 71-72). Persepsi laki-laki tentang perempuan tak bisa dipisahkan dari lingkungannya sejak kecil serta literatur yang dibacanya. Demikian juga sebaliknya persepsi perempuan tentang laki-laki. Atau persepsi masing-masing mereka tentang diri masing-masing. Semua berbanding lurus dengan keinginan mereka menyelami dan memahami diri mereka. Untuk mengembangkan potensi demi memaksimalkan peran-pesan sosial yang ada. Tak lebih selain memang mereka memiliki peran yang sama meski ada peran-peran khusus yang dijalankan oleh masing-masing mereka sesuai tabiat fitrah dan struktur fisik serta kecenderungan dan adat yang berkembang dalam masyarakat.

Secara spesifik, kali ini kita akan mengkaji bersama dan berdialog tentang peran kepemimpinan perempuan, dengan tinjauan tematik terhadap al-Quran dan Hadits. Tentunya sesuai kemampuan penulis yang terbatas dalam mengetengahkan ayat-ayat maupun hadits-hadits yang bersangkutan dengan tema di atas. Semoga bisa kita kritisi bersama dan bisa diperkaya dengan dialog.

Makna Kepemimpinan

Dalam bahasa arab kata-kata yang mengindikasikan makna kepemimpinan seperti `imârah, sulthah, `imâmah dan wilâyah. Ada yang dinamakan kepemimpinan khusus dalam skup mikro, dan ada kepemimpinan umum yang lebih makro.

Lantas mengapa kita perlu mempermasalahkan kepemimpinan perempuan. Sementara kepemimpinan laki-laki seolah tak tersentuh oleh pembahasan lebih detil. Kecuali tentunya pembahasan tentang syarat-syarat kelaikan yang tidak berbias gender. Lalu apa tafsiran kita terhadap ayat 228 surat al-Baqarah? ”… dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Apakah ayat ini bersifat umum? Ataukah hanya dalam konteks khusus? Dengan apa kita menafsirakan kata: ”rijâl” dan ”nisâ”` dalam ayat di atas?

Kepemimpinan dalam Keluarga

Mari sejenak dengan teliti kita perhatikan firman Allah dalam surat An-Nisâ` ayat 34. ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu maka wanita yang salihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Bahwa tanggung jawab kepemimpinan laki-laki berbanding dengan kewajiban atas nafkah yang menjadi beban yang harus dipikulnya. Sementara perempuan tidaklah demikian. Tidak diwajibkan untuk mencari nafkah. Kecuali atas izin suaminya, itu pun dengan catatan tidak mengabaikan hak rumah tangganya.

Selain itu secara tabiat femininya, perempuan mengalami siklus bulanan, mengandung, menyusui dan serangkain kelemahan fisik lainnya yang rutin. Hal tersebut tidak dialami oleh laki-laki secara umum. Memang penilaian kualitas kemimpinan ini tidak berdasar fisik, namun kondisi fisik yang kuat menjadi salah satu konsideran dan faktor kepemimpinan yang sukses. Dalam skup sekecil apapun. Meski dalam komunitas kecil yang dihuni oleh dua orang saja (laki-laki dan perempuan yang berperan sebagai suami dan istri).

Muncul sebuah pertanyaan: bagaimana bila perempuan itu seorang profesor atau pakar sebuah spesialisasi, dokter, dan sebagainya. Sedang suaminya tidak seperti dirinya? Jawabannya bermacam-macam. Penyelesaian dengan dalil-dalil teks atau dengan realita atau dengan desakan feminisme liberal. Bahwa tabiat kepemimpinan aslinya secara umum dimiliki oleh seorang laki-laki (baik sebagai suami ataupun ayah). Namun, tak jarang juga diperankan oleh perempuan (saat suami pergi, baik karena kerja, meninggal atau karena dipenjara dan lain-lain). Atau bahkan dalam kondisi suami yang lemah. Seorang istri yang pengertian ia berfungsi sebagai seorang penasehat ulung bagi seorang raja yang lemah. Saat itu ia menjadi raja tanpa harus mengambil tahta. Namun, bila ia memperdebatkan status kepemimpinan. Mungkin ego laki-laki yang mungkin saat itu terlihat lemah akan bangkit dan menyulut persengketaan. Maka ketika ada pertanyaan: Apakah laik seorang perempuan cerdas yang shalihah seperti Aisyah dianggap kurang cocok dan lebih buruk dari seorang Abu Jahal? Dalam konteks apa? Abu Jahal bukanlah suami Aisyah. Semua orang mengetahuinya. Para sejarahwan dan ahli hadits mengukuhkan hal itu.

Dari sinilah kadang bermula berbagai syubhat yang dicuatkan untuk menuntut persamaan gender antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebenarnya tak perlu ada yang dituntut. Dalam berbagai dimensi laki-laki tetap akan digambarkan musuh perempuan. Gambaran bahwa laki-laki adalah perusak karena mereka peperangan ada. Laki-laki adalah pengambil kebijakan ekonomi, seni bahkan yang berkaitan dengan perempuan sekalipun, seperti memasak dan perancang busana. Semuanya sengaja ditonjolkan untuk mendongkrak ego perempuan menuntut persamaan. Ini belum menyinggung permasalahan sensitif lainnya seperti hak talak dan perwarisan. Kali ini yang menjadi bahasan kita adalah kepemimpinan.

Kepemimpinan Perempuan dalam Wilayah Umum

Yang penulis maksudkan adalah seperti yang ditulis dalam berbagai buku fikih dan pembahasan peran politis umum seperti khalifah, kepala negara, raja dan sejenisnya. Apakah boleh dan laik seorang perempuan memimpin negara.

Bila dalam keluarga, tabiat kepemimpinan laki-laki diiringi dengan insting tantangan untuk mencari nafkah dan bertarung dengan kekerasan hidup maka hanya sebagian kecil dari perempuan yang memiliki fitrah seperti ini. Biasanya muncul karena tuntutan keadaan. Kadang karena dizhalimi laki-laki (baik suami atau ayahnya), kadang karena membantu suaminya yang lemah atau hal lain. Sementara tidak demikian dengan laki-laki. Fitrah dan insting itu tumbuh bersama waktu.

Demikian halnya dengan kepemimpinan dalam skup makro seperti ini. Sebagian besar fuqaha berpendapat bahwa kepemimpinan umum seperti kepala negara atau khalifah hanya untuk laki-laki dan tidak diperkenankan untuk perempuan. Karena beberapa sebab. Dan dalil yang digunakan seperti yang masyhur dalam buku-buku fikih maupun sejarah. Yaitu hadits yang diriwayatkan Abi Bakrah, ”Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin perkaranya oleh seorang perempuan”. Sabda Nabi ini mengomentari kenaikan anak perempuan Syiruwaih yang menggantikan tahtanya. (lihat hadits ke 4425 dalam Shahîh al-Bukhâri, Kitâb al-Maghâzî, Bâb Kitâb an-Nabiy `ilâ Kisrâ wa Qaishar).

Lalu bagaimana dengan Inggris yang sukses di bawah kepemimpinan Victoria dan Margeret Techer. Juga India dengan pemimpin legendarisnya Indira Ghandi. Maka ini juga tak jauh bila ada yang menyebut kisah yang diabadikan al-Quran, kepemimpinan dari seorang ratu yang cerdas, Balqis yang memimpin negeri Saba’. Meskipun ada yang membantahnya karena dianggap sebagai syariat orang-orang terdahulu yang tidak bisa lagi diterapkan saat ini.

Menurut penulis perbandingannya bukan antara laki-laki dan perempuan. Karena jika yang dibandingkan adalah kualitas maka laki-laki dan perempuan sama di depan standar tersebut. Namun, perbandingan yang perlu dipikirkan adalah keamanan perempuan terhadap kepemimpinan umum yang dipegangnya: beratnya tanggung jawab, fluktuasi emosional yang dipengaruhi siklus bulanan, juga rentannya ikhtilat dan kerja malam atau bepergian jauh serta berbagai tantangan lain yang secara umum berlawanan dengan fitrah perempuan. Karena hadits di atas mengundang perdebatan panjang, meski dihukumi shahih. Perbedaan cara pandang, baik berupa struktur kalimat yang berupa kalimat berita dan bukan perintah. Juga konteks hadits di atas yang khusus sebagai komentar suatu peristiwa. Ala kulli hal, pertimbangan kemanusiaan perempuan lebih memberatkan untuk tidak terjun dalam wilayah kepemimpinan umum seperti ini. Secara umum dalil-dalil Alquran dan Hadits dalam masalah ini masih multiinterpretasi. Hanya saja ijma’ (kesepakatan) sahabat dan para ulama sangat menguatkan pendapat di atas.

Perempuan dan Kepemimpinan Lembaga

Bila fuqaha berpendapat untuk perempuan supaya tidak terjun dalam kepemimpinan tertinggi. Lantas bagaimana bila dalam kepemimpinan lembaga, seperti sebuah kementrian dan sejenisnya. Kaidahnya tak jauh dari masalah sebelumnya. Namun, Imam al-Mawardi membaginya menjadi dua. Pertama, wizârah tafwîdh. Yaitu lembaga kementrian vital yang bersangkutan dengan kebijakan umum kepala negara atau pengganti kepala negara bila berhalangan. Jika demikian maka hukumnya tak jauh berbeda dengan yang di atas. Kedua, wizârah tanfîdz. Yaitu kementrian pelaksana kebijakan umum kepala negara (pemerintah). Maka perempuan dibolehkan memegang kementrian seperti ini. Hal ini juga tentunya berbeda-beda antara negara dan suatu daerah dengan daerah lainnya.

Adapun orang-orang yang melarang perempuan dalam kepemimpinan lembaga berdalil dengan hadits di atas. Padahal hadits tersebut seandainya dipakai dalil pun untuk sekup yang sangat makro seperti kepala negara saja atau khalifah. Selain itu dalil yang dipakai adalah surat an-Nisa’ ayat: 34, al-Ahzab, ayat: 33, dan ayat 53.

Kita telah mendiskusikan ayat 34 dari surat an-Nisa’. Adapun dua ayat dalam surat al-Ahzab di atas dikhususkan untuk para istri Rasul Saw. Ayat sebelum dan sesudahnya menguatkan premis ini.

Perempuan dan Kepemimpinan Kolektif

Yang dimaksudkan di sini adalah seperti lembaga legislatif (anggota parlemen). Jika untuk memimpin negara perempuan dianjurkan untuk tidak melakukannya, maka bagaimana mungkin ia memasuki ruang publik yang lebih tinggi atau sama kuat dengan kepala negara. Parlemen yang bisa mengimpeach seorang presiden. Maka jawabannya sangat sederhana. Karena daam kepemimpinan seperti ini justru ruang perempuan perlu diperhatikan untuk mewakili aspirasi kaum mereka. Anjuran Allah untuk bermusyawarah mencakup semua jenis, baik laki-laki maupun perempuan. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38). Juga kita perlu memperhatikan dalam skup kecil keluarga, misal dalam permasalahan persusuan. Lihat: ayat 233 surat al-Baqarah, ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah. Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” Fungsi legislasi yang menjadi patner eksekutif juga memerankan fungsi amar makruf nahi mungkar yang diperankan secara sama oleh laki-laki dan perempuan sebagaimana yang penulis sitir di awal tulisan (lihat QS. At-taubah: 71). Dr. Yusuf al-Qaradhawy juga menegaskan hal ini. Bahwa tidak ditemukan dalil yang melarang peran keikutsertaan perempuan dalam urusan seperti ini. Karena ia mengatakan sesuatu yang bisa benar dan bisa salah dan bisa didiskusikan. Juga menjadi bagian dari amar makruf dan nahi mungkar seperti di atas.

Hal ini juga senada dengan dibolehkannya bekerja bagi perempuan. Karena sejak zaman Rasul pun para shahabiyah turut aktif dalam peran-peran sosial. Bahkan sebagai wakil aspiratif kaum mereka. Lihatlah peran perwakilan mereka dalam bai’ah aqabah kedua. Lihat juga peran Nusaibah dalam perang Uhud. Sebagaimana peran medis dan logistik mereka dalam peperangan.

Dan hal ini tentunya dibarengi dengan kaidah umum etika perempuan seperti membedakan ikhtilat yang dibolehkan dan yang tidak, mengenakan pakaian yang sopan dan syar’i, cara berjalan dan bertutur, tidak berkhalwat serta syarat sosial berupa keamanan perempuan dari berbagai fitnah yang bisa merugikannya.

Kepemimpinan Perempuan dalam Lembaga Peradilan (Hakim)

Sebagian fuqaha berpendapat bahwa qadhi atau hakim disyaratkan laki-laki sebagaimana wilayah umum. Karena disamakan seperti kepala negara atau khalifah yang memerlukan kecerdasan penuh. Ini karena menyangkut wilayah persaksian. Sebagaimana diketahui persaksian perempuan sama dengan setengah persaksian laki-laki. Ini dalam bahasa fikih disebut kekurangan akal. Dan kekurangan agama perempuan didiskripsikan dengan siklus bulanan mereka yang menghalangi dari banyak hal. Namun, persamaan ini tidak dibenarkan oleh Prof. Dr. Muhammad Beltagy. Hadits yang sangat terkenal itu (muttafaq alaih) konteksnya bukan penekanan sabda Rasul saw terhadap ”kekurangan akal dan agama perempuan” namun dalam konteks anjuran bersedekah dan memperbanyak istighfar. Dan karena beliau melihat sebagian besar penghuni neraka adalah dari kaum perempuan. Justru dengan segala kecerdasannya seorang perempuan Anshar berdiri menanyakannya, kenapa bisa seperti itu. Rasul pun menjelaskan alasannya bahwa secara umum mereka tidak pandai bersyukur dan berterimasih serta kurang menerima jerih payah suaminya. Justru ungkapan tambahan Rasul berikutnya kalau jeli kita perhatikan tidak menunjukkan kelemahan perempuan. Namun, sebaliknya di balik kelemahan dan kelembutannya ia bisa membuat terlena seorang laki-laki yang kuat dan cerdas.

Pendapat senada juga dipilih oleh Imam Thabary dan Ibnu Hazm. Mereka membolehkan kepemimpinan perempuan dalam lembaga peradilan. Namun, tetap tidak membolehkan kepemimpinan mereka dalam negara dan khilafah. Di antara dalil yang digunakan sebagai sandaran adalah sabda Rasul, ”Seorang perempuan pemimpin (yang bertanggung jawab) atas harta suaminya. Ia bertanggung jawab atas tanggungannya. (HR. Bukhari Muslim) Di samping itu lembaga peradilan modern tidaklah dipimpin dengan kepemimpinan tunggal. Bahkan merupakan kepemimpinan kolektif. Juga dalam menangani permasalahan-permasalahan khusus, biasanya beranggotakan tiga orang hakim. Salah satunya menjadi ketua yang merangkap sebagai anggota.

Penutup

Demikian halnya terjadi banyak perbedaan tentang cara pandang seseorang terhadap kegiatan sosial perempuan juga aktifitas ekonomi dan karirnya. Maka dalam skup lain akan muncul wacana kepemimpinan perempuan dalam wilayah yang lebih kecil dari negara, entah itu propinsi (gubernur), kabupaten (bupati), atau kecamatan (camat). Juga dalam memimpin LSM, Ormas atau Orpol. Kalau kita yang di sini pernah berkembang wacana kepemimpinan perempuan di PPMI. Untuk menyikapi realita seperti ini kita mesti pandai menyikapinya. Tidak bisa mencukupkan dengan dalil-dalil teks dari al-Quran dan Hadits. Namun, juga pertimbangan kemanusiaan perempuan. Menimbang kemaslahatan dan kemudharatan. Lebih menimbang lagi kemanfaatan kecil dan besar. Menutup kemudharatan besar dan membedakannya dengan kemudharatan yang lebih besar lagi. Hal ini dibutuhkan pemahaman yang cukup terhadap fikih muwâzanah.

Demikian, secara singkat tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kepemimpinan perempuan dan peran-peran sosialnya di tengah kemajemukan masyarakat. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Amin

Bahan Bacaan:

  1. Abu al-Hasan al-Mawardiy, al-`Ahkam as-Sulthâniyah wa al-Wilâyât ad-Dîniyah, Tahqiq: Ashim Faris dan Muhammad Ibrahim az-Zaghly, Beirut : al-Maktab al-Islamy, Cet. I, 1996 M-1416 H.
  2. Prof. Dr. Muhammad Beltagy, Makânah al-Maráh fi al-Qur`ân al-Karîm wa as-Sunnah ash-Shahihah, Cairo: Darussalam, Cet. I, 2000 M-1420 H.
  3. Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Min Fiqh ad-Daulah, Cairo: Dar asy-Asyuruq, Cet. I, 1997 M-1417 H.
  4. Dr. Musthafa as-Siba’i, al-Maráh Baina al-Fiqh wa al-Qânun, Cairo: Darussalam, Cet. I, 1998 M-1418 H.
  5. Majid Mahmud Abu Jabir, al-Maráh wa al-Huqûq as-Siyâsiyah fi al-`Islâm, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Cet. I, 1997 M-1417 H.
  6. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, al-Maráh Baina Thugyân an-Nizhâm al-Gharbiy wa Lathâ`if at-Tasyrî` ar-Rabbâniy, (Damascus: Darul Fikr, Beirut: Darul Fikr al-Mu’ashir), Cet. I, 1996 M-1417 H.
  7. Ahmad Junaidi, Lc. al-Maráh al-Muslimah wa Tawallîhâ al Wilâyât al-`Âmmah, Bahs Tamhidi Dirasat Ulya, Universitas Cairo, Fakultas Darul Ulum, Jurusan Syariah Islamiyah, Tahun Ajaran 1998-1999 M.

Kampung Sepuluh, Jumat Sore

Cairo, 18 Agustus 2006


* Pengantar Dialog Kajian PCI Aisyah Cairo, Selasa, 22 Agustus 2006 di Dokki, Giza.

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an Universitas Al Azhar Cairo

Yusuf dan Zulaikha

Yusuf dan Zulaikha*

(Antara Fitrah, Pergulatan Psikis dan Imunitas Samâwy)

Oleh Saiful Bahri, MA.**

Pendahuluan

Al-Qur’an menjadikan kisah atau cerita merupakan salah satu sarana pembinaan. Bahkan tak jarang terjadi beberapa pengulangan di berbagai tempat yang berbeda dengan gaya bahasa dan momentum yang berbeda pula sesuai dengan rûh dan tema umum sebuah surat.

Di antara kisah-kisah tersebut adalah kisah Nabi Yusuf Alaihissalâm. Sebuah kisah yang memiliki karakteristik tersendiri. Semua kisahnya dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah surat yang dinamakan dengan namanya. Tak ada pengulangan di tempat lain. Kisah ini tidaklah menggambarkan seluruh kehidupan Yusuf as dari kecil sampai wafatnya. Namun, dimulai dari sejak usia kanak-kanak dan menggambarkan kehidupan keluarga ayahnya, Ya’qub. Kemudian masa keterasingan beliau di perantauan, sebagai budak. Kemudian mendapat berbagai ujian hingga mendapatkan hasil dan buah kesabarannya. Dimuliakan Allah dan rakyatnya. Menjadi orang terpandang. Hingga ditemukan kembali dengan keluarganya, sebagai takwil dari mimpi pada masa kecilnya. Bulan, matahari dan sebelas bintang yang sujud kepadanya.

Nama Yusuf sendiri diulang dalam al-Qur’an sebanyak 27 kali. 25 diantaranya berada di surat Yusuf. Satu kali di surat al-An’am (ayat: 86), disebut setelah nama para nabi Allah dalam ayat tersebut. Dan satu kali dalam surat Ghafir (ayat: 34), juga disebut setelah beberapa kisah para nabi pada ayat sebelumnya.

Secara umum dalam kisah ini kita belajar berbagai kesabaran, sikap memaafkan, pendidikan dan pembinaan dalam keluarga, menunjukkan profesionalitas pada kondisi yang diperlukan. Serta berhati-hati dengan berbagai pernik fitnah dunia, sikap iri dan dengki yang berlebihan. Juga pelajaran bagi pada dai, bahwa menyampaikan risalah Allah tidak mengenal waktu dan dalam berbagai kondisi. Sekalipun dalam penjara seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as.

Yusuf Alaihissalâm dan ’Imra’atu al-’Azîz

Salah satu hikmah tidak diulangnya kisah Yusuf, –wallahu a’lam– tidak seperti kisah pertentangan antara para nabi dan rasul dengan kaumnya. Kisah Yusuf as lebih merupakan cermin perjalanan hidup yang datar.

Ada benarnya apa yang disampaikan Dr. Muhammad Mahmoud Hegazy, di dalamnya ada pergolakan psikis dan tipu daya perempuan, yang tentunya kurang laik bila diulang-ulang. Maka tema diskusi kita kali ini -yang memfokuskan tentang fitnah yang dihadapi oleh Nabi Yusuf- sudah selaiknya tak terlalu memaksa kita untuk menelusuri sumber-sumber yang kurang laik untuk dijadikan tafsir pendukung untuk memerinci kejadian yang sesungguhnya. Sebagian besar kisah terperinci tentang ini adalah israiliyat yang lemah sanadnya bahkan diantaranya dikatagorikan maudhu’ (palsu). Semoga kita tak terjebak dalam hal-hal yang menjauhkan kita dari hikmah dibalik kisah tersebut.

Yusuf muda dengan segala sifat-sifat yang dimiliki oleh umumnya para pemuda yang punya ketertarikan pada lawan jenisnya. Hanya saja kisah ini datang setelah penegasan Allah : ”Dan tatkala dia cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 22) Di antara para ahli tafsir ada yang memerinci usia Yusuf antara 30-40an tahun. Yang jelas dari gaya bahasa yang dipakai al-Qur’an menunjukkan bahwa Yusuf saat itu telah sampai pada kematangan dan kedewasaan. Setidaknya kematangan seorang pemuda yang akan disiapkan untuk mengemban risalah. Dan akan diuji dengan sebuah ujian yang sangat berat bagi gairah jiwa seorang pemuda yang normal. Sayed Quthb membahasakannya dengan sifat basyariyah (manusiawi) Yusuf, tidak mengurangi penyiapan psikis dan pribadinya sebagai pembawa risalah.

Sejenak, kita lihat penuturan al-Qur’an tentang ujian yang dihadapi Yusuf muda : ”Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim takkan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Gelora nafsu yang dipendam oleh Zulaikha (demikian sebagian ahli tafsir menyebutnya) telah menyebabkan dirinya terjebak dalam pergolakan psikis yang dahsyat. Al-Alusiy menggambarkannya dengan pengulangan yang dilakukannya dalam menutup pintu. Perbedaan gaya bahasa ini dijelaskannya dengan gamblang. Di sini digunakan kata ”ghallaqat” bukan ”aghlaqat”. Yaitu menutup dengan berulang-ulang, bukan sekedar menutup pintu. Bisa jadi dikarenakan banyaknya pintu, atau dimaksudkan untuk meyakinkan pintu telah benar-benar tertutup.

Zulaikha sebagai seorang perempuan bangsawan aristokrat yang merasa segala keinginannya adalah titah yang tak terbantahkan. Namun, kali ini ia benar-benar takluk di depan gejolak nafsunya. Yusuf yang tampan yang telah sampai pada kematangan yang benar-benar didambakan oleh seorang perempuan. Bahkan mungkin oleh perempuan yang telah bersuamikan seorang yang terpandang dan berpangkat sekalipun.

Sikap yang ditunjukkan Yusuf muda pun menjadi sikap yang sangat langka bagi kebanyakan pemuda. Dihadapan rayuan seorang perempuan yang cantik, kaya dan terpandang serta memiliki kedudukan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, sikap yang demikian menjadi salah satu penyebab digolongkannya dari tujuh orang yang mendapatkan keteduhan di hari kiamat.

Namun, ada sedikit perdebatan tentang apa yang sebenarnya mereka berdua rasakan; baik Yusuf atau pun Zulaikha. Karena al-Qur’an hanya menggambarkannya dengan singkat. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Kata-kata yang menimbulkan perbedaan penafsiran di sini adalah penggunaan istilah ”hamm”. Apakah ada perbedaan antara hamm yang didarasakan oleh Zulaikha dengan hamm yang dirasakan oleh Yusuf. Sebagian besar para ahli tafsir menerjemahkan hamm di sini adalah keinginan yang diikuti azam dan perbuatan. Ketiga runtutan makna hamm ini untuk menafsiri ”hammat bihi”. Adapun hal ini tidaklah terjadi pada Yusuf. Hal tersebut karena beliau diproteksi oleh ”burhan” dari Tuhannya yang dilihatnya.

Hal ini disesuaikan dengan kehormatannya sebagai orang yang akan menerima risalah. Beliau tidaklah berkeinginan untuk melakukan perbuatan keji atau melayani gelora nafsu yang dirasakan oleh Zulaikha. Hal ini lebih pada menggambarkan betapa dahsyatnya godaan itu. Adapun beliau tetaplah juga seorang pemuda, yang oleh Sayed Quthb dibahasakan dengan basyariyah (manusiawi) tadi. Secara umum, siapa yang tidak tertarik dengan seorang perempuan cantik yang terpandang seperti Zulaikha. Hanya saja akal sehatnya mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengatakan ”Maádzallah”. Beliau sangat menyadari bahwa tuannya telah mengentaskannya dari keterasingan dan kesendirian. Kemudian menghidupinya dengan laik. Apakah kemudian ia membalasnya dengan pengkhianatan. Pengkhianatan yang bisa jadi menyebabkan dirinya kembali terbuang. Tersisih. Bahkan ternistai dengan perbuatan terkutuk. Sungguh hal tersebut tidaklah menjadi pilihannya. Apalagi untuk melayani keinginan dan membuka pintu perselingkuhan istri orang yang selama ini sangat memuliakannya.

Namun sikapnya bukan tidak mengundang resiko. Menolak keinginan istri tuannya. Saat Yusuf tersadar bahwa ia terperangkap dalam jeratan dan tipu daya seorang perempuan, ia segera bangkit dan berlari ke arah pintu. Menjauhi sejauh-jauhnya perempuan yang memperdayakannya. Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?”.” (QS. Yususf: 25)

Tepat di depan pintu, sang tuan telah berdiri keheranan menyaksikan keduanya berkejaran ke arahnya. Belum sempat ia bertanya-tanya, istrinya telah memulai dengan pembelaan untuk menutupi gelora nafsunya. Makar berikutnya, dengan menimpakan kesalahan pada Yusuf. Namun, Yusuf pun segera menolaknya. Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)” (QS. Yusuf: 26). Dan untuk menyelesaian permasalahan ini didatangkan saksi dari keluarga Zulaikha untuk memberikan persaksiannya, ”Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar” (QS. Yusuf 26-27)

Kemudian jelaslah siapa yang benar dan siapa yang salah. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)

Sebagai keluarga terpandang tentunya hal seperti ini sangat aib. Maka Sang Menteri tersebut meminta Yusuf untuk menyudahi permasalahan ini serta memendamnya sebagai sebuah rahasia. Serta dengan bijak menyuruh istrinya, ”… mohon ampunlah atas dosamu itu, Karena kamu Sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah” (QS. Yusuf: 29)

Ketika Fitnah Meluas

Cobaan yang dihadapi Yusuf tidaklah berhenti sampai di sini. Apa yang terjadi antara yusuf dan Zulaikha tidaklah kemudian benar-benar lenyap tak berbekas. Justru sebaliknya, menjadi bahan pergunjingan para wanita di kota tersebut. Lebih khusus lagi para istri bangsawan, yang tentunya dekat dengan kehidupan aristokrat seperti halnya Zulaikha. Mereka menganggap kejadian tersebut sungguh sangat memalukan. Menurut mereka apa yang sebenarnya dilakukan Zulaikha sangatlah bodoh. Tertarik oleh seorang budaknya. Apa yang dicari oleh seorang istri salah satu pembesar kerajaan yang ternama.

Zulaikha tentu saja tidak menerima perlakuan ini. Kembali, disiapkannya rencananya berikutnya. Sebuah rencana untuk menjustifikasi apa yang telah dilakukannya terhadap Yusuf beberapa waktu lalu. Menandakan bahwa memang gelora asmara yang dirasakannya belumlah benar-benar padam. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), Kemudian dia Berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada(keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tak lain hanyalah malaikat yang mulia..” (QS. Yusuf: 31)

Maka, Zulaikha pun puas dengan apa yang dilakukannya. Bahwa mereka tidaklah seperti dirinya yang setiap hari harus bertemu dengan Yusuf. Menahan gelora yang dahsyat dalam dadanya. Lantas, bagaimana mereka yang baru melihat Yusuf sekejap saja bisa semena-mena mengklaimnya sebagai perempuan bodoh. ”Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. dan Sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina..” (QS. Yusuf: 32).

Dengan segala keangkuhan aristokratnya pun ia mengakui bahwa dirinya lah yang sebenarnya berhasrat pada Yusuf. Hanya saja Yusuf pun menolaknya. Dan ia merasa terhinakan oleh sikap ini. Kali ini ia kembali menegaskan, jika Yusuf tak mau lagi menaatinya ia akan sanggup menghinakannya. Memenjarakannya. Apa yang tak bisa dilakukan oleh seorang pejabat. Dan apa yang bisa dilakukan oleh seorang hamba yang lemah dihadapan dinding aristokrat dan keangkuhan kekuasaan. Tentunya selain mengeluhkannya kepada Raja segala raja. Yusuf pun berdoa, ”Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orangorang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Para ahli tafsir memperbincangkan kembali pilihan kata yang digunakan di sini. Kata ”ahabbu `ilayya” (lebih aku cintai) bukanlah berarti mengindikasikan beliau sangat mencintai penjara. Karena menyukai kondisi seperti itu sangat tidak dianjurkan. Karena bertentangan dengan fitrah manusia. Ini semata menunjukkan betapa beliau benar-benar ingin terbebas dari tipu daya para perempuan bangsawan tersebut. Terlebih dari makar Zulaikha yang bisa jadi akan menyiapkan makar berikutnya. Hal tersebut mengalahkan segala rasa yang ada padanya. Sebagian ahli tafsir ada yang menambah, agar Allah memalingkannya dari memikirkan Zulaikha. Hal ini dikaitkan kembali dengan kata ”hamm” yang telah kita bicarakan di depan. Maka untuk memadankannya akan lebih mengena bila menggunakan kata ahabbu yang berarti lebih aku cintai. Dan Allah pun mengabulkannya. Yusuf dipenjara hingga beberapa tahun.

Hari Pembebasan dan Kemuliaan

Saatnya Yusuf pun hendak menghirup udara kebebasan setelah sekian tahun terkurung dalam penjara. Namun beliau tak hendak menginginkan pembebasan tu sekedar pembebasan fisik. Sementara masyarakat akan tetap menganggapnya sebagai pihak yang bersalah. Karena masuknya beliau dalam penjara bukanlah karena kesalahan. Namun, karena sebuah pilihan. Saat datang penawaran untuk menakwilkan mimpi Sang Raja Yusuf pun tak lantas menganggapnya sebagai peluang untuk pembebasannya. Namun, beliau gunakan untuk benar-benar membersihkan namanya. ”Berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang Telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.”(QS. Yusuf: 50).

Maka Sang Raja pun mengabulkan keinginan Yusuf. Ingin mencari kebenaran sesungguhnya dari apa yang terjadi beberapa tahun silam. Dipanggillah para perempuan itu. Dan Sang Raja pun menanyai mereka: ”Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. Berkata isteri Al Aziz: ”Sekarang jelaslah kebenaran itu, Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.”(QS. Yusuf: 51)

Maka saat-saat hati nurani telah terbuka. Dan saat kejernihannya tidak tertutup oleh kepongahan duniawi dan keangkuhan jabatan dan kekuasaan. Dengan segenap perasaan yang ia pendam sekian tahun Zulaikha pun mengumpulkan keberaniannya untuk mengakui perbuatannya. Dan hal tersebut lah yang kemudian menjadi bukti kebersihan Yusuf dari jebakan nafsu dan bisikan hawa. Sekalipun tidak dinafikan bahwa Yusuf pun sempat terpedaya.

Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa Sesungguhnya Aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.. Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.”(QS. Yusuf : 52-53)

Adapun kedua ayat di atas sebagian ahli tafsir menganggapnya sebagai kelanjutan pengakuan Zulaikha. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai komentar Yusuf. Terlepas dari kedua perbedaan ini, keduanya sama-sama menegaskan bahwa baik Yusuf maupun Zulaikha tidaklah mengkhianati al-Aziz. Yusuf tak membalas budi baiknya dengan menjerumuskan dirinya pada perbuatan keji. Demikian juga Zulaikha tak sampai mengkhianati suaminya, karena diselamatkan oleh sikap kokoh Yusuf yang mulia dan jujur seperti pengakuannya. Hal tersebut tak lain merupakan ketidakberdayaannya di depan bisikan nafsu dan gelora serta pergulatan psikis yang wajar dirasakan oleh seorang terhadap lawan jenisnya.

Kisah Yusuf dan Zulaikha berhenti pada ayat ini. Al-Qur’an tak menjelaskan lebih rinci lagi bagaimana kelanjutan kisah Yusuf dan Zulaikha. Karena akan segera beralih pada babak berikutnya, yaitu kehidupan Yusuf yang lebih mapan. Sebagai orang mulia yang dimuliakan dan profesional yang ahli menangani paceklik dan krisis yang melanda negerinya. Bahkan negeri-negeri di sekitarnya. Sebagai pakar manajemen kesejahteraan dan perbendaharaan kala itu.

Penulis juga tak menemukan cerita yang akurat bahwa Yusuf dan Zulaikha kemudian menikah, sebagaimana kisah yang beredar dan dikenal disebagian (besar) masyarakat kita. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Kisah Yusuf dan Zulaikha

Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari penggalan kisah di atas.

  1. Bahwa rasa cinta dan ketertarikan antara laki-laki dan perempuan dewasa adalah fitrah. Karena hal tersebut merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah (lihat QS. Ar-Rum: 21)
  2. Namun, fitrah tersebut akan bergejolak dengan hebat ketika tidak terdidik oleh iman yang dan kedewasaan yang matang.
  3. Keadaan di atas akan diperparah bila didukung oleh lingkungan yang tidak kondusif. Seperti terbiasanya khalwah (berdua-duaan) antara seorang laki-laki dan perempuan. Karena tipu daya syetan serta bisikan nafsu akan semakin menghebat.
  4. Seorang mukmin berkewajiban menjauhi tempat atau kondisi yang menyebabkan dirinya berada pada posisi tertuduh melakukan perbuatan yang tercela.
  5. Pantang menyerah dalam kondisi apapun, dan tetap memperjuangkan hak serta kebenaran dalam kondisi apapun.
  6. Melanjutkan peran risalah dalam kondisi apapun seperti yang dicontohkan Nabi Yusuf saat berdakwah dalam penjara.
  7. Menunjukkan profesionalisme dan keahlian dianjurkan untuk menyalamatkan suatu kondisi yang buruk.
  8. Berhati-hatilah dengan tipu daya perempuan. Dan bagi perempuan untuk berhati-hati terjebak dari memperdaya dan menjauhkan (kaumnya dan lelaki) dari Allah serta memperturutkan bisikan an-Nafs al-Ammârah bis-Sû`.

Penutup

Demikian, sejenak kebersamaan kita bersama sepenggal kisah Nabi Yusuf, yang penuh dengan ibrah dan pelajaran. Penuh hikmah bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Seorang yang dimuliakan Allah dan manusia, dengan segela kerendahan hati memanjatkan sebuah ketulusan doa, ”Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau Telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101). Memohon dikumpulkan dengan orang-orang salih dan diwafatkan dalam keadaan muslim. Seorang Nabi. Seorang kepercayaan Raja yang dikenal amanah dan salih. Maka, tak ada jaminan bagi orang-orang seperti kita. Selain terus memanjatkan doa Yusuf yang mulia ini dan senantiasa mendidik nafsu kita agar tidak memperdaya dan melenakan. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wallahu a’lam.

Daftar Bacaan

1. Abdurrahman an-Nahlawy, at-Tarbiyah bi al-Qishshah, Damascus: Darul Fikr, Cet. I, 1427 H – 2006 M.

2. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahris li `Alfâdhi al-Qur’ân al-Karim, Cairo: Darul Hadits, Cet. I, 1417 H-1996 M.

3. Ismail Abul Fida Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet. I, 1417 H-1996 M.

4. Sayyed Quthb, Fi Dhilal al-Qur’an, Beirut :Dar el Shourouq, Cet. XXXII, 1423 H-2003 M.

5. Dr. Muhammad Mahmoud Hegazy, al-Wahdah al-Maudhuiyah fi al-Qur’an, Zaqaziq: Maktabah Dar at-Tafsir, Cet. II, 1424 H-2004 M.

6. Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âniy fî Tafsîr al-Qur’ân al-’Adhîm wa as-Sab’ al-Matsânîy, Beirut: Daril Fikr, 1417 H – 1997 M.

7. Ismail Abul Fida Ibnu Katsir, Qashash al-`Anbiyâ’, Cairo: Dar al-Manâr, Cet. II, 1419H-1999 M.

8. Abu Ishaq az-Zajjaj, Ma’âniy al-Qur’ân wa `I’râbuhû, Cairo: Darul Hadits, 1424 H-2004 M

9. Dr. Abdul Karim Zaydan, al-Mustafâd min Qashash al-Qur’ân li ad-Da’wah wa ad-Du’âh, Beirut: Muassasah Risalah, Cet. I, 1421 H – 2000 M.

Kampung Sepuluh, Selasa Dini Hari

Cairo, 03 Ramadhan 1427 H – 26 September 2006 M

(Pernah didiskusikan dalam kajian Fordian [Forum Studi al-Qur’an] Cairo September 2006)


* Sebuah tadabbur sebagian kandungan Surat Yusuf Alaihissalâm.

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Cairo.

Kenangan (1)

Maaf, Boleh Saya Membantu?

Kemarin malam saya bertemu dengan salah seorang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo. Beliau merupakan salah seorang yang terlibat dalam penanganan bantuan untuk korban tsunami. Selain sebagai senior mahasiswa di Mesir. Mantan aktivis dan sering menjadi rujukan serta gudang curhat para yunior, juga masyarakat Indonesia di Mesir.

Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercenung dan kemudian membuat saya termenung dalam perjalanan.

Beliau mengisahkan, beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki. Sebut saja, Fulan. Dia datang dari salah satu daerah di propinsi Giza. Jauh-jauh ia mendatangi KBRI. Ternyata ia bertujuan hendak membantu korban tsunami yang terjadi di Indonesia.

“Saya mendengar berita dari radio yang menceritakan kengerian tsunami itu. Saya belum pernah menyaksikannya. Tapi saya tahu itu bencana hebat” tuturnya, “Sejak saat itu saya berusaha mengumpulkan uang untuk membantu saudara saya yang tertimpa bencana tersebut.”

Dengan semangat lelaki itu menyampaikan hasratnya untuk membantu. Dan, oleh Kedutaan direspon cukup baik, sebagai penghargaan atas jerih payahnya.

Tahukah Anda berapa jumlah uang yang ia sumbangkan.

(Hanya) Lima Pound Mesir.

Ajaib, bukan? Bukan jumlah yang banyak. Bahkan bisa dikatakan sedikit. Untuk sampai nilai tukar US$ 1 saja masih harus ditambah sekitar 80-an piaster. Artinya, uang tersebut belum cukup untuk membeli US$ 1 (satu dollar Amerika Serikat)

Mengapa kemudian ada keharuan menyeruak dalam rongga-rongga nafas saya. Ya, saya terharu. Karena, saya merasa belum banyak berbuat. Sedangkan (mungkin) kemampuan saya lebih baik dari lelaki tersebut.

Masih menurut penuturan staf KBRI yang saya temui, “Dari penampilannya, mungkin ia seorang tukang sapu. Atau setidaknya mata pencahariannya tidak jauh berbeda dengan pemasukan seorang tukang sapu. Tapi yang kita hargai bukan nominalnya. Namun, semangat dan jiwa solidaritasnya. Ia pun menanyakan. Apakah ini sudah isa membantu mereka. Saya ingin membantu mereka. Ungkapnya bersemangat.”

Bahkan Anda kemudian bisa saja berimajinasi atau bertanya-tanya. Perjalanannya dari Giza? Apakah ia naik mobil pribadi? Tentu Anda akan sepakat dengan saya; tidak mungkin. Paling banter dia akan naik bus merah putih punya pemerintah, hai’atunnaql al-‘am bil qahirah (Dinas Transportasi Umum Cairo) yang tiketnya sebesar 50 piaster atau bernilai sekitar 750 rupiah.

Sekedar tahu saja. Bahwa sejak mendengar bencana tsunami yang terjadi di negeri Serambi Mekah, para dermawan Mesir terketuk hatinya untuk mengulurkan bantuan. Baik secara kelembagaan maupun secara individu. Saya kembali teringat awal-awal krisis tahun 1998 dulu, sampai-sampai takmir masjid menyediakan kotak amal untuk membantu mahasiswa Indonesia. Dan himbauannya disampaikan melalui koran-koran serta khutbah jum’at. Gerakan sosial mereka luar bisa. Meskipun mungkin respon pemerintah sini ke Indonesia bisa dibilang agak terlambat, bahkan dokter utusan mereka pun (agak) mengecewakan. Kalau tidak diperbaiki citranya oleh utusan parlemen dan delegasi dokter dari Persatuan Dokter Mesir (niqabah al-athibba’) yang datang berikutnya.

Dengan berbondong-bondong para dermawan itu mengunjungi Wisma Nusantara, tempat mangkalnya PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir, juga posko-posko lainnya. Bahkan ada yang ke Kedutaan. Umumnya para dermawan itu mau menyalurkan bantuannya langsung kepada para korban. Dalam hal ini para mahasiwa/i di sini yang kehilangan familinya. “Saya mau mengkafil 10 orang”. Yang lain juga mengatakan yang serupa.

Sebagian ingin mengetahui langsung bahwa bantuan mereka sampai kepada yang berhak. Untuk mengelola ini tidaklah mudah. Imej kepercayaan publik kepada pemerintah yang mulai runtuh, menuntut kita bijak menyikapi tuntutan para dermawan tadi. Para dermawan tersebut “menteror” terus dengan pertanyaan yang sama, “Uang saya sudah dibagikan kepada mereka? Sudah apa belum?”

Ah… rasanya saya akan banyak bercerita tentang kepedihan ini. Tentang betapa proses perbaikan ini perlu kesabaran dan kejujuran serta usaha keras dan sangat panjang waktunya. Jangan sampai kepedihan ini melahirkan kesedihan dan luka di atas duka yang menghilangkan cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada seorang lelaki yang lemah mengatakan, “Maaf, Boleh Saya Membantu?”

Bisa saja kemudian orang mencibirnya. Karena uang 5 poundnya belum bisa menyelesaikan masalah. Tapi ia tak pernah pesimis untuk ikut membantu. Bahkan ia sangat percaya bahwa usahanya takkan pernah sia-sia. Berbeda pada umumnya orang ketika dengan segala keterbatasannya ia akan berapologi dengan mengatakan sebaliknya, “Maaf, saya belum bisa membantu!”

Ah… betapa saya ingin meniru perkataan lelaki tua itu, “Maaf, boleh saya membantu?”

dedicated to

seorang lelaki tua yang mengajari arti cinta pada saya.

Cairo, 23 Februari 2005

Saiful Bahri

Ijtihad Umar al Faruq ra

MENILIK IJTIHAD AL-FÂRÛQ[1] DALAM FIKIH[2]

Saiful Bahri, MA.[3]

“Mengapa kalian perbudak manusia, sedang ibu-ibu mereka

melahirkan mereka dalam keadaan merdeka”.

(Umar bin al-Khattab)

MUQADDIMAH

Selain beribawa, kharismatik, berani dan tegas; Umar bin Khattab juga dikenal kecerdasannya. Apalagi jika kecerdasan tersebut dipadukan dengan kepemimpinannya. Maka prestasi kepahlawanannya bukan hanya menundukkan imperium-imperium adi daya atau mensejahterakan rakyatnya namun juga ketika berijtihad dalam berbagai masalah.

Naifnya, jika ijtihad dan metodologi pengambilan hukum fikih beliau kadang dijadikan sandaran yang keliru dalam memahami atau mengkritisi teks-teks hadits ataupun al-Qur’an. Benarkah ijtiahad-ijtihad berani Umar kontroversi dan berbeda dengan al-Qur’an serta Sunnah?

Makalah berikut akan mengupas secara singkat hal-hal di atas, dengan segala keterbatasan penulis.

SAMPEL METODOLOGI DAN PEGANGAN IJTIHAD UMAR BIN KHATTAB

Umar bin Khattab dikatakan berijtihad mulai wafatnya Rasulullah saw. sampai beliau menjabat sebagai sebagai khalifah kedua dan wafat. Adapun prakondisi pada masa Rasulullah saw hanya merupakan istisyar (konsultasi) dan meminta kejelasan. Karena salah satu sumber hukum pada waktu itu masih ada (Rasulullah=Hadits)

Kaidah umum Umar bin Khattab ra. dalam berijtihad:

1. Berpegang pada nash/teks al-Qur’an dan Sunnah

2. Ijma’ dan Qiyâs. Namun bukanlah yang dimaksud disini Ijma’ sebagaimana yang ada dalam istilah-istilah sebagian pendapat ushul fikih[4]. Namun dengan kesepakatan orang-orang yang mengerti permasalahan yang dihadapi saat itu dan diikuti oleh orang lain dengan menyetujuinya. Demikian halnya dengan qiyas. Istilah-istilah ushul fikih belumlah ada pada masa Umar, seperti istilah sadz dzarâi’ dan mashlahah. Namun ini diilhami dengan perbandingan suatu masalah dengan yang lainnya yang serupa. Disinilah kecerdasan beliau mengklasifikasikan suatu masalah sehingga bisa diqiyaskan. Seperti ijtihad beliau tentang zakat ‘urûdh tijârah yang diqiyaskan pada zakat emas dan perak. Harga diyat (bukan dengan unta) diqiyaskan dengan penerimaan Rasulullah atas jizyah dengan harga/qîmah (bukan dengan naqd).

3. Bermusyawarah dengan para sahabat. Kadang dengan meminta pendapat mereka ataupun mereka (para sahabat Rasulullah membenarkan ijtihad Umar dengan Ijma’ Sukuti)

4. Berpikir Realistis. Pola ijtihad dan berpikir beliau bukan pada hal-hal iftirodhy (yang diperkirakan ada). Karena sangat jarang kita menemukan beliau memberikan penyelesaian hukum pada permasalahan yang memang belum ada. Sebagaimana yang terjadi pada sampel-sampel fikih pada masa Abbasiah. Umar meyelesaikan kasus perkasus yang benar-benar terjadi dan dihadapi pada masanya dan pada masyarakatnya secara realistis dan cerdas.

5. Kemungkinan benar dan salah. Ketika berijtihad di saat menjabat sebagai khalifah, beliau sangat menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengannya. Beliau tak memaksakan pendapat ini kepada kaum muslimin.

6. Maslahah dan Nash. Dua kutub ini yang sangat diperhatikan oleh Umar dalam pengambilan hukum fikih. Karena jika pengambilan hukum hanya didasarkan maslahah semata maka akan cenderung membentur nash. Ketika itu pengambilan hukum benar-benar akan kontroversi dan menabrak nash. Seperti pada contoh had pencuri atau masalah mu’allaf.

7. Memperhatikan kemaslahatan bersama dan kemaslahatan pribadi atau golongan. Jika bertentangan maka kemaslahatan umumlah yang diprioritaskan.

8. Mentarjih salah satu kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal jika memang bisa berpihak pada kemaslahatan.

9. Maslahah dan Sadz dzarâi’. Umar memang belum mengenal istilah usul fikih ini. Bahwa perlu ada proteksi hukum dan akidah dengan sadz dzarai’ yang dikedepankan dari pada maslahah. Seperti contoh penebangan pohon bai’aturridwân. Hal tersebut beliau lakukan setelah melihat kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi pohon tersebut dan shalat dibawahnya. Beliau sangat mengkhawatirkan hal ini bisa mengembalikan kondisi jahiliyah (menyembah berhala) secara pelahan dan berproses.

10. Ta’zir. Yaitu hukuman tertentu yang diterapkan beliau pada masalah-masalah yang tidak ditentukan Rasul saw. Dan kondisi ini pun berbeda-beda satu dengan lainnya.

11. Qarînah yang jelas. Seperti had zina kepada perempuan yang hamil sedangkan ia belum punya suami. Adapun jika qarinah ini ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa ditafsirkan maka beliau pun akan memutuskan lain.

12. Lafadz dan Niyat. Artinya ketika seseorang mengucapkan sesuatu yang dimaksudkan untuk menyindir atau menuduh zina, misalnya. Beliau akan segera bertanya dan minta endapat orang-orang disekitarnya. Jika benar maksudnya adalah menuduh zina maka ia akan segera dihukum. Karena jika orang tersebut ditanya maka ia akan berkelit dan berdalih.

13. Konsep Keadilan

14. Menghargai hak milik pribadi

15. Memperhatikan sisi-sisi kemanusiaan dan hak-haknya. Seperti kemuliaan dan posisi sosial seseorang. Akan tetapi jika ia menghukum orang terpandang yang bersalah bukanlah dimaksudkan untuk menjatuhkannya namun untuk menjaga hak-hak orang lain dan justru mengembalikan orang terpandang tersebut untuk tetap bagus personal recordnya di tengah masyarakatnya.

16. Persamaan hak dan akidah

BEBERAPA CONTOH IJTIHAD UMAR AL-FÂRÛQ

Sebelum kita memasuki pembahasan-pembahasan khusus yang menjelaskan ijtihad Umar secara khusus. Ada baiknya kita mengetahui bagaimana Umar sangat memperhatikan nash-nash.

a. Dalam masalah tayamum orang junub. Mulanya beliau membolehkannya. Setelah mengingat-ingat kembali pada masa Rasulullah saw, beliau menarik lagi pendapatnya.

b. Beliau menolak riwayat Fatimah binti Qais yang meriwayatkan bahwa perempuan yang ditalak bâ’in tidakkah mendapatkan nafkah dan tempat tinggal pada masa Rasulullah saw. Beliau menolaknya dengan tetap berpegang teguh pada nash yang bersifat umum (baik raj’ah maupun bâ’in) “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah di talaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik…”.(QS. 65:6). Adapun kajian tentang talak ini memang terdapat perbedaan (ikhtilaf) para ulama. Pada kesempatan ini, kita tak mengedepankan masalah penolakan Umar terhadap riwayat Fatimah binti Qais. Akan tetapi, karena beliau kurang merasa tenang hatinya ketika ada yang terlihat bertentangan dengan al-Qur’an. Namun demikian beliau tak berani menganggap bahwa Fatimah binti Qais berbohong.

c. Umar juga pernah lupa dengan beberapa riwayat hadits. Sehingga dalam prakteknya beliau sering muraja’ah dengan beberapa sahabat tentang riwayat yang beliau ragu atau kurang tenang.

d. Tadwin dan penulisan hadits nabawi. Pada awalnya belau berpegang teguh; tak boleh membukukan (=menulis) hadits-hadits Rasul saw. Namun setelah beliau gundah dan khawatir jika nantinya orang-orang terlalu mencintai Rasul kemudian dengan itu mengada-ada dan menulis apa yang tak ada pada Rasul saw. Beliau pun beristikhârah selama sebulan dan terus bermusyawarah dengan para sahabat akhirnya beliau membolehkan tadwin sunnah.

BENARKAH UMAR LUPA?

Suatu ketika beliau mengeluarkan larangan berlebihan dalam urusan mahar perempuan ketika menikah. “Bagaimana mungkin mahar para perempuan melebihi mahar istri-istri nabi” demikian statemen beliau. Namun ini dibantah oleh perempuan. “Apakah ini pendapat Anda atau Anda mendengarnya dari Rasulullah. Karena kita menemukannya dalam al-Qur’an, “… dan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata” (QS. 4:20). Umar terdiam sesaat, kemudian dengan segala kerendahan hati dan kebesaran jiwa beliau mengatakan,”Perempuan itu benar dan Umar salah”.

IJTIHAD PADA NASH-NASH KHUSUS

Maksudnya, bukan berarti Umar berijtihad pada wilayah yang sudah ada nashnya. Namun, perlakuan beliau terhadap beberapa nash al-Qur’an yang sekilas terlihat dan terkesan bertentangan dan kontroversi. Tetapi hakikatnya tidaklah demikian.

Secara singkat bisa dibagi dalam beberapa bagian, sebagai berikut:

  1. MATERI/HARTA. Ada beberapa contoh, diantaranya žtanah yang dibuka melalui futuhat islamiyah[5] žhak mu’allaf dalam zakat[6] žbagian ghanimah untuk dzawil qurbâ (kerabat Rasulullah saw.)[7] žpembayaran harga diyat[8] žzakat ‘urûdh tijârah[9] žzakat madu dan lain-lain.
  2. HUDUD/HUKUMAN. Ada beberapa contoh, diantaranya: žhad pencuri[10] žzina[11] žminuman keras/khamr[12] dan lain-lain.
  3. PERNIKAHAN DAN AKHWAL SYAKHSHIYYAH. Ada beberapa contoh, diantaranya: žtentang nikah mut’ah žmenikahi kitabiyat (ahli kitab perempuan) žtalak 3 dengan lafadz satu saja.
  4. HARTA WARIS. žkalalah[13] žbagian jad (kakek) dan ikhwah (saudara) žbagian orang tua dengan adanya salah satu suami-istri žbagian saudara perempuan ketika ada anak perempuan dan lain-lain.
  5. LAIN-LAIN. Ada beberapa contoh, diantaranya: žHaji žtarawih berjamaah dan lain-lain

Kita mencoba mengambel sampel beberapa contoh saja. Yaitu tentang mu’allafati qulubuhum, had pencuri dan tentang menikahi kitabiyat.

MU’ALLAFATI QULUBUHUM

Salah satu ijtihad Umar bin Khattab yang sering dinilai kontroversial dan bertentangan dengan al-Qur’an adalah beliau tidak membagi zakat kepada mu’allaf. Sehingga dari sinilah seolah terbuka celah untuk mengkritisi teks-teks al-Qur’an.

Kita mesti membedakan ijtihad beliau. Apakah obyeknya benar nash atau teks al-Qur’an atau konteks sosial yang ada pada waktu itu. Yang pertama adalah kontroversi dan yang kedua adalah kejeniusan. Yang pertama menerjang kesakralan nash. Yang kedua membuktikan keluasan ilmu.

Setelah terjadi beberapa futuhat islamiyah pada zaman beliau maka kondisi umat Islam cukup kuat dan eksis bahkan menjadi sebuah kekuatan yang benar-benar diperhitungkan. Pada saat itulah beliau memandang bahwa tak ada lagi orang yang perlu disebut sebagai muallaf, yang berkonsekuensi tak ada jatah untuk mereka dalam pembagian harta zakat.

Nash al-Qur’an menjelaskan bahwa pembagian harta zakat diperuntukkan kepada 8 saluran sebagaimana yang telah ditetapkan, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah…” (QS. 9:60).

Apakah jika suatu saat kita tidak menjumpai salah satu saluran tersebut berarti kita menghapus al-Qur’an. Seperti halnya tentang perbudakan yang bisa dikatakan sudah tak ada. Delapan saluran diatas hanyalah pilihan yang diberikan oleh Allah untuk menyalurkan zakat, bukan selain mereka. Bisa jadi suatu ketika hanya ada salah satu saja dari yang delapan atau bahkan tak ada lagi sama sekali.

Terbukti pada saat pemerintahan cucu beliau, Umar bin Abdul Aziz. Saluran muallaf kembali dibuka. Dengan menghadiahkan dinar kepada seorang patrik.

Hal ini mirip poin keputusan yang sering kita bahas dalam tata tertib persidangan. Seperti pengambilan keputusan secara mufakat. Kemudian dengan pemungutan suara. Lalu dengan diserahkan kepada presidium sidang. Adanya beberapa poin bukan berarti mesti kita jalankan semua secara kaku. Jika kita melaksanakan poin nomor satu bukan berarti kita menghapus poin berikutnya.

Satu hal penting yang perlu dicatat bahwa apa yang dilakukan Umar tersebut disetujui dan didukung oleh para sahabat Nabi. Selain itu bahwa bukan berarti hukum agama diserahkan secara bulat-bulat kepada para penguasa sehingga bisa dibolak-balik sesuka mereka. Karena sudah ada aturan-aturan bakunya. Hanya saja memang masih banyak ruang-ruang ijtihad bagi orang-orang cerdas. Sehingga tak perlu lagi menyentuh wilayah sempit yang sudah ditentukan.

Naifnya, ijtihad Umar dalam masalah ini sering dibawa-bawa ketika seseorang hendak membicarakan masalah harta warisan. “…bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan…” (QS. 4:176). Yaitu dengan menuntut persamaan bagian dengan klausul emansipasi dan tuntutan modernitas. Bahwa sudah saatnya bagian perempuan sama dengan bagian laki-laki dalam masalah warisan di ayat ini.

Tentu saja masalah ini berbeda dengan konteks ijtihad Umar yang jenius tanpa harus menabrak nash. Adapun masalah terakhir ini terlihat jelas sebagai upaya menunjukkan keangkuhan dan kesombongan atas nash-nash yang diklaim sudah usang dan ketinggalan zaman.

Sebenarnya yang perlu kita pertanyakan, masihkah hukum warisan ini dipegang dan dijalankan oleh kaum muslimin. Bahwa tujuannya bukan sekedar pembagian angka namun memperkuat hubungan keluarga.

HUKUM SEORANG PENCURI

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah…”(QS. 5:38).

Umar bin Khattab tidak memberlakukan hukuman potong tangan terhadap pencuri di musim paceklik pada masa kepemimpinannya.

Inti dari beberapa peristiwa pencurian yang terjadi pada masa paceklik tersebut adalah keterpaksaan mempertahankan hidup. Bahwa menjaga jiwa (hidup) lebih dikedepankan dan diprioritaskan daripada menjaga harta. Dan ijtihad Umar ini bukan berarti melanggar nash al-Qur’an. Karena seorang pencuri yang harus dipotong tangannya adalah telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Diantaranya harta yang dicuri sampai pada batas tertentu, dalam kondisi normal, mengganggu hak orang lain dan stabilitas sosial serta adanya saksi atau pengaduan atau keberatan dari pihak yang dirugikan.

Dan bukan berarti pula bahwa ijtihad Umar tanpa sandaran nash. Allah sendiri memerintah untuk tidak menjerumuskan diri kita pada kebinasaan, diperbolehkannya memakan bangkai bila sangat terpaksa, juga riwayat shahih dari Makhul yang menjelaskan sabda Rasul saw. “Tak ada potong (tangan) di musim paceklik yang sangat”.

MENIKAHI AHLI KITAB PEREMPUAN (KITABIYAT)

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikan gundik-gundik…” (QS. 5:5)

Secara jelas Allah membolehkan laki-laki menikahi perempuan ahli kitab (yang menjaga kehormatan). Namun, Umar melarangnya dengan memperhatikan kemaslahan sosial umat Islam.

Bila kita teliti dengan seksama sesungguhnya beliau berpendapat bahwa menikahi kitabyat adalah halal. Hanya saja dalam kondisi khusus beliau menyatakan, “sesungguhnya perempuan-perempuan asing itu memperdayakan dan melenakan”. Hal itu tak lain beliau ungkapkan untuk menjaga stabilitas kaum muslimin dan eksistensi psikologis dan keseimbangan sosial mereka. Atau dalam bahasa ushul fikih kita kenal dengan tindakan prefentif berupa sadz dzara’i. Mencegah keterlenaan yang membuai kaum muslimin.

Apalagi terhadap masalah serius seperti pernikahan. Memang benar diantara perempuan itu ada kitabiyat. Lalu, apakah sudah tak ada seorang muslimah pun yang membuat kita tertarik untuk menikahinya. Dan diantara muslimah tersebut ada berbagai sifat dan karakter yang membuat seorang laki-laki harus memilih “selera” tertentu sesuai dengan kufu’ dan kecondongan hatinya.

Terlepas dari hal itu, apakah dengan kondisi seperti saat ini kita masih bisa mencari. Masih adakah orang-orang yang disebut dengan Ahli Kitab? Sebuah permasalahan yang masih saja mengundang perdebatan dalam wacana fikih kontemporer. Jika jawabannya ya, sifat “yang menjaga kehormatan” itu sendiri memiliki penafsiran yang lebih serius.

Kebolehan nikah ini sendiri bukan berarti menduduki peringkat kebolehan yang besar. Namun lebih pada skala prioritas. Apalagi untuk urusan serius dalam hidup seorang mukmin yang telah lama membina dirinya untuk mencari pasangan hidup yang diharapkan mampu melanjutkan obsesi hidup bersama dan mewujudkan masyarakat madani yang beriman pada Allah. Urusan serius itu adalah pernikahan.

IJTIHAD-IJTIHAD PADA MASALAH YANG TAK ADA NASH

Selain hal-hal yang disebut diatas, Umar juga melakukan ijtihad-ijtihad cerdas diberbagai masalah yang tak ada hubungannya dengan nash-nash khusus seperti ide mengumpulkan al-Qur’an (jam’ul qur’an), penanggalan hijriyah, perpajakan, diwan mal, baitul mal, administrasi negara dan beberapa undang-undang kenegaraan serta lain-lain.

IKHTITAM

Demikian sekilas tentang metodologi beserta sebagian contoh ijtihad Umar al-Fârûq. Semoga dengan mempelajari sirah beliau ini semakin memacu kita untuk lebih tekun lagi dalam bertafaqquh fiddin adan memperdalam spesialisasi serta memperluas wawasan keilmuan. Kita berharap jika tidak Umar bin Khattab, cukuplah orang-orang yang mengaguminya dan orang-orang yang ingin seperti beliau yang akan hadir di saat-saat umat ini merindukan pemimpin yang adil dan dicintai rakyatnya sekaligus jenius serta memahami agama degan baik. Wallahu a’lam.

Cairo, 7 April 2004


[1] Gelar Amîrul Mu’minin Umar bin Khattab ra, khalifah kedua yang memerintah selama kurang lebih sepuluh tahun (13-23 H/634-643 M).

[2] Pengantar diskusi Paket Muslim Tsaqafi IV PCI Muhammadiyah Kairo-Mesir, Rabu 7 April 2004. Disarikan dari buku Manhaj Umar bin al-Khaththâb fî at-Tasyrî’ karya Prof. Dr. Muhammad Beltagy, Cairo:Maktabah Syabab, 1998.

[3] Peserta Program S3 pada Universitas Al-Azhar Cairo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir.

[4] Yaitu ijma’ yang mengumpulkan para ulama kaum muslimin untuk memutuskan suatu masalah tertentu.

[5] Beliau tidak membaginya

[6] Beliau tidak membagikan harta zakat kepada mereka yang baru saja memeluk Islam atau dengan tujuan mendekatkan Islam.

[7] Sekilas akan terlihat Umar menolak membagikan hak-hak dzawil qurbâ terhadap ghanimah. Namun sesungguhnya beliau ingin menunjukkan bahwa masih banyak kaum muslimin yang lebih memerlukan harta ghanimah itu dari pada mereka. Dengan demikian mereka (dzawil qurba) diharapkan bisa bersikap sebagaimana mestinya.

[8] Ijtihad beliau tentang pembayaran harga diyat (bukan dengan unta) diqiyaskan dengan penerimaan Rasulullah saw. atas jizyah dengan harga/qîmah (bukan dengan naqd)

[9] zakat ‘urûdh tijârah yang diqiyaskan dengan zakat emas dan perak

[10] beliau tidak memotong tangan pencuri pada musim paceklik saat itu.

[11] Demikian juga dalam beberapa kondisi beliau tidak memberlakukan had zina

[12] Abu Yusuf meriwayatkan hukuman orang yang meminum khamr,”Nabi saw menjilidnya 40 kali, Abu Bakar juga melakukannya 40 kali dan Umar melengkapinya dengan 80…” (HR.Muslim). Tak ada riwayat pasti yang menyebutkan bahwa hukuman tersebut berhenti ada bilangan tertentu seperti 40 kali. Tujuannya adalah tanfîr (menjauhkan) dan membuat jera.

[13] Kalalah adalah seseorang yang mati tidak meninggalkan ayah dan anak.

Bintu Syathi, Aisyah Abdurrahman

BINTU SYÂTHI’

DAN ALIRAN TAFSIR SASTRA TEMATIK*

Saiful Bahri, MA.**

Pendahuluan

Al-Qur’an yang diturunkan dengan Bahasa Arab sekaligus merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. adalah tantangan bagi seluruh manusia dan jin. Baik yang memahami bahasa Arab, berbicara dan tahu seluk beluknya, ataupun mereka yang tidak tahu sama sekali. Semuanya menerima tantangan mukjizat ini[1]. Dan hingga saat ini, al-Qur’an tetap sakti. Kokoh tiada tertandingi dengan model tulisan apapun dan dari bahasa manapun, Arab ataupun yang lainnya. Dalam bentuk apapun.

Salah satu keunikan al-Qur’an adalah adanya pengulangan-pengulangan di berbagai tempat. Para ulama banyak yang membicarakan keunikan ini serta menghubungkannya dengan studi tematik modern. Muhammad Quthb misalnya menegaskan sisi tantangan tersebut dengan berbagai gaya bahasa. Bahkan ada pengulangan dalam satu surat sebanyak 31 kali, seperti surat ar-Rahmân. Beliau ambil permisalan ketika kita mengenal seseorang tidaklah mungkin mengetahui sepotong-sepotong ciri-ciri fisiknya. Karena kesatuan fisik seseorang meliputi semuanya; mata, hidung, telinga, dan sebagainya. Itulah yang dinamakan keutuhan[2].

Dr. Muhammad al-Higazy membahasnya lebih rinci dalam al-Wahdah al-Maudhu’iyyah fi al-Qur’an al-Karim. Dalam bahasa beliau disebut fenomena al-Qur’an (Dhahirah Qur’aniyyah). Tema-tema tertentu diulang di berbagai bagian dengan corak yang berbeda sesuai kondisi, dan lingkungan serta waktu turunnya[3]. Surat-surat makkiyah berbeda dengan yang madaniyyah[4].

Kesatuan tema inilah yang akhirnya memunculkan sebuah aliran penafsiran tematik. Baik yang bercorak umum, yang hanya menghubungkan simpul hubungan antar bagian al-Qur’an diberbagai pembahasan. Biasanya kajian bahasa dan sastra. Ataupun yang bercorak khusus, sebagai tuntutan bahasan tertentu dengan menghubungkan seluruh unsur yang ada di dalam al-Qur’an. Semisal kajian perempuan dalam al-Qur’an, dan sejenisnya.

Aliran tafsir bercorak sastra sosial, misalnya, lahir di era modern yang diprakarsasi oleh madrasah Muhammad Abduh. Sebuah corak tafsir modern dengan pembacaan berbagai masalah sosial yang berkembang di tengah masyarakat, diintegrasikan dengan sentuhan-sentuhan sastra[5]. Dengan perluasan makna tafsir bira’yi Muhammad Abduh menjadi inspirator aliran tafsir modern yang memberikan ruang akal lebih luas.

Dalam perkembangannya, kajian-kajian bahasa yang menekankan pembahasan sastra terutama balâghahnya masih kurang. Kebanyakan mencukupkan dengan buku-buku klasik tulisan ulama abad ke-4 sampai abad ke-8. Inilah kira-kira yang kemudian menjadi mativator utama seorang Bintu Syâthi’ untuk mengembangkan kajian tematik bahasa sastra dalam tafsir. Kita mengenal salah satu buku tematik fenomenal beliau; at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm.

Bintu Syâthi’ dan at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm.

Barangkali back ground studi bahasa dan sastra, yang membuat beliau semakin mencintai pembahasan kesastraan. Apalagi pada masa-masa perkuliaan beliau di Mesir pendalaman bahasa ini dikaitkan dengan studi al-Qur’an. Yang kemudian beliau kembangkan lebih lanjut ketika bertandang ke Maroko. Tepatnya di Universitas Qarawiyyin. Guru Besar Studi al-Qur’an ini beberapa kali diundang untuk mengisi forum ilmiah internasional dengan tema studi dan kajian al-Qur’an, sejak awal-awal tahun 1960-an. Hal ini salah satu yang membantu beliau untuk lebih intens menghubungkan kajian bahasa dan sastra sebagai spesialisasi beliau dengan kemukjizatan bahasa dalam al-Qur’an.

Buku yang kita bahas saat ini, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, awalnya merupakan tema-tema muhadharah beliau untuk para mahasiswa Fakultas Syari’ah di Fas. Sebelumnya juga ”al-I’jaz al-Bayani” yang awalnya adalah materi Ulum al-Qur’an di Universitas Dar al-Hadits al-Hasaniyah di Rabath. Hingga beliau benar-benar meluangkan waktu untuk spesialisasi kajian bahasa al-Qur’an di Universitas Qarawiyyin[6] sejak tahun 1970.

Buku tafsir tematik ini diklasifikasikan oleh Dr. Abdusattar Fathullah Said dalam tafsir maudhui ’am (tafsir tematik bercorak umum)[7]. Sebuah gaya penafsiran dengan kajian tematik umum di berbagai masalah yang berbeda dengan sudut pandang yang satu. Seperti halnya kajian tafsir ayat-ayat hukum, misalnya.

Dr. A’isyah Abdurrahman ’Bintu Syâthi’, yang juga guru besar sastra Ain Syams, menekankan aspek pembahasan kemukjizatan sastra bahasa dalam al-Qur’an, sebagai kesatuan rasa (wahdah dzauqiyyah dan wijdâniyyah).

Metodologi Tafsir Sastra Tematik

Bintu Syâthi’ sangat terpengaruh gaya sang guru yang juga pendamping hidupnya, Syeikh Amin al-Khuly. Secara garis besar metodologi kajian sastra tematik al-Qur’an disimpulkan dalam empat pokok pikiran[8].

Pertama, mengumpulkan unsur-unsur tematik secara keseluruhan yang ada di beberapa surat. Untuk dipelajari secara tematik. Dalam buku ini beliau tidak memakai metode kajian tematik murni seperti itu. Namun, dengan pengembangan induktif (istiqrâ’i). Mula-mula beliau gambarkan ruh sastra tematik secara umum. Kemudian merincinya per-ayat. Akan tetapi perincian ini berbeda dengan perincian yang digunakan dalam kajian tafsir tahlily (analitik) yang cenderung menggunakan maqtha’ (pemberhentian tematik dalam satu surat). Di sini beliau membuka dengan kupasan bahasa dalam ayat itu kemudian dibandingkan dengan berbagai ayat yang memiliki kesamaan gaya bahasa. Kadang menyebut jumlah kata. Adakalanya memberikan kesamaan dan perbedaan dalam penggunaannya. Terakhir beliau simpulkan korelasi antara gaya bahasa tersebut.

Kedua, memahami beberapa hal di sekitar nash yang ada. Seperti mengkaji ayat sesuai turunnya[9]. Untuk mengetahui kondisi waktu dan lingkungan diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an pada waktu itu. Dikorelasikan dengan studi asbab an-nuzul. Meskipun beliau tetap menegaskan kaedah al-ibrah bi’umûm al-lafzh lâ bi khus6ush as-sabab (kesimpulan yang diambil menggunakan keumuman lafazh bukan dengan kekhususan sebab-sebab turun ayat).

Ketiga, memahami dalâlah al-lafzh. Maksudnya indikasi makna yang terkandung dalam lafazh-lafazh al-Qur’an. Apakah dipahami sebagaimana zhahirnya ataukah mengandung arti majâz (kiasan) dengan berbagai macam klasifikasinya. Kemudian ditadabburi dengan siyaq khâsh (hubungan-hubungan kalimat khusus) dalam satu surat. Setelahnya mengorelasikannya dengan siyâq ’âm (hubungan kalimat secara umum) dalam al-Qur’an.

Keempat, memahami rahasia ta’bîr dalam al-Qur’an. Hal ini sebagai klimaks kajian sastra. Dengan mengungkap keindahan, pemilihan kata, beberapa penakwilan yang ada di beberapa buku tafsir yang mu’tamad. Tanpa mengesampingkan posisi gramatikal arab (i’rab) dan kajian balâghah.

Sastra tematik yang penulis maksudkan di sini adalah, corak tafsir modern yang menganut madzhab dan aliran tematik umum (maudhû’i ’âm). Pengkajiannya dikhususkan pada pembahasan sastra bahasa dalam satu surat. Beliau tidak mengambil seluruh surat dalam al-Qur’an. Namun, beberapa surat pendek saja. Yaitu tujuh surat pendek juz ’amma pada buku pertama; adh-Dhuhâ, asy-Syarh, az-Zalzalah, al-’Âdiyât, an-Nâzi’ât, al-Balad, dan at-Takâtsur. Dan tujuh surat pendek lainnya pada buku kedua; al-’Âlaq, al-Qalam, al-’Ashr, Al-Lail, al-Fajr, al-Humazah, dan al-Mâ’ûn.

Sebagai perbandingan, Muhammad Quthb juga mengkaji secara tematik umum persurat dengan klasifikasi makky madany serta klasifikasi masing-masing keduanya. Dengan satu titik central; kajian tematik akidah. Karena menurut beliau tema besar al-Qur’an adalah pemurnian akidah[10]. Setelah mengupas beberapa aspek penting dalam tema besar yang ingin beliau sampaikan beliau menafsirkannya secara tematik dalam beberapa sampel surat. Tiga surat makkiyah; ar-Ra’d, Luqmân, dan Fâthir. Juga tiga surat madaniyyah; al-Baqarah, Âly ’Imrân dan an-Nisâ’.

Rujukan Utama

Dalam buku ini Bintu Syâthi’ banyak meruju’ ke pendapat Zamakhsyari dalam bukunya al-Kasysyâf dan Abu Hayyan dalam tafsirnya al-Bahr al-Muhîth. Dalam mukaddimahnya secara metodologi beliau mengikuti sang guru dan suaminya, Amin Khuly.

Serta sedikit banyak beliau juga mengadopsi beberapa gaya Mushtafa Shadiq ar-Rafi’iy. Lebih rinci tentang ini beliau tulis dalam mukaddimah buku ulumul qur’an ”al-I’jâz al-Bayâniy[11].

Beberapa Contoh

Salah satu contoh tafsir sastra tematik Bintu Syâthi’, surat al-Zalzalah[12]. Dibuka dengan tema umum; al-yaum al-âkhir. Kemudian beliau mengkalisifasikannya sebagai awal-awal surat madaniyyah. Yaitu berada pada urutan keenam. Surat madaniyyah seperti ini justru menekankan aspek akhidah dan iman pada hari akhir. Memberikan gambaran sebaliknya, surat-surat makkiyyah juga bukan berarti tak memuat tasyri’ dan penjelasan hukum.

Mukaddimah singkat ini segara beliau lanjutkan dengan malâmih (outward) sastra tematik dalam surat ini. Pertama, ayatnya pendek–pendek. Ini mengindikasikan bagi pendengar adanya keseriusan dan pesan yang urgen yang tak bertele-tele. Kedua, dalam ungkapan yang singkat seperti ini pun masih ada pengulangan-pengulangan untuk penekanan-penekanan tertentu. Ketiga, kata-kata yang dipilih pun berpengaruh kuat seperti zalzalah (bergoncang) untuk menunjukkan kedashsyatan. Ungkapan serupa juga ada di surat-surat lain seperti al-ghasyiyah, ath-thammah, al-waqi’ah dan lain-lain. Keempat, disebut dalam bentuk pasif. Tanpa menyebutkan subyek (pelaku)nya. Ini memberi tekanan pada perhatian kepada kejadiannya. Bukan berarti menafikan keberadaan pelakunya. Beliau juga menyebutkan hal serupa di beberapa ayat yang tersebar di berbagai surat al-Qur’an. Dalam hal ini penakwilan fâ’il (subyek) tidak dibenarkan. Karena sudah jelas, yaitu Allah. Pesan yang disampaikan kepada manusia, bahwa bumi yang sedang dihuni saat ini memiliki potensi bergoncang kapan saja. Goncangan yang berbeda-beda yang bahkan bisa berakibat kehancuran yang berakhir dengan kefanaan.

Setelah itu, Bintu Syâthi’ merincinya tiap ayat. Dari sejak penyebutan arti bahasa, pemilihan kata zalzalah (baik kata zulzilat maupun kata zilzâlahâ), kemudian pengungkapan dalam bentuk madhi (past tense) yang bermaksud suatu kepastian dan penggunaan kata syarat idza (apabila).

Pada ayat selanjutnya beliau menguraikan penggunaan kata aktif akhrajat (mengeluarkan) dan bumi sebagai pelakunya. Ini merupakan jenis kiasan. Setelah itu merinci penafsiran ’atsqâl (beban-beban berat yang dikandung bumi).

Pada ayat selanjutnya, titik tekannya adalah keheranan manusia. Baik yang beriman maupun yang kafir. Sebagian mufassirin ada yang berpendapat orang kafir saja. Di sini beliau mentarjih pendapat pertama. Dikarenakan tak ada dalil yang mengkhususkan keumuman ayat ini.

Pertanyaan ini pun tanpa jeda langsung dijawab pada ayat selanjutnya. Beliau juga sedikit menyitir pendapat para ahli tafsir tentang ”penceritaan” bumi. Sebagian tetap menjadikannya ungkapan kiasan. Sebagian lagi berpendapat sebaliknya, bahwa memang benar-benar hari itu bumi bisa berbicara. Dalam kesempatan ini beliau menyebutkan pendapat beberapa mufassir, diantaranya; ath-Thabary, az-Zamakhsyary, Abu Hayyan, dan at-Thabursy.

Pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan akan timbul pun ditimpali dengan ayat selanjutnya. Bahwa ini semata adalah titah pencipta manusia, Tuhan yang mengutus Muhammad pada kaumnya dan seluruh manusia setelahnya. Dalam ayat ini beliau agak panjang lebar berbicara masalah wahyu.

Pesan penting berikutnya adalah penggunaan kata yauma`idzin (pada hari itu). Untuk menunjukkan posisi dan keberadaan manusia setelah terpendam di alam kubur dan dibangkitkan kemudian. Menurut Sayyid Quthb ini adalah bagian penggambaran penokohan dan setting. Seolah-olah pembaca dan pendengarnya seperti berada di depan sebuah film dan pertunjukan yang benar-benar nyata di depannya[13]. Beliau kembali mengungkap rahasia pengungkapan dengan kata yashdur (keluar) bukan dengan sinonim lainnya yakhruj atau yansharif. Lebih jelas lagi setelah ada penjelasan bagaimana cara keluarnya manusia dari kuburnya. Yaitu bermacam-macam. Berbeda-beda. Berpisah-pisah. Berpencar-pencar. Keduanya beliau pakai. Bermacam-macam dan berbeda sesuai amalannya di dunia. Sedang berpencar dan berpisah-pisah, dikarenakan kondisi yang demikian mencekam. Menanti sebuah pengadilan agung yang sangat menentukan nasib mereka.

Bagaimana balasan mereka setelah itu diterangkan dalam dua ayat penutup. Kedua ayat ini memiliki muqâbalah (perbandingan) yang jelas sekaligus menunjukkan keindahan gaya bahasa. Beliau juga menyebutkan rahasia penggunaan kata ”mitsqâla dzarrah”. Di samping menyebutkan perbedaan madzhab dalam memahami ayat ini. Baik para mutakallimîn maupun firaq yang ada. Ada Zamakhsyari sebagai sampel pemikiran mu’tazilah. Abu Hayyan, mewakili dhahiriyyah. Kemudian at-Thabursy, mufassir syi’ah. Polemik ini muncul saat ada pertanyaan, kebaikan yang dilakukan orang kafir yang dijatuhkan dengan kekafirannya. Sebanyak apapun kebaikan itu. Bahkan beliau juga tak melewatkan pendapat Syeikh Muhammad Abduh, salah seorang tokoh yang dikaguminya.

Pada akhirnya, hanya Allahlah yang berhak menentukan balasan ini. ”Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengadzab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 48: 14)

Penutup

Demikian seklumit tentang pembaruan tafsir yang dibawakan oleh Bintu Syathi’ dalam tafsirnya, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm. Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk menjadi stimulan mudârasah kita terhadap al-Qur’an. Sehingga semakin meningkatkan keimanan kita kepadanya sekaligus menjadikan hidup kita lebih berkualitas. WalLâhu al-Musta’ân.

Pagi menjelang siang

Cairo, 28 September 2005


* Pernah disampaikan pada Diskusi Inklusif Musim Tsaqafi di Sekretariat PCI Muhammadiyah Cairo, Rabu, 28 September 2005

** Peserta Program S3 Jurusan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar Cairo.

[1] Lihat al-Baqilany, I’jâz al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Jail), Cet.I, 1991, hal.165

[2] Muhammad Quthb, Dirâsât Qur’âniyyah, (Beirut: Dar asy-Syuruq), Cet.VI, 2004, hal.254-255.

[3] Dr. Muhammad al-Higazy, al-Wahdah al-Maudhû’iyyah fi al-Qur’ân al-Karîm, (Zaqaziq: Maktabah Dar at-Tafsir), Cet.II, 2004, hal.87

[4] Beliau menyebut jumlah surat makkiyah sekitar 80-an dan madaniyyah sebanyak 29 surat. (Ibid). Lihat lebih jelas pembagian Makky dan Madany dalam As-Suyuthi, al-`Itqân fi ’Ulûmi al-Qur’ân, (Beirut: Dar al-Kuutub al-’Ilmiyyah), Cet.I, 2004, hal.21 dan Dr. Muhammad Abu Syahbah, al-Madkhal li Dirâsati al-Qur’ân, (Cairo: Maktabah as-Sunnah), Cet.I, 1992, hal.203

[5] Dr. Muhammad Husein adz-Dzahaby, At-Tafsîr wa al-Mufassirûn, (Cairo: Maktabah Wahbah), Cet.VI, 1995, 2/588.

[6] Bintu Syâthi’, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, (Cairo: Dar al-Ma’ârif), Cet.VII, 1/10.

[7] Dr. Abdussattar Fathullah Said, al-Madkhal ilâ at-Tafsîr al-Maudhû’iy, (Cairo: Dar at-Tauzi’), Cet.II, 1991, hal. 32

[8] Sebagaimana yang beliau nukil dan ringkas dari buku Manâhij Tajdid-nya Amin al-Khuly. At-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, Op. Cit. 1/10.

[9] Imam Suyuthi menyebutkan qashidahTaqrîb al-Ma`mûl fi Tartîb an-Nuzûl” karya al-Burhan al-Ja’bary. Meski pada akhirnya beliau mengomentari keanehan pendapat yang diambil dari salah seorang tabiin, Jabir bin Zaid. Lebih jelas bisa dilihat (As-Suyuthi, al-`Itqân fi ’Ulûmi al-Qur’ân, Op. Cit, hal.44).

[10] Muhammad Quthb, Dirâsât Qur’âniyyah, Op.Cit, hal.513.

[11] Bintu Syâthi’, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, Op.Cit, hal.14.

[12] Bintu Syâthi’, at-Tafsîr al-Bayâni li al-Qur’ân al-Karîm, Op.Cit, hal.79.

[13] Pembahasan ini lebih lanjut dibahas Sayyid Quthb dalam buku beliau; At-Tashwir al-Fanniy fi al-Qur’an.