Episode Kezhaliman pun Bersambung

%d8%b8%d9%84%d9%85

SAIFUL BAHRI

Namruz, Firaun, Jalut, Nebukadnezar, Abu Jahal, Hitler, Musolini adalah beberapa episode tentang kisah dan lembaran hitam sejarah. Kisah tentang kezhaliman. Kisah yang tetap dan terus akan berlanjut sampai hari kiamat. Tokoh antagonis yang akan selalu ada, menindas dan lalim. Meski tentunya akan ada kebalikannya, tokoh-tokoh protagonis yang menumbangkan mereka. Adalah Ibrahim, Musa, Dawud dan Nabi Muhammad SAW, bagian dari sejarah putih yang dikirim Allah untuk menuntaskan dan membuktikan kekuasaan-Nya yang mutlak. Sejatinya, kezhaliman memang takkan pernah memiliki ruang di bumi ini. Sesungguhnya bahwa keangkuhan akan sirna seperti debu. Pastinya, kesombongan para durjana akan hilang ditelan waktu.

Kisah tentang kezhaliman ini di dalam al-Quran sangatlah banyak. Ia menjadi tema utama yang disebut menjadi penghalang misi manusia dalam beribadah dan menyembah Allah. Syirik sendiri dibahasakan al-Quran dengan (zhulmun ‘azhîm, [lihat QS. Luqman; 13]), serta berbagai turunan kezhaliman yang bermuara pada nihilnya keimanan dan tipisnya kepercayaan kepada Allah.

Semua orang-orang zhalim takkan pernah diback up oleh Allah. Pun Dia tak menitahkan makhluk-Nya untuk membelanya. Bahkan jelas-jelas al-Quran menyebut (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ) “dan orang-orang zhalim tiada penolong bagi mereka”; di dalam al-Quran diulang tiga kali (Al-Baqarah: 270, ali Imran: 192, Al-Maidah: 72). Anshar artinya adalah penolong dan plural. Mengapa Allah mengatakan mereka tak memiliki penolong? Padahal faktanya biasanya banyak orang yang membelanya, bersembunyi di belakangnya, menjilatnya memujanya dan sebagainya. Sesungguhnya semuanya semu. Saat keruntuhan terjadi mereka akan ditinggal sendiri. Karena pemujanya adalah para penakut. Karena pembelanya adalah hipokrit. Karena penyembahnya adalah manusia-manusia yang bermental benalu, mengambil manfaat yang menguntungkan saja. Atau jika ini divisualisaiskan di hari kiamat, maka sebanyak apapun penolong dan pembela mereka takkan ada pengaruhnya bagi Allah. Sang zhalim dan penolong-penolongnya semuanya akan berhadapan dengan keadilan Allah.

Sedangkan lafazh (وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ) diulang dua kali (Al-Hajj: 71, Fathir: 37). Kali ini penolong disebut secara single. Artinya orang-orang zhalim takkan punya penolong satu orang pun. Arti pertolongan tersebut adalah pertolongan yang benar-benar bermanfaat. Terutama nantinya dalam menyelamatkan mereka dari siksa dan murka Allah di akhirat.

Kezhaliman Firaun biasanya dipaketkan dengan keangkuhan dan kesombongan Haman. Haman merupakan perangkat pendukung kezhaliman. Tapi dosanya tidaklah lebih kecil dari Firaun. Karena ia adalah perangkat yang dimanfaatkan dan memanfaatkan kezhaliman untuk kepentingan dirinya. Memperkaya diri, menahbiskan diri, mengukuhkan eksistensi dan sebagainya. Meski pun di sana tidak mustahil, ada orang yang “terpaksa” bersedia menjadi perangkat kezhaliman karena merasa terancam atau karena takut. Semuanya tetap akan mengambil porsi dari kezhaliman yang sebenarnya dilakukan secara kolektif. Karena mendiamkan kezhaliman apalagi menikmatinya, adalah seperti pelaku kezhaliman.

Hari ini, kisah tentang kezhaliman tak mungkin tiada yang mengetahuinya. Merasakannya. Menjumpainya. Menyaksikannya langsung. Sebagian kita memilih diam karena berbagai hal; ada yang takut, ada yang ingin aman, ada yang cuek, ada yang merasa tidak menjadi urusannya atau bahkan sebaliknya ia sangat menikmatinya.

Tapi bahwa kezhaliman takkan pernah berakhir baik sepertinya banyak dilupakan banyak orang. Penuturan sejarah tentang ending dari kisah kezhaliman barangkali mulai dilupakan. Namrudz yang tersungkur dengan seekor nyamuk kecil, Firaun yang tenggelam setelah merasa tiada yang bisa menandinginya, Jalut yang tewas di tangan remaja dengan sebuah batu, Abu Jahal yang mati ditangan dua anak kecil yang belum dewasa. Itulah sejarah. Sebagian hanya ingin mengambilnya sebagai hiburan, sebagian menjadikannya bahan candaan. Namun, yang berakal akan menjadikannya pelajaran penting.

Bagi penantang kezhaliman, ia akan semakin yakin ending baik untuknya. Menapaki jalan Ibrahim, Dawud, Yahya, Isa dan Nabi Muhammad SAW.

Yang pasti orang-orang zhalim tidak diistimewakan Allah dengan dua nyawa. Mereka akan mati bila ajalnya tiba. Dan kabar buruknya, malaikat yang keras dan kasar (an-nâzi’ât) lah yang akan menjemputnya di akhir hayatnya di dunia. Mengantarnya menempuh jalan sulit dan kesengsaraan yang abadi.

Para penanggung jawab yang merampas tanah di Palestina, para perampok kedaulatan yang membangun pemukiman-pemukiman ilegal di Tepi Barat. Mereka takkan pernah merasakan ketentraman meski selalu akan dikawal dengan pengamanan yang ketat. Dan pada waktunya akan  berakhir.

Orang-orang yang bermain-main dengan kehormatan dan nyawa para penduduk Suriah yang dikorbankan tanpa dosa, kelak juga akan berakhir denga takdir yang menakutkan dan menggemparkan.

Para pelaku kezhaliman di mana pun, tanpa terkecuali di negeri kita. Jika ia pelaku, maka saksikanlah, bacalah kisah kezhaliman sebelum dia. Jika ia menjadi pembela dan pemuja, bacalah dan telusurilah akhir buruk kisah para pembela kezhaliman yang tak jauh beda. Kaum Ad, Tsamud, Madyan, Ashâburrass, Haman, Qarun semuanya cukup menjadi pelajaran berharga.

Selagi ada waktu. Bertaubatlah, akhiri kezhaliman dalam diri sebelum Allah kirimkan makhluk yang akan mengakhiri segalanya. Wan-nâzi’ati gharqâ. Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya.

 

Catatan Keberkahan 43

Jakarta, 23.02.2017

 

MIMPI-MIMPI SEDERHANA

Saiful Bahri

bahagia-itu-sederhana

Barangsiapa yang di pagi hari ia aman dan nyaman jiwanya, sehat badannya, ia memiliki sarapan (makanan) di harinya, maka seolah-olah ia telah diberikan dunia beserta seluruh isinya

(HR. Bukhariy dalam al-Adab al-Mufradnya, dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, sahabat Ubaidillah bin Mihshan meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad SAW.)

«من أصبح آمناً في سربه معافا في بدنه عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها»

Bahagia itu sederhana. Semuanya orang berpeluang untuk berbahagia. Meskipun, kesederhanaan ini pada akhirnya menjadi lebih rumit karena prespektif orang tentang kebahagiaan kemudian menjadi lebih rumit dan sulit. Terutama ketika standar matrealistik dan gaya hidup hedonis yang dianut oleh tidak sedikit masyarakat modern.

Menilik dari hadis di atas, ternyata titik utama dan kunci mencapai kebahagian di setiap pagi adalah sikap hidup manusia. Kesyukuran adalah modal utama meraihnya.

Dalam kehidupan harian, tak jarang kita menyaksikan seorang lelaki yang berpakaian lusuh, lumpur-lumpur kering menempel di badannya. Nampak, ia baru saja melakukan pekerjaan penggalian. Ia tidur dengan terlelap di atas rerumputan, sengatan sinar matahari tak mengusiknya sama sekali.

Pemandangan serupa bisa ditemukan di pematang sawah, saat beberapa orang membuka rantang berisi makanan sederhana yang dikirimkan oleh keluarga. Berteduh menikmati makan siang, dengan lahapnya.

Nelayan yang mempertaruhkan nyawanya di tengah ganasnya lautan, nampak berseri-seri ketika jerih payahnya berbuah manis. Ikan hasil tangkapannya terjual habis, ia bisa membawa oleh-oleh sederhana untuk keluarganya.

Ada banyak kisah yang akan kita jumpai memberikan gambaran sederhana tentang makna kebahagiaan. Al-Quds Channel memiliki program rutin tahunan mengisahkan kisah-kisah inspiratif tentang makna kebahagiaan yang sangat sederhana.

Program acara di al-Quds Channel bernama Ahlâm Basîthah (Mimpi-mimpi Sederhana), yang kini akan memasuki serial ke-9 adalah sebuah program acara yang menampilkan dan sekaligus membuktikan bahwa untuk membahagiakan seseorang itu tidak sulit. Sangat mudah.

Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa bantuan kemanusiaan dari berbagai lembaga kemanusiaan disalurkan kepada keluarga korban perang di Gaza.

Ada seorang lelaki tua penjual sayur-sayuran yang karena perang ia kehilangan kendaraan yang biasa ia gunakan untuk menjual sayur. Suatu ketika seorang lelaki, host acara Ahlâm Basîthah menawarkan jasa pengangkutan sayur kepadanya, ia diminta menyetir sebuah kendaraan sederhana seperti bajai untuk di antar ke sebuah kios. Kemudian ia ditanya, minta upah berapa. Keluar sebuah nominal yang sangat kecil. Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Lelaki tersebut memberikan kejutan kepadanya. Ia memberi upah lebih kemudian ia menghadiahkan bajai tersebut kepadanya, ditambah sebuah kios kecil yang sudah disewa selama satu tahun.

Ada beberapa butir air mata bening keluar dari pojok-pojok mata lelaki tua tersebut. Pipinya yang keriput dibasahi air mata bahagia. Ia bersujud syukur, memuji Allah yang memberinya segala hal yang diimpikannya. Bukankah sederhana meraih kebahagiaan itu? Sesederhana membahagiakan orang yang memiliki persepsi kebahagiaan sederhana.

Ada seorang perempuan tua yang rumahnya hancur karena serangan Israel beberapa waktu lalu. Ia dan suaminya serta beberapa anaknya menghuni sebuah rumah yang tak pernah utuh tersebut. Sang ibu tak pernah berharap atau bermimpi rumahnya kembali utuh. Karena ada banyak keluarga yang mengalami nasib serupa. Yang ia impikan adalah hadirnya sebuha mesin cuci yang meringankan tumpukan cuciannya yang banyak. Tim dari al-Quds channel memberikan mesin cuci. Raut bahagia terpancatr dari wajah perempuan paruh baya tersebut. Rumah mereka pun dibedah dan diperbaiki. Mereka bisa berbahagia dengan sebuah aksi sederhana.

Cerita lain mengisahkan tentang seorang pemuda yang menjadi tumpuan keluarganya sepeninggal ayahnya. Pemuda ini hanya menjual beberapa teko teh panas yang dijualnya di sepanjang pantai di Gaza. Kebahagiaannya adalah ketika ia kembali dengan beberapa uang yang bisa diberikan kepada ibunya. Host acara Ahlâm Basîthah datang dengan sebuah kendaraan kecil dengan kompor gas kecil dan perlengkapan masak sederhana. Pemuda tersebut selain menjual minuman hangat bisa menjual burger daging dan makanan-makanan ringan. Senyumnya melebar. Iya tak sampai bermimpi seperti itu. Tapi Allah memberinya lebih banyak dari yang dibayangkannya.

Ternyata kebahagiaan itu sederhana. Membahagiakan orang juga bukan sesuatu yang sulit. Bahkan tersenyum adalah salah satu sedekah termudah.

Tebarkan optimisme kemenangan dan kemerdekaan kepada bangsa Palestina yang terampas kebebasannya. Kembalikan senyum-senyum keceriaan. Allah akan membahagiakan orang yang senantiasa berusaha membahagiakan orang. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 42

Jakarta, 09.02.2017

BERTEMUNYA CINTA DAN KEPAHLAWANAN

salahuddin

Ada berbagai alasan seseorang untuk menikah. Bagi seorang muslim, utamanya ia sedang menjalankan sunnah Rasulullah SAW yang diikuti para sahabat dan tabi’in setelahnya. Motivasi ideologis sangat laik untuk dijadikan alasan utama. Tapi, jika alasan tersebut menjadi satu-satunya motivasi, menurut penulis tentunya tidak selamanya demikian. Tujuan dan alasan pernikahan, meskipun bermuara satu, cabangnya bisa banyak. Belum lagi, jika terjadi disorientasi dalam membangun sebuah pernikahan.

Sebagian menikah karena kegelisahan dan desakan syahwat yang manusiawi, tentu tidak aib jika dibangun persepsi positif dan pijakan moral yang dikedepankan.

Sebagian menikah karena menindaklanjuti sebuah rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Orang banyak menamakannya cinta, sebuah rasa yang orang banyak merasakannya karena manusiawi. Tetapi, banyak orang salah mempersepsikannya. Cinta itu memiliki dan mengatur perilaku, kata sebagian orang. Faktanya, cinta adalah anugerah Allah. Musa pun Allah jadikan seorang anak yang sejuk dipandang mata, cinta tumbuh berkembang di sekitarnya.

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta (kasih sayang) yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 39)

Maka perilaku sebagian orang yang mengultuskan dan mendewakan cinta untuk membangun sebuah pernikahan adalah tindakan yang kurang bijak. Allah lah yang menjanjikan menurunkan cinta dan kasih sayang secara bersamaan dan menumbuhkannya melalui pernikahan yang juga menjadi tanda kekuasaan-Nya. Ada pertemuan dan penyatuan dua makhluk yang serba berbeda.

Sebagian orang menikah karena sudut pandang matrealistik. Baik materi yang melekat pada fisik orang, kecantikan fisik, atau materi yang menempel belakangan seperti kekayaan harta.

Sebagian lagi menikahi seseorang karena jabatan dan posisi sosial atau kehormatan dan prestise sosial. Serta sekian cerita yang mengatasnamakan cinta dan misteri rasa yang berada dalam dada dua makhluk Allah yang berbeda; laki-laki dan perempuan

Simaklah, sebuah kisah menarik. Sebuah sudut pandang tentang cinta yang menjadi energi positif. Cinta yang menumbuhkan keberanian. Cinta yang menemukan pelabuhan kegundahan seorang laki-laki akan kondisi masyarakat, dan seorang perempuan yang juga merasakan hal yang tak jauh berbeda. Takdir mempertemukan mereka berdua. Mereka, menjemputnya dengan berbagai ikhtiar dan usaha.

Dikisahkan seorang penguasa Tikrit (Irak), bernama Ayyub bin Syadzi; yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Najmuddin Ayyub ingin mencari pasangan hidupnya. Ia belum menikah dalam waktu yang cukup lama. Sampai-sampai saudara kandungnya, Asaduddin Syerkuh sering keheranan dan mengulangi pertanyaannya, siapa yang ia cari dan mengapa ia tak segera menikah. JAwaban singkat Najmuddin Ayyub selalu sama, “Aku belum mendapatkan calon istri yang pas.”

Asaduddin pun bermaksud mencarikan calon yang cocok untuk kakaknya. IA memberikan pilihan kepada Ayyub. “Bagaimana dengan puteri Malik Syah—anak Sultan Muhammad bin Malik Syah—Raja Bani Saljuk atau putri Nizhamul Mulk—menteri besar yang terkenal di zaman Abbasiyah.”

Namun, Ayyub pun menjawab ringan. “Tak ada yang cocok untukku!”

Asaduddin bingung dan heran, ia pun mendesak kakaknya, siapa yang sebenarnya dicarinya. Akhirnya ia menemukan jawaban dari misteri yang dipendam sang kakak. Ia mencari seorang perempuan yang bersedia melahirkan seorang pemberani dan pahlawan yang mampu menaklukkan kembali Baitul Maqdis dari tangan tentara salib dan mengembalikannya ke tangan umat Islam.

Tikrit tidaklah jauh dari Baitul Maqdis. Itulah, rupanya kegundahan seorang Gubernur Tikrit. Gubernur lajang yang sedang berikhtiar mencari jodohnya.

Maka, pada suatu hari, Najmuddin duduk bersama seorang lelaki tua di sebuah masjid di Tikrit. Mereka membincangkan banyak hal. Tiba-tiba ada seorang gadis yang memanggil lelaki tua tersebut dari balik tirai. Ia pun bergegas menemui sang gadis, setelah meminta izin kepada Najmuddin Ayyub.

Rupanya, lelaki tua itu adalah ayahnya. Ia berbicara dengan putrinya. Menanyakan mengapa ia menolak lelaki yang melamarnya. Sebenarnya apa yang diinginkannya. Sang gadis menjawab dengan sedikit emosional. Ada isakan kecil mengiringinya. “Aku inginkan seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga. Aku ingin melahirkan darinya seorang pemberani yang bersedia dan mampu mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”

Deg. Ayyub mendengar kata-kata gadis itu dengan jelas, meski sang gadis lirih mengatakannya kepada ayahnya.

“Dia cocok untukku!” Ayyub membatin dalam-dalam.

Inilah rekayasa dan skenario Allah. Najmuddin yang kaya dan berkuasa. Sementara gadis itu adalah seorang yang biasa, dari kalangan rakyat jelata. Namun, sang gubernur tak memedulikannya.

“Aku ingin menikahinya dan titik.” Demikian ia mengikrarkan niatnya.

Ayyub memanggil lelaki tua tersebut. Lelaki tua itu terkaget dan terkejut keheranan.

“Tapi, ia seorang gadis yang miskin dan biasa. Ayahnya, adalah seorang yang seperti Anda lihat”

Najmuddin Ayyub berkata tegas, “Ini yang aku inginkan. Aku ingin menikahi seorang perempuan yang dengannya aku berharap meraih surga. Aku ingin dia mau melahirkan dariku anak lelaki yang pemberani yang akan menaklukkan kembali Baitul Maqdis. Merealisasikan mimpi dan cita-citaku!”

Itulah pertemuan cinta dan kepahlawanan dari dua kasta sosial yang berbeda. Allah yang menyatukan dua cinta. Cinta kembalinya Baitul Maqdis ke tangan yang berhak mengurusnya. Kepahlawanan yang muncul menyingkirkan gengsi materi dan jabatan sosial serta mata dan perkataan orang yang mungkin akan mempertanyakan pertemuan dua cinta ini.

Dari mereka berdua, lahirlah seorang lelaki pemberani yang namanya menggetarkan siapa saja yang mengetahuinya. Lahirlah dengan izin dan karunia Sang Maha Cinta, dari pernikahan cinta dan kepahlawanan ini. Yusuf namanya. Yusuf bin Ayyub. Dan kita lebih mengenalnya dengan SHALAHUDDIN AL-AYYUBI.

 

Catatan Keberkahan 41

Puncak, 19.01.2017

SAIFUL BAHRI

NAFAS-NAFAS BARU

air-dan-kupu2

SAIFUL BAHRI

Perubahan atau pergantian waktu adalah sebuah karunia dan salah satu nikmat Allah. Di samping itu hal tersebut menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengubah segalanya. Perubahan adalah ciri utama makhluk-Nya. Jika waktu ini dijadikan malam selamanya oleh Allah, maka siapa tuhan selain-Nya yang sanggup mendatangkan cahaya seterang siang? Sebaliknya, jika waktu ini dijadikan siang selamanya oleh Allah, maka siapakah yang sanggup membuat malam sebagai waktu normal untuk beristirahat para manusia? Itulah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya di QS. Al-Qashash: 71-72.

Momentum pergantian tahun yang baru saja berlalu beberapa waktu, bagi sebagian orang dijadikan titik tolak perubahan. Dalam lingkup mikro saja tak jarang kalender baru tersebut dijadikan patokan untuk membuat perencanaan keuangan, membuat perencanaan kegiatan dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan siang atau malam. Demikian juga matahari dan bulan yang Allah yang salah satu kegunaannya adalah menjadi ukuran waktu. Dengan patokan matahari, umat Islam menentukan waktu shalat seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk meniru dan menyontoh shalatnya. Dengan patokan bulan, umat Islam ini juga menggunakan penanggalan untuk melaksanakan puasa Ramadan, menunaikan zakatnya juga melaksanakan manasik haji.

Berbagai peristiwa sudah terjadi sepanjang tahun 2016. Ada yang membuat mata-mata ini sembab menyaksikan berbagai berita yang memilukan dan menyakiti rasa kemanusiaan kita. Ada yang membuat bibir-bibir ini tersenyum menghayati berbagai suka cita. Ada nada kemarahan menyaksikan kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Ada kekecewaan karena berbagai harapan yang terhalangi atau bahkan tersingkirkan. Ada rasa optimisme membuncah menyaksikan kebangkitan umat di tengah berbagai himpitan makar dan konspirasi. Berbagai rasa bercampur. Mengaduk emosi dan perasaan kita. Namun, yang paling menonjol sepanjang tahun kemarin adalah berbagai berita yang memburukkan citra umat Islam. Baik masifnya media massa yang mewartakan berbagai pengeboman dan aksi-aksi terorisme yang diklaim ISIS ada di belakangnya, atau pun suasana pilu yang menimpa Libya, Iraq, dan Suriah di samping permasalahan utama di Timur Tengah pemukiman ilegal Israel yang terus dibangun meskipun ditengah kecaman dunia internasional. Penistaan-penistaan yang dilakukan terhadap Masjid al-Aqsha.

Di balik nestapa kemanusiaan yang sama-sama dialami oleh Palestina dan Suriah, simaklah berbagai keajaiban dan kisah-kisah heroik anak-anak kecil di berbagai pengungsian Palestina.

Ketika bencana kemanusiaan semakin memburuk di Suriah, khususnya di Aleppo, para anak-anak kecil di Gaza juga berbagai tempat pengungsian Palestina di Jordania dan Libanon, juga yang ada di Turki semua menggalang dana kemanusiaan untuk para anak-anak dan pengungsi Suriah. Padahal sebagaimana kita tahu, kondisi mereka, para pengungsi Palestina sangat memerlukan bantuan kemanusiaan. Terkhusus mereka yang berada di Gaza yang belum terecovery dengan baik pasca serangan Israel di tahun 2014 yang lalu.

Perihal bantuan kemanusiaan ini, tidaklah selalu sejalan secara empirik dengan kemampuan materi seseorang atau kecerdasan intelektualnya. Karena yang menjadi sumbunya adalah kepekaan spiritual yang melengkapi kepekaan intelektual (pengetahuan dan informasi), kepekaan emosional (sedih dan pilu) dan kepekaan sosial (sebagai bentuk rasa solidaritas kemanusiaan). Kepekaan spiritual adalah bentuk nyata dari hasil ibadah seseorang yang menghubungkannya dengan Allah secara vertikal.

Bantuan kemanusiaan yang diberikan mereka, yang juga sedang terbelit kesulitan berangkat dari spirit kebesaran Allah yang dideklarasikannya setiap shalat dan dalam setiap perpindahan gerakan di dalamnya. Spirit ingin lebih disayangi Allah dan menebar kasih sayang. Agar segala bentuk permusuhan dan keserakahan manusia segera sirna dan tersingkirkan.

Spirit ini barangkali keinginan para pengungsi itu untuk menghadirkan surga dalam bentuk lain di dunia. Surga yang tidak hanya berbentuk kemakmuran dan gelimang materi serta kekayaan yang kasad mata terlihat. Surga dalam bentuk solidaritas sesama, kepedulian terhadap mereka yang mengalami kesulitan. Itulah spirit yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa bisa jadi sedekah satu dirham mengalahkan sedekah seribu dirham. Karena si pemiliki satu dirham menyumbangkan setengah hartanya yang “hanya” dua dirham, si penyumbang seribu dirham ia memiliki ribuan atau ratusan ribu lainnya. Karena tak selamanya diukur dengan parameter angka.

Spirit perubahan bergantinya waktu adalah ruh optimis yang selalu Allah berikan kepada para makhluknya. Setiap pagi kita seolah mendengarkan lantunan optimisme dari firman-Nya, “Dan demi waktu shubuh ketika bernafas” (QS. At-Takwir: 18)

Itulah nafas-nafas baru yang Allah karuniakan untuk setiap makhluknya. Jika seorang hamba-Nya di hari kemarin berbuat maksiat, nafas baru ini adalah kesempatannya untuk kembali dan bertaubat. Jika hari yang lalu ia telah lewati dengan prestasi, maka nafas baru adalah menciptakan peluang prestasi berikutnya, atau setidaknya mempertahankan atau menebar kebaikannya. Semuanya diberikan Allah peluang dan pintu-pintu kebaikan setiap paginya.

Maka, ketika kalender berganti, jika manusia yang ada hanya sekedar mengganti kalender yang lama dengan yang baru, maka ia belum menghayati makna perubahan dan sunnah pergantian yang sedang Allah perjalankan untuknya.

Saatnya umat ini bertansformasi, mengubah dirinya bersama nafas baru yang Allah kirimkan setiap pagi. Peristiwa apapun yang dilalui umat ini di tahun lalu, kini saatnya mengubah diri sendiri untuk mengisi peluang dan memasuki pintu-pintu kebaikan yang telah Allah buka.

Bersama nafas baru, jangan beri peluang para durjana merenggut optimism. Raih kemenangan. Kemerdekaan. Bebaskan dari segala belenggu yang menghalangi sampai di jalan Allah, Sang Pemberi nafas-nafas baru di setiap pagi. HasbunalLâhu wani’mal wakîl.

 

Catatan Keberkahan 40

Jakarta, 09.01.2017

 

GELOMBANG HATI

Gelombang Hati

Perawakannya biasa, bahkan bisa dikatakan sederhana. Dari postur tubuhnya bisa ditaksir, beliau berusia cukup tua. Berdiri disampingnya seolah membersamai ayah. Entah mengapa, petang ini beliau lah orang spesial yang Allah kirim menyebelahi saya.

Saat imam Shalat Maghrib membaca akhir ayat surah an-Naba’, tiba-tiba beliau terisak. Bahunya terguncang. Tanpa terasa, air mata ini ikut meleleh. Tanpa direncanakan dan diprediksi sebelumnya. Tiba-tiba saja, ada rasa yang tak terkatakan. Ada suasana yang tak terlukiskan. Ada beribu kesan yang tak bisa digambarkan. Kesyahduan yang agak cukup lama berkurang dan hampir hilang. Tertindih berbagai kesibukan, oleh rapat-rapat dan penugasan. Amanah yang bertubi-tubi. Maraton menyiapkan berbagai tulisan dan materi presentasi. Membuat laporan dan tentunya sekaligus sebagai kepala rumah tangga yang memiliki tanggung jawab.

Saya bersyukur Allah kirimkan gelombang yang menarik senar-senar hati agar kembali peka. Kepekaan dalam shalat yang menjadi energi semangat. Tetesan air yang tak banyak itu sudah cukup menjadi getaran yang ditulari oleh gelombang yang berasal dari si bapak tua di samping saya.

Saya semakin meyakini, inilah mengapa shalat berjamaah sangat dianjurkan. Selain menjadi sarana merekayasa kekhusyukan dan semangat kebaikan, ia menjadi media penangkap gelombang kesyahduan yang bisa jadi Allah kirimkan melalui siapa saja yang ada saat itu. Bisa melalui bacaan imam yang tiba-tiba menyentuh sanubari terdalam. Bisa melalui isak kecil seseorang di samping kita. Atau bahkan tiba-tiba melalui sesuatu yang ada dalam diri ini.

Terima kasih Ya Rabb, engkau kirimkan sebuah gelombang kehidupan di dalam hati yang terdalam.

******

Sinyal-sinyal dan gelombang ini sebenarnya juga dialami oleh banyak orang dalam hidupnya. Contohnya, saat menguap biasanya akan bergelombang menularkan kepada beberapa orang di sekelilingnya. Semangat atau kondisi sebaliknya juga menular dan menjalar kepada orang-orang di sekeliling kita. Itulah makna urgendi komunitas dan sebuah rekayasa kebaikan.

Dalam surah al-Ashr, Allah memvonis dengan kemahatahuan-Nya bahwa manusia itu berada dalam kerugian. Kata “al-Insân” yang single lebih menekankan setiap individu atau person yang diperhatikan. Tetapi pengecualian dan solusi terhindar dari kerugian disebut oleh Allah dalam bentuk plural.

“… kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 3)

Perhatikanlah kata “âmanû”, “wa ‘amilû” dan “wa tawâshaw” semuanya disebut dalam bentuk plural. Hal ini menekankan pentingnya berkelompok membentuk group value. Mengadakan dan membuat komunitas yang merekayasa bergelombangnya kebaikan secara natural. Sekilas sepertinya bertentangan. Rekayasa dan natural. Padahal keduanya sangat berhubungan. Rekayasa adalah untuk sebuah prakondisi. Dan mempertahankan kondisi natural artinya tak ada pemaksaan.

Bersyukur dipertemukan dengan tak sedikit orang-orang yang bersemangat. Membersamai para dai dan pejuang. Tak jarang berada di tengah-tengah ulama dan shalihîn. Itu semua adalah kesyukuran dari nikmat dan karunia Allah yang tak pernah terhitung banyaknya.

Maka, kemudian jika gelombang-gelombang kebaikan yang dilakukan oleh berbagai orang di dunia ini kemudian sampai melalui berbagai media adalah Allah yang mengirimnya. Sekaligus membuka hati ini untuk siap menerima kiriman sinyalnya.

Berbagai kisah kezhaliman dari Bumi Syam, khususnya di Palestina, masih selalu hadir meski tersekat oleh jarak geografis. Itu karena Allah yang mengirim gelombangnya. Di saat mungkin beberapa pihak sangat terbiasa mendengar berita pengeboman di Iraq. Atau serangan udara yang menewaskan sekian orang di Suriah. Atau baku tembak yang menghasilkan korban nyawa sangat banyak. Seolah menjadi berita biasa. Saking biasanya media memberitakannya. Dingin seolah tanpa getaran.

Maka bersyukurlah, jika Allah mengirimkannya kepada kita. Jika kemudian hati ini menerima sinyal gelombang yang Allah kirimkan. Itu pertanda Allah menyayangi kita, Allah member nikmat lain kepada kita. Dan sekaligus memberikan amanah-Nya kepada kita untuk melaksanakan risalah peradaban yang ditaklifkan kepada manusia. Manusia, tetapi tidak semua manusia. Berharap, diri ini dapat dan mampu tunaikan amanah dan risalah membangun peradaban sebagaimana para nabi memulainya kemudian ditutup oleh risalah kekal Sang Nabi akhir zaman. Lalu, dilanjutkan oleh para sahabat dan tabi’in setelahnya. Maka, meneruskannya adalah sebuah anugerah sekaligus amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Bersama rapatkan barisan. Kokohkan komunitas yang baik. Rekayasa, besarkan gelombang-gelombang kebaikan. Agar semakin menyentuh senar-senar kepekaan di hati setiap hamba-Nya. Allâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 39

Jakarta, 20.09.2016

DR. SAIFUL BAHRI, M.A

JADILAH DA’I

ISLAMIC (9)

JADILAH DAI…

1. Seorang dai adalah seorang pejuang. Ia tak boleh menyerah sekalipun kepada kelelahan ataupun sakit. Kekurangan materi atau ketidaknyamanan.

2. Jika dai merasa lelah, ia pun menikmatinya karena ia tahu dg siapa ia bertransaksi & apa imbalannya. Megatransaksi dengan Dzat yg serbamaha.

3. Jika dai sakit atau terbaring fisiknya tanpa daya. Itu bagaikan luka di tengah peperangan. Fisiknya boleh terkurung. Tapi spiritnya tidak.

4. Jika ia kekurangan pendukung dan pembela, ia akan malu menyerah. Karena Nuh mengajarkan kegigihan melebihi baja. Tak pernah berhitung waktu.

5. Jika sang dai merasa tua dan terlambat, ia akan malu kepada Zakaria yang memahami makna tiada kemustahilan di hadapan kuasa Dzat yg Mahaperkasa.

6. Jika sang dai merasa sulit bicara, ia akan malu jika menyerah. Musa berterus terang minta dukungan Tuhannya agar dibantu saudaranya Harun.

7. Bahkan Yusuf pun tak menunggu sampai keluar dari penjara utk berdakwah. Karena berdakwah di mulai dari mana, di mana saja & oleh siapa saja.

8. Jika sang dai kehabisan materi, ia pun akan teladani Ayyub yg teguh memohon dukungan Allah, kehilangan segalanya tidaklah berat selama Allah ada.

9. Jika sang dai merasa terlalu muda untuk berbuat, ia akan termotivasi oleh Yahya dan Dawud. Orang yg sebelumnya tak diperhitungkan & biasa2 saja.

10. Jika ia sibuk karena jabatan, kekuasaan & kekayaan. Siapa yg lebih kaya & berkuasa dari Nabi Sulaiman. Tapi ia adalah raja & pembawa risalah.

11. Jadilah seorang dai pewaris nabi, siapapun kita, apapun profesi yg digeluti, dlm kondisi apapun, berhadapan dg siapapun. Allah yg menyuruhnya.

Jakarta, 23.08.2016
Saiful Bahri
twitter @L_saba

Latihan #Mobilisasi

ISLAMIC (5)

  1. Peristiwa gagalnya kudeta di Turki terkait dgn mobilitas masyarakat, demikian halnya hari pertama masuk sekolah, ada #mobilisasi siswa
  2. Adapun umat Islam, dilatih melakukan #mobilisasi harian, pekanan, tahunan. Salah satu contohnya adalah saat melakukan ibadah shalat.
  3. Latihan #mobilisasi harian didapatkan umat Islam melalui shalat fardu berjamaah. Bahkan berlangsung 5 kali sehari. Dgn berbagai perbedaan
  4. Contoh kasus paling kuat adalah shalat subuh berjamaah. Jika #mobilisasi ke musola/masjid dilakukan pas adzan subuh, maka akan terjadi..
  5. keterlambatan,jk seorang muslim berdomisili di Indonesia jarak rumahnya cukup jauh dari musola/masjid.Maka ia harus sudah siap sblm azan
  6. Jarak antara azan & iqamah di Indonesia umumnya pendek, maka diperlukan #mobilitas tinggi & cepat. Memotivasi untuk siap sebelum subuh.
  7. Jika di Mesir, jarak azan & iqamah berkisar antara 20-30 menit. Memungkinkan untuk mulai #mobilisasi dg seruan azan utk kumpulkan massa.
  8. Di Turki,bisa lebih lama lagi, karena mazhab fikih yg beda dari Indonesia & Mesir. Uniknya, usai shalat mrk langsung beraktivitas masing2
  9. Maka shalat subuh berjamaah adalah salah satu latihan terbaik #mobilisasi massa. Dimulai dari titik nol, seseorang perlu menyiapkan diri.
  10. Adapun latihan #mobilisasi pekanan, bisa dilihat dari shalat Jumat yg didahului khutbah. Dgn berbagai perbedaan ini adl latihan pekanan
  11. Shalat Tarawih, adalah latihan tahunan. Tapi sifatnya berlangsung maraton sebulan penuh. Kondisinya pun tak sama di awal & akhir Ramadan
  12. Bentuk lain #mobilitas tahunan: shalat Idul Fitri & Adha di berbagai tempat. Juga saat Wukuf di Arafah & rangkaian manasik haji lainnya.
  13. Uniknya lagi, sejenak stl iqomah selesai. Imam Masjidil Haram menyeru “Istawuu..” dalam hitungan detik semua telah bersiaga bertakbir.
  14. Ratusan ribu bahkan melebihi 1 juta orang dg berbagai aktivitasnya,dlm durasi singkat berdiri & menyiapkan diri untuk bertakbir stl imam
  15. Imam shalat adl figur penting, wajib ditaati, tak boleh didahului,tp bisa diingatkan ktk salah dg kode yg diatur (tasbih/tepukan tangan)
  16. Imam jg bisa diganti saat batal.Shalat tak boleh berhenti,imam lah yg harus mundur.Ternyata setiap hari kita dilatih #mobilisasi dg baik
  17. Jika masjid-masjid & musola penuh seperti di bulan Ramadan itu salah satu pertanda kemampuan #mobilisasi umat Islam sedang baik & solid.
  18. Itulah mengapa sahur disunnahkan utk diakhirkan, karena umat Islam segera di #mobilisasi utk pergi ke masjid/musola lakukan shalat subuh
  19. Jika #mobilisasi umat Islam yg mayoritas di suatu tempat baik, maka masyarakat -mau tak mau- akan terkondisikan utk memobilisasi diri.
  20. Sbg perbandingan: coba cek kemampuan #mobilisasi keluarga kita. Saat akan pergi pagi jam 7 misalnya. Brp waktu yg diperlukan utk siaga?
  21. Tentunya hal tsb bergantung dari tujuan/target safar. Jika jarak jauh tentu perlu persiapan lebih, jika rutin harian jg lain kondisinya.
  22. Contoh #mobilisasi massa di Turki sebagai respon dari percobaan kudeta tergolong cepat sekaligus unik. Karena terjadi di tengah malam
  23. Tapi sejujurnya, apakah kita (termasuk saya) sudah terbiasa dgn #mobilisasi yg setiap saat mengakrabi kehidupan kita, shalat berjamaah?
  24. Shalat bjamaah memang bukan satu-2nya paramater #mobilisasi massa, tp setidaknya bs dijadikan latihan yg bagus. Harian,pekanan & tahunan

Jakarta 18.17.2016

Saiful Bahri

Twitter @L_saba