JADILAH DA’I

ISLAMIC (9)

JADILAH DAI…

1. Seorang dai adalah seorang pejuang. Ia tak boleh menyerah sekalipun kepada kelelahan ataupun sakit. Kekurangan materi atau ketidaknyamanan.

2. Jika dai merasa lelah, ia pun menikmatinya karena ia tahu dg siapa ia bertransaksi & apa imbalannya. Megatransaksi dengan Dzat yg serbamaha.

3. Jika dai sakit atau terbaring fisiknya tanpa daya. Itu bagaikan luka di tengah peperangan. Fisiknya boleh terkurung. Tapi spiritnya tidak.

4. Jika ia kekurangan pendukung dan pembela, ia akan malu menyerah. Karena Nuh mengajarkan kegigihan melebihi baja. Tak pernah berhitung waktu.

5. Jika sang dai merasa tua dan terlambat, ia akan malu kepada Zakaria yang memahami makna tiada kemustahilan di hadapan kuasa Dzat yg Mahaperkasa.

6. Jika sang dai merasa sulit bicara, ia akan malu jika menyerah. Musa berterus terang minta dukungan Tuhannya agar dibantu saudaranya Harun.

7. Bahkan Yusuf pun tak menunggu sampai keluar dari penjara utk berdakwah. Karena berdakwah di mulai dari mana, di mana saja & oleh siapa saja.

8. Jika sang dai kehabisan materi, ia pun akan teladani Ayyub yg teguh memohon dukungan Allah, kehilangan segalanya tidaklah berat selama Allah ada.

9. Jika sang dai merasa terlalu muda untuk berbuat, ia akan termotivasi oleh Yahya dan Dawud. Orang yg sebelumnya tak diperhitungkan & biasa2 saja.

10. Jika ia sibuk karena jabatan, kekuasaan & kekayaan. Siapa yg lebih kaya & berkuasa dari Nabi Sulaiman. Tapi ia adalah raja & pembawa risalah.

11. Jadilah seorang dai pewaris nabi, siapapun kita, apapun profesi yg digeluti, dlm kondisi apapun, berhadapan dg siapapun. Allah yg menyuruhnya.

Jakarta, 23.08.2016
Saiful Bahri
twitter @L_saba

Latihan #Mobilisasi

ISLAMIC (5)

  1. Peristiwa gagalnya kudeta di Turki terkait dgn mobilitas masyarakat, demikian halnya hari pertama masuk sekolah, ada #mobilisasi siswa
  2. Adapun umat Islam, dilatih melakukan #mobilisasi harian, pekanan, tahunan. Salah satu contohnya adalah saat melakukan ibadah shalat.
  3. Latihan #mobilisasi harian didapatkan umat Islam melalui shalat fardu berjamaah. Bahkan berlangsung 5 kali sehari. Dgn berbagai perbedaan
  4. Contoh kasus paling kuat adalah shalat subuh berjamaah. Jika #mobilisasi ke musola/masjid dilakukan pas adzan subuh, maka akan terjadi..
  5. keterlambatan,jk seorang muslim berdomisili di Indonesia jarak rumahnya cukup jauh dari musola/masjid.Maka ia harus sudah siap sblm azan
  6. Jarak antara azan & iqamah di Indonesia umumnya pendek, maka diperlukan #mobilitas tinggi & cepat. Memotivasi untuk siap sebelum subuh.
  7. Jika di Mesir, jarak azan & iqamah berkisar antara 20-30 menit. Memungkinkan untuk mulai #mobilisasi dg seruan azan utk kumpulkan massa.
  8. Di Turki,bisa lebih lama lagi, karena mazhab fikih yg beda dari Indonesia & Mesir. Uniknya, usai shalat mrk langsung beraktivitas masing2
  9. Maka shalat subuh berjamaah adalah salah satu latihan terbaik #mobilisasi massa. Dimulai dari titik nol, seseorang perlu menyiapkan diri.
  10. Adapun latihan #mobilisasi pekanan, bisa dilihat dari shalat Jumat yg didahului khutbah. Dgn berbagai perbedaan ini adl latihan pekanan
  11. Shalat Tarawih, adalah latihan tahunan. Tapi sifatnya berlangsung maraton sebulan penuh. Kondisinya pun tak sama di awal & akhir Ramadan
  12. Bentuk lain #mobilitas tahunan: shalat Idul Fitri & Adha di berbagai tempat. Juga saat Wukuf di Arafah & rangkaian manasik haji lainnya.
  13. Uniknya lagi, sejenak stl iqomah selesai. Imam Masjidil Haram menyeru “Istawuu..” dalam hitungan detik semua telah bersiaga bertakbir.
  14. Ratusan ribu bahkan melebihi 1 juta orang dg berbagai aktivitasnya,dlm durasi singkat berdiri & menyiapkan diri untuk bertakbir stl imam
  15. Imam shalat adl figur penting, wajib ditaati, tak boleh didahului,tp bisa diingatkan ktk salah dg kode yg diatur (tasbih/tepukan tangan)
  16. Imam jg bisa diganti saat batal.Shalat tak boleh berhenti,imam lah yg harus mundur.Ternyata setiap hari kita dilatih #mobilisasi dg baik
  17. Jika masjid-masjid & musola penuh seperti di bulan Ramadan itu salah satu pertanda kemampuan #mobilisasi umat Islam sedang baik & solid.
  18. Itulah mengapa sahur disunnahkan utk diakhirkan, karena umat Islam segera di #mobilisasi utk pergi ke masjid/musola lakukan shalat subuh
  19. Jika #mobilisasi umat Islam yg mayoritas di suatu tempat baik, maka masyarakat -mau tak mau- akan terkondisikan utk memobilisasi diri.
  20. Sbg perbandingan: coba cek kemampuan #mobilisasi keluarga kita. Saat akan pergi pagi jam 7 misalnya. Brp waktu yg diperlukan utk siaga?
  21. Tentunya hal tsb bergantung dari tujuan/target safar. Jika jarak jauh tentu perlu persiapan lebih, jika rutin harian jg lain kondisinya.
  22. Contoh #mobilisasi massa di Turki sebagai respon dari percobaan kudeta tergolong cepat sekaligus unik. Karena terjadi di tengah malam
  23. Tapi sejujurnya, apakah kita (termasuk saya) sudah terbiasa dgn #mobilisasi yg setiap saat mengakrabi kehidupan kita, shalat berjamaah?
  24. Shalat bjamaah memang bukan satu-2nya paramater #mobilisasi massa, tp setidaknya bs dijadikan latihan yg bagus. Harian,pekanan & tahunan

Jakarta 18.17.2016

Saiful Bahri

Twitter @L_saba

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (5) KEMBALIKAN TRADISI SALING MEMAAFKAN

ISLAMIC (97)

Di #RamadanDay21 mari kita lanjutkan telaah serial minal ‘âidîn yang kelima.

Memohon maaf ketika salah adalah akhlak, budi pekerti yang tinggi. Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam mengajarkan demikian kepada para sahabatnya. Berikut adalah kisah permohonan maaf yang dahsyat di antara mereka.

Dalam sebuah majelis, para sahabat berkumpul. Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam tidak berada di tengah-tengah mereka. Ada Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal bin Rabah, Abu Dzar dan beberapa sahabat lainnya. Mereka mendiskusikan sebuah masalah. Abu Dzar al-Ghifari mengusulkan sesuatu, “Saya memiliki usulan, jika dalam tentara kita begini… begitu… dan seterusnya…”. Belum selesai perkataan Abu Dzar, tiba-tiba Bilal berkata, “Usulan seperti ini tidak benar!”.

Abu Dzar kecewa dan marah, kemudian ia berkata, “Sampai engkapun berani menyalahkanku, wahai anak orang hitam!”

Dengan marah pula Bilal berdiri, ia tersinggung dan berkata, “Demi Allah, aku akan melaporkan kepada Rasulullah”. Kemudian ia pun segera bergegas menghadap Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam. Setiba di sana Bilal menyeru, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tahu apa yang dikatakan Abu Dzar tentang diriku?”

Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam menjawab, “Apa yang ia katakana tentangmu?”

Bilalpun menjelaskan, “Ia mengatakan ini dan itu…”

Wajah Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam berubah. Dipanggilnya Abu Dzar dan dimarahi dengan dahsyat, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau juga mengina ibunya? Sungguh di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah!”

Abu Dzar tersentak. Ia tak mengira Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam akan marah sedemikian dahsyatnya. Ia pun menangis dan segera mendekati Rasulullah.

“Ya Rasulallah, mohonkan ampunan untukku. Mintalah kepada Allah ampunan untukku” kemudian ia pun keluar masjid sambil terus menangis. Ia kemudian menjumpai Bilal. Tiba-tiba ia meletakkan pipi kanannya di tanah dekat kaki Bilal. Bilal terkejut dan berkata, “apa yang kamu lakukan Abu Dzar?”

“Demi Allah, aku takkan mengangkat wajahku, sebelum engkau injakkan kakimu di atasnya” pinta Abu Dzar kepada Bilal, “Engkaulah yang lebih mulia, sedangkan aku yang hina!”

Air mata Bilal tak terbendung. Ia angkat wajah saudaranya Abu Dzar, ia bersihkan pipinya dari debu dan diciuminya. Ia peluk erat dan berkata, “Demi Allah, Aku takkan pernah menginjak wajah yang bersujud pada Allah sekali saja. Bagaimana mungkin kulakukan di wajah yang ku saksikan setiap hari bersujud kepada-Nya?”

Begitulah akhlak keduanya. Mencontohkan kepada kita bahwa para sahabat pun manusia yang bisa saja berlaku salah atau menyakiti perkataannya. Namun, luar biasa saat mereka meminta maaf. Saat mereka member maaf. Itu lah akhlak yang kita rindukan saat ini.

Bukan sekali, mungkin puluhan atau lebih, ada kata-kata kita yang menyakiti saudara kita tapi bibir kita berat untuk mengatakan, “Afwan akhi, maaf kan saya”

Sebagian kita melukai perasaannya, dengan melabeli pada hal-hal yang tak disukai dan membuatnya sedih atau marah. Bibir kita juga berat meminta maaf.

Sebagian juga mungkin berani menelanjangi kehormatan saudaranya tapi ia enggan untuk sekedar mengatakan, “MAAF”

Permintaan maaf adalah sebuah tradisi kebaikan dan akhlak serta perilaku peradaban yang tinggi.

Allah, menggambarkan seburuk-buruk dan serapuh-rapuh rumah adalah rumah laba-laba. Padahal menurut sains jaring laba-laba sangatlah kuat. Kekuatannya bahkan bisa dikatakan melebihi baja buatan manusia. Para saintis menyebutnya dengan “biobaja”. Lantas mengapa Allah menyebutnya sebagai rumah yang sangat rapuh.

Pertama, fungsi rumah laba-laba tidaklah melindungi para penghuninya. Ia berfungsi menjebak mangsa.

Kedua, rapuhnya rumah itu bukan pada jaring atau bangunannya yang kokoh secara ilmiah. Tetapi kerapuhannya terletak pada para penghuninya, laba-laba itu sendiri. Jika sudah memiliki anak, maka laba-laba betina membunuh suaminya. Anak-anak mereka pun saling memakan dan membunuh saudaranya. Laba-laba, hidup dalam sebuah rumah yang tak mengenal cinta dan kasih sayang.

Janganlah kita tiru perilaku buruk laba-laba tersebut. Memiliki rumah kokoh tetapi tak ada cinta dan kasih sayang di dalamnya.

Di hari yang istimewa ini mari renungkan dan tadabburi dengan kuat doa yang diajarkan Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam, “اللهم انك عفو كريم تحب العفو فَاعْفُوا عنا”

Dengan ini, saya juga memohon maaf kepada Anda. Dan kepada siapapun juga. Terutama kepada kaum muslimin dan muslimat. Para guru dan sahabat. Teman dan tetangga. Keluarga dekat dan jauh. Semua orang yang pernah berinteraksi dengan saya.

Sudah pasti ada kata dan perilaku yang menyinggung, disengaja atau tidak, disadari atau tidak dan saya belum sempat mengucapkan kata maaf.

“MOHON MAAF LAHIR BATIN”

 

#RamadanDay21

Alfaqîr Saiful Bahri

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (4) KEMBALIKAN TRADISI KEPAHLAWANAN DAN KEMENANGAN

ISLAMIC (33)

Di #RamadanDay17 mari kita lanjutkan telaah serial minal ‘âidîn yang keempat. Kita akan membicarakan sebuah tradisi kepahlawanan dalam Islam, sebuah tradisi kemenangan yang turun-temurun dirawat para pendahulu kita.

Terlebih, saat nantinya datang bulang Syawal kita sering mengucapkan atau mendengar sebuah tagline “minal ‘âidîn wal fâizîn, mohon maaf lahir batin”. Sekilas kalimat kedua terkesan merupakan terjemahan dari kalimat yang pertama. Padahal, itu adalah sebuah istilah lain dan sangat berbeda. Terjemahan minal ‘âidîn wal fâizîn bukanlah mohon maaf lahir batin. Itu adalah sebuah doa yang mengharapkan diri ini menjadi bagian orang-orang yang “kembali” dan orang-orang “menang”. Kembali dan menang itulah yang menjadi tradisi doa dan harapan para pendahulu kita.

Bulan Ramadan adalah tempaan untuk mengembalikan fitrah seseorang. Seperti halnya air hujan, yang berasal dari bumi merupakan air dari berbagai sumber. Air asin, air keruh, air kotor, air bercampur limbah dan termasuk air yang jernih tentunya. Kemudian setelah diproses di langit, air itu diturunkan kembali oleh Allah ke bumi dalam keadaan suci dan menyucikan, bersih tanpa diketahui dari mana asalnya sebelum jatuh kembali ke bumi.

Kembali seperti inilah yang diharapkan dari madrasah Ramadan.

Dan jika dikaitkan dengan kemenangan. Maka kemanangan pertama adalah ketika seseorang diampuni dan dibersihkan dari segala dosa. Ini sekaligus menjadi tradisi kemenangan-kemenangan berikutnya. Sejarah menuturkan, di bulan Ramadan lah Allah karuniakan kemenangan pertama umat Islam setelah melalui proses ketakutan yang mencekam dalam pertempuran Badar, pada 17 Ramadan 2 H; persis 1435 tahun yang lalu. Nuansa kemenangan lain juga Allah hadirkan dalam Fathu Makkah pada 20 Ramadan 8 H. Kemenangan berkarakter dan bermartabat, kemenangan yang menunjukkan keluasan dan ketinggian akhlak, kemenangan yang tak disertai keangkuhan dan arogansi. Kememangan yang menghadirkan ketenangan dan kenyamanan, dan bukan sebaliknya menebar teror dan penindasan.

Akhlak yang tinggi ditunjukkan Rasulullah shallalLahu ‘alaihi wasallam saat memasuki Makkah. Tak ada balas dendam, tak ada keangkuhan, tak ada arogansi. Beliau bahkan menundukkan wajahnya di atas unta, sehingga digambarkan hampir-hampir merunduk seperti punggung unta. Bibir beliau terus menggumamkan istighfar dan tasbih kepada Allah.

Saat beliau berhadapan dengan para pembesar Quraisy yang ketakutan. Beliau hanya bertanya, “Menurut kalian, apa yang kira-kira akan saya lakukan pada kalian?” Keramahan beliau hadirkan kesejukan dan ketenangan. Mereka menjawab, “Engkau adalah orang mulia, saudara orang mulia, keponakan orang mulia”. Senyum beliau mengiringi sebuah ungkapan fenomenal, “Pergilah… Kalian bebas!” Mereka bebas tanpa hukuman. Bebas tak ada balas dendam.

Menakjubkan… dan itu semua terjadi di bulan Ramadan.

*****

Jiwa-jiwa orang-orang yang beriman telah bertemu terlebih dahulu sebelum mereka bertemu. Maka ketika terjadi pertemuan jasad, pertemuan itu akan lebih terasa bermakna. Dan pertemuan kaum mukminin ini merupakan nikmat Allah yang sangat patut untuk kita syukuri. Karena jiwa mereka menyatu dalam iman. Jika terjadi sebaliknya maka kualitas iman yang tertanam di hati masih perlu ditingkatkan lagi.

Hati merupakan tempat bersemayamnya cinta, disamping tempat berkembangnya iman ataupun berpotensi untuk mengingkarinya ketika ia tertutup oleh hawa nafsu. Dan cinta juga merupakan karunia Allah yang mulia. Karunia Allah ini kadang disalahgunakan oleh sebagian kita untuk memperturutkan hawa nafsu. Nafsu inilah yang menjadi penghalang berkembangnya kreasi. Cinta merupakan stimulan kreasi dan berbagai karya besar. Terutama jika cinta kepada Allah memiliki muatan yang sangat kuat, terbina dalam manhaj Rasulullah shallalLahu ‘alaihi wasallam. Dan karena Allah saja lah yang mampu membolak-balikkan hati seorang manusia.

Kisah bayi kecil Musa ‘alaihissalam merupakan sampel realita quwwatul mahabbah (kekuatan sebuah cinta). Allah menyelamatkan Musa’alaihissalâm melalui cinta yang Allah turunkan di hati Fir`aun, musuh Allah dan juga kelak musuh Musa as. “…Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku…”(QS.Thaha: 39)

Sampaipun Fir`aun melihatnya ia mencintai Musa kecil. Dan setiap orang yang melihatnya akan merasa kasih sayang kepadanya.

Musa kecil diselamatkan Allah dengan kekuatan cinta. Musa kecil diasuh dan tumbuh dalam lingkungan musuh Allah dan musuhnya. “…supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya…”

Kisah di atas mengindikasikan kekuatan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Allah sanggup menyelamatkan hamba-Nya melalui apapun bahkan tanpa apapun dan dengan cara yang bahkan tidak terduga dan tak terbayang sedikitpun oleh hamba-Nya. Justru Allah menyelamatkan seorang hamba-Nya melalui musuh-Nya. Maka tak ada alasan bagi seorang yang beriman kepada Allah untuk takut menghadapi resiko perjuangan dakwah.

Ibunda Nabi Musa ‘alaihissalâm, dengan ilham dari Allah begitu berani dan percaya menghanyutkan anak lelakinya ke sungai Nil, lenyap di bawa arus menuju istana musuh Allah dan musuhnya. Seorang ibu yang memiliki keyakinan yang kuat akan kemenangan cinta yang suci. Ia sangat memasrahkan proses kemenangan itu kepada putusan dan pilihan Dzat yang menganugerahkan kemenangan. Dan Allah-lah yang sesungguhnya mengasuh calon penghancur kezhaliman ini. “…dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku…”(QS.Thaha:39). Sang ibu begitu yakin akan janji Tuhannya. Dan karena air sungai yang mengalir juga atas titah Allah karena ia merupakan salah satu pasukan Allah di bumi ini.

Calon nabi ini tumbuh dalam lingkungan yang tak bersahabat, memusuhi Allah. Namun Musa kecil tetap tumbuh sebagai generasi dakwah yang tangguh.

Hubungan kekuatan cinta ini dengan hamba Allah merupakan keterkaitan sebab akibat. Sang hamba mencintai Tuhannya yang kuat, maka iapun menjadi kuat tak takut terhadap siapa dan apapun. Sang hamba mencintai Tuhannya yang mulia, maka iapun menjadi mulia tanpa harus merasa rendah diri atau menghinakan diri di depan apa dan siapapun. “Man khâfallâha khâfa `anhu ghairuh” (Barang siapa yang takut kepada Allah, maka yang selain Allah akan takut terhadapnya). Orang akan segan. Tatkala itu pula ia merasa hanya izzah Allah lah yang membuatnya mulia dan disegani oleh orang lain. Tak perlu lagi baginya untuk merasa kecil dan memandang remeh dirinya di hadapan sesama. Karena ia sama-sama berpeluang untuk menjadi mulia melalui bentuk kepasrahan cinta yang sempurna, yaitu menyembah, mengesakan dan menghambakan dirinya. Ketika itu Allah akan menganugerahkan kekuatan cinta. Tatkala ia mendengar, Allah menjadi pendengarannya. Ketika ia berkarya dan berkreasi, Allah menjadi tangannya. Bila ia bergerak dinamis, Allah menjadi kakinya, pijakan gerakannya sehingga ia menjadi kuat. Tak goyah oleh arus, betapa pun kuat arus itu. Arus hedoniskah atau matrealis, liberaliskah atau sosialis, permisifkah atau anarkis, ekstrimkah atau sebaliknya. Ia akan tegak, kokoh di hadapan apapun yang bermaksud menerjang atau merobohkannya.

Contoh kongkrit dari kemenangan cinta ini adalah kisah sahabat Khabab bin Adi. Beliau begitu gigih menyongsong syahidnya di tiang salib. Betapapun menggiurkan tawaran pemimpin Quraisy saat itu beliau sanggup menggadaikan diri dan jiwanya demi selamatnya Rasulullah. Kedudukan, harta dan wanita cantik, ketiganya bukan tak pernah ditawarkan pada beliau. Namun hal-hal tersebut sangat tidak menarik dan sangat murah dihadapan murninya sebuah cinta. Cinta melindungi jalan dakwah.

“Wahai Khabab, bagaimana jika sekarang engkau pulang dan kami berikan kedudukan, harta dan kenyamanan. Dan sebagai penggantinya Muhammad berada ditiang salib ini?”

Dengan gemerataknya gigi beliaupun menyahut dengan tegas,”Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Aku sekali-kali tak pernah rela jika ada sebuah duri yang menusuknya”. Hanya sebuah duri saja. Lalu bagaimana kalian tawarkan Muhammad menggantikannya di tiang salib tersebut. Sebuah tawaran yang menjadi hina di depan kemuliaan sebuah nilai ketulusan cinta.

Beberapa saat sebelum beliau dieksekusi, beliau ditawarkan meminta sesuatu. Beliau hanya meminta waktu untuk bermunajat dengan Kekasihnya, hanya dua rakaat.Namun penuh kesan dan saat itulah kekuatan cinta mengkristal dalam diri beliau. Tiang salib menjadi begitu indah, bak lambaian bidadari di pintu syurga. Sejarah merekam perkataan beliau yang sangat mengesankan “Kalaulah tak khawatir disangka sebagai seorang pengecut yang takut mati tentulah akan kupanjangkan shalatku. Namun Allah mengetahui apa yang terjadi pada hamba-Nya”.

Kekuatan cinta ini sangat membuahkan hasil yang belum pernah terdetik dihadapan musuh. Dengan segala keputusasaannya Abu Sufyan –yang waktu itu belum Islam– mengatakan “Belum pernah aku melihat seseorang benar-benar mencintai lebih dari ketika sahabat Muhammad mencintainya dengan lebih daripada mereka mencintai diri mereka sendiri”. Kata-kata pengakuan akan kekuatan cinta ini keluar dari musuh-musuh Allah yang lain ketika mereka menyaksikan keteguhan dan kekuatan cinta. Mereka dibuat tak berdaya meski memegang cambuk besi atau paku salib sekalipun. Mereka menjadi lemah meski dengan segala kekuatan materi sekalipun. Mereka menjadi kehabisan akal meski sebelumnya penuh muslihat dan makar-makar licik. Mereka menjadi frustasi dengan fenomena-fenomena yang tak bisa ditangkap oleh akal mereka.

Senyum sahabat Khabab ra ketika menyongsong kematian di tiang salib merupakan senyum kemenangan cinta. Sekaligus pengumuman atas kekalahan sebuah kecongkakan, terbenamnya rasa sombong dan luluhnya kekerasan hati yang bengis. Berganti sebuah takzim dan keseganan meski datangnya dari musuhnya sekalipun.

*****

Kisah sahabat Zaid bin Haritsah juga akan memberikan nuansa cinta dan kasih sayang yang dalam.

Zaid berasal dari kabilah Thayyi’, sebuah kabilah Arab yang terkenal dengan kebangsawanannya, pemuda-pemudanya terkenal tampan dan para pemudinya dikenal berparas cantik menawan. Serta memiliki karakteristik santun dan berperangai halus.

Suatu ketika terjadi pertempuran dan penyerbuan ke kabilah ini sehingga kabilah tersebut menjadi tercerai berai. Banyak diantara mereka yang terbunuh dan tertawan oleh musuh. Sebagian lagi mencari perlindungan ke tempat lain. Sahabat Zaid ketika itu masih kecil. Zaid kecil berpisah dengan keluarganya. Kemudian menjadi seorang budak belian. Suatu ketika Rasululah saw –sebelum menerima wahyu- menjumpai Zaid kecil sedang dipromosikan untuk dijual di Pasar Ukkaz. Karena terkenal keelokan budi zaid Rasul pun tertarik untuk membelinya. Hanya saja beliau saat itu tiada memiliki harta yang cukup.

Sepulang dari Ukkaz, beliau menceritakannya kepada Ibunda Khadijah. Hanya saja Rasul menekankan, beliau tiada memiliki uang yang cukup untuk membelinya. Isyarat ini diterima oleh Khadijah sebagai isyarat perintah Rasul. Beliau segera menawarkan kepada pamannya Waraqah bin Naufal. Jadilah Zaid `budak` Waraqah. Akhlak dan perangainya yang baik, santun serta tutur kata yang sopan membuat setiap orang tertarik padanya.

Rasulullah suatu ketika mengungkapkan rasa takjub kepada istri beliau Khadijah. “Sesungguhnya aku menyukainya, bagaimana jika engkau berikan dia kepadaku?”.

“Aku khawatir, nanti engkau akan menjualnya?”, Khadijah menyela

“Aku akan mengangkatnya sebagai anak, jika engkau tak berkeberatan?” Rasulullah meyakinkan.

Kekhawatiran Khadijah akan kehilangan Zaid, hanya karena khawatir kehilangan kesantunan Zaid. Namun dengan akan diangkatnya ia sebagai anak angkat Rasul, beliau sangat mendukungnya.

Kita tak hendak membicarakan cerita Zaid yang namanya disebut di surat Al Ahzab. Sebagai anak angkat Rasulullah. Atau cerita yang berhubungan dengannya.

Sementara itu Ayahnya, Haritsah , seorang yang kaya raya mengupah seseorang untuk mencari putranya yang hilang. Hingga suatu saat ia menemukan Zaid berada di kebun rumah Rasulullah. Ia segera mencocokkan ciri-ciri Zaid yang diperolehnya dari Ayahnya. Ketika yakin ialah Zaid dari bani Thayyi’. Segera lelaki tersebut menghampiri Zaid.

“Bukankah engkau Zaid bin Haritsah?”, lelaki tersebut menyelidik.

“Bukan!”, Zaid mengelak “Aku adalah Zaid bin Muhammad” sambungnya kemudian.

Setelah berbicara kesana-kemari. Lelaki tersebut kembali menegaskan. “Bukankah engkau dari bani Thayyi’?”.

Kali ini Zaid tak bisa mengelak lagi. Laki-laki tersebut telah memiliki data lengkap tentang dirinya.

Lalu disampaikan olehnya kepada Zaid bahwa ayahnya sedang mengupahnya untuk mencari putranya yang telah lama hilang. Zaidpun menyuruhnya kembali.

Pada suatu kesempatan; Ayahnya, Haritsah bersama keluarganya serta para pembesar kabilah mendatangi Zaid di kediaman Rasulullah.

Tak lama kemudian terjadilah dialog tawar-menawar antara Rasululah dengan ayah Zaid, Haritsah dan keluarganya.

“Wahai Muhammad, kedatangan kami kemari hanya menginginkan kembali anak kami yang telah lama menghilang!”, Haritsah mewakili kabilahnya. Kemudian melanjutkan perkataannya,”Ambillah semua harta ini, atau yang engkau inginkan. Kami hanya meminta kembali anak kami!”.

Permohonan ini dijawab dengan ramah oleh Rasulullah,”Jika kalian menginginkan aku mengambil imbalan sebagai ganti dari Zaid. Ambillah saja harta kalian. Jika kalian berkehendak, masuk sajalah ke agamaku”.

Mereka pun terhenyak mendengar tawaran dari Rasulullah yang mengejutkan. Dan mereka mempertahankan kemuliaan kabilah dengan agama nenek moyang mereka. Seketika mereka membayangkan akan terjadi perdebatan yang menegangkan. Namun bayangan ini ditepis dengan bahasa santun Rasulullah

“Kalau memang demikian, kalian ambil saja kembali harta kalian. Dan bawalah Zaid kepada ayahnya”.

Akhirnya mereka hendak mengambil kembali Zaid. Namun betapa terkejut, ketika mereka mendengar perkataan Zaid,”Aku tak akan menemukan selain Muhammad sebagai penggantinya bagiku di sini”

Orang tua Zaid pun pulang ke kabilahnya dengan tangan hampa. Putranya lebih memilih mencintai orang lain dari padanya. Haritsah terus memikirkan keanehan tersebut. Hingga ia mengakui kuatnya pancaran cinta Rasulullah yang tertanam dalam hati putranya. Ia pun segera kembali ke rumah Rasulullah dan menyatakan keislamannya di saksikan putranya.

“Wahai putraku, Zaid. Aku memeluk Islam sebagai agamaku bukan karena hendak mengambilmu. Namun karena aku begitu memahami betapa engkau sangat mencintai pribadi Muhammad sebagai orang tuamu yang mendidikmu menjadi dewasa”

Kekuatan cinta ini memancarkan sinar hidayah. Zaid dan Rasulullah saw adalah simbol pertautan cinta. Sampai-sampai para tetangganya menyebut Zaid bin Muhammad yang akhirnya ditegur oleh Allah.

Belum pernah putra kabilah Thayyi` meninggalkan kabilahnya karena orang lain. Bahkan dari orang tuanya. Dan ini terjadi pada diri Zaid. Kasih sayang dan ketulusan cinta yang diberikan Rasulullah telah meninggalkan pengaruh pertautan yang sangat kuat. Zaid mencintai Rasul. Rasulpun sangat mencintainya. Bahkan putranya, Usamah, panglima termuda kala itu sampai-sampai dijuluki dengan `Kekasih putra Kekasih`.

Kekuatan cinta bisa menembus keangkuhan, kezhaliman akan dirobohkannya. Kesombongan dan tirani akan diluluhlantakkan dan terlebur oleh ketulusan cinta. Bahkan kelembutan dan kesantunan akan semakin halus dengan kedalaman makna cinta.

Selain Khabab dan Zaid, masih ada kepahlawanan dahsyat yang juga ditunjukkan oleh para perempuan seperti Sumayyah Ummu Yasir, yang juga menemui ajalnya sebagai syahidah pertama karena mempertahankan akidah dan kecintaannya kepada Rasulullâh SAW. Demikian halnya kepahlawanan dan keberanian yang ditunjukkan oleh Nusaibah binti Ka’b yang menjadi tameng dan perisai hidup Rasulullah SAW pada Perang Uhud. Kepahlawanan yang disaksikan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

*****

Lihatlah perumpamaan sederhana antara harimau dan rusa. Rusa memiliki kecepatan lari bisa melebihi 90 km/jam, sementara harimau hanya bisa berlari dalam kisaran 50-60 km/jam. Secara teori kemampuan lari rusa takkan bisa dikejar harimau. Tapi faktanya tak sedikit rusa yang berhasil dimangsa oleh harimau. Jika diamati, ketika berlari rusa lebih sering menengok ke arah belakang. Semakin dekat harimau, rusa semakin gelisah dan itu menurunkan daya kecepatannya secara tidak langsung.

Demikian halnya saat ini, umat Islam lebih sering mendengar kehebatan dan kekuatan islamphobia yang makin membesar. Potensi dan daya besar yang dipunyai sering terlupakan untuk dirawat dan dibesarkan. Fokus menjadi berkurang, sehingga mudah dibodohi, mudah diteror, dijadikan korban, dimarginalkan serta diadu domba.

Semoga dengan madrasah Ramadan, kelak umat ini menjadi umat yang kembali pada tradisi kepahlawanan yang hebat. Kembali pada tradisi kemenangan yang bermartabat. Minal ‘Âidîn wal Fâizîn, kembalikan tradisi kepahlawanan dan kemenangan.

 

#RamadanDay17

Alfaqîr Saiful Bahri

 

*) sebagian tulisan dikutip dari buku penulis, Kemenangan Cinta, Eraintermedia, 2005

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (3) KEMBALIKAN TRADISI MEMBERI DAN KEDERMAWANAN

ISLAMIC (24)

Di #RamadanDay15 mari kita lanjutkan telaah serial minal ‘âidîn yang ketiga.

Kali ini –biidznillah- kita akan membicarakan penuturan Ummul Mu’minin Aisyah radhiyalLâhu ‘anhâ tentang salah satu akhlak Rasulullah SAW. Sebagaimana diriwayatkan al-Bukhary, Muslim dan Baihaqiy, Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang sangat dermawan, dan ketika memasuki bulan Ramadan beliau menjadi sangat lebih dermawan melebihi angin sepoi-sepoi yang bertiup. Kedermawanan yang sangat luar biasa.

Siapa di antara manusia di bumi-Nya yang tak pernah mendapatkan sentuhan/tiupan angin. Itu adalah nikmat Allah yang diberikan kepada siapa saja dari makhluk-Nya tanpa memandang apakah mereka taat atau maksiat, baik atau buruk, dan sebagainya.

Kedermawanan Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam makin terkuak saat beliau meninggal dunia. Satu demi satu kedermawanan beliau diketahui oleh para sahabatnya. Kedermawanan yang bukan sekedar diajarkan, tetapi kedermawanan yang dicontohkan dengan luar biasa.

Pemahaman, bahwa harta tak bisa dibawa mati seseorang tak selamanya tepat. Redaksi pasnya mungkin bisa ditakwilkan begini; harta manusia takkan bisa dibawa mati sendiri. Karena Allah telah memberikan cara membawa harta hingga sampai pada kehidupan setelah mati dan nantinya di hari kebangkitan. Yaitu, dengan cara dititipkan ke banyak orang. Harta yang dikaruniakan Allah kepada manusia ini bisa bermanfaat dan menjadi bekal kematian, dengan syarat tidak dibawa sendiri. Ada berbagai proyek penitipan harta yang ditunjukkan oleh Allah.

Kedermawanan pada hakikatnya dimotivasi oleh pemahaman pelakunya terhadap anjuran kebaikan ini. Jika Allah di dalam al-Quran menyebutnya secara bertingkat, maka itu sebagai isyarat bahwa kedermawanan adalah pilihan dan sikap yang terus bertingkat dan tiada ujungnya. Dalam Islam ada kedermawanan yang bersifat wajib, sharing (berbagai) yang harus dilakukan, yang dikenal dengan ZAKAT. Bahkan kewajiban utama setiap muslim bernama ZAKAT FITRAH spirit utamanya bukan spirit kekayaan dan kemampuan, tetapi spirit berbagi dan membersihkan jiwa. Dengan semangat memberi. Maka zakat fitrah diwajibkan bagi siapa jiwa yang memiliki makanan. Bahkan jika ada seorang bayi yang terlahir di sore hari terakhir di bulan Ramadan, maka ayah atau walinya wajib mengeluarkan zakat fitrah untuknya.

Demikian halnya, zakat mal dan zakat-zakat turunannya. Adalah bagian dari pembiasaan tradisi memberi dan kedermawanan.

Allah juga memotivasi sedekah dan infak dengan gambaran-gambaran dahsyat keutamaan dan reward yang dijanjikannya. Pelipatan nilai kebaikan yang hanya diketahui oleh-Nya. Perumpaan kedermawanan ini Allah gambarkan bagai taman dan tumbuhan di atas bukit, yang jika ada hujan deras maka ia akan terkena air terlebih dahulu, jika hanya ada gerimis maka airnya hanya akan mengenai tanaman-tanaman tersebut. Lihat QS. Al-Baqarah: 265.

Menariknya, selain memotivasi sedekah dan infak setelah mewajibkan zakat, Allah menyebut juga dengan sebutan pinjaman yang baik “qardhan hasanan”. Mengapa sampai adalah istilah pinjaman ini. Siapakah kita, sehingga Allah sampai menyebut kelaikan memberi pinjaman kepada-Nya? Coba renungkanlah ayat-ayat berikut: QS. Al-Baqarah: 245, Al-Maidah: 12, Al-Hadid: 11, 18, At-Taghabun: 17 dan Al-Muzammil: 20.

Bukankah, seharusnya Allah cukup mewajibkan zakat dan –hampir selalu- mengaitkannya dengan shalat merupakan indikasi sebuah keharusan (kewajiban)?

Ini soal rasa. Soal kelembutan hati. Allah ta’ala, ingin mengetuk orang-orang mukmin yang berhati lembut. Setelah diwajibkan zakat dan dimotivasi untuk bersedekah dan berinfak, Allah menggelitik orang-orang baik untuk meminjamkan hartanya kepada Allah.

Bukankah harta ini milik-Nya. Mengapa Allah perlu “meminjam”?

Gaya bahasa al-Quran ini bukan sekedar indah dalam penuturan dan susunan kalimat serta pilihan katanya, tetapi juga mengena hati pembacanya. Jika seseorang “tahu diri”, bahwa semua fasilitas hidupnya adalah pemberian Allah, kemudian untuk menjadikan dirinya dermawan Allah “perlu” meminjam dari dirinya, sungguh sangat terlalu jika ia kemudian mengabaikan tawaran kebaikan dan transaksi dahsyat nan luar biasa ini.

Lihat pula motivasi-motivasi kebaikan lainnya dalam ayat-ayat-Nya atau hadis Nabi-Nya. Yang terbaik di antara kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya. Demikian penuturan Rasulullah shallalLâhu ‘alaihi wasallam. Bahwa ending dari mempelajari Alquran adalah menebar kemanfaatan yang lebih luas, yaitu dengan memberikan isinya, mengajarkannya. Lihat pula sifat Rabbaniyyin dalam surah Ali Imran: 79. “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbâni, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab…” Mengajarkan adalah salah satu jenis kedermawanan dan memberi. Dan itu mustahil dilakukan ketika seseorang berada dalam ketidakberdayaan. Maka seorang yang rabbaniy perlu untuk “…kamu tetap mempelajarinya”.

Jika Anda punya harta yang dilimpahkan Allah, segeralah tunaikan zakat dan giat bersedekah kemudian menaikkan grade dengan berani dan mampu memberikan pinjaman yang baik kepada Allah.

Jika Anda punya ilmu yang diberikan Allah, tetaplah untuk terus belajar dan mulailah bertransaksi kebaikan dengan mengajarkannya.

Jika Anda sanggup tersenyum pagi ini, segeralah tersenyum. Tebarkanlah senyum shadaqah, dengan iringan salam yang akan damaikan dunia yang mulai kehilangan cinta.

Jika Anda punya waktu yang juga karunia Allah, sempatkanlah membaca dan mempelajari al-Quran. Targetkan untuk menjadi seorang rabbaniy yang akan mengajarkan kitab-Nya kepada sebanyak mungkin masyarakat yang bisa dijangkau.

Jika Anda punya semangat. Segera tularkan dan motivasilah sebanyak mungkin orang-orang yang Anda cintai disekeliling Anda. Berikanlah kepada siapa saja orang-orang yang memerlukannya. Agar kebaikan ini mudah dan masif dilakukan oleh banyak orang.

Jika Anda merasa tak memiliki apa-apa, maka itu mustahil terjadi. Karena Allah selalu membekali hamba-Nya dengan berbagai kebaikan dan karunia-Nya. Maka, tak ada alasan untuk tidak mengembalikan tradisi kedermawanan dan memberi. Untuk membangun kembali fondasi kebaikan dan kebangkitan umat Islam.

Masih ada waktu untuk berjuta kebaikan di bulan mulia.

 

#RamadanDay15

Alfaqîr Saiful Bahri

Serial MINAL ‘ÂIDÎN (2) KEMBALIKAN TRADISI CINTA DAN PERSAUDARAAN

ISLAMIC (13)

Di #RamadanDay14 mari kita lanjutkan telaah minal ‘âidîn yang kedua. Kali ini kita akan berbicara tentang cinta dan persaudaraan. Tentang sebuah kisah nyata dari negeri cinta.

Alkisah, sahabat Ali bin Abi Thalib ra hendak sarapan. Ia bertanya kepada istrinya, pagi itu hidangan apa yang akan mereka santap. Fatimah menjawab sedih, bahwa mereka tak memiliki apa-apa. Makanan terakhir mereka sudah dimakan oleh anak-anak mereka semalam. Pagi itu tiada sarapan untuk Ali dan anak istrinya.

Ali bergegas bangkit. Kondisi lapar dan keadaannya keluarganya tak menjadikannya lesu dan lemah. Justru sebaliknya, ia bersemangat segera keluar rumah untuk mencari rizki Allah menafkahi keluarganya. Hari yang sulit, dilaluinya dengan penuh semangat. Terik matahari yang membakar tak membuat nyalinya menyusut.

Siang yang panas itu dengan jelas menggambar mukanya yang berpeluh. Ia telah menggenggam beberapa keping dirham. Penuh syukur, wajahnya berseri menyiratkan tanda gembira. Ia bersiap untuk segera pulang. Bahagiakan anak istrinya.

Di perjalanan, ia bersua dengan sahabat karibnya. Al-Miqdad saudara seimannya. Wajahnya pucat, badannya basah oleh keringat. Tergurat keletihan yang sangat dalam dirinya. Ia bertanya kabar. Al-Miqdad membalas dengan senyuman yang tertahan. Ali membaca dengan samar tumpukan duka di wajahnya.

“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku takkan menggerakkan kedua tepalak kakiku sebelum engkau bicara jujur kepadaku apa masalahmu saudaraku?” Ali mengguncangkan badan al-Miqdad. Lirih, ia menjawab bahwa telah dua hari lewat ia tak sanggup memberi makan istri dan anak-anaknya.

Ali tertegun sejenak kemudian mencengkeram bahu sahabatnya. Ia mengangkatnya seraya berdiri.

“Saudaraku, terimalah ini. Meski tak banyak, terimalah. Bergegaslah pulang. Beri makan keluargamu!” Ali meraih tangan kanan saudaranya, al-Miqdad ia berikan beberapa dirham yang didapatkannya hari itu.

Miqdad merangkulnya bahagia. Ia berterima kasih dan segera melaksanakan apa yang dikatakan saudaranya, Ali.

Ali menatap tubuh al-Miqdad menjauh dan kemudian menghilang.

Sejenak kemudian, ia kebingungan. Apa yang akan dibawanya pulang. Kegundahan yang kemudian menghantarkannya untuk menuju Masjid Nabawi menjelang sore. Di masjid itu Ali berjumpa dengan mertuanya, Nabi Muhammad SAW. Wajah tegarnya membuatnya kembali tersengat semangat. Senyum ramahnya membuatnya sesaat dukanya sirna. Tatapan wibawanya, membuatnya takzhim dan membalasnya.

“Bagaimana keadaanmu Ali?” Sang mertua bertanya kepada menantunya, Ali.

“Alhamdulillah baik, wahai Rasulallah” Ali menjawab santun.

Kalimat-kalimat selanjutnya lah yang kemudian membuat Ali benar-benar tertegun. Rasulullah SAW menyatakan bahwa mala mini beliau berhasrat ingin makan malam di rumah Ali!

Deg. Jantung Ali serasa berhenti sejenak. Ali mengiyakan apa yang dikatakan oleh mertuanya, Nabi Muhammad SAW. Malamnya dengan langkah ragu Ali mengiringi manusia agung itu bertamu ke rumahnya. Keringat dinginnya terus keluar sambil berpikir apa yang akan dihidangkan untuknya.

Setiba dirumahnya, wajah ceria Fatimah menyambut dengan suka cita. Ali keheranan. Karena saat melepasnya pagi tadi wajahnya pucat dan lesu. Keheranannya bertambah ketika istrinya mempersilakan mereka untuk bersiap menyantap hidangan makan malam.

“Wahai suamiku, wahai ayahku. Aku telah menyiapkan hidangan makan malam untuk kalian”

Terbengong Ali menatap istrinya. Fatimah merasa tatapan aneh suaminya membawa curiga, ia pun segera berkata, “Maaf suamiku. Sore tadi ada seseorang membawa pesan dari sahabatmu, fulan. Ia berkirim makanan untukmu dan keluargamu”

Rasulullah SAW tersenyum, menambahkan. “Ali, menjelang sore tadi Jibril mendatangiku. Ia menyuruhku untuk makan malam di rumahmu”

Wajah Ali berseri-seri. Tiada henti ia bertahmid memuji Dzat yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Itulah sepenggal kisah persaudaraan yang nyata. Bukan sebuah dongeng. Ada puluhan bahkan ratusan kisah serupa. Menjelang Muhajirin hijrah ke Madinah, sahabat Anshar menerima mereka yang bukan siapa-siapa bagi mereka. Kisah cinta dan persaudaraan yang diabadikan sejarah. Yang menjelma menjadi kekuatan dahsyat, saat umat Islam menjalani episode cinta dan persaudaraan dengan baik, maka umat ini benar-benar berwibawa dan bermartabat.

Saatnya kita kembalikan tradisi cinta dan persaudaraan ini. Semoga madrasah Ramadan ini menjadikan diri kita kembali sebagai pribadi-pribadi yang saling mencintai sesame muslim. Sehingga tak ada ruang dalam hati kita bernama dengki dan iri. Cerita saling mengkafirkan hanya menjadi bagian kelam masa lalu yang terkubur dalam-dalam. Orang-orang yang menyulut fitnah, membenci, mencaci dan membenci sahabat Nabi SAW juga tak mendapatkan kesempatan berada di tengah-tengah kisah cinta ini. Takkan ada lagi celah untuk mengadu domba. Takkan ada lagi godaan saling menyalahkan dan memojokkan saudaranya. Yang ada adalah saling topang dan menyintai.

Musuh-musuh takkan berani lagi mengusik umat ini, karena mereka memahami dahsyatnya kekuatan cinta dan persaudaraan.

 

#RamadanDay14

Alfaqîr Saiful Bahri

@L_saba