Belajar Berpikir Kontributif dari Nabi Ibrahim’alaihissalâm

📚 Intisari Khutbah Idul Adha 1441 H 📚

📔 BELAJAR BERPIKIR KONTRIBUTIF DARI NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM

👤 Dr. H. Saiful Bahri, Lc., M.A

Takbir tahmid dan shalawat, syahadatain…
Amma ba’du

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Allah SWT berfirman dalam al-Quran:
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Surah Ibrahim ayat 37)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullâh…

Nabi Ibrahim _alaihissalâm_ merupakan salah satu Nabi Allah yang disebut dengan ulul ‘azmi. Beliau menjadi teladan bagi umat ini dalam berdakwah, berjuang menyampaikan risalah Allah. Teladan dalam berkorban dan beramar makruf.

Di antara pelajaran utama yang patut untuk ditiru dari Nabi Ibrahim adalah cara berpikir kontributif dalam bermasyarakat. Terutama yang Allah abadikan dalam Surah Ibrahim ayat 37.

1. Beliau (hanya) mengeluhkan keadaannya kepada Allah. Menandakan kuatnya interaksi dan keyakinannya kepada Allah. Hamba Sang Maha Kuat akan kuat, Hamba Sang Maha Kaya akan merasa mampu berkontribusi dan mampu melampaui rintangan hidup. Orang yang berkeluh kesah kepada Allah, berpeluang meminimalisir mengeluh kepada selain Allah.

2. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar keluarga dijadikan orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat. Orang yang mampu mendirikan shalat akan mampu menunaikan zakat dan bersedekah. Orang yang mendirikan shalat adalah pribadi yang mengagungkan Allah. Karena gerakan-gerakan shalat adalah takbir dan ikrar pengagungan terhadap Allah.

3. Nabi Ibrahim berdoa agar hati-hati manusia condong kepada keluarganya. Bukan berarti beliau meminta belas kasihan. Namun, sebaliknya, beliau memohon kepada Allah agar menjadikan keluarganya sebagai trendsetter kebaikan, inspirasi kebaikan yang selalu menjadi magnet ketertarikan orang-orang untuk melakukan berbagai kebaikan.

4. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar mereka diberikan rizki berupa buah-buahan yang menghasilkan. Baik yang yang tumbuh dari bumi, ataupun dimaknai secara umum, apa saja yang membuahkan hasil “tsamarât”. Dan supaya mereka senantiasa bersyukur, dengan senantiasa berpikir kontributif.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullâh…

Nabi Ibrahim mengajarkan keluarganya dan kita semua untuk berusaha mengekalkan nama baik kita di bibir orang-orang shalih, agar nama kita terus ada dalam doa-doa mereka, sepanjang masa. Itulah permohonan dan doa Nabi Ibrahim yang diabadikan Allah dalam surah Asy-Syu’ara ayat 84. Menjadi tutur kata yang baik bagi generasi setelahnya.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa beliau mewakafkan anak-anaknya menjadi juru dakwah yang tersebar di Semenanjung Arabia, di Syam dan di Afrika.

Orang-orang yang berpikir kontributif akan diberdayakan dan dimampukan Allah. Ia senantiasa berpikir untuk berbagi, memberi, melayani dan terlibat dalam berbagai kegiatan dan proyek-proyek kebaikan. Sekalipun ia dalam keadaan sulit atau terperangkap ketidakberdayaan, ia akan berupaya untuk melompatinya dengan sepenuh keyakinan kepada Allah.

Sedangkan orang yang memiliki pola pikir eksplotatif akan berpikir untuk selalu mendapatkan, mengumpulkan, memonopoli, mengambil, memanfaatkan untuk diri sendiri. Akibatnya ia akan kurang mampu bersyukur dan selalu merasa kurang meskipun terlihat berkecukupan secara materi. Ia berpotensi menajdi rakus dan tamak.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullâh…

Ya Rabbana… jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu mampu berkontribusi dalam kebaikan. Menjadi inspirasi kebaikan dan senantiasa berada dalam ketaatan pada-Mu. Kumpulkanlah kami bersama shalihin dan shalihat yang Engkau cintai.
Angkatlah bala’, fitnah, dan berbagai penyakit yang terlihat dan yang tak terlihat. Gantikanlah dengan turunnya rahmat-Mu, pengampunan-Mu dan segala kebaikan dari-Mu.
Ampunilah keterbatasan kami, kekhilafan kami, kelalaian kami.

Barakallâhu fiikum…
Kullu ‘Am wa antum bikhair wa ilalLâhi aqrab wa ‘ala thâ’atihi adwam. Aamiin.

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1441 H

Belajar Bersyukur

Saiful Bahri

Sudah sepuluh hari serial tulisan kontemplasi saya terhenti. Tidak bisa memproduksi. Ada kendala di perangkat, mungkin karena kerja perangkat sudah tidak normal. Intensitas kajian online, perkuliahan sampai rapat/meeting nyaris 100% dilakukan secara daring. Berpindah-pindah dari ruang virtual satu ke ruang virtual lainnya. Tak jarang Hp saya jadi overheat, kepanasan. Laptop juga demikian. Beberapa tuts di keyboard saya tidak berfungsi. Hingga akhirnya saya give up. Saya memindahkan sebagian pekerjaan melalui HP dan sesekali dengan tablet.

Baca lebih lanjut

Rasulullah SAW Merasa Kehilangan Petugas Kebersihan

Saiful Bahri

Pagi ini yang cerah setelah berolah raga ringan, alhamdulillah saya sempat mencabuti tumbuh-tumbuhan liar yang ada di halaman rumah, juga di depan pagar ilalang meninggi tak beraturan. Saya segera ingat firman Allah di Surah al-A’lâ ayat 4

وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ

“dan yang menumbuhkan rumput-rumputan” (Surah al-A’lâ: 4)

Al-Mar’â adalah tanaman liar yang tumbuh di depan rumah-rumah kita, di jalan-jalan dan di berbagai tempat tanpa ada yang menanamnya. Biasanya berupa rerumputan atau ilalang. Allah lah yang menumbuhkannya, kemudian mengubahnya menjadi kuning, menghitam dan kering kemudian terbawa air (Lihat: Saiful Bahri, Tadabur Juz Amma, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2019, h. 125).

Allah yang memberi kehidupan kepada siapa saja dan apa saja, di mana saja serta mematikannya. Subhânallâh. Maha suci Allah yang memerintahkan manusia untuk bertasbih, mengikuti alam semesta yang sudah terlebih dahulu bertasbih kepada-Nya sebelum manusia ada.

Kumpulan rerumputan dan ilalang tersebut akhirnya saya kumpulkan dan saya letakkan di tempat sampah di samping kiri depan rumah. Teronggok bersama beberapa yang lainnya. Biasanya, siang menjelang sore ada petugas kebersihan yang mengambilnya untuk diteruskan ke posko pengambilan sampah yang diangkut setiap harinya pada malam atau dini hari.

Di sore atau petang dan pagi hari rumah nampak bersih. Terima kasih saya ucapkan kepada petugas kebersihan yang secara rutin membantu kami sekeluarga untuk menjaga kebersihan.

Ini adalah salah satu pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan dari rumah (Work from Home) sejak ada anjuran social distancing atau kemudian WFH dan PSBB, mereka tetap saja melakukan pekerjaannya setiap hari. Jalan-jalan pun tetap terjaga kebersihannya.

Mata saya segera menekuri sebuah kisah yang ditulis oleh Ibnu Hajar dalam biografi singkat yang menuturkan cerita tentang seorang perempuan bernama Mihjanah atau Ummu Mihjan. Biografi sahabat dan shahabiyat Rasulullah SAW yang diabadikan oleh Ibnu Hajar dalam bukunya Al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah. Biografi bernomer 989 ini menceritakan tentang seorang perempuan berkulit hitam yang rajin menyapu dan membersihkan Masjid an-Nabawiy dan halaman-halamannya dari daun-daun kering dan kotoran lainnya. Meskipun, dalam riwayat al-Bukhariy (no. 438, 440, 1170 dan 1251) tidak secara eksplisit disebutkan namanya. Ketika perempuan tersebut meninggal dunia, Rasulullah SAW terlambat diberitahu oleh para sahabatnya. Beliaupun bersabda, “Kenapa kalian tidak memberi kabar kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya padaku! Beliau kemudian mendatangi kuburannya, kemudian menshalatinya.

Ummu Mihjan adalah seorang perempuan tua yang tidak memiliki harta kekayaan, tidak punya memiliki keluarga dan keturunan. Tapi semangatnya ingin berkontribusi harus diacungi jempol dan diberi apresiasi tinggi. Ia sangat memahami bahwa refleksi keimanannya bisa ditunjukkan dengan menjaga kebersihan, karena kebersihan itu menjadi bagian dari iman dan akidahnya. Maka, ia pun mendedikasikan hidupnya untuk membersihkan dan menjaga kebersihan Masjid Nabawi. Masjid pun menjadi nyaman untuk dijadikan tempat beribadah dan sebagai pusat kegiatan lainnya seperti majelis ilmu, menerima tamu negara, berdiskusi, dan lain sebagainya. Asri, rapi, nyaman dan menginspirasi, benar-benar menjadi pusat segala aktivitas umat Islam.

Apresiasi yang tinggi ini bisa dilihat betapa Rasulullah SAW sangat memperhatikannya, sehingga ketiadaannya pun dirasakan oleh beliau saat tidak lagi terlihat dan nampak. Rasul pun mendatangi kuburnya, mendoakan perempuan lemah dan renta serta miskin itu, namun besar jasanya. Abadi dalam doa-doa kebaikan yang dilantunkan bibir manusia mulia ini.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta

Selasa, 14.04.2020

TERIMA KASIH PARA MEDIS (3): Rufaidah, Inspirasi Ilmu Keperawatan

Saiful Bahri

Di masa kelam beberapa sejarah, perempuan pernah menjadi pihak yang diabaikan dan dikucilkan bahkan disamakan dengan benda mati. Zaman pra Islam menuturkan seperti apa nasib mereka. Dianggap seperti properti yang bisa diwariskan, tak ada hak ekonomi, yang laki-laki bisa menikahi mereka tanpa batas jumlahnya. Bahkan ada kebiasaan buruk yang dikenal dengan wa’du al-banât yaitu membunuh anak perempuan dengan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib memiliki anak perempuan. Maka Allah pun mengecam perilaku jahiliyah ini (lihat: QS. An-Nahl: 58, Az-Zukhruf: 17 dan At-Takwir: 8).

Penghormatan Islam terhadap Islam terlihat jelas dan mencolok melalui surat An-Nisa’. Perempuan bukan sekedar diselamatkan dari kezhaliman, tapi ia diberi hak ekonomi dan berperan di tengah masyarakat. Karena itulah, kita mengenal nama-nama shahabiyah yang memiliki peran penting dalam sejarah dan peradaban Islam. Di antara nama-nama tersebut adalah Rufaidah al-Aslamiyah. Inspirator ilmu keperawatan dan kesehatan masyarakat.

Hari-hari ini, perawat adalah di antara orang-orang yang berada di garis paling depan dalam menghadapi pandemi Covid19. Mereka membersamai pasien lebih lama. Dengan berbagai macam tipe pasien dan jumlah yang sangat banyak, tentunya hal itu memerlukan ekstra kesabaran dan sekaligus stamina fisik dan mental yang kuat.

Rufaidah terlahir dari klan Bani Sa’d. Terlahir dari keluarga kaya, memiliki hobi menulis dan membaca. Beliau termasuk di antara orang-orang yang pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar di Madinah. Kemahiran merawat dan mengobati orang didapatinya dari ayahnya yang juga seorang dokter, Sa’d al-Aslamiy. Ia mampu mengoordinir para muslimah untuk bisa membantunya menjadi perawat yang baik. Mereka dilatih untuk berhadapan dengan kondisi pasien dalam kondisi yang paling buruk sekalipun.

Kemahiran beliau terlihat menonjol pada saat peperangan Badar, Uhud, dan Khandak serta Khaibar. Para sahabat yang terluka mendapatkan perawatan yang cukup memadai dan baik. Beliau meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk menggalang para muslimah agar bisa berada di barisan belakang untuk mengantisipasi para sahabat yang terluka dan memerlukan bantuan medis. Seusai perang pun beliau mendirikan tenda di sekitar Masjid Nabawi untuk menangani para korban perang yang memerlukan perawatan lanjutan dan intensif.

Ide briliannya yang direkam sejarah adalah tentang pembagian shift para perawat untuk menangani pasien. Ide inilah yang saat ini berlaku di berbagai rumah sakit, yaitu adanya shifting.

Di antara sahabat yang pernah dirawat Rufaidah hingga sembuh adalah Sa’at bin Mu’ad, yang terluka akibat serangan panah di perang Khandaq. Sepenggal kisah ini bisa dibaca di dalam Al-Ishâbah fi Tamyîz ash-Shahâbah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy ketika menuturkan biografi singkat Rufaidah. Rasulullah SAW memerintahkan, “Bawalah ia ke khaimah (tenda) Rufaidah yang di Masjid, aku akan menjenguknya dalam waktu dekat”. Dan Rasulullah SAW pun memantau terus perkembangan kesehatan Sa’d. Karena jasanya ini maka beliau memberikan ghanimah kepada Rufaidah sama seperti bagian laki-laki yang ikut berperang.

Kisah heroik Nusaibah binti Ka’b di perang Uhud pun bermula dari para medis, perawat-perawat yang ada di barisan belakang. Mereka, juga dibelaki pengetahuan membela diri dan menangani kondisi-kondisi berat, termasuk menghalau mereka yang hendak melarikan diri dari medan pertempuran.

Pengabdian Rufaidah dalam dunia kesehatan tidak hanya dilakukan dalam kondisi perang. Di luar musim perang, ia juga membuka semacam klinik gratis bagi siapa saja yang memerlukan pengobatan. Dari gagasan beliau inilah saat ini kita bisa mengenal unit perawatan intensif.

Dunia keperawatan hari ini sudah sangat maju. Bahkan sudah menjadi disiplin ilmu sampai jenjang yang paling tinggi, di perguruan tinggi, sejak jenjang S1 hingga program doktoral (S3).

Namun, tetaplah kebersamaan dan kolektifitas semua unsur para medis serta masyarakat dan tentunya pemerintah sangat diperlukan untuk menghadapi pandemi global saat ini. Paling tidak kisah Rufaidah memberi wawasan pentingnya kontribusi sesuai kemampuan dan kemahiran bisa sangat berarti. Karena manusia yang terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat untuk sesamanya.

Terima kasih kepada para perawat yang membersamai para pasien dan penuh kesabaran. Yang rela mengorbankan waktunya dan kesempatan berkumpul dengan keluarga, demi melawan wabah penyakit dan menginginkan sebanyak mungkin orang kembali ke rumahnya dalam keadaan baik-baik.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta

Memulai Senin, 13.04.2020

TERIMA KASIH PARA MEDIS (2): Kontribusi Dokter Muslim dalam Sejarah

Saiful Bahri

Ibnu Sina (w. 1037 M /428 H) bukan hanya dikenal sebagai sang maestro kedokteran melalui karyanya Al-Qanun fi ath-Thib, tapi beliau memiliki warisan penting di dunia kedokteran yaitu anesthesia, yaitu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan. Saya menemukan warisan-warisan keilmuan penting para dokter muslim lainnya, seperti Abu Bakar ar-Razi (w. 925 M/313 H) seorang dokter yang muncul dari fenomena banyaknya “dokter” palsu dan adanya tuduhan kepada dokter yang benar-benar dokter tapi disalahkan oleh pasien atau kerajaan karena tidak bisa menyembuhkan suatu penyakit. Beliau kemudian meneliti dan membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Buku kedokteran fenomenal beliau Al-Hâwi fi ath-Thibb  menjadi warisan kedokteran yang sangat bernilai. Penelitiannya kemudian disempurnakan oleh Ibnu Sina. Mereka berdua adalah peletak dasar ilmu bakteriologi, sebuah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan dan klasifikasi bakteri. Mereka berdua juga telah menggunakan psikoterapi dalam mengobati pasien untuk mengatasi gangguan mental dan kejiwaan.

Ada nama Abu Al-Qasim az-Zahrawiy (w. 1013M/400 H), dokter muslim pertama yang melakukan pembedahan. Karena itu beliau dikenal dalam dunia kedokteran sebagai mahaguru dokter bedah. Buku fenomenalnya yang sangat tebal at-Tasrif (30 jilid) merupakan kumpulan praktik kedokteran yang dilakukan olehnya. Dalam kitab yang diwariskannya bagi peradaban dunia itu, Al-Zahrawi secara rinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedi, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga mengupas tentang kosmetika. Al-Zahrawi pun ternyata begitu berjasa dalam bidang kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodoran, hand lotion, pewarna rambut yang berkembang hingga kini adalah turunan dari penelitiannya.

Kemudian al-Hasan ibnu al-Haitsam (w. 1040 M/430 H) adalah orang yang berjasa dan punya kontribusi penting dalam opthamology, yaitu cabang kedokteran yang berkaitan dengan penyakit dan bedah syaraf mata, otak dan pendengaran. Pakar optik dan peneliti mumpuni tentang cahaya ini mengilhami banyak ilmuan dan para penemu mikroskop dan teleskop serta pengembangan tentang lensa.

Saya berpikir siapakah yang mengorbitkan nama dokter-dokter dan dunia kedokteran secara akademik ini. Akhirnya saya menemukan sebuah buku berjudul KitâbUyûnu al-Anbâ’ fî Thabaqât al-Athibba’ karya seorag dokter muslim Abu al-Abbas, Ibnu Abi Ushaibi’ah (w. 668 H). Buku ini awalnya berupa manuskrip yang dimiliki oleh Musthafa Bahgat (seorang Jaksa Mesir) lebih dari 200 tahun yang lalu dan dikoleksi oleh Bibliotheca Alexandrina di Mesir, dan kemudian dicetak dan diterbitkan oleh Dar al-Maarif di Cairo pada tahun 1996. Buku setebal 424 halaman ini menjelaskan tentang kedokteran dan dokter-dokter dari sejak zaman pra Islam. Dr. Amir an-Najjar (Guru Besar Filsafat Universitas Asyuth) memberikan prolog penting tentang dunia kedokteran, termasuk profil Abu Bakar ar-Razi dan Ibnu Sina. Meski tak semua nama dokter muslim termaktub dalam buku ini, namu banyak maklumat penting tentang dunia kedokteran sejak zaman Yunani kuno yang disebutkan di dalam buku ini.

Ibnu Abi Ushaibi’ah juga menukil beberapa sumber yang ada dalam karya lain sejenis yang sudah ada sebelumnya, Tarikh al-Athibba wa al-Falâsifah karya Ishaq bin Hunain (w. 298 H) dan Thabaqât al-Athibbâ’ wa al-Hukamâ’ karya Abu Dawud Sulaiman Ibnu Juljul yang diselesai ditulis pada 377 H. Keduanya diterbitkan dalam satu buku oleh Muassasah ar-Risalah di Beirut, pada tahun 1985.

Sebenarnya jauh sebelum terkenalnya Ibnu Sina, terdapat banyak tokoh muslim yang dokter. Di antara yang perlu diketahui adalah tokoh dokter di zaman risalah kenabian, yaitu Ibnu Abi Rimtsah at-Tamimiy. Beliau adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga seorang dokter. Sebenarnya ada juga tokoh antagonis dari Kabilah Quraisy yang berprofesi sebagai dokter seperti al-Harits bin Kaladah, dan An-Nadhar bin Harits yang sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW.

Para dokter muslim sebenarnya memiliki misi penting yaitu memerangi perdukunan dan hal-hal yang berbau klenik di zaman awal Islam. Kekosongan spiritual ini menjadi misi penting kenabian Muhammad SAW agar mengagantungkan segala hal kepada Allah. Namun demikian, beliau sangat menganjurkan pengobatan jika dalam menghadapi penyakit. Tawakkal yang dibarengi dengan usaha dan ikhtiyar maksimal. Dalam sabdanya beliau menyampaikan pesan tersebut.

تَدَاوَوْا؛ فَإِنَّ اللهَ  لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاِّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ: الـْهَرَمُ

Berobatlah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali dijadikan baginya obat. Kecuali satu peyakit, yaitu penyakit tua.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad)

Suatu saat Abi Rimtsah hendak melakuka pengobatan kepada Rasulullah SAW.

عَنْ أَبِي رِمْثَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَبِي فَرَأَى الَّتِي بِظَهْرِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أُعَالِجُهَا لَكَ فَإِنِّي طَبِيبٌ قَالَ أَنْتَ رَفِيقٌ وَاللَّهُ الطَّبِيبُ

Dari Abu Rimtsah ia berkata, “Saya menemui Rasulullah SAW bersama bapakku, lalu bapakku melihat sesuatu yang ada di punggung beliau, maka ia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, maukah tuan aku obati, sesungguhnya saya adalah seorang tabib?” beliau bersabda: “Kamu ini hanya perantara -saja- dan Allah-lah yang -sesungguhnya- menjadi tabib.” (HR. Ahmad bin Hanbal no. 16843, Abu Dawud no.3674)

Itulah sepenggal kisah para dokter muslim yang telah mendermakan diri dan ilmu yang dipelajarinya untuk kemanusiaan. Berharap di masa mendatang para dokter muslim kembali menjadi rujukan penting dalam dunia kedokteran dan kesehatan. Bersama untuk membimbing umat ini agar tetap sehat lahir batin, serta bermanfaat untuk membangun peradaban manusia yang beradab dan bermartabat.

Maka, saat ini kita bantu mereka untuk menjaga kesehatan agar tidak membebani mereka yang sedang berhadapan langsung dengan wabah yang mengglobal saat ini.

Jaga pola hidup sehat, istirahat yang baik, makan dari yang halal dan thayyib, berbahagia dan bahagiakan orang lain. Stay home and save lives.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta

Jeda perkuliahan sore, Sabtu, 11.04.2020

TERIMA KASIH PARA MEDIS (1): Puasa dan Imunitas di Tengah Wabah Covid19

Saiful Bahri

Sejak semalam, saya berdecak kagum membaca Al-Qanun fi ath-Thib, karya Ibnu Sina (w. 1037 M – 428 H), terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1999 M – 1420 H. Saya berterima kasih kepada Muhammad Amin adh-Dhanawiy yang menyiapkan naskah ini sehingga menjadi enak dibaca.

Sebuah naskah, karya monumental seorang ilmuan muslim bernama al-Husain yang wafat hampir seribu tahun yang lalu. Filsuf yang juga dokter ini menulisnya dari berbagai pendekatan, karena manusia adalah subyek peradaban maka meneliti kesehatan tidak bisa dipisahkan dari prinsip i’tidal (keseimbangan) dalam berbagai hal, sebelum melihatnya dari sisi materi atau fisik. Ia juga mengupas dengan detil otak manusia dan beberapa penyakit kepala, sampai kesehatan dan kedokteran gigi juga ada di buku ini.

Sebenarnya, ketertarikan saya pada tema ini muncul di tengah keprihatinan meningkatnya korban Covid19 di kalangan para medis; dokter dan perawat yang gugur saat menjalankan tugasnya sebagai mujahid berhadapan langsung melawan virus ini. Betapa mulianya profesi mereka. Di saat semua orang diminta menjauh dan saling berjauhan, mereka mendekat karena tugas dan tanggungjawab. Maka, sisihkan dan sempatkan berdoa untuk mereka agar dikuatkan Allah dan yang gugur dimuliakan-Nya seperti halnya para syuhada.

Pagi ini saya mendapatkan sebuah broadcast yang menarik. Sebuah tulisan seorang guru besar Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Ain Syams, Cairo, yang mengupas tentang kondisi puasa dan potensi penyebaran Covid19.

Beberapa kajian ilmiah mendukung analisis beliau, di antaranya yang terpublikasi seperti Jurnal PubMed, terbitan US National Library of Medicine National Institute of Health di beberapa edisinya membahas puasa sebagai sebuah terapi dan menciptakan sistem imun. Sebagian kajiannya bahkan terhadap para penderita HIV di Afrika.

Mengenai Covid19 yang masih belum mereda, terutama di Indonesia justru mulai memasuki fase dalam kurva yang menanjak, ada semacam kekhawatiran tentang puasa dalam kondisi seperti ini.

Secara sosiologi dan ekonomi sudah jelas dampaknya, bahwa mudik lebaran tahun ini kemungkinan besar tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, kalau pun ada. Mainstreamnya tidak ada mudik lebaran. Karena keterbatasan dan kondisi yang diprediksi masih cukup membahayakan bagi penyebaran virus ini.

Sebelum lebaran, bagi umat Islam akan melalui terlebih dahulu bulan Ramadan yang diwajibkan puasa selama sebulan penuh. Apakah kondisi ini akan berdampak bagi kesehatan seseorang di tengah suasana seperti hari ini.

Secara kesehatan, belum pernah dibuktikan bahwa puasa membahayakan bagi seseorang. Justru sebaliknya, syariat Allah membawa kemaslahatan dan kemanfaatan bagi manusia. Anjuran puasa sunah pun sebenarnya sudah ada sepanjang tahun. Namun, faktanya, puasa sunah ini kurang diminati. Artinya yang melakukannya hanya sebagian orang saja. Maka, Allah mewajibkannya setahun sekali. Apalagi jika berpuasa ini dilakukan secara totalitas, dengan mengakhirkan sahur dan menyegerakan buka puasa pada waktunya, kemudian mengurangi atau meniadakan ghibah atau membicarakan aib dan kesalahan orang, memperbanyak interaksi dengan al-Quran dan menguatkan harapan kebaikan pribadi, keluarga dan masyarakat melalui doa-doa dan dzikir. Maka, pribadi muslim akan benar-benar menjadi pribadi yang sehat fisiknya, kuat spiritualnya sehingga bahagia hidupnya.

Dari pendekatan medis, puasa adalah lapar yang diprogram. Setidaknya ada beberapa manfaat puasa:

  1. Puasa membersihkan racun yang sebelumnya mengendap dalam tubuh. Berpuasa membuat tubuh melakukan pembakaran lemak dan kolesterol jahat sehingga terhindar dari racun.
  2. Puasa bisa menurunkan hipertensi. Saat berpuasa, tekanan darah akan berangsur normal dan terhindar dari aterosklerosis, penyakit yang timbul akibat plak yang banyak mengendap di dinding arteri, pembuluh darah yang membawa darah dari jantung. Saat berpuasa, jantung tidak memompa darah terlalu kencang sehingga tekanan darah menjadi normal.
  3. Puasa meningkatkan imunitas. Dengan menahan lapar dan haus selama berjam-jam dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Apalagi jika pada saat berbuka dan menyantap menu sahur dengan sayur mayur atau buah-buahan, tubuh bisa lebih fit dan kuat. “Saat Anda lapar, tubuh akan berjalan dalam sistem “hemat energi”, dan salah satu hal yang terjadi dalam moda ini adalah tubuh mendaur ulang sel imun yang tidak diperlukan, terutama sel-sel yang rusak,” ungkap Valter Longo, peneliti dan profesor di University of Southern California, Davis School of Gerontology.
  4. Puasa memperbaiki metabolisme. Berpuasa dapat mengistirahatkan kerja usus dan sistem pencernaan. Cara ini bisa membantu mempercepat metabolisme dan memperbaiki gerakan usus. Saat tubuh tidak mengonsumsi makanan, metabolisme belajar untuk membakar lemak dan mengubahnya menjadi energi secara lebih efisien. Dengan kata lain, mengingatkan tubuh untuk menjalani proses pencernaan yang semestinya
  5. Spiritualitas yang tinggi di bulan Ramadan meningkatkan kekebalan dari stres. Kepasrahan yang tinggi kepada Allah saat berpuasa, didukung dengan dzikir dan doa membuat seorang muslim menjadi lebih rileks. Saat rileks, denyut jantung, tekanan darah dan tingkat pernafasan menurun. Tekanan berkurang, stres yang menjadi pintu bagi datangnya berbagai penyakit relatif lebih tertutup.

Dulu, kita pernah punya para medis yang hebat yang menjadi rujukan kedokteran dunia. Saatnya umat Islam sekarang kembali menekuninya. Saatnya dokter-dokter muslim berkhidmah di bidangnya. Buka kembali, lembaran-lembaran sejarah para pendahulu kita. Ikuti jejak sukses peradaban mereka.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta

Jumat, 10.04.2020

 

Sumber bacaan:

Ar-Ra’yu ath-Thibby fi Thabi’ati Shiyam Ramadan Hadza al-‘Am ma’a Tafasyi Maradh Corona, Prof. Dr. As-Sayyed al-Uqdah, Guru Besar Kesmas dan Occupational Diseases di Universitas Ain Syams, Cairo.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21914677

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/?term=Ramdan+fasting+and+cellular+immunity

https://health.grid.id/read/351820208/studi-puasa-untuk-kesehatan-3-hari-memperbarui-sistem-kekebalan-tubuh?page=all

https://kumparan.com/honestdocs/3-manfaat-puasa-untuk-tingkatkan-kesehatan-tubuh-di-tengah-wabah-covid-19-1tAZAUHcckF

ARAH KIBLAT DAN OLOKAN ORANG-ORANG BODOH

Saiful Bahri

Pagi ini saya terinspirasi Surah al-Baqarah ayat 144

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.”

Ada beberapa pendapat bahwa di pertengahan bulan Sya’ban pada tahun kedua hijriyah adalah momen perubahan kiblat shalat Nabi Muhammad SAW dari Baitul Maqdis di Palestina menjadi menghadap Ka’bah di Masjidil Haram. Namun, pendapat kuat sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam dalam Sirahnya, juga Ibnu Hajar al-Asqalaniy dalam Fathul Bariy, bahwa peristiwa tersebut terjadi di Bulan Rajab pada tahun yang sama (2 Hijriyah). Sahabat Al-Barra’ menyebutnya shalat menghadap Baitul Maqdis di Madinah bersama Rasulullah selama 16 atau 17 bulan. (HR. Al-Bukhariy no. 6711, Muslim no. 819, At-Tirmidzi no. 2888, An-Nasa’i no. 484)

Selama di Mekah Rasulullah SAWA melakukan shalat dengan menghadap Ka’bah. Setelah beliau berhijrah ke Madinah, beliau shalat menghadap Baitul Maqdis. Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Menurut Abu al-Aliyah menukil pendapat gurunya Ibnu Abbas, hal tersebut dilakukan karena mendapat perintah dari Allah. Sedangkan menurut Ikrimah dan Hasan al-Basriy hal tersebut merupakan ijtihad Nabi SAW karena belum ada panduan hukum pasti mengenai kiblat, maka beliau bermaksud ta’lif qulub (mengambil hati dan simpati) ahli kitab, terutama Yahudi. Perbedaan pendapat ini diabadikan Imam At-Thabariy dalam tafsirnya.

Suatu hari Rasulullah SAW melakukan Shalat Zhuhur (menurut satu riwayat) di masjid Bani Salamah. Kemudian datanglah perintah shalat dengan menghadap Ka’bah, Masjidil Haram di Mekah, yaitu surat al-Baqarah ayat 144. Beliau telah melaksanakan shalat dua rakaat dengan menghadap Baitul Maqdis, kemudian dua rakaat lainnya dengan menghadap Ka’bah, kiblat yang berketetapan hukum hingga saat ini. Maka Masjid Bani Salamah ini kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Qiblatain, karena di dalamnya pernah dilaksanakan shalat dua kiblat sekaligus dalam pelaksanaan satu waktu shalat. Adapun para sahabat Nabi SAW di Quba’ baru mendengar perintah perubahan kiblat ini di waktu subuh keesokan harinya, seperti penuturan kebanyakan ahli riwayat dan atsar.

Sementara itu, respon Ahli Kitab di Madinah setelah mendengar berita ini beragam, kebanyakan mereka, terutama Yahudi mengolok-olok Nabi Muhammad SAW dengan ejekan yang tidak laik. Kebencian dan kedengkian mereka terhadap Nabi Muhammad SAW dan umat Islam semakin menjadi-jadi, dan ini kemudian membuat mereka berniat jahat dengan bersekongkol kepada musuh-musuh Islam saat itu, terutama Suku Quraisy di Mekah.

Perubahan kiblat ini adalah bukti sayang Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umat Islam karena identitas mereka dibedakan dalam hal ibadah, khususnya. Karena sebelum ini pun olok-olokan dan ejekan kepada Nabi Muhammad SAW juga tidak kalah sadisnya. Dengan identitas yang kuat ini maka pengaruh dakwah Nabi SAW juga menguat dan kedengkian mereka menyatu bersama kekhawatiran dan kecemasan makin menguatnya pengikut Islam di Madinah di berbagai sektor, terutama setelah usainya pertikaian panjang antara Aus dan Khazraj. Orang-orang nyinyir ini disebut oleh al-Quran dengan diksi as-Sufaha’ (orang-orang bodoh). Karena, sebenarnya mereka mengetahui hakikat perintah dan kebenaran tersebut, namun mereka angkuh dan sombong kemudian mereka mengingkari dan memperolok-olok. Allah pun menurunkan ayat 142 Surah al-Baqarah, meskipun secara urutan mushaf lebih dahulu dari ayat 144. Turunnya ayat 142 terjadi setelah turunnya ayat 144.

Perubahan kiblat ini juga merupakan ujian bagi kaum beriman agar mereka tunduk kepada perintah Allah. Lihatlah bagaimana generasi awal ini mencontohkan, perubahan kiblat ini bahkan dilakukan di dalam waktu shalat. Mereka tidak menunggu sampai di shalat berikutnya, atau menawar pada pelaksanaan shalat setelahnya. Inilah yang dikenal dengan sur’atu al-istijabah (segera menyambut seruan dan perintah). Hal ini juga terjadi pada saat turunnya ayat hijab yang memerintahkan istri dan anak-anak Nabi SAW serta perempuan mukminat untuk menutup auratnya. Mereka tidak menunggu membeli kain dan membuat pakaian yang nyaman serta mengikuti perkembangan fashion terbaru. Mereka segera melaksanakan perintah itu. Digambarkan kepala mereka sampai-sampai terlihat seperti burung-burung, karena kain penutup kepala yang tidak rapi dan masih seadanya. Namun, ada saja kalangan yang nyinyir dan selalu berkomentar negatif mereka adalah kaum munafikin yang menjadi benalu peradaban, karena “akidah” mereka adalah keuntungan pribadi.

Hari-hari ini memang sudah tak ada lagi perubahan arah kiblat, karena wahyu telah usai dan pintu kenabian telah tertutup. Namun, pelaksanaan ibadah pada saat pandemi seperti ini memiliki panduan khusus. Selain himbauan pemerintah, tak sedikit para ulama, baik ditingkat nasional atau pun internasional, individu maupun lembaga resmi memberikan fatwa dan pedoman pelaksanaan serta tatacara ibadah selama pandemi seperti ini. Shalat Jumat dan Shalat Wajib Lima waktu disarankan untuk tidak dilaksanakan sementara waktu di masjid untuk mengurangi perkumpulan dan potensi terjadinya penularan pandemi ini. Bahkan ada kemungkinan pedoman ibadah seperti ini akan berlaku juga selama bulan Ramadan, jika kondisi darurat masih diperpanjang.

Namun, ada beberapa pihak yang tak berhenti menebar fitnah dan syubhat bermacam-macam. Terlebih literasi media umat ini belumlah kuat. Sehingga validasi sumber tak bisa dipastikan. Belakangan sudah mulai ada seruan kembali meramaikan masjid. Setelah melewati dua pekan sejak anjuran social distancing pertengahan Maret lalu. Semoga tak ada yang mengatakan bahwa mereka yang tak ke masjid hari ini adalah orang-orang yang takutnya kepada penyakit lebih besar dari ketakutan kepada Allah.

Sesungguhnya umat Islam hari ini sangat merindukan ke rumah-rumah Allah dan beribadah di sana secara berjamaah, namun kondisi saat ini membuat kondisi berubah. Maka, sebaiknya kita mengikuti arahan para ulama. Agar kita tidak lagi berdebat kusir, apalagi sampai menyalahkan atau merendahkan orang lain. Mari tetap fokus dengan menguatkan hubungan baik dengan Allah melalui ibadah yang baik di rumah, membimbing keluarga dan menjaga mereka dari berbagai potensi negatif. Di saat yang sama, kita menjaga kesehatan fisik dengan asupan nutrisi yang halal dan baik, olah raga dan istirahat yang berkualitas. Dan tak kalah pentingnya agar anggota keluarga kita bisa tetap bahagian dengan segala keterbatasan. Agar bisa berpikir jernih. Agar bisa tetap bahu membahu dan gotong royong, menolong dan membantu. Karena bahagia dan membahagiakan orang lain tidaklah sulit, dan bisa dilakukan sekaligus.

Stay home and save lives.

Di rumah saja dan akrabi al-Quran.

Di rumah saja dan jagalah keluarga.

Di rumah saja dan sambutlah anugerah Bulan Ramadan dengan persiapan yang baik.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta

Kamis, jelang perkuliahan, 09.04.2020

HUMAIRA, PUTRI ASH-SHIDDIQ ISTRI RASULULLAH SAW

Saiful Bahri

Bermula dari penasaran, mengapa beberapa hari ini di lini masa media sosial saya banyak yang membicarakan Aisyah. Lebih tepatnya lagu tentang Aisyah. Istri sampai anak-anak saya sudah sempat mendengarkannya.

Setelah saya simak lirik Bahasa Indonesianya, sangat milenial banget. Sangat menonjolkan satu sisi saja yang bisa membuat anak-anak muda hanya terobsesi sisi romantisme. Konon versi awalnya lagu ini berasal dari negeri jiran. Cover versi Bahasa Arabnya cukup baik, seandainya yang mengcovernya dalam bahasa Indonesia setidaknya mirip yang Bahasa Arab, mungkin akan lebih baik lagi. Diksi-diksi yang dipilih akan lebih elegan.

Dahsyatnya, cover bahasa Indonesia lagu ini sampai belasan, bahkan mungkin kalau diikuti untuk mencarinya bisa lebih banyak dari itu. Viewernya di youtube jumlahnya sampai jutaan. Masya Allah.

Satu hal positif, kejenuhan akibat pandemi ini, membuat orang-orang mencari hiburan. Sudah bagus lagu semacam ini hadir mengisi kekosongan, terutama bagi kalangan milenial dan generasi z. Bagi orang tua seharusnya, ini adalah titik awal untuk menjadikannya bisa masuk mengenalkan kembali dengan lebih lengkap siapa sebenarnya Aisyah ra. Karena jika sudah menganggapnya cukup dengan seperti ini dikhawatirkan akan terjadi mispersepsi atau justru hanya mengagumi satu sisi saja dari sekian kemuliaan yang sangat banyak yang ada pada beliau. Gawatnya, jika sisi yang dikagumi itu hanya sisi fisiknya saja. Maka akan semakin kasian para jomblo di tengah pandemi seperti ini, semakin tersiksa dengan khayalannya sendiri. Yang laki-laki terobsesi mencari yang seperti khayalannya, yang perempuan hanya akan fokus pada penampilan fisiknya.

Humaira, saya menyukai sebutan yang pernah dengannya Rasulullah memanggil Aisyah. Saya juga menamai anak saya dengan sebutan ini. Saya terobsesi -kelak- ia benar-benar bisa meneladani Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq. Namun, saya perlu tahu perkataan para pakar hadis seperti Imam al-Miziy dan Imam adh-Dhahabiy yang menegaskan bahwa hampir semua hadis yang menyebut kata “Humaira” adalah dha’if, sebagiannya bahkan palsu, kecuali yang ada dalam riwayat Imam an-Nasa’iy. Ibnu Hajar ketika ditanya tentang sebuah riwayat yang menyatakan, “Ambillah setengah agamamu dari Humaira”, beliau menegaskan saya tidak pernah tahu ada riwayat seperti ini.

Tiba-tiba, saya tergerak untuk membuka kembali buku karya seorang pakar hadis Abu Isa at-Tirmidzi, Asy-Syama’il al-Muhammadiyah cetakan Darul Hadis, Beirut. Ini adalah karya lain beliau selain Sunan at-Tirmizi yang terkenal itu. Buku ini memuat 400 hadis tentang sifat-sifat Rasulullah SAW. Deskripsi fisik, akhlak, keseharian beliau. Ada beberapa riwayat yang tak sedikit, berasal dari Ibunda Aisyah ra.

Bacalah sendirian buku ini, hadirkan Rasulullah SAW di hadapanmu. Niscaya takkan sanggup melakukan apa-apa selain menangis haru. Antara rindu dan malu. Rindu sosoknya yang semestinya hadir di tengah zaman fitnah ini. Malu, karena betapa jauhnya keseharian kita dari beliau. Ada banyak bahkan sunah-sunahnya yang ditinggal dan terasingkan.

Sebelum mengenal Aisyah sebagai istri mulia dari Rasulullah SAW, kita juga perlu tahu di mana beliau dibesarkan. Di tengah keluarga mulia. Abu Bakar Ash-Shiddiq. Amru bin Ash pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. Siapakah perempuan yang paling beliau cintai saat itu. Rasulullah SAW menjawab, “Aisyah”, sedangkan ketika belliau ditanya, “Kalau yang laki-laki?”. Beliau menjawab, “Ayahnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhariy dan Muslim.

Abu Bakar adalah orang paling mencintai Rasulullah SAW, totalitas dalam berdakwah terlihat dari sejak pertama beliau mendapatkan wahyu dari Allah. Lihat lah keluarga ini sangat totalitas dalam menghantarkan Rasulullah SAW ke Madinah. Sang ayah menjadi pengawal pribadi beliau. Anak-anak, pembantunya dan kolega bisnisnya dikerahkan. Sebut saja Asma’ putri sulungnya yang sedang hamil tua, harus menaiki Gua Tsur, demi mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW. Hamil tua. Itulah profil kakak Aisyah, istri Az-Zubair dan ibu Abdullah bin Az-Zubair.

Wajar jika Rasulullah mencintaimu… Menghormatimu… Beliau wafat di pangkuanmu…

Aisyah, dibebaskan Allah secara langsung melalui Surah an-Nur, dari tuduhan keji kaum munafik dan para pembencinya. Beliau bahkan berhari-hari tidak mendengar gosip dan pergunjingan tentang dirinya. Karena telinga beliau ditakdirkan hanya mendengar hal-hal baik saja. Beliau bahkan terus berhusnuzhan dengan perubahan sikap Rasulullah SAW kepadanya. Beliau baru mengetahui hal yang sesungguhnya secara tidak sengaja, dari bibinya, Ummi Masthah yang keheranan bagaimana mungkin ia tak mendengar sama sekali tentang dirinya selama berhari-hari.

Itulah Ibunda Aisyah, Humaira kesayangan Rasulullah SAW. Pernah diajak main-main dan lomba lari bersama Rasulullah dan bermanja-manja dengannya, pernah mendapatkan salam dari Jibril, sang malaikat mulia, pernah didoakan Rasulullah SAW dan beliau menyukai doa tersebut. Di saat para sahabat bertanya tentang ciri-ciri dan kapan terjadinya lailatul qadar di bulan Ramadan, Aisyah bertanya secara out of the box. Beliau bertanya, apa yang seharusnya dilakukan pada malam itu. Apa yang bisa dibaca. Maka Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa, “اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad bin Hanbal)

Beliau adalah salah seorang sahabat yang memiliki kepakaran fikih luar biasa. Bahkan Abu Hurairah sebagai periwayat hadis terbanyak pun menjadi muridnya. Saat beliau wafat Abu Hurairah yang menshalatkannya.

Beliau adalah satu-satunya istri Rasulullah SAW yang dinikahi dalam keadaan masih perawan. Allah panjangkan usianya hingga puluhan tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, agar mengungkap banyak rahasia yang diketahuinya dari keseharian Rasulullah.

Keluarga muslim hari ini perlu belajar sirahnya. Agar para pasutri yang sudah lama menikah terasa kembali muda. Suami, setua apapun agar bisa kembali memanjakan istrinya sekalipun sudah memiliki anak dan cucu. Karena tabiat perempuan memang suka dimanja. Bagi istri, ia juga perlu “menjadi” muda kembali agar mengingatkan romantisme awal saat-saat ijab kabul dilaksanakan. Juga, agar para pengantin muda mau bersabar ketika dirundung masalah, bahkan dalam menyikapi isu dan gosip yang mengganggu keluarga. Belajar mengelola kecemburuan agar tidak melanggar sunah-sunahnya.

Saya ucapkan terima kasih kepada para pegiat seni yang menjadikannya sebuah pintu masuk bagi kebaikan terutama anak-anak muda. Semoga nantinya bisa diperbaiki dan ditingkatkan pada hal-hal yang lebih substantif lagi. Profil Aisyah sangat dibutuhkan generasi ini agar tangguh di tengah fitnah yang semakin menggila. Agar generasi ini menghargai ilmu dan suka membaca, membentengi diri dari gempuran hedonisme yang bertubi-tubi.

Radhiyallahu ‘anha

Semoga Allah melimpahkan ridha dan rahmat-Nya kepadanya…

Ummul mukminin, Humaira, Aisyah binti Ash-Shiddiq.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta

Memulai Senin, 06.04.2020

PERGINYA KEPINGAN WARISAN PARA NABI

Saiful Bahri

Suatu hari Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhariy menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menahan nafas. Ketika ia menengadahkannya kembali ke atas, pipinya telah basah oleh air mata. Hal tersebut terjadi di saat beliau mengajarkan hadis kepada murid-muridnya. Dengan sedu sedan beliau kemudian membacakan sebuah syair yang dipersembahkan untuk Imam Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimiy. Rupanya beliau sangat sedih mendengar wafatnya salah seorang pakar hadis dari Samarkand  ini.

Wafatnya ulama sangatlah berat dirasakan. Karena tidak sekedar kehilangan pribadi dan sosok fisiknya. Juga bukan hanya kehilangan darah dan dagingnya. Namun, ini adalah perginya sebagian dari warisan para nabi, yaitu ilmu. Jika ilmu makin menipis maka makin tipis pula benteng penangkal fitnah di akhir zaman.

Hamba-hamba Allah yang memahami penghargaan dan penghormatan Allah terhadap ilmu dan ulama tentu akan sangat kehilangan dengan wafatnya ulama. Kecintaan bukanlah kecintaan yang bisa dibeli dengan harta, tidak pula bisa direkayasa dengan angka-angka atau dengan pencintraan yang tidak tulus. Karena Allah lah yang menitahkannya.

Inilah makna sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Amru. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ

“Allah tidak mencabut ilmu setelah Dia berikan kepada kalian secara spontan/sekaligus, namun Allah mencabutnya dari mereka dengan cara mewafatkan para ‘ulama yang sekaligus tercabut keilmuan mereka, sehingga yang tinggal hanyalah manusia-manusia bodoh, mereka dimintai fatwa, lalu mereka memberikan fatwa berdasarkan logika mereka sendiri, mereka sesat juga menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6763, Muslim no. 4828, 4829, At-Tirmidzi no. 2576 dan Ahmad bin Hanbal no. 6602)

Pagi tadi saya mendengar salah seorang guru al-Quran dan Tafsir, meninggal dunia. Dr. Ahzami Samiun Jazuli, M.A. Seorang doktor Tafsir al-Quran alumni Universitas Muhammad Ibnu Saud di Riyadh, KSA.

Menurut info yang saya dapatkan sebelumnya keadaan beliau baik-baik saja. Tidak sedang menderita penyakit tertentu. Tapi begitulah ajal mendatangi. Kabar duka yang tentu menyedihkan siapa saja yang mengenal beliau.

Kepergian ilmu tidaklah bisa disamakan dengan sesuatu pun yang paling berharga di dunia. Karena itu sama artinya Allah sedang mengangkat sebagian ilmu-Nya. Wafatnya para ulama adalah simbol berkurangnya ilmu di dunia. Jika ada pejabat negara yang meninggal atau mengundurkan diri atau diberhentikan, maka penggantinya akan sangat mudah dan cepat dilantik. Namun, kepergian seorang alim, takkan pernah bisa tergantikan. Allah mengangkatnya sekaligus ilmu yang Allah berikan kepada beliau.

Para Imam madzhab yang wafat, maka ilmu mereka pun kembali kepada Allah. Ilmu yang tak tergantikan. Sekalipun mereka meninggalkan warisan berupa murid-murid dan buku-buku karya mereka, itu tak sama sekali bisa disamakan dengan mereka.

Ilmu yang bermanfaat adalah ketika berada dalam diri seseorang, perbuatannya selaras dengan apa yang dipelajarinya dan kemudian diamalkannya.

Imam al-Ghazali menyebut karakter manusia ada empat:

  1. Seorang yang alim yang tahu bahwa dirinya alim, teruslah mendekat padanya belajarlah padanya
  2. Seorang yang lemah (kurang ilmu), dan ia tahu bahwa dirinya lemah, kasihilah dia, ajarkan padanya kebaikan
  3. Seorang yang alim yang tidak sadar bahwa dirinya alim, ia adalah orang yang lalai dan tertidur, bangunkan dan sadarkan ia agar bermanfaat
  4. Seorang yang bodoh yang tak tahu bahwa dirinya bodoh, orang seperti ini jauhilah karena banyak mendatangkan kemudharatan.

Mudah-mudahan Allah masih terus membukakan rahmat-Nya dengan menyadarkan umat ini untuk terus menerus belajar dan menjaga warisan para nabi, yaitu ilmu. Agar tak ada celah untuk para pemuja nafsu dan para durjana untuk memperdaya umat ini. Agar tak ada jalan bagi para pecinta syahwat untuk menipu umat dengan tampilan yang dibuat-buat atau disulap seolah menjadi alim.

Jagalah kami dari tipu daya orang bodoh yang tidak tahu diri atau yang diperalat oleh mereka yang menginginkan keburukan. Jauhkanlah kami dari menjadi sasaran fitnah dari orang-orang zhalim yang bodoh dan orang-orang bodoh yang zhalim.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta
Ahad, 05.04.2020

 

SMILE AND MAKE THEM HAPPY

Saiful Bahri

Hampir rata-rata keluarga di negeri ini melalui dua pekan ini dengan full time anggotanya. Awalnya memang benar-benar menjadi suasana yang menyenangkan dan membahagiakan. Terutama bagi anak-anak, namun bisa jadi kemudian mereka mulai merasa bete dan kadang sedikit tertekan.

Sebagian ayah masih tetap ada yang berkegiatan di luar rumah baik yang seperti biasa karena tuntutan pekerjaan maupun yang bergiliran (shifting), sebagian lainnya sudah melakukan pekerjaannya dari rumah (WFH), sebagian disibukkan dari ruang rapat daring ke ruang daring lainnya. Yang guru dan dosen pun dari kelas ke kelas daring. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (home learning) ternyata tak mudah yang dibayangkan. Kendala di awal terkait sarana dan teknis biasanya segera selesai, karena umumnya manusia modern mudah menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Justru kendala berikutnya yang mulai terasa adalah, terbatasnya kuota. Tak semua rumah memiliki fasilitas jaringan internet nirkabel atau dikenal dengan wifi (Wireless Fidelity). Maka, belanja kuota keluarga ini dipastikan meningkat drastis. Kebutuhan dari kakak terbesar hingga adik terkecil, kemudian ayah dan ibu, jika memiliki pertemuan yang sifatnya daring (online) atau seorang guru atau dosen atau bahkan konsultan dan ustadz sekalipun. Sekalipun itu kendala, namun, sifatnya materi dan terlihat.

Ada suatu hal yang tersembunyi yang perlu diwaspadai, bukan hanya sekedar memutus mata rantai penularan Covid19. Ada mata rantai lain yang perlu diputus. Yaitu mata rantai tekanan psikis yang tak kalah membahayakan.

Rutinitas sang ibu akan berlipat-lipat dari biasanya. Bagi seorang ibu rumah tangga, ketika suaminya pergi kerja atau anak-anaknya ke sekolah, biasanya ia memiliki waktu me time. Kini full day sepertinya hal tersebut sudah tak ada lagi. Sang ayah pun demikian, biasanya ketika pagi bekerja ada kurva menanjak pelan-pelan. Anak-Anak pun demikian rutinitasnya. Coba bayangkan kini semuanya berkumpul di satu titik. Di dalam rumah.

Saya mencoba mengamati, ketika sudah mulai ada tangisan sang kakak yang merasa kecapean dengan penugasan daring yang terasa berat. Ia juga kehilangan konsentrasi menghafal. Di awal-awal kedatangan ke rumah, ia sangat lancar menyetor dan murajaah hafalan al-Qurannya. Kini mulai tersendat. Jangan-jangan ia sudah mulai tertekan. Bukan karena kecerdasannya menurun, saya kira.

Adiknya pun ketika tak kalah paniknya ketika deadline penyerahan tugas sudah habis sementara ia belum berhasil mengirimkan ke gurunya. Karena jaringan dan sinyal tak selamanya kuat. Belum lagi tentunya perangkatnya yang memang perlu diupgrade.

Sebagai dosen yang sejak awal ada penugasan home learning terus melakukan perkuliahan daring dengan tatap muka dan menyiapkan rancangan saya juga mulai kelelahan. Belum lagi ada beberapa mahasiswa yang meminta permakluman tak bisa masuk kelas daring karena tak support telepon selularnya. Ada juga yang minta keringanan perkuliahan.

Selama ini saya memakai dua aplikasi tatap muka, zoom dan skype, dan sesekali memaki stream yard. Awalnya saya memakai whatshapp group, google classroom dan ulearning sebagai support tambahan.

Sejak awal perkuliahan saya mencoba serileks mungkin, dengan tatap muka sebentar dikombinasi diskusi via chatroom terasa lebih dinamis. Masih ingat perkuliahan daring pertama, semuanya merasakan bahagia, menyenangkan. Padahal sepekan sebelumnya mereka bertemu saya, mengapa hari itu seolah-olah sudah lama tak bersua. Akrab dan dekat.

Namun, belakangan suasana sedikit berubah. Seperti mulai ada tekanan. Padahal saya tak menugaskan apa-apa selain upload makalah dan presentasi kemudian penyampaian dan didiskusikan seperti proses biasanya. Maka, pada pekan ini sebagian besar perkuliahan tatap muka saya tiadakan. Saya menggantinya dengan presentasi dengan rekaman voice note dan diskusi by chat. Hasilnya nampak lebih meringankan. Meringankan kuota dan meringankan tekanan perkuliahan.

Sebagian guru-guru pun sudah mulai mengurangi penugasannya. Nampaknya, stamina mereka dan tekanan-tekanan yang dirasakan perlu exit strategi.

Maka, ayah dan ibu di rumah mesti membuat suasana rumah senyaman mungkin. Ketika olah raga hanya dinikmati di awal saja, kemudian menjadi malas setelah itu atau karena tergilas rutinitas, maka perlu strategi agar fisik anggota keluarga tetap terjaga. Mengimbangi kesehatan spiritual yang insyaallah makin kondusif.

Sesekali, saya mengajak anak-anak keluar ketika membeli kebutuhan pokok. Raut bahagia mereka muncul tiba-tiba. Memang benar itu kebahagiaan yang dinanti-nanti. Yaitu keluar rumah. Tapi perlu ada perjanjian dan kesepakatan, seperti memakai masker dan tak turun dari kendaraan.

Sesekali perlu diberi waktu untuk main game, meski tetap perlu ada kontrol dan pengawasan. Sesekali perlu ada waktu nonton bersama. Sesekali perlu ada waktu bebas mereka. Terutama di hari libur akhir pekan. Hari libur dari internet. Sesekali bermain tebak-tebakan. Sesekali menjadi anak kecil dan ikut bermain bersama mereka. Sesekali menikmati suasana keributan dan kegaduhan mereka, seperti paduan suara indah yang menenangkan jiwa. Berikanlah pemahaman kepada kakaknya yang sudah dewasa untuk menikmati suasana tersebut.

Rasulullah SAW pernah memanjangkan sujudnya karena cucu beliau bermain-main di punggungnya. Para sahabat bertanya-tanya apakah ada wahyu yang turun. Namun, beliau menjawabnya:

Bukan karena semua itu, tetapi cucuku (Hasan dan Husain) menjadikanku sebagai kendaraan, maka aku tidak mau” membuatnya terburu-buru, (aku biarkan) hingga ia selesai dari bermainnya”. (HR. An-Nasa’i no. 1129, Ahmad bin Hanbal no. 15456, 26363)

Itulah suasana yang berisi anak-anak kecil, tentu akan berbeda dengan suasana rumah yang anggota keluarganya sudah dewasa semua atau mungkin pengantin baru atau pasangan yang masih menanti buah hati, atau karyawan dan mahasiswa yang berada di kos-kos mereka. Masing-masing memiliki suasana tekanan pekerjaan yang berbeda-beda. Lakukan sesuatu, bahagiakan mereka. Agar imunitas internal makin kuat dan produktivitas tak selamanya diukur dengan tumpukan tugas yang harus diselesaikan, namun saling pengertian dan keinginan untuk membahagiakan orang menjadi tugas mulia yang tak kalah pentingnya.

Bahkan membahagiakan orang itu tak sulit. Sederhana. Ikutilah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَلْقَ أَخَاهُ بِوَجْهٍ طَلِيقٍ

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meremehkan sesuatu pun dari amal kebaikan. Jika ia tidak mendapatkan sesuatu (untuk berbuat baik), hendaklah ia berwajah ceria terhadap temannya.” (HR at-Tirmidzi no. 1756)

Tersenyumlah dan mudahkan orang lain di sekeliling kita. Agar kebahagiaan menjadi energi besar bangsa ini untuk kuat kembali melawan wabah menyakit yang mengglobal ini.

Setiap ayah dan ibu pasti melakukan apa saja agar anak-anaknya bahagia. Lihatlah keterbatasan saudara kita di Gaza hampir 14 tahun hidup dalam keterbatasan dan terkurung dalam ketidakberdayaan, tapi anak-anak kecilnya selalu meramaikan pesta wisuda penghafal al-Quran. Seolah mereka tak menghadapi kesulitan yang benar-benar melekat sehari-hari. Saudara kita di penampungan sementara dan pengungsian akibat bencana alam atau kemanusiaan lainnya.

 

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta
Jelang perkuliahan, 04.04.2020

ABU ZAR’IN DAN SUAMI TERBAIK

 

Saiful Bahri

Suatu hari Aisyah bercerita kepada Rasulullah tentang sebelas perempuan yang mengisahkan suami-suami mereka. Perempuan pertama hingga kesepuluh berkisah tentang kebaikan-kebaikan suaminya. Hingga akhirnya perempuan kesebelas bercerita tentang suaminya yang dipanggil dengan Abu Zar’in. Ini adalah tentang cerita suami terbaik yang didengar Aisyah. Ia memuliakan istrinya, ibunya, anak-anak perempuannya, anak lelakinya bahkan sampai budak-budaknya. Kebaikannya benar-benar baru dirasakan oleh Ummu Zar’in setelah ia bercerai darinya. Suami keduanya memang sangat baik, tapi Ummu Zar’in mengatakan, “Jika aku kumpulkan semua yang diberikan suami keduaku tersebut, tidak akan mencapai bejana terkecil Abu Zar’in”. Aisyah berkata; Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Aisyah, bagimu aku seperti Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.” (HR Al-Bukhari 4790, dalam Fath al-Bariy 5189)

Rasulullah SAW adalah figur teladan seorang suami, sesibuk apapun ia bersabar mendengarkan cerita istri-istrinya. Ibnu Abbas ra meriwayatkan, “ Setiap kali Rasul SAW selesai shalat fajar beliau duduk di tempat shalatnya, dan orang-orang duduk mengelilingi beliau hingga matahari terbit. Kemudian beliau mendatangi istri-istri beliau satu per satu, menyapa mereka dan dan berdoa untuk mereka. Kemudian beliau akan tinggal di rumah istri yang mendapat giliran pada hari itu (HR. Ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Ausath)

Ramadan takkan lama lagi akan menyambangi setiap keluarga muslim. Di ayat 187 dalam Surah al-Baqarah Allah memberikan permisalan suami istri dengan kiasan sebagai pakaian

(هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ)

… mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.

Jika hari ini para suami sekaligus ayah sedang mendapatkan tren WFH (Work from Home) dan anak-anak dengan istilah home learning, maka setiap keluarga muslim seharusnya juga memiliki program dan planning terkait harmonisasi dengan pasangan hidupnya.

Dengan hampir full day di rumah, seseorang bukan sekedar bekerja dari rumah, tapi ia bisa membantu pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan istrinya. Dalam keseharian pun biasanya yang lebih sering menemani anak-anak belajar termasuk mengambil rapot di sekolah juga dikerjakan istrinya. Kini dengan hadirnya sang ayah dan sang suami, ia bisa menjadi Abu Zar’in bagi istri dan anak-anaknya. Rasulullah SAW sampai mengagumi figurnya.

Peganglah telinga istrimu, sekalipun engkau belum mampu membelikan perhiasan seperti Abu Zar’in. Usaplah kepalanya setiap pagi, doakanlah ia seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Peluklah ia dari belakang saat sedang mencuci piring, kemudian bantulah merapikan mainan anak-anak dan sesekali menyapu dan membersihkan ruangan, meskipun akan berantakan kembali.

Kesebelas perempuan yang menceritakan suami-suami mereka kepada Aisyah begitu bangga dengan mereka. Jadilah pakaian bagi pasangan hidupmu. Bukan sekedar menjadi penutup aurat yang memang itu kewajibannya, namun jadilah pakaian yang indah bak perhiasan yang dibanggakan oleh pasangan hidupnya.

Sambutlah Ramadan dengan seromantis dan seharmonis mungkin bersama pasanganmu.

Wahai Sang Mahacinta, karuniailah kami cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, serta segala hal yang menghantarkan kami pada cinta-Mu. Berkahilah kami di bulan mulia, Ramadan-Mu. Allahumma Aamiin.

 

Rumah Cinta, Kalibata
Jakarta, 03.04.2020

GURU NGAJI, GURU DAN SAHABATKU

Saiful Bahri

“Ustadz, mohon maaf ada bingkisan paket sembako untuk ustadz dan keluarga. Mohon bisa mengambil besok hingga pukul 12.00 WIB” kira-kira demikianlah isi pesan dari seorang staf lembaga kemanusiaan yang dikirim kepada saya.

Dari pesan singkat inilah tulisan saya bermula. Awalnya saya ragu untuk menulisnya. Khawatir ada mispersepsi atau zhan yang berkeliaran mengotori batin saudara-saudara saya. Tapi, biarlah, hanya Allah saja yang mengetahui maksud dan suasana hati saya yang sesungguhnya.

Tiba-tiba saja bi benak saya hari-hari ini, terpikir sosok-sosok guru saya. Pikiran saya tertuju pada keadaan para guru ngaji. Orang-orang yang -juga- seprofesi dengan saya. Bagaimana kondisi mereka paska WFH (work from home) dan anjuran social distancing ini. Bagaimana keluarga mereka. Pertanyaan-pertanyaan ini menggelayuti pikiran saya.

Tak jauh-jauh yang saya amati, adalah para ustadz dan guru ngaji di sekitar rumah saya, juga teman-teman dekat yang sering berinteraksi dengan saya, baik melalui interaksi langsung maupun yang melalui media sosial. Mengamati, bukan berarti mengetahui. Membatin bukan berarti menduga-duga. Sekedar bertanya pun saya tak punya keberanian. Karena, kalau sudah berurusan dengan dapur itu masalah sensitif bagi kebanyakan orang. Dan bagi sebagian besar guru ngaji, bisa jadi ini sangatlah tabu dibicarakan. Karena mereka mengajarkan keikhlasan. Mereka mengajak pada Al-Quran dan pesan-pesan Nabi Muhammad SAW. Mereka, selama ini adalah orang yang paling sering diberi kesempatan memegang mikrofon untuk menyampaikan isi-isi ajaran agama Islam. Sekalipun ada diskusi dan dialog, umumnya merekalah yang ditakdirkan mendominasi pembicaraan majelis-majelis ilmu dan pengajian.

Di lini masa media sosial saya, broadcast grup-grup WA, telegram atau yang lainnya, beberapa kali sudah ada anjuran untuk perhatian kepada orang-orang terdampak COVID19 ini.

Para pahlawan yang harus diperhatikan adalah paramedis yang paling depan, para pedagang kecil, driver ojek online, sekuriti, juga para guru yang merangkap sebagai orang tua karena bekerja di rumah. Tingkat dampak ekonominya memang beragam, tapi mereka-mereka ini -alhamdulillah- sedikit demi sedikit mulai banyak yang membicarakan dan memperhatikan.

Saya tiba-tiba ingat Surah al-Baqarah 273

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.

Ayat-ayat ini lah yang kemudian membuat air mata saya menetes mengingat wajah-wajah teman dan tetangga saya para guru ngaji yang -mohon maaf- menghadapi kesulitan dan di saat yang sama saya tidak bisa banyak berbuat. Kemarin lusa, saya mendapatkan kiriman satu bungkus jahe merah, kiriman seorang ustadz, sebagai sebuah tanda silaturahim.

Saya terenyuh, dalam kondisi sulit, ternyata ada yang mengirimi saya bingkisan. Memang tak mahal-mahal amat harganya, tapi beliau masih sempat berpikir untuk bisa berbagi.

Hati saya lebih terenyuh ketika mengantarkan istri saya membeli buah-buahan, karena sudah cukup lama kami tak merasakan buah (x). Setiba diparkiran, saya mengatakan biar saya saja yang turun. Istri saya menunggu. Yang membuat saya keheranan dan sekaligus kaget, ketika tangis istri saya pecah saat di rumah. Saya bingung, apa ada sesuatu yang salah? Setelah reda saya mencoba mendengarkan curhatnya. Ternyata, sewaktu tadi saya membeli buah, ia menyaksikan dari jarak sedang ada seorang perempuan tengah membuka tempat sampah dan memilah-milah beberapa butir buah-buahan dari dalamnya. Ia sedih karena tak bisa memberinya apapun. Posisi istri saya sedang memegang anak bungsu saya yang masih bayi dalam kondisi terlelap. Perempuan itu tiba-tiba menghilang. Ia juga tak nampak menengadahkan tangan untuk meminta uluran bantuan dan belas kasian.

Malam itu, entah mengapa, buah yang masuk ke mulut saya terasa sangat pahit. Bukan mulut saya yang merasakan pahitnya, namun hati yang teriris melihat ketidakberdayaan namun tak bisa banyak berbuat.

Saya dan keluarga saya pernah mengalami masa-masa sulit, saat saya benar-benar -hanya- menjadi guru ngaji di awal kepulangan saya ke tanah air. Sekalipun hal itu tak disadari banyak orang. Mungkin karena gelar akademik saya sudah pada level tertinggi, menyelesaikan pendidikan strata tiga (doktor), di luar negeri pula.

Alhamdulillah, kami berdamai dengan takdir kesulitan yang diberikan Allah sebagai pembelajaran. Ada banyak hal yang baru saya kisahkan kepada istri saya. Bahkan perlu waktu lebih dari sepuluh tahun untuk memberitahukan kepadanya hal-hal yang tak mungkin dijelaskan saat-saat itu. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah, yang melimpahkan keberkahan-Nya. Yang memberi ujian untuk menempa dan menguatkan.

Batin terasa tenang. Namun, kesulitan hidup tetaplah terasa berat bagi siapapun, karena istri-istri Rasulullah saw pun tetap secara manusiawi digambarkan mengalami kesulitan hidup. Rasanya terlalu jauh membandingkan kondisi kesulitan kita dengan mereka. Karena para nabi adalah orang yang paling mengalami penderitaan dan kesulitan serta paling berat cobaannya. Saya menyebutnya di sini lebih karena mereka adalah panutan dan teladan.

Jika sesama ustadz berkumpul, selalu ada kisah-kisah selingan yang dialami mereka menjadi bahan renungan. Tentunya itu hanya obrolan ringan di sela diskusi serius membicarakan tema khusus atau perencanaan dakwah atau kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut.

Tertukar dengan amplop undangan atau pengumuman, atau isi yang tak sesuai dengan yang ditandatangani, atau hal lainnya. Rasanya pengalaman itu tak hanya dialamai oleh seseorang saja. Apalagi membicarakan masalah “amplop” di depan publik akan terasa tabu.

Umumnya, justru para guru ngaji itu tak pernah benar-benar mengharapkannya. Tapi ketika ia memberikannya kepada istrinya, ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakannya. Tak jarang setelah ia menggenggamnya ia merencanakan sesuatu untuk keluarganya, namun kemudian berubah ketika ada satu hal mendesak lainnya.

Itulah para guru ngaji yang bisa jadi “dimalaikatkan” oleh masyarakatnya. Ia tak boleh terlihat sedih ada terlilit kesulitan. Ia tak boleh terlihat melakukan kekhilafan sekecil apapun. Sekali melakukan kesalahan, akan ada banyak vonis tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan atau bahkan meminta maaf atas sebuah khilaf.

Tapi mengapa para guru ngaji itu bersedia mengambil jalan sulit. Mengapa mereka tak mencoba lebih menambah fokus untuk menambah pendapatan keluarga. Karena mereka sudah punya jadwal pengajian yang harus ditepati. Percayalah, bahkan mereka tak pernah mengarapkan mau diupah berapa. Percayalah, sekalipun mereka memerlukan bantuan, mereka akan meminta kepada Allah saja.

Alhamdulillah, saya tidak benar-benar terdampak secara langsung dengan pandemi Covid19 ini. Meskipun tentu ada berkurangnya. Karena, sudah setahun belakangan ini ada beberapa amanah yang saya emban.

Setelah saya menjadi dosen tetap di sebuah perguruan tinggi, saya mendapatkan salari yang bisa diukur dan diperkirakan setiap bulannya. Apalagi, jabatan struktural ada tunjangannya. Sebagai konsultan sebuah lembaga pun saya diberikan “honor” melebihi kerja saya yang nampak hanya sekedar berbagi ide dan memberi masukan. Alhamdulillah, ada angka yang bisa diotak-atik untuk menyesuaikan cashflow. Pihak sekolah anak-anak kami pun sudah memberikan potongan di masa home learning. Jujur saja memang belanja kuota internet meningkat berlipat-lipat dari hari biasanya. Apalagi, kami sekeluarga bersikukuh untuk tidak memasang jaringan wifi di rumah, karena berbagai pertimbangan. Kami hanya bermodalkan paket data dari telepon selular.

Saya justru berpikir teman-teman saya yang lain bagaimana?

Bukan karena merasa lebih mampu dari mereka atau ingin menjadi pahlawan bagi mereka. Saya hanya merasakan dan mencoba memahami kondisi para guru ngaji ini. Karena, sedikit banyak saya mengetahui seluk beluk dan kondisi keluarga mereka. Meski tentu sebagian besarnya, hanya menerka-nerka saja.

Karena merekalah, saya bisa mengeja huruf hijaiyah dan menghafal ayat-ayat al-Quran. Melalui mereka, Allah membuat saya memahami Bahasa Arab, kaidah-kaidah fikih dan ilmu hadis. Ketegaran mereka lah yang menjadi spirit saya untuk mengambil mayor ilmu al-Quran ketika saya melanjutkan kuliah saya. Dan sejujurnya, pendekatan yang saya ambil bukanlah profitable. Dibimbing insting dan kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun melalui tangan dan bibir mereka yang menularkan energi keikhlasan dalam mengajar dan berbagi ilmu.

Maafkan saya para guru dan sahabat jika terlalu lancang mengisahkan tentang dirimu. Karena aku tak mampu membantu, bahkan untuk sekedar tahu kondisimu saat ini. Agar tetap ada yang memuliakanmu, dalam kondisi sulit seperti ini. Tetaplah membimbing kami. Membersamai kami. Bersabar dengan keterbatasan dan khilaf kami. Berbagi ilmu yang Allah berikan kepadamu dan orang-orang yang Allah kehendaki.

Muliakan guru-guru kami ya Rabb, karena kami belum mampu memuliakan mereka seperti Engkau memuliakan para ahli ilmu dengan cahaya cinta-Mu.

 

Rumah Cinta, Kalibata,

Jakarta, 02.04.2020

RUMAH-RUMAH BANI ISRAIL, ISRA MI’RAJ DAN KISAH IMAWAS

Menyikapi Musibah dan Wabah
dengan Perspektif Al-Quran dan Sejarah


Dr. Saiful Bahri, Lc, M.A.

Kondisi saat ini, dunia menghadapi wabah berupa Covid19 yang sangat cepat tersebar ke mana-mana. Kepanikan melanda ke berbagai pojok-pojok dunia. Semua pihak berusaha keras melakukan perlawanan.

Bagi kaum beriman, sudah seharusnya selain usaha-usaha standar dilakukan diperlukan pendekatan yang lebih mendekatkan pada ketenangan. Al-Quran adalah salah satu tempat kembali ketika dilanda masalah. Al-Quran adalah syifa, obat dan solusi dari berbagai permasalahan manusia. Spirit dan optimisme akan didapatkan di sana, karena merupakan representasi kalam suci dari Dzat yang serba maha. Sang Maha Perkasa yang sanggup menolong semua hamba-hamba-Nya yang dihimpit masalah. Lihatlah Rabb semesta alam ini menyelamatkan Nabi Nuh dengan mengirim tentara air. Dia lah yang menyelamatkan Nabi Ibrahim di dalam api yang dititahkan-Nya sejuk dan nyaman. Dia pula yang mengangkat Nabi Yusuf dari dalam kegelapan sumur, memindahkannya ke istana, mengeluarkannya dari penjara dan membebaskannya dari tuduhan yang dipatahkan saksi ahli, serta mengangkat derajat sang pemaaf ini. Dia pula yang menyelamatkan Nabi Musa dengan membelah Laut Merah. Dia yang mengangkat Nabi Isa ke langit-Nya, agar terhindar dari kezhaliman para pecinta dunia yang rakus dan hedonis. Dia pula yang memperjalankan Nabi Mulia Muhammad SAW melewati kedua masjid mulia, melampaui langit yang ada dan sidratil muntaha. Sang Nabi akhir zaman ini saat itu sedang dirundung duka dengan wafatnya dua penyangga dakwahnya, Ibunda Khadijah ra. dan pamannya Abu Thalib. Ia pula yang mencoba mencari dukungan ke Thaif, bukan hanya ditolak oleh Bani Tsaqif. Tapi mereka melukai fisik dan perasaannya.

Itulah kisah-kisah sulit yang pernah dialami para nabi dan pengikutnya. Di antara pelajaran berharga yang mirip dengan kondisi kita saat ini adalah kondisi yang dialami Bani Israil di saat teror Fir’aun meningkat. Teror fisik dan psikis makin keras dilancarkan, tempat-tempat ibadah Bani Israil dirusak dan dihancurkan. Perkumpulan-perkumpulan mereka dibubarkan. Tersiksa. Terterror. Terzhalimi dan teraniaya. Terperangkap dalam ketidakberdayaan. Dalam suasana seperti ini, Allah menitahkan Nabi Musa untuk membuat base camp dakwahnya di Mesir, bahkan Bani Israil diperintahkan untuk tetap menunaikan shalat di rumah-rumah mereka dengan tetap menghadap kiblat.

Penggalan ini bisa kita temukan penuturannya di dalam Surah Yunus ayat 87:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman“. (Surah Yunus: 87)

Para mufasir menukil pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh-Dhahhak bahwa yang dimaksud dengan (وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً) adalah keringanan yang diberikan Allah kepada Bani Israil yang sebelumnya menunaikan shalat di tempat-tempat ibadah khusus, kini diperintahkan untuk shalat di dalam rumah. Untuk menghindari kerusakan dan bahaya yang lebih besar karena kekejaman Firaun. Ath-Thabary, Al-Baghawiy, Al-Wahidiy, Az-Zajjaj hingga Ibnu Katsir merekam pendapat-pendapat ini di dalam tafsirnya.

Saai ini memang kita tak sedang berhadapan dengan Firaun yang kejam dan merusak tempat ibadah. Tapi kita berhadapan dengan suatu makhluk yang sangat mikro namun bahayanya sangat makro. Nyaris hampir semua belahan bumi terdampak dengan virus yang sangat kecil dan halus ini. Maka menjaga jiwa menjadi prioritas bersama umat manusia. Apalagi para ulama mengajarkan perlunya perlindungan 5 hal pokok (jiwa/nyawa, agama, harta, kehormatan dan akal). Jiwa-jiwa manusia saat ini perlu diutamakan untuk diselamatkan. Para pemangku kebijakan publik menganjurkan masyarakat untuk menjaga jarak dan menghindari kerumuman massa. Para ulama memfatwakan untuk meniadakan shalat jum’at dan shalat berjamaah lima waktu. Di beberapa tempat, bahkan telah benar-benar menutup tempat ibadah.

Protokol pengamanan ini tentu tidak berlebihan. Karena keamanan nyawa manusia adalah prioritas utama. Menjaga keselamatan bersama dengan sebisa mungkin tetap tinggal di rumah. Kecuali para mujahid yang ditugaskan atas nama kemanusiaan berhadapan dengan virus ini di pusat-pusat perawatan dan rumah sakit atau di laboratorium. Juga mereka yang “terpaksa” harus keluar rumah karena kondisi pekerjaan. Tentu yang di rumah tetap mendoakan mereka agar dihindarkan dari wabah ini.

Ummul Mukminin Aisyah ra. pernah menanyakan tentang wabah penyakit kepada RAsulullah SAW

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا أ سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ. (رواه البخاريّ وأحمد)

Aisyah isteri Nabi SAW. dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai thâ’ûn (wabah penyakit), lantas Nabi SAW memberitahukan kepadanya; “Bahwa penyakit lepra merupakan azab yang Allah timpakan terhadap siapa yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidaklah seseorang yang berada di wilayah yang terjangkit wabah penyakit, kemudian ia tetap tinggal di negerinya dan selalu bersabar, ia mengetahui bahwa penyakit tersebut tidak akan mengjangkitinya kecuali apa yang Allah tetapkan kepadanya, maka baginya seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR Al-Bukhariy dan Ahmad)

Saat semua kembali ke rumah itulah di antara rahmat yang Allah berikan. Inilah cara Allah agar keluarga-keluarga kembali harmonis dan kuat dalam melewati krisis. Adanya home learning juga menyadarkan orang tua betapa tidak mudah mendampingi proses belajar anak-anak di rumah. Maka, para orang tua pun makin menghargai para guru dan menghormati mereka. Anak-anak menjadi jembatan cinta antar orang tua dan para guru. Ini adalah benar-benar rahmat yang diberikan Allah. Sebagian anak ada yang tinggal di rumah, tak ditemani orang tuanya yang berjibaku di rumah sakit di garda depan melawan penyakit ini. Mereka pun menyadari betapa ayah atau ibunya adalah para pahlawan yang harus didukung dan minimal didoakan.

Kelak ketika semua kembali normal, maka anak-anak akan kembali ke kelas dengan asupan cinta yang cukup dan rasa kangen kepada guru-guru dan teman-teman mereka terobati dengan spirit yang baru. Di saat petang rumah-rumah kembali terdengar bacaan al-Quran selepas shalat berjamaah yang diimami oleh ayah-ayah mereka. Negeri mengembalikan ayah-ayah ke rumahnya menjadi imam yang sebenarnya. Betapa selama ini, kehidupan metropolitan menelan ayah mereka sehingga harus pulang ketika hari telah benar-benar gelap. Sejuk rasanya sahut-sahutan bacaan al-Quran terdengar dari kakak-kakak dan ayah bunda. Sang adik terbata-bata tak menyerah mengeja huruf demi huruf untuk bisa segera memegang mushaf seperti kakak-kakak dan orang tuanya. Terlebih dalam waktu tak lama lagi akan segera datang bulan mulia, Ramadan. Bulan kemuliaan yang al-Quran diturunkan di salah satu malamnya. Malam yang nilainya melebihi nilai kebaikan seribu bulan.

Nabi Muhammad SAW pun ketika kembali dari perjalanan Isra Mi’raj, beliau menjejak di bumi membersamai dunia nyata dan fakta yang masih tetap memilukan. Hanya saja di dadanya telah dipenuhi optimisme dan semangat baru dengan suntikan semangat dari Sang Mahacinta.

Khalifah Umar bin Khattab juga pernah mengalami kasus wabah yang menjangkiti wilayah Syam. Wabah Imawas, sejarah menyebutnya demikian. Dinamakan dengan nama sebuah daerah yaitu Imawas yang terletak antara Yerusalem dan Ramallah. Abu Ubaidah bin al-Jarrah Sang Gubernur Syam menanti lawatan Amirul Mukminin. Umar terhenti di Sarragh, perbatasan Syam dan negeri Hijaz. Kemudian setelah beberapa kali bermusyawarah dengan para sahabatnya akhirnya diputuskan untuk menarik semua rombongan ke Madinah. Abu Ubaidah, Gubernur Syam pun gugur melawan wabah ini, demikian pula penggantinya Muadz bin Jabal. Wafat di tengah wabah yang belum juga mereda. Para ahli sejarah menyebut lebih dari 20.000 jiwa melayang di negeri Syam.

Umar pun akhirnya mengutus gubernur barunya Amru bin Ash. Kali ini setelah berkonsultasi dengan para pakar kesehatan dan tenaga medis, ada kebijakan baru yang dilaksanakan. Kebijakan ini mungkin seperti isolasi dan karantina dengan istilah modern. Amru bin Ash mengungsikan penduduk Syam yang masih sehat di pegunungan-pegunungan. Dibuatlah banyak tempat terpisah-pisah dan berjarak cukup jauh antara satu dengan lainnya. Tenaga ahli dan medis meneruskan jihadnya melawan penyakit ini. Allah pun mengangkat wabah Imawas ini dari negeri Syam.

Rahmat Allah atasmu wahai Amirul Mukminin Umar, dan Sang Gubernur Amru bin Ash. Sejarah kemudian merekam kata-kata Sang Gubernur yang terkenal

الوباء كالنار وأنتم وقودها، فتفرقوا حتى لا تجد ما يشعلها فتنطفئ

“Wabah itu seperti api, sedangkan kalian adalah bahan bakarnya. Maka, bercerai-berailah agar tiada lagi ditemukan bahan untuk dibakar api kemudian ia pun akan padam” Atsar ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabraniy.

Maka, marilah makin mendekat kepada Allah dengan maksimal agar tautan iman dan cinta kita makin mendekatkan kita kepada-Nya. Bersama-sama kita melewati masa-masa sulit ini, insyaallah kita akan kembali ke masjid-masjid dan ke sekolah-sekolah serta tempat-tempat kerja dan melakukan aktivitas dengan lebih produktif dan bermanfaat. Semoga masa-masa sulit ini segera berlalu dengan baik. Aamiin

Rumah Cinta, Kalibata, Jakarta
Ahad, 29.03.2020