Memanusiakan dan Memerdekakan Manusia


Setiap bulan Agustus, Bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Kemerdekaan yang berdaulat yang sudah seharusnya diraih oleh sebuah bangsa, bahkan oleh setiap manusia yang terlahir di bumi ini. Manusia terlahir dengan fitrah kemanusiaan dan kemerdekaannya.

Sebagai manusia, seseorang adalah pengemban amanah Tuhannya untuk memakmurkan bumi-Nya sesuai aturan dan ajaran-Nya. Sebagai orang merdeka, ia terbebaskan dari belenggu apapun dan siapapun. Karena ia hanya boleh menghamba kepada satu Dzat saja, yaitu Dzat yang Maha Kuasa yang maha mengaruniai segala kemerdekaan yang dinikmatinya.

Manusia terlahir secara equal, ia diberi mandat yang sama oleh Allah sebagai khalifah di bumi. Ia berpotensi menjadi manusia terbaik, sekaligus berpotensi gagal meraih peluang kebaikan tersebut. Ia lah yang memutuskan untuk memilih jalan kebaikan yang dibentangkan Allah setiap saat kepada semua manusia yang terlahir.

Karena terlahir merdeka, maka misi Islam pun adalah memerdekakan manusia, agar tetap merdeka dan terbebas dari perbudakan apa saja dan terhindarkan dari diperbudak oleh siapa saja. Karena itu hal-hal yang menyebabkan terbelenggunya kebebasan dan menghalangi kemerdekaan ini sering dibahasakan al-Quran dengan kegelapan, kesesatan, penghalang yang disebut dalam bentuk plural dengan bahasa “azh-zhulumât” sedangkan hal protektif (pencegahan) ataupun yang bersifat menyelesaikan (solutif) disebut secara single yaitu “an-nûr”. Susunan (مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ), dengan bentuk susunan seperti ini disebut tujuh kali. (QS. Al-Baqarah: 257, Al-Maidah: 16, Ibrahim: 1 dan 5, Al-Ahzab: 43, Al-Hadid: 9 dan At-Talaq: 11)

Siapapun umat Islam ia memiliki utama membebaskan dan memerdekakan dirinya dari berbagai macam perbudakan seperti materi, popularitas, harta, wanita, kekuasaan dan sebagainya. Demikian halnya ia pun harus bisa merdeka dalam bersikap dan tidak dibawah pengaruh serta menyembah siapapun dari selain Allah; baik yang ada dan terlihat kasat mata maupun  yang tak terlihat dan ghaib. Ini esensi nilai tauhid seorang muslim yang mendeklarasikan keesaan Allah, menuhankan-Nya semata serta bersedia mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh utusan-Nya, Nabi Muhammad saw.

Di samping itu ia pun berkewajiban memerdekakan sesamanya dari perbudakan sesama manusia ataupun yang lainnya. Ia bawa dengan baik agar mengenal Tuhannya dengan benar sehingga jauh dari kesyirikan materi dan non materi.

Misi memanusiakan dan memerdekaan manusia inilah yang menjadi starting poin untuk meraih prestasi, baik di dunia maupun di kehidupan masa datang di akhirat, berupa keabadiaan dalam kebahagiaan.

Seorang manusia yang benar-benar merdeka sebagai manusia, adalah orang yang bebas menentukan pilihannya, yaitu mengerahkan segala potensi dirinya untuk menjemput berbagai peluang kebaikan yang Allah tunjukkan. Ia terbebas dari diperbudak nafsunya, manusia ataupun makhluk lainnya yang adalah ciptaan Allah di dunia ini. Ia juga sebagai manusia, yang takkan luput dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, tiada kesalahan dan kekhilafan yang tak bisa diperbaiki. Nabi Adam alaihissalam adalah contoh terbaik bagaimana bangkit meraih prestasi dan tak terpuruk dengan kesalahan.

Dan salah satu upaya terbaik mewujudkan kemanusiaan dan kemerdekaan manusia adalah dengan membantu manusia lain atau bangsa lain dalam meraih kemerdekaan yang sesungguhnya dengan makna yang tersebut di atas. Termasuk, menolong bangsa yang sedang terbelenggu oleh kezhaliman dan penjajahan. Membantu merealisasikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Palestina dan terbebas dari belenggu dan cengkraman penjajahan Zionis Israel.

Berharap, pada Dzat yang selalu memerdekakan hamba-Nya, agar tiada lagi penjajahan dan perbudakan di atas bumi ini. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 65

Jakarta, 20.08.2017

SAIFUL BAHRI   

*) sebuah bingkisan kemerdekaan RI dan harapan optimis untuk kemerdekaan Palestina

Kebaikan yang Mengendap

Ketika seseorang hendak menikmati secangkir teh manis, ia akan menyiapkan air mendidih. Kemudian ia menyeduh teh sesuai selera. Dan terakhir, dia akan mengambil sendok untuk menuangkan gula ke dalam gelas. Mungkin satu atau dua sendok, satu atau dua blok gula batu.

Cobalah rasakan, apakah air panas yang bercampur teh tersebut terasa manis? Rasanya tawar atau bahkan mungkin pahit. Padahal sudah ada gula di dalamnya. Hal tersebut karena gula yang berada di dalam gelas tersebut mengendap dan belum diaduk serta digerakkan hingga larut dalam air dan kemudian mengubah rasa menjadi manis sesuai keinginan orang yang membuatnya.

Analog di atas adalah realitas kehidupan sehari-hari. Setiap muslim dan juga manusia pasti memiliki potensi kebaikan yang terpendam. Lalu mengapa saat ini kejahatan, keburukan, dan kezhaliman terjadi di mana-mana? Hal tersebut bukan karena jumlah keburukan lebih banyak. Namun, lebih karena orang-orang baik yang diam. Kebaikan menjadi mengendap di dasar-dasar peradaban. Sementara yang muncul ke permukaan adalah keburukan, kejahatan, penindasan, kezhaliman, ketimpangan sosial.

Agar kebaikan seperti gula yang mengubah rasa, ia harus digerakkan. Ketika sudah mewarnai, wujudnya pun tak terlihat. Karena ia menyatu bersama air. Kekuatan mengubah ini mustahil terjadi tanpa adanya gerakan. Orang-orang baik yang jumlahnya sangat banyak tidaklah berarti jika diam di saat kezhaliman dan keburukan nampak di mana-mana.

Sepekan ini dunia dipertontonkan sebuah penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Rezim Zionis Israel menutup akses masuk ke masjid selama beberapa hari. Dan kemudian 16/7 memasang electronic gate di beberapa akses pintu masuk.

Jika dianalogikan, kita memiliki rumah sendiri, kemudian datang orang asing. Tiba-tiba ia memasang electronic gate di depan rumah kita. Alasan keamanan atau reasoning apapun menjadi sangat tak relevan. Ini adalah bentuk penistaan dan penjajahan yang sesungguhnya. Sudah sepekan berjalan, pemerintah zionis menulikan telinga dan menutup mata terhadap aksi protes yang didengungkan dari berbagai penjuru dunia. Bahkan, Jumat kedua pasca penutupan dan pembatasan akses ini terjadi bentrokan dan menelan korban jiwa.

Masalah yang sesungguhnya bukanlah pada diperbolehkan shalat di dalam Masjid al-Aqsha dengan pembatasan sepihak dari Israel, namun, pemasangan electronic gate adalah bentuk penistaan yang tak bisa dibenarkan.

Beberapa waktu lalu, negeri ini sempat dihebohkan oleh rencana pemblokiran salah satu media sosial yang populer. Protes dan kritikan tajam terdengar di mana-mana. Saat ini, Masjid al-Aqsha sudah benar-benar diblokir, diblokade dan dipersulit akses masuknya bagi umat Islam. Di mana suara para pejuang HAM? Suara para pembela kebenaran? Para aktivis kebebasan dan kemanusiaan?

Masjid al-Aqsha adalah amanah Allah. Karenanya, Allah transitkan Rasulullah saw ke Masjid al-Aqsha sebelum beliau ke sidratul muntaha dan kemudian menemui Allah untuk menerima titah dari-Nya. Amanah yang beliau teruskan kepada umatnya.

Mari bergerak, bagaikan air yang mengalir. Meskipun kecil, ia suci dan menyucikan. Tapi lihatlah air yang menggenang di suatu tempat. Ia kemudian bisa berubah menjadi air yang mutanajjis. Air tersebut menjadi najis bukan karena najisnya banyak, namun karena airnya tidak bergerak. Jika umat ini hendak mewarnai peradaban dan memimpin kembali, maka saatnya bergerak secara dinamis. Bergeraklah, dan kejahatan akan menyingkir, keburukan akan sirna, serta kezhaliman akan binasa. Karena bukan kita yang menghilangkannya. Tugas kita bergerak menjemput takdir. Dan Allah telah menyiapkan takdir kemenangan yang mulia. Dzat yang menewaskan Namrud dengan seekor nyamuk adalah Dzat yang juga menenggelamkan Fir’aun, membinasakan Jalut dengan ayunan batu kecil, juga menghinakan Abu Jahal dengan kematian di tangan dua bocah kecil. Ibrahim, Musa, Dawud, Mu’adz dan Muawidz hanyalah hamba-Nya yang membawa takdir kemenangan.

Catatan Keberkahan 61

Jakarta, 22.07.2017

SAIFUL BAHRI

SPIRIT HIJRAH DI SYDNEY


Ini adalah Ramadan pertama saya ke di Australia. Juga mengulangi menjalani bulan Ramadan di saat musim dingin seperti ketika pertama kali saya belajar di Mesir, di negeri Musa dan para nabi ‘alaihimussalâm.

Adalah CIDE (Centre for Islamic Dakwah and Education) yang bermarkaz di Sydney yang mengundang saya untuk menjalani rangkaian kegiatan ibadah selama bulan Ramadan di Australia, dengan base camp Masjid al-Hijrah yang terletak di Tempe, Sydney, New South Wales, Australia. Masjid al-Hijrah didirikan sebagai sarana silaturahim dan tempat aktivitas komunitas umat Islam Indonesia di Sydney khususnya.

Menilik sejarah, pada tahun 1974, komunitas Muslim Indonesia di Sydney membentuk sebuah organisasi dakwah yang diberi nama LDPAI (Lembaga Dakwah Pendidikan Agama Indonesia), organisasi ini diprakarsai oleh KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Sydney. Kemudian pada tahun 1985/1986 organisasi ini berganti nama menjadi Central Islamic Dakwah and Education (CIDE). Secara organisatoris lembaga ini tak lagi memiliki hubungan secara langsung dengan KJRI. Pada saat itu organisasi ini belum mempunyai tempat kegiatan sendiri, karena itulah masih menumpang di masjid milik komunitas Malaysia (Masjid Zetland).

Pada tahun 1991 pengurus CIDE mempunyai inisiatif untuk membeli sebuah bangunan untuk dijadikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pusat kegiatan, maka pada tahun tersebut dibeli sebuah bangunan bekas sebuah Gereja bernama Jehovah Witness Church yang dijual karena sudah tidak dipergunakan lagi. Bangunan bekas gereja tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid, dengan mengubah beberapa bagian dalamnya. Bagian mimbar untuk khotbah Gereja dijadikan kantor (sekretariat), sedangkan mimbar dan tempat shalat Imam dipindah di bagian tengah sebelah barat menghadap arah kiblat shalat. Bangunan masjid ini kemudian diberi nama Masjid al-Hijrah. (https://www.cide.org.au/web2/who-we-are/)

Bertemu dengan para orang tua dan mendengar liku-liku mereka saat datang pertama kali ke Australia, rasanya penamaan masjid ini sangat tepat. Para sesepuh seperti Buya Rizal, Pak Lui Irfandi, Pak Muslimin, Pak Syawal, Pak Aan, juga Pak Lutfi Sungkar dan banyak nama yang tak bisa saya sebut kansatu persatu. Anak-anak muda sudah seharusnya belajar dari kegigihan mereka. Bukan hanya kegigihan survivalitas mereka, tetapi keteguhan dalam memegang prinsip beragama. Sehingga bisa mengubah keadaan dan mempertahankan prinsip akidah yang benar. Secara usia barangkali saat ini yang aktif di masjid adalah generasi kedua yang sebagian besarnya sudah jauh lebih mapan dan lebih baik survivalitasnya jika dibanding para pendahulu. Meskipun demikian, tantangan zaman tetaplah sesuai waktunya. Generasi muda sekarang memiliki tantangan yang tak ringan mempertahankan idealisme dalam beragama dan menjalankan perintah Allah.

Karena itulah mendekatkan diri dan keluarga ke masjid adalah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan secara masif dan bersama-sama. Untuk itulah Masjid al-Hijrah menjadi pertemuan semua keinginan mempertahankan diri, identitas akidah dan berbagai tradisi baik. Perbedaan sebagian kultur yang bertentangan dengan agama perlu wadah untuk menyikapinya. Masjidlah tempat terbaik untuk itu.

Menariknya, ada fenomena menarik sekaligus menggembirakan dengan lahirnya generasi ketiga. Satu sisi sebagian mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang lancar dan baik. Namun, sisi baiknya adalah tak sedikit sudah mulai banyak yang menghafal al-Quran dengan variasi. Ada yang sudah hafal satu atau dua juz al-Quran. Ada yang hafal 5 juz, ada pula yang sudah 10 juz, bahkan di antara mereka ada yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qurannya secara sempurna yaitu 30 juz.


Secara pribadi saya sangat bahagia bisa kembali ke Sydney untuk kedua kalinya setelah musim spring lalu CIDE melalui Pak Ichsan, presiden CIDE mengundang saya untuk berkunjung dan berbagi ilmu yang diberikan Allah di Masjid al-Hijrah ini.

Ramadan kali ini menjadi semakin special, karena saya juga memiliki tandem dakwah yang luar biasa. Teman sekaligus guru saya, Ust. Dr. H. Agus Setiawan, Lc, M.A.

Itulah nikmat Allah. Meskipun sama-sama tinggal di Jakarta, ternyata untuk bertemu atau mengadakan pertemuan, kami berdua selalu terkendala waktu dan jarak tempuh serta kesibukan yang memiliki perbedaan aktivitas.

Kami berdua diamanahi CIDE untuk memberikan ceramah selama bulan Ramadan 1438 H dengan tema sentral Kemukjizatan al-Quran. Spiritnya adalah agar semua kita tersadarkan akan dahsyatnya kemukjizatan al-Quran dan kemudian mau membaca dan mempelajarinya serta kemudian mengajarkan dan mengamalkannya. Kebaikan lailatul qadar adalah kebaikan yang menginspirasi tumbuhnya kebaikan lainnya. Kebaikan yang sanggup menggerakkan seribu komunitas lainnya.


Dan karena rumah yang di dalamnya tak pernah dibacakan al-Quran maka bagaikan kuburan bagi orang yang menempatinya. Agar umat ini bangkit dan tidak memulai kegiatan dari dalam kuburan, maka diharapkan dengan kajian-kajian ini rumah-rumah kaum muslimin menjadi bercahaya dan menginspirasi untuk bangkit kembali bersama al-Quran.

Secara bergantian kami berdua mengupas dimensi-dimensi kemukjizatan al-Quran. Dari sejak dimensi kebahasaan yang mencakup pilihan kata dan susunan kalimat dalam al-Quran, pengulangan kata, penyebutan lafzah ujian, kemenangan, macam-macam ukhuwah di dalam al-Quran dan sebagainya

Dimensi scientifik dalam penuturan al-Quran juga dibahas. Seperti hikmah dan rahasia penciptaan nyamuk, qalbu (jantung), teori relativitas waktu dan penyebutan jenis-jenis waktu di dalam al-Quran serta relasinya dengan waktu turunnya al-Quran dan sebagainya.

Dimensi ghaib kali ini dikupas tentang iblis, setan dan jin di dalam al-Quran serta beberapa hikmah cerita masa lalu yang bisa diambil hikmahnya seperti istana dan penjara di dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Dawud Thalut dan Jalut dan kisah kekuasaan.

Dalam dimensi visualisasi, kali ini telaah al-Quran tentang hoax dan jebakan persepsi adalah bentuk dahsyat penuturan al-Quran bagaimana daya rusak hoax dan berita dusta serta jebakan persepsi pribadi yang mempengaruhi pola pikir. Al-Quran memberikan solusi normatif dan praktisnya di dalam surah al-Hujurat. Selain itu tentunya dalam dimensi visualisasi ini al-Quran menjelaskan perumpamaan serta berbagai kondisi dan kehidupan manusia nantinya di akhirat, baik di surga ataupun –naûdzu billah– di dalam neraka.

Selain kajian ba’da tarawih selama Ramadan, ada juga kajian raqa’iq (tazkiyatunnafs [pembersihan jiwa]) bada subuh yang berdurasi sekitar 15-10 menit setiap harinya. Tema-tema yang diangkat adalah seputar takwa, istiqamah, tawakkal, keutamaan dzikir dan menadabburi lafazah-lafazh dzikir harian, kemudian serial minal ‘âidin wal fâ’izîn.


Secara teknis untuk memperluas wawasan praktis CIDE juga mengadakan workshop dan pelatihan dua kali. Yang pertama pelatihan mengurus jenazah menurut tuntunan Islam, kemudian tentang ilmu mawaris dan terakhir fikih akuntansi zakat.

Di samping itu, Ibu-ibu di Masjid taklim Masjid al-Hijrah juga mengadakan kajian dhuha. Demikian juga komunitas muslimat Iqro Foundation, Komunitas ODOJ (One Day One Juz) dan Majelis Taklim Raudhatul Ilmi. Juga PRIM Ranting Muhammadiyah NSW.

Saya juga berbahagia bisa bersilaturahim dan bertukar pikiran dengan para mahasiswa di University of Wolongong dan sempat tarawih bersama mereka di Islamic Centre di kampus. Juga berkesempatan berbuka puasa dan tarawih bersama masyarakat Western Sydney yang baru mengadakan percobaan tarawih bersama dengan menyewa gedung milik council. Yang mengharukan saat fund rising untuk pengadaan pusat kegiatan dan tempat shalat para jamaah sangat bersemangat. Saya teringat sebuah buku karya ulama ternama di Mesir yang kini tinggal di Qatar di lelang dan sampai terjual di angka 500 dollar. Komitmen-demi komitmen dikumpulkan selain uang cash dan donasi melalui eftpos payments. Jumlahnya, menurut saya sangat luar biasa karena hanya dikumpulkan melalui dua kali fundrising, termasuk di antaranya untuk proyek yang direncanakan oleh CIDE di tahun 2017 dan 2018. Ini belum termasuk donasi untuk pembangunan masjid besar komunitas AIM di Punchbowl. Masyaallah, masyarakat benar-benar berlomba-lomba dalam mendermakan hartanya fi sabilillah.

Dinginnya suasana Sydney ternyata tak berpengaruh buruk apalagi sampai membekukan. Justru komunitas muslim di sini sangat hangat menyambut baik kami. Sambutan berupa respon yang baik selama kajian. Ibu-ibu yang berjihad menyediakan makanan terbaik. Panitia yang selalu stand by. Belum lagi, para jamaah yang selalu menemani di rumah belakang.

Saya sempat berpikir bahwa makan selepas tarawih hanya akan terjadi sesekali saja. Faktanya, kemudian hampir tiap malam selalu saja ada yang mengajak keluar untuk sekedar menikmati suasana malam sambil mencicipi kuliner Sydney. Ajakan favorit yang paling sering tentunya ke Lakemba. Penduduk Sydney bahkan Australia tentu tahu ada apa di Lakemba, terutama di Haldon Street. Festival Ramadan menjadikan jalan utama tersebut menjadi ramai bahkan hingga sahur. Padahal umumnya took-toko pun tutup jam 5 sore atau paling lambat di jam 9 malam.

Tawaran mencicipi camel burger dan juz wortel adalah yang paling sering kami terima. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan Ramadan sebagai festival berbagai kebaikan. Di dalam masjid dan dalam keseharian menjadi ajang perlombaan dan fastabiqul khairat.

Belum lagi undangan buka bersama, dan termasuk memenuhi undangan open house di bulan syawal. Alhamdulillah Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuk mengunjungi satu persatu, termasuk ke kediaman Bapak Konjen di Wisma KJRI juga para sesepuh masyarakat di Sydney. Meskipun tak semua undangan bisa didatangi tentunya.

Malam-malam yang mengharukan juga kami nikmati bersama para pemburu lailatul qadar yang beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Menjalani bersama shalat tahajud dan menengadahkan tangan bersama mengetuk pintu ampunan dan rahmat Allah melalui doa, munajat dan muhasabah menjelang sahur.

Keindahan yang sempurna. Terlebih saat Allah karuniakan dan kabarkan datangnya kemenangan saat Idul Fitri. Bersama kaum muslimin menjemput kemenangan yang dijanjikan Allah. Kemenangan yang membuat iblis dan setan serta bala tentaranya menangis. Karena, apa yang mereka lakukan dengan jebakan-jebakan selama setahun menjadi sirna bersama ampunan Allah untuk umat Islam serta turunnya rahmat dan sayang-Nya.

Jika Ust Agus Setiawan diamanahi menyampaikan khutbah Idul Fitri di Sydney, maka saya menjalankan amanah untuk terbang ke Canberra. Bersama masyarakat muslim Indonesia saya menyampaikan khutbah Idul Fitri di KBRI Canberra.

Musim sibuk penerbangan kali ini, membuat kepulangan kami tertunda. Rasa rindu dan kangen dengan keluarga harus ditahan sesaat. Alhamdulillah, ada banyak hikmahnya. Kami masih sempat bersilaturahim dengan masyarakat. Selain itu, kami juga sempat menikmati dinginnya salju dan berselancar di Perisher, Blue Valley Mountain.

Kepergian bulan Ramadan memang membuat sedih orang-orang yang mengetahui kemuliaan yang ada di dalamnya. Karena seandainya semua tahu kebaikan yang ada di dalamnya tentu semua orang akan berharap sepanjang tahun adalah seperti bulan Ramadan. Tapi, terbitnya bulan Syawal adalah kebahagiaan bagi umat Islam menerima hadiah rahmat dan pembebasan dari murka dan neraka Allah. Kini kita tinggal merawatnya.

Demikian juga kami, dengan berakhirnya Ramadan berarti akan segera berakhir kebersamaan fisik di Sydney dengan masyarakat muslim yang ramah dan sangat inspiratif ini. Ada suanana haru yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata. Akan tetapi, ada kebahagiaan dan optimisme lain, karena kami akan segera bertemu keluarga di Indonesia. Keluarga yang rela berbagi waktu, mengikhlaskan kami melanjutkan tradisi dakwah di mana dan kapan saja. Istri yang gigih memerankan semua terutama menjadi ibu yang baik dan sabar bagi anak-anak. Anak-anak kami yang tentunya terkurangi kebersamaan dengan ayah mereka. Semoga Allah menggantinya dengan pahala serta menjaga mereka dengan dijadikan anak-anak shalih yang akan menuntun kami ke surga.

Siang ini, Jumat 30.06.2017 masih ada agenda terakhir di Masjid Al-Hijrah. Agar spirit kebaikan terjaga insyaallaah khutbah Jumat nanti saya akan mengangkat tema: Memakmurkan Masjid & Melanjutkan Tradisi-Tradisi Kebaikan. Diantara poin-poin pentingnya:

  1. Mempertahankan komunitas yang baik dengan selalu membersamai mereka serta saling menasehati dalam kebaikan
  2. Memakmurkan masjid, dengan memberikan perhatian dan pengorbanan untuk berbagai hal di antaranya: perawatan dan kebersihannya, kenyamanan dalam beribadah (terutama shalat), meramaikannya dengan majelis ilmu dan dzikir serta berbagai kegiatan positif lainnya.
  3. Jadikan masjid ==> sebagai pusat kegiatan dan majelis perencanaan strategis
  4. Jadikan masjid ==> sebagai sanggar-sanggar al-Quran, tempat-tempat tahfizh, mempelajari al-Quran dan menyebarkan spirit kebaikan yang terkandung di dalamnya
  5. Jadikan masjid ==> sebagai basis data masyarakat, terutama komunitas masyarakat di Sydney dan Australia kemudian membuat peta dakwah untuk mengajak semua untuk berbuat dan memberi kemanfaatan
  6. Jadikan masjid ==> sebagai tempat regenerasi anak-anak dan pemuda dengan membiasakan mereka supaya akrab dengan masjid dan bergaul dengan orang-orang yang sering berada di dalamnya
  7. Jadikan masjid ==> sebagai sarana sharing kebahagiaan dan berbagai kepedulian dengan sesama. Dalam al-Quran perintah shalat seringnya disandingkan dengan perintah menunaikan zakat.

Mudah-mudahan rajutan persaudaraan dan pertalian ukhuwah ini dikekalkan Allah hingga hari kiamat dan dipertemukan kembali diakhirat dalam naungan ridho Allah serta dikumpulkan bersama Nabi Muhammad saw dan shalihin shalihat yang menyintai dan dicintai-Nya.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada pimpinan CIDE, Pak Ichsan akbar, Gota (Moh Sjam), Uda Riski Patiroi dan Uda Panji Budiman. Panitia Ramadan yang dikomandoi Pak Lukman kemudian Pak Imam yang incharge dengan update jadwal harian. Juga kepada Uda Uli, Muhammad Haikal, Mas Arif, Pak Elvo, Mas Zain, Allen Rahman, Jufri dan para pegiat youth, Pak Adi, Pak Joko, Pak Eko, Mas Teguh Waluyo dan Pak Ahmad. Juga kepada Pak Wawan, Pak Bambang dan Pak Farid. Tak lupa kepada Pak Novianto dan keluarga.

Juga terima kasih kepada Mas Dito, Mas Teguh Suwondo, Pak Aulia juga Pak Presiden CIDE yang meluangkan waktu dari sejak menyiapkan kami untuk berwisata ke Snowy Mountain. Juga Colonel Riva yang menjadi guide sekaligus tuan rumah selama kami di Canberra.

Terima kasih kepada Bapak Dubes di Canberra serta Bapak Konjen di Sydney. Juga Mas Ibrahim serta pak Imam Malik sekeluarga dan Pak Abrar yang menjamu kami selama di Canberra.

Terima kasih kepada masyarakat di Western Sydney, terkhusus pengurus CIDE yang tinggal di sana, juga kelurga Ust Arif Taufik, Bang Haris dan sebagainya.

Juga kepada Iqro Foundatian, Pak Nur, Pak Mico, Pak Yudi, Pak Beri, Pak Narto, Pak Uki dan lainnya

Terima kasih Bang Nazar dan Andre yang juga teman kami selama kami di Universitas al-Azhar Mesir. Pak Maswan dan Pak Sobri atas masakan-masakannya.

Juga tentunya Ibu-ibu yang namanya tidak saya sebutkan satu persatu. Bu Lili dan komunitas ODOJ di NSW, juga ibu-ibu di MTRI.

Selain itu terima kasih khusus kepada asatidz: Dr. Agus Setiawan, Ust. Musyaffa, Ust. Henmaidi, Ust. Ziyad. Imam shalat selama di Masjid al-Hijrah, Ust. Toriq Jamil al-Hafizh, juga Ust. Musa al-Barqy dan Ust. Taqiyuddin.

Mohon maaf bila banyak nama tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Namun tidaklah mengurangi rasa cinta dan penghormatan saya. Mohon maaf pula bila selama sebulan lebih berinteraksi terdapat banyak kehilafan dan kesalahan serta keterbatasan.

Kullu ‘âm wa antum bi khoir, Minal ‘âidin wal Fâizin.

 

Sydney, 30.06.2017

Jumat menjelang siang

 

SAIFUL BAHRI

 

Kembalikan Tradisi Kemenangan

Melanjutkan tagar minal aidin wal faizin yang merupakan orientasi umat Islam di bulan Ramadan, yaitu meraih kemenangan dan kembali pada tradisi-tradisi kebaikan yang ditanamkan oleh Rasulullah saw.

Di antara tradisi yang terpelihara dalam sejarah umat Islam adalah tradisi meraih kemenangan. Kemenangan yang membentangkan bagi mudahnya masyarakat untuk menjalankan tuntunan agama Allah dan memudahkan masyarakat mendapatkan sentuhan rahmat Islam.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-mustadraknya bahwa Nabi Isa a.s diselamatkan oleh Allah dari usaha pembunuhan yang dilakukan kaumnya di bulan yang sama dengan bulan diturunkannya al-Quran. Bulan diturunkannya al-Quran adalah bulan Ramadan sebagaimana kita maklum.

Rasulullah saw dan para sahabat meraih kemenangan signifikan dalam peperangan eksistensi yang menegangkan, Badr al-Kubra pada tanggal 17 Ramadan 2 H. Kemudian penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah) terjadi pada tanggal 20 Ramadan 8 H. Berikutnya tradisi kemenangan ini juga terpelihara baik. Pada tanggal 15 Ramadan 138 H/20 Februari 756 M Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan pemerintahan di Andalusia serta membangun dasar-dasar kemajuan Islam di Eropa.

Pada tanggal 26 Ramadan 583 H (1188 M), Shalahuddin al-Ayyubiy memenangkan Perang Hittin melawan tentara Salib. Pada tanggal 25 Ramadan 658H (1260 M), Saifuddin Qutz mengeliminasi Tentara Mongol dalam Perang Ain Jalut (dikenal sebagai Ending of Mongol Empire) setelah di masa lalu menjadi mimpi buruk umat Islam, karena menghancurkan Dinasti abbasiyah di Baghdad.

Pada tanggal 4 Ramadan 666 (1268 M), kota Anthakiya yang merupakan salah satu kota penting di Syam kembali ke pangkuan Umat Islam setelah selama 170 tahun dikuasai pasukan salib.

Dalam sejarahnya umat Islam meraih kemenangan dan melanjutkan berbagai tradisi kemenangan terutama diraih di bulan Ramadan. Anehnya, setelah berabad-abad berlalu tradisi tersebut sulit dipertahankan. Fakta pahit tersajikan bahwa kini umat Islam terpinggirkan. Sering menjadi korban stagmatisasi berbagai hal buruk, sejak dari keterbelakangan, ketidakberaturan, terorisme, radikalisme, intoleransi dan sebagainya. Lebih buruk lagi, nyawa umat Islam menjadi sedemikian kurang berharga. Dunia menjadi kurang empati dengan ribuan, puluhan ribu bahkan ratusan ribu nyawa umat Islam yang hilang oleh kezhaliman.

Maka, peran kepemimpinan oleh umat Islam semakin tereduksi. Hal tersebut dikarenakan –salah satunya– umat Islam menjauh dari orbit kebangkitannya, yaitu al-Quran.

Dalam sabdanya Rasulullah saw memperingatkan bahwa rumah yang tidak dibacakan ayat-ayat al-Quran bagaikan kuburan. Maka, lihatlah berapa banyak rumah umat Islam menjelma menjadi kuburan. Mereka makan, tidur dan bercengkerama dengan keluarganya bagaikan dilakukan di dalam kuburan. Keesokan harinya, saat mereka keluar dari rumah, maka bagaikan mereka keluar dari kuburan. Seolah Umat Islam menjelma menjadi mayat-mayat berjalan. Mereka membangun peradaban dari dalam kuburan.

Maka, menyikapi kondisi terkini umat Islam, tiada pilihan kecuali kembali kepada al-Quran. Jika umat Islam hendak meraih kembali kepemimpinan peradaban manusia, itulah solusi yang tepat. Malaikat yang bersentuhan dengan al-Quran, Jibril menjadi malaikat terbaik. Manusia yang menerima al-Quran pertama kali, yaitu Nabi Muhammad SAW, menjadi manusia terbaik bahkan nabi terbaik-Nya, malam yang menjadi sarana turunnya al-Quran menjadi malam terbaik yang pernah ada (lailatul qadar). Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan al-Quran juga menjelma menjadi bulan terbaik di antara bulan-bulan yang ada. Umat Nabi Muhammad saw, menjadi umat terbaik karena memiliki al-Quran yang menjadi aturan menjalani hidup dari Allah swt.

Kembalikan tradisi kemenangan. Mulailah dari menjadikan rumah sebagai pusat peradaban. Yaitu, dengan cara menjadikan rumah tempat tinggal kita bercahaya dengan al-Quran.

Catatan Keberkahan 58

Sydney, 10.06.2017

SAIFUL BAHRI

Bumi Allah Luas

الأقصى

Jika mendengar istilah bahwa bumi Allah itu luas, langsung terlintas di benak kita firman Allah di Surah an-Nisâ’: 97 yang menegaskan kecaman Allah terhadap orang-orang yang enggan berhijrah ke Madinah. Demikian pula firman Allah di Surah al-Ankabût: 56 dan Surah az-Zumar: 10, adalah anjuran Allah jika seandainya beribadah di suatu tempat menjadi demikian sulit dan berat, maka terdapat bumi Allah lain yang luas yang bisa menjadi tempat beribadah.

Secara tekstual, ayat-ayat di atas mengisyaratkan anjuran hijrah yang bermakna fisik. Padahal hijrah bukan –HANYA– dimaknai perpindahan fisik. Jika menilik peristiwa hijrah nabawiyah ke kota Madinah merupakan perpindahan level beribadah dari skup individu menuju level yang lebih luas yaitu komunal dengan menciptakan grup value atau pada level negara. Di samping itu terdapat sekian makna hijrah yang berarti non fisik.

Tak heran jika nantinya akan ada saja pihak-pihak yang menyuarakan solusi bagi tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, penjajahan, pendudukan ilegal, perampasan tanah sampai berbagai jenis kejahatan yang terjadi, yaitu berupa solusi hijrah fisik. Artinya jika bangsa Palestina mau pindah dari tanah mereka saat ini maka –seolah– masalah kemanusiaan yang mereka hadapi akan selesai. Padahal masalah yang sesungguhnya adalah sangat krusial dan berdimensi sangat ideologis. Maka justru, kepindahan fisik umat Islam di Palestina keluar dari Palestina, khususnya dari Masjid al-Aqsha menjadi sangat tak dianjurkan. Mereka wajib untuk menjaga agar amanah Masjid al-Aqsha bisa terus dijaga dari pendudukan dan perampasan tempat-tempat suci oleh rezim Zionis Israel.

Akhir Maret 1976 adalah sebuah nestapa kelabu bagi rakyat Palestina, khususnya para petani. Pemerintah Zionis Israel merampas sekitar 21 hektar tanah Palestina di Desa Arraba, Sakhnin, Dir Hana, Thar’ân, Thamra dan Kabul serta beberapa wilayah lainnya. Pada tanggal 29 Maret 1976 diberlakukan darurat sipil yang melarang siapapun keluar rumah dari mulai pukul lima petang hingga pukul lima pagi di hari berikutnya. Sehari kemudian, 30 Maret 1976 para petani Palestina melakukan demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk perlawanan dan melakukan mogok massal. Militer Zionis dengan keras merespon demonstrasi tersebut. Banyak korban jiwa berjatuhan. Sejak saat itu setiap tanggal 30 Maret sering disebut sebagai “Hari Tanah”, mengenang kekejaman dan kezhaliman rezim zionis yang melakukan perampasan tanah milik individu dan publik di berbagai wilayah Palestina.

Maka, logika mengenai hijrah untuk kasus Palestina harusnya dibalik. Jika bumi Allah itu luas, seharusnya tak ada perampasan tanah. Tak ada pengusiran yang semena-mena. Tak ada pembangungan pemukiman-pemukiman ilegal di atas tanah-tanah Palestina.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para imigran ilegal zionis yang dimobilisasi dari berbagai negara tersebut tidak mencari tanah-tanah yang tidak berpenghuni. Seharusnya mereka bisa menempati tanah-tanah kosong tak berpenghuni yang tersebar di berbagai tempat.

Jika bumi Allah itu luas, mengapa para penduduk asli Palestina harus terusir keluar dari tanah mereka sehingga berdiaspora ke berbagai belahan bumi. Sebagian besar terkatung-katung dan berstatus sebagai pengungsi atau sebagai pencari suaka di berbagai negara-negara sekitarnya.

Itulah sebuah ironi kemanusiaan di zaman modern, ketika masih ada sebuah bangsa yang harusnya memiliki negara yang berdaulat, kini hidup sebagai bangsa terjajah. Terjadi pembiaran terhadap penjajahan dan perampasan semena-mena ini. Dunia internasional tak berdaya menghentikan pembangunan pemukiman-pemukiman ilegal di Palestina. Masyarakat internasional tak berkutik menyaksikan berbagai penistaan terhadap Masjid al-Aqsha. Hal-hal buruk ini terjadi saat seruan toleransi didenungkan di mana-mana dan hak asasi manusia menjadi standar kehidupan internasional.
Catatan Keberkahan 48

Jakarta, 31.03.2017

 

SAIFUL BAHRI

Superhero

heroeslgcgogo.jpg

Kalau diperhatikan saat ini produksi film-film hollywood kembali sering memunculkan tokoh dan karakter superhero. Lihat saja deretan filmnya sangat banyak. Publikasi yang jor-joran. Mengapa, sampai ada eksplorasi yang berlebihan tentang tokoh-tokoh superhero tersebut? Bisa jadi karena ruang hampa yang muncul terlalu banyak. Hampa harapan karena para pemegang kebijakan dunia ini semakin tidak bersinergi. Benturan-benturan politis semakin mengemuka. Tragedi kemanusiaan semakin banyak dan melebar. Pembiaran yang terjadi terhadap pembunuhan, penjajahan, pengusiran semena-mena adalah bentuk-bentuk tindakan tidak manusiwai.

Krisis Suriah yang tak kunjung jelas ujungnya. Penjajahan Zionis terhadap Palestina yang semakin brutal meski dikecam oleh banyak bangsa. Serta berbagai krisis kemanusiaan lainnya, seperti kelaparan di Somalia. Hal-hal tersebut adalah potret peradaban modern kita.

Maka, sebenarnya wajar jika manusia mulai merindukan sosok superhero. Khayalan mereka mulai berfantasi menunggu datangnya manusia yang bukan manusia biasa. Agar masalah-masalah yang terjadi saat ini terselesaikan dengan segera dan tidak bertele-tele. Padahal persepsi mereka tentang superhero ini terlalu utopis. Bahkan hanya ilusi belaka.

Yang kita perlukan saat ini bukan superhero seperti yang digambarkan oleh para sineas hollywood. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang tak menyerah dengan keterbatasan dan keadaan. Yang tak menyerah meski kezhaliman dipertontonkan di mana-mana. Yang tak menyerah meskipun kemungkaran bergelombang datang menyerbu dan menyerang. Yang tetap kokoh meskipun dikepung berbagai konspirasi.

Yang kita perlukan dengan urgen dan segera adalah persatuan. Persatuan umat ini akan menjadikan misi kepemimpinan umat Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Umat yang bersatu akan mengembalikan peran vital dalam memimpin peradaban manusia, pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dan diteruskan oleh para generasi berikutnya.

Peran umat Islam dan perkhidmatannya terhadap peradaban manusia memnag tak bisa hanya diukur melalui politik dan kekuasaan. Sehingga pasca runtuhnya Khilafah Usmaniyyah 1924 M tak bisa langsung dikatakan bahwa umat Islam tak lagi berperan dalam membangun peradaban. Jika dikatakan berkurang mungkin ada benarnya, namun hal tersebut tak berarti nihil sama sekali.

Umat Islam dan manusia pada umumnya saat ini menanti hadirnya para pejuang dan pahlawan yang benar-benar memiliki tekad baja dan tanpa pamrih keduniaan dan materi. Mereka itu bukanlah manusia super yang bisa terbang atau tak tembus peluru atau berkulit baja. Mereka manusia yang normal seperti kebanyakan manusia. Tapi manusia yang nilainya melebihi seribu komunitas manusia lainnya. Bagaikan malam lailatul qadar yang melebihi seribu bulan. Karena kedekatannya dengan kalam dan wahyu Allah yang mulia.

Kembalilah kepada al-Quran, manusia super akan segera hadir membawa umat Islam memimpin peradaban manusia. Al-Quran yang menjelma dalam dirinya sehingga perkataan-perkataannya searah dengan al-Quran. Perbuatan-perbuatannya sejalan dengan panduan-panduan langit. Tingkah lakunya tak menyelisihi apa yang menjadi rambu-rambu dari Allah dan Rasul-Nya. Menjelma kembali seperti abu Bakar, Umar, Usman dan Ali serta generasi terbaik umat ini. Takkan sulit diwujudkan jika umat ini segera sadar dan kembali bersatu dengan panduan kitab-Nya. Wallaahu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 47

Jakarta, 24.03.2017

SAIFUL BAHRI

Satu Jantung Satu Kiblat

Jantung-652x373

Jantung adalah pusat kehidupan manusia, baik kehidupan yang berarti fisiologis ataupun non-fisiologis. Al-Quran memiliki perhatian terhadap pembahasan jantung yang disebut dengan lafazh qalbu. Kata qalbu yang single (beserta derivasinya) diulang dalam al-Quran di 53 ayat. Sedangkan kata qulûb diulang dalam 104 ayat. Qalbun bisa berarti organ fisik manusia; jantung dan juga bisa diartikan non-fisik sebagai alat perasa, memahami, tempat iman, cinta, kufur dan benci serta berbagai rasa yang lainnya. Kadang bisa berarti dua-duanya sekaligus. Adapun jika al-Quran menyebutnya dengan fu’âd yang pluralnya af’idah diartikan dengan makna non fisik yaitu alat memahami dan merasakan.

Kedua kata di atas lazimnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “HATI” yang berarti tidak fisiologis. Namun, jika tidak dijelaskan secara rinci bisa dipahami secara salah. Karena tidak definitif dan bahkan jika diarahkan ke organ tubuh hati (lever) maka tidak tepat.

Selama ini banyak kalangan menganggap bahwa jantung hanya berfungsi sebagai mesin pompa darah. Tapi, mulai abad 21 dan ketika terjadi perkembangan pesat di bidang pencangkokan jantung dan pembedahan jantung, para peneliti mulai menyadari adanya fenomena aneh dan tidak wajar yang terjadi secara psikologis pada pasien setelah dilakukan operasi pencangkokan jantung. Hal ini menandakan bahwa jantung itu tak bisa hanya dilihat secara fisiknya saja.

“mereka mempunyai qalbu, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami”. (Sûrah Al-A’râf:179) ayat senada di surah al-Hajj: 46. Qalbu disebut sebagai alat untuk memahami.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa jantung merupakan organ penting. Baik secara fisik maupun non fisik. Jika ia baik maka keseluruhan anggota badan manusia akan baik, demikian juga yang berarti non fisik, jika ia baik maka secara umum ia akan menjadi manusia yang baik.

Jantung sehat secara fisik, akan mempengaruhi kesehatan dan kebugaran fisik. Jantung sehat secara non fisik (memahami, beriman, bersyukur), maka akan memacu manusia menjadi pribadi baik. Menjaga kesehatan jantung (qalbun) bisa dilakukan melalui dzikrullah (Ar-Ra‘d [13]:28), (Al-Anfâl [8]:2), (Âl-Imrân [3]:191), juga dengan tilawah al-Quran, karena Allah senantiasa memerintahkan untuk membaca al-Quran dalam kondisi apapun meskipun hanya sedikit dan sebentar (lihat Surah al-Muzammil: 20).

Jika qalbun manusia sehat, maka kondisi sosial akan sehat dan baik. Qalbun juga memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa saling mempengaruhi, menguatkan dan memotivasi. Jika demikian terjadi, gelombang kebaikan benar-benar bisa dibesarkan. Maka takkan ada kesenjangan sosial terlihat.

Bagaimana saat ini kita saksikan? Yang hidup di belahan bumi Eropa, orang bermain-main bola bergaji miliaran rupiah perpekannya, sementara ada ribuan/jutaan nyawa hilang karena bencana kekeringan dan kelaparan di Somalia. Di belahan bumi tertentu, daging makanan untuk hewan peliharaan lebih tinggi dan mahal dari daging yang dimakan oleh manusia di negara berkembang. Bahkan di beberapa tempat, jangankan daging, makanan pun langka didapatkan.

Di tempat-tempat tertentu orang dimanjakan dengan fasilitas properti dan gedung-gedung pencakar langit, sementara di Tepi Barat dan khususnya al-Quds rumah-rumah milik mereka sendiri digusur dengan semena-mena, di Jalur Gaza banyak sekolah tetap harus berfungsi meski gedung-gedungnya berupa reruntuhan, dan berbagai fasilitas publik lainnya karena lambannya proses recovery yang terhalang kendala suplay bahan di perbatasan atau terbatasnya dana pembangunan.

Sebagai umat Islam, selayaknya lebih memikirkan dulu saudara-saudara kita yang tertindas oleh kezhaliman dan terjebak oleh musibah kelaparan. Satu jantung dan satu kiblat. Selanjutnya memimpin peradaban memakmurkan bumi Allah dan bermanfaat untuk seluruh umat manusia.

 

Catatan Keberkahan 46

Jakarta, 17 Maret 2017

SAIFUL BAHRI