Bijak Menyikapi Post Power Syndrome (Tadabbur Kisah Nabi Ayub AS)

Dr. Saiful Bahri, M.A

 

Allah mengaruniakan kelebihan sebagian hamba-Nya di atas hamba-hamba-Nya yang lain. Demikian pula Allah mengurangkan suatu hal dari hamba-Nya, sedangkan yang lain dilebihkan darinya.

Manusia dalam perjalanannya hidup di dunia mengalami proses yang berliku, dari proses penciptaannya yang tak sederhana. Proses panjang yang Allah sering meminta kita untuk mengkajinya. Penciptaan manusia adalah sebuah tanda dari sekian bukti kekuasaan Allah. Dari sejak tak punya nama manusia terlahir di dunia kemudian disebut dan dipanggil dengan nama khusus yang disediakan oleh orang tua pada umumnya. Dari sejak tak mampu melakukan apa-apa, ia belajar melihat, berbicara, berjalan, merasakan, mengungkapkan, memahami dan memahamkan. Dari sejak tak membawa apa-apa ketika lahir, kemudian ia diberi nikmat oleh Allah banyak hal.

Setelah terlahir di dunia sebagai bayi, kemudian menjadi anak-anak, remaja, dewasa, dan kembali lemah di saat tua.

Umumnya, manusia menyorot usia produktifnya. Saat ia sedang menikmati kegagahannya. Ketika ia meniti karir suksesnya. Ketika ia berbunga-bunga mencoba memetik bahagia. Dewasa dan matang, memiliki pasangan hidup dan anak-anak sebagai penyejuk mata dan jiwa. Ada kemudahan harta. Dihormati, dianggap dan didudukkan sebagai manusia terhormat dalam struktur sosial di lingkungannya. Ada jabatan struktural dan fungsional. Ada pula kekuasaan dan banyak kewenangan di tangannya. Memiliki jaringan yang luas, menikmati pertemanan yang luar biasa.

Keinginan yang diimpikannya menjadi nyata. Setelah kerja keras dan proses panjang. Allah lah -sesungguhnya- yang mengaruniakannya.

Berapa lama ia menikmatinya? Sepuluh, duapuluh, tiga puluh atau empat puluh tahun?

Nominal waktu inilah yang sering menjadi fokus manusia, padahal angka hanya menjadi salah satu ukuran, pada hakikatnya nilai lah yang lebih menentukan dari pada nominalnya, meskipun angka tak mungkin dihindari.

Sebagian orang mengira bahwa sukses itu harus di usia muda dan produktif. Sehingga, di saat seseorang sudah menua dan ia merasa belum apa-apa bisa membuatnya bersedih. Padahal persepsi tersebut tak selamanya benar.

Ada orang tergiur dengan kisah sukses seorang muda, tapi mereka tersadar betapa kemudian di usia yang belum terlalu tua ia terserang stroke dan kemudian meninggal dunia.

Seorang yang belum dikarunia putra atau putri di usia pernikahannya yang menginjak satu dasawarsa tak jarang bersedih hatinya, tapi ternyata Allah memiliki rencana hendak menyiapkannya di usia ke sebelas. Matang dalam mendidik anaknya.

Ada pula yang bahkan tak dikarunia anak kandung, tapi ia adalah ibu dan ayah bagi anak-anak yatim, pahlawan untuk mereka.

Saat usia-usia produktif mulai surut, berkurang dan bahkan kemudian hilang, orang bisa dibuat sedih karenanya.

Inilah yang dikenal dengan masa-masa kritis post power syndrome. Orang kaya yang jatuh miskin. Pejabat yang pensiun. Penguasa yang lengser atau dilengserkan. Tokoh yang dielu-elukan kemudian dilupakan. Orang yang terbiasa telinganya dimanja dengan puja-puja, kemudian sunyi tak mendengar apa-apa. Itulah masa-masa sulit yang perlu belajar bijak menyikapinya.

Karena masa-masa sulit seperti ini cenderung membuat seseorang lebih sensitif, mudah tersinggung serta terjebak dengan perspektif-perspektif negatif menurut sudut pandang dirinya yang sangat subyektif. Mudah marang, murung dan bersedih serta tertutup adalah tanda-tanda lainnya yang makin memberatkan.

Allah membentangkan kisah-kisah al-Quran untuk kita lihat dan kita baca. Divisualisasikan dan kemudian diambil sebagai ibrah dan pelajaran (lesson learned). Panduan al-Quran supaya kita bijak menyikapi post power syndrome ini melalui kisah Nabi Ayyub.

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ -ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ – وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ – وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya; “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Surah Shad: 41-44)

Nabi Ayyub alaihissalam adalah satu di antara nabi-nabi Bani Israil dari keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Ayyub tadinya adalah orang yang kaya raya dan memiliki anak-anak yang banyak. Kemudian Allah berikan cobaan, anak-anaknya meninggal, keluarganya menjauh, teman-temannya tak ada lagi yang mengelilinginya. Ia kehilangan segalanya, hanya didampingi oleh seorang istrinya saja.

Ibnu Katsir menyebut kekayaan Ayyub dari berbagai jenis: harta banyak, binatang ternak dan peliharaan, hamba sahaya, tanah-tanah yang luas, demikian pula anak-anak dan keluarga, pertemanan (jaringan).

Kemudian Allah berikan cobaan berupa berkurangnya harta dan kesehatannya. Beliau menjadi miskin dan sakit. Anak-anaknya meninggal. Beliau menderita sakit berkepanjangan sehingga harus menjauh dari kampungnya. Tiada yang menemaninya kecuali istrinya Laia. Ia yang berkhidmah melayaninya, menyuapinya, memandikannya. Hartanya makin menipis. Suatu hari ia memanggil-manggil istrinya, namun tiada jawaban. Ia makin bersedih. Dengan hati teriris ia bersumpah, jika disembuhkan dari sakitnya akan ia puluk istrinya seratus kali. Antara marah, sedih dan kecewa. Meskipun akhirnya ia menyesali sumpahnya. Terlebih saat ia tahu bahwa istrinya pergi menjual perabot rumah tangga untuk menambal sulam kebutuhan hariannya.

Maka saatnya tiba Allah pulihkan ia dari sakit berkepanjangan. Allah perintahkan Ayyub untuk memukul-mukulkan kakinya di tanah, kemudian keluar air yang dingin untuk dijadikan obat dengan berendam dan minum darinya. Allah kembalikan kebugaran dan kesehatannya.

Kebahagiaannya berubah sedih saat ia berada dalam dilema, antara menaati sumpahnya kepada Allah dan antara kecintaannya yang dalam kepada istrinya. Allah yang Maha Sayang memberinya solusi. Ia tak perlu memukul istrinya seratus kali, ia pula tak perlu menyakiti istri yang sangat setia dan menyintainya. Di saat yang sama ia juga tak perlu menyelisihi janji dan sumpah kepada Allah. Allah perintahkan kepadanya untuk mengambil seikat rumput yang diperkirakan jumlahnya seratusan kemudian dipukulkan kepada istrinya, sebagai tanda cinta sekaligus syukur kepada Allah yang memberinya kesembuhan dan mengembalikan keadaannya.

Ath-Thabary menyebut dalam Tarikhnya Ayyub hidup hingga berusia 93 tahun atau lebih kemudian dikaruniai kembali anak-anak. Bahkan anaknya bernama Basyar dari istri setianya, konon ialah nantinya yang disebut-sebut dengan julukan Dzulkifli yang diangkat sebagai nabi oleh Allah SWT.

Kesabaran Ayyub menjalani masa sulit perlu ditiru. Bahwa ketidakberdayaan, kesulitan, kebangkrutan bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun, sebagai manusia Allah memperlihatkan adanya pasang surut semangat Ayub pun pernah khilaf menyikapinya. Secara umum, kesabaran menyikapi masa-masa sulit ini bisa dijadikan semangat dan motivasi menyambut post power syndrome.

Pesan moral yang bisa diambil dari kisah ini adalah:

  1. Yakinkan diri bahwa Allah lah yang mengaruniai kesuksesan dan semua nikmat-Nya
  2. Bersyukur dan berbagilah saat mendapatkan nikmat agar Allah makin menyayangi
  3. Tidak angkuh dan sombong ketika kuat dan sukses
  4. Menggunakan waktu produktif sebaik-baiknya (kaya, sehat, muda, kaya) adalah yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
  5. Saat ditimpa musibah atau kekurangan atau kesulitan segera kembali kepada Allah. Tempat aman berkeluh kesah dan berdoa serta menyandarkan harapan. Meskipun ia tetap tak menutup diri dari orang lain (tetap berusaha terbuka namun tidak mengandalkannya, Allah lah sumber kekuatannya)
  6. Tidak terlalu memikirkan respon dan sikap orang lain di sekitar kita.
  7. Tidak takut menghadapi masa turunnya produktivitas dengan cara tetap produktif berbuat dan menebarkan kebaikan
  8. Memperbanyak dzikir kepada Allah untuk mengurangi pengaruh hawa nafsu dan bisikan setan yang menyesatkan

Tak ada istilah pensiun dari kebaikan atau produktivitas bagi mereka yang memiliki mental sabar yang luar biasa. Penyakit dan ketidakberdayaan fisik atau keterbatasan materi setelah memiliki segalanya takkan mencegah seseorang untuk terus berkontribusi menebarkan kebaikan dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Tentunya, dengan kondisi terkini yang dialaminya

Dan bila Allah menjadi tempat kembali, Dia lah yang akan memberi jalan keluar yang baik, termasuk di saat ada dua pilihan sulit dan dilematis seperti yang Nabi Ayyub hadapi.

 

Jakarta, 02.02.2019

Iklan

DAHSYATNYA MOTIVASI LAFAZH INSYAALLAH DALAM AL-QURAN

DR. Saiful Bahri, M.A

Lafazh (إن شاء الله) [dibaca: in syâAllâh] sangat akrab di telingat para pembaca al-Quran. Al-Quran secara eksplisit menyebutkan lafazh _in syâAllâh_ sebanyak enam kali (Surah Al-Baqarah: 70, Yusuf: 99, al-Kahfi: 69, al-Qashash: 27, ash-Shafat: 102, al-Fath: 27). Esensi lafazh _in syâAllâh_ adalah persoalan etika kepada Allah dengan mengembalikan hak prerogatif sebagai penentu keputusan terhadap apa yang berlaku bagi siapa saja dan apa saja di berbagai alam ciptaan-Nya. Secara ideologis merupakan salah satu indikator keimanan seseorang yang bertawakkal kepada Allah. Artinya, sebagai manusia seseorang sudah mengerahkan segenap daya dan usahanya sebagai ikhtiar, kemudian ia menyusuri ruang takdir yang menjadi ranah ilahiyah berharap segala sesuatu sama seperti harapannya tau lebih baik lagi.

Adapun Al-Quran menyebut lafazh _in syâAllâh_ dalam berbagai tema sebagai berikut:

  1. Diucapkan oleh Bani Israil sebagai alasan untuk menghindari _taklif_ atau perintah Allah untuk menyembelih seekor sapi. (berkonotasi negatif)

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)“. (Surah al-Baraqah: 70)

Maka sudah seharusnya saat kita berkomitmen untuk menepati suatu janji dengan seseorang maka sudah tepat menyebut lafazh ini. Namun, jika kemudian dijadikan tameng dan alasan untuk tidak datang secara sengaja maka hal tersebut seperti sindiran Allah kepada Bani Israil.

  1. Motivasi Yusuf dalam menenangkan keluarganya yang baru memasuki negeri Mesir

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ

Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: “Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman“. (Surah Yusuf: 99).

Hal ini patut untuk dicontoh dalam memberikan rasa optimis dan motivasi yang baik bagi orang yang berada dalam kondisi atau suasana baru. Jika ia pemegang kebijakan –setidaknya– merupakan jaminan darinya sebagai pimpinan kepada rakyat dan orang yang ditanggungnya. Ucapan ini menjadi gambaran kuatnya keyakinan dan iman Nabi Yusuf kepada Allah.

  1. Optimisme Nabi Musa dalam menuntut ilmu ketika berguru pada Khidr

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (Surah Al-Kahfi: 69).

Perkataan Nabi Musa bertemakan optimisme dan keinginan kuat sebagai penuntut ilmu untuk mengikuti arahan dan kesepakatan dengan gurunya. Ini sekaligus menunjukan etika dan moralitas yang tinggi yang dibarengi dengan kepercayaan yang kuat kepada Allah.

  1. Motivasi Syu’aib (seorang nabi atau orang shalih) yang memberi solusi terhadap masalah Nabi Musa

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (Surah Al-Qashash: 27).

Ungkapan ini merupakan motivasi diri untuk tetap selalu menjadi orang baik dalam kondisi apapun. Orang baik yang berarti selalu siap membantu dan menjadi jalan keluar bagi masalah yang dihadapi oleh siapapun. Ia menawarkan solusi dan berusaha mengurai kesulitan. Ia menjadi orang tua yang mengayomi. Iniah yang selayaknya dicontoh oleh para pemimpin dan juga rakyatnya untuk terus selalu menjadi solusi dan bersimpati kepada masalah yang dihadapi orang lain. Lafazh ini juga sekaligus doa dan harapan penguatan dari Allah agar terus menjadikan pengucapnya orang yang terus menjadi baik, tak bosan menjadi orang baik dan membersamai orang-orang yang terlilit kesulitan, terjebak kesulitan atau terkurung kelemahan dan ketidakberdayaan.

  1. Ismail memotivasi diri untuk menjadi orang sabar dalam menerima takdir Allah, dikatakan kepada ayahnya, Ibrahim

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Surah Ash-Shafat: 102).

Lafazh ini merupakan penguatan diri sekaligus penegasan dan permohonan agar dikuatkan oleh Allah. Siapapun orangnya datangnya cobaan dan musibah tak bisa diterka dan ditebak. Saat itu terjadi ia tak berharap bantuan dan penguatan siapapun dari manusia, ia berharap Allah yang pertama. Jika ada manusia yang menguatkan maka itu adalah bonus tambahan.

  1. Motivasi dan kabar gembira akan datangnya kemenangan dari Allah, Fathu Makkah

لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (Surah Al-Fath: 27).

Adapun ungkapan _in syâAllâh_ yang terakhir merupakan kabar gembira yang Allahlah semata menginginkannya terjadi untuk hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Berita kemenangan yang dijanjikan-Nya, yang dinanti-nanti oleh hamba-Nya yang terus tak henti berdoa. Manusia berusaha menebar kebaikan dan melawan kezhaliman. Namun, Allah lah yang karuniakan kemenangan dengan cara dan kuasa-Nya.

 

Al-Quran juga menyebut makna _in syâAllâh_ secara implisit yang terkandung di dua tempat dengan maksud teguran (Al-Kahfi: 23-24) dan celaan atau sindiran buruk (Al-Qalam: 17-18)

Pertama:

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (Al-Kahfi: 23-24)

Ayat ini merupakan teguran Allah kepada Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh kuffar Quraisy tentang: Ashabul Kahfi, Raja Dzulkarnain dan ruh. Tiga hal tersebut sesungguhnya adalah ejekan kaumnya yang mendapatkan ide dari ahli kitab yang dijumpai mereka, sekaligus tantangan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau dengan tegas akan menjawab “besok”. Namun, berhari-hari jawaban tak datang dan Jibril tak turun menemui beliau. Allah menegur beliau untuk mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah lah yang serba maha, punya kuasa dan memutuskan segala.

Kedua:

Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengatakan ‘in syâAllâh’ (al-Qalam: 17-18)

[terjemah di atas adalah penafsiran versi Mujahid yang dinukil al-Qurthubi, disebut juga oleh al-Baghawiy, sedangkan ath-Thabari menyebut pendapat Ikrimah yang mengartikan “mereka tak menyisihkan (hak fakir miskin)”]

Ayat ini menjelaskan adzab dan cobaan yang Allah berikan kepada pemilik kebun di Yaman ketika mereka memastikan panen kebun namun mereka enggan memikirkan nasib orang-orang miskin di sekitar mereka, mereka juga tidak mengucapkan insyaallah. Mereka sombong dan angkuh merencanakan banyak hal dan bersembunyi dari orang-orang lemah dan miskin. Sombong dan kehilangan simpati sosial. Maka Allah turunkan siksa kebun mereka habis dan musnah seketika. Rencana mereka buyar. Keangkuhan mereka remuk berkeping-keping

Dengan kajian ini semoga kita mendapatkan motivasi dan kandungan inspirasi kebaikan dari dahsyatnya pesan dari lafazh _in syâAllâh_ di dalam al-Quran.

 

Jakarta, 29.01.2019

 

🗒🗒🗒🗒 🗒🗒🗒🗒

📷 IG: drsaifulbahri

🐤 Twitter: @L_saba

👤 Fanpage: Halaqah Tadabbur Al-Quran

📹 Youtube: Halaqah Tadabbur Al-Quran

🌐 www.saifulelsaba.wordpress.com

 

Ketika Ruh Bertemu Jasad (Tadabbur Surah At-Takwir)

Dr. Saiful Bahri, M.A

Al-Quran adalah fakta kebenaran. Kalam Allah yang disampaikan secara sempurna dan penuh amanah. Oleh malaikat perantara wahyu, Jibril ‘alaihissalâm yang disegani dan ditaati para malaikat-Nya. Ditunaikan penuh dan disampaikan kembali oleh manusia yang paling dicintai-Nya. Yang tak gila pujian dan jabatan. Tidak gila harta dan kekayaan.

Tidak pula kikir atau menyembunyikan wahyu dari Tuhannya, sekalipun berisi teguran keras dan hal-hal yang tak mengenakkannya.

 

Mukaddimah: Visualisasi Hari Akhir

Selama ini kebanyakan orang sering memvisualisasikan hari kiamat berujung pada kehancuran dunia dan seisinya saja. Padahal, hari kiamat yang sesungguhnya baru dimulai ketika manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya, jiwa-jiwa dipertemukan dengan jasadnya dan kemudian diperhitungkan segala perbuatannya, hingga mendapatkan putusan akhir dari Sang Mahaadil dan Maha Bijaksana. Kesemua ini tergambar jelas di dalam kitab-Nya yang merupakan petunjuk bagi manusia, namun hanya bermanfaat bagi mereka yang mau mengambilnya sebagai pedoman bagi jalan hidupnya.

Surat At-Takwir ini diturunkan di Mekah setelah Surat al-Masad([1]). Surat ini membahas berbagai hal tersebut di atas sebagai tema pokok hari kiamat dari dua angel yang berbeda. Yaitu peristiwa kehancuran dunia dan isinya di satu sisi, serta suasana hari kiamat setelah kebangkitan di lain sisi. Titik tekan surat ini yang membedakannya dengan surat sebelum dan sesudahnya adalah pembicaraan tentang al-Quran, yaitu sebagai sumber berita hari kiamat dan apa yang akan terjadi di sana. Maklumat-maklumat yang serba ghaib namun harus diimani dan diyakini sepenuhnya([2]). Hal-hal tersebut divisualisasikan seolah nyata, nampak jelas dan terjadi di depan mata. Sumber wahyu tersebut tidaklah sebuah kabar dusta, karena diturunkan oleh Sang Maha Pemilik semua, melalui perantara pilihan-Nya; Malaikat Jibril ‘alaihissalâm. Disampaikan kepada segenap manusia oleh manusia pilihan-Nya juga. Manusia mulia yang tak tamak terhadap dunia, tak berambisi pada jabatan, tak terobsesi pada mimpi dan khayalan serta puja-puji sesamanya. Sumber wahyu tersebut juga bukan dongeng kaum terdahulu atau perkataan setan yang selalu memperdaya.

Hari Kehancuran Dunia Seisinya

Sebagai permulaan deskripsi hari kiamat, Allah memberikan berita sebagaimana surat-surat sebelumnya dengan menyebut tanda-tandanya.

١) إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (٢) وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ (٣) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (٤) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (٥) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (٦) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap” (QS. At-Takwîr [81]: 1-6)

Suasana yang mengerikan divisualisasikan dengan jelas agar bisa ditangkap oleh nalar manusia, dipahami secara gamblang. Matahari digulung, ditiadakan. Sumber energi dan cahaya di dunia itu tak lagi menyala, karena dititahkan oleh penciptanya untuk selesai, ajalnya tiba. Az-Zajjâj menjelaskan makna asal kuwwirat adalah seperti halnya sorban yang digunakan untuk melingkari dan menggulung kepala([3]). Maka seolah matahari yang sebelumnya menjadi terang benderang, berubah tak bercahaya, lenyap dan entah ke mana. Sementara, bintang-bintang dengan berbagai bentuk, ukuran yang sangat banyak jumlahnya berjatuhan menghujani bumi. Semesta bertumbukan, bertabrakan, terjadi berbagai benturan keras yang menghancurkan satu dan yang lainnya. Hakikat langit yang belum pernah terkuak itu, yang semula terlihat tenang berubah menjadi penuh keributan dan kemudian hancur tiada berbekas.

Sedangkan bumi, tempat kehidupan manusia, gunung-gunung diterbangkan, dicabut dan dihancurkan. Pasak bumi yang menahan lapisan tanah-tanahnya dicabut sehingga terjadi kerusakan yang parah. Unta-unta yang hamil, simbol kepemilikan dunia yang dibanggakan oleh orang-orang Arab waktu itu, tak lagi dipedulikan. Saat hari kehancuran seperti itu tiada lagi yang memperhatikan harta kekayaannya, meskipun sangat melimpah dan berkecukupan. Karena saat hari kehancuran di depan mata, dunia seisinya menjadi tiada berharga.

Demikian halnya binatang-binatang buas dikumpulkan menjadi satu. Itu adalah titah Allah yang sanggup menjinakkan ciptaan-Nya yang paling buas dan berbahaya, dikumpulkan satu dengan jenis-jenis lainnya dengan kuasa dan titah-Nya. Kehancuran semakin nyata dengan diluapkannya air laut yang seolah siap menelan daratan dengan semua yang ada di atasnya.

Itulah visualisasi kehancuran yang disampaikan Allah dalam pembukaan surat ini. Dahsyat leburnya. Efek kehancurannya sangat mengerikan. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Demikianlah, kejadian hari kehancuran ketika tiupan sangkakala yang pertama terdengar.

Hari Kebangkitan: Sangat Mencekam dan Menakutkan

Selanjutnya Allah jelaskan suasana yang jauh lebih mencekam dan menakutkan saat manusia telah dibangkitkan dari kuburnya. Setelah tiupan sangkakala kebangkitan ditiup Malaikat Israfil.

٧) وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (٨) وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (٩) بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ (١۰) وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (١١) وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (١٢) وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (١٣) وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (١٤) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا أَحْضَرَتْ

 “Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwîr [81]: 7-14)

Suasana yang kedua ini sebenarnya jika divisualisasikan dengan benar, maka akan menghadirkan kondisi yang sangat mencekam dan teramat menakutkan. Yaitu, di saat Allah bangkitkan manusia ruh-ruh mereka menyatu kembali dalam jasad mereka. Allah memiliki tujuan khusus membangkitkan mereka. Yaitu untuk ditanya, “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”. Manusia-manusia zhalim di zamannya akan segera terbayang di depannya kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan. “Bayi-bayi perempuan yang dibunuh” adalah di antara representasi kezhaliman yang terjadi di zaman wahyu ini diturunkan. Maka, sejatinya saat manusia bangkit dengan ruh dan jasadnya ia akan segera teringat amal-amal perbuatannya. Kezhaliman dan kekhilafannya segera hadir dengan jelas di depannya. Dan sang mazhlum akan ditanya terlebih dahulu sebelum si zhalim dipermasalahkan di pengadilan Sang Maha Tinggi. Apa kesalahan orang-orang mazhlum tersebut hingga harus menjadi korban kezhaliman yang semena-mena? Berapa kalikah kezhaliman serupa terjadi dan terulang-ulang? Karenanya Allah menegaskan “Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) disebar”. Kata “nusyirat” mengindikasikan bahwa catatan amal setiap manusia bisa diakses siapa saja. Secara bahasa “nasyara” berarti menyebarkan, maka bentuk pasifnya (mabni li al-majhûl) adalah “nusyira” yang berarti disebar. Bisa jadi digandakan cetakannya, bisa juga disebarkan secara digital, bisa juga melalui layar-layar lebar yang bisa dilihat manusia dari berbagai penjuru. Tiada lagi yang bisa ditutup-tutupi di saat Allah membuka akses yang seluas-luasnya kepada semua makhluk-Nya.

Di hari yang menegangkan tersebut, langit tak lagi ada. Allah membuka hijab-Nya. Surga terasa hadir di sana, tapi sebaliknya neraka juga dirasakan ada di sekeliling manusia. Suasana tersebut cukup menggambarkan kondisi yang sangat mencekam. Mengancam siapa saja. Tiada rasa aman, terutama bagi para pendosa. Para pelaku kezhaliman dan penistaan di dunia.

Sumpah-Sumpah Allah dengan Fenomena Alam

            Setelah membahas dua kejadian hari kiamat, yaitu hari kehancuran dunia dan isinya serta hari kebangkitan di saat semua manusia dimintai pertanggungjawabannya, maka Allah bersumpah untuk satu hal penting lainnya.

١٥) فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ (١٦) الْجَوَارِ الْكُنَّسِ (١٧) وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ (١٨) وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ

 “Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. At-Takwîr [81]: 15-18)

Bintang-bintang dan malam adalah istilah bagi manusia. Waktu adalah batasan yang Allah ciptakan untuk manusia. Dari tempatnya hidup ada waktu yang disebut pagi setelah malam. Di saat yang sama di tempat lainnya ada waktu-waktu yang berbeda. Hal-hal tersebut akan menjadi makna besar bagi tanda-tanda kekuasaan Allah. Pesan kekuasaan ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menggunakan nalar sehatnya.

Milyaran bahkan tiada terhitung banyaknya bintang yang tersebar di alam semesta, kegelapan malam yang menyelimuti dunia, dan di saat kemudian beranjak terang. Siapakah yang mendatangkan pagi dengan berbagai harapan? Nafas baru dikembalikan Allah kepada para makhluk-Nya untuk memulai hidup baru di hari itu. Nafas baru yang berarti sebuah perbaikan masa lalu dan hari sebelumnya. Jika hari sebelumnya dipenuhi dengan maksiat dan kelalaian, maka hari baru dan nafas baru tersebut adalah pintu kesempatan yang Allah buka untuk bertaubat. Jika hari sebelumnya adalah waktu penuh ukiran prestasi kebaikan, maka nafas baru hari itu adalah kesempatan untuk bersyukur lebih dengan menebar energi kebaikan yang Allah berikan. Menularkan semangat bersyukur dan spirit memperbaiki prestasi.

Pagi hari dipersonifikasikan hidup. Ia seolah bernyawa dan bernafas. Nafas-nafasnya adalah cahaya dan kehidupan. Gerakan-gerakan di pagi hari adalah geliat kehidupan([4]). Maka lihatlah manusia di pagi hari. Mereka bergeliat hidup. Anak-anak kecil bersekolah. Orang-orang sibuk menyiapkan diri berangkat bekerja dan beraktivitas, padahal sebelumnya mereka semua terdiam seperti orang mati di saat terbaring memejamkan mata. Tertidur di malam hari. Perubahan tersebut adalah karunia Dzat yang serba maha. Tanaffasa artinya memanjang cahayanya hingga sampai terang benderang([5]). Karena Allah yang Maha Penyayang tidaklah langsung mengubah kegelapan menjadi terang benderang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses dan tahapan-tahapan. Dari gelap gulita, berangsung terang, hingga menjadi terik dan sangat benderang.

Karunia-karunia tersebut hendaklah disyukuri manusia. Tanda-tanda kekuasaan yang dikirim Allah sebagai pesan kuasanya kepada setiap makhluk-Nya.

Al-Quran: Firman Allah yang Tersampaikan Penuh Amanah

١٩) إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (٢۰) ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (٢١) مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

 “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya”. (QS. At-Takwîr [81]: 19-21)

Sumpah-sumpah Allah di ayat-ayat sebelumnya menjadi sebuah entry point bagi sebuah fakta besar dan pernyataan penting. Yaitu, tentang kebenaran al-Quran yang merupakan kalam dan titah Allah. Yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui sang pembawa wahyu terbaik. Malaikat terbaik-Nya, Jibril ‘alaihissalâm. Malaikat yang diberi kekuatan dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Disegani dan ditaati oleh semua malaikat-Nya. Terpercaya dan tak pernah berkhianat. Ia sampaikan secara utuh dan sempurna pesan-pesan Allah melalui kalam-Nya. Tak dikurangi atau dilebihkan. Seperti adanya titah dari Tuhannya. Al-Qur’an adalah sumber informasi tervalid tentang datangnya hari kiamat. Sumber segala ajaran dan syariat Nabi Muhammad SAW. Sumber yang benar dan tidak boleh didustakan oleh siapapun.

Menafikan Tuduhan Para Pendusta

٢٢) وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ (٢٣) وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ (٢٤) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ (٢٥) وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ (٢٦) فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

Dan teman kalian (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi?”. (QS. At-Takwîr [81]: 22-26)

Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu dan menjalankan tugas risalahnya, adalah orang yang diakui kebaikannya serta kedudukannya di tengah kaumnya. Namun, karena permaklumannya sebagai rasul Allah, beliau menjadi terdustakan. Tersakiti lahir batinnya. Disakiti fisiknya. Dituduh gila dan sebagainya. Padahal beliau masih sama dengan sebelum menerima wahyu. Yaitu orang terpercaya, al-amîn. Tiada berdusta, tak pernah menyembunyikan wahyu dari Tuhan-Nya. Jika itu terjadi maka, surat seperti Abasa sudah semestinya tak beliau sampaikan karena berisi sebuah teguran keras kepadanya. Demikian halnya tentang hari kiamat. Bukan karena beliau tak mau menyampaikan hakikatnya. Bukan pula karena kikir dan pelit informasi. Namun, hal itu semata karena memang rahasia dan misteri hari kiamat menjadi hak prerogatif Allah untuk menjelaskannya. Waktu kejadian yang sangat dirahasiakan bahkan kepada manusia yang paling dicintai-Nya sekalipun. Adalah menjadi hikmah agar semua manusia menyiapkan diri sebaik-baiknya. Kata dhanin([6]) menggambarkan tuduhan-tuduhan tersebut. Baik berarti tuduhan buruk secara umum atau lebih khusus yang berarti bakhil dan pelit. Maka, kalam Allah ini membebaskan Nabi Muhammad SAW dari berbagai tuduhan kaumnya tersebut. Tak lain dan tak bukan Muhammad hanya menerima wahyu dari Tuhannya dan kemudian ditugaskan untuk menyampaikannya kepada kaumnya tanpa penambahan dan pengurangan darinya.

Fungsi Al-Quran

٢٧) إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ (٢٨) لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ (٢٩) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. At-Takwîr [81]: 27-29)

Al-Quran adalah petunjuk bagi semua manusia. Namun, hanya orang yang mau mengambilnya sebagai peringatan saja yang mampu tersentuh olehnya. Petunjuk Allah tersebut sebenarnya bisa diakses oleh siapa saja. Namun, banyak di antara manusia mengabaikannya. Maka, hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang bisa benar-benar mampu disampaikan Allah pada jalan lurus yang berakhir pada kenikmatan abadi. Yaitu bagi mereka yang mau gigih berusaha menjemput hidayah. Menyukuri nikmat luar biasa yang Allah karuniakan kepada mereka. Berupa manusia terbaik yang diutus-Nya kepada kaumnya dan segenap umat manusia dan karunia berupa al-Quran, semua petunjuk jalan kebenaran ada di dalamnya.

Jika dua karunia besar ini disyukuri, niscaya orang-orang yang mengimani keduanya akan dimudahkan Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tersampaikan kepada hikmat keabadian melalui jalan lurus yang cepat. Yaitu jalan mereka yang diberi nikmat oleh-Nya. Jalan para nabi dan orang-orang shalih. Bukan jalan mereka yang dimurkai dan dilaknat oleh-Nya. Bukan pula jalan mereka yang tersesat yang takkan pernah sampai pada nikmat keabadian, namun terperosok ke dalam kesengsaraan dan keburukan yang abadi. Wal îyadzu bilLâh.

 

—————————————————

* Tadabbur surah at-Takwîr (Menggulung): [81]

([1]) lihat: As-Suyuthi, Al-Itqân, hlm. 20-22, Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân, 1/249, Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281, Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, 2/757.

([2]) Ash-Shabuniy, Îjâz al-Bayân, hlm. 281-282.

([3]) Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 224.

([4]) Sayyid Quthb, Fî Zhilâli al-Qur’ân, vol 6, hlm. 3842.

([5]) Al-Wahidy, Al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’âni al-Majîd, vol 4, hlm. 430.

([6]) Jika dibaca dengan dhadh (ض) maka berarti  pelit. Maksudnya, Nabi Muhammad tidaklah pelit dan menyembunyikan sesuatu yang diwahyukan kepadanya.(lihat: Az-Zajjâj, Ma’âniy al-Qur’an wa I’râbuhû, vol 5, hlm. 227) Dan jika dibaca dengan huruf zha’ (ظ) ada yang mengartikannya sebagai tertuduh dengan tuduhan jelek. (Az-Zajjâj, Ibid). Ath-Thabary menyebutkan perkataan tersebut merupakan pendapat Ibnu Abbas dan muridnya Said bin Jubair serta Ibrahim an-Nakha’iy (al-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, vol. 30, hlm. 103)

MANUSIA DAN SEJARAH MASA DEPAN

Saiful Bahri

Hari seperti biasanya, ketika pagi senyum anak-anak merekah menyambut. Mereka telah menyiapkan ucapan selamat ulang tahun dengan kreasi khas anak-anak. Tak lama, karena ada beberapa kesibukan masing-masing.

Kemarin adalah hari yang spesial, sekalipun kegiatan yang memberatkan dan tugas-tugas serta serasa seperti air bah yang mengguyur tanpa pernah tahu kapan berhentinya. Ada dua buku yang menjadi hadiah special hari itu. Keduanya karya seorang Guru Besar sejarah dunia yang relatif masih muda tapi produktif, sebut saja Yuval Noah Harari. Buku pertama berjudul Sapiens, a Brief History of Humankind yang sudah diterjemah lebih dari 20 bahasa. Buku kedua berjudul Homo Deus, a Brief History of Tomorrow. Juga sudah dicetak lebih dari 4 juta eksemplar.

Istri saya membawakannya sebagai hadiah spesial hari itu. Kami berdua berbagi, ia membaca buku pertama dan saya membaca buku kedua. Di beberapa kesempatan kami saling mendiskusikan isinya. Malam sudah larut, saya juga masih harus membuka-buka sebuah draft disertasi yang harus diujikan pagi ini secara tertutup, prodi memberi amanah untuk menjadi bagian dari anggota tim penguji. Tapi rasa penasaran yang tinggi membuat buku tersebut sulit dilepas begitu saja.

Alhamdulillah, hari ini semuanya bisa dilalui dengan lancar dengan bimbingan Allah. Buku Homo Deus pun selesai terbaca.

Kenapa saya penasaran dengan kedua buku tersebut, khususnya buku kedua?

Buku tersebut menerbangkan saya pada linimasa sejarah peradaban umat Islam di salah satu periode emasnya. Mengingatkan saya pada sosok Muhammad bin Ismail al-Bukhori (W. 256 H) seorang pakar hadis yang juga pakar sejarah. Beliau menulis at-Târîkh al-Kabîr, sebuah kompilasi sejarah manusia, yaitu para manusia perawi hadis Nabi Muhammad SAW. Tak lama setelah itu datang Abu Ja’far ath-Thabariy (W. 310), seorang pakar tafsir dan ilmu al-Quran menulis karya berisi sebuah sejarah manusia yang lebih lengkap. Ensiklopedi monumentalnya tersebut berjudul Târîkh ar-Rusul wa al-Mulûk yang membahas sejarah manusia sejak penciptaan hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tahun 302 H, atau kira-kira 8 tahun menjelang wafatnya beliau.

Setelah itu ada Ibnu Katsir (W. 774 H) yang memiliki kemiripan dengan ath-Thabary. Pakar tafsir yang juga pakar sejarah tersebut menuliskan sejarah yang lebih lengkap dan tebal dari pendahulunya, magnum opusnya tersebut diberi judul Al-Bidâyah wa an-Nihâyah yang selesai ditulis pada tahun 768 H. Menariknya, Ibnu Katsir ternyata juga menuliskan sejarah masa depan (history of tomorrow), hanya saja perspektifnya sangat jauh mencakup berbagai alam (multiverse) menjangkau alam yang tidak diketahui seperti apa jauhnya. Dalam dua atau tiga jilid terakhirnya beliau menjelaskan sejarah berakhirnya dunia dan hari kebangkitan, berdasarkan sumber teks yang bisa dijangkaunya, ayat atau hadis atau atsar-atsar.

Itulah barangkali yang memantik penasaran saya, untuk segera menuntaskan Homo Deus, a Brief History of Tomorrow.

Harari yang setahun lebih tua dari saya itu, ternyata memiliki kepakaran sejarah yang sangat mumpuni. Data-data, analisis filosofis dan retorisnya sangat memukau sehingga secara tak sadar pembaca mungkin akan terbius dengan bangunan teori evolusinya yang sebagian pernah disampaikan oleh Darwin. Tak banyak yang saya ketahui dari buku Sapiens karena saya belum membaca buku tersebut, hanya tahu dari hasil diskusi beberapa bagiannya dari istri saya.

Dalam Homo Deus, Harari meneropong masa depan manusia dengan data-data kredibel. Ada perbandingan data kelaparan dan data obesitas yang memungkinkan untuk diperkirakan terjadi di tahun 2030. Dengan fasih ia juga mengupas sejarah Firaun dan pembangunan megabendungan danau buatan di Fayoum, saya seolah mengikuti kuliah Egyptology. Tak ketinggalan sejarah perang di masa lalu, termasuk perang salib dan perang-perang yang dianggap sebagai bencana kemanusiaan yang memilukan. Analisis-analisis berbagai revolusi di Rumania sampai di Mesir. Ia juga mengenang masa-masa mengenal internet dan mengoperasikan komputer di masa lalu, kemudian membandingkan dengan kondisi kekinian.

Saya juga membayangkan bagaimana aplikasi GPS Waze mendistribusikan informasi jalanan yang macet dan yang tidak kepada para penggunanya. Karena jalan alternatif yang tak macet bisa jadi akan berubah macet jika semua pengguna Waze diberikan informasi yang sama. Analisis yang smart.

Ia juga berbicara perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robot cerdas. Undang-undang dan regulasi tentang binatang serta paradoksal tikus-tikus laboratorium. Analog-analog yang dibangun membuat pembaca (mungkin) akan berkerut untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala membenarkan. Teori manusia dan agama misalnya, statemennya yang mengatakan bahwa agama menjadi faktor penting bagi manusia modern, mengalahkan kepercayaan manusia modern pada revolusi industri dan robot-robot yang sudah teruji secara nyata. Membandingkan kerja robot yang tak jarang dipaksa sampai energy terakhirnya, seperti produk industri, computer laptop dan sebagainya.

Harari menyebut, penganut agama-agama termasuk agama Islam, dulunya kreatif, namun kini menjadi reaktif. Saya mengernyutkan dahi sejenak dan melakukan pendekatan introspektif. Tidak salah. Itu memang terjadi. Bangunan opininya tentang radikalisme bisa jadi juga benar, tapi ada unsur lain yang luput dan tak disebutkan, seperti ketidakadilan dan kesewenangan misalnya.

Karena itu, kemudian saya berkesimpulan bahwa sekalipun ia berusaha obyektif, namun subyektifitasnya tetap saja tak bisa ditutupi. Apalagi tentang sejarah. Karena, memang sejarah yang dituliskan dan diwariskan selalu terikat dengan subyektifitas.

Jika ingin tahu subyektivitas yang saya maksud diantaranya, bukan sekedar tentang teori evolusi atau agama yang ditulisnya sebagai ranah netral dan menjadi kebebasan manusia untuk memilih sebebas-bebasnya. Namun, lihatlah tulisannya yang sebenarnya tak banyak, tapi cukup bisa dianggap membangun opini keberpihakan pada pembicaraan Jerusalem, terlepas siapa dia dan buku ini berbahasa asli apa, tapi sejujurnya saya tak tahu apakah ia seorang penganut zionisme atau bukan.

Saya mulai berpikir, apakah ketika saya mencoba memihak kepada Bangsa Palestina yang terjajah, tertindas oleh kesewenangan dengan data-data yang bisa diakses siapa saja berarti saya tak lagi obytektif?

Apakah ketika saya terbatas membantu atau bahkan tak bisa membantu saudara-saudara saya yang terdampak bencana di Lombok, Palu, Donggala, Banten, Lampung dan sebagainya saya juga kehilangan kepakaran saya?

Tetangga-tetangga saya yang sedang sakit atau saudara, teman dan kerabat yang memerlukan bantuan, saya juga masih terbatas mengulurkan tangan menebar optimisme dan kebaikan.

Hiruk pikuk pilpres dan pileg yang tak lama lagi membuat fanatisme brutal saya temui di mana-mana. Etika, kebesaran jiwa, kesantunan bahasa menjadi hilang seketika.

Apakah saya yang juga mendukung salah satu capres dan partai tertentu juga kehilangan kepakaran dan obyektifitas? Saya mencoba menjawab sendiri pertanyaan saya dengan membaca The Death of Expertise nya Tom Nichols. Justru bangunan keilmuan dan kepakaran pada akhirnya akan melahirkan keberpihakan. Jika suatu saat diposisikan untuk menengahi maka, keberpihakan tersebut tidak dinampakkan untuk suatu alasan atau tidak ditonjolkan untuk menjaga perasaan orang atau pihak yang dihadapinya.

Namun, kepakaran dan keilmuan akan mati bila digunakan secara brutal dan fanatik buta. Keduanya juga akan mati, bila dipupuk dengan keangkuhan, kesombongan dan ketamakan.

Ya Rabb, ampuni hamba yang terbatas memaksimalkan anugerah ilmu dan nikmat yang Kau berikan untuk memihak pada orang-orang dan siapapun yang harus dibela dan ditolong.

Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan kesibukan sebagai tameng untuk berkarya dan menutupi ketidakberdayaan di tengah kehidupan yang makin dicengkram hedonistic

Ya Rabb, tolonglah orang-orang lemah dan terzhalimi di manapun mereka berada.

 

Jakarta, 17.01.2019

Bertambah usia, berkurang umur

 

Sinyal-Sinyal Kekuasaan Allah di Hari Lahir Nabi SAW

Saiful Bahri

Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menuturkan beberapa kisah ajaib yang membersamai kelahiran manusia agung, Muhammad SAW. Di antaranya, padamnya api abadi Kaum Majusi di Persia. Istana Kisra Persia tergoncang sehingga beberapa balkon -yang dituliskan Ibnu Katsir sebanyak 14- di antaranya rusak, sebagiannya terjatuh dan roboh. Peristiwa-peristiwa tersebut bagi sebagian orang adalah kejadian biasa, terutama para penganut madzhab matrealisme dan nihilisme, sebagaimana bencana alam atau musibah, akan dianggap sebagai peristiwa alam yang lumrah dan sangat biasa. Namun, sebagai kaum beriman tak ada peristiwa alam yang tak direncanakan oleh Allah. Semuanya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tak sedikit dari para alim mengaitkan beberapa peristiwa tersebut dengan istimewanya kelahiran sang calon nabi terakhir ini. Menurut mereka, itu adalah sinyal-sinyal kekuasaan Allah yang dikirimkan bagi manusia supaya segera menyudahi kezhaliman dan kejahilan mereka.

Adapun al-Quran memberikan nuansa lebih sejuk dan dahsyat. Firman Allah SWT, “…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan.” (Surah al-Mâ’idah: 15)

Yang dimaksud lafazh “nûr” ini menurut para mufassir adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah cahaya yang dikirim Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan (zhulumât) menuju terangnya cahaya (nûr) petunjuk Allah. Kegelapan yang dimaksud adalah perilaku menyimpang manusia, persekutuannya dengan para musuh Allah, penghambaan kepada materi dan benda, kezhaliman yang mereka lakukan.

Isyarat-isyarat kemahakuasaan Allah juga tergambar jelas saat beliau ikut turun langsung menggali parit saat menghadapi konspirasi aliansi kuffar pada perang Ahzab. Beliau memberi kabar optimisme dengan tiga percikan yang mengisyaratkan futuhat Islamiyah di masa mendatang, ke Yaman, Persia dan Romawi.

Maka, sebagai manusia yang memiliki akal seharusnya peristiwa alam yang Allah hadirkan di hadapannya menjadikannya lebih arif dan bijak menyikapinya. Terutama dengan penyikapan yang berbasis iman. Maka, carut marutnya dunia saat ini bagi orang beriman bukanlah sebagai berita buruk semata, namun hal tersebut akan semakin merapatkannya kepada Allah. Kisah-kisah kezhaliman yang terjadi semakin merajalela pun tak menyurutkan nyali untuk tetap melawannya dan menumbangkannya.

Kisah penyerangan pasukan Zionis Israel yang terakhir ke Gaza, adalah sinyal kuat dahsyatnya kekuasaan Allah. Rakyat lemah yang diembargo dan diblokade lebih dari sepuluh tahun itu sudah tentu akan dianggap ringkih dan underestimate. Nyatanya, mereka sanggup membalas roket dengan roket, serangan dengan serangan yang membuat mereka menyerah di luar perkiraan siapapun. Sekalipun sebagian besar roket tersebut hanya selongsong saja, tetaplah hal tersebut merupakan sinyal bahwa perlawanan terhadap penjajahan takkan pernah berhenti.

Ketika isu-isu terorisme dan radikalisme yang dikaitkan dengan Islam menjadi “dagangan” kampanye pemilu di berbagai belahan dunia, justru hal tersebut menjadi promosi gratis yang bombastis. Lihatlah perkembangan Islam di Eropa dan sikap para pemegang kebijakan serta tak sedikit dari para politisi di benua biru yang mulai jengah dengan Islamphobia.

Kelahiran nabi agung nan mulia ini bagi umat Islam adalah cahaya penuntun perjuangan untuk menumbangkan kezhaliman dan mengusir penjajahan. Agar tak ada lagi penindasan di muka bumi dan tak lagi ada darah manusia yang ditumpahkan tanpa dosa.

Khutbah Idul Adha 1439 H

Idul Adhaku

MEMBANGUN KESALIHAN KOLEKTIF
(Dahsyatnya Motivasi Kata “InsyāalLāh

Dr. H. Saiful Bahri, MA.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9 مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. الحمد لله الذي فرض علينا الحجّ والعمرة لمن استطاع إليه سبيلاً. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمداً عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾ (الصافات: 102). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Segala puji dan syukur kita panjatkan, takbir dan tahmid kita kumandangkan. Menandai kemenangan yang dikaruniakan Allah Swt. Kemenangan yang paling esensi, kembali menjadi suci dengan pengampunan dan maghfirah-Nya. Sebelum hari ini, kita disunnahkan untuk puasa Arafah. Hal ini dimaksudkan bukan karena sekedar untuk membersamai dan merasakan suasana yang dialami para jamaah haji yang wukuf di sana, tapi untuk mendapatkan apa yang Allah janjikan berupa rahmat dan garansi ampunan-Nya.

Allah selalu memiliki cara dan momen untuk menumbuhkan optimisme pada hamba-hamba-Nya. Setelah peluang-peluang kebaikan Allah buka di bulan Ramadan, Dia buka pula peluang kebaikan puasa di bulan Syawwal. Bulan Dzulqa’dah sebagai bulan haram dan kemudian berbagai kebaikan Allah buka di bulan ini; Dzulhijjah.

Amal-amal baik di awal bulan ini bahkan tiada yang sanggup menandinginya, selain seseorang yang keluar dari rumahnya membawa harta dan jiwanya, berniat jihad fi sabilillah kemudian ia tidak kembali karena gugur.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Ibadah qurban menjadi sebuah ibadah spesial di bulan ini. Di dalamnya terdapat spirit pengorbanan yang luar biasa, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. Yaitu pengorbanannya dari sejak memupuk kesabaran menghadapi kaumnya dan bapaknya yang lebih suka mendukung rezim yang zhalim, hingga sabar menanti sang buah hati berpuluh-puluh tahun lamanya, sampai harus dihadapkan pada sebuah cobaan berat meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang tiada kehidupan di sana. Pun saat ia menemuinya kembali setelah lebih sewindu Allah kembali mengujinya dengan perintah menyembelih anak kesayangannya.

Itulah, mengapa Allah kemudian menyematkan cinta-Nya pada beliau dengan menjulukinya “Khalilullah” (kekasih Allah), gelar yang tak semua orang bahkan nabi-nabi-Nya sekalipun mendapatkannya. Allah juga jadikan keturunan-keturunannya banyak yang diangkat menjadi nabi dan rasul. Diberkahi dan dicintai alam semesta.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Motivasi Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya selalu menghadirkan nuansa inspiratif yang dahsyat. Di antara sekian motivasi, simaklah dahsyatnya motivasi kalimat insyâ’alLâh yang dikisahkan melalui cerita tentang seorang anak kecil (Ismail) dan seorang Nabi Syu’aib, mertua dari Nabi Musa AS (menurut sebagian riwayat)

Saat Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau mendapati anaknya yang masih kecil menjelma menjadi kedewasaan yang sempurna.

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shâffât: 102)

Jawaban Ismail mengajarkan kita tiga hal penting:

  1. Dia memanggil ayahnya dengan panggilan sayang (yâ abati) meskipun selama ini ayahnya jauh secara fisik tapi efektif dalam pembinaan akidah melalui ibunya.
  2. “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (if’al mâ tu’mar) menandakan bahwa dia sangat paham siapa yang memerintah ayahnya.
  3. (ستجدني إن شاء الله من الصابرين) “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Adalah sebuah motivasi untuk sungguh-sungguh berusaha menjadi seorang penyabar kemudian berserah diri ada Allah dari usaha yang dilakukannya.

Energi positif dari pernyataan Ismail adalah mendidik anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus ini selalu kuat mental dan prinsip serta kokoh akidahnya. Seberapa berat cobaan yang dihadapi, dengan mudah ia akan katakan “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Untuk menjadi pribadi yang sabar secara benar tidaklah mudah, perlu kedewasaan, perlu tempaan matang, perlu kokohnya pertautan kepasrahan kepada Allah. Anak kecil ini menjadi dewasa. Sangat berbeda dengan anak-anak sekarang umumnya yang dewasa secara biologis, namun sayangnya rapuh secara prinsip dan ideologis serta psikologis.

Kisah kedua yang bisa dijadikan motivasi adalah jawaban Nabi Syuaib setelah mendengar kisah pelarian Nabi Musa. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insyâ’alLâh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik“. (Al-Qashash: 27)

Dengan berkata demikian Nabi Syuaib ingin memberikan motivasi pada Musa, bahwa seberat apapun masalahnya Allah akan memberi jalan keluar yang baik. Hal ini sekaligus juga memotivasi dirinya untuk menjadi jalan keluar yang baik tersebut. “Insyâ’alLâh aku termasuk orang baik!” Menariknya ia menawarkan kerjasama (simbiosis mutualisme) yaitu dengan menjadikannya menantu yang baik.

Spirit dua “insyâ’alLâh” di atas bisa dijadikan quotes motivation yang menginspirasi umat ini. Bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, semakin banyak anak-anak yang mengatakan seperti ungkapan Ismail, maka takkan perlu ada yang dicemaskan. Karena, bila anak-anak kecil saja berani menyatakan demikian, sudah seharusnya orang-orang dewasa malu jika tak mampu mengatakannya.

Demikian halnya saat terjadi banyaknya problematika di tengah masyarakat, ungkapan insyâ’alLâh Nabi Syu’aib menjadi inspirasi bahwa sudah seharusnya para orang tua menjadi penenang. Menjadi jalan keluar yang baik. Memotivasi anak-anak muda seperti Musa untuk tidak menyerah dengan rintangan. Dan justru dengan masalah yang terjadi adalah jalan terbaik merekrut kader-kader penerusnya, sekaligus diajak bekerja sama dengan baik.

Tiga komponen umat yang terdiri anak-anak, orang tua, anak muda bersatu, rasanya tak perlu mencemaskan kondisi apapun yang terjadi. Karena, semuanya memiliki pertautan kepasrahan yang produktif kepada Allah. Yaitu, berupa kesabaran yang menggerakkan dengan dahsyat, serta kesalihan yang memotivasi diri dan orang lain untuk lebih kuat dari masalah, seberat apapun masalah yang dihadapi.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Bangsa kita saat ini memerlukan motivasi energi insyâ’alLâh. Terutama untuk menyatukan bangsa dalam menghadapi musibah yang melanda saudara-saudara sebangsa kita di Nusa Tenggara Berat dan sekitarnya yang terdampak bencana alam berupa gempa bumi. Kemampuan mereka untuk mengatakan insyâ’alLâh bisa bersabar akan menjadi berita baik bahwa mental dan spirit akan mengalahkan kesulitan apapun. Di lain pihak kita yang mampu membantu mereka juga mampu mengatakan insyâ’alLâh kita bisa membantu mereka karena kita adalah orang baik-baik.

Figur-figur seperti Nabi Ismail, Nabi Syuaib dan Nabi Musa ini diperlukan untuk menyatukan kembali bangsa ini dalam menghadapi musibah, dalam memupuk optimisme membangun bangsa, dalam mengalahkan berbagai ketidakberdayaan ekonomi, carut marut politik, dinamika kekuasaan, perilaku budaya yang bergeser. Akhir-akhir ini bangsa kita tercabik-cabik persaudaraannya, rajutan persatuannya rawan terurai karena perbedaan sudut pandang dan kecenderungan politik. Kepedulian memudar karena ditelan pola dan gaya hidup hedonistik dan matrealistik. Kesenjangan semakin menganga karena mismanajemen dan kualitas pengelolaan yang terbatas dan kurangnya pendekatan introspektif setiap diri kita.

Semoga hadirnya momen ibadah qurban, Hari Raya Idul Adha ini menghadirkan suasana kebahagiaan yang produktif, yaitu dengan memberikan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, baik musibah karena bencana alam seperti di NTB ataupun bencana kemanusiaan seperti penjajahan di Palestina ataupun peperangan di Suriah serta di berbagai belahan bumi lainnya.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Marilah kita tanamkan spirit kesalihan kolektif komponen bangsa ini melalui kekuatan motivasi insyâ’alLâh. Semoga Allah jadikan kita sebagai ahli hikmah yang bijak dalam bersikap, ahli kebaikan yang mudah mengulurkan bantuan dan memupuk harapan, menjadi penerus kebaikan yang tak pernah terhenti, serta menjadi pewaris surga-Nya dengan dikumpulkan bersama orang-orang shalih dan para kekasih-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهم صل علي سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم .اللهمّ اغفر لجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهمّ ارزقنا حجّ بيتك المحرم وزيارة نبيك الكريم وأَوْرِدْنا حوضه في الجنة. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Ya Allah, jadikan anak-anak kami seperti Nabi-Mu Ismail yg sanggup bersabar menghadapi ujian apapun, bersabar menjadi dewasa memikul tanggungjawab dan amanah dari-Mu.

Ya Allah. Jadikanlah pemuda-pemuda kami seperti Nabi Musa yang tidak putus asa mencari jalan kebaikan dari kesulitan yang menderanya. Menjadi orang yang ringan membantu di saat sulitnya. Menjadi orang kuat dalam segala kondisi. Menjadi orang yang menghargai dan menghormati orang tua dan menyayangi keluarganya.

Ya allah. Jadikanlah orang-orang tua kami seperti Nabi Syuaib yang terus memupuk harapan dan menyalurkan energi optimisme kepada kaum muda penerus mereka. Membersamai dengan nasihat-nasihat dan keteladanan.

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kami jalan kemudahan bagi saudara kami yang terlilit kesulitan.

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kami jalan kebahagiaan bagi saudara kami yang didera penderitaan

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikan kami jalan petunjuk bagi saudara kami yg menjauh dr tuntunan-Mu

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah kami jalan kebaikan bagi saudara kami yang ingin memperbaiki diri.

Ya Allah… Ampunilah tangan-tangan kami yang masih enggan mengulurkan bantuan.

Ya Allah… Ampunilah mata-mata kami yang masih sering berkhianat dan memandang tajam pada saudara kami. Kadang merendahkan. Kadang menyakiti perasaan saudara kami.

Ya Allah… Ampunilah lisan-lisan kami yang masih sering menggunjingkan aib saudara kami.

Ampunkan ya Allah. Maafkan ya Allah keterbatasan kami dalam membaca kitab-Mu. Kelemahan kami dalam membina amanah-Mu. Keteledoran kami dalam mendidik anak-anak kami. Kekurangan kami dalam berbakti pada orang tua kami. Kealpaan kami dalam berkontribusi kepada peluang-peluang kebaikan yang Engkau bukakan setiap hari.

Maafkan ya Allah… tangan-tangan kami yang enggan mengusap anak-anak yatim. Tangan-tangan kami yang masih berat membuka-buka mushaf-Mu.

Maafkan mata-mata kami yang masih berat memandang huruf demi huruf ayat-ayat-Mu.

Maafkan lisan-lisan kami yang masih berat melafazkan dan mendengungkan dzikir dan mengeja al-Quran-Mu.

Maafkan kami yang belum menunaikan hak-hak saudara kami, tetangga kami, guru-guru kami, dan orang-orang yang memiliki hubungan dengan kami. Maafkan ya Rahman.

 

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين . تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Perth, 10 Dzulhijjah 1439 H
 22 Agustus 2018 M

 

DAHSYATNYA CINTA DAN KESETIAAN

Sebuah Elegi dari Kisah Nyata

Sebelum Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, Abul Ash bin Rabi’ menghadap beliau.
“Saya ingin menikahi Zainab, putri sulung Anda”
Sebuah contoh kesantunan dan tatakrama.

Nabi Muhammad saw. menjawab, “Aku tak mau melakukannya sebelum meminta izin padanya”. Sesuai syariat yang nanti akan diwahyukan kepadanya.

Nabi saw. menyampaikannya pada Zainab. “Anak pamanmu mendatangiku dan menyebut-nyebut namamu. Apakah engkau rela ia menjadi suamimu?”

Wajahnya memerah dan ia tersenyum. Malu-malu.

Nabi saw. kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Bermulalah dahsyatnya sebuah kisah cinta. Dari pernikahan berkah ini lahirlah Ali dan Umamah.

Tiba masanya muncul sebuah masalah baru.

Yaitu, terkait diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah. Saat itu Abul Ash sedang bepergian beberapa saat lamanya. Ketika ia kembali, Zainab sudah memeluk Islam dan mengimani risalah yg dibawa ayahnya. Abul Ash pun mengetahuinya.
Zainab berkata, “Aku punya sebuah berita besar untukmu”.

Abul Ash berdiri, lalu meninggalkan Zainab.
Zainab mengejarnya, kemudian ia berkata:
“Ayahku diutus sebagai nabi dan aku telah memeluk Islam.”

Abul Ash menjawab, “Bagaimana sikapmu? Beritahu aku!”

Zainab menimpali, “Aku takkan mendustakan ayahku. Karena ia bukan pendusta. Ia adalah orang jujur dan sangat dipercaya. Bukan hanya aku yang berislam kepadanya. Ibuku dan saudara-saudaraku juga melakukannya. Ali bin Abi Thalib sepupuku juga beriman. Anak bibimu, Usman bin Affan juga memeluk Islam. Sahabatmu Abu Bakar juga menyatakan Islam”.

Kalau Aku…. kata Abul Ash.
“Aku tak mau nanti orang-orang mengatakan Abul Ash menghinakan kaumnya, kafir dengan nenek moyangnya demi istrinya. Ayahmu pasti akan tertuduh. Mohon maaf. Hargailah sikapku?”
Sebuah dialog cinta yang jauh dari memperturutkan ego dan gengsi.

Zainab tersenyum, “Jika bukan aku, siapa lagi yang akan memaklumimu? Tapi suamiku, aku adalah istrimu. Aku ingin membantumu dalam kebaikan hingga engkau bisa memutuskannya dengan benar.”

Zainab membuktikan kata-katanya selama 20 tahun. Ia bersabar. Setia dengan cintanya. Setia dengan akidahnya.

Abul Ash tetap berada dalam sikapnya. Hingga sampailah saat hijrah nabawi. Zainab menghadap ayahnya.

“Ya Rasulallah, mohon izin aku ingin menetap bersama suamiku.” Bukti cintanya yang sangat dalam. Dan Nabi saw mengizinkannya dengan penuh sayang.

Zainab menetap di Mekah. Saat terjadi Perang Badar, suaminya memutuskan bergabung berperang bersama pasukan Quraisy. Menarget Nabi Muhammad dan kaum muslimin.
Suaminya memerangi ayahnya.

Bermalam-malam ia menangis dan merintih, tenggelam dalam duka. Ia panjatkan doa dan bermunajat penuh kepasrahan.

“Ya Allah… aku takut jika setiap matahari terbit akan menerima kenyataan bahwa anakku menjadi yatim atau aku kehilangan ayahku…”

Abul Ash bertempur masih dengan keyakinanya. Meski ia sendiri tak benar-benar yakin akan sikapnya.
Usailah pertempuran Badar. Abul Ash tertawan. Beritanya sampai ke Mekah.

Dengan penuh cemas ia menanyakan tentang kabar ayahnya
“Kaum Muslimin menang” ia mendapat kabar demikian.
Ia bersujud pada Allah, mensyukuri karunia-Nya.
Ia juga bertanya berita tentang suaminya.

Mereka menjawab, “Ia ditawan oleh mertuanya.”
Ia bergegas ingin menebus suaminya. Ia kirimkan kalung perhiasan.
Ia tak punya apa-apa yang berharga selain perhiasan dari ibunya yang ia kenakan. Perhiasan yang selalu melekat di dadanya. Kalung itu kemudian dibawa saudara kandung Abul Ash menghadap Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw terhenyak ketika melihat kalung istrinya, Khadijah yg sangat dikenalnya.

“Tebusan siapa ini?”

“Tebusan Abul Ash bin Rabi`”

Ada tetesan air mengalir dari pelupuk mata beliau, seraya berbisik pelan, ”Ini adalah kalung Khadijah.” Sebuah ungkapan kesetiaan yang terpatri dalam hati. Tak luntur meski jasad pemiliknya sudah bertahun-tahun terpendam dalam tanah.
Beliau kemudian berdiri dan berkata, “Wahai manusia… Lelaki ini tidak aku cela sebagai menantu.”
Sebuah narasi pengakuan dan sikap adil yang nyata.

“Mengapa kalian tak bebaskan ia dari tawanan? Mengapa kalian tak mengembalikan kalung tebusannya kepada Zainab?”

Para sahabat menjawab , “Labbaik, wahai Rasulullah”
Kesantunan dan ketaatan tertulis dalam sejarah.

Nabi saw kemudian memberikan kalung tersebut kepada Abul Ash dan berkata, “Sampaikan kepada Zainab agar jangan mengabaikan kalung Ibunya, Khadijah.” Sebuah pesan cinta dan kesetiaan yang dahsyat.

Nabi saw. berkata, “Wahai Abul Ash aku sampaikan sebuah rahasia.”
Kemudian Abul Ash mendekati Rasulullah saw.

“Wahai Abul Ash. Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan antara perempuan muslimah dan orang kafir. Maka, kembalikanlah putriku kepadaku!”

Dengan penuh penghormatan Abil Ash berkata, “Siap. Aku akan melakukannya!”

Zainab keluar rumah menuju gerbang kota Mekah hendak menyambut jantung hatinya. Sabar ia tunggu kedatangan suaminya.
Abul Ash terlihat. Tak lama kemudian ia mendekat. Suaminya membisikinya. “Aku akan pergi”

“Ke mana?” pendar mata binar Zainab kembali meredup
“Bukan aku, tapi Engkau yg pergi. Aku berjanji menyerahkanmu pada ayahmu!”
“Mengapa?”
“Untuk memisahkan antara aku dan dirimu. Kembalilah pada ayahmu!”
Abul Ash menepati janjinya.

“Mengapa engkau tak membersamaiku saja. Masuklah Islam” Zainab membujuk penuh harap, penuh cinta.

Dan Abul Ash tetap pada pendiriannya. Zainab pun meninggalkan Mekah. Meninggalkan suaminya. Menaati perintah Allah dan ayahnya. Ia hijrah ke Madinah membawa anak-anaknya.
Sejak saat itu, selama 6 tahun silih berganti para lelaki melamarnya. Namun, Zainab tak pernah berkenan menerima. Ia tetap setia menunggu cintanya yang tertinggal di Mekah. Bersama sekeping harap agar mantan suaminya datang menghadap ayahnya dan membersamainya kembali seperti sedia kala.

Setelah tahun-tahun sulit. Menjelang terjadinya Fathu Makkah, Abul Ash sebagaimana biasa ia melakukan perjalanan, berdagang ke negeri Syam.

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia bersama kafilah dagang Quraisy membawa 100 ekor unta dengan 170 orang. Mereka terendus oleh pasukan mata-mata umat Islam. Mereka pun akhirnya ditawan. Namun, Abul Ash berhasil kabur, lenyap dan menghilang.

Abul Ash berlindung di balik kegelapan malam yang semakin gelap serta larut. Ia mengendap-endap memasuki kota Madinah. Bersembunyi beberapa saat.

Menjelang fajar ia semakin mendekat. Rumah Zainab yang ditujunya. Inilah tsiqoh, sebuah kepercayaan.

Zainab bertanya, “Apakah Engkau datang dalam keadaan muslim?”

Abul Ash menjawab, “Bukan. Aku kabur!”

“Mengapa engkau tidak berislam saja”

“Tidak”

Abul Ash meminta jaminan dan perlindungan. Dan Zainab bersedia melindungi. Menjamin dirinya.

“Jangan takut, anak bibiku. Selamat datang wahai Abu Ali dan Abu Umamah”

Rasulullah saw. berdiri di mihrab, mengimami kaum muslimin Shalat Fajar berjamaah. Beliau mengucapkan takbiratul ihram, para makmum di belakang beliau juga bertakbir. Saat itu dari shaf jamaah perempuan, Zainab mengangkat suaranya. Ia berkata, “Aku Zainab binti Muhammad, telah memberi jaminan kepada Abul Ash, maka lindungilah dia.”

Ketika selesai shalat, Nabi Muhammad saw. menoleh kepada para jamaah dan bertanya, “Apakah kalian semua mendengar seperti yang aku dengar?”

Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.”

Nabi Muhammad saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya. Aku tidak tahu kecuali apa yang aku dengar, seperti yang kalian dengar. Sungguh orang yang paling lemah di antara kaum muslimin telah memberi perlindungan.”

Nabi Saw berdiri menyeru, “Wahai para manusia. Sungguh terhadap lelaki ini sebagai menantu saya tidaklah mencelanya.Menantuku ini telah berbicara denganku dan ia membenarkanku, ia memberi janji dan ia menunaikan janjinya terhadapku”.

Penuh khidmat dan hening para sahabat Nabi saw mendengarkannya.

“Bila kalian setuju untuk mengembalikan hartanya dan membiarkannya pulang ke negerinya, maka ini lebih aku sukai. Tetapi bila kalian menolak, maka semua urusan kuserahkan kepada kalian, keputusan ada di tangan kalian. Saya takkan memprotesnya.”

Inilah musyawarah. Beliau tidak menggunakan otoritas kepemimpinannya.

“Kami bersedia menyerahkan kembali hartanya” para sahabat menyetujui Rasulullah saw. Dan inilah adab dan kesantunan sebagai balasan keteladanan dan tawadhu pemimpin.

Lalu Nabi Saw bersabda, “Wahai Zainab, kita telah memberi perlindungan kepada orang yang engkau beri perlindungan dan jaminan.”

Lalu Rasulullah membersamai putrinya ke rumahnya, “Wahai Zainab! Hormatilah Abul Ash. Dia itu putra bibimu, dia adalah ayah dari anak-anakmu. Tetapi jangan dekati dia, itu tidak halal bagimu.” Syariat dipraktekkan dan dipadu dengan akhlak mulia serta kasih sayang.

Zainab menganggukkan kepala, “Labbaik, wahai Rasulullah.”

Zainab menemui Abul Ash bin Rabi’ dan berkata, “Perceraian kita telah menyulitkan kita. Maukah engkau masuk Islam dan tinggal bersama kami?”
Harapan dan cinta menyatu, keluar dari bibir putri manusia termulia. Namun, Allah belum mengabulkannya.

Abul Ash mengambil hartanya dan pulang menuju Mekah. Sesampai di kota Mekah ia berkata kepada penduduk Mekah, “Wahai penduduk Mekah, terimalah harta kalian. Apakah masih ada yang kurang?”

Mereka menjawab, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu. Engkau telah menunaikan amanah dengan sangat baik.”

Abul Ash berkata, “Aku sungguh bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.”

Bergegas, Ia pun pergi berhijrah menuju Madinah. Menjemput hidayahnya. Menyusun kembali kepingan cinta dan kesetiaannya.

Ketika waktu fajar, ia memasuki kota Madinah. Ia bergegas menghadap Nabi Saw. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, kemarin Engkau memberi perlindungan kepadaku. Kini, saksikanlah aku datang dan bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”
Abul Ash melanjutkan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memberi izin kepadaku untuk kembali (ruju’) kepada Zainab?”

Nabi saw. memegang pundak Abul Ash dan berkata, “Mari berjalan bersamaku.”

Beliau ke rumah Zainab, mengetuk pintu dengan penuh bahagia, “Anakku, Zainab. Ini anak bibimu datang kepadaku. Dia meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu. Bersediakah engkau?”

Maka, nampak muka Zainab kemerahan seraya tersenyum. Malu-malu. Pertanda rela, ungkapan persetujuannya.
Seisi Madinah gegap gempita, menyambut bahagia. Merayakan pertemuan cinta dan kesetiaan. Langit cerah, seputih ketulusan cinta Zainab.

Namun, ini bukan akhir sebuah kisah…

Setahun kemudian, Zainab putri Rasulullah saw. dipanggil oleh Allah. Ajalnya telah sampai.
Isak tangis kesedihan Abul Ash terdengar. Menyayat siapa saja yang mendengarnya. Para sahabat menyaksikan.

Rasulullah saw mengusapnya. Turut merasakan kesedihan yang mendalam. Menerima takdir Allah dengan penuh keimanan.

Suara berat Abul Ash menyeruak, “Wahai Rasulullah aku tak mampu hidup tanpa Zainab”

Dan benar, setahun kemudian ia menyusul kekasihnya.

Menghadap Allah subhânahu wa ta’âlâ

Itulah kisah tentang cinta dan kesetiaan. Bersyukurlah, Allah telah karuniakan perempuan baik mendampingimu. Rawatlah cintanya. Ajaklah membangun istana cinta di dunia. Kelak Allah akan membalasmu dengan karunia cinta yang abadi, kesetiaan yang tak pernah luntur oleh masa.

Dialih bahasakan oleh al-faqîr ilâ ‘afwi rabbih
Dr. Saiful Bahri
dengan beberapa perubahan redaksi dan penambahan.

Sumber tulisan:
1. https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=208173 atau di tautan: https://al-maktaba.org/book/31615/34748
2. Beberapa redaksi diambil dari At-Tarikh al-Islamiy karya Mahmud Syakir, Siyar a’lâm an-Nubalâ karya Imam al-Hafizh Syamsuddin adz-Dzahabiy.
3. Hadis jaminan Zainab kepada Abul Ash juga diriwayatkan oleh ath-Thabraniy, al-Hakim dan al-Baihaqi dari riwayat Ummu Salamah ra.

**

Bogor, 13.07.2018