Rahasia Tasbih Ketundukan dan Takbir Kemenangan


Ada yang menggelitik penulis ketika mendengar sambutan singkat Syeikh Abdul Jalil al-Karuriy pada pembukaan seremonial Multaqa Ruwwad ke-9 yang diadakan di Istanbul pada 20-21 Oktober 2017. Beliau mengomentari pembacaan ayat surah al-Isra’ yang diawali dengan tasbih dan diakhiri dengan takbir. “Jika suatu usaha pembelaan terhadap Masjid al-Aqsha dibuka dengan tasbih kepada Allah, maka insyaallah akan berakhir dengan sebuah takbir kemenangan.” ungkapnya dengan penuh semangat yang mengundang tepuk tangan para peserta.

Surah al-Isra’ yang dalam beberapa mushaf juga disebut dengan Surah Bani Israil, dibuka dengan sebuah kejadian fenomenal yaitu Isra’ Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dahsyat dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha tersebut terekam secara tekstual dalam surah ini. Rasulullah SAW dipanggil menghadap Allah untuk menerima sebuah titah tentang shalat. Allah tak langsung memberangkatkan beliau ke Sidratul Muntaha dan kemudian ke suatu tempat yang hanya diketahui-Nya. Namun, beliau ditransitkan di Masjid al-Aqsha. Tentu hal ini mengandung hikmah tersendiri berupa amanah yang diberikan kepada beliau dan umatnya untuk menjaga Masjid al-Aqsha.

Kajian tematik surah ini menunjukkan perilaku buruk Bani Israil di masa lalu dan prediksi al-Quran tentang masa depan mereka yang juga tak kalah buruknya. Kerusakan-kerusakan yang dilakukan atau disebabkan oleh mereka ini kelak akan menjadi sebab punahnya mereka. Hal ini menjadi stimulus tersendiri bahwa kekuatan mereka yang mungkin terkesan hebat, pada hakikatnya menjadi salah satu penyebab utama kehancuran mereka. Hal tersebut karena kelebihan tersebut justru dijadikan alat dan sarana terjadinya kerusakan di bumi ini. Saat itulah Allah mengganti mereka dengan generasi yang mentauhidkan-Nya, Allah mengganti mereka dengan generasi yang sungguh-sungguh dan benar-benar mengagungkan asma-Nya.

Maka, dalam perjuangan melawan berbagai kezhaliman, termasuk yang dilakukan oleh penjajah di Palestina sudah semestina diawali dengan tasbih yang menjadikannya sebagai sarana totalitas ketundukan. Ketika bertasbih, seorang pejuang sedang menyucikan Allah. Ini maknanya, ia juga menyucikan niat perjuangannya, menyucikan motivasi perjuangannya, menyucikan diri dari godaan-godaan yang mungkin dijumpai di antara perjuangannya; godaan popularitas, materi dan lain sebagainya.

Jika seorang mampu melakukan tasbih secara total, maka akan menjadi nyata kata “SUBHANA” yang berbentuk mashdar yang menjadi akar kata dalam ungkapan kata Bahasa Arab. Artinya, dengan atau tanpa adanya orang-orang yang bertasbih kepada-Nya, Allah tetap saja Mahasuci. Sebelum adanya manusia pun alam seisinya sudah bertasbih kepada-Nya (sabbaha lillâh), dan hingga saat ini pun alam tetap saja menyucikan dan bertasbih kepada-Nya (yusabbihu lillâh). Maka tak heran, Allah juga memerintahkan manusia untuk bertasbih kepada-Nya (sabbihisma rabbika).

Totalitas tasbih ketundukan ini benar-benar akan menundukkan ego dan pamrih para pembela kebenaran dan pejuang yang melawan kezhaliman. Jika, mereka melakukannya dengan benar, maka mereka akan dengan mudah bertakbir mengagungkan Allah. Dalam shalat pun Allah menjadikan takbir sebagai pembuka dan pertanda perpindahan gerakan-gerakan shalat. Tasbih dan takbir sangat berkaitan erat. Karenanya kata-kata ini menjadi dzikir yang paling banyak yang dibaca seorang mukmin dalam shalatnya.

Jika takbir seperti ini sudah bisa dilakukan dengan ringan dan kontinyu, maka akan datang saatnya sebuah pekikan takbir kemenangan. Takbir yang menandai sebuah kuasa Sang Pemaksa yang mengirim para penakluk dan pengusir kezhaliman. Takbir yang menandai keagungan kuasa Sang Agung yang tiada berbatas. Takbir yang menandai kemenangan dan keberpihakan kebenaran meskipun sedikit pembelanya dan dilecehkan oleh banyak orang. Takbir pertanda raihan keberuntungan dan kebahagiaan. AlLâhu Akbar walLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 74

Istanbul, 21.10.2017

SAIFUL BAHRI

Iklan

Motivasi “Insyâ’alLâh”

Motivasi Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya selalu menghadirkan nuansa inspiratif yang dahsyat. Di antara sekian motivasi, simaklah dahsyatnya motivasi kalimat insyâ’alLâh yang dikisahkan melalui cerita tentang seorang anak kecil (Ismail) dan seorang Nabi Syu’aib, mertua dari Nabi Musa AS.

Saat Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail, beliau mendapati anaknya yang masih kecil menjelma menjadi kedewasaan yang sempurna.

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shâffât: 102)

Jawaban Ismail mengajarkan kita tiga hal penting:

  1. Dia memanggil ayahnya dengan panggilan sayang (yâ abati) meskipun selama ini ayahnya jauh secara fisik tapi efektif dalam pembinaan akidah melalui ibunya.
  2. “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (if’al mâ tu’mar) menandakan bahwa dia sangat paham siapa yang memerintah ayahnya.
  3. (ستجدني إن شاء الله من الصابرين) “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Adalah sebuah motivasi untuk sungguh-sungguh berusaha menjadi seorang penyabar kemudian berserah diri ada Allah dari usaha yang dilakukannya.

Energi positif dari pernyataan Ismail adalah mendidik anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus ini selalu kuat mental dan prinsip serta kokoh akidahnya. Seberapa berat cobaan yang dihadapi, dengan mudah ia akan katakan “insyâ’alLâh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Untuk menjadi pribadi yang sabar secara benar tidaklah mudah, perlu kedewasaan, perlu tempaan matang, perlu kokohnya pertautan kepasrahan kepada Allah. Anak kecil ini menjadi dewasa. Sangat berbeda dengan anak-anak sekarang umumnya yang dewasa secara biologis, namun sayangnya rapuh secara prinsip dan ideologis serta psikologis.

Kisah kedua yang bisa dijadikan motivasi adalah jawaban Nabi Syuaib setelah mendengar kisah pelarian Nabi Musa. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insyâ’alLâh akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik“. (Al-Qashash: 27)

Dengan berkata demikian Nabi Syuaib ingin memberikan motivasi pada Musa, bahwa seberat apapun masalahnya Allah akan memberi jalan keluar yang baik. Hal ini sekaligus juga memotivasi dirinya untuk menjadi jalan keluar yang baik tersebut. “Insyâ’alLâh aku termasuk orang baik!” Menariknya ia menawarkan kerjasama (simbiosis mutualisme) yaitu dengan menjadikannya menantu yang baik.

Spirit dua “insyâ’alLâh” di atas bisa dijadikan quotes motivation yang menginspirasi umat ini. Bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, semakin banyak anak-anak yang mengatakan seperti ungkapan Ismail, maka takkan perlu ada yang dicemaskan. Karena, bila anak-anak kecil saja berani menyatakan demikian, sudah seharusnya orang-orang dewasa malu jika tak mampu mengatakannya.

Demikian halnya saat terjadi banyaknya problematika di tengah masyarakat, ungkapan insyâ’alLâh Nabi Syu’aib menjadi inspirasi bahwa sudah seharusnya para orang tua menjadi penenang. Menjadi jalan keluar yang baik. Memotivasi anak-anak muda untuk tidak menyerah dengan rintangan. Dan justru dengan masalah yang terjadi adalah jalan terbaik merekrut kader-kader penerusnya, sekaligus diajak bekerja sama dengan baik.

Tiga komponen umat yang terdiri anak-anak, orang tua, anak muda bersatu, rasanya tak perlu mencemaskan kondisi apapun yang terjadi. Karena, semuanya memiliki pertautan kepasrahan yang produktif kepada Allah. Yaitu, berupa kesabaran yang menggerakkan dengan dahsyat, serta kesalihan yang memotivasi diri dan orang lain untuk lebih kuat dari masalah, seberat apapun masalah yang dihadapi. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 73

Jakarta, 15.10.2017

SAIFUL BAHRI

Menjadi Generasi Sekarang

Ketika menjumpai kondisi yang negatif atau terpuruk, kita sering menggunakan pendekatan motivatif futuristik. Misalnya, saat melihat kondisi umat Islam secara umum di Timur, Barat, Utara dan Selatan, hampir semuanya seolah terstigmatisasi negatif. Belum lagi, bila bicara tentang krisis kemanusiaan yang dahsyat di abad ini. Suriah dan Rohingya, adalah kasus-kasus besar yang mengimbuhi masalah berat sebelumnya, Palestina yang juga belum terlihat ujung solusinya. Biasanya, untuk melipur lara tak jarang kita mengalihkan semangat juang ke generasi setelah kita. Maka secara otomatis, itu sama dengan mengatakan bahwa diri kita tidaklah hadir sebagai solusi. Atau kurang percaya diri tampil memberi solusi dan justru banyak berharap pada generasi akan datang.

Jika estafet ini berlanjut, maka tidak mustahil kendala yang sama akan dialami oleh generasi setelah kita. Mereka akan melakukan estafet masalah dan estafet harapan. Mereka pun saat menjadi “sekarang” akan mengatakan bahwa solusinya ada di generasi “mendatang”. Demikian terjadi dan akan terus tak berujung.

Maka, sudah saatnya umat Islam ini mengatakan dan mendoktrin dirinya bahwa dialah generasi sekarang yang harus hadir sebagai solusi, bukan keturunannya. Benar, mereka akan melanjutkan, tapi bukan sekedar melanjutkan mimpi saja. Namun, lebih pada melanjutkan aksi nyata yang mengatrol prestasi umat ini.

Maka, semangatnya adalah semangat “SEKARANG”. Lakukan sekarang, mulai dari yang mungkin untuk dimulai. Kemudian lakukan secara komunal dan masif. Belajarlah semangat “sekarang” ini dari Zulaikha, “Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 51)

Pendekatan “sekarang” bisa lebih membuka diri untuk melakukan pendekatan introspektif dibanding menyalahkan orang lain. Dengan pendekatan tersebut, seseorang tidak fokus pada masalah atau penyebab masalah. Ia akan fokus pada mencari solusi dan jalan keluar.

Lihat pula apa yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terus mempertahankan spirit juangnya, “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 66)

Maka permasalahannya terletak pada manajemen harapan. Kitalah yang seharusnya mengharapkan untuk menyaksikan diri terlibat langsung terhadap penyelesaian masalah yang saat ini terjadi. Kalau pun itu tidak terjadi maka generasi setelah kita akan meningkatkan usahanya lebih gigih dank eras lagi. Mentalitas “sekarang” ini jugalah yang akan mendesak dan mengusir kebiasaan menunda dan inferior (rasa rendah diri) serta tak percaya dengan kemampuan yang Allah berikan.

Jika melihat secara internal, setiap manusia selalu dibekali keistimewaan oleh Allah dengan segudang potensi positif dan prestasi. Jika melihat kepada eksternal, maka seseorang akan menempatkan diri secara proporsional. Ia tak sombong dengan tetap menghormati orang lain (tidak terlalu merasa superior), tidak juga merasa buruk jika dibandingkan orang lain.

Semangat inilah yang dimiliki oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Kuburan mereka menyebar ke pelosok dunia, karena jiwa ekspansif yang termotivasi menyebar kebaikan. Mereka pun tak pernah takut kepada selain Allah, dengan segala keterbatasan. Jadilah, mereka disegani kemudian membuka pintu dakwah dan kemenangan bagi generasi setelahnya. Jadilah Umar atau Shalahuddin yang akan menaklukan kezaliman di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Atau setidaknya bisikkan pada diri ini, akan benar-benar menyaksikan kehadiran Umar atau Shalahuddin tak lama lagi. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 72

Jakarta, 10.10.2017

SAIFUL BAHRI

Yusuf Sang Penakluk

Yusuf bin Ayyub, Abu al-Muzhaffar Shalahuddin al-Ayyubi.

Namanya bertahan lebih dari 830 tahun. Dia yang taklukkan sang penakluk (al-Qâhirah), kota baru bernama Cairo yang dibangun Panglima Jauhar ats-Tsaqiliy untuk dijadikan sebagai ibukota Dinasti Fatimiyah. Tadinya, ibukota Mesir adalah Fustat, sejak Amr bin Ash memasuki Mesir.

Saat Fatimiyah berkuasa, di sebelah Timur Laut Fustat dibangun kota baru yang menjadi jantung kekuasaan. Khalifah al-Muiz li Dinillah lah yang menamakan kota itu dengan al-Qahirah, pada 11 Juni 972 M. Tahun 1168 M Fustat dibumihanguskan sebagai strategi menahan Pasukan Salib. Al-Maqrizy menggambarkan suasana kota yang mencekam setelah dibakar selama 45 hari. Sepi, lengang, tak bertuan, padahal tadinya menjadi pusat kekuasaan.

Tiga tahun berikutnya (1171 M) Shalahuddin menaklukkan Cairo dan mengakhiri kepemimpinan Dinasti Fatimiyah, sekaligus menjadi tanda berdirinya Dinasti Ayyubiyah. Shalahuddin segera membangun benteng-benteng yang melindungi Mesir dan Cairo dari serangan pasukan salib. Benteng megah dengan perencanaan supercerdas itu bukan hanya menjadi tembok kokoh, namun difungsikan sebagai supplier air bersih untuk para penduduk. Paduan benteng dan saluran air itu memanjang, mengelilingi kota Cairo. Sebagian benteng  dan sumur tua tersebutbisa dilihat di Qal’ah Shalahuddin (Saladin Citadel) yang terletak di kawasan al-Abaqea, Cairo.

Shalahuddin tak hanya berbekal tentara untuk menaklukkan Cairo dan Dinasti Fathimiyah. Mesir ditundukkan dengan kekuatan pribadinya, sebelum tentaranya. Rakyat menjadi padu bersamanya melawan gempuran dahsyat Pasukan Salib ke Mesir. Dan tak mampu –bahkan- injakkan kaki lama-lama di bumi para nabi tersebut. Shalahuddin bersama rakyat Mesir gagalkan ekspansi salibis.

Yusuf muda, taklukkan kota penakluk dengan akhlak dan karakternya yang kuat dan berpengaruh. Hal yang sama ia lakukan saat menaklukkan Damaskus. Cairo dan Damaskus adalah dua kota penting yang menjadi gerbang penaklukan Masjid al-Aqsha. Kemudian, perang puputan di Hithin, 4 Juli 1187 M menjadi mimpi buruk bagi pasukan Salib yang menguasai Masjid al-Aqsha dan Jerusalem. (baca: http://www.aspacpalestine.com/id/item/736-para-inspirator)

Pasca kemenangan di Hithin memberikan suntikan mental bagi umat Islam sekaligus tekanan psikis yang buruk bagi aliansi pasukan salib. Terlebih dengan terbunuhnya tak sedikit dari pasukan elit mereka (Ksatria Templar). Selanjutnya Shalahuddin lebih intensif melakukan strategi penguasaan daerah yang mengelilingi Jerussalem (Al-Quds). Dalam waktu singkat, berturut-turut kota-kota yang ditaklukkan Shalahuddin: Asqalan, Akka, An-Nashirah, Haifa, Nablus, Denin, Bisan, Yafa, Beirut, Ramallah, Betlehem, al-Khalil.

Kabar kemenangan Shalahuddin semakin membuat Jerusalem gempar. Al-Quds yang selama 88 tahun di bawah kekuasaan dan kendali Kristen semakin menyadari detik-detik akhir kekuasaannya. Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober 1187 M, Masjid al-Aqsha kembali ke pangkuan umat Islam.

Sejak tahun 1948 sampai saat ini Masjid al-Aqsha, Jerusalem dan Palestina diduduki dan dijajah oleh Zionis Israel. Sudah 69 tahun lamanya, umat Islam merindukan kembalinya masjid suci tersebut ke tangan umat Islam.

Siapa yang bersedia menjadi Yusuf-Yusuf sang penakluk itu? Atau setidaknya melahirkan dan membesarkannya, menyiapkannya memasuki kota Jerusalem dengan penuh izzah seperti 830 tahun yang lalu.

Mulailah proyek penaklukan itu dari diri dan keluarga. Jangan katakan itu menjadi garapan anak cucu kita, karena jika itu yang kita lakukan maka takkan berujung menjadi kenyataan. Namun, jika kita bertekad kitalah yang menjadi Yusuf Shalahuddin, bisa jadi kalau tak terwujud anak cucu kitalah yang meneruskannya. AlLâhu al-Musta’ân.

 

Catatan Keberkahan 71

Jakarta, 02.10.2017

SAIFUL BAHRI

*) Dedicated to Shalahuddin al-Ayyubi. Mengenang al-Fathu ash-Shalâhy (02.10.1187 M/27.07.853 H)

Mengerahkan Segalanya


Umar bin Khattab dan sahabat Nabi saw menjadikan peristiwa hijrah ke Madinah adalah patokan penghitungan kalender Islam. Dalam hijrah terdapat berbagai spirit positif yang menandai kenaikan level peradaban Islam. Spirit kegigihan dan pantang menyerah, totalitas pengorbanan dan kebersamaan, spirit menjaga eksistensi dan keberlangsungan estafet dakwah.

Hijrah bukan sekedar menjadi momen pergerakan atau perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun, hijrah adalah perpindahan level keberagamaan; dari level kesalihan individu menjadi level komunal yang lebih besar; mencapai level state (negara) yang berdaulat, independen dan bergaul dengan dunia internasional. Eksistensinya bukan hanya sekedar diakui, tapi sudah dalam tahap diplomasi dan negosiasi. Dialog dengan peradaban maju saat itu pun dilakukan, misalnya dengan dua negara aidaya, Romawi dan Persia. Meskipun, ada beberapa gangguan internal di Madinah dari kalangan ahli kitab (kaum status quo) yang merasa tersaingi. Atau pihak antagonis kuffâr Quraisy beserta sekutunya.

Dengan beberapa keterbatasan di periode awal Madinah, kondisi kaum muslimin jauh lebih baik daripada di Mekah. Karena, terlembagakan dan terstruktur secara sosial, politik, ekonomi dan budaya dengan cukup baik.

Penulis takkan mengajak menelusuri perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. Kajian seperti ini banyak dikupas, dan pernah dikaji pada catatan terdahulu. Namun, satu hal yang menarik untuk dihighlight adalah apa yang dilakukan oleh seorang sahabat Nabi saw, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Abu Bakar mengerahkan seluruh yang ia punya dan yang bisa dijangkau untuk melancarkan proses hijrah.

  1. Aisyah yang saat itu masih kecil, tapi nanti berperan meriwayatkan beberapa hadis yang terkait hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Beliau adalah putri Abu Bakar sekaligus istri Rasulullah SAW.
  2. Kakaknya, Asma’ binti Abi Bakar, adalah orang yang menyalurkan logistik dan keperluan sehari-hari Rasulullah SAW padahal beliau saat itu sedang dalam kondisi hamil.
  3. Kakaknya, Abdullah bin Abu Bakar, berperan sebagai informan yang mencari tahu apa yang dibicarakan kaum Quraisy, termasuk sayembara perburuan terhadap Nabi Muhammad SAW.
  4. Pembantunya, Amir bin Fuhairah yang menggembala kambing untuk menghilangkan jejak perjalanan Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar.
  5. Kolega bisnisnya, Abdullah bin Uraiqith. Meskipun ia belum memeluk Islam tapi dipercaya Abu Bakar sebagai penunjuk jalan ke Madinah melalui jalur yang tak biasa. Tak ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa ia kemudian bersyahadat. Tapi, kejujuran dan profesionalismenya lah yang membuat Abu Bakar melibatkannya dalam sebuah peristiwa bersejarah ini.

Bukan kali ini saja Abu Bakar menjadi terdepan dalam pengorbanannya. Dalam Perang Tabuk, beliau memberikan dan mengerahkan segalanya. Karena, keluarganya selalu dididik untuk memberi dan mendermakan apa saja. Dididik mandiri dan menjadi solusi bagi masalah sosial yang terjadi, dan bukan menjadi beban serta problem.

Jika, saat ini umat Islam secara umum secara politik, ekonomi, budaya menjadi kelompok yang kurang menonjol, bahkan mungkin tertindas dan terstigma negatif, maka sosok seperti Abu Bakar sangat dinantikan. Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, ancaman Zionis di Palestina, kondisi Suriah membuat sebagian umat Islam menjadi underestimate. Padahal, yang perlu dilakukan bangkit dan menjadi “Abu Bakar”. Mengerahkan keluarga dan semua daya jangkau untuk melakukan hijrah spirit, hijrah cara berpikir dan siap berkorban apa saja.

Geliat pengkajian keislaman di perkantoran, masjid-masjid saat week end, serta maraknya semangat menghafal al-Quran serta studi-studi dan konsultasi keislaman adalah pertanda bahwa ada banyak potensi positif. Belum lagi perubahan demografi di Eropa, terkhusus Rusia, Jerman, Perancis dan Inggris yang menyuguhkan data mencengangkan terkait populasi muslim di sana. Maka berbuatlah, jadilah Abu Bakar-Abu Bakar. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 70

Jakarta, 23.09.2017

SAIFUL BAHRI

Afrika

Dalam Mu’jam al-Buldân disebutkan; kata Afrika diambil dari sebuah nama penguasa negeri Saba’ di Yaman, Ifriqis bin Shaifiy, yang dikalahkan oleh rakyat Ethiopia. Dikejar-kejar dan terlunta-lunta hingga ke Libya, melewati padang pasir dan bertemu dengan kabilah Barbar yang mendiami tanah-tanah subur dan hijau. Nama Afrika mula-mula populer di timur benua ini. Sebagian sejarawan dan penulis Arab, mengambil derivasi nama Afrika dari kata “fu-ri-qa” yang berarti terpisah atau terbagi. Karena secara geografis, tanah Afrika terpisah dari Eropa dan Asia. Afrika terpisah oleh Laut Mediterania yang memisahkannya dengan Eropa serta Laut Merah yang membatasinya dengan Asia. Sebagian kecil -di ujung Mesir- kemudian dibelah sepanjang 160 kilometer dan dinamakan dengan Terusan Suez.

Jika Mesir adalah gerbang Islam di Afrika, maka kabilah Barbar adalah gerbang Islam ke Eropa. Tak mengherankan, jika di sepanjang pesisir utara Afrika dan sebagian wilayah timur, Islam sangat dominan, padahal sebelumnya tak terlihat. Pelahan namun pasti, peradaban Mesir kuno yang identik dengan kemajuan peradaban batu, namun secara ideologis menjadi negeri penyembah banyak dewa dan banyak sebutan untuk Tuhan mereka. Mesir berubah warna. Demikian juga negeri-negeri pesisir utara, Libya, Maroko, Tunisia, Aljazair, Moritania; bahkan kemudian disebut sebagai negara Arab. Penyebutan ini tidaklah didasarkan secara etnologis maupun geografis. Penamaan ini lebih bernuansa ideologis. Islam melekat sebagai identitas, menyatu dengan istilah Arab yang menjadi ciri komunikasi masyarakat muslim saat itu. Warna Islam ini pun tak hanya terjadi di utara dan timur, tapi menyebar hingga ke barat, tengah, sampai ke selatan, meskipun populasi dan persentasi kuantitas yang tak sama.

Negeri yang subur itu, pernah menjadi sasaran penjajahan. Pasca revolusi industri Eropa, negara-negara maju Eropa melakukan aneksasi terhadap negeri-negeri Afrika dan Asia. Mereka menjajah untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan memperbudak orang-orangnya. Meski secara fisik penjajahan tersebut sesuai target, namun secara ideologis tak banyak berpengaruh. Pesisir utara Afrika, warna Islam tetap dominan dan Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan komunikasi rakyatnya.

Jika penjajahan fisik pernah dilakukan di masa lalu, maka di era revolusi telekomunikasi dan pasca gelombang ketiga –meminjam istilah third wave-nya Alvin Tofler- penjajahan fisik dilakukan sebagai finishing penjajahan mental. Sebagian negara-negara Afrika kini lebih banyak menjadi proxy dari kepentingan negara-negara besar. Sebagaimana hal yang sama terjadi di Asia, termasuk di Indonesia.

Tak heran, jika Zionis Israel membidik Afrika. Mereka hendak menancapkan pengaruh. Dimulai dari tengah, karena merasa sudah menggenggam jalur masuk Afrika, Mesir sebagai salah satu pintunya. Dengan jargon normalisasi Israel-Afrika, mereka hendak melaksanakan KTT di Togo Oktober ini. Afrika, masih memiliki nurani dan solidaritas kepada Palestina. Arus normalisasi ini terblok dan batal dilaksanakan. Headline media masa dunia memberitakan pengunduran waktu yang belum definitif. Tentunya, warga Afrika tetap berharap normalisasi ini tak dideklarasikan. Rakyat Afrika tahu, bahwa penjajahan Israel terhadap Palestina tidak bisa dibenarkan. Mereka tahu, sebagian pejabat atau pengusaha dan orang-orang kaya di benua ini bermain belakang dan mengambil keuntungan dari normalisasi ini. Mereka yang sudah menjalin hubungan tentu ingin pengesahan terhadap apa yang dilakukan. Alhamdulillah, nurani mayoritas rakyatnya menolaknya. Karena, memang penjajahan tidaklah bisa dibenarkan secara kemanusiaan. Apalagi jika manusia tersebut adalah muslim, maka setidaknya ada dua simpul yang menjadikannya menolak penjajahan Israel, yaitu simpul kemanusiaan dan simpul ideologis. Semoga rakyat Afrika dan pemerintah negeri-negerinya konsisten menolak berhubungan dengan penjajah Israel. WalLâhu al-Musta’ân.


Catatan Keberkahan
69

Jakarta, 18.09.2017

SAIFUL BAHRI

Terus Mengagungkan Allah


Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia pelahan-lahan mulai meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tempat asalnya. Karena ibadah haji adalah latihan, penempaan dan pembekalan spiritual. Maka, saatnya mereka mengintegrasikan hal itu dalam kehidupan nyata. Salah satu sarana dan cara untuk melanggengkan spirit kebaikan yang didapat selama menjalani rangkaian ibadah haji adalah dengan terus berdzikir kepada Allah.

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu…” (QS. Al-Baqarah: 200)

Maka, siapapun dari jamaah haji tersebut ketika ia kembali dan menempati perannya masing-masing, maka bagaikan ia meneruskan manasik hajinya dalam hidup kesehariannya. Ia akan berbuat adil, menyayangi sesamanya, bersyukur atas karunia-karunia Allah dan berbagai peran positif lainnya. Selain itu, ia akan menahan diri dari jebakan-jebakan nasfu dan bisikan setan yang terus mengepungnya. Jika ia melakukan hal tersebut, harapannya menjadi tanda bahwa hajinya mabrur, manasik ibadahnya diterima Allah dan menuai hasil baik, bermanfaat untuk sesamanya.

Hal yang serupa juga terjadi pada saat setiap mukmin mendirikan shalat. Maka, spirit kebaikan yang ada di dalam shalat pun seharusnya menginspirasinya untuk terus mengagungkan Allah. Dzat yang ia agungkan dengan takbir belasan atau bahkan puluhan kali dalam shalatnya. Saat ia bertasbih dalam shalat, ia akan senantiasa menyucikan Allah dalam kehidupannya. Saat ia membaca al-Fatihah yang selalu diulang di setiap awal rakaat, ini pertanda totalitas penghambaan yang seharusnya. Ketika ia tutup shalat dengan salam, ini pertanda bahwa ia pun akan segera menjadi duta perdamaian, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan bagi seisi alam. Karena memang demikianlah peran manusia sesungguhnya. Karena Allah mencipta manusia untuk menjadi khalifah Allah di bumi-Nya. Memakmurkan dan menjaga karunia Allah dan berbagai ciptaan-Nya.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring…” (QS. an-Nisa’: 103)

Usai shalat, seorang mukmin yang sudah menunaikannya pun berdzikir. Ia luangkan waktu sejenak untuk meneruskan munajatnya di luar shalat. Kemudian ia bangkit, menjemput karunia Allah dan sekaligus memproyeksikannya untuk banyak hal yang bermanfaat, sambil terus ia mengagungkan dan mengingat, berdzikir dengan asma Allah.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Maka, jika takbir ini terus dilakukan dengan benar di dalam dan di luar ibadah shalat dan ibadah haji, dan bibir-bibir umat Islam terus basah dengan dzikir kepada Allah, maka kondisi umat Islam akan segera membaik.

Mengapa, perintah dzikir di dalam al-Quran senantiasa diikuti dengan frekuensi yang banyak. Karena jika dzikir itu hanya sedikit, maka berpotensi penyimpangan. Baik penyimpangan awal sebagai bentuk rutinitas yang tak terjiwai, atau penyimpangan karakter munculnya kemunafikan ketika dzikir tak lagi membekas dan menginspirasi kebaikan.

Dengan dzikir yang banyak, dengan senantiasa mengagungkan asma Allah dengan takbir yang benar, maka umat ini –biidznillah- akan kembali besar. Orang yang membesarkan Allah maka ia akan memiliki kebesaran dan kemuliaan yang Allah berikan untuk memimpin peradaban ini. Dan sebaliknya, bila ia mengerdilkan atau mengecilkan Allah, maka Allah akan benar-benar hilang dan kemudian ia menjadi orang yang terlupakan. Allah, mengabaikannya, dunia pun takkan pernah mengapresiasinya.

Pilihan ada di tangan kita untuk terus mengagungkan Allah dan mendengungkan janji-janji kemenangan dari-Nya. Agar spirit dan inspirasi kebaikan terus berdengung dalam diri kita. WalLâhu al-Musta’ân.

Catatan Keberkahan 68

Jakarta, 07.09.2017

SAIFUL BAHRI