Renungan Metodologi Berpikir

OBYEKTIFITITAS DAN SUBYEKTIFITAS

Totalitas obyektifitas. Begitu syarat seseorang dalam memberikan cara pandangnya. Sebagai standar ilmiah yang diakui oleh orang banyak, menurut sebagian orang.

Namun, sesungguhnya obyektifitas itu sendiri adalah sesuatu yang subyektif. Subyektif dalam pandangan orang tertentu meskipun jika si penggagas/penyampai ide sudah berusaha seobyektif mungkin.

Menanggalkan subyektifitas secata total merupakan sebuah kemustahilan. Juga, totalitas dalam obyektifitas merupakan mazhab subyektifitas baru.

Misalnya obyektifitas memperlakukan secara sama dengan perasaan sama, semua serba sama lahir dan batin antara tiga orang teman kita. Tentu sangat mustahil. Pasti ada satu diantara ketiganya yang mendapatkan subyektifitas tadi, meski tentunya hanya bersifat batin.

Ada lagi orang yang menyaratkan sebuah obyektifitas dengan cara memandang sesuatu dari luarnya. Inilah definisi obyektif yang akurat. Tandasnya.

Hal mungkin ini bisa kita analogkan dengan seseorang yang baru saja memasuki rumah kita mengabarkan bahwa di luar sedang turun hujan (lebih tepatnya rumah kita sedang kehujanan). Baju yang dikenakannya pun ada tanda-tanda basah meskipun tak kuyup.

Apakah kemudian yang dikatakan obyektif tanpa subyektifitas kita mesti segera keluar dan membuktikan sendiri bahwa memang sedang hujan ketika baju kita basah oleh air hujan. Padahal tanda-tandanya cukup kuat. Dengan kabar yang dibawa orang yang bajunya basah, suara hujan itu sendiri dan beberapa tanda lainnya.

Nilai obyektifitas yang total ini bisa digunakan. Hanya saja timingnya akan sangat terlambat. Memerlukan proses yang sangat yang cukup panjang dengan jalan melingkar dan memutar. Tidak melalui jalan tembus yang langsung.

Seseorang yang memandang Islam dengan nilai obyektititas tinggi `mesti` keluar dulu dari keislamannya. Itulah Islamologi yang paling obyektif. Menurut penganut mazhab totalitas dalam obyektif.

Kerawanannya, dikhawatirkan tak mampu kembali lagi. Ini akan berakibat fatal, manakala kita tidak sanggup lagi meyakinkan diri kita bahwa kita adalah bagian dari umat Islam.

Lebih beratnya kemanfaatan iman dan Islam itu terlambat, ketika benar keyakinan sesuatu yang yakin telah tiba. Sebagaimana ketika Fir`aun menemui ajalnya.

Tuntutlah untuk melihat Tuhan. Setelah itu baru beriman. Maka keimanan setelah melihat-Nya merupakan penyesalan yang terlambat.

Sebut saja, orang-orang yang mendengungkan modernitas pola pikir adalah dengan totalitas obyektif dalam mengemukakan cara pandang. Keluarkan diri Anda dari Islam, niscaya Anda akan obyektif dalam menilai Islam.

Dengan demikian sebuah ide dan gagasan, baik berupa tulisan atau yang lainnya yang berhubungan tentang keislaman, akan dianggap memiliki obyektifitas yang tinggi bila digelindingkan oleh seorang non muslim atau oleh mereka yang mengikuti `penanggalan` identitasnya.

Sementara keislaman yang dilontarkan oleh intelektual muslim dan para ulama`nya cenderung subyektif bahkan bisa dikatagorikan lebih terwarnai oleh fanatisme yang dipengaruhi emosional yang bersangkutan.

Benarkah antitesa ini.

Subyektifitas yang kita kembangkan sebenarnya diistilahkan dengan terminologi yang baik. Yaitu //tamassuk biddin//, berpegang teguh pada agama. Hanya saja terminologi ini kemudian dipelintir dengan istilah lain yaitu //ashabiyah// atau fanatisme kelompok dan golongan saja. Tepatnya kelompok fundamentalis dan radikal -menurut mereka (sang pemberi label).

Munculnya totalitas dalam obyektif ini berangkat dari keraguan fungsi Islam sebagai //rahmatan lil alamin//, rahmah bagi alam semesta. Sehingga seorang non muslim khawatir bahwa jika ada umat Islam berkuasa mereka akan tertindas. Sebuah bayangan yang mengerikan, bukan?

Padahal Islam sudah memberikan kebijakan dalam berinteraksi. Baik dengan sesama muslim ataupun dengan non muslim. Bahkan dengan lingkungan disekitarnya, baik yang hidup maupun benda-benda mati.

Kita diajarkan untuk menyapa sesama dengan bahasa manusia, berinteraksi dan bergaul dengan bahasa Islam, mengajak dan mengarahkan mereka dengan bahasa dakwah serta menggerakkan potensi kebaikan mereka demi menegakkan Islam dibumi Allah. Indah. Sangat indah kode etik ini. Hanya saja kita perlu sosialisasi lebih gencar.

Obyektif -menurut saya- bila cara pandang dalam gagasan dan ide kita disertai data yang akurat serta argumen atau dalil yang kuat.

Sedang subyektif lebih menonjolkan letupan-letupan emosional dalam mengemukakan sebuah gagasan, ide dan cara pandang. Namun tanpa disertai data yang akurat dan argumen yang kuat.

Dengan demikian kita tak perlu menanggalkan identitas kita untuk mengemukakan sebuah gagasan dengan obyektif. Meski obyektifitas tersebut belum total, menurut sebagian orang.

Kewajiban kita hanya menyampaikan. Dengan data, argumen dan dalil. Setelah itu, barang siapa yang mau mempercayainya maka ia akan beriman tanpa paksaan. Dan barang siapa yang mau mengingkarinya engganlah ia untuk beriman. (lihat QS.18:29)

Saiful Bahri

Pusat Pengajaran Bahasa, Dokki

Mengiringi Matahari Senja, 20.11.2008