Israiliyyat Tafsir Thabary

ISRAILIYAT TAFSIR THABARY*

Saiful Bahri, MA**

Mukaddimah

Salah satu karakteristik Bani Israil adalah kedengkian mereka yang meledak-ledak serta rasa hasad yang berlebihan kepada Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin. Hal ini bukan hanya ketika Nabi saw masih hidup, namun berkelangsungan sampai ketika beliau sudah wafat.

Salah satu bentuk pelampiasan kedengkian tersebut adalah dengan menyesatkan kaum muslimin dari referensi utama mereka; al-Qur`an dan Sunnah. Dalam memahami al-Qur`an diperlukan penafsiran. Baik yang ma’tsur (dari Nabi saw) –ini sangat sedikit- atau lewat cerita ahlul kitab, maupun para sahabat Nabi saw. Peluang ini digunakan oleh Yahudi untuk memasukkan sesuatu yang bukan menjadi ajaran orisinil Islam. Bahkan bisa jadi bertentangan. Naifnya, tak sedikit dari para mufassir yang mengambilnya sebagai salah satu penguat penafsirannya tentang suatu ayat dalam al-Qur’an.

Masukan-masukan asing, terutama dari kisah-kisah umat terdahulu ini dalam tafsir serta buku-buku hadits ini dikenal dengan “isrâ`iliyyât” baik itu yang menyeleweng, sesuai dengan nash atau yang didiamkan oleh nash tanpa keterangan.

Salah satu buku tafsir kenamaan yang tak luput dari isrâ`iliyyât adalah Jâmi’ al-Bayân fî Ta`wîl al-Qur’ân karya Ibnu Jarir at-Thabary. Sebagai buku tafsir tertua sekaligus khazanah tafsir bilma`tsûr pertama. Setidaknya perlu untuk diketahui seberapa banyak isrâ`iliyyât yang ada di dalamnya serta pesan-pesan apa yang disampaikan oleh pengarang tafsir tersebut.

Ibnu Jarir At Thabary

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid at Thabary. Kelahiran Amel, Thabrustan[1] pada tahun 224 H (838 M) dan wafat di Baghdad pada tahun 310 H.

Beliau adalah seorang keturunan Arab yang mumpuni dalam sastra dan tata bahasa. Terlihat dari karangan-karangan beliau yang menunjukkan hal tersebut. Sebelumnya pada usia tujuh tahun beliau menyelesaikan hafalan Al Qur`an 30 juz.

Seorang produktif yang hidup sekitar 86 tahun seperti beliau sudah barang tentu memiliki segudang pengalaman, ilmu serta karangan-karangan. Berkeliling ke kota-kota penting di beberapa negeri untuk menuntut ilmu, Mesir, Syam dan terakhir Iraq. Dan akhirnya menetap di Baghdad hingga tutup usia.

Beliau, adalah yang pertama menulis tafsir dalam bentuk buku juga metode dalam penafsiran bersandar riwayat/sanad (bilma`tsur). Karenanya tak berlebihan bila beliau dijuluki Syeikhul Mufassirîn, demikian halnya dalam bidang sejarah Islam.

Tafsir Jâmi` al-Bayân

Tafsir Jâmi` al-Bayân termasuk dalam katagori awwaliyah zamaniyyah (pertama dari segi waktu), maksudnya yang sampai kepada masa sekarang. Dan awwaliyyah dari segi ilmu/metodologi (fann), sebagai sebuah ilmu yang dipelajari. Beliau sebagai pencetusnya.

Dalam tafsirnya, Thabary menafsirkan ayat, kemudian mengambil dalil (istisyhâd) dari riwayat para sahabat atau tabi`in. Jika dalam sebuah ayat terdapat lebih dari satu pendapat beliau memberikan komentar sedikit.

Secara global karakteristik metodologi Imam Thabari dalam tafsirnya sebagai berikut: detail dalam sanad (silsilah riwayat), hadits-hadits Nabi saw, syi’r arab, qira`at, tata bahasa arab dan i’rabnya, serta mendiskusikan beberapa permasalahan dan pendapat dalam fikih.

Isra’iliyat dalam Tafsir

Isrâ`iliyyât menurut ulama tafsir dan hadits adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah umat terdahulu yang bersumber dari Yahudi (dalam jumlah relatif banyak) dan Nashrani (relatif lebih sedikit) dalam tafsir dan hadits. Bahkan lebih luas dari itu, bersumber dari segala sesuatu yang menyelesihi Islam[2].

Adapun penamaan isrâ`iliyyât, merupakan istilah bahwa kebanyakan sumbernya di ambil dari referensi-referensi Yahudi. Dan relatif lebih banyak dari pada sumber Nashrani atau lainnya[3]. Asal isrâ`iliyyât ini dari orang-orang Yahudi yang hidup di Madinah bersama umat Islam. Pada zaman sahabat, ketika para sahabat menanyakan beberapa hal yang ada kesamaan dengan al-Qur`an dalam kitab Taurat dan Injil. Kemudian setelah itu terjadi beberapa tipe isrâ`iliyyât. Ada yang shahih, ada yang sesuai dengan nash, ada yang bertentangan bahkan ada yang didiamkan oleh nash[4].

Bahasa sumber utama Isrâ`iliyyât, apakah Ibrani ataukah berbahasa Arab?

Karena sumbernya adalah ahlul kitab (Yahudi) yang ada di semenanjung Arab, kemungkinan yang kuat adalah mereka mengetahui bahasa Arab bahkan bisa berbicara dan menulis. Sehingga penyampaian dengan bahasa Arab akan lebih diterima dikalangan umat Islam.

Dalil-dalil yang menguatkan pernyataan di atas[5]. Dari al-Qur`an yang menjelaskan dengan adanya segolongan Yahudi yang tak bisa membaca dan menulis, mereka hidup ratusan tahun di semenanjung Arab dan bersebelahan dengan bangsa Arab dan peringatan Allah adanya segolongan Yahudi yang menulis Taurat kemudian menambah dan menguranginya bahkan memalsunya[6]. Selain itu beberapa hadits Nabi saw yang menunjukkan adanya sumber ahli kitab berbahasa Arab, seperti kisah tentang rajam yang diriwayatkan Ibnu Umar ra. “Suatu ketika didatangkan kepada Nabi saw dua orang yahudi, laki-laki dan perempuan yang berzina. Kemudian beliau berkata: apa yang akan kalian perbuat dengan kedianya. Mereka menjawab: kami lebamkan (hitamkan) wajah keduanya dan kami hinakan mereka. Nabi menjawab: Bawalah kemari Taurat dan bacalah jika kalian memang benar….... salah seorang berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya didalamnya ada (tentang) rajam tetapi kami menyembunyikannya. Maka Rasul pun memerintahkan untuk merajam mereka berdua[7]. Dan hadits-hadits lain[8].

Israiliyyat dalam Tafsir Thabary

Sebagaimana yang kita katakan di depan, Tafsir Thabary tidaklah luput dari Isrâ`iliyyât. Adapun sumber-sumber berbahasa Ibrani untuk mengetahui riwayat-riwayat Isrâ`iliyyât dalam tafsir Thabary ada dua macam. Pertama; Kitab Perjanjian Lama (Old Testament/al `Ahdu al Qadîm). Kedua; Kitab Talmud.

Perjanjian Lama merupakan karakteristik dalam kitab Yahudi, berbeda dengan Perjanjian Baru kepunyaan kaum Nashrani. Perjanjian Lama mencakup tiga pokok bagian; yaitu: Taurat, Nabi-nabi dan cerita. Tauratnya berbahasa Ibrani dan dikenal dengan Tanakh. Adapun Taurat yang kita kenal yang menjadi salah satu sumber isrâ`iliyyât adalah Kitab Musa yang terdiri dari lima safar: Takwîn (Geness-penciptaan), Khurûj (Exodus- keluarnya Bani Israil dari mesir), `Adad (Numori- keturunan-keturunan Israil/Ya`qub dari awal sampai keberadaan mereka di Sinai), Lâwiyyîn dan Tatsniyah (Deuteronomium- kejadian-kejadian yang dialami Bani Israil di pegunungan Sinai). Disamping kelima safar Musa ini juga ada beberapa safar lain yang digunakan dalam mengambil Isrâ`iliyyât.

Kitab Talmud. Namun sumber isrâ`iliyyât dari Talmud dalam Tafsir Thabary bisa dikatakan sangat sedikit. Bisa dikatakan hampir tak ada. Kitab ini terdiri dari dua bagian; Orsyalimy (ditulis dan dikumpulkan sekitar abad IV M) dan Babily (pada abad V). Isinya tentang tasyri` Yahudi, berbahasa Ibrani yang terpengaruh budaya Aramy dan Yunani. Permasalahan-permasalahan yang dibicarakan oleh pendeta-pendeta (hakhâm) Yahudi, baik dari Palestina maupun dari Babilonia. Menurut sebagian sejarahwan, dalam penulisan Talmud ini melibatkan tak kurang dari 3400 pakar yahudi.

Tema-tema Isrâ`iliyyât yang Ada Dalam Tafsir Thabary

1). Awal penciptaan. Dalam hal ini ada lima kasus. Pertama; tentang penciptaan alam semesta (langit dan bumi)[9]. Kedua; Kisah adam as[10]. Ketiga; Kisah Hawwa`[11]. Keempat; Kisah keluarnya Adam dan Hawwa` dari surga[12]. Kelima; Kisah perseteruan dua anak Adam[13].

2). Kisah-kisah para Nabi (Nuh, Ibrahim, Luth, Ya`qub, Yusuf, Musa, Dawud, Yunus, Yahya).

3). Nasab seseorang dan asal qabilahnya[14].

4). Berbagai persoalan lain (Nabi Hizqil[15], masuknya Bukhtanashar ke Baitul Maqdis, Irmiya[16], Bal`am[17], Nabi Samuel[18])

Imam Thabary dan Isrâ’iliyyât

Imam Thabary dalam meriwayatkan Isrâ’iliyyât, ada beberapa sikap. Mauqif beliau dalam memperlakukan riwayat-riwayat yang beliau ambil dalam menafsirkan beberapa ayat[19].

Salah satu karakteristik Tafsir Thabary adalah detailnya beliau dalam menukilkan sebuah riwayat. Sehingga urut-urutan sanad dalam riwayat tersebut bisa dilacak oleh orang setelah beliau dan menilainya sesuai dengan standar ahli riwayat (ulama hadits) serta tingkatan riwayat tersebut untuk digunakan sebagai dalil atau pendukung.

Secara global sikap Imam Thabary dalam meriwayatkan isrâ’iliyyât terbagi menjadi tiga:

1). Diam[20]. Artinya membiarkannya tanpa komentar dan isyarat apapun dari beliau baik komentar setuju atau menolaknya. Dengan demikian beliau membebaskan diri dari meriwayatkan sesuatu yang sesat. Karena telah meninggalkan sanad yang lengkap dalam riwayatnya. Dan sikap ini merupakan sebagian besar kondisi riwayat yang disampaikan oleh Imam Thabary dalam tafsirnya. Beliau bermaksud meninggalkan tugas dan tanggung jawab meneliti riwayat tersebut kepada para penerusnya. Hanya saja tanggung jawab ini tak semudah sebagaimana yang idperkirakan oleh beliau. Naifnya bahkan ada yang langsung membenarkannya tanpa perlu meneliti kembali keabsahan riwayat yang beliau tulis.

Hanya saja yang perlu ditegaskan bahwa tak satupun riwayat isrâ’iliyyât yang ada berasal dari Rasul saw. Namun berasal dari ahli kitab, terutama Yahudi.

2). Menolak dan mengingkari sebagian isinya[21]. Namun hanya sedikit saja yang jelas-jelas beliau tolak dalam mengomentari riwayatnya. Seperti kisah dialog Malaikat dengan Allah sebelum penciptaan manusia (QS. al-Baqarah: 30). Ketika pertanyaan Malaikat tentang karakteristik makhluk baru penghuni bumi, manusia. Dijawab dengan “Berbuat kerusakan dimuka bumi dan saling hasad berta berbunuh-bunuhan”. Beliau tak setuju dengan hal ini. Namun kemudian menyetujui riwayat setelahnya pada penafsiran ayat 31.

Kemudian dalam kisah perseteruan dua anak Adam as dalam Surat Al Mâ`idah: 27, beliau juga menolak riwayat yang berlebihan. Namun sebagian riwayat yang berjumlah 20 an hanya sebagian saja yang beliau komentari[22].

3). Berkomentar, namun antara setuju dan tidak. Perbedaan sikap ketiga ini dengan yang pertama adalah; jika dalam sikap pertama bisa saja beliau tidak memberi komentar sama sekali, maka pada kesempatan lain beliau memberi komentar namun tidak memberikan tarjih, atau sikap mendukung atau menolaknya. Membiarkannya begitu saja serta menyerahkan tugas penelitian lebih akurat bagi para penerusnya para spesialis bidang riwayat dan tafsir. Atau terjadi dua perbedaan kontras dalam pemberian komentar. Misalnya, di awal komentar beliau menyetujui kesesuain riwayat dengan kitab dan sunnah kemudian menjelang akhir beliau menyimpulkan kebalikannya atau meletakkan riwayat tersebut dalam posisi yang mungkin untuk diterima atau ditolak[23].

Tentang riwayat-riwayat isrâ`iliyyât yang ada dalam Tafsir Thabary masih perlu utnuk terus diteliti lagi. Sekalipun di beberapa kesempatan beliau telah menyempatkan diri untuk mengomentari riwayat tersebut.

Penutup

Berpijak dari pemahaman kita tentang isrâ`iliyyât, yang telah masuk dalam sebagian turats islamy serta sekilas sejarah munculnya isrâ`iliyyât. Kemudian kita memandang Tafsir Thabary merupakan salah satu hazanah turast yang mahal, bahkan menjadi buku tafsir tertua serta pelopor pertama dalam penafsiran al-Qur`an. Maka mengulas, mempelajari permasalahan isrâ`iliyyât yang ada dalam Tafsir Thabary menjadi sebuah tugas dan tanggung jawab yang penting khususnya bagi para pecinta dan spesialis bidang tafsir dan riwayat.

Menilik dari hal-hal di atas perlu diadakan optimalisasi pelacakan riwayat-riwayat isrâ`iliyyât dalam buku-buku tafsir klasik khususnya. Dengan tujuan memberikan gambaran yang benar tentang penafsiran ayat-ayat al-Qur`an. Setidaknya bisa menghindarkan umat dari kesesatan yang dipengaruhi riwayat-riwayat isrâ`iliyyât yang menyelesihi nash. Atau riwayat-riwayat yang tingkat keraguan dalam keabsahan masih sangat tinggi.

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat. Setidaknya sebagai pengantar untuk mempelajari isrâ`iliyyât, khususnya dalam membedah Jâmi’ al-Bayân fî Ta`wîl al-Qur’ân karya Ibnu Jarir at-Thabary. Wallâhu A’lam bish-Shawâb.

Nasr City, Cairo
09 April 2002


* Makalah pengantar, disampaikan dalam kajian FORDIAN (Forum Studi Al Qur`an) Kamis, 11 April 2002 di Wisma Nusantara

** Mahasiswa Program S3 Universitas Al Azhar, Fak. Ushuluddin Jurusan Tafsir.

[1] Amel adalah ibukota Thabrustan, terletak di Iran Selatan dekat Laut Qazwin. Sebelum futuhat Islamiyyah sampai daerah ini pada tahun 650 M dipimpin Sa`id bin al-‘Ash, daerah ini dikenal dengan nama Mazandaran.

[2] Dr. Âmal Muhammad Abdurrahman, Al-Isrâ’iliyyât fî Tafsir at-Thabary, (Cairo: Majis A`la li as-Syu`un al-Islamiyyah), 2001.

[3] At-Tafsir wa al-Mufassirun, Dr. Muhammad Hussein adz-Dzahabi, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet. VI, 1995, Vol. I, hal. 176

[4] Ibid, hal. 179 (munculnya Isrâ`iliyyât) dan hal. 189 (tentang pembagian tipe Isrâ`iliyyât).

[5] Dr. Âmal Muhammad Abdurrahman, Al-Isrâ’iliyyât fî Tafsir at-Thabary, Op.Cit, hal. 49

[6] lihat QS. Al Baqarah: 79, Al Ma`idah: 13

[7] (HR. Bukhari dalam Kitab Tauhîd Bab mâ yajûzu min tafsîr taurâh wa ghairihâ min kutubillah)

[8] Dr. Âmal Muhammad Abdurrahman, Al-Isrâ’iliyyât fî Tafsir at-Thabary, Op.Cit, hal. 51 dan 52

[9] Dalam menafsiri QS Hûd:7, Dr. Âmal Muhammad Abdurrahman, Al-Isrâ’iliyyât fî Tafsir at-Thabary, Op.Cit, Hal. 104

[10] Tafsir QS. Al Baqarah: 31, Ibid, hal. 106

[11] Tafsir awal Surat An Nisâ`, Ibid, hal. 107

[12] Ibid, hal. 108

[13] Tafsir QS. Al Mâ`idah: 27, Ibid, hal. 108

[14] Maksudnya ketika Al Qur`an hanya menyebut nama saja. Maka dalam Tafsir Thabary ditambah dengan keterangan nasab dan asal qabilahnya. Ibid, hal. 130

[15] Tafsir QS. Al Baqarah: 243, Ibid, hal. 136

[16] Tafsir QS. Al Baqarah: 259, Ibid, hal. 136

[17] Tafsir QS. Al A`râf: 175, Ibid, hal. 137

[18] Tafsir QS. Al Baqarah: 248, Ibid, hal. 138

[19] Ibid, hal. 141 dan At Tafsir wa al Mufassirun, Op.Cit, hal. 224

[20] Dr. Âmal Muhammad Abdurrahman, Al-Isrâ’iliyyât fî Tafsir at-Thabary, Op.Cit, hal. 144 (seperti kisah Yusuf, QS Yusuf: 18, al Ankabut: 31, QS Shâd 23, al Qashash: 26 dan lain-lain)

[21] Ibid, hal. 153

[22] Ibid, hal. 155

[23] Seperti riwayat Wahab bin Munabbih dalam tafsir Al Baqarah:36 (penyesatan syaithan terhadap Adam dan Hawwa` sehingga mereka keluar dari surga). Ibid, hal. 158