Tadabbur QS. Al-Muzammil

PEMBEKALAN YANG EFEKTIF*

Dr. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Persiapan Mental

Surat Al-Muhzamil diturunkan Allah di Makkah setelah surat Al-Qalam (Nûn), kecuali ayat terakhir diturunkan di Madinah[1]. Yaitu ayat yang menasakh (menghapus) hukum wajib shalat malam kecuali bagi Nabi Muhammad saw. Surat ini tidak memiliki nama selain “al-Muzammil” yang berarti orang berselimut, yaitu melingkarkan kain di tubuhnya[2], atau berselimut si waktu malam[3]. Surat ini diturunkan diawal – awal masa risalah beliau. Sebagai shock terapi bagi Rasul saw, yang saat itu menggigil dan kemudian berselimut, sakit, dan ketakutan, juga saat tidur dan beristirahat di waktu malam. Maka Allah memerintahkannya untuk bangun dan bankit menyampaikan risalah Allah, apapun resikonya[4].

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sebahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lahan”. (QS. 73: 1-4)

Sebuah perintah yang diturunkan Allah, sebagai pembekalan efektif Shalat malam dan membaca al-Qur’an . Karena Allah sedang menyiapkan seorang dai dan nabi yang tangguh. Dan karena nantinya tantangan yang dihadapinya tidak ringan.

Shalat malam atau yang sering dikenal dengan qiyâmullail merupakan bentuk pembekalan yang efektif. Ada perlawanan terhadap keinginan hawa nafsu di sana. Saat orang sedang enak tidur atau bersembunyi dibalik ketakutanya, justru Allah memerintahkan untuk melawannya. “Bangunlah”. Menariknya Allah memberikan perkiraan waktu yang ideal untuk latihan penguatan mental ini. Dari sejak “al-laila” [5] yang berarti seluruh malam [6] , kecuali sedikit. Ini untuk tingkatan pertama. Kemudian, Allah menurunkannya menjadi standar. Qiyâmullail ini pertama kali diwajibkan, kemudian dinasakh dengan ayat ke 20 [7]. Adapun Imam Syafi’i, Muqatil bin Sulaiman dan Ibnu Kîsân mendukung pendapat Aisyah ra yang menyatakan kewajiban diatas dihapus dengan turunya kewajiban shalat lima waktu[8]. Dengan kebiasaan bangun pada waktu malam seperti ini seseorang akan benar-benar manpu melawan dirinya. Inilah persiapan dan penguatan mental yang sangat bagus.

Setelah itu perintah untuk menartilkan bacaan Al-Qur’an, bertujuan agar selain untuk bisa dipahami dengan mudah, juga supaya lebih terasa dan memungkinkan untuk dijiwai. Yaitu bacaan yang dibaca dengan pelan – pelan sehingga memberi hak yang cukup dalam mengartikulasikan bacaan huruf-huruf al-Qur’an juga hukum-hukum yang berkaitan dalam membacanya (tajwid), panjang pendeknya, idghâm izh-hârnya dan sebagainya.

Mengenai alasan, betapa pentingnya malam bagi seorang nabi juga para dai. Allah menegaskannya di ayat keenam dan tujuh. “Sesungguhnya bangun diwaktu malam adalah lebih tepat (supaya khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)”. (QS.73: 6-7)

Dengan suasana yang hening akan membantu seseorang dan memudahkannya dalam mengatur suasana hatinya supaya sesuai dengan ritme bacaan al-Qur’an yang dibacanya. Sehingga hati bisa mengikuti gerak mulut. Sementara diwaktu siang, kondisi seperti ini sangat langka untuk didapatkan. Karena banyak urusan dan orang tergesa – gesa dalam urusannya. Kata “as-sabhu” aslinya berjalan cepat di dalam air. Untuk mengambarkan betapa sulitnya kondisi dalam kesibukan. Ini kiasan untuk orang yang berpergian[9] dan banyak urusannya.

Tugas Berat Siap Menanti

Setelah itu tugas yang berat pun tidak akan membebani atau menjadi tanggungan yang berlebihan.karena pemikul amanahnya benar-benar telah siap.baik dalam menerima atau menyampaikan risalah,ataupun menanggung resiko yang akan ditemuinya sebagai konsekuensi dakwah tersebut.’’sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat’.(QS.73:5) Qatadah berpendapat,bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah hukuman-hukum Allah.sebagian ahli tafsir yang lainnya menerjemahkannya dengan janji dan ancaman Allah [10].

‘’Sebutlah nama tuhanmu,dan beribadahlah kepadanya dengan penuh ketekunan’’(QS.73:8)

Tugas berat selain di atas, perlu penambahan bekal lagi.berdzikir.dengan mengingat Allah selalu,juga akan menguatkan mental Rasulullah dalam menjalankan misi risalahnya,bahwa Allah maha kuat, maka siapapun takkan mampu melawannya. Allah lah sebaik-baik penolong. Allah maha mendengar, sebaik hamba-nya. Allah maha penyayang, dan kisahnya takkan pernah memiliki batas.

Dengan berdzikir, kita akan semakin mengenal Allah.Semakin menatapkan keimanan dan keyakinan kita sebagai penerus risalah Nabi saw.Itulah yang dikehendaki Allah dalam membekali kekasihnya, Muhammad saw.

 ‘’(Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrhib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Maka ambillah dia sebagai Pelindung’’. (QS.73:9)

Karena dzikir ini merupakan salah satu sumber kekuatan seorang mukmin dalam kondisi apapun. Senada dengan pesan arif Ibnu ‘Atha illah as-Sakandary [11], ‘’Jangan tinggalkan berdzikir. Sebab kelalaianmu saat berdzikir. Semoga allah berkenan mengangkat derajatmu dari dzikir yang penuh dengan kelalaian menuju dzikir yang penuh kesadaran. Dan dari dzikir yang penuh kesadaran menuju dzikir yang disemangati oleh kehadiran-Nya menuju dzikir yang meniadakan segala sesuatu selain-Nya. Dan yang demikian itu bagi Allah bukanlah merupakan sesuatu yang sulit” [12]. Hanya tinggal kita membiasakannya dan mau terus berusha.

Sikap Terabik Dalam Menghadapi Rintangan Dakwah

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik’’. (QS. 73:10)

Kenilaian kelembutan Allah dengan bersabar. Dengan kesabaran ini akan semakin membuat seseorang dekat dengan Allah.Dan semakin membuatnya kokoh serta istiqomah. Keyakinan terhadap takdir Allah, juga akan membantu kita dalam bersabar dan membuat segala rintangan menjadi sebuah bumbu kehidupan. Justru akan terasa lebih manis [13].

Sabar merupakan salah satu bentuk kepasrahan yang positif.Bukan sikap menyerah atau apatis dalam merespon sebuah masalah. Maka siakap sabar seperti ini akan semakin membuat seseorang kuat. Dan akan semakin dewasa dalam mengambil sikap. Karena ia telah mengalahkan ego dan perasaannya.

Bagaimana tidak, bukankah yang memerintah bersikap sabar telah memberikan jaminan. Dia akan membuat perhitungan terhadap orang-orang yang selalu menyakiti dan menghalangi Rasulullah saw. Mendustakan risalahnya dan memandangkan permusuhan terhadap risalah yang diembannya. Maka biarlah Allah yang mengurusi mereka.

Dan biarkan Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar”. (QS. 73: 11)

Allah tangguhkan mereka. Sebenarnya agar mereka mau berpikir untuk bertaubat dan menyadari kekeliruannya. Kemudian segera memperbaiki kesalahannya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka semakin menjadi-jadi, memusuhi Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya. Menindas dan menyakiti mereka, baik secara fisik ataupun dengan tekanan dan teror psikis yang mereka terus lancarkan.

Untuk Para Pendusta

‘’Karena sesungguhnya pada sisi kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan’’. (QS.73: 12-14)

Siksaan yang sangat pedih telah Allah siapkan untuk mereka yang memusuhi kekasih-Nya. Adzab yang akan membuat mereka kering dan haus. Tak ada makanan kecuali hanya menambah kepedihan dan rasa kering yang tak terbayangkan.

Sebelumnya, saat sangkakala Israfil ditiup alam semesta ini menjadi demikian rapuh dan lebur dalam kehancuran. Termasuk orang-orang yang ada di atas bumi. Semua mengalami kefanaan. Karena kekekalan hanya dimiliki oleh Dzat Yang Maha Hidup.

Para pendusta yang memusuhi Rasulullah bukannya tak tahu, bahwa sunnah Allah berlaku untuk orang-orang yang mendustakan utusan-Nya. Umat-umat sebelum mereka telah dibinasakan. Sia-sia kengerian itu bahkan sebagian masih bisa dilacak. Lihatlah apa yang dialami Fir’aun. Manusia kerdil yang sombong yang menahbisakan dirinya sebagai Tuhan. Kemudian hanya menjumpai kebiasaan yang menghinakan. Ditengelamkan Allah dan kemudian jasadnya diperlihatkan kepada banyak orang yang datang setelahnya. Bahkan hingga saat ini, jasadnya masih dijaga dan terawat baik dalam museum. Yang demikian untuk diambil pelajaran bagi kaum mukminin juga bagi mereka yang mendustakan dan memusuhi risalah Allah.

“Sesungguhnya kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu kami siksa dia dengan siksaan yang berat”. (QS. 73: 15-16)

Dan seperti kisah kezhaliman dan pendustaan ini masih akan berlangsung terus hingga saat ini, sampai pada hari ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Padahal Allah tak henti-hentinya mengingatkan manusia dan memperingatkan orang-orang dzalim tersebut agar menghentikan kedzalimannya.

“Maka bagaimana kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban”. (QS. 73: 17)

Ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat dahsyat. Hari kiamat yang sangat menakutkan itu seperti yang dikisahkan Allah di ayat ini, bahkan akan sanggup mumutihkan rambut anak-anak kecil. Sebuah gambaran yang menakutkan. Hari yang sangat mengerikan [14].

Ambilah Sebuah Keputusan

“Sesunguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya”. (QS.73: 19)

Peringatan telah dan terus disampaikan Allah maka sekarang semuanya kembali pada diri masing-masing manusia. Dialah yang akan memilih. Mengikuti petunjuk Allah atau berpaling dan memusuhi serta mendustakan peringatan itu. Inilah kebijakan Allah, setelah itu semua manusialah yang akan menanggung semua pilihannya. Karena Allah pun tak pernah memaksa. Karena ketaqwaan ataupun kemaksiatan manusia tak berpengaruh sedikitpun terhadap kekuasaan Allah. Tidak mengurangi ataupun menambahnya.

Jika seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua tunduk dalam kepasrahan kepada-Nya; maka tidaklah yang demikian itu menambah kemanfaatan bagi-Nya. Bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua menentang-Nya. Maka tidaklah hal itu mengurangi kebesaran-Nya. Dan bila seluruh manusia dan jin yang pernah dan akan ada, semua memohon kepada-Nya. Dan semua permohonan itu dikabulkan-Nya, tidaklah hal itu mengurangi kekuasaan dan kebesaran kerajaan-Nya. Kecuali seperti sehelai benang yang dicelupkan kedalam bentangan samudera [15].

Penutup: Kasih Sayang dan Kemudahan-Kemudahan Allah

Salah satu bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya adalah dengan memberikan kemudahan-kemudahan. Termasuk diantaranya keringanan-keringanan yang kita dapatkan, atau sebagian kita kenal dengan “rukhshah”. Demikian juga tentang perintah shalat malam ini. Dari yang semula wajib, kemudia dengan turunya ayat ke dua puluh ini menjadi sunnah.

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak mampu menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka dia memberi keringanan kepadamu. Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebgaian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang dijalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikan zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu berbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampuna kepada Allah. Sesunggunya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.73:20)

Karena Allah Maha Mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya. Akan ada yang sanggup melakukannya semalam, dan itupun tak akan bisa dilakukan terus menerus karena badan kita memliki hak untuk diistirahatkan. Ada juga yang bisa melakukannya sedikit bahkan ada yang kadang-kadang saja melakukan shalat malam. Karena ada yang tua dan muda, ada yang sehat dan yang sakit. Ada yang sibuk berperang, memiliki karakter pekerjaan yang melelahkan ada yang sedang stabil imannya dan ada yang labil dan seterusnya.

Maka kemudia Allah jadikan shalat malam hukumnya sunnah. Tapi tetap berfungsi sebagai pembekalan secara efektif bagi penerus risalah Nabi Muhammad saw, sekaligus sebagai jalan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Seperti dalam firman-Nya. “Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ketempat yang terpuji”. (QS.17: 79)

Sungguh luas kasih sayang-Nya. Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk berlomba meraih kemuliaan bagi siapa saja yang  mau berusaha meraihnya. Coba kita renungkan pesan Ibnu Athaillah as-Sakandary, “Allah sengaja menetapkan waktu –waktu tertentu untuk beribadah agar engaku tidak sampai tertinggal karena menunda mengerjakannya. Dan Allah memberi keluasaan waktu bagimu agar tetap ada kesempatan untuk memilih” [16].  

                                                                              —————————————————————————————-

                                                                                               Kalibata Selatan Jaksel

                                                                                                                                                                Selasa, 10 Maret 2009


* Sebuah tadabur surat Al-Muzammil (yang berselimut): 73 Juz 29.

** Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

[1] Imam Jamaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, cet.I, 2004 M/ 1425 H,  hal 20, Imam Badruddin az-Zaekasyi, al-Burhan fi Ulumi al-Qur’an, Beirut: Darul Fikr, cet.I, 1988 M/ 1408 H, Vol.I, hal.294

[2] Lihat: Kamus al-Munjid fi al-lughah wa al-A’lam, Beirut Dar al-Masyriq, cet.36, 1997, hal.306

[3]  Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol.IV, hal.563

[4]  Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’âlim suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004 M / 1424 H, Vol.2, hal.716

[5]  Muhyiddin Darwisy, I’rabul al-Qur’an al-Karim wa Bayanuhu, Beirut: Dar Ibnu Katsir, Cet.9, 2005 M / 1426 H, Vol.VIII. Hal 109

[6]  Sedikit saja dari waktu malam. (Lihat: Imam az-Zamakhsyar, al-Kasysâf’an Haqâ’iqu at-Tanzil, Cairo: Maktabah Musthafa al-Halaby, Cet.I, 1354 H, Vol.IV, Hal 152

[7] Iman al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an Cairo: Darul Hadits, 2002 M / 1422 H, Vol.X, hal.33

[8] Ibid. Lihat Juga: Imam al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub Ilmiah. Cet.1, 2004 M / 1424 H, Vol. IV, hal. 376 dan tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi al-Bayan fi-Ma’any, Dirasah wa tahqiq, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal.730

[9] Imam syihabuddin al-Alusy, Ruh al-Ma’any, Beirut: Darul Fikr, 1997 M/1417 H, vol.XXIX, hal.182

[10] lihat tesis penulis; Kitab lawani’ al-Burhan, Ibid. Vol.II, hal.730

[11]  Seorang alim dari Mesir, kelahiran Alexandria tahun 1250 M dan meninggal pada tahun 1309. Beliau adalah syeikh ketiga dalam tarekat asy-Syadzili. Beliau telah menulis buku lebih dari 20 karya. Dan kitab al-Hikam adalah pesan-pesan penuh hikmah yang menjadi magnum opusnya, sebuah karya monumental yang dibaca dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

[12]  Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, (terj. Dr. Ismail Ba’adillah), Jakarta: Khatulistiwa Press. Cet.I, hal.64, Hikmah ke-44.

[13]  Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-Imân wa al-Hidayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet.16, 2007 M / 1428 H, hal 173

[14]  Iman Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Op.Cit, Vol.IV, hal 568

[15]  Seperti hadits qudsy yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahilnya, kitab  al-Birr wa ash-Shilah, hadits no: 2577. Dari sahabat Nabi saw, Abu Dzar al_Ghifary. (Ibnu Daqiq, al-‘Id, Sayrhu al-Arba’in an-Nawawiyah, Cairo: Darussalam, Cet.III, 2007 M / 1428 H, hal 207-208)

[16]  Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, Op.Cit, hal. 226 hikmah ke-170

Sunnah Perubahan

SUNNAH PERUBAHAN

Upaya Memaksimalkan Peran Reformatif Seorang Mukmin*

Saiful Bahri[1]

Tak ada di dunia ini yang tidak berubah. Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan bagi selain Allah adalah konstan. Karena itulah, Allah meletakkan sunnah perubahan ini sebagai tradisi bagi manusia untuk selalu berubah. Berubah dari keadaannya dengan kemampuan kemanusiaannya menggapai ruang otoritas Allah yang bernama takdir. Bukan untuk membantahnya atau bahkan untuk mengubahnya. Namun, untuk berdamai dan menerima dengan segala bentuk kepasrahan dan interpretasi cerdik seorang makhluk lemah bernama manusia. Tapi bukan untuk menyerah.

Betapa sejak diciptakannya, manusia mendapat curahan lebih kasih sayang, rahmat dan cinta dari Sang Pencipta. Dari sejak penciptaan dalam bentuk yang sempurna[2], dititahkan untuk memakmurkan bumi dan menjadi wakil-Nya di sana[3], dan masih banyak lagi nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia. Dan sebagai manusia, kita takkan pernah mampu menghitungnya. Walau mengerahkan peralatan hitung super canggih sekalipun.

Namun, “keberpihakan” Allah ini mempunyai misi. Yaitu bermuara pada pengesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan bagi seluruh alam semesta. Dan misi khusus ini hanya diemban oleh orang-orang khusus dari manusia. Pengkhususan ini bukan sebuah diskriminasi. Namun sebuah seleksi (tamhîsh) yang akan memunculkan seorang mukmin yang terbaik yang mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran[4]. Dan Allah menyebut karakteristik kerja persuasif ini dengan predikat yang paling baik disisi-Nya[5].

Yang dimaksud perubahan di sini adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Misi perubahan yang diemban oleh seorang da’i adalah perubahan reformis ke arah perbaikan. Bukan perubahan haddâm (menghancurkan) yang tidak menyisakan. Namun perubahan ishlâh (memperbaiki) yang sudah ada.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.[6]” Sebenarnya Allah tak perlu menyertakan tangan manusia untuk sebuah perubahan. Mengapa Allah memberi kesempatan pada manusia untuk melaksanakan sunnah perubahan ini? Inilah keberpihakan Allah. Inilah cinta Allah. Karena hasil dari perubahan ini –juga- manusia lah yang memetiknya. Baik berupa kebaikan dunia (materi dan non materi) ataupun kebaikan yang tertunda di hari pembalasan.

Dalam melaksanakan perubahan seorang mukmin mesti mengetahui etika dan ilmu perubahan itu sendiri. Diantaranya:

1) Menguasai potensi kebaikan yang ada pada dirinya dan masyarakat yang hendak diajak berubah

2) Memulai perubahan dari diri sendiri

3) Pengemban misi perubahan adalah anggota masyarakat yang dikenal baik

4) Memulai perubahan dari hal yang terkecil

5) Lakukan perubahan dari akar permasalahan (keyakinan/aqidah)

6) Melakukan perubahan dengan bertahap dan langkah-langkah bijak

7) Menyelesaikan perubahan dengan membiasakan perubahan. Bahwa perubahan bukan sesuatu yang harus di lawan. Tapi sesuatu yang dipahami

8) Memahami idealisme perubahan yang diembannya serta fikih realita dan ilmu berinteraksi dengan massa.

9) Memilih patner yang memahami kerja dan karakter kerja dan kesuksesan kolektif. Dan ini memerlukan kesabaran ekstra[7].

Akan tetapi perubahan merupakan sebuah tantanga. Tidak semua orang mampu melewatinya. Dan tidak semua orang mempu mengemban misi reformatif ini. Karena dalam prakteknya ada banyak kendala;

1) Kerasnya tabiat masyarakat yang mengkristal pada sikap anti perubahan

2) Belenggu tradisi dan warisan leluhur yang terlalu dikultuskan

3) Kurang memahami maksud perubahan dengan pandangan lebih matang dan jauh ke depan.

4) Kurang adanya kesiapan mental menerima kebaikan

5) Kurangnya persiapan mental dan ilmu sang pengemban misi

6) Adanya gengsi yang diperturutkan.

Sebagaimana yang lain dalam melaksanakan perubahan juga ada beberapa pantangan yang perlu diperhatikan oleh siapa saja yang memahami misi perubahan ini, dan kemudian tertarik bergabung dalam kafilah reformis ini, dakwah ilalLâh.

1) Klaim dan stigma

2) Putus asa dan menyerah

3) Memaksakan kondisi nyata agar sesuai dengan idealisme

4) Target yang tidak realistis

5) Menghadirkan kesempurnaan

6) Menunda-nunda kerja

7) Tidak menguasai lapangan dan psikologi massa

Bila ikhtiar dan usaha mengemban misi perubahan ini sudah dimaksimalkan, maka peran seorang mukmin sebagai da’i takkan pernah dipandang kecil oleh Allah, Sang Pemilik misi ini. Karena Dia hanya memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha. Sedang dia yang akan melihatnya[8] kemudian menentukan.

Setelah ruang-ruang kemanusiaan sudah dimaksimalkan perannya dengan ikhtiar penuh, saatnya kita menunggu kejelasan ruang-ruang kekuasaan yang memiliki otoritas prerogatif untuk memutuskan. Dan kita jangan pernah terlambat. Berbuatlah sekarang juga. Sebagaimana al-Fârûq memesan untuk jangan pernah menunggu pagi ketika kita berada di petang hari. Dan jangan pernah menanti petang ketika pagi sudah ada di hadapan kita.

Satu hal lagi yang menjadi bekal seorang pengemban misi perubahan. Berani dan hanya takut kepada Allah. Dengan bekal ini ia siap menjadi manusia aneh (gharîb) di tengah lingkungannya. Sekalipun sebelumnya ia dikenal sebagai orang baik dan diterima oleh kalangannya. Ia bagian terkhusus dari manusia secara umum yang terbagi menjadi orang-orang beriman dan tidak. Orang-orang beriman pun terseleksi menjadi mukmin yang sungguh-sungguh dan beramal. Ini terseleksi lagi menjadi golongan yang sangat menginginkan orang-orang menjadi baik. Bahkan lebih baik dari dirinya. Orang tersebut laik disebut sebagai pahlawan bagi kemanusiaan. Ia lah pewaris Nabi-nabi Allah yang tak meminta upah kerjanya selain cinta-Nya. Yang tak membenci umatnya selain kemungkaran yang mereka lakukan. Yang tak menunggu pamrih apa-apa selain tersebarnya kebaikan di hati setiap manusia. Karena ia sadar misinya di bumi ini untuk melakukan perubahan yang diemban oleh orang yang memahami kehadirannya di dunia ini.

Suatu ketika Luqmanul Hakim melakukan perjalanan dengan putranya. Ia mengendarai seekor keledai dan putranya berjalan disampingnya. Ketika lewat di sebuah perkampungan ia dicerca penduduknya lantaran mereka menganggapnya tak punya belas kasihan pada anaknya. Pada perjalanan berikutnya ia menyuruh anaknya naik keledai dan ia berjalan di sampingnya. Penduduk perkampungan yang dilewatinya pun mencerca anaknya. Mereka menuduhnya sebagai anak yang tak punya etika. Kemudian, pada perjalanan selanjutnya mereka berdua menaiki keledai bersama-sama. Penduduk perkampungan yang dilewatinya pun berkomentar bahwa mereka berdua sungguh tak punya belas kasihan sedikit pun pada seekor keledai yang keberatan menanggung beban mereka berdua. Ketika mereka memutuskan untuk menuntun keledai, ia dan putranya berjalan disamping keledai dan meneruskan perjalanan. Komentar penduduk perkampungan berikutnya menuduh mereka berdua sebagai orang-orang pandir yang bodoh. Ada kendaraan kok tidak dipergunakan. Aneh bukan? Setiap yang kita lakukan selalu saja tak pernah benar di mata orang. Dan memang, ridha semua manusia adalah sesuatu yang mustahil untuk diharapkan.

Karenanya Luqmanul Hakim berpesan untuk tidak terpengaruh perkataan orang dan kemudian menghentikan kerja perubahan ini. Karena apapun yang kita lakukan akan selalu dikomentari orang.

Jangan selalu menunggu hujan reda untuk memulai berjalan. Tak ada yang salah bila kita basah dan berani menerjang butiran-butiran air dan berada di tengah-tengah kilatan petir dan teriakan halilintar. Bukankah akan selalu ada hujan dalam hidup kita?

Siapkah Anda berubah menjadi lebih baik?

Siapkah Anda mengemban misi perubahan ini?

Bila Anda siap. Segera bergabunglah bersama kafilah dakwah, pengemban misi perubahan warisan Nabi-nabi utusan-Nya. Dan mulailah dari sekarang. Kemudian bekerjalah sepenuh tekad dan keikhlasan. “Katakanlah: Aku diperintah supaya menyembah Allah dengan kemurnian ketaatan dalam (menjalankan) agama.[9]Time to act… BISMILLAH.

Wisnu-Cairo, 11 September 2004


* Tulisan pengantar dalam Paket Sarjana Muslim, ASY-SYATHIBI CENTER (Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Belajar), Senin, 13 September 2004 di Wisma Nusantara, Cairo

[1] Peserta Program S3 Jurusan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Cairo.

[2] (QS. 95: 4)

[3] (QS. 2: 30)

[4] (QS. 3: 110)

[5] (QS. 41: 33)

[6] (QS.13: 11)

[7] (QS. 18: 28)

[8] (QS. 9: 105)

[9] (QS. 39: 11)