Oleh: saiful bahri | Oktober 11, 2009

80 kali 40

80 kali 40

Tak terlalu lama aku berdiri di Halte Gami’, bis hijau bernomer 80 coret segera menghampiriku juga orang-orang yang berada di halte. Beberapa pasang kaki segera berlari memburunya. Entah mengapa tiba-tiba kakiku ikut bergerak. Dan akhirnya aku menjadi penumpang sebelum terakhir. Alhamdulillah, aku berhasil memasukkan setengah badanku dengan topangan tangan kiri yang sempat memegang tiang di samping pintu belakang. Entahlah. Biasanya jika ke kuliah aku lebih suka naik apa saja yang menghantarkanku ke Nadi Sikkah, atau ke Duwaiqoh. Kemudian aku sambung dengan mikro bis atau dengan naik taksi omprengan. Tapi rasanya sudah lamaaaaa sekali aku tak menikmati ”perjuangan” menaiki bis 80 coret yang selalu pasti berjejalan penumpang saat-saat aktif jam kuliah. Apalagi dengan adanya kelas sore seperti sekarang.

Pagi tadi, aku bersemangat. Karena promotorku saja yang tinggal di Thanta -ibukota propinsi Gharbea- punya komitmen untuk datang ke kampus sebelum jam 09.30. rasanya malu jika aku terlambat dan keduluan. Maka jam 8 pagi lebih sedikit aku sudah setia menunggu ”jemputan” ke kampus. Dan nampaknya aku berjodoh dengan 80 coret yang menyambangiku sudah dengan penumpang yang berjejalan. Karena jalan sedikit macet aku berani menggerakkan kakiku meski hanya setengah badanku saja yang bisa masuk bis. Setelah melewati dua halte aku baru bisa menggeser badanku. Aku bersyukur dikaruniai badan yang tidak terlalu besar. Sehingga tak harus menunggu lama aku bisa menyelinap di balik pintu belakang. Bahkan –alhamdulillah- tak begitu lama aku pun bisa mendapatkan temnpat duduk. Sambil merenung, berapa jumlah penumpang yang saat ini berada di atas bis bersamaku. Setidaknya kursi yang tersedia ada 32. Penumpang yang berdiri minimalnya 1 ½ kali lipat dari yang berdiri, karena formasi bis yang kunaiki adalah 2 – 1, sehingga bagian tengahnya agak lebar dan bisa menampung 2 atau tiga orang yang berdiri di setiap barisnya. 75% lebih penumpangnya punya jurusan sama. Kuliah di al-Azhar. Beberapa orang terlihat sedikit bisa bernafas ketika bis berhenti di depan halte Fakultas Kedokteran al-Azhar. Beberapa mahasiswa turun di sana. Penumpang bis juga mulai berkurang ketika bis berhenti di depan asrama pelajar asing. Dan saat itulah aku melihat kondisi bis jauh lebih baik. Meski masih lumayan banyak yang berdiri tapi badan mereka sudah bisa berdiri tegak. Aku melihat sepatuku. Yang kanan sudah banyak cap sepati/kaki di sana. Yang kiri juga demikian. Bajuku yang tadi lumayan rapi, tadi juga sempat jadi pegangan orang. Sehingga mulai kusut.

Aku hanya ingat saat berjuang memasuki bis aku meletakkan telapak tanganku melindungi saku celana kananku, tempat aku meletakkan Hp di sana. Sesekali aku melindungi kacamataku agar tidak jatuh atau tersangkut oleh tangan atau badan orang-orang di depan atau belakangku yang secara fisik jauh lebih besar dariku.

Saat aku turun di depan Rumah Sakit Hussein, sejenak kupandangi bis yang setia mengantarku itu. Sudah berapa kali ia mengantarku kuliah sejak dari 10 tahun yang lalu bahkan lebih. Ah, aku bahkan tak pernah menghitungnya. Sebagian kondekturnya bahkan belum berganti. Ia masih saja setia duduk manis di belakang pintu sambil mengomandoi penumpang untuk maju terus ke depan. Suaranya keras, tapi maksudnya baik; agar penumpang yang bergelantungan di pintu bisa memasuki bis. Tapi ketika mereka masuk, penumpang yang lain menyusul.

Aku pun merenung. Perjuangan yang tak ringan ini jika tidak disertai keikhlasan akan percuma dan sia-sia. Apalagi jika tidak ditambah sedikit sabar. Itu semua karena ”ilmu”. Dikejar dan diburu mati-matian. Karenanya kemudian aku paham, pantas saja Allah kemudian memuliakan orang-orang berilmu. Lihatlah, Ibu Imam Syafii dan Ibu Imam Ahmad bin Hambal. Mereka berdua adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya masih dalam usia yang tidak terlalu tua. Oleh ibunya, Imam Syafii dibawa ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Oleh ibunya, Imam Ahmad dinafkahi harta warisan keluarganya. Hanya untuk ilmu. Bahkan ibu mereka berdua pun memilih tidak menikah lagi. Hanya untuk ilmu anak-anaknya.

Barangkali pagi tadi aku memang sedang mencari semangat. Tepatnya menambah semangat. Saat berdebar-debar menunggu kelahiran anak keduaku. Minggu-minggu ini adalah perjuangan berat istriku. Saat ribuan mil, daratan dan lautan memisahkanku dengannya dan anak pertamaku. Semoga mereka selalu baik-baik saja. Allah Sang Penjaga. Sebaik-baiknya penjaga.

Aku baru memahami… kenapa tadi pagi kakiku sangat ringan melayang dan melompat. Tangan kiriku juga sigap mencengkram tiang pintu belakang. Ada sejuta makna kudapat. Ada berjuta kaset kenangan terputar. Ada sejuta asa dan perjuangan menyetrum nadiku. Ada berjuta semangat kudapati dari orang-orang yang berada di dekatku. Berlari, berjuang. Dan saling menolong, meluangkan tempat bagi sesama. Menarik dan memegang agar semua terlindungi meski oleh fasilitas yang seadanya. Meski ada tantangan tangan-tangan jahil di sana. Tapi dalam kondisi yang sangat padat seperti tadi ia pun akan kesulitan beraksi.

Aku baru memahami… rasanya memang sekali-kali aku perlu mencoba kembali untuk menaiki 80 coretku. Meski memang ada banyak alternatif menuju kampus al-Azhar di Husein. Mungkin aku tak begitu terasa, karena tidak setiap hari aku pergi ke sana. Lalu bagaimana dengan adik-adikku yang harus kuliah setiap hari. Lalu bagaimana dengan mereka yang budget transportnya terbatas.

80 x 40 = semangat yang luar biasa.

Jika hari ini aku menaikinya selama 40 menit. Lalu berapa menit jumlah total waktu yang kuhabiskan untuk menaiki bis 80 coret. He he he… itu belum dipotong waktu menunggunya. Saat masih S1 aku sangat setia menunggunya. Tapi sejak sudah banyak alternatif transportasi, aku sudah tak terlalu sabar menunggunya.

Aku segera bergegas memburu kantor jurusan tafsir. Ketika dosen pembimbingku datang, setelah bersalaman aku berusaha mencium telapak tangan kanannya. Tapi seperti biasa, beliau segera menariknya. ”Tunggu 10 menit ya” ujarnya melularkan semangat menuntut ilmu. Ku lihat senyum ramah,di ujung bibirnya.

Rasa penatku hilang begitu aku bisa duduk di samping beliau. Mendengarkan koreksi dan masukan beberapa bagian tulisan di Bab 2 yang kuserahkan pekan lalu.

Jam tanganku hampir menunjukkan jam 11 siang. Sebentar lagi temanku akan menjemputku, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Bank Faysal di Attaba. Untuk menyetor tabungan uang organisasi yang kupimpin.

Jeda waktu tunggu kugunakan melihat-lihat buku di depan auditorium Grand Syeikh Abdul Halim Mahmud. Hasrat membeli bukuku segera padam begitu aku tersadar aku lupa membawa dompetku. Alhamdulillah, aku ingat bahwa aku lupa membawa dompet dan bukan dijaili oleh tangan-tangan nakal seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Jika sedang luang dan bepergian di atas mobil yang lebih nyaman. Aku segera ingat bahwa masih banyak orang berjuang di atas kendaraan umum. Saat aku berganti-ganti transportasi ke kampus. Lebih nyaman dan praktis. Akupun segera ingat… bahwa perjuanganku pagi ini tak hanya menjadi kisahku saja. Ada banyak orang sepertiku. Bahkan mungkin ada sebagian yang kehilangan nyali untuk datang ke kampus. Hanya dengan alasan 80 coret. Mungkin juga ada yang sekedar mendengar berbagai mitos 80 coret, karena ia belum pernah menaikinya.

Ketika aku berjalan kaki. Berapa banyak orang yang tertatih-tatih berjalan. Aku bersyukur dikaruniai kesehatan hari ini.

80 coret kali 40 menit = benar-benar menginspirasiku.

Karena aku ”cukup” setia memanfaatkan jasanya. 15 piester, kemudian 25 piester, hingga sekarang 50 piester. Mungkin tak sepadan dengan jasanya mengantarkanku menjemput jutaan mutiara ilmu dan motivasi pembelajaran. Tapi, tak semua orang mampu menganggarkan budget seperti di atas karena keterbatasan atau karena suatu hal. Bahkan untuk sekedar berterima kasih dan tidak mencercanya… saya yakin masih banyak yang berat melakukannya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

 

Ahad Petang, Rumah Cinta, Kampung Sepuluh,

Cairo, 11.10.2009

Saiful Bahri

Oleh: saiful bahri | September 20, 2009

Khutbah Idul Fitri 1430 H

Kemenangan Para Pemaaf

H. Saiful Bahri, MA.

 

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9  مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. حمداً لله الذي أمدّنا بأنواع النعم وفضلنا على سائر خلقه بتعليم العلم والبيان، والحمد لله الذي حبّب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا وكره إلينا الفسوق والعصيان واجعلنا اللهمّ من الراشدين. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: « إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا» (النساء: 149). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Pada pagi hari ini, sebagian besar umat islam merayakan kemenangan. Mereka memang layak untuk berbahagia. Dan Rasulullah saw pun memerintahkan semua orang untuk berkumpul merayakan kemenangan ini. Orang-orang tua, muda, remaja, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka yang berhalangan syar’i pun dianjurkan untuk datang. Karena pada hari inilah kita meraih kemenangan sesungguhnya. Kala cinta mengalahkan iri dan dengki. Ketika dendam dan permusuhan terkikis oleh kasih sayang. Saat kesabaran dan kejujuran menyingkirkan ego dan dusta. Saatnya kita meraih kemenangan cinta dari Sang Pemilik cinta.  Inilah realisasi doa yang sering dibaca oleh Nabi Daud as

اللهم إني أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربني إلى حبك

Ya Allah karuniailah hamba cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta segala sesuatu yang mendekatkanku pada cinta-Mu” HR Tirmidzi dari Abu Darda’ ra.

Selama Ramadhan kita benar-benar menyelami dan merasakan apa sesungguhnya arti cinta dan kasih sayang. Apa makna Rahmah yang sebenarnya. Rahmah Allah diturunkan setiap harinya di sepertiga malam terakhir, saat para pelantun istighfar memohon ampunan-Nya. Rahmah, sebagai tanda pembuka bulan Ramadhan yaitu sepertiga pertamanya. Kasih sayang ini pula yang menjadi tujuan pernikahan antara pasangan laki-laki dan perempuan, selain menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan Rahmah inilah yang kita ucapkan sebagai salam pembuka ketika bersua dengan sesama saudara. Dalam al-Qur’an pun surat Ar-Rahman menjadi satu-satunya surat yang diambil dari nama Allah (asmaul husna) yang maha penyayang.

Jika kita ingin tahu bagaimana Allah menyayangi kita dengarkan penuturan Rasulullah saw dalam hadits qudsi berikut:

 عن أبي هُرَيْرَةَ قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وما تَقَرَّبَ إليّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إليّ بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها وَإِنْ سَأَلَنِي لأعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأعِيذَنَّهُ وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي في قبض نفس عبدي الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ولا بد له منه (أخرجه البخاري في كتاب الرقاق باب التواضع)

Allah berfirman: Siapa yang memusuhi waliku maka aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiku dengan sesuatu yang aku cintai dari perbuatan yang aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga aku mencintainya. Ketika aku mencintainya, aku menjadi telinganya dengannya ia mendengar; aku jadi matanya dengannya ia melihat; aku jadi tangannya dengannya ia memegang dgn keras; aku jadi kakinya dengannya ia berjalan. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanku ketika hendak merenggut jiwa hambaku yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya padahal itu sebuah keharusan” (HR. Bukhori)

Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim, janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka yang tertimpa mushibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah mereka mengirimkan pesan pertolongan.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan diri. Rasa kasih sayang dan pemaaf kita bisa kemudian mengkristal dalam diri kita. Mari kita belajar menjadi pemaaf yang baik dari Yusuf Ash-shiddiq as. Saat saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke dalam sumur setelah sebelumnya sempat berniat untuk membunuhnya, kini berada di hadapannya. Ketika beliau sedang berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Di hadapan Bapak dan Bibinya serta saudara-saudaranya ia pun menyenandungkan syukur.

« وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي » (يوسف: 100)

Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu. Sesungguhnya Tuhan telah menjadikannya kenyataan. Dan sesunggunya Tuhan telah berbuat baik padaku, ketika Dia membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari gurun pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku

Sungguh lembut hati dan perasaannya. Beliau tak mengatakan “idz akhrajani minal jubb” (ketika mengeluarkanku dari sumur) tapi yang beliau sebutkan adalah idz akhrajani minassijn (ketika membebaskanku dari penjara). Padahal kesalahan saudaranya sangatlah besar, tapi beliau tak sedikitpun menyimpan dendam, bahkan untuk sekedar menyebut perbuatan jahat itu sekali-kali beliau sangat menghindarinya.

Mampukah kita menjadi seorang pemaaf yang ikhlas & sanggup menjadikan masa lalu seperti debu yang dihembus angin maaf dan komitmen persaudaraan.

إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (النساء : 149)

Di akhir ayat ini disebut ”Afuwwan Qadiran”. Ini sangat menarik sekali (kata maaf disandingkan dengan kekuasaan). Imam al-Alusy menyimpulkan pendapat al-Kalby. Allah yang maha pemaaf dan kuasa memaafkan kesalahan kita padahal Dia sanggup berbuat apa saja terhadap orang yang menzhalimi kita demikian terhadap kita.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di hari kemenangan cinta ini selayaknya kita senandungkan tahmid, tasbih dan takbir kepada Dzat yang serba maha, dari lubuk hati kita yang terdalam dan diikuti oleh amal perbuatan. (i’malu ala dzawuda syukro) Surat Saba’: 13.

Selesainya bulan Ramadhan bukan berarti misi meraih ketakwaan telah berakhir. Karena justru mempertahankan kualitas ketakwaan ini sangatlah berat. Apalagi jika kita mampu meningkatkannya, tentu merupakan prestasi yang luar biasa. Di bulan Ramadhan sesuatu yang bernilai lebih menjadi patokan dan nilai standar. Lihatlah: puasa, tilawah al-Qur’an, qiyam, menahan diri, mengendalikan nafsu. Ini menjadi standar. Untuk meraih nilai lebih masing-masing kita meningkatkannya dengan kualitasnya. Karena dari segi kuantitas mungkin bedanya tipis. Semua kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Tapi tak semua kita mampu meraih kualitas yang sama. Demikian pula qiyam (baik tarawih ataupun shalat tahajud). Coba lihatlah masjid dari sejak shubuh sampai shubuh lagi. Jumlah pengunjungnya berlipat dari hari biasa. Demikian juga al-Qur’an, masing-masing berusaha minimalnya mengkhatamkan sekali, ada yang dua, tiga dan seterusnya. Bahkan ada yang baru mulai menghafal atau menambah hafalan. Ada yang menjadikannya momentum untuk belajar membaca al-Qur’an. Di antara 29/30 malam di bulan ini Allah melebihkan nilai satu malam dari nilai 1000 bulan. Yaitu malam yang bersentuhan dengan kemuliaan dan keberkahan al-Qur’an. Tentu orang-orang beriman berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik nilainya dari 1000 orang yang tak pernah bersentuhan dengan al-Qur’an.

Alangkah indahnya jika nilai standar masyarakat seperti ini. Jujur, sabar, pandai menahan diri dan mengendalikan nafsu, disiplin, dermawan. Maka menjadi orang-orang pilihan dalam masyarakat seperti ini sangatlah luar biasa. Inilah puncak peradaban umat yang digambarkan al-Qur’an, tokoh-tokohnya adalah Ibadurrahman (Hamba-hamba Sang Maha Penyayang) yang sangat mendambakan kondisi ideal tersebut, melalui doa dan pengharapan mereka:

«وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا»

Dan orang-orang yang berkata: wahai Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penenang hati dan jadikan kami pemimpin orang-orang bertakwa” (al-Furqon:74). Menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa adalah impian setiap kita.

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah 

Karena itu pengorbanan kita di bulan Ramadhan jangan pernah kita sia-siakan. Mata kita, kita biarkan menahan kantuk untuk melakukan shalat malam. Perut kita, tenggorokan, mulut, bahkan nafsu dan syahwat kita. Semua kita tahan dengan baik. Apakah setelah ini kita mencoba untuk melepaskannya kembali?

Tidak sayangkah kita dengan anyaman kesabaran yang kita selama sebulan.  Menahan lapar dan dahaga di musim panas yang cukup melelahkan. Bukankah ini sebuah pengorbanan. Siapa yang tahu kalau kita pura-pura berpuasa padahal bisa saja kita minum di tempat tersembunyi untuk menghilangkan dahaga dan haus kita? Tak salah jika bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan. Ibnu Mandhur dalam magnum opusnya ”Lisanul Arab” mengatakan bahwa bulan ini dinamakan Ramadhan sebab tenggorokan orang yang berpuasa terasa kering dan panas karena menahan haus dan dahaga. Akar katanya berasal dari ”ramadha” yang berarti sangat panas. Saat ini kita berpuasa di bulan Ramadhan yang sesungguhnya, meski di penghujung musim panas.

Selama itu pula, di bulan ini kita menganyam kejujuran, kedisiplinan, kepekaan dan solidaritas sosial. Lantas alasan apakah yang membuat kita hendak mengurai anyaman yang mulai menguat? Orang yang melakukan hal ini seperti halnya seorang perempuan bodoh yang mengurai anyamannya.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أنكاثا …

Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (Surat Annahl: 92)

Lihatlah, para sahabat Nabi saw selama enam bulan pasca Ramadhan selalu berdoa supaya amal yang mereka kerjakan di bulan Ramadhan diterima oleh Allah karena mereka mengetahui kualitas pahala dari Allah serta keberkahan bulan mulia ini. Enam bulan setelahnya mereka pun berdoa dan berharap supaya dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Mengapa persiapan tersebut perlu sejauh itu? Pernahkah kita berpikir atau setidaknya terlintas dalam benak kita. Vanus-nanus (lampu-lampu khas Ramadhan) kapan dibuat? Sebagian buatan China? Kapan mereka mengirimnya ke Mesir. Belum lagi sinetron dan film-film yang diputar sepanjang bulan Ramadhan. Kapan dibuat dan kapan disiapkan?

Jika para pedagang, bisnisman dan insan perfilman mempersiapkan dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, laikkah kita sebagai pelajar/mahasiswa yang mendalami ilmu agama atau pegawai atau pedagang atau siapa saja yang berada di negeri muslim ini bahkan mungkin terlambat menyadari kedatangan bulan suci Ramadhan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah benar-benar bulan kemenangan. Perang eksistensi, Perang Badar Kubra terjadi di bulan ini. Demikian juga Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Kita juga harus menyadari dahsyatnya konspirasi terhadap Islam. Isu terorisme yang dihembuskan bisa jadi akan berimbas marginalisasi kembali umat Islam yang pelahan mulai bangkit. Stigma negatif ini diharapkan mampu menggertak umat Islam supaya mempersempit makna keberagamaan mereka. Bahwa beragama yang baik berada di dalam masjid saja. Di luar itu agama tak perlu dibawa-bawa. Syubhat dan serangan pemikiran seperti ini akan mengebiri potensi kekayaan alam negeri kita yang sangat luar biasa. Tapi karena para pengelolanya kurang professional dan tidak jujur maka bangsa kita beberapa kali mengalami kebangkrutan. Demikian juga orang-orang pandai dan pintar di negeri kita tidaklah sedikit. Tapi sebagian diantara mereka terserang penyakit pragmatisme yang hanya mau tau diri sendiri dan memikirkan kepentingan pribadi. Dengan tambahan serangan stigma terorisme maka lengkaplah marginalisasi tersebut.

Namun kita tak perlu reaksioner menanggapi hal ini. Yang kita lakukan adalah dengan terus mendalami sekaligus menampilkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Karena Islam –demikian jug agama yang lain- sangat memerangi kekerasan dan penindasan. Kisah Musa dan Fir’aun yang paling sering diulang dalam al-Qur’an menjadi bukti bahwa Islam sangat anti dengan kezhaliman dan rezim kesewenang-wenangan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di bulan ini kita belajar berbagi. Antara si kaya dan si miskin. Di bulan ini kita dilatih untuk bersatu. Semuanya disuruh untuk membatalkan puasa begitu matahari tenggelam. Dan semuanya diharamkan untuk makan dan minum begitu adzan shubuh dikumandangkan. Maka saatnya kita cari titik-titik yang bisa menyatukan kita dan kita toleran dalam hal-hal yang mengharuskan kita berbeda. Di bulan ini kita kita dididik untuk mi’raj ke langit setelah selama sebelas bulan badan kita lebih menyukai berbaring di atas bumi. Di bulan ini kita perbanyak menengadah dengan penuh kekhusukan. Kepala kita, simbol kemuliaan; dibulan ini kita perbanyak untuk didekatkan ke bumi, bersujud pada Sang Maha Perkasa. Tak lain hanyalah untuk mengingatkan bahwa kelak di hari kiamat tak ada yang bisa kita andalkan selain tabungan amal kita.

Coba kita ambil pelajaran dari kisah Nabi Yusuf ketika menakwil mimpi Raja Mesir, datang 7 tahun kemakmuran yang diikuti 7 tahun paceklik yang akan menimpa negeri Mesir dan sekitarnya. Apa yang diandalkan orang-orang Mesir pada musim paceklik? Tentunya sikap dan pola hidup di 7 tahun yang penuh kemakmuran sangat membantu di masa-masa sulit yang akan datang berikutnya.

Seandainya Allah memberi kita kesempatan untuk hidup 60-70 tahun sanggupkah kita menyiapkan diri untuk menempuh keabadian nasib kita yang tidak kita ketahui di hari pembalasan kelak. Orang yang cerdas akan pandai merencanakan dengan baik dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang menjauhkannya dari tujuannya yang sesungguhnya.

Untuk memahami singkatnya hidup kita bisa kita lihat dari apa yang kita alami atau kita lihat fenomena di sekeliling kita. Saat sang bayi dilahirkan orang tuanya mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Saat kemudian ia mati ia dishalatkan orang-orang tanpa didahaului dengan adzan dan iqamah. Jadi ia mengarungi hidup, bagaikan orang yang akan shalat setelah iqamah dan menunggu imam bertakbiratul ikhram. Sungguh sangat singkat.

Dan nanti di hari kiamat tak lagi didengar alas an dan udzur ataupun rasionalisasi kesalahan dan dosa orang-orang zhalim. Karena pintu taubat dan amal telah benar-benar tertutup. Dan saatnya pembalasan akan segera dimulai setelah pengadilan benar-benar ditegakkan dengan transparan.

Maka hari-hari kita di dunia mestilah istimewa dan selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Imam Hasan bin Ali mengatakan : من كان يومه كأمسه فهو مغبون

Barangsiapa yang (kualitas) harinya sama dengan kemarin maka ia tertipu

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Anthony Robbins “I challenge you to make your life a masterpiece. I challenge you to join the ranks of those people who live what they teach, who walk their talk.” Saat benar-benar kita realisasikan kita akan menjadi manusia yang bermanfaat buat sesama seperti sabdanya ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari ini Bulan Syawal menyambangi kita, artinya bulan Ramadhan telah pergi. Ada banyak materi short course yang kita dapatkan selama sebulan. Jujur, disiplin, sabar, toleran, bersyukur, bersedekah, tekun dan lain sebagainya. Dan satu hal yang menjadi tema pokok kita pagi ini, yaitu belajar memaafkan.

Sebelum khatib akhiri khutbah, sejenak kita simak kisah dua orang sahabat yang sedang bermain dan bercengkrama di tepian sebuah danau. Dalam suatu kesempatan terjadi perselisihan yang berakibat salah seorang diantara mereka menampar sahabatnya. Sang sahabat terkejut, ia kemudian berlari ke arah danau. Kemudian ia menuliskan sesuatu di atas pasir ”hari ini sahabatku menamparku”. Kemudian keduanya asyik dengan diri sendiri. Orang yang menampar segera menjauh, ia mengambil kail dan melemparkan ujung senar ke dalam danau. Pikirannya berkelana ke mana-mana, mungkin ia menyesali perbuatannya. Sementara sahabatnya lebih memilih mendinginkan badan dengan berendam dan berenang di danau. Mendadak kakinya kram, sementara ia semakin ke tengah. Ia hamper tenggelam. Segera ia berteriak minta tolong dengan keras. Tanpa pikir panjang sang sahabat melempar kailnya dan segera meluncur menyelamatkan sahabatnya. Setelah siuman, sang sahabat segera mencari batu yang cukup besar, kemudian ia menuliskan sesuatu di atasnya ”hari ini sahabatku telah menyelamatkanku”. Sambil keheranan ia bertanya pada sahabatnya. Kenapa tadi engkau menulis di atas pasir dan sekarang menulis di atas batu. Sambil tersenyum sahabatnya membalas, ”Tadi, bukan hanya fisikku yang sakit, hatiku juga sangat sedih. Tapi aku ingin segera melupakan mengusir perasaan ini dan melupakannya maka aku tulis di atas pasir. Kuharap bersamaan ombak yang menghapusnya kesedihanku pun sirna. Sementara saat engkau menyelamatku saat aku akan karam aku sangat bahagia dan berterimakasih. Aku ingin mengingatnya sepanjang masa, aku menulisnya di atas batu agar tak hilang”.

Inilah pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Sudahkah kita mampu memaafkan dengan baik. InnalLâh kâna afuwwan qadîran.

Karena kemenangan yang hakiki yaitu tatkala kita bisa mengalahkan nafsu dan ego kita. Kemenangan hakiki terjadi ketika kezhaliman tak mendapat ruang di negeri kita. Ketika negeri kita benar-benar terbebas dari segala bentuk penjajahan. Kita songsong kemenangan dengan terus memperbaiki diri dan berkorban.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسَلِّمْ . اللهمّ إنّا نسألُك بأسمائِك الحسنى وصفاتِك العلى ، نسألُك بكلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سمّيْتَ به نفسَك، أو أنزَلته في كتابك، أو علّمته أحداً مِنْ خلقِك، أو اسْتأثرْتَ بِه في علم اْلغيب عندَك أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا وجلاء همومنا. أللهمّ انصر المسلمين وفرّجْ كربَهم واقضِ حاجاتِهم. اللهمّ اغفر لنا ذنوبنا ولوالدَيْنا ولجميع المسلمين والمسلمات. اللهمّ إنّا نسألك فعلَ الخيرات وتركَ المنكرات وحبَّ المساكين. اللهمّ إنك عفو تحب العفو فاعف عنا. اللهمّ آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها. اللهمّ يا سامع الصوت وياسابق الفوت ويا كاسيَ العظام لحماً بعد الموت، ارحمنا برحمتك إذا صِرنا إلى ما صار الأموات إليه تحت الجَنَادر والتراب وحدنا. اللهّم تقبل منا الصيام والقيام وقراءة القرآن. اللهمّ اعتق رقابنا من النار يا عزيز يا غفار.

Ya Allah, sejukkan dan lembutkan hati kami. Gantikan kesedihan saudara-saudara kami yang tertimpa musibah gempa, banjir, perang serta bencana lainnya. Gantilah  dengan ketenangan. Jadikan pagi ini sebagai kebahagiaan mereka. Sirnakan rasa takut di hati mereka. Dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan dan keimanan pada-Mu.

Wahai yang maha agung yang maha mendengar engkau. Engkau yang maha tahu yang apa yang kami perbuat. Ampuni jika selama ini kami tidak mengenal-Mu ya Allah. Ampuni jika kelebihan yang Engkau titipkan membuat kami takabbur. Ampuni jika yang Engkau karuniakan membuat kami riya dan sombong. Bukakan hati kami ya Allah agar kami lebih dapat mengenal-Mu.

Karuniakan kami taubat dan kesungguhan memperbaiki diri. Jadikan kami hamba yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk-Mu. Pilihlah kami jadi jalan kecukupan bagi hamba-Mu yang fakir. Tunjuklah kami jadi cahaya bagi hamba-Mu yang kegelapan. Pilihlah kami menjadi jalan kebahagiaan bagi hamba-hamba-Mu yang nestapa. Tunjuklah kami menjadi jalan perlindungan-Mu bagi hamba yang teraniaya. Kami berharap hidup yang sekali-kalinya ini dapat mempersembahkan yang terbaik, semata-mata karena Engkau, bukan karena ingin pujian atau kedudukan di sisi makhluk-Mu. Jangan biarkan kami menipu diri sendiri dengan menshalih-shalihkan diri di hadapan makhluk-Mu. Jangan kau murkai kami karena kelalaian menunaikan hak-hak-Mu

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, usirlah kegundahan dari jiwa kami.Ya Allah, lindungilah kami dari konspirasi, makar dan tipu daya musuh-musuh-Mu. Tukjukkanlah kekuasaan-Mu dihadapan mereka. Hindarkan-lah kami dari perselisihan, dengki, iri, dan saling menjatuhkan di antara kami. Satukan hati kami, tautkan kalbu kami.

Kami berlindung kepadamu dari setiap rasa takut yang mendera, hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakkal.

Tuhan yg mendengar jangan Kau biarkan kami terfitnah. Engkau yang meng-genggam diri kami. Selamatkan negeri kami. Pilihlah para pemimpin negeri kami yang menjadi tauladan bagi kami. Para pemimpin yang penuh kasih sayang, tulus dan bening hatinya. Engkau Maha Tahu. Berkahilah pertemuan ini catatlah mereka yang hadir menjadi hamba yang sangat Kau sayangi. Maafkan dosa-dosa kami. Ampunkan kebodohan kami yang tak jemu mendurhakai-Mu. Yang tak jera berbuat dosa.

 

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Cairo, 1 Syawal 1430 H

          20 September 2005 M

KBRI Cairo – Masjid Assalam, Distrik 10, Nasr City-Cairo

Oleh: saiful bahri | September 9, 2009

SENTUHAN BERKAH

SENTUHAN BERKAH

Sungguh seorang yang menghamba pada Yang Maha Mulia akan ikut mulia. Karena Yang Mulia memberikan kemuliaan-Nya dengan berkah kasih sayang dan cinta serta ampunan-Nya terhadap kesalahan dan kekhilafan.

Di awal bulan istimewa-Nya Allah menurunkan kasih sayang untuk para pemburu cinta-Nya. Saat sepuluh hari pertama lewat dan seandainya Dia mengumumkan daftar nama orang-orang yang dirahmati-Nya, apakah nama kita termasuk di dalamnya? Kita pun segera memasuki peluang hari berikutnya untuk memburu ampunannya, mencari maghfirah-Nya.

Sepuluh hari kedua pun telah lewat. Seandainya Allah mengumumkan list nama-nama yang diampuni oleh-Nya, apakah nama kita ada di sana? Tak ada yang berani menjawabnya.

Saat ini, kita memasuki etape terakhir pembekalan ini. Rute tersulit yang di dalamnya–kadang–orang telah kehilangan konsentrasi. Sebagian justru jauh berpikir duniawi ke depan, bagaimana mempersiapkan keadaan setelah puasa. Padahal Ramadhan belum benar-benar meninggalkan kita.

Ini merupakan babak final yang menjadi akibat dari dua level sebelumnya. Rahmah dan kasih sayang Allah membawa ampunan untuk para hamba-Nya. Seandainya ia merasa belum maksimal merasakannya, ia akan memburu ampunan tersebut. Dan ampunan tersebutlah yang membawa pembebasan dari kemurkaan-Nya yang dahsyat. Pembebasan dari api neraka.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. 97:1)

Allah menurunkan Al Qur’an pada sebuah malam yang mulia yang “… lebih baik dari seribu bulan” . (QS. 97:3)

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya.

Malam yang hanya bersentuhan sesaat saja dengan Al Qur’an, nilainya digandakan Allah lebih baik dari 30.000 malam yang tidak bersentuhan dengan lailatul qadr tersebut.

Betapa beruntungnya malam itu. Lebih beruntung lagi, bagi mereka yang menggunakan kesempatan ini. Bagi para pemburu kebaikan seribu bulan, pasti dijadikan sebuah peluang emas untuk menutupi keterbatasan dua etape sebelumnya di 20 hari yang telah lewat.

Lantas bagaimana dengan seorang mukmin yang tenggorokannya dilewati oleh huruf-huruf Al Qur’an. Tentu tenggorokan tersebut lebih baik dari tenggorokan-tenggorokan lainnya. Satu hurufnya saja diberi insentif ukhrâwi berupa sepuluh kebaikan. Ada berapa huruf di dalamnya. Telinga yang mendengarkannya, lebih baik dari telinga yang menjauh darinya. Mata yang membacanya, lebih baik dari mata yang menghindarinya. Dan mata ini menjadi akumulasi ketiganya… ia meneteskan air mata karena mendengarkan, melihat dan membacanya. Air mata kesyahduan. Ada ketakutan di sana. Ada pengharapan. Ada kenikmatan. Ada seribu ada, tak terungkap dengan kata-kata. Sungguh, tetesan itu hanya dinikmati oleh mereka yang sanggup meneteskan air mata; sedang orang disekelilingnya keheranan mengapa hal itu bisa terjadi.

Itulah kenikmatan bersentuhan dengan keberkahan. Bagaimana seorang mukmin yang seluruh hidupnya selalu bersentuhan dengan Al Qur’an. Dadanya menjaga dan menghafalnya. Perilakunya mencerminkan keberkahan itu. Sungguh, orang seperti ini lebih baik dari seribu orang yang tak pernah bersentuhan dengan keberkahan itu.

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Menurut berbagai riwayat malam keberkahan tersebut terjadi di sepuluh hari terakhir ini, di etape terakhir madrasah pembekalan ini. Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu.

Pemburu seribu bahkan tiga puluh ribu keberkahan…

Syeikh Mubarakfuri mempunyai analisis yang bagus, berkenaan dengan malam keberkahan tersebut. Di hari ke berapakah Al Qur’an turun pertama kali kepada Rasulullah Saw.?

Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, mengapa beliau sering berpuasa pada hari Senin. Beliau menjawab karena pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku menerima wahyu dari Allah untuk pertama kali.

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa al Qu’ran diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dinashkan Al Qur’an dan Hadits. Allah telah mengabadikan hal itu “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”. (QS. 2:185). Berikutnya Allah menegaskan lagi, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. 44:3)

Pada bulan Ramadhan tahun itu, hari Senin terulang sebanyak empat kali. Yaitu pada tanggal ke 7, 14, 21, dan 28. Dalam hadits-hadits nabawi dianjurkan untuk mencari lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan ada yang lebih spesifik lagi, yaitu pada hari-hari ganjil. Dengan demikian, lailatul qadr terjadi pada malam ke 21. Karena 7, 14 dan 28 tidak memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam gabungan hadits-hadits yang ada. Lantas benarkah, malam keberkahan tersebut terjadi pada hari itu. Allahu a’lam. Sangat banyak pendapat yang mengatakannya. Ada yang menjadikan bulan Ramadhan secara umum. Ada yang mengkhususkan pada sepuluh hari terakhir. Ada yang mengkhususkan lagi pada hari-hari ganjil di sepuluh hari tersebut. Ada yang berpendapat pada hari 27. Ada ….

Mengapa Allah merahasiakan malam keberkahan itu.

Sungguh hikmah Allah Swt. demi keseriusan hamba-hamba-Nya dalam berusaha. Kesungguhan dalam mencari malam keberkahan tersebut. Seandainya hijab dibuka dan malam tersebut diketahui siapa saja, kemungkinan besar hari-hari dan malam-malam lain akan ditinggalkan mereka yang malas.

Kesungguhan beribadah pada malam keberkahan tersebut tak lain adalah pemaknaan kepasrahan yang dalam dari seorang hamba yang menyerahkan segala-Nya pada Sang Pencipta.

Penghambaan yang terefleksi dalam kesungguhan beribadah dan totalitas penjiwaan di dalamnya. Ada kekhusyukan. Ada ketakutan. Ada pengharapan.

Kepasrahan dalam menerima cinta dan kasih sayang-Nya serta berharap atas keampunan-Nya terhadap kekhilafan manusiawi yang dilakukannya.

Masihkah setelah ini ada keraguan? Atau bahkan keputusasaan?

Sungguh, saatnya lah sekarang bagi kita untuk memburu hari pembebasan kita dari kemurkaan dan kemarahan Allah. Ya, karena kita telah memiliki cinta-Nya. Yakinlah itu. Kita sedang memburu ampunan-Nya. Dan kemudian pembebasan itu benar-benar diberikan kepada kita. Saatnya sudah dekat. Jangan kita jauhkan dengan kelalaian, kesalahan bersikap, keteledoran dan berbagai kebodohan. “Wahai pemburu kebaikan gunakan kesempatan ini, wahai pemburu dosa berhentilah”.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. (QS. 55:13)

SAIFUL BAHRI

Oleh: saiful bahri | September 9, 2009

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

“Maukah kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa?” Tanya seorang syeikh kepada audiens yang ada di depannya.

Kontan saja mereka mengiyakan. Hanya saja–entahlah–jawaban itu tak terlihat keluar dari lubuk terdalam. Justru terasa pertanyaan yang aneh. Siapa sih yang tak mau?

Syeikh menuturkan sebuah kisah pengalaman hidup seorang tâbi’iy.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga mekar tersenyum menebar aroma. Sinar matahari menyambangi pelataran rumput menghijau. Banyak sapi dan unta di sana. Ternak milik Abdullah bin Jad’an, salah seorang tabi’in yang shalih, zuhud meski dengan gelimang harta yang cukup melimpah. Ia tersenyum. Kemudian memandang langit. Cerah sekali, sejernih isi hatinya yang melantunkan gema syukur kepada Allah, Sang Pemurah. Sang Pemberi Rizki telah mengaruniainya nikmat yang berbilang namun tak terhitung. Keluarganya sehat wal afiat serta ternaknya berkembang pesat. Bahkan, ia melihat banyak dari unta-unta betina melimpah cadangan susunya.

Pelahan ia mendekati unta terbaiknya. Unta betina yang gemuk dan melimpah susunya itu segera diambil dan diberikan kepada tetangganya yang fakir.

Sang tetangga pun bahagia. Ia dan keluarganya tak hanya bisa meminum susu tapi bisa langsung memerahnya dari sumber aslinya. Bahkan bukan hanya itu, ia pun bisa saja menyembelihnya dan mengambil dagingnya. Hanya saja tetangga tersebut lebih suka memelihara unta pemberian Abdullah. Sebagai bukti dan tanda kasih sayang serta solidaritasnya yang tinggi.

Hingga …

Putaran waktu pun berjalan. Alur dan cerita kehidupan berganti. Musim paceklik dan kekeringan pun datang. Sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengganti hari-hari-Nya.

Kedatangan musim ini pun tak pandang derajat dan kedudukan. Ia sambangi semuanya. Tak terkecuali Abdullah bin Jad’an, hamba Allah yang shalih dan zuhud itu.

Suatu ketika ia bersama kedua anaknya berjalan mencari air bersih untuk keperluan keluarganya. Hingga mereka bertiga sampai pada sebuah sumur yang sangat dalam. Abdullah yakin bahwa sumur tersebut masih berfungsi. Ia meyakinkan kedua anaknya, masih ada air dalam sumur itu. Bahkan ia pun yang akhirnya turun untuk mengambil air itu.

Abdullah merasakan bahwa sumur itu sangat dalam. Ia merasakan kegelapan yang sangat. Sesampai di dasar sumur, ia pun meraba-raba seraya menemukan tanah basah yang berair. Meski tak banyak. Namun, apa daya, suasana demikian gelapnya sehingga ia pun tak tahu apa yang ada di sekelilingnya. Sedang jarak ke atas pun sangat jauh. Suaranya tak cukup keras untuk di dengar oleh kedua anaknya. Ia tak mampu lagi meneruskan usahanya untuk mencari jalan kembali ke atas. Kegelapan itu benar-benar sangat pekat. Ia rebahkan badannya di dinding-dinding sumur.

Kedua anaknya yang sudah lama menunggu pun tak sabar. Matahari pun semakin mengecil hendak berpamitan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan ayah mereka. Mereka berpikir sang ayah telah meninggal karena tak sanggup kembali ke atas. Mereka segera bergegas kembali ke rumah dan bermaksud menghitung kekayaan ayah mereka; hendak di bagi dua. Namun, mereka mengingat ada seekor unta yang pernah diberikan ayah mereka pada tetangganya. Harta mahal ini–menurut mereka–mesti diambil kembali.

Mereka berdua segera mendatangi tetangga tersebut dan meminta kembali unta pemberian sang ayah. Sang tetangga pun tak terima dengan perlakuan yang tak berbudi tersebut. Bahkan keduanya mengancamnya jika tak mau memberikan unta tersebut.

“Akan kuadukan tingkah laku kalian ini kepada ayah kalian!” sang tetangga mengeluh.

Kedua anak Abdullah tertawa.

“Adukan saja! Bapak sudah meninggal!”

Kontan saja sang tetangga kaget.

“Apa yang kalian katakan?” ia bertanya sekali lagi

“Ya, Bapak sudah meninggal empat hari yang lalu?” keduanya menjawab.

“Tunjukkan padaku dimana ia meninggal dan di mana pemakamannya?”

Keduanya pun segera menunjukkan tempat ayah mereka terjebak. Dalam sebuah sumur yang cukup dalam.

Sang tetangga segera menuruni sumur tersebut. Sesampainya di bawah, ia pun meraba-raba, mencari jasad Abdullah. Ia segera menemukannya. Ia dekatkan lagi telinganya ke jasad tersebut. Ia masih mendengar tanda-tanda kehidupan. Segera… ia pun membawa Abdullah ke atas.

Usbû’ walam tamut… (Seminggu dan kamu belum mati)” tetangga tersebut keheranan.

Abdullah dibawa dan dirawat oleh tetangganya dengan baik. Beberapa saat setelah tubuhnya menghangat dan bangun dari ketidaksadarannya, sang tetangga segera ingin tahu kisah sesungguhnya.

Abdullah bertutur…

“Ketika aku sampai bawah aku menemukan air. Setelah aku meminumnya, aku baru sadar bawa aku harus kembali ke atas dan membawa air itu. Namun, aku tak kuasa melakukannya. Setelah berkali-kali aku mencoba akhirnya aku pasrahkan pada-Nya. Kusandarkan tubuhku di dinding-dinding sumur. Sehari dua hari kucukupkan dengan beberapa teguk air. Hari berikutnya tubuhku sangat lemah.

Tapi ada hal aneh yang ku alami. Aku memohon kepada Allah agar tubuhku kuat menahan semuanya. Ketika aku dahaga kurasakan ada segelas susu yang disodorkan ke mulutku. Aku meminumnya. Dan ketika aku kembali haus, tetesan susu itu sudah ada ditepi bibirku.

Kecuali sehari ini. Tetesan susu itu tak lagi kurasakan. Tetesan susu itu terhenti.”

Sang tetangga pun mengangguk. Tak dirasakannya tetesan air matanya membahasahi pipinya. Ya, ia tahu mengapa tetesan susu itu terhenti. Kedua anak Abdullah lah yang merampasnya.

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”. (QS. 65:2-3)

*****

Itulah pengalaman Abdullah bin Jad’an seorang hamba-Nya yang bertaqwa. Sarat dengan keikhlasan dan tawadhu’. Sang syeikh kembali melontarkan pertanyaan yang dilontarkannya beberapa saat yang lalu. Kali ini audiens mengangguk-anggukkan kepala. Sungguh ketakwaan itu sangat manis akibatnya. Lantas mengapa kita enggan meraihnya.

Bukankah Allah memberi peluang dengan membuka madrasah pembekalan menuju ketakwaan. Hanya dibuka selama sebulan, tak lebih.

Ada sebuah analog sederhana. Seorang anak yang selalu saja kurang berhasil ditegur oleh orang tuanya.

Sang anak pun berapologi, ”Jika Ayah menginginkanku berhasil, Ayah mesti mendatangkan seorang guru privat yang mengajariku!”

Sang ayah pun mengabulkan permintaan anaknya. Setahun kemudian hasil yang dicapai sang anak tak menunjukkan adanya peningkatan yang berarti.

Dapatkah kita membayangkan apa yang dirasakan oleh sang ayah. Karena sang anak memang pemalas. Ia tak bisa lagi berapologi untuk kedua kalinya.

Walillâhi matsalul a’lâ. Bagaimana ketika kita menginginkan sebuah predikat ketakwaan. Kemudian kita meminta sarana pembinaannya. Allah mengabulkan dengan membuka madrasah-Nya. Apakah kita tak malu ketika usai madrasah ini kita belum menjadi seorang yang bertakwa? Sungguh, betapa lemahnya diri kita berhadapan dengan hawa dan nafsu.

Khalîfah Umâwiyah Sulaiman bin Malik pernah bertandang ke Madinah hanya untuk mencari tahu jawaban dari dua pertanyaannya. Tak dijumpainya sahabat Nabi Saw. satu pun. Yang ada hanya seorang tabi’iy yang sudah lanjut. Satu dari dua pertanyaan tersebut: Mengapa kita sangat betah untuk tinggal di dunia ini?

Sang tabi’iy menjawab, ”Karena kita lebih mencintai rumah yang kita bangun di dunia yang hanya dihuni sementara dari pada rumah kita di akhirat yang kita huni selama-lamanya.”

Jutaan bahkan dengan milyaran, kita bermegah-megahan mengumpulkan harta dan membangun istana. Menghiasnya. Memenuhinya dengan perabot mewah. Supaya terlihat indah dan nyaman. Bagaimana kita tak betah dan mencintainya. Kita tak sadar rumah seperti ini maksimal hanya kita huni selama kurang lebih 60,70,80 tahun.

Kita lupa bahwa kita harus mempersiapkan rumah kita di akhirat dengan tabungan amal shalih. Maka dengan perbandingan seperti ini saja ketika seserang yang cinta dunia ditawari: Maukah Anda menghadap Allah sekarang? Ia pun akan segera mengelak, ”Aduh, saya belum siap!”

Madrasah pembekalan ini belum tutup masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Kembali saya ingin melontarkan pertanyaan,”Maukah kita menjadi orang bertakwa?

SAIFUL BAHRI

Oleh: saiful bahri | September 9, 2009

PERSIMPANGAN CINTA

PERSIMPANGAN CINTA

Perputaran waktu yang terjadi–sungguh–sangat cepat. Belum lama kita menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.

Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan.

“Sepertiga pertamanya rahmah” demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan barakah ini.

Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan “Dengan menyebut asma Allah yang Rahman dan yang Rahim”. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang mukmin,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Rahmah yang menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al-`asmâ’ al-husnâ.

Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya.

Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersama-sama muhasabah.

Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita.

Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan?

Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang di langit”… dan malaikat pun akan menyayangi kita.

Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi”. Bila kita tak pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani ‘mengemis’ cinta-Nya. Sungguh, sangat malu.

Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayat-ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.

Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?

Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang berputus asa.

Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.(QS.55:29)

Allah selalu sibuk. Setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri.

Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang dizhalimi. Mendengar kepanikan mereka yang dikejar-kejar kezhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah.

Disamping itu dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya.

Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janji-Nya,”… Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. 2:186)

Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah  benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah?

Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.

“… dan tengahnya adalah maghfirah” demikian Rasulullah Saw. menyambung keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah.

“Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikan-Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hari-Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu”

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)

SAIFUL BAHRI

Oleh: saiful bahri | April 27, 2009

Kisah Pemilik Kebun

KISAH PEMILIK KEBUN*

Saiful Bahri, M.A**

 

Mukaddimah: Sebuah Dukungan Rabbani

Surat al-Qalam termasuk surat yang pertama-tama diturunkan Allah di Makkah; menurut sebagian ahli tafsir diturunkan setelah surat al-’Alaq.

Saat Nabi Muhammad saw berdakwah, respon yang beliau terima dari kaumnya sangat mengecewakan. Bahkan lebih merupakan terror-teror psikis dan tak jarang juga terror fisik beliau terima, juga orang-orang yang mengikuti dakwah beliau.

Salah satu teror psikis yang beliau terima adalah stempel ”gila” yang diberikan kepada beliau. Padahal sebelum itu kaumnya sendiri yang menyematkan julukan ”al-Amin (yang terpercaya)” kepada beliau. Kini semua berbalik. Beliau dicap sebagai orang yang gila harta dan jabatan. Bahkan sebagian benar-benar menuduh gila dalam artian yang sebenarnya.

Dan Allah lah yang kemudian menjawab segala tuduhan di atas. “Dan sesunguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS. 68: 4)

Dukungan spiritual ini diberikan saat kaumnya menganggapnya gila ketika beliau menyampaikan risalah-Nya. Bahwa Allah juga tak henti-hentinya memberikan dukungan serta menjanjikan pahala yang tak putus-putus atas kesabaran yang ekstra dalam menghadapi kaumnya.

Sejenak kita tilik gaya bahasa yang dipakai al-Qur’an. ”la‘alâ khuluqin ’azhîm” pada ayat keempat, digunakan kata ”‘alâ” (di atas) bukan dengan kata ”” (dalam).

Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad saw memang berada di atas standar akhlak dan budi pekerti manusia pada umumnya. Ketika beliau mendakwahi para pemuka kaumnya, Quraisy; saat itu Abdullah bin Ummi Maktum ra. -yang buta- masuk ke tempat tersebut. Seketika raut muka Rasulullah berubah sedikit muram, berubah masam. Beliau tak mengatakan apa-apa, memarahi, menghardik atau menegurnya. Hanya saja air wajah beliau menunjukkan agak terganggu dengan kehadiran Abdullah tersebut. Seketika Allah menegur beliau “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”. (QS. `Abasa: 1-4)

Barangkali bagi orang biasa, hanya bermuka masam seperti di atas mungkin belum terlalu dianggap kurang baik. Namun, kebersihan diri beliau serta pengawasan Allah lah yang menjadikan standar akhlak beliau memang benar-benar mulia. Di atas standar akhlak manusia biasa. Di atas akhlak orang yang paling mulia sekalipun, yang pada waktu itu ada dalam suku Quraisy atau suku-suku lain yang ada disekitarnya. Bahkan paling mulia di antara sekian makhluk Allah yang pernah ada dan yang akan ada.

Karena itu, tak ada alasan bagi Nabi Muhammad saw untuk larut dalam kesedihan memikirkan cemoohan dan berbagai teror dari kaumnya. Dan yang terbaik adalah meneruskan dakwah ini kepada kaumnya. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat. Siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 68: 5-7). Karena terkadang orang gila tak merasa bahwa dirinya adalah orang gila. Dan ketika mereka sadar, keterlambatan itu sudah tiada berguna lagi untuk menghindarkan mereka dari siksaan Allah yang Maha Pedih.

Para Pendusta dan Pencela Nabi Muhammad saw

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.  Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.  Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya. Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kam, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang terdahulu”. Kelak akan kami beri tanda dia di belalai(nya)”. (QS. 68: 8-16)

Ada perbedaan ahli tafsir, siapa yang dimaksud Allah dalam ayat ini. Karena ayat 10-16 diturunkan untuk menyindir seseorang. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa riwayat ([1]). Sebagian mufassirin berpendapat ayat-ayat ini diturunkan Allah untuk menyindir al-Walid bin Mughiroh ([2]), sebagian lagi berpendapat: al-Akhnas bin Syuraiq, atau al-Aswad bin Abdi Yaghuts.

Allah melarang mengikuti mereka (orang-orang kafir Quraisy). Orang-orang kafir dan mereka yang mencaci Rasulullah saw. Larangan ini semula diperuntukkan kepada Nabi Muhammad saw, namun ditujukan pula kepada kita, sebagai umat yang mengikuti ajaran yang beliau bawa.

Sifat pertama yang ditunjukkan Allah dalam ayat ini adalah “mendustakan”.  Mendustakan ayat-ayat-Nya, para utusannya, meskipun sebelumnya mereka dikenal kaumnya sebagai orang terpercaya lagi baik budinya. Ciri-ciri inilah yang memasukkan kaum Ad dan Tsamud serta Ashabu Madyan, dan Rass ke dalam kategori orang-orang yang kafir. Pembangkang serta memusuhi kekasih Allah. Dan pada gilirannya Allah menghancurkan mereka dengan tentara-tentara Allah. Angin topan yang menggulung kesombongan mereka. Menghabiskan kedustaan yang mereka lakukan kepada Allah dan para Rasul-nya

Mereka ingin dihargai sementara mereka tiada mau menghargai orang lain. Ingin diperlakukan dengan lunak dan lemah lembut, sementara mereka tidaklah demikian.

Diantara sifat al-Walid yang menonjol adalah banyak bersumpah. Namun sering ia langgar sendiri. Sungguh hina orang-orang yang mempermainkan sumpahnya. Selain itu suka mencela dan mencaci, menebar fitnah, menjadi provokator dan menghalangi kebaikan. Kasar dan sudah terlanjur dikenal keculasan dan kejahatannya. Padahal ia memiliki banyak anak dan harta. Tapi sekali-kali ia tak pernah insyaf dan bertaubat kepada Allah.

Di akhir peringatan ini Allah memberitahukan lagi salah satu ciri mereka. Yaitu mereka akan mengatakan kepada setiap orang yang mengajak mereka kepada kebaikan. Itu hanyalah merupakan cerita-cerita orang terdahulu”. Mungkin kalau bahasa kita, setelah kita memperingatkan atau mengajak pada sesuatu yang ma`ruf. Mereka akan mengangganya ”lagu lama” yang disamakan dengan dongeng-dongeng serta cerita rakyat yang penuh mitos.

Mereka sudah terlebih dahulu mengklaim sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah. Padahal mereka tak mengetahui apa pun tentangnya. Bagaimana mungkin mereka akan menerimanya.

Allah akan menghinakannya juga kuffar Quraisy itu dengan memberi tanda khusus di hidung mereka ([3]). Sebagai tanda kebohongan dan kedustaan mereka. Menghinakan mereka sebagaimana mereka menghinakan ayat-ayat Allah dan para Rasul-Nya.

Al-Qur`an menggambarkannya dengan kata-kata “belalai”. Kata-belalai sebagaimana lazimnya tak dipakai kecuali untuk binatang. Bukan untuk manusia. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk semakin menghinakan serta menurunkan derajatnya sebagai manusia. Mereka sama dengan binatang. Bahkan lebih rendah darinya. Karena mereka mempunyai akal. Namun tak mereka gunakan untuk menerima dan memikirkan ayat-ayat Allah.

Kisah Para Pemilik Kebun

Dalam surat ini ada kandungan kisah tentang para pemilik kebun. Allah menurunkan adzab kepada mereka, dalam rangka memberi mukaddimah ancaman kepada para pencela dan pengejek Rasulullah saw. Jika mereka mengetahui atau setidaknya merasakan penyesalan dan kepedihan serta keputusasaan dalam kisah ini tentu mereka akan takut ditimpa dengan adzab yang lebih pedih dari itu, adzab akhirat.

Siapakah para pemilik kebun yang dimaksud dalam ayat-ayat ini ([4]).

Dikabarkan, mereka telah membagi-bagi dan mengkaplingkan hasil kebun mereka yang akan akan mereka tuai esoknya. Mereka memastikannya, bahkan telah bersumpah. Hasilnya untuk keperluan ini dan untuk keperluan itu.. Mereka sama sekali tak menyisakan bagian untuk kaum dhu`afa dan fakir miskin. Mereka juga sombong. Seolah merekalah yang memutuskan segalanya. Yang menjamin kelangsungan hidup hari esok. Sehingga mereka melupakan Allah. Tiada mensyukuri nikmat-Nya. Tak menyebutnya sama sekali. Bahkan mereka tak mau untuk sekedar mengatakan: “Insya Allah”.

Adapun penafsiran ayat ke 18 memang berbeda-beda. Jika konteksnya berhubungan dengan kepercayaan pada Allah dan pemastian pembagian hasil kebun. Maka lebih pas untuk diartikan dengan “tidak mengatakan Insya Allah”. Namun, jika konteksnya adalah amal kemanusiaan yang berhubungan dengan hak fakir miskin. Maka bisa diartikan,”Mereka tak memberikan bagian dari hasil tersebut serta menyisakannya untuk fakir miskin”. Padahal para pendahulu mereka, kakek dan bapak mereka mendermakan sebagian harta hasil dari perkebunan tersebut kepada fakir miskin. Sementara mereka mempunyai karakter yang sebaliknya, bakhil. Sangat memusuhi hati nurani kemanusiaan.

Penggambaran kebakhilan mereka terlihat dari ayat 24. Dimulai ketika mereka bangun dari tidur di waktu shubuh, mereka bergegas saling membangunkan, serta saling memanggil dan mengingatkan. Kemudian bertolak ke kebun mereka dengan diam-diam dan mengendap-endap dengan tujuan agar fakir miskin yang ada di kampung mereka tak mengetahuinya. Kemudian dikhawatirkan mereka meminta bagian dari hasil kebun tersebut.

Mereka tak mengetahui keadaan sesungguhnya. Mereka tak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi pada kebun-kebun mereka. Mereka tak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap kebun mereka ketika mereka terlelap dalam tidur ketamakan semalaman. Ketika mereka mendekat, melihat dengan kedua mata mereka sendiri. Keadaan kebun-kebun mereka sungguh jauh di luar dugaan dan penggambaran mereka. Kebun-kebun mereka menghitam pekat. Sehitam hati mereka yang tetutupi hawa nafsu, cinta dunia dan kebakhilan sehingga menghalangi rasa kemanusiaan mereka.

Lenyaplah ribuan angan mereka. Hilanglah pembagian penghasilan yang mereka rancang sebelumnya. Terbanglah bayangan-banyangan kesenangan dunia.

Apakah mereka tak merasakan kesengsaraan serta penderitaan fakir miskin yang tak mendapat uluran kasih sayang dan bantuan dari mereka? Mereka telah menghalangi fakir miskin dari mendapatkan haknya dari harta mereka, padahal mereka mampu dan sanggup melakukannya.

Kemudian, ada seseorang yang masih mempunyai pemikiran baik diantara mereka mengingatkan. Bukankah aku telah mengatakan, sebaiknya kalian bertasbih kepada Tuhan kalian.

Peringatan, ajakan bertasbih ini. Tentulah sangat baik. Akan tetapi mereka mengucapkannya dengan bibir-bibir kering. Dengan keputusasaan. Dengan tertutupnya hati. Merekapun bertasbih. Namun, tak mengetahui hakikat makna dan kandungan tasbih tersebut. Hal ini terbukti dan terlihat dari fenomena permusuhan di antara mereka setelah itu. Mereka saling mencela. Saling menyalahkan di antara sesama mereka. Tiada menerima yang Allah cobakan kepada mereka

Penyesalan. Ribuan penyesalan. Bahkan tiada terhitung penyesalan yang mereka keluhkan. Mereka mengakui kelemahan dan kezhaliman mereka. Namun, penyesalan ini tidaklah sanggup mengembalikan kebun mereka kembali menghijau seketika itu. Kembali menjanjikan hasil dunia yang menggiurkan dan melenakan mereka.

Jika mereka benar-benar menyesalinya. Dan penyesalan seperti ini ketika masih ada kesempatan memperbaikinya. Tentul Allah akan menerimanya. Menerima taubat yang sungguh-sungguh dari hamba-hambaNya.

Namun, bukan penyesalan mereka. Penyesalan orang-orang kafir, para pencela Rasulullah. Penyesalan yang kelak baru mereka rasakan ketika adzab akhirat melucuti tubuh dan perasaan mereka. Jika mereka mengetahui dan menyelami kisah pemilik-pemilik kebun tersebut. Sungguh mereka akan cepat-cepat bertaubat dan memperbaiki diri. Dan barang siapa yang tidak mengetahuinya, ketahuilah bahwa adzab akhirat sangatlah pedih. Melebihi pedihnya adzab dan cobaan dunia. Tak terbayangkan oleh siapapun yang ada di dunia ini. Hanya Allah saja yang mengetahui kedahsyatannya.

Lihatlah akhir hidup Abu Jahal, seorang penjahat kelas kakap yang terbunuh dalam Perang Badar di tangan dua orang anak kecil, Muadz dan Muawidz ([5]). Lihat pula al-Walid bin Mughiroh. Justru anaknya Khalid bin Walid menjadi panglima besar Islam  juga saudara-saudaranya, membela dakwah Rasulullah. Maka yang demikian itu sangat menghinakan mereka.

Kabar Gembira

Dan sebaliknya Allah memberikan kabar gembira untuk orang-orang yang mau mengikuti risalah Rasulullah saw. ”Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. 68: 34-35)

Tentu saja Allah tak menyamakan kedua golongan yang sangat jauh perbedaannya. Masing-masing telah Dia sediakan balasan yang setimpal sesuai dengan amal dan perbuatannya. Masing-masing dari menusia telah diberi kebebasan meilih jalan masing-masing. Hanya saja ia mesti mempertanggungjawabkan pilihannya kelak. Maka jika demikian halnya. Orang-orang yang bertakwa mengikuti jejak para Nabi Allah. Jejak yang jelas ujungnya, meski banyak duri serta cobaan berada disepanjang jalan pilihan tersebut.

Tunggulah sampai datang hari yang dijanjikan itu. ”Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa”. (QS. 68: 42)

Pada waktu itu orang-orang yang sombong tersebut dipanggil satu persatu. Mereka diinstruksikan untuk bersujud di hadapan Allah. Mereka pun tak kuasa melakukannya. Karena mereka tak pernah melakukannya di dunia. Atau jika melakukannya, hanya karena mereka terjangkit split personality. Hipokrit dan munafik, untuk meraup keuntungan dunia semata. Hari itu keadaan sesungguhnya menjadi nyata. Pamrih sesungguhnya dari apa yang ia lakukan menjadi jelas terlihat. Karena hati mereka tertutup oleh dunia dan segala kesenangannya.

Sujud merupakan suatu pekerjaan yang berat bagi hati yang tak khusyuk. Bagi hati yang keras. Hati yang dipenuhi oleh gengsi kedudukan dan status sosial. Sujud akan mudah dilakukan oleh hati yang lembut. Hati yang tunduk, khusyuk dengan penuh pengakuan di depan kebesaran yang Maha Hidup dan Mencipta kehidupan. Sehingga sujud merupakan wirid harian yang menjadi obat kegundahan dan kegelisahan menghadapi berbagai permasalahan dunia.

Hari itu mereka benar-benar ingin melakukannya. Namun mereka tak sanggup melakukannya. Sementara ketika mereka berada dalam kelapangan dan dalam keadaan yang sejahtera, mereka menolak ketika diseru untuk bersujud. Namun mereka cepat mengambil keputusan untuk menolak ajakan tersebut dan memutuskan sekali lagi untuk tidak akan melakukannya. Maka orang-orang yang berkelakuan demikian –kata Allah- serahkan saja segala urusannya kepada-Nya. Hanya Allah yang mampu memperlakukan mereka sesuai perbuatan yang mereka lakukan.

Wasiat Sakti

Tetaplah bersabar. Demikian Allah mewasiatkan kepada Nabi-Nya yang mulia Muhammad saw. Sebuah wasiat yang menjadi senjata pamungkas dalam menghadapi kelakuan orang-orang yang memusuhi dakwahnya.

Sabar dengan ketetapan Allah. Sabar untuk terus mendakwahkan kebenaran yang telah diyakini sebagai jalan benar. Sebagai pilihan yang tepat. Dan akan dipertanggungjawabkan. Serta janji Allah berupa balasan kemuliaan.

Allah menceritakan kisah pendahulu Nabi Muhammad ketika menghadapi kaumnya. Dikisahkan, Yunus bin Matta as diutus Allah ke daerah bernama Naynawa. Beliau mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Akan tetapi kaumnya membangkang dan bersikeras untuk tetap menjauhi ajakan Nabi Yunus as. Mereka memilih jalan kekafiran sebagai respon negatif terhadap dakwah Nabi Yunus. Yunus pun marah dan bermaksud meninggalkna kaumnya. Setelah beliau mengancam dengan turunnya adzab Allah kepada mereka. Sepeninggal Nabi Yunus dari kaumnya. Tanda-tanda ancaman siksa dari Allah terlihat oleh mereka. Mereka pun sadar dan meyakini kebenaran ajakan Nabi Yunus. Bertaubatlah mereka. Keluarlah mereka berbondong-bondong ke sebuah tanah lapang di padang pasir yang luas. Anak-anak mereka, Istri-istri mereka, yang tua dan yang muda serta dengan binatang peliharaan mereka. Semuanya bermunajat dengan khusyuk kepada Allah memohon ampunan dan agar adzab tersebut tak diturunkan kepada mereka. Sedangkan Yunus, telah pergi jauh meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Allah memuat cerita Yunus lebih terperinci dalam surat Ash Shaffât dari ayat 139 – 148.

Kesalahan yang dilakukan Nabi Yunus as adalah meninggalkan kaumnya. Meninggalkan tanggungjawabnya. Padahal kaumnya telah bertaubat dan hidup dalam keadaan mengimani dakwah yang ia serukan selama ini. Hanya saja beliau agak terburu-buru. Meninggalkan kaumnya dengan ancaman siksa Allah. Namun, Allah mengampuni mereka setelah semua bermunajat dengan sungguh-sungguh kepada-Nya.

Pelajaran kesabaran lah yang dimaksudkan di sini. Untuk menghadapi tingkah laku kaum yang tidak mengindahkan seruan dakwah. Bahkan melecehkannya. Hanya bersabar. Sampai datang keputusan dari Allah.

Ketika dalam perut ikan –menurut riwayat Auf al-A’raby sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam tafsir Al Anbiya’ ayat 87-88- Yunus mengira bahwa dirinya telah mati. Kemudian ia menggerak-gerakkan kakinya. Kemudian bersujud seraya membisikkan dengan lemah “Ya Allah aku menjadikan tempat ini sebagai tempat sujud yang belum pernah dicapai seorang pun”. Dan beliau pun bertasbih kepada Tuhannya.

Tasbih yang diucapkan dan dimunajatkan oleh Yunus adalah tasbih khusyuk dan penuh tadharru’. Penuh ketenangan dan pengakuan akan kelemahan dan kezhaliman diri. Sehingga rintihan lemah ini di dengar oleh para malaikat-Nya. Sehingga Allah pun menitahkan pada ikan yang menelannya untuk memuntahkan kembali Yunus. Yunus pun selamat dan kembali ke kaumnya setelah bertaubat.

Berbeda dengan tasbih para pemilik kebun ketika salah seorang terbaik mereka menyeru untuk bertasbih. Mereka pun segera bertasbih. Namun, hanya menjadi hiasan bibir belaka. Ketidakikhlasan mereka terlihat, ketika masih ada kedengkian diantara mereka. Mereka saling mencaci sesamanya.

Tasbih sendiri mempunyai makna yang dalam, sehingga mempunyai pengaruh bila seseorang mengucapkannya dengan penuh penghayatan. “Maha Suci Engkau Wahai Allah, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim”.

Bagian pertama tasbih ini, mensucikan Allah dari segala kekurangan dan hal-hal yang tak layak bagi Tuhan dengan segala kebesaran-Nya. Kemudian bagian kedua menegaskan kelemahan diri dan kesalahan yang dilakukan dengan mengakui kezhaliman yang telah diperbuat.

Dua komponen ini merupakan bentuk penyesalan yang sempurna. Penyesalan yang diikuti keinginan untuk memperbaiki diri. Dan untuk memperbaiki diri tersebut kita memerlukan bantuan dari Allah. Minimalnya, bantuan netralisir kesalahan. Dengan menurunkan ampunan-Nya kepada kita atas segala kesalahan yang telah kita lakukan.

Inilah yang dilakukan kekasihnya dalam kegelapan lapis tiga. Dan sanggup menerobos sampai kelangit berlapis tujuh. Didengar oleh semua penduduk langit. Meski dengan suara yang sangat lemah dan pelan. Namun, terdengar sangat jelas. Jelas, karena mengakui kemahasucian Allah. Dan Allah memasukkan Yunus kedalam golongan hamba-hambaNya yang salih.

Ikhtitam: Berbahagialah yang Berani Mengambil Jalan Rasulullah

Ketika Nabi Muhammad saw. menyampaikan ayat-ayat Allah, orang-orang kafir mencibir dan melecehkannya. Bahkan, menganggap Muhammad telah benar-benar gila. Karena mereka tak mau menggunakan hati nurani untuk menerima ayat-ayat Allah.

Ketahuilah bahwa Al-Qur’an tak lain hanya merupakan peringatan bagi semua umat yang ada. Dan tugas Nabi Muhammad, juga tugas para penerusnya, para da’i hanya sekedar mengingatkan kaumnya. Mengingatkan umat yang diserunya untuk mengikuti dan memahami ayat-ayat tersebut. Hanya menyampaikan peringatan ini.

Jika mereka mencibirnya. Maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa para pendahulu kita juga mendapat perlakuan yang tak jauh beda dari keumnya ketika mereka menyampaikan ayat-ayat yang mereka bawa dari Tuhan mereka.

Hanya menyampaikan dan telah kita sampaikan. Maka Allahlah yang menentukan. Memberi hidayah kepada mereka atau membiarkan mereka dalam kesesatan karena mereka telah memilihnya demikian. WalLâhu a’lam.

 

 

—————————————————————————-

Disampaikan dalam Pengajian Shubuh Tadabbur al-Qur’an

Ainul Yaqin, Kalibata Selatan Jaksel

Selasa 10 Pebruari 2009


* Sebuah tadabur surat al-Qalam (Pena: 68), Juz 29.

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

([1]) Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Fathul Bârî bi syarhi Shahih al-Bukhari, Cairo: Darul Hadits, Cet. I, 1998 M-1419 H Vol. VIII, hal. 815.

([2]) Ini pendapat jumhur ulama, seperti dikuatkan oleh Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Cet. 2002 M – 1423 H, Vol. IX, hal. 451. Juga dalam tesis Magister penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’u al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an li al-Ma’iny, Cairo: Universitas Al-Azhar-Jurusan Tafsir, 2006 M – 1427 H, Vol.II, hal. 685

([3]) lihat dalam ayat 16.

([4]) menurut riwayat Imam Ibnu Jarir at-Thabary dan Ibnu Mundzir mereka adalah sekelompok orang di negeri Yaman. Ini yang dirajihkan Imam Ibnu Katsir dalam Qashashul Qur’annya juga dipakai oleh jumhur mufassirin. Ada sebagian ahli tafsir yang meriwayatkan mereka berasal dari Habasyah (Etiophia)

([5]) Sebenarnya Abdullah bin Mas’ud lah yang berniat membunuh Abu Jahal. Tapi dua anak kecil tersebut mendahuluinya. Seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam Jami’ Shahihnya hadits ke-3962 (lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bârî, Ibid. Vol.VII, hal. 361).

Oleh: saiful bahri | Desember 1, 2008

Saat Jiwa-Jiwa Kembali Bernafas

SAAT JIWA-JIWA KEMBALI BERNAFAS

Saiful Bahri

 

kabahPagi ini terasa spesial. Lelaki berjenggot yang sehari-harinya berjualan sandwich kibdah dan sugu’ itu membacakan surat al-Fajr di rekaat kedua. Saat keluar masjid an-Nur al-Muhammady, saya seolah sudah lama tak mendengar surat tersebut. Sama dengan sebuah kegundahan yang beberapa waktu sempat singgah dalam hati. Ramadhan baru saja berlalu. Baru dua bulan saja. Tapi kadang terasa sangat menjauh dan seolah ada jarak. Dan yang merasakan itu bukan saya seorang. Beberapa kali saya menanyakan dan sekedar berbagi perasaan dengan teman-teman saya. Mereka juga sempat merasakannya demikian.

Bersyukur, Allah kembali memberikan sebuah momentum kebangkitan…

Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu…. dalam keadaan ridho dan diridhoi…

Demikian bunyi akhir surat al-Fajar ini. Setelah di awalnya Allah menyentak dengan bersumpah ”Demi waktu fajar dan malam-malam yang sepuluh. Dan sebagian besar ahli tafsir menafsirkannya sebagai 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Itulah sebuah kebaikan yang dimuliakan sebagaimana disitir Rasululullah dalam haditsnya yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Tak ada hari yang lebih baik untuk melakukan kebaikan dibanding hari-hari ini.

Kembali dibuka momentum perubahan. Kebangkitan. Menyadarkan diri dan lingkungan untuk senantiasa menjaga kontinyuitas berbuat baik dan bermanfaat buat sesama. Selain puasa, shalat dan tilawah. Bulan ini dikenal dengan bulan haji dan qurban.

Saat jiwa-jiwa seolah kehabisan nafas dan tercekat oleh kepenatan urusan kehidupan. Saat inilah kita bisa terbang bersama para jamaah haji. Mereka yang berbondong-bondong ke tanah haram. Menekuri ayat-ayat Allah. Menapaki jejak-jejak pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya sekaligus, melihat dari dekat peninggalan dakwah Rasulullah Saw.

Ibadah haji bukanlah sekedar ritual mengelilingi ka’bah, berpakaian serba putih tak berjahit atau berlari-lari kecil antara shafa dan marwa. Juga bukan sekedar berjejalan di sekitar jamarât untuk melempar tugu “permusuhan” aqabah, ‘ûlâ dan wusthâ, dengan beberapa batu atau berdiam diri seharian di padang arafah. Lebih dari itu Ibadah haji adalah simbol kepasrahan total seorang hamba kepada Rabbnya. Di samping itu sebagai tanda kepedulian sosial yang tinggi dan kemapanan balance seseorang yang matang darajat imannya.

Bukankah syarat kemampuan ibadah ini meliputi berbagai aspek. Kekuatan fisik, kemapanan finansial, keamanan proses dan perjalanan.

Kekuatan fisik tak terelakkan, mengingat ritual ini maraton dan perlu stamina bagus. Apalagi masalah keuangan. Hanya saja, kemampuan keuangan ini bukan sekedar mampu mengumpulkan uang untuk menempuh perjalanan dan bekal. Tapi mesti memikirkan keluarga yang ditinggalkan. Nuansa humanis ini bahkan semakin terlihat manakala haji menjadi tercela ketika ada tetangga yang kekurangan bahkan kelaparan.

Kemudian, harta yang dicari pun mesti dari sumber yang halal. Pakaian yang dikenakan, makanan yang dimakan. Semuanya dari yang halal. Serta cara dan proses yang dijalani, juga halal dan tak menzhalimi orang lain.

Ketika dengan tegas Allah menuturkan: “Barang siapa mengerjakan haji maka tak boleh berbuat keji, fasik dan berbantah-bantahan selama melakukannya.” (QS. Al Baqarah: 197)

Ini mengajarkan bahwa kemampuan fisik dan finansial mesti ditunjang akhlak dan kemampuan menjaga diri dari menzhalimi orang lain. Baik dengan perkataan maupun dengan perlakuan. Tak ada cacian, makian, perbuatan dan perkataan keji. Juga menghindari pertikaian dan berbantah-bantahan. Bukankah ini tujuan humanis haji. Menyimpul pada perhimpunan. Persatuan. Dan keutuhan tautan hati umat Islam.

Manasik ini mengingatkan kita pada hari kebangkitan. Hari yang saat itu tak dikenal lagi kasta dan jabatan serta keturunan atau kebanggaan dunia lainnya.

Ketika jamaah haji melakukan wukuf di padang Arafah. Semua orang dari  berbagai jenis dan warna, mengenakan pakaian yang sama. Semua melafazhkan kalimat dan lantunan doa yang sama. Di tujukan pada Tuhan yang sama. Dzat yang selalu berada dalam kesibukan. Dzat yang memberi rizki, menghidupkan dan mematikan serta menjaga alam. Dzat yang meninggikan dan merendahkan. Dzat yang tak pernah bosan mendengar keluh kesah para hamba-Nya.

Dalam surat al-Hajj Allah membuka dengan perintah takwa dan mengingat hari kiamat serta kebangkitan. Setelah berlalu 25 ayat barulah Allah menurunkan perintah haji kepada kita. Hal ini supaya kita mampu menjiwainya. Agar selain kita mendekat dan bermunajat pada-Nya, kita juga berbuat baik dan menebar kemanfaatan bagi sesama.Allah memberi prolog agar setiap jamaah haji menyadari penuh tujuan besar haji.

Secara vertikal haji menjadi kombinasi kebaikan individu setelah bersaksi pada keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. Kemudian setiap hari ia menyentuhkan keningnya dalam sujud tawadhu’ dan kepasrahan. Setelah minimal selama sebulan pertahunnya ia merasakan lapar dan dahaga seharian penuh. Ia juga menjadi kombinasi kebaikan sosial setelah seseorang ringan mengeluarkan hartanya yang menjadi hak bagi orang-orang yang membutuhkan.

Kombinasi keduanya terkumpul dalam ibadah haji. Dan tak semua orang mampu serta diberi kesempatan meraihnya. Beruntunglah orang yang diberi karunia ini. Sekaligus menjadi ujian, apakah ia mampu menyukurinya. Karena berapa banyak dari mereka yang telah menempuh jarak ribuan mill serta mengeluarkan harta ribuan dinar. Tapi ia hanya mendapatkan kehampaan karena kesalahan niat dan orientasi. Meski ia boleh berbangga dengan gelar haji di depan namanya. Namun, orientasi sesungguhnya adalah sebagaimana sabda nabi yang sangat persuasif “Tiada balasan (yang laik) bagi haji yang mabrur selain (hanya) surga.”(HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Malik dan Ahmad; dari Abi Hurairah ra.)

Bahwa haji mabrur adalah kelahiran kembali seorang muslim dari rahim kesucian. Ia bagai seorang bayi yang keluar dari rahim ibunya. Memulai kehidupan baru.

Haji merupakan titik tolak perubahan seseorang menjadi semakin dekat dengan Allah dengan kepasrahan total dan semakin mempersiapkan pertemuannya dengan Allah. Sebagaimana Allah memerintahkan bertakwa dan mengingat dahsyatnya hari kiamat. Haji juga menjadi titik tolak perubahan seseorang menjadi semakin baik dan bermanfaat buat sesamanya. Ia bukan sekedar tidak menzhalimi orang, namun ia menjadi figur bermanfaat dan menebar kemanfaatan.

Ketika ia melontar jumrah. Ia bukan sekedar mengumandangkan permusuhan abadi dengan setan. Saat itu ia mengatakan bahwa ia akan berubah menjadi lebih baik. Janji itu adalah janji dengan komitmen dirinya. Jika tidak, maka setan akan menertawakannya. Ia takkan sanggup berubah. Ia akan tetap menjadi benalu bagi orang. Juga menjadi orang yang selalu menzhalimi orang lain. Jika demikian maka sia-sialah amalannya. Na’udzubillah.

Saatnya, masing-masing kita bertanya. Baik yang sudah melaksanakan haji ataupun yang belum. Mampukah kita gunakan momentum ini untuk berubah?

 

Serambi cinta, kampung sepuluh

Senin pagi jelang siang, Cairo, 01.12.2008

Oleh: saiful bahri | November 29, 2008

Ketika Cinta Bertasbih

sungai-nil

KETIKA CINTA BERTASBIH

 

 

Tanpa terasa kebersamaan 35 hari telah usai. Kalimat perpisahan pun mengganti ucapan selamat datang yang diucapkan sebulan yang lalu. Dua hari yang lalu Sinemart yang menggarap film Ketika Cinta Bertasbih, bersama sutradara, penulis novel, aktor dan aktris dan kru resmi berpamitan pada malam tasyakuran yang diadakan di lapangan Wisma Duta, KBRI Cairo di Garden City.

Saya memang tak selalu mendampingi mereka dalam setiap shooting, baik di beberapa tempat di Cairo maupun di kota Alexandria. Sesekali saja, saat diperlukan, karena –hanya- sekedar membantu para aktor/aktris ketika ada adegan berbahasa arab dan atau dengan lawan main orang-orang setempat.

Meski demikian saya bisa merasakan suasana keakraban, kekeluargaan dan kebersamaan yang sangat dalam antara mereka dan teman-teman yang membantu mereka selama di sini. Sesekali saya menjumpai mereka menitikkan air mata, tak sedikit ternyata. Saat sebagian di antara mereka mengabadikan gambar kebersamaan, detik-detik menjelang kepergian sang sahabat kembali ke tanah air. Saya ikut terharu.

Memang saat Sinemart memberanikan diri untuk shooting di lokasi asli sebagaimana di novel, merupakan sebuah keajaiban tersendiri. Keberaniaan yang laik diapresiasi. Apalagi ketika mengangkat sebuah film relijius yang berbasic novel laris karya seorang Habiburrahman, sarjana hadits dari Universitas Al-Azhar. Penggarapannya pun tidak main-main. Keseriusan ini sangat nampak dari sejak audisi mencari lima pemeran utama, sampai mengadakan sebuah karantina pemondokan terakhir bagi para pemain demi menjaga lingkungan dan penjiwaan terhadap film.

Pembuatan skenario film juga berkali-kali mengalami revisi. Belum lagi, murajaah lughawiyah (pengecekan bahasa arab) yang juga beberapa kali direvisi, hunting lokasi shooting, menentukan partner kerja PH dari Mesir, menjadwal shooting, dan lain sebagainya.

Sebagai sebuah lembaga profesional, tentunya nuansa bisnis dalam pembuatan film ini pasti tak dinafikan. Tapi nuansa dakwah dan perwajahan lain bagi perfilman Indonesia juga terselip di sana. Saya berharap film relijius yang mencerahkan dan menyejukkan seperti ini bisa digarap secara profesional sehingga nantinya memberi warna baru bagi dunia perfilman Indonesia. Sebuah genre baru yang sangat mencerahkan dan menampilkan hiburan yang mendidik. Ke depan medan dakwah sekaligus perbaikan sosial masyarakat di antaranya bisa ditempuh melalui jalur ini.

Sehingga produser-produser yang mengejar untung dan berbisnis ansich akan segera tersadar. Film-film yang membodohi masyarakat dengan sendirinya akan tersingkir. Sehingga nantinya, tak ada lagi film-film yang terlalu mengekspos dunia mistik, mengumbar aurat dan nafsu serta kehidupan yang hedonis. Dan hiburan memang tak selalu identik dengan hura-hura. Karena sambil menimati hiburan pun kita masih bisa mendewasakan diri. Sehingga bukan hanya kepuasan otak kita dapat, hati kita pun akan tetap stabil.

Selamat jalan kami ucapkan kepada segenap kru dan pemain. Kami hanya bisa membantu dengan doa. Segala keterbatasan selama kami membantu proses pengambilan gambar dan adegan semoga bisa tertutupi dengan keakraban dan beberapa masukan konstruktif.

Sebagaimana, khususnya saya mendapatkan banyak pelajaran dari proses ini. Pelajaran prfesionalisme, kesungguhan, kedisiplinan selain pelajaran dari isi cerita film dan novel KCB ini sendiri.

Kini semua telah kembali seperti semula. Saya sempat berpesan kepada sebagian teman-teman yang tergabung dalam Rafii Travel Groups -yang menjadi partner Sinemart- untuk kembali menekuni fungsi semula sebagai thalibul ilmi. Sebagaimana tuntutan profesionalisme di masyarakat, saatnya dibuktikan dengan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Dari pengalaman selama sebulan ini ambillah sebanyak-banyaknya hal-hal yang bermanfaat dan segera tinggalkan bekas-bekas dan kenangan yang mengganggu. Baik mengganggu hati maupun cita-cita. Sekaligus bisa dijadikan sebuah momentum untuk sebuah permulaan. Memperbarui semangat belajar. Menjadi pembelajar sejati. Bagi yang berada di S1 sebulan lagi akan segera menghadapi ujian musim dingin, semester ganjil.

Kelak al-Azhar akan kembali menjadi kiblat intelektual Islam dan dunia. Para alumninya fasih dan mumpuni dalam berbahasa arab, berwawasan keagamaan dan umum yang luas, argumentatif dalam berdialog serta metodologis dalam menyampaikan suatu gagasan, mudah dipahami audiens sekaligus terlihat kualitas dan mutu ide yang brilian. Kita tak lantas sekedar bangga memakai jubah kebesaran namanya. Karena jika itu terjadi, bagaikan orang yang kedodoran, kecil badannya dan pakaian yang dikenakan terlalu besar untuk ukurannya. Jangan sampai kita menjadi bahan tertawaan masyarakat yang sudah –terlanjur- berekspektasi terlalu tinggi terhadap kita.

Kita tak akan mengecewakan mereka. Buktikan dengan kesungguhan kita menuntut ilmu dan kejernihan niat kita untuk kembali berbuat dan memberi kontribusi dan kemanfaatan buat mereka.

Meski kita tak sedang memerankan Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta atau sebagai Azam dalam Ketika Cinta Bertasbih. Cukup kita menjadi diri kita yang sebenarnya.

Saat itulah cinta benar-benar bertasbih. Sebagaimana tasbihnya matahari dan bulan, bintang dan pepohonan, bahkan burung-burung yang mengepakkan sayapnya. Cinta yang akan memudarkan ruwetnya jiwa-jiwa yang dipenuhi dengki dan permusuhan. Terutama umat Islam yang dibelenggu oleh berbagai skat bernama baju primordial, kelompok, organisasi atau golongan. Hingga kelak kita bisa memajukan negeri yang tak henti-hentinya dirundung bencana dan krisis. Menjadi negeri baru berwajah teduh, berkarakter dan bermartabat serta berprestasi.

 

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh,

Rabu malam – Cairo, 26.11.2008

Oleh: saiful bahri | November 29, 2008

Hidangan Allah-9 (Annur 41-45)

DAN BURUNG-BURUNG PUN

BERTASBIH

 

 

Saiful Bahri

Pagi ini saya duduk-duduk sejenak menadabburi surat An-Nur bersama beberapa orang teman sambil mengiringi matahari terbit. Suasana pagi yang sejuk dan kicauan burung menambah suasana semakin terlihat bersenyawa dengan dunia nyata. 5 ayat surat an-Nur ini terasa sangat istimewa. Ayat 41 hingga ayat 45.

Dalam ayat ini Allah menjeaskan bahwa semua makhluk ciptaan-Nya bertasbih kepada-Nya. Pendahuluan yang dipilih Allah pun sangat terasa seolah kitalah yang menjadi audiens ayat-ayat ini. ”Tidakkah kamu lihat?” semakin menyadarkan kita, jangan-jangan selama ini kita tidak melihat fenomena alam yang tunduk pada Allah. Jangan-jangan hati kita tertutup oleh nafsu. Dan tema ayat ini memang Allah. Dzat yang sangat laik untuk ditasbihkan. Dzat yang sangat laik untuk disucikan, dipuji dan dmintai pertolongan. Dzat yang kepada-Nya bertasbih orang-orang yang di langit dan di bumi.

Menariknya, burung-burung pun bertasbih kepada-Nya. Sangat luar biasa. Dalam surat al-Mulk ayat 19 pun Allah pun menempatkan burung sebagai pelajaran bagi manusia. Ketika Allah menyuruh kita merendahkan hati dengan menggunakan ”rendahkan sayap” semakin terasa sebuah ketawadhu’an karena burung yang tadinya terbang tinggi di atas awan, bagaimana mungkin bisa menukik. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar jernih hatinya. Tawadhu. Tak ada keangkuhan di hati, apalagi kesombongan.

Pun ketika Rasululah saw mengajarkan ketawakkalan meminta kita bisa belajar dari burung, pagi pergi berusaha mencari rizki dengan perut kosong, ketika pulang perut mereka pun penuh terisi. Sebuah pelajaran ketawakkalan dari burung yang –hanya- bermodalkan sepasang sayap.

Dalam surat al-Hajj ayat 18, bahkan Alah menjelaskan bahwa yang bersujud padanya adalah semua orang di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung dan pepohonan serta binatang-binatang melata serta tak sedikit dari manusia. Tapi tak sedikit pula manusia yang membangkang dan kemudian justru mendapatkan adzab-Nya. Waliyadzu billah.

Lihat pula di akhir-akhir surat Ali Imran, salah satu ciri-ciri Ulil Albab selain selalu berdzikir kepada Allah, mereka juga bertasbih kepada-Nya. ”Subhânaka faqinâ adzâbannar” Maha Suci Engkau, lindungilah dari adzab dan siksa neraka.

Ibnul Qayyim menadabburi ayat ini dengan sebuah perumpamaan jika ada pakaian kotor maka sangat laik dan perlu segera untuk dibersihkan. Jika penuh dosa dan khilaf maka seorang hamba sangat perlu untuk segera beristighfar, mohon maaf dan ampunan kepada Rabbnya. Setelah itu, ibarat pakaian yang sudah bersih kemudian perlu untuk disetrika. Demikian juga jika kita telah beristighfar, perbanyaklah bertasbih, menyucikan diri. Menyucikan Allah. Membersihkan sisa-sisa kotoran sambil menampilkan kerapian dan keteraturan jiwa yang fitrah ini.

Istighfar dan tasbih merupakan dua proses penampilan ideal. Mencuci baju dan menyetrikanya, demikian juga merupakan performance ideal manusia di depan sesamanya.

Karena Allah yang menjadi tema besar, karena Allah yang seperti itulah yang layak disucikan, disembah. Bagi-Nya segala kerajaan di tujuh langit dan bumi. Raja segala kerajaan yang pernah ada, sedang ada bahkan yang akan ada dan segala sesuatu yang pernah atau belum dibayangkan makhluk-makhluk-Nya.

Pada ayat selanjutnya kita lihat bagaimana Allah memperlakukan awan-awan yang diciptakan berlapis-lapis. Sebagian membawa rizki berupa air yang akan dikembalikan ke bumi. Bila kita sempat merenunginya dari tepi jendela tatkala kita seang berada dalam pesawat betapa gumpalan awan berada di bawah kita dengan berbagai bentuk dan macamnya. Awan tersebut menyimpan air yang diturunkan Allah ke bumi. Turunnya pun tidak seperti air bah. Tapi sedikit demi sedikit. Bahkan dimulai dari daerah yang tinggi, pegunungan dan pepohonan. Untuk di serap di bumi dan sebagian menjadi persediaan. Sebagian manusia mendapatkan rizki ini dan sebagian lainnya dipalingkan oleh Allah. Turunnya hujan ini pun kadang diikuti dengan kilatan petir yang cahayanya sangat menyilaukan mata.

Itulah Allah yang menjadikan fenomena alam demikian. Dialah yang membolak-balikkan siang dan malam. Coba kita bayangkan seandainya Allah menjadikan sepanjang hari kita malam saja. Maka dunia ini akan sangat gelap gulita. Siapakah yang akan memberikan penerangan. Demikian tutur Allah dalam surat al-Qashash ayat 71. Di akhir ayat Allah pun menggunakan ” afalâ tasma’ûn” (Apakah kalian tidak mendengar). Karena secara umum pada malam hari indera pendengaran kita lebih peka dibanding pada waktu siang. Pada ayat 72 Allah pun menanyakan, siapakah yang akan menjadikan malam sebagai tempat istirahat, seandainya Allah menjadikan sepanjang hari siang selamanya. Kemudian ditutup dengan ” afalâ tubshirûn” (Apakah kalian tidak melihat). Itu karena di waktu siang indera penglihatan kita lebih tajam dibanding pada waktu malam yang kekurangan cahaya/penerangan.Yang demikian tentunya hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang berakal saja.

Pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan tabiat penciptaan makhluk-makhluk-Nya. Uniknya, kali ini yang dijelaskan Allah adalah perilaku makhluk-makhluk Allah yang berjalan di muka bumi. Sebagian ada yang berjalan dengan ”perutnya”, sebagian lagi berjalan dengan ”dua kaki” dan sebagian lainnya berjalan dengan ”empat kaki”. Semua berjalan sesuai tabiat penciptaannya. Jika kiaskan dalam kehidupan kita sehari-hari, saat kita bisa berjalan kita sangat bersyukur betapa sebagian orang tidak bisa melakukannya atau seperti anak kecil ang tertatih-tatih berjalan. Kemudian saat berkendaraan roda dua kita pun bisa menyukuri keadaan. Ketika berkendaraan roda empat pun kita bisa semakin bersyukur.

Dan bukan berarti makhluk Allah yang berjalan dengan perut selalu menjadi lemah. Lihatlah ular, binatang melata ini tak punya kaki. Tapi ia hidup dengan jaminan Allah. Ia difasilitasi Allah sehingga bisa survive. Bahkan ia terlihat ganas dan buas. Lihatlah ikan dengan berbagai jenisnya, mereka tak memiliki kaki. Demikian pula makhluk Allah yang berkaki dua atau empat, masing-masing memiliki keistimewaan yang dibekali oleh Allah. Yang jelas semuanya bertasbih kepada Allah ”Tapi kalian takkan memahami (cara) mereka bertasbih kepada-Nya”.

Tak terasa lima ayat ini benar-benar menjelma menjadi hidangan Allah yang sangat lezat. Terutama bila kita menadabburinya dengan kejernihan hati. Surat An-Nur ini benar-benar mencerahkan seperti namanya ”annur” yang berarti cahaya. Semoga hati kita senantiasa diterangi oleh cahaya Allah sehingga kejernihannya tetap terjaga. Amin.

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh, Sabtu Petang,
Mengiringi Sang Surya ke Peraduan – Cairo, 29.11.200

 

 

Oleh: saiful bahri | November 29, 2008

MELEPAS TAMU ALLAH

kabah

MELEPAS TAMU ALLAH

 

 

Jam di tangan menunjukkan pukul 09.15 malam. Salah seorang adik kelasku berpamitan, mohon doa restu hendak berangkat ke tanah suci. Aku baru ingat kalau malam ini adalah pemberangkatan terakhir rombongan haji mahasiswa Indonesia di Mesir.

Aku segera turun dari bus 65 yang membawaku dari depan kampus putri, sepulang dari rumah temanku, berdiskusi dan membicarakan beberapa hal di sana. Pelataran yang demikian luasnya itu terlihat menyempit. Meski tidak cukup penerangan tapi semua orang bisa melihat banyak orang di tempat itu. Memang tak sepadat saing hari tadi. Karena setiap Jumat selalu menjadi tempat jualan mobil bekas.

Di pasar mobil itulah sekitar puluhan orang sedang menanti keberangkatannya menjemput panggilan Allah ke tanah haram. Diiringi beberapa teman dekat dan keluarga. Sebagian hendak menitip doa, sebagian lagi membantu membawakan barang bawaan, sebagian lagi sekedar menyapa memberikan doa keselamatan dalam perjalanan.

Di penghujung tahun hijriyah ini, menjelang penghujung tahun masehi, para jamaah haji mengejar maghfirah Allah. Bergabung bersama 210 ribu jamaah haji Indonesia dan kafilah lain dari berbagai belahan bumi.

Mereka akan memaknai arti pengorbanan yang dicontohkan abul anbiya` Ibrahim as. Memerankan kepasrahan ibunda Hajar ketika ditinggal suaminya di tanah kering tak berpenghuni. Menelusuri jejak ketaatan dan ketundukan Ismail muda. Serta berikrar melawan para syetan dengan simbol jamarat. Berputar di depan ka’bah, berwukuf di padang arafah, menyatu dalam pakaian yang sama, dengan bahasa doa yang sama, mengesakan Tuhan yang sama, menyerukan kalimat-kalimat yang relatif sama. Kebersamaan yang melewati berbagai skat ras, suku, bahasa, dan lain sebagainya.

Itulah yang kurasakan saat melepas beberapa temanku yang sempat aku jumpai di depan tanah lapang pasar mobil semalam. Meskipun tak sedikit dari mereka yang harus ”berdarah-darah” untuk mendapatkan visa. Maklum, selain semakin tingginya biaya yang dikeluarkan quota pun makin dibatasi. Semakin jelas buruknya monopoli. Sulit rasanya membayangkan pengurusan haji seperti beberapa tahun lalu. Visa haji yang selalu ditulis ”gratis” itu ternyata hanya simbol basa-basi yang dimanfaatkan oleh salah satu travel saja. Ketika mereka mendapatkan monopoli itu. Maka harga pelayanan jasa ini tak terkendali. Setiap tahun naik dengan pesatnya. Wallahu a’lam. Meskipun demikian memang tak menyurutkan niat orang-orang yang memiliki azam dan tekad lebih kuat dari makhluk angker bernama birokrasi dan monopoli itu.

Sangat tipis memang membedakan antara dua hal. Membantu mereka sekaligus mencari rizki melalui jasa pelayanan pengurusan dan keberangkatan mereka. Hanya Allah yang tahu hakikat kebenaran yang kadang samar di depan hamba-hamba-Nya. Meski aura kezhaliman sudah sering dirasakan tapi seolah tak ada yang mampu menghentikannya.

Semoga Allah membuka jalan kembali bagi mereka yang zhalim untuk menyadari kelakuannya sebelum hukum Allah yang berlaku atas orang-orang zhalim.

Semoga orang-orang mazhlum yang hanya berharap rahmat-Nya, disampaikan pada muara cinta dan rahmat-Nya yang maha luas.

Semoga Allah mengaruniakan haji mabrur kepada mereka. Mengampuni dosa dan kekhilafan mereka. Menjadikan mereka orang-orang yang bermanfaat bagi sesamanya, merefleksikan ruh kemuliaan yang mereka dapatkan dalam jihad di tanah suci.

 

Serambi Cinta, Kampung Sepuluh, Jum’at jelang tengah malam

Cairo, 28.11.2008

SAIFUL BAHRI

LabbaikalLâhumma labbaik… labbaika lâ syarîka laka labbaik… innal hamda wann’mata laka wal mulk lâ syarîka lak…

Oleh: saiful bahri | November 20, 2008

Renungan Metodologi Berpikir

OBYEKTIFITITAS DAN SUBYEKTIFITAS

Totalitas obyektifitas. Begitu syarat seseorang dalam memberikan cara pandangnya. Sebagai standar ilmiah yang diakui oleh orang banyak, menurut sebagian orang.

Namun, sesungguhnya obyektifitas itu sendiri adalah sesuatu yang subyektif. Subyektif dalam pandangan orang tertentu meskipun jika si penggagas/penyampai ide sudah berusaha seobyektif mungkin.

Menanggalkan subyektifitas secata total merupakan sebuah kemustahilan. Juga, totalitas dalam obyektifitas merupakan mazhab subyektifitas baru.

Misalnya obyektifitas memperlakukan secara sama dengan perasaan sama, semua serba sama lahir dan batin antara tiga orang teman kita. Tentu sangat mustahil. Pasti ada satu diantara ketiganya yang mendapatkan subyektifitas tadi, meski tentunya hanya bersifat batin.

Ada lagi orang yang menyaratkan sebuah obyektifitas dengan cara memandang sesuatu dari luarnya. Inilah definisi obyektif yang akurat. Tandasnya.

Hal mungkin ini bisa kita analogkan dengan seseorang yang baru saja memasuki rumah kita mengabarkan bahwa di luar sedang turun hujan (lebih tepatnya rumah kita sedang kehujanan). Baju yang dikenakannya pun ada tanda-tanda basah meskipun tak kuyup.

Apakah kemudian yang dikatakan obyektif tanpa subyektifitas kita mesti segera keluar dan membuktikan sendiri bahwa memang sedang hujan ketika baju kita basah oleh air hujan. Padahal tanda-tandanya cukup kuat. Dengan kabar yang dibawa orang yang bajunya basah, suara hujan itu sendiri dan beberapa tanda lainnya.

Nilai obyektifitas yang total ini bisa digunakan. Hanya saja timingnya akan sangat terlambat. Memerlukan proses yang sangat yang cukup panjang dengan jalan melingkar dan memutar. Tidak melalui jalan tembus yang langsung.

Seseorang yang memandang Islam dengan nilai obyektititas tinggi `mesti` keluar dulu dari keislamannya. Itulah Islamologi yang paling obyektif. Menurut penganut mazhab totalitas dalam obyektif.

Kerawanannya, dikhawatirkan tak mampu kembali lagi. Ini akan berakibat fatal, manakala kita tidak sanggup lagi meyakinkan diri kita bahwa kita adalah bagian dari umat Islam.

Lebih beratnya kemanfaatan iman dan Islam itu terlambat, ketika benar keyakinan sesuatu yang yakin telah tiba. Sebagaimana ketika Fir`aun menemui ajalnya.

Tuntutlah untuk melihat Tuhan. Setelah itu baru beriman. Maka keimanan setelah melihat-Nya merupakan penyesalan yang terlambat.

Sebut saja, orang-orang yang mendengungkan modernitas pola pikir adalah dengan totalitas obyektif dalam mengemukakan cara pandang. Keluarkan diri Anda dari Islam, niscaya Anda akan obyektif dalam menilai Islam.

Dengan demikian sebuah ide dan gagasan, baik berupa tulisan atau yang lainnya yang berhubungan tentang keislaman, akan dianggap memiliki obyektifitas yang tinggi bila digelindingkan oleh seorang non muslim atau oleh mereka yang mengikuti `penanggalan` identitasnya.

Sementara keislaman yang dilontarkan oleh intelektual muslim dan para ulama`nya cenderung subyektif bahkan bisa dikatagorikan lebih terwarnai oleh fanatisme yang dipengaruhi emosional yang bersangkutan.

Benarkah antitesa ini.

Subyektifitas yang kita kembangkan sebenarnya diistilahkan dengan terminologi yang baik. Yaitu //tamassuk biddin//, berpegang teguh pada agama. Hanya saja terminologi ini kemudian dipelintir dengan istilah lain yaitu //ashabiyah// atau fanatisme kelompok dan golongan saja. Tepatnya kelompok fundamentalis dan radikal -menurut mereka (sang pemberi label).

Munculnya totalitas dalam obyektif ini berangkat dari keraguan fungsi Islam sebagai //rahmatan lil alamin//, rahmah bagi alam semesta. Sehingga seorang non muslim khawatir bahwa jika ada umat Islam berkuasa mereka akan tertindas. Sebuah bayangan yang mengerikan, bukan?

Padahal Islam sudah memberikan kebijakan dalam berinteraksi. Baik dengan sesama muslim ataupun dengan non muslim. Bahkan dengan lingkungan disekitarnya, baik yang hidup maupun benda-benda mati.

Kita diajarkan untuk menyapa sesama dengan bahasa manusia, berinteraksi dan bergaul dengan bahasa Islam, mengajak dan mengarahkan mereka dengan bahasa dakwah serta menggerakkan potensi kebaikan mereka demi menegakkan Islam dibumi Allah. Indah. Sangat indah kode etik ini. Hanya saja kita perlu sosialisasi lebih gencar.

Obyektif -menurut saya- bila cara pandang dalam gagasan dan ide kita disertai data yang akurat serta argumen atau dalil yang kuat.

Sedang subyektif lebih menonjolkan letupan-letupan emosional dalam mengemukakan sebuah gagasan, ide dan cara pandang. Namun tanpa disertai data yang akurat dan argumen yang kuat.

Dengan demikian kita tak perlu menanggalkan identitas kita untuk mengemukakan sebuah gagasan dengan obyektif. Meski obyektifitas tersebut belum total, menurut sebagian orang.

Kewajiban kita hanya menyampaikan. Dengan data, argumen dan dalil. Setelah itu, barang siapa yang mau mempercayainya maka ia akan beriman tanpa paksaan. Dan barang siapa yang mau mengingkarinya engganlah ia untuk beriman. (lihat QS.18:29)

Saiful Bahri

Pusat Pengajaran Bahasa, Dokki

Mengiringi Matahari Senja, 20.11.2008

Oleh: saiful bahri | November 20, 2008

Politik dan Umat Islam

UMAT ISLAM DAN POLITIK

Saiful Bahri, MA.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”.

(QS. 3:104)

Pendahuluan

Politik adalah kotor”. Barangkali slogan ini sempat terbersit di sebagian kalangan aktivis Islam (islâmiyyîn). Realitas lapangan tidak sepenuhnya mendukung pernyataan tersebut. Namun, untuk mengatakan sebaliknya atau menafikan sama sekali, realitas lapangan juga tak mampu menjawab dengan citra yang positif.

Manusia secara umum memerankan misi rabbani sebagai penjaga bumi-Nya. Karena langit dan bumi menolaknya, bahkan gunung pun tak mampu mengembannya (QS. 33:72)

Apakah misi ini dipahami oleh semua manusia? Tentu tidak. Tak semua manusia memahami peran “menjaga” ini. Terbukti, ada kerusakan-kerusakan yang dilakukannya, baik dengan sadar dan sengaja atau pun tanpa disadarinya.

Peran yang lebih
spesifik adalah, mengajak dan menyeru kepada kebaikan.  Umat Islam lah yang seharusnya tampil
mengemban amanah ini untuk menjadi “… umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah…”(QS. 3:110). Lantas, apakah peran amar ma’ruf nahi
munkar ini mampu dipikul oleh semua kaum muslimin. Meskipun pada ayat
sebelumnya,–(QS.3:104)–kata yang digunakan adalah “minkum” (di
antara/sebagian kamu); bukan berarti tugas ini hanya diperankan sebagian dari
umat Islam. Hal ini lebih terkesan sebagai penegasan bahwa tugas tersebut
sangat mulia di sisi Allah (QS.41:33), serta tak semua orang mampu
melaksanakannya. Bukan karena tak mampu, namun tidak memiliki azam untuk
berbuat demikian dan tidak mendapat taufik dari Allah.

Luasnya Konteks Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Bila amar ma’ruf nahi munkar merupakan kerja sosial yang wajib dan sangat mulia tentunya memiliki konteks penerapan yang luas. Karena dimensi obyeknya pun tak sempit. Sasaran kerja sosial ini berlevel, dari sejak individu (afrâd), keluarga (usrah), masyarakat (mujtama’), negara (daulah) bahkan seluruh umat manusia.

Barangkali untuk level individu dan keluarga, tidak terlalu memerlukan tatanan yang rumit. Demikian juga untuk konteks masyarakat, amar ma’ruf dan nahi munkar ini cukup–lumayan–banyak yang memerankannya secara individu maupun kolektif. Nah, untuk konteks negara, cukupkah hanya dengan gerakan kultural melalui organisasi dan lembaga sosial yang ada pada masyarakat? Mengingat perangkat resmi pelaku kebijakan terkadang tidak tersentuh oleh kerja sosial tersebut. Maka amar ma’ruf nahi munkar ini, saatnya menyentuh negara. Perlu kekuatan besar yang bisa berpengaruh. Dan, karena Islam adalah dîn wa daulah.

Ini sama artinya berpetualang di pentas politik. Tak ada jalur alternatif selain politik? Ada apa dengan politik? Sebegitu menyeramkan kah?

Partai Politik

Konsekuensi terjun di bidang politik adalah melalui partai politik (parpol). Terlepas dari citra negatif politik yang ada, apakah parpol merupakan sarana yang masyru’ (dibolehkan)?

Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang parpol, kita perhatikan pesan politik Abu Bakar ra. dalam pidato pertamanya ketika menggantikan Rasulullah Saw. Yaitu meminta dukungan ketika dalam kebenaran dan meminta teguran pada saat sebaliknya. Secara implisit diperlukan orang atau badan yang mengontrol kinerja beliau. Fungsi kontrol ini selaras dengan hadits nabawi,”Sesungguhnya jika manusia menjumpai seorang zhalim dan tidak–segera–mencegahnya, dikhawatirkan akan turunnya azab Allah yang menimpa mereka semua” (HR. Abû Dâwûd dan al-Imâm Ahmad).

Dalam konstelasi politik modern, lembaga yang memerankan fungsi kontrol terhadap penguasa adalah badan legislatif; yang di negara kita dikenal dengan DPR/MPR. Jalan legal untuk duduk dalam badan legislatif tersebut adalah melalui pemilihan umum. Dan satu-satunya wadah pemilu tersebut–sampai saat ini–dinamakan partai politik. Parpol ini akan memerankan dua peran sekaligus. Sebagai penguasa dan sebagai pengontrol.

Dalam pelaksanaannya, baik penguasa (eksekutif) ataupun pengontrol (legislatif) bukanlah representasi dari satu parpol tertentu, melainkan kombinasi dari berbagai parpol yang mendapatkan suara dalam pemilu yang sah. Permasalahannya, kembali kepada kepentingan parpol yang berjuang untuk memenangkan pemilu.

Saat itulah kita berbicara tujuan parpol dan pemenangan pemilu. Tujuannya adalah memerankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Pemenangan pemilu bukan berarti mengalahkan parpol lain. Tapi menggalang dan mobilisasi masa untuk memahami kerja sosial tersebut. Semakin banyak tersebarnya pemahaman ini maka angka kemenangan akan semakin tinggi.

Bila demikian, kita gunakan kaedah ushuliyyah,”mâ lâ yatimmu al-wâjib illa bihî fahuwa wâjib” (suatu kewajiban yang tak lengkap kecuali dengan itu maka hukumnya wajib). Dan makna kewajiban ini sangat luas disamping bisa individu atau kerja kolektif, juga mencakup arti mendesak (fauri) atau pelahan-lahan (mutarâkhi).

Umat Islam wajib mempertahankan eksistensinya, dan hal tersebut tak hanya bisa diperankan oleh personil-personil tertentu. Melainkan perlu kinerja kolektif. Adapun letak kemampuan mewujudkan sarana kewajiban tersebut secara eksplisit, berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi. Untuk konteks Indonesia, sarana tersebut bukan lagi sekedar urgen, namun sudah sangat mendesak untuk diperankan.

Hanya Satukah?

Dapat kita bayangkan jika penguasa memerintah tanpa kontrol. Yang akan terjadi adalah kebijakan satu arah. Meskipun, kontrol sosial bisa diperankan pers dan lembaga atau organisasi sosial masyarakat, namun kurang bisa berpengaruh dan menekan secara signifikan dalam tataran legal. Karena itulah diperlukannya parpol lebih dari satu. Dalam bahasa modern dikenal sebagai oposan. Sayangnya, oposisi lebih dikesankan sebagai “musuh” penguasa. Padahal fungsinya sebagai pengontrol, bukan mencari-cari kesalahan.

Demikian halnya umat Islam. Apakah umat Islam hanya boleh memiliki satu partai saja? Tentu tidak. Ini sama artinya kita diajarkan untuk berbeda dan berpecah? Tentu tidak demikian. Perbedaan tak selamanya identik dengan perpecahan. Ia hanya berbeda cara dan sarana saja. Tujuannya tetap satu, amar ma’tuf nahi munkar.

Keberadaan satu parpol sebagai aspirasi tunggal umat Islam itu bagus dan ideal. Namun, dalam tataran realitas hal tersebut sangatlah sulit terwujud. Dan hal itu bukanlah aib. Yang menjadi aib adalah bila ada klaim bahwa partainya lah merupakan satu-satunya partai yang aspiratif (terhadap umat Islam), dan bukan partai lainnya. Klaim seperti inilah yang akan menumbuhkan benih perpecahan dan permusuhan; dua hal yang diperangi dan dilarang oleh Allah.

Mantiq sederhanya, dimana pun umat Islam berada, sesungguhnya ia memainkan peran kerja sosial di atas (amar ma’ruf nahi munkar). Baik secara individu  dengan menyuarakan aspirasi di tengah partai non Islam yang dimasukinya maupun secara kolektif melalui partai Islam yang menyuarakan aspirasi tersebut secara kelembagaan melalui partai Islam. Namun yang kedua–sepertinya–lebih memungkinkan untuk menyuarakannya dengan kuat dan berpengaruh.

Menjawab Tantangan Realitas

Kembali ke kancah politik yang terkesan demikian mengerikan. Kehadiran parpol Islam di tengahnya, setidaknya merupakan fenomena lain. Lain, karena ingin mengubah pencitraan menjadi positif tentang perhelatan politik yang legal dan santun. Bahwa politik bukan hanya memburu kekuasaan dan kepentingan, namun politik adalah sarana kebaikan, sarana kerja sosial amar ma’ruf nahi munkar.

Bila kesan penghalalan segala cara untuk memenuhi kehausan kekuasaan telah menyebar ke masyarakat dan demikian lekat dengan parpol, maka kehadiran parpol Islam sebagai alternatif untuk memperbaiki kesan tersebut.

Namun, kerja sosial dalam skup besar ini perlu selektifitas yang tinggi. Kader-kader terbaik yang direkrut secara kultural–insya Allah–mampu memenuhi tantangan ini. Tertantang untuk membuktikan, bukan untuk mengalahkan yang lain.

Bukan Aib

Fenomena parpol lebih dari satu adalah wajar dan natural, serta bukan merupakan aib umat ini. Namun, bila yang terjadi adalah eufhoria dan kekagetan sosial yang memicu menjamurnya parpol, perlu untuk segera ditilik ulang kondisi riilnya. Apakah hal tersebut berangkat dari salah pemahaman dan ketidak-mengertian umat ini, bahwa hal tersebut sangat mengganggu strategi pemenangan misi kerja sosial? Ataukah ada hal lain, bahwa umat ini sudah terjangkit penyakit ambisi berkuasa? Bila yang menjadi jawaban yang pertama, maka tugas kita adalah mensosialisasikan pemahaman strategi tersebut secara merata. Bila yang menjadi masalah yang kedua, maka tugas kita adalah mengobati penyakit dan kesalahan orientasi serta penyimpangan misi kerja sosial.

Partai-partai Islam bagaikan madzhab-madzhab fikih dalam Islam. Keberadaannya merupakan rahmat bagi umat ini. Rahmat Allah, karena umat bisa memilih dengan penuh kesadaran. Bukan hanya sekedar memilih, namun dengan pembelajaran dan memahaminya.

Hal ini sama halnya dengan jama’ah/organisasi/partai/lembaga–atau apapun namanya–yang ada dalam umat Islam sebagai potensi kebaikan dan sarana kerja sosial di atas. Bila ia ada, ia bukanlah merupakan satu-satunya jama’ah/organisasi umat Islam. Namun, ia adalah jamâ’ah min al-muslimîn, bukan jamâ’ah al-muslimîn. Ia merupakan salah satu jama’ah (sarana) dari sekian yang ada pada umat ini. Tapi bukan satu-satunya. Karenanya, tidak dibenarkan adanya klaim kebenaran tertentu. Karena ini semua merupakan lapangan ijtihad yang memiliki dua kemungkinan, benar atau salah. Tentunya setiap ijtihad memiliki pertimbangan tertentu sebagai proses untuk sampai pada hasil final. Bahkan ada kalanya ijtihad ini perlu diperbaiki. Seperti yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i dengan adanya qaul jadid dan qaul qadim.

Maka sarana di atas pun akan berubah sesuai tuntutan dan kondisi. Bisa jadi suatu ketika parpol sudah tak lagi diperlukan. Karena, sebagaimana luasnya konteks kerja sosial di atas, sarananya pun tidaklah terbatas hanya beberapa saja.

Penutup

Perbincangan kita di atas memang dikondisikan untuk mengarah pada terbentuknya tatanan Islam dalam skup yang lebih luas. Diharapkan mampu memerankan Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Rahmat bagi sesama umat Islam, non muslim dan seluruh manusia serta bagi alam seisinya.

Ketika kita membicarakan negara Islam tidaklah sama artinya dengan mengidentikkan sebagai negara agama. Yang pertama sebagai terjemahan integral dan universalitas ajaran Islam yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Yang kedua sebagai gambaran traumatif sejarah Eropa di era pertengahan yang mengekang kebebasan. Dan secara kebetulan diperankan oleh tokoh-tokoh agamawan (baca: nasrani) pada waktu itu.

Karenanya para pelaku kekuasaan negara, meskipun ia merupakan representasi umat Islam–nantinya–, tetap saja merupakan kumpulan manusia–bukan malaikat–yang rentan akan kesalahan. Karena itu, justru peran kontrol menjadi sangat urgen, di sini.

Sebagai catatan akhir, bila kita membicarakan umat Islam (=kita) bukan berarti kita tidak memikirkan umat selain kita. Karena semua ini berangkat dari diri kita sendiri. Bila kita belum mampu memperbaiki diri sendiri, akankah kita memperbaiki orang lain? Itulah sebaik-baik interpretasi pesan kenabian “Yang terbaik diantara manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”.[]

Arsip : Menjelang Pesta Demokrasi 2004

Oleh: saiful bahri | November 20, 2008

Ekstrimisme VS Islamisme

EKSTRIMISME VS ISLAMISME

Di permulaan Januari 2002 lalu saya bersama Prof. Bill Liddle dan Gunawan Muhammad, diundang menjadi pembicara dalam sebuah panel diskusi di Asia Society New York dan menampilkan Prof John Bresnan dari Columbia university selaku moderator. Tema diskusi adalah: “Islam in Indonesia”.

Dalam presentasi saya tegaskan, sesungguhnya Islam sebagai “keyakinan” dan sistim hidup tidak memiliki perbedaan berdasarkan letak geografis dan zona alam. Islam memiliki sumber abdi, yaitu Al Qur’an dan Sunnah RasulNya. Kedua sumber ini kapan dan di mana saja, akan tetap terpakai dan difahami oleh kaum Muslim. Yang berbeda kemudian adalah pemahaman terhadap kedua sumber tersebut, mengikut pada konteks kehidupan masing-masing. Dengan demikian, sesungguhnya yang berbeda bukan Islam tapi pemahaman terhadap Islam itu sendiri.

Sehingga ketika seseorang cenderung memahami Islam Indonesia berbeda dari Islam Timur Tengah misalnya, dapat dicurigai sebagai pengelabuan terhadap universalitas Islam itu sendiri. Artinya, pemahaman seperti ini belum bisa membedakan antara pemahaman manusia dan Islam sebagai agama itu sendiri. Tentu pemahaman keliru seperti ini timbul karena pendekatan yang dipakai adalah pendekatan yang non Islamic, di mana pada agama lain dapat terjadi perbedaan fundamental karena letak georafis pemeluknya.

Yang menarik dari dIskusi tersebut adalah banyaknya “ocehan” atau “pengaduan” akan tingginya tingkat ekstrimisme atau radikalisme di Indonesia. Walaupun dengan sangat hati-hati, bahkan ada yang seolah menyimpulkan bahwa tingkat terorisme di Indonesia tumbuh dengan sangat menakutkan. Bagi saya pribadi, tentu cukup terkejut dengan kesimpulan ini. Sebab yang saya kenal, Islam dengan ajarannya yang damai, santun, logic serta mengedepankan nilai-nilai rasio, telah mendapatkan lahan suburnya pada bangsa Indonesia, yang sebelum Islam pun memiliki “nature” seperti itu. Sehingga kedatangan Islam di Indonesia begitu mulus tanpa ada aral sedikitpun. Bahkan tidak memutuhkan waktu yang lama, akhirnya menjadi agama super mayoritas bangsa Indonesia.

Ada dua alasan yang paling menonjol untuk menjustifikasi akan tingginya tingkat radikalisme di Indonesia:

Pertama: Semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam proses pengambilan kebijakan nasional, khususnya dalam upaya “islamisasi” kehidupan bernegara dan berbangsa. Semaraknya partai-partai yang berasaskan Islam, gerakan non politis yang berbasis Islam semakin agresif, serta tingginya kesadaran mengekspresikan kehidupan Islami seperti jilbab, bank-bank syari’ah, asuransi Islam (takaaful), dll. Kekhawatiran terbesar adalah adanya upaya-upaya dari kalangan apa yang mereka sebut sebagai Muslim radikal untuk menjadikan Indonesia sebagi negara Islam.

Kedua: Tingginya tingkat resistensi terhadap berbagai kebijakan Amerika, khususnya yang berkenaan dengan dunia Islam dan Timur Tengah. Bagi kebanyakan mereka, menentang kebijakan Amerika adalah symbol radikalisme, ekstremisme dan tidak jarang mengarah kepada tuduhan terorisme. Maraknya demonstrasi dari kalangan aktifis Muslim dalam mengekspresikan resistensi tersebut, dianggap sebagai bentuk “kekerasan” yang tidak bisa ditolerir.

Kedua alasan di atas perlu dicermati, sehingga tidak menimbulkan sebuah kesimpulan yang keliru. Betulkah bahwa semakin tingginya tingkat partisipasi Muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk tumbuhnya berbagai partai yang berasaskan Islam, dapat dijadikan barometer radikalisme atau ekstremisme? Betulkah bahwa semaraknya “islamisasi” kehidupan baik pada tataran pribadi maupun pada tataran sosialnya seperti semaraknya pemakaian jilbab, semaraknya majelis ta’lim, semakin ramainya masjid dengan kegiatan-kegiatan pemuda, bank-bank syari’ah atau takaful islami, dll., dapat dijadikan barometer radikalisme dan ekstremisme? Betulkah bahwa adanya keinginan dari kalangan umat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dianggap sebagai gerakan radikal dan ekstrim? Betulkah bahwa maraknya demonstrasi menentang berbagai kebijakan Amerika dapat dianggap sebagai gerakan radikal atau ekstrim?

Sungguh sangat keliru jika semaraknya umat Islam kembali menjalankan agamanya lalu dituduh radikal atau ekstrim. Atau kalau memang yang demikian adalah barometer radikalisme dan ekstrimisme, maka ekstrimisme dan radikalisme dapat disamakan dengan islamisme. Yaitu semangat kaum Muslim untuk kembali melaksanakan ajaran agamanya secara kinsisten dan jujur. Maraknya pemakaian jilbab, pengajian, tingginya tingkat partisipasi jama’ah di masjid-masjid, dll., adalah indikasi kesadaran beragama. Untuk itu, jangan sampai fenomena tersebut dijadikan barometer untuk mengukur tingkat radikalisme dan ekstrimisme suatu bangsa. Di negara-negara ketiga non Muslim, seperti di Amerika Latin dan Tengah, tingkat partisipasi keagamaan masyarakat masih cukup tinggi. Gereja-geraja masih ramai dan orang tua masih ketat mengajarkan nilai-nilai agamanya kepada anak-anak mereka. Tapi pernahkan kita dengar, bahwa mereka menjadi sebuah ancaman? Bahkan jika anda menginjakkan kaki di airport Nikaragua, salah satu negara Amerika Tengah, anda dengan mudah melihat motto negara tersebut: “Jesus is Lord of the country”.

Keinginan masyarakat Muslim untuk bangkit menjalankan ajaran agamanya, sesungguhnya suatu kesadaran baru yang perlu disyukuri. Di Amerika Serikat, justeru salah dilemma peradabannya adalah karena agama dari masa ke masa semakin sakarat. Tuhan bagi kebanyakan di negeri tersebut tak lebih dari sebuah sosok yang tak berdaya di rumah-rumah ibadah, dan perlu dijenguk sehari sepekan. Bahkan akibat merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap agama (baca kristiani), di tengah gencarnya berbagai upaya untuk merintangi laju perkembangan Islam di Amerika, kaum Muslim justeru giat mengumpulkan dana untuk membeli bebera gereja yang akan dijual. Dalam pandangan Islam, semakin agama ini diimani dan dipraktekkan akan semakin meciptakan ketentraman hidup, baik pada tataran individu maupun pada tataran sosialnya. Sehingga semaraknya kehidupan beragama di Indonesia tidak dianggap sebagai “threat” (ancaman), melainkan sebuah kesadaran (conscience).

Adapun keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas bernegara, sesungguhnya adalah fenomena biasa yang dapat terjadi di mana saja. Manusia adalah makhluk yang secara fitrah memiliki kecenderungan ideologis. Ideologi yang diyakininya akan dimenangkannya dalam berbagai fora kehidupannya, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pandangan demokratis, kecenderungan ini sesungguhnya bukanlah suatu kesalahan apalagi ancaman. Melainkan sebuah proses demokrasi yang terjadi. Untuk itu, keinginan sebagian masyarakat Muslim untuk menjadikan Islam sebagai asas berbangsa dan bernegara adalah keinginan dan cita-cita yang sah-sah saja dalam pandangan demokrasi, selama ditempuh dengan cara-cara elegen pula. Dan saya yakin, partisipasi umat Muslim dalam proses kehidupan berbangsa adalah cara pendekatan yang paling elegan untuk mencapai cita-cita tersebut.

Lalu dari sudut mana sehingga keinginan dan cita-cita tersebut dianggap radikalisme atau ekstrimisme? Saya justeru menilai, penentangan kepada keinginan tersebut secara tidak demokratis, misalnya dengan manipulasi informasi dan ketidak jujuran dalam melemparkan tuduhan, adalah bentuk radikalisme dan ektrimisme pada sisi yang lain. Sehingga pelemparan tuduhan radikalisme dan ekstrimisme justeru merupakan justifikasi terhadap radikalisme dan ekstrimisme sekaligus. Peperangan terhadap radikalisme dan ekstrimisme justeru dilakukan dengan cara-cara eksrtim dan radikal.

Adapun tingginya tingkat resistensi kepada Amerika, sesungguhnya perlu dilihat dari berbagai sudut. Penglihatan ini pula perlu diikuti dengan sebuah kesadaran, bahwa cara-cara yang mereka lakukan merupakan cara-cara umum yang dilakukan hampir di mana saja di dunia ini. Ketika kita melihat demonstarsi di Jakarta dengan tema menentang kebijakan luar negeri Amerika di Timur Tengah, khususnya dalam masalah konflik Palestina-Israel, maka perlu disadari bahwa hal tersebut adalah reaksi dari sebuah kenyataan yang ada. Kesalahan tidak berada pada aksi atau reaksi itu sendiri, tapi ada pada kenyataan yang menjadikan timbulnya reaksi tersebut. Setiap kejadian ada konteks dan latar belakangnya. Maka seharusnya rekasi-reaksi seperti ini juga dilihat pada konteks dan hal yang melatar belakanginya.

Jadi bukan karena radikalisme atau ekstrimisme sehingga terjadi resistensi dalam bentuk demonstrasi, melainkan karena adanya ketidak puasan terhadap berbagai kebijakan luar negeri Amerika yang bersentuhan langsung dengan perasaan umat. Sehingga untuk merespon terhadap fenomena tersebut diperlukan keinginan untuk merespon konteks dan latar belakangnya. Apalagi, reaksi semacam ini juga sering terjadi di berbagai negara Eropa dan bahkan di Amerika sendiri. Perbedaannya, belum kita dengar bahwa demonstrasi seperti ini di Eropa atau yang di Amerika adalah bentuk radikalisme dan ekstrimisme yang mengancam. Tiga minggu silam, tidak kurang dari 100.000 warga Amerika, Muslim dan non Muslim berkumpul di ibu kota Amerika, Washington DC, melakukan rally menentang kebijakan luar negeri Amerika yang sangat mendukung penjajahan Israel di Palestina. Tapi belum kita dengarkan bahwa rally tersebut adalah indikasi tingginya tingkat pertumbuhan radikalisme dan ekstrimisme di Amerika Serikat.

Untuk itu, ada baiknya barangkali, jika kita kembali merenungkan apa sesungguhnya di balik dari berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia. Tuduhan radikalisme atau ekstrimisme terhadap kelompok-kelompok Islam di tanah air, apakah betul telah mengenai sasaran atau justeru tuduhan tersebut menyulut sesuatu yang tidak pernah ada. Selain itu, akankah lebih dihargai jika berbagai terminology yang dilemparkan dapat diperhatikan konsekwensi akhirnya. Jangan-jangan “islamisme” atau kesadaran suatu bangsa untuk kembali kepada kehidupan beragama justeru dituduh sebagai radikalisme atau ekstrimisme yang mengancam. Kalau ini terjadi, maka tuduhan tersebut dapat dicurigai sebagai upaya untuk mematikan peranan agama dalam kehidupan manusia. Dan ini berarti, tanpa disadari semangat atheism kembali dihidupkan justeru oleh mereka yang anti atheism.

Syamsi Ali

16 Mei 2002

Oleh: saiful bahri | November 20, 2008

Menelisik Sejarah Zionisme

SEJARAH ZIONISME

Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sering menjadi musuh bagi siapa saja. Sepanjang sejarah, mereka pun menjadi bangsa “yang terusir”, semenjak mereka enggan memasuki Palestina beberapa abad silam sebelum masehi. Padahal dua orang terbaik mereka mendukung perintah wahyu yang di bawa Nabi Musa as. Namun mereka bersikeras menolak untuk memasuki Palestina. (QS.5: 20-26) Padalah jika mereka lakukan itu, mungkin akan ada cerita lain yang lebih sejuk.

Adapun saat ini, mengapa terkesan seolah bangsa Yahudi “menguasai” dunia. Tulisan berikut tidak dimaksudkan untuk membesar-besarkan mitos ini. Namun bisa kita jadikan titik tolak untuk memahami musuh yang selalu membenci umat Islam. Sehingga kita pun bisa mengatur strategi melawan konspirasi mereka. Ketika kita merasa sedang “kalah”, kita tidak pesimis tanpa tahu mengapa kita bersikap demikian. Ketika kita ingin bangkit dari ketertindasan, kita pun optimis. Namun optimisme dengan kesadaran mengapa kita perlu optimis

Konspirasi Yahudi, secara umum tak bisa dilepaskan dari mazhab dan ideologi NURANIYYIN (The Illuminati) yang berarti “pembawa cahaya”, “mencerahkan dunia”, yang dibesarkan dan dipopulerkan oleh Prof. Adam Weishaupt. Seorang guru besar teologi di Universitas Ingoldstat, Bavaria.

Mereka merekrut tokoh-tokoh terkemuka dunia untuk merealisasikan mazhab mereka; Syetan Menguasai Dunia. Sebuah slogan yang diusung aliran ini. Mazhab ”pencerahan” ini menafikan segala bentuk aturan:

1. Aturan kebangsaan

2. Aturan hukum waris

3. Aturan Kepemilikan pribadi

4. Aturan ikatan suci keluarga

5. Sebagai pengantar untuk membumihanguskan agama dari kehidupan manusia. Karena manusia bebas dengan akalnya, maka tak perlu lagi diberi aturan.

Kemudian dikembangkan bahwa tak ada yang layak memimpin dunia kecuali mereka. Sebuah paham rasisme fanatik. Dab permulaan konspirasi ini muncul dan dikendalikan secara sentral dari Frankfurt (Jerman)

Sebelum kita melihat konspirasi mereka, ada baiknya kita mengetahui bahwa bangsa Yahudi menjadi bangsa terusir dari berbagai negara di Eropa. Karena mereka sering menjadi sumber masalah, selalu menerjang aturan yang dibuat dan berlaku.

Tahun 1253 Yahudi terusir dari Perancis karena mereka selalu menyalahi aturan kerajaan, kemudian mereka mengungsi ke Inggris. Lalu diikuti negara lain, tahun 1306 Prancis mengadakan pembersihan lagi dari Yahudi bekerja sama dengan pemerintah Inggris, Siksonia tahun 1348. Kemudian diikuti Hongaria tahun 1360, Belgia tahun 1370, Slovenia tahun 1380, Austria tahun 1420. dan akhirnya dari Spanyol tahun 1492.

Juga pada tahun 1495 M mereka diusir dari Lituania, tahun 1498 dari Portugal, tahun 1540 dari Italia kemudian tahun 1551 M dari Bavaria.

REVOLUSI INGGRIS (1640-1660 M)

Raja Edward I Raja Inggris Pertama dianggap oleh bangsa Yahudi melakukan kesalahan terbesar mengusir dan menyengsarakan bangsa Yahudi. Sehingga mereka pun terlunta-lunta mencari pengungsian. Kemudian para pemodal dan pengusaha kaya Yahudi yang belum ketahuan identitasnya berkumpul (Mereka tersebar di Perancis, Belanda dan Jerman). Ingin menjadikan Inggris sasaran konspirasi pertama mereka. Sebagai jalan untuk memudahkan eksistensi Bangsa Yahudi berikutnya. Saat itu bangsa Yahudi tersebar dan hidup terasing dari penduduk pribumi di negara-negara yang menjadi pengungsian mereka.

Langkah pertama mereka adalah dengan menimbulkan kekacauan yang timbul dari permusuhan intern antara orang-orang Inggris. Kelompok aristokrat dan kapitalis dengan para buruh. Kemudian membuat jarak antara kerajaan dan gereja.

Setelah itu mereka mengelompokkan orang Inggris menjadi Protestant dan Katolik. Protestant pun terbagi menjadi : Fundamentalis dan Liberal.

Ketika konflik ini muncul ke permukaan para spionase the illuminati rapat di Belanda guna mendukung oposisi Inggris, Oliver Cromuell. Inilah cikal bakal konspirasi munculnya Revolusi Inggris (1640-1660 M). Mereka benar-benar ingin meledakkan dendam mereka terhadap Inggris. Sebagai jalan menguasai dunia.

Tahun 1649 Cromuell menyerbu Irlandia (Bergejolaknya konflik Inggris Irlandia tidaklah bisa dipisahkan dari sejarah revolusi Inggris)

Tahun 1651 Salah seorang perwira Inggris ingin mendongkel Cromuell, namun gagal. Sebagai balasannya ia di hukum mati.

Tahun 1652 Inggris di adu dengan Belanda sehingga terjadi peperangan.

Tahun 1654 Inggris memperluas peperangan dengan sens kolonialismenya

Tahun 1657Cromuell mati dan diganti anaknya. Yang juga tak jauh berbeda dengan bapaknya.

Serta banyak peristiwa yang kemudian menjadi pembuka bagi Revolusi Perancis tahun 1789 M.

Jika kita mengikuti berbagai peristiwa tersebut dari sejak terbunuhnya Charles I (raja Inggris waktu itu) tahun 1649 sampai terbentuknya Bank Inggris tahun 1694, hutang negara membengkak. Sehingga stabilitas negara kacau. Perekonomian morat-marit.

Dalam kurun waktu yang tak lama para pemodal Yahudi yang tersebar di Belanda, Perancis dan Jerman plus para pelaku di Inggris berhasil mengeruk keuntungan dan menguasai perekonomian Inggris dengan angka yang fantastis waktu itu. 1 juta 250 ribu Poudsterling. Sebuah jumlah yang besar saat itu.

Namun keberadaan mereka tetap belum diketahui oleh penduduk pribumi. Sebuah konspirasi rahasia!

REVOLUSI PERANCIS (1789 M)

Inggris bukan tujuan akhir mereka. Hanya sebagai permulaan dan percobaan saja. Setelah berhasil dengan gemilang melaksanakan konspirasi atas Inggris mereka hendak menyerbu Perancis, negara Eropa yang pertama menyusahkan mereka bekerja sama dengan Inggris saat-saat pengusiran Yahudi.

Saat itu mulai dikembangkan wacana bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terpilih. Sedang orang selain Yahudi adalah budak yang tak layak memimpin dunia. Mereka memulainya dengan hegemoni ekonomi. Ini terlihat dari jalannya perekonomian Inggris. Terutama pasca revolusi.

Langkah pertama mereka, melalui rekrutmen anggota freemasonry. Perekrutan ini tidak tanggung-tanggung melibatkan para tokoh masyarakat dan pemuka kerajaan. Menggunakan senjata “perempuan” dan uang serta dukungan terhadap jabatan; seperti biasanya

Kedua: Dengan menerobos ruang-ruang diplomasi.

Ketiga: Perang terhadap ekonomi kerajaan

Keempat: Memperalat generasi muda. Bagi mereka, akan lebih mudah jika menggunakan pemuda sebagai pelaku revolusi. Terutama pemuda yang akhlaknya berhasil dilucuti dari hati nurani dan perilaku kehidupan mereka.

Kelima: Menimbulkan konflik dan isu revolusi kaum tertindas. Melawan dan mendongkrak borjuisme. Tentunya para buruh dan orang-orang miskin mereja jadikan kendaraan dan mereka peralat demi kepuasan dan kepentingan mereka.

Setelah itu mereka mendongkrak Perancis. Dengan cara yang lebih keras, lebih konspiratif dan dengan sensasi yang dahsyat.

Bauer Roth Schild pada tahun 1773 masih berusia 33 tahun. Milyader yunior keluarga “Roth Schild” Embrator Keuangan Yahudi di Jerman ini mengumpulkan 12 orang pengusaha Yahudi kaya di Eropa. Mereka berkumpul untuk mengevaluasi kelambatan jalannya Revolusi Inggris yang memakan usia mereka selama dua dasa warsa.

Perancis sebagai sasaran berikutnya. revolusi ini dimaksudkan sebagai jalan mengakarnya Freemasonry di jantung Eropa. Dan di kota Ingoldstadt, Bavaria (Jerman), Pusat pengendali Freemasonry mereka merencanakannya dengan matang.

William Gey, seorang Perwira Tinggi Jerman, menceritakan bagaimana mereka merangkul, merekrut dan memasukkan beberapa tokoh penting, terpandang, kaya dan berpengaruh kedalam barisan mereka. Tanpa mereka sadari, sampai mereka terjebak dalam permainan Iblis. Mavia freemasonry.

Sebut saja misalnya, Mirabo, seorang bangsawan yang mempunyai kaitan erat dengan Douq. Yang direncanakan sebagai tunggangan untuk menggolkan Revolusi Perancis.

Mirabo seorang pemuda pemabuk dan tak berbudi baik. Kesempatan ini digunakan oleh “The Illuminati“. Sehingga Mirabo terjebak hutang yang banyak. Mirabo juga terjebak dengan seorang perempuan Yahudi cantik, sehingga hati Mirabo telah benar-benar takluk.

Berikutnya Mirabo dimasukkan ke dalam “The Illuminati“. Tentunya dengan beberapa syarat yang berat dan ketat disertai ancaman bunuh jika terjadi pengkhianatan. Mirabo pun tak mampu mengelak karena ia terlilit berbagai masalah dan hutang.

Tugas Mirabo selanjutnya, membujuk Douq Dur Layyan untuk menjadi pemimpin Revolusi Perancis. Tentu saja mereka berdua tidak diberitahu rencana “The Illmuninati” untuk menjagal raja serta beberapa pembesar kerajaan. Mereka hanya tahu revolusi ini sebagai cara untuk membersihkan politik dan agama dari khurafat dan ototiter penindasan.

Setelah terjadi revolusi tahun 1789 M. Misi utama mereka mulai dilanjutkan yaitu untuk memperkuat jaringan freemasonry.

Lewat Philip Douq Durlayyan Freemasonry Perancis masuk salah satu bagian Freemasonsy Timur Besar yang dikendalikan oleh Prof. Adam Weishaupt. Tahun itu (1789) tak kurang dari 2000 distric di Perancis berhasil dijaring. Beranggota sekitar 100.000 orang.

Seperti biasanya goncangan ekonomi merupakan pintu untuk menggoyang Perancis. Tahun 1780 saja hutang negara sudah membengkak 800.000 Lira (sekarang Frank). Dan embrator keuangan Yahudi “Roth Schild” mengulurkan tangan kehancuran.

Setelah Revolusi Perancis benar-benar “meletus”, maka sasaran berikutnya adalah mengendalikan hegemoni atas kerajaan. Perancis benar-benar dipegang. Segala kebijakan mesti harus mereka kuasai dan kendalikan.

Namun “kerahasiaan” ini tak selamanya benar-benar bisa dipendam dan diredam. Sebut saja penulis biografi Napoleon asal Inggris menyebutkan, bahwa tokoh kunci dan pemain utama dalam revolusi Perancis adalah wajah-wajah asing.

Dan boneka revolusi ini benar-benar mengeksekusi orang-orang penting Perancis. Tahun 1782, di penjara Paris saja tak kurang dari 8000 orang tahanan “dibantai”.

NAPOLEON BONAPARTE

Sosok ini pada tahun 1804 benar-benar telah menjadi seorang Kaisar besar setelah berhasil menusuk jantung-jantung Eropa dan berkuasa di sana.

Beriringan dengan itu, hegemoni keuangan keluarga “Roth Schild” telah benar-benar menguasai ekonomi Perancis, Jerman, Belanda dan Inggris.

Jika kemudian Napoleon menunjuk saudaranya, Jozef sebagai raja di Napoli, Louis menjadi raja Belanda serta Gerum raja Westfalia. Maka Natsan Roth Schild menunjuk empat saudaranya menjadi “raja” keuangan di Eropa. Ketika itu mereka memilih Swiss sebagai tempat “persembunyian” baru mereka. Dengan Jeneva sebagai pusat kendali baru.

Dan Napoleon menjadi boneka baru bagi “Roth Schild”. Salah satu bukti keterkaitan ini, pada tahun 1798, Napoleon mengajak bangsa Yahudi untuk “kembali” ke Palestina, mengambil hak mereka.

Namun, Napoleon hanya sebuah boneka. Sejarah menyebutkan bahwa tahun 1814 ia benar-benar menyerah. Mahkota kerajaan terlepas darinya. Konspirasi Roth Schild menyedotnya dalam kekalahan melawan Jerman. Mereka bertujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, meskipun seorang Napoleon harus dikorbankan.

Di samping faktor Jerman yang mulai bangkit melalui momentum persatuan menjadi federasi yang kuat. Terlebih setelah penguasa Jerman saat itu meminta bantuan kepada Khilafah Ustmaniyah. Maka 200 pakar strategi dikirim khalifah dari Bosnia. Dan Goethe seorang menteri kerajaan saat itu menjadi jembatan yang punya hubungan sangat dekat dengan orang-orang Turki Usmani.

REVOLUSI AMERIKA

Dari beberapa negara Eropa yang mereka kuasai, ekonomi Inggrislah yang paling parah. Mereka benar-benar menjelma menjadi kekuatan ekonomi tak terlawan di Inggris, pasar ekonomi terbesar di Eropa saat itu. Rakyat Inggris pun bias merasakan kelicikan konspirasi mereka. Ketika itu Amerika masih berada di bawah penjajahan kerajaan Inggris.

Rencana mereka selanjutnya adalah menghancurkan dan memecah-mecah United Kingdom Inggris, kerajaan-kerajaan yang berada di Inggris beserta koloninya mesti dipecah-pecahkan. Dengan demikian perputaran uang yang dibutuhkan untuk biaya perang akan menyebabkan mereka mengeruk keuntungan yang besar dari pertikaian tersebut.

Hutang Inggris membengkak menjadi 16 juta Pound tahun 1698, dan membengkak hebat pada tahun 1815 menjadi 885 pound.

Tahun 1775 kerajaan Inggris gonjang-ganjing, terutama Luxenton dan Concord.

Tahun 1776 Konggres Amerika di Philadelphia menunjuk George Washington sebagai pemimpin angkatan udara dan laut Amerika kemudian memberanikan untuk memproklamirkan pelepasan dan kemerdekaan dari Kerajaan Inggris.

Selama peperangan dan revolusi yang terjadi ditubuh kerajaan-keraan Inggris, perputaran uang kerajaan “Roth Schild” membuahkan keuntungan yang berlipat-lipat.

Tahun 1781 Inggris pun menyerah tanpa syarat.

Tahun 1783 Amerika telah benar-benar merdeka, dalam sebuah perjanjian damai di Paris.

Dan rakyat Inggrislah yang paling dirugikan. Karena mereka semakin banyak hutang. Sehingga setir ekonomi negara benar-benar mutlak ditangan Bangsa Yahudi.

Saat itu, mulailah sejarah Amerika yang terlahir, menjadi wajah baru di akhir abad 18.

Hegemoni ekonomi ini selalu memakan tumbal. Dan tumbalnya berupa peperangan. Amerika pun tak lepas dari rekayasa dan konspirasi perang saudara. Ketika Inggris beserta Perancis kembali dipanasi semangat koloninya untuk kembali memegang Amerika Utara. Kerajaan Inggris menyanggupinya. Amerika Utara dijadikan jalan sebagai kendali hegemoni keuangan Amerika.

Kendali keuangan Amerika Serikat (mantan koloni Inggris) diwujudkan melalui kebijakan keuangan sendiri.

Natsan Roth Schild pada tahun 1815 menjadikan emas untuk menutup uang kertas yang beredar di Eropa. Ia sangat kesulitan mereka merampas hegemoni ekonomi atas Amerika Serikat dikarenakan tutup uangnya menggunakan perak. Saat itu Inggris memiliki cadangan emas cukup banyak sedang Amerika Serikat memiliki cadangan perak yang melimpah.

Bank Dunia “Roth Schild” di Jeneva merasa perlu turun tangan langsung untuk memberdayakan ekomoni Amerika demi menguasai ekonomi dunia selanjutnya.

Tahun 1899 Wakil-wakil Roth Schild di seluruh dunia mengadakan konferensi di Inggris untuk merumuskan monopoli ekonomi dunia. Menghasilkan perlunya siasat “PENIMBUNAN“.

Pada akhirnya kebijakan ekonomi Amerika Serikat pun mereka pegang. Dari sejak menyusupkan orang di pemerintahan, hingga menteri keuangan sampai pada mengatur undang-undang keuangan. Kemudian menjadikan uang dollar sebagai simbol hegemoni dunia. Lengkap dengan filosofi perjuangan bangsa Yahudi. Saat itu orang-orang Yahudi yang berhijrah ke Amerika sudah mulai berani menampakkan hidungnya.

Tepatnya tahun 1882, orang-orang Yahudi yang bersembunyi di Eropa Timur mulai menyebar ke seluruh dunia dan banyak diantara mereka yang menetap di Amerika. Sebagian mendirikan kelompok Pecinta Yahudi di Rusia.

REVOLUSI RUSIA – LENIN (1917)

Pemerintah Rusia mulai kerepotan dan merasakan desakan Yahudi. Akhirnya pada tahun 1834 mereka memutuskan harus mencampur bangsa Yahudi di sekolah-sekolah umum. Untuk menghindari eksklusifisme Yahudi. Namun doktrin Yahudilah yang menjadikan perkiraan mereka terbalik. Justru anak-anak Yahudi dengan sistem ini menjadi lebih banyak wawasannya di banding orang-orang Rusia pada umumnya.

Pelahan namun pasti, Bangsa Yahudi mulai hijrah ke Rusia. Dan mereka memasuki kebijakan pendidikan. Sehingga rakyat dan pemerintah Rusia tambah semakin merasakan intervensi terlalu dalam yang menyebabkan berbagai kerancauan negara.

Berikutnya disusunlah rencana revolusi. Hal ini dimulai dari berbagai pembunuhan tokoh-tokoh penting serta mendukung oposisi-oposisi keras.

Terlebih bangsa Yahudi terprovokasi buku Theodor Hertzel (Wartawan Austria kelahiran Budapest) -Jewish Back to Israel Movement- tahun 1896 dicetak dalam lima bahasa.

Saat itulah sejarah menyebutnya sebagai Gerakan Zionisme. (silsilah gerakan zionisme kuno yang lahir akibat terusirnya Yahudi di beberapa negara Eropa).

Kembali ke Rusia yang mulai panas sejak 1900. Ketika Partai Sosialis Buruh yang menjadi kendaraan Revolusi melancarkan teror-terornya. Tokoh pentingnya, Lenin yang sempat ditangkap pihak kerajaan hingga mengakhiri masa penjara tahun 1897, lari ke Eropa.

Tahun 1905 revolusi berdarah di Pettersburg. Lenin berada di Jeneva namun tak menghalanginya untuk mengobok-obok Rusia dengan tangan-tangan anak buahnya. Termasuk menjebak Rusia dalam perang melawan Jepang tahun yang sama 1905.

Kondisi kekaisaran Rusia semakin parah dengan provokasi partai-partai pro revolusi. Bahwa keruwetan ekonomi dan berbagai peristiwa anarkis serta otoritas kerajaan, hanya ada satu solusi. Yaitu Revolusi.

Kekaisaran Nikola, Pasca 1905 benar-benar ambruk. Sistem kerajaan dan kekaisaran mutlak diubah menganut sistem kerajaan dengan mazhab Inggris. Majelis Duma mulai bekerja. Perdana Menteri Stolypin memegang pemerintahan.

Murid kepercayaan Lenin, Stalin juga berperan aktif dalam merencanakan Revolusi Rusia ini.

Akhirnya kesempatan itu datang tahun 1917. Ketika kondisi sosial, ekonomi dan kerajaan telah benar-benar morat-marit. Dan para buruh serta pengangguran serta orang-orang muda Rusia bisa dikendalikan dengan issu revolusi.

Namun sangat menyedihkan, orang-orang penting pro revolusi yang menghantarkan Lenin ke tampuk pimpinan pada akhirnya mereka pun dihabisi Lenin, setelah kepentingannya tercapai. Lenin sendiri sebelum tutup usia 1924 tercampak sebagaimana Napoleon. Hanya sebagai alat orang-orang Yahudi belaka.

Adapun Yahudi Rusia pasca 1918 terbagi menjadi dua. Sebagian adalah orang-orang revolusi yang bermazhab Marxisme yang berambisi menjadikan Rusia sebagai negara sosialis besar. Sebagian lagi berusaha kembali ke Palestina (merekalah orang-orang Zionisme)

Murid Leninlah, Stalin -lelaki kelahiran Georgia 1879- yang melanjutkan obsesi diktator itu. Ia mulai terkenal setelah Lenin sakit-sakitan tahun 1922. Sehingga dinilai sudah tak layak memegang amanat revolusi.

Kemudian dibentuklah pemerintah pengganti sementara, terdiri dari tiga orang. Stalin, Kaminiev dan Zienofev. Dua orang terakhir adalah tangan kanan Lenin.

Pada sebuah pembukaan munas Partai Komunis di Moskow, Zienofev dipandang paling senior diantara ketiganya. Maka orang-orang partai menawarinya untuk menyampaikan pidato sambutan. Leninlah yang selama ini melakukannya tanpa pengganti siapapun. Zienofev terlihat kurang cakap. Stalin lah yang kemudian naik, memimpin rapat dan menyampaikan pidato. Jadilah ia orang nomor satu sampai meninggalnya Lenin 1924.

Awal tahun 1926 saingan utama Stalin, Zienofev disingkirkan dari Kantor Federasi. Menyusul kemudian pertengahan tahun Kaminiev dan Trotsky didepak.

Tahun 1927 orang-orang tersingkir ini mengadakan pemberontakan. Namun sang diktator baru lebih kejam dari Lenin. Mereka dikubur bersama impian mereka, pengikutnya diasingkan dalam proyek raksasa kerja paksa.

Kemudian Stalin pun hendak merambah Eropa. Dimulai dari Spanyol, atas saran dan bisikan “The Illuninati” yang punya kepentingan atas Spanyol.

PERANG DUNIA I (1914-1917)

Teori yang diterapkan sebagaimana teori perpindahan hegemoni ke Amerika dari Inggris. Serta menimbulkan kekacauan dunia. Untuk mengeruk keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya. Dengan banyaknya peperangan, kebutuhan akan uang untuk mendanai peperangan semakin besar. Maka “Roth Schild” lah yang paling diuntungkan.

S T A L I N

Adapun Stalin mendapat dukungan “The Illuminati“. Kebengisan dan kediktatoran Stalin juga yang membantu program rahasia Freemasonry.

Komunisme dan Marxis lekat dengan Stalin. Sampai akhir hayatnya ia begitu getol menyebarkan mazhabnya tersebut. Rusia (Uni Soviet) telah berhasil ia merahkan. Bahkan dunia tak bisa mengelak dari pengaruh komunisme dan sosialisme ketika itu.

Stalin merancang beberapa ekspansi berikutnya, setelah berhasil di beberapa daerah di Soviet Selatan. Spanyol adalah sasaran ekspansif selanjutnya.

Pasca Perang Dunia I, kemakmuran ekonomi berpihak ke Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Sebagai pihak yang memetik kemenangan. Meski sesungguhnya embrator “Roth Schild” merupakan pihak yang paling diuntungkan.

Siasat politik dalam negeri dengan mengatasnamakan kebersamaan, Stalin membuat proyek sawah umum. Sayangnya program ini terlalu dipaksakan. Tak kurang dari 5 juta orang tewas karena berhadapan dengan hukum mati akibat pembangkangan mereka atau karena tak kuat melawan kelaparan. Hanya kediktatoran Stalin lah yang sanggup melakukannya.

Spanyol resmi dijadikan sasaran “The Illuminati”. Maka partai komunis disana diperkuat. Tiga pemimpin teras partai komunis ini (Morin, Sergis dan Nien) telah menamatkan studi komunisme dan revolusi di sebuah yayasan Lenin di Moskow. Khususnya Morin yang memiliki sejarah hidup penuh revolusi dan tantangan penjara serta pengasingan sejak usia muda.

Di luar dugaan, Morin cs berseberangan kebijakan dengan Stalin. Bahkan mereka menuduh Stalin hanya memperalat Marxisme demi nafsu ekspansi dan haus penindasan belaka. Stalin pun berang dan berusaha segera mengakhiri cerita mereka.

Pertikaian ini akhirnya membuka kedok komunisme sebenarnya. Bahwa ternyata revolusi Spanyol serta perang saudara di negeri itu adalah hasil dari konspirasi Komunisme dan tangan-tangan rahasia “The Illuminati“. Morin dan Sergis membuka mulut atas konspirasi ini.

SPANYOL

Tahun 1923-1936 Spanyol mirip Kanada saat itu. Sebagian penduduk berbahasa Inggris, sebagian lagi berbahasa Perancis. Adapun Spanyol, ada kelompok Basque yang memiliki adat dan bahasa tersendiri, berpegang teguh dengan agama katholik mereka. Basque berkeyakinan sebagaimana orang Kanada berbahasa Perancis bahwa kemerdekaan adalah hak mereka. Mereka ingin memisahkan diri.

Sementara itu sebagian besar rakyat Spanyol telah terpengaruh oleh gerakan komunisme yang didoktrinkan oleh Stalin dan para alumni Yayasan Lenin.

Perang Saudara di Spanyol mulai tahun 1936. Spanyol terbagi menjadi dua blok.

1. Kaum Loyalist yaitu semua kelompok kiri yang menginginkan Spanyol bergabung dengan USSR (Uni Soviet)

2. Kaum Nasionalist, yaitu mereka yang menginginkan liberalisme mutlak atas Spanyol meski dengan sistem diktator seperti Stalin. Seorang Jendral yang baru naik daun, Franco berada di blok ini.

Terpecahnya komunis menjadi dua golongan serta beberapa kelompok lain menelan korban jiwa tentu tak dapat dielakkan. Ribuan nyawa digadaikan. Sepertiga perwira Spanyol dibantai.

Obsesi kaum kiri yang bernafsu mendirikan Uni Soviet untuk memayungi dunia benar-benar menutupi naluri kemanusiaan. Yahudi bertepuk tangan. Tangan mereka tak perlu basah oleh darah. Mereka hanya memetik buah dari kekejaman anak buah Lenin dan Stalin itu.

Di samping itu, bukan hanya Stalin yang mendapat dukungan The Illuminati. Jerman pun diam-diam dipersenjatai oleh “Roth Schild” dan didekati wakil The Illuminati di Eropa.

Isu yang dicoba untuk disebarkan bahwa Jerman tidak akan kalah dalam Perang dunia I jika tidak ada pengkhianatan. Konspirasi AS,Perancis dan Inggrislah yang membuat mereka pasrah dengan keputusan “kalah” tersebut.

Prinsip inilah yang dijadikan orang-orang komunis untuk membangun kembali Jerman, menjadi sebuah mazhab baru yaitu FASISME. Jerman harus menundukkan orang lain. Bangsa Jerman di atas segalanya. Kebalikan dari itu, sumber kerusakan zionisme dan komunisme mesti dituntaskan dari Eropa dan dunia.

Fasisme dikembangkan oleh Franco, Hitler dan Musolini. Mereka berusaha mengeluarkan negeri mereka dari ketergantungan ekonomi terhadap Inggris, Perancis dan AS. Hutang mereka tekan, dan menggantinya dengan income dalam negeri. Ini diikuti oleh Jepang, Itali dan Spanyol.

Fasis merupakan tandingan baru. Dan dari madzhab ini bangsa Jerman juga para tetangganya mengetahui beberapa konspirasi Yahudi yang bermain dibelakang komunis dan revolusi yang mengorbankan banyak nyawa anak manusia. Mereka kemudian berobsesi untuk menggulung AS, Inggris dan Perancis. Menghancurkan hegemoni Stalin dan komunisme di Eropa.

Maka bekerjalah Jepang, Itali dan Jerman dengan rencana ini. Sebagai permulaan, Nazi Jerman dibawah Hitler berobsesi juga untuk membersihkan Inggris dan AS dari mavia ekonomi Yahudi juga orang-orang Yahudi dari manapun. Ketika itu Hitler masih dipenjara, tahun 1934.

Adapun siasat politik Hitler berbeda dengan Stalin yang menjadikan Inggris menjadi musuh.

Hitler perlu patner kuat. Tak lain adalah kerajaan-kerajaan di Inggris. Namun pendekatan ini tak semudah yang Hitler kira. Meskipun Hitler menggunakan jurus memanas-manasi, bahwa Revolusi Rusia 1917 mengorbankan ribuan orang kristen yang dibantai.

Hitler, adalah seorang orator ulung yang pandai memprovokasi. Maka provokasi “Habisi Komunis dan Zionis” terus didengungkannya. Ia mengalami dan mengetahui kejinya konspirasi mereka. Karena itu ia menyerukan pembebasan ekonomi dari konspirasi mereka yang menggunakan alat “The Bank of International Settlemens” di Swiss. Hegemoni Roth Schild.

Hitler satu madhzab dengan Musolini juga dengan Franco, hanya saja yang terakhir mempunyai obsesi sendiri tentang Spanyol, tidak bergabung dengan Jerman dan Itali. Meski Hitler menggabungkannya dalam Fasis-nya.

Adapun Hitler yang telah mengambil hati orang Jerman, dibenturkan oleh “The Illuminati” dengan gereja, baik Katholik maupun Protestan yang menganggap Fasis sama dengan Komunis.

Jadilah TIGA kekuatan dibenturkan. (Kaum gereja, komunis dan fasis)

Sementara itu otoritas kekuatan Rusia, diam-diam menyokong persenjataan Jerman. Sedang Itali, di bawah Musolini telah menggerakkan kapal selam-kapal selamnya.

Franco yang memisahkan diri, mengurusi kerancuan negaranya pasca perang saudara sejak 1936.

Inggris sudah merasa beberapa kekuatan sedang mengincarnya. Ia perlu dukungan “moyang“nya, The Illuminati.

Waktu itulah tersebar dipenjuru Eropa “calo-calo setan” yang memperkeruh keadaan. Dengan uang suap, perempuan, pembunuhan, pencurian, menghalalkan segala cara untuk membuat keadaan yang sedang panas tambah berapi dan terbakar.

Propaganda Hitler ini disambut. Benturan dan konflik senjata dengan orang Yahudi dan Komunis terjadi, di Jerman. Hal ini kemudian di besar-besarkan menjadi sebuah MITOS. Hitler mengubur jutaan orang Yahudi. Bangsa yahudi perlu dikasihani. Diberi tanah untuk berlindung mereka. Supaya terlepas dari kekejaman diktator seperti Hitler.

Jiwa revolusioner Hitler digunakan untuk membenturkan kondisi politik antara komunis dan gereja di Jerman dan Inggris serta Itali.

PERANG DUNIA II

Inggris bersikeras untuk mempertahankan diri. Semantara Jerman dengan komando Hitler semakin beringas. Hanya saja Hitler masih tetap mempertahankan kerajaan Inggris, ia hanya ingin menundukkannya dibawah superioritas Nazi/Fasis Jerman, propagandanya ini diabadikan dalam bukunya Meim Kampf.

Awal tahun 1940, kekuatan bersenjata Jerman benar-benar merengsek Inggris. Hasilnya Inggris terdesak habis oleh obsesi dan ambisi Hitler. Namun sebenarnya Hitler masih bisa diajak untuk sedikit `bersabar` dengan perjanjian. Karena obsesinya untuk menundukkan kerajaan dan menjaga keutuhannya dituruti. Namun, The illuminati tidaklah menghendaki peperangan berubah menjadi sebuah “damai”. Mereka ingin mengubahnya menjadi perang hancur-hancuran.

Ketika Winston Leonard Spencer Charcel naik menjadi PM (aristokrat pro Yahudi Mantan Menhan 1911 dan MenWil Jajahan Inggris 1920), ia menginstruksikan untuk menyerang. Maka diserbulah kota-kota Jerman dengan bom udara. Demikian juga Perancis pun bergabung. Dengan alasan sederhana, karena Jerman menduduki Polandia. Bisa kebayang, kan? Hitler marah besar.

Lalu Stalin. Ke manakah dia?

Murid Lenin ini terkenal cerdas. Tiba-tiba terkesan bingung. Benarkah ia berada dalam barisan The Illuminati. Atau sekedar diperalat oleh mereka. Maka detik berikutnya ia mengetes keikhlasan mereka.

Stalin berniat bergabung dengan Jerman. Ia mencium bau pengkhianatan. Charcel, ternyata seorang boneka zionis “the Illuminati“. Alasan ia menggempur Jerman hanya beberapa titik militer saja karena sebuah perintah atasan. Untuk memenuhi keinginan konspirasi “The Illuminati” yang sedang diuji keikhlasannya oleh Stalin.

“Stalin,.. lihatlah. Kami masih bersama Anda. Jerman, terutama Jerman Timur masih tetap kami biarkan”.

Di pihak lain, para pemimpin teras Nazi tanpa sepengetahuan Hitler, ternyata bersekongkol untuk menghabisinya. Karena ia terlalu ambisius dan lamban dalam mengeksekusi Stalin dan Komunis. Ini juga merupakan siasat provokasi calo the Illmuninati. Untuk menarik simpati Stalin. Maka keputusannya bisa dilihat tawaran para pemimpin Nazi itu ditolak oleh pihak Inggris.

Nazi, memutuskan untuk menggulung Stalin, baru kemudian membumihanguskan Inggris dan Amerika dengan kerjasama Jepang dan Itali.

Tahun 1941 Jerman menyerang Rusia. Stalin pun kembali didukung oleh Inggris untuk menangkal bahaya Fasisme Hitler dan Musolini. Simpati Stalin semakin kuat. Demikian kira-kira The Illuminati menyangkanya.

Namun, Stalin semakin manjadi-jadi. Ia meminta fasilitas yang berlebihan. Tentunya dengan uang yang ia tahu kunci konspirasi mereka di sana. Stalin menjadi penonton sekaligus sutradara berbagai kerusuhan, sementara ia bersembunyi di Teheran.

Charcel, juga Rosevelt berhasil merangkul kembali Stalin. Mereka mengajak Stalin untuk menggempur habis Jerman, dengan janji keuntungan yang melimpah usai perang.

Adapun Stalin tetaplah seorang culas. The Illuminati kecolongan. Stalin tidak mau diatur. Ia bergerak dengan politik dan kemauannya sendiri. Karena Rusia (Uni Soviet) saat itu merasa kuat.

Inggris dan Perancis kuwalahan. Menunggu kebijakan baru dari Amerika Serikat. Sementara itu Jepang pun tak kalah ganasnya. Hanya saja momen Fasis ala Jepang ini kemudian dijadikan para pemegang kebijakan dan keputusan di AS. Peristiwa Pearl Harbour sebenarnya hanya sebuah peristiwa kecil. Kemudian dijadikan legalitas untuk menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menelan korban kemanusiaan yang maha dahsyat. Mengapa kedua kota ini? Nagasaki pun sebenarnya merupakan “kesalahan prediksi” informasi intelijen yang salah memprediksi.

Kok, tidak di Jerman yang saat itu lebih membahayakan?

Ini hanya sebuah siasat. Salah satu aset Roth Schild ada di sana. Juga terlalu spekulatif bila menjatuhkan bom di dekat pusat konspirasi mereka. Sedang Jepang tak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Di samping itu untuk menakut-nakuti Stalin. “Kembalilah ke jalan semula, Stalin. Jika Anda tak melakukannya, nasib Anda seperti Jepang!” Namun gertak sambal ini dilecehkan Stalin.

Stalin tetap saja dengan politik ekspansi militernya dengan semangat “merahnya”. Benar-benar anak The Illuminati yang salah asuhan. Apalagi bergaining Stalin dengan Tito (Yugoslavia) cukup kuat. Meskipun Tito akhirnya “cerai” dengan Stalin pasca Perang Dunia II, karena Tito masih loyal dengan The Illuminati.

Stalin bandel, meski ia sebenarnya minder dengan gertakan AS. Soviet belum mampu mengoptimalkan nuklirnya.

Stalin tutup usia sebagaimana seorang perampok biasa. Hitler pun hilang dengan legenda pembantaian jutaan Yahudi dan Komunis, yang hanya merupakan obsesinya saja.

Perang dunia berakhir dengan kecongkakan Amerika, Inggris dan Perancis. Tiga negara yang tak bisa melepaskan diri dari konspirasi The Illuminati.

TRAGEDI PALESTINA..

Berdirinya sebuah negara Yahudi adalah ibarat cerita fiktif. Obsesi mengumpulkan gelandangan kerdil dan pengecut semula merupakan dongeng belaka. Theodor Hertzel melontarkan ide realisasi impian bangsanya tersebut.

Tahun 1896, bukunya -Jewish Back to Israel Movement- dicetak dalam lima bahasa. Buku ini memuat rancang bangun modernitas tentang Zionisme yang bertujuan membangun sebuah negara yang dikhususkan untuk orang-orang Yahudi.

Beikutnya tahun 1897 Ia memimpin konferensi Yahudi sedunia di Swiss, sekaligus memimpin gerakan zionisme modern. Pasca konferensi Basle ini Zionisme internasional mendukung kependudukan bangsa Yahudi di Palestina. Dan pada tahun yang sama persatuan Yahudi Amerika berdiri.

Tahun 1901 Prof. Hertzel membujuk penguasa Turki Usmani untuk menyerahkan Palestina. Memberi tanah untuk bangsa Yahudi. Khilafah Usmaniyah menolaknya mentah-mentah.

Tahun 1903, Konferensi Yahudi VI sepakat dengan alternatif pendudukan di Afrika Timur.

Tahun 1904, Konferensi Yahudi VII menolak alternatif yang diberikan karena wilayahnya sangat tidak strategis menurut mereka.

Tahun 1909, Konferensi Yahudi IX menetapkan pengadaan kerjasama pembangunan pemukiman Yahudi di Palestina. Pada tahun yang sama organisasi militer Yahudi didirikan untuk menjaga daerah pemukiman.

Tahun 1917, Menlu Inggris, Arthur Balfour mengeluarkan statement terkenal. Bangsa Yahudi punya hak atas Palestina. Belakangan janji ini dikenal dengan Perjanjian Balfour.

Tahun 1918, Jerman dan Itali setuju dengan gagasan dan perjanjian Balfour. Presiden Amerika pun, Word Wilson mengirim surat ke rahib Yahudi menyetujui perjanjian Balfour.

Tahun 1919, bangsa Arab (Konferensi Palestina I) menolak perjanjian Balfour.

Tahun 1920, Inggris memproklamirkan penguasaan penuh terhadap Palestina, penyerangan Yahudi semakin meningkat. Inggris berada dibelakangnya.

Tahun 1921, Bangsa Yahudi mulai hijrah ke Palestina dan jumlahnya semakin meningkat. Diiringi perlawanan dari rakyat Palestina.

Dengan data singkat diatas kita mengetahui. Mengapa Palestina menjadi incaran. Selain nilai strategis, sejarah dan sekaligus berada di bawah koloni Inggris. Mereka pun merekayasa mitos Haikal Sulaiman di Masjid Al Aqsha.

Inggris dan Yahudi memiliki kaitan yang sangat kuat. Inggris tak lepas dari cengkraman pengaruh zionis. Demikian juga Amerika Serikat.

Tahun 1925 Universitas Ibrani di Al Quds didirikan, Balfour pun ikut hadir saat itu.

Tahun 1933, Konferensi Yahudi XVIII membahas pemindahan Yahudi ke Eropa. Mereka mulai merasakan ancaman kekuatan baru yang muncul selain kekuatan merah. Fasisme dan Nazi. Mitos berikutnya yang berkembang. Yahudi Jerman dihabisi oleh Nazi. Maka perlu diberi tempat berlindung. Ini sekedar teori untuk memudahkan lobi mereka mendapat dukungan ke Palestina.

Tahun 1935, Izzuddin al Qassam syahid dalam perang Qastel melawan imperialisme Inggris.

Tahun 1942, Konferensi Yahudi Amerika menghasilkan program Baltimour. Berisi ajakan membuka Palestina bagi pendatang Yahudi dan melepaskan campur tangan Inggris serta ajakan mendukung berdirinya negara Israel di Palestina. Janji Balfour (1917) baru berupa tawaran otoritas wilayah, bukan negara. Hotel Baltimour, New York menjadi saksi ambisi mereka mendirikan sebuah negara Yahudi. Amerika menjadi tumpuan utama. Sedang secara politik mereka bersembunyi dibalik Inggris.

Tahun 1945, Presiden Amerika, Henry Thurtman mendukung kependudukan Yahudi di Palestina

Tahun 1947, PBB memutuskan pembagian tanah Palestina dan menghentikan koloni Inggris atas Palestina. Pada tahun yang sama Lobi Yahudi berhasil menembus PBB sebagai pembukaan pra proklamasi negara Yahudi.

Tahun 1948, PBB basa-basi, mengeluarkan ketetapan no.194 berisi kembalinya pengungsi Palestina ke negaranya.

Pada tahun yang sama Negara yahudi diproklamirkan. Negara Israel dengan 78% atas tanah Palestina. Soviet segera mengakuinya. Tepatnya tanggal 14 Mei 1948. Dideklarasikan oleh David Ben Ghorion (1886-1973). Dan 11 menit setelah proklamasi Presiden Amerika Thurtman mengakui negara Israel.

Keberhasilan Yahudi ini tak terlepas dari kelihaian mereka mendompleng kolonialisme Inggris atas Palestina juga konspirasi mereka mendukung oposan Khilafah Usmaniyah. Mereka menganggap selama Usmaniyah masih berdiri Palestina hanya menjadi negeri impian. Mereka kemudian bersekongkol dengan kaum ittihadiyyun dan taraqqi (kita ingat tokoh Yahudi Turki yang berlabel muslim moderat, Kamal Ataturk). Kemudian ikut meledakkan revolusi Arab. Negara-negara Arab diprovokasi untuk melepaskan diri dari khilafah Usmaniyah. Motto Turki adalah penjajah bangsa Arab dikembangkan. Nampaknya propaganda ini berhasil. Bangsa Arab satu-demi-satu melepaskan diri dari Khilafah “The Sick Man“. Yahudi bertepuk tangan.

Tahun 1949, Israel diterima sebagai anggota PBB.

Tahun 1954, Aksi Istisyhad mulai dan diberangkatkan secara sembunyi-sembunyi dari Mesir.

Tahun 1958, Gerakan Pembebasan Al Fath berdiri

Tahun 1964, PLO berdiri atas keputusan KTT Liga Arab

Tahun 1967, Perang Arab Israel I. Israel tetap bersikeras mempertahankan daerahnya sejak saat itu. Bangsa Arab pun tetap teguh mempertahankan haknya. (terutama rakyat Palestina yang paling tertindas, juga Yordania, Libanon, Syiria dan Mesir)

Tahun 1973, Benteng Berliev dihancurkan tentara Mesir. Bersamaan dengan Itu kekuatan Syiria juga Libanon juga mengempur Israel. Pil pahit kekalahan ditelan Israel.

Tahun 1978, Perjanjian Camp David ‘i, Israel dan Presiden Mesir Anwar Sadat. Berikutnya Mesir dikucilkan dari Liga Arab, Markaz Liga Arab pindah dari Kairo. Bahkan Presiden Anwar Sadatpun dihadiahi beberapa peluru yang menembus dada dan keningnya pada saat parade Militer di kawasan Nasr City, Kairo Timur.

Tahun 1987, Lahirnya Intifadhah. Perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel besar-besaran untuk pertama kalinya.

Tahun 1988, HAMAS berdiri da Syeikh Ahmad Yasin didapuk sebagai pemimpin spiritual.

Tahun 1991, Yahudi berbondong-bondong, hijrah besar-besaran ke Israel (Palestina)

Tahun 1993, Penandatanganan Oslo (Israel-Palestina)

Tahun 1994, Tragedi pembantaian Yahudi terhadap umat Islam di Masjid Ibrahimy

Tahun 1995, Perjanjian Oslo II tentang perincian pelaksanaan otonomi Palestina. Aktivis HAMAS, Al Jihad banyak ditangkap sehubungan dengan berbagai aktivitas bom syahid yang saat itu masih kontroversi.

PM Israel Yitzaq Rabin terbunuh ditangan seorang Yahudi Ekstrim. Simon Peres naik menjadi PM menggantikannya.

Tahun 1996, Netanyahu naik jadi PM Israel. Israel-Turki sepakat bekerjasama di bidang perdagangan dan militer.

Pada Tahun yang sama Putra Batalyon Al Qassam, Yahya Ayyasy syahid. Tepatnya pada tanggal 5 Januari 1996.

Tahun 1998, Target Yahudi Internasional, Zionisme Timur Besar untuk mendirikan Imperium Israel Raya. Namun rencana ini belum berhasil. 100 tahun dari 1898 adalah target menjadikan Palestina (saat itu mereka tidak menyebut Israel) menjadi negara bagi Yahudi yang bersih dari etnis manapun terutama bangsa Arab.

Di tahun ini, terjadi penandatangan perjanjian Way River yang sangat merugikan Palestina.

Tahun 1999, Netanyahu turun tahta. Ehud Barak naik jadi PM. Barak pura-pura tak tahu perjanjian Way River dan memperluas pemukiman Yahudi. Ia merekomendasi 1145 unit perumahan baru untuk 180 ribu Yahudi.

Tahun 2000, Si jagal Shabra Syatila Ariel Sharon “berkunjung” ke Masjidil Aqsha. Mengotori kesucian umat Islam. Sekaligus menjadi pemicu meletusnya Intifadhah II.

Tahun ini juga menjadi saksi kekejaman Israel. Syahidnya si kecil Muhammad Jamal Durrah dipangkuan ayahnya. Dihujani peluru pasukan Israel.

Tahun 2001, Ketika dunia geger dengan peristiwa WTC, Israel berpesta membantai rakyat Palestina. Ariel Sharon terdesak dengan tuntutan ekstrim keras Yahudi yang mendesak realisasi Imperium Raya, Israel.

Tahun 2002, meningkatnya aksi militer Israel di wilayah-wilayah Palestina.

Dengan mengenal sejarah zionisme dari zaman dulu hingga kini, kita bisa mengetahui bahwa tokoh-tokoh penting dunia berhasil mereka peralat untuk memuaskan ambisi mereka. Bahkan untuk sekarang ini mereka cenderung mendukung pemimpin negara-negara Arab yang di negara mereka masing-masing di kenal diktator. Mereka angkat sebagai pahlawan. Tentu saja rakyat bangsa Arab jengkel. Tapi, kenyataan menuturkan demikian. Akan tetapi kelihaian dan kelicikan mereka tetaplah ada batasnya. //”Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allahlah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. 3:54)//. Bukan seperti mitos “sundul langit” yang sering kita dengar. Buktinya mereka ketakutan dengan aksi bom syahid dan batu-batu beterbangan dari putra-putra Palestina. Padahal mereka bersenjata lengkap dengan peralatan yang serba canggih.

Kapankah saudara kita di Palestina merasakan kemerdekaan bangsanya dari kelicikan Yahudi. Kapankah Masjidil Aqsha akan terbebas dari kotornya kaki-kaki Yahudi.

Kemenangan itu dekat, jika kita meyakininya demikian. Malam semakin kelam. Penindasan dan penderitaan saudara kita di Palestina semakin parah. Dan… fajar pun akan segera terbit. Menyambut senyum kemenangan.

Allâhummanshurnâ… `ala al yahûd al mutawakhkhisyîn, wa man wâlâhum yâ Rabb.

Saiful Bahri

Renungan Akhir tahun 2002

Kampung Delapan, Taman-Taman Kebaikan, Cairo

Bahan tulisan:

  • Konflik Palestina Dua Abad (1798-2001) terbitan SINAI (Studi Informasi Alam Islami) Cairo, 2001
  • Catatan Perwira Jerman, William Gey. “Batu-batu di Atas Papan Catur“. Edisi terjemah bahasa arab “Ahjâr `alâ Riq`ati Syathranj” terbitan Darun Nafais, Beirut. Cet.XIII. 1991
  • Majalah Izzah edisi 11, April 2002 (terbitan SINAI Cairo)
Oleh: saiful bahri | November 2, 2008

Tafsir dan Pendekatan Antropologis

Tafsir, dan Antropologi Sosial(*)

(Sebuah Pendekatan Metodologi; Urgensi, Relevansi dan Penyalahgunaannya)

Saiful Bahri, M.A.(**)

Prolog

Antropologi dalam KBBI didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna, bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaannya pada masa lampau ([1]). Sedangkan sosiologi adalah ilmu tentang sifat, perilaku dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur sosial, proses sosial dan perubahannya ([2]).

Iftitah

Salah satu pendekatan tafsir modern adalah melalui pendekatan sosial. Corak ini muncul sebagai salah satu corak tafsir modern sebagaimana dikatagorikan Dr. Muhammad Hussein adz-Dzahabi ([3]). Di antara tokoh-tokohnya –tutur adz-Dzahabi- Syeikh Muhammad Abduh dan muridnya Sayyed Rasyid Ridha serta Syeikh Musthafa al-Maraghi. Corak sosial yang dimaksudkan adz-Dzahabi di sini adalah sebagai sebuah pendekatan dalam kerangka menyuguhkan solusi bagi beberapa problematika sosial, dan bukan sekedar interpretasi kering yang berpijak pada linguistik dan pemaknaan atas kata-kata serta satuan-satuan bahasa saja. Namun, Abduh – yang dikenal reformis juga- mewanti-wanti urgensi filterisasi kemurnian akidah ini dari ”penyelundupan” tafsir yang salah sehingga mengakibatkan perubahan yang eksterm dalam kehidupan umat Islam ke arah yang desdruktif ([4]).

Belakangan, seiring dengan perkembangan filsafat modern pendekatan sosial dalam kajian keislaman pun mengalami berbagai pergeseran pemahaman. Memang benar obyek dan sasarannya tak mengalami pergeseran, namun ada perluasan titik studi. Menjadi bukan sekedar mempelajari manusia dan budayanya, akan tetapi meluas pada pengaruh budaya dan lingkungan terhadap perilaku keberagamaan seseorang atau sebuah komunitas sosial. Simpelnya akan ada blok-blok eksklusif dalam praktek keberagamaan bila kurang tepat dalam melakukan pendekatan sosial. Terlebih bila penekanan pendekatan metode ini dititikberatkan pada budaya dan kelekatan perilaku keberagamaan sebuah komunitas tertentu. Bisa jadi akan mengebiri universalitas al-Qur’an. Karena tidak mustahil akan ada penafsiran regional atas al-Qur’an sesuai komunitas sosialnya. Ada tafsir sosial Arab, Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Afrika, Eropa dan lain sebagainya yang bercorak eksklusif.

Padahal antropologi sebagai sebuah ilmu kemanusiaan sangat berguna untuk memberikan ruang tafsir yang lebih elegan dan luas. Sehingga nila-nilai dan pesan al-Qur’an bisa disampaikan pada masyarakat yang heterogen.

Oleh pengusung sekaligus penganut hermeneutika, semisal Nasr Abu Zeid –intelektual Mesir yang menjadi Guru Besar Islamic Studies di Universitas Leiden- dengan jargon ”produk budaya”nya sebenarnya tidaklah membidik langsung al-Qur’an. Karena beliau tidak sedang berlogika al-Qur’an adalah [hasil] karya [budaya] manusia, meskipun bisa jadi hendak menggugat sakralitasnya. Namun, sasaran tembak beliau adalah buku-buku tafsir otoritatif yang ditulis oleh para mufassir salaf. Karena mereka –para mufassir salaf- menurutnya tidak menguasai antropologi dan sosiologi modern. Dikarenakan mereka hidup di masa yang berbeda dengan kita. Maka, sebagian penafsiran mereka menjadi tidak relevan dengan kondisi sosial modern. Dan memang perbedaan itu selalu terjadi bahkan di antara para mufassir yang sezaman. Namun, naif bila mengecilkan peran mereka sama sekali. Bangunan metodologi para mufassir dan fuqahâ dengan berbagai klasifikasinya menjadi buyar –hanya- karena mereka ketinggalan ”pelajaran” yang bernama sosiologi modern dan antropologi. Muhammad al-Ghazali mengakui bahwa al-Qur’an bukan semata menjadi monopoli tempat istinbâth para fuqahâ. Karena al-Qur’an memberi ruang yang luas juga bagi para mufassirin, pakar bahasa dan mutakallimin untuk ikut menikmati al-Qur’an sebagai jalan memopulerkan kemukjizatannya ([5]).

Urgensi Pendekatan Antropologi dalam Studi Tafsir

Seberapa pentingkah metodologi antropologi sosial dalam studi tafsir? Di dalam al-Qur’an banyak kita jumpai urgensi peran sebuah tokoh. Sebagai contoh kata al-muttaqûn([6]) /al-muttaqîn([7]) sebagai sarana menjelaskan hakikat ketakwaan seperti yang terdapat pada awal surah al-Baqarah dan Ali Imran, ayat: 133-136, ash-shabirûn([8])/ash-shabirîn([9]) dipakai untuk memaparkan konsep kesabaran, shâdiqûn([10])/shâdiqîn ([11])/ shadiqât ([12]) untuk lebih mendalami makna kejujuran, kesungguhan serta etios kerja; serta kata-kata pelaku (fâ’il) lainnya.

Ini menunjukkan betapa pentingnya manusia sebagai pelaku peradaban. Maka mempelajari segala sesuatu yang bersangkutan dengan manusia, terlebih dalam konteks memahami kitab Allah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan. Inilah -yang dalam bahasa Syeikh Muhammad Abu Syahbah- al-Qur’an disebut sebagai pintu ilmu-ilmu modern sebagai perangkat mengikuti kemajuan zaman ([13]).

Contoh lain, adalah klasifikasi surat-surat al-Qur’an menjadi makky dan madany. Yang tentunya sangat memperhatikan peristiwa dan lingkungan serta setting turunnya al-Qur’an. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qader menyebutkan beberapa faedah klasifikasi masalah ini:

  1. Untuk mengetahui nasakh-mansukh dalam hal beberapa ayat yang berbicara dalam satu tema tertentu. Apalagi jika terjadi perbedaan hukum antara keduanya.
  2. Untuk mengetahui tarikh tasyri’ (sejarah dan proses suatu hukum)
  3. Untuk semakin menguatkan argument otentisitas al-Qur’an, karena diketahui mana yang turun di Makkah dan mana yang turun di Madinah; manayang turun siang hari dan mana yang turun di malam hari ([14]).

Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ’khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam ([15]).

Kerangka Teoritis Pendekatan Antropologi

Secara garis besar kajian agama dalam antropologi –tulis Jamhari Ma’ruf dalam makalahnya ([16])-dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis; intellectualist, structuralist, functionalist dan symbolist.

Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat. Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E.B. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Namun , dampak dari pendekatan seperti ini bisa mengarah pada penyamaan sikap keberagamaan.

Ketiga pendekatan setelahnya; teori strukturalis, fungsionalis dan simbolis dipopulerkan Emile Durkheim, dalam magnum opusnya The Elementary Forms of the Religious Life, telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama dari sisi yang sangat sederhana sekaligus menggabungkannya secara struktur.

Durkheim mengritik terori intelektual di atas dengan tesis masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah ”struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral.” Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme, utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Demikian halnya mengenai fungsi agama bagi masyarakat. Keduanya sangat berhubungan erat.

Adapun teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim, walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan. Ritual bagi masyarakat Ndembu adalah tempat mentransendensikan konflik keseharian kepada nilai-nilai spiritual agama ([17]).

Dalam pandangan ilmu sosial, pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada argumentasi-argumentasi teologisnya, melainkan terletak pada bagaimana agama dapat berperan dalam kehidupan sosial manusia. Di sini agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris, sebagaimana realitas sosial lainnya, sebab dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, tentu hal-hal yang empirislah, walaupun hal yang ghaib juga menjadi hal penting, yang menjadi perhatian kajian sosial ([18]).

Jika agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia, maka sesungguhnya persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa sesungguhnya realitas manusia menjadi bagian realitas ketuhanan. Di sini terlihat betapa kajian tentang manusia, yang itu menjadi pusat perhatian antropologi, menjadi sangat penting.

Relevansi Antropologi dalam Penafsiran al-Qur’an

Syeikh Muhammad Abduh berpendapat yang dibutuhkan oleh umat ini adalah pemahaman kitab suci sebagai sebuah hidayah yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga al-Quran pasti dapat menyuguhkan berbagai solusi beragam atas pelbagai polemik sosial dan problem yang sangat kompleks ([19]). Atas ajakan ini, corak sosial yang kental dalam penafsiran beliau menjadi pijakan dasar pengembangan sosiologi modern. Terutama dalam menyikapi permasalahan yang menyentuh masyarakt sosial.

Penjabaran kegiatan-kegiatan ekonomi yang dijabarkan dari tafsir sosial permasalahan masyarakat; seperti kemiskinan, melawan monopoli dan ihtikâr, perlakuan zhalim terhadap harta anak yatim, sampai pada distribusi zakat dan kinerja para amilin zakat. Sebagai penyeimbang kasus-kasus polemik epistimologis yang dihasilkan dari premis desakralisasi teks (al-Qur’an), dari sejak wacana penyetaraan gender sampai menggugat jenis-jenis hukuman kriminal.

Relevansi pedekatan antropologi dicontohkan al-Qur’an sendiri dalam kasus pelarangan meminum khamr yang turun dalam tiga tahapan: pertama, tahapan balance informasi ([20]) . Kedua, tahapan peringatan ([21]) . Ketiga, tahapan final pengharamannya ([22]). Struktur perintah termasuk redaksi dan pola penyampaiannya sangat memperhatikan kondisi sosial masyarakat saat itu.

Demikian halnya dalam konteks penyampaian isi al-Qur’an dan penafsirannya pada skup yang sangat mikro dan lokal yang diperhatikan adalah konteks metode penafsirannya dan bukan pada pengubahan substansinya. Bila tidak problem budaya akan semakin menjadi tema polemik yang menarik antar komunitas yang berbeda. Seperti pengertian dan batasan tentang jilbab. Benarkah batasan wajibnya hanya pada aurat kubrâ? Selebihnya diserahkan pada nilai kebiasaan dan adat masyarakat setempat. Benarkah hijab atau jilbab hanya menjadi sebuah simbol keberagamaan. Atau ada maqashid syariah di sana? Jika sebagai symbol apakah mewakili symbol keberagamaan universal atau mewakili kultur tertentu saja. Atau sebaliknya dengan dalih maqashid, simbol seperti ini bisa digantikan dan tidak dipakai?

Bila yang dijadikan patokan hukum adalah adat maka tidak mustahil suatu kondisi kemungkaran yang menyebar berubah penilaiannya menjadi makruf. Sedang sebaliknya pengingkaran terhadap ini menjadi mungkar karena melawan suara mayoritas. Lebih dahsyatnya bila umat ini kehilangan imunitas saat serangan globalisasi peradaban dan budaya datang bertubi-tubi.

Gelombang globalisasi budaya ditandai dengan akhir dari periodisasi keyakinan atau budaya Amerika ([23]) yaitu bagaimana menyalurkan pemikiran-pemikiran ini ke seluruh penjuru dunia menembus batas-batas geografis dan keyakinan bangsa lain. Pada akhir abad 20 kita masih sering membuat anti tesa antara peradaban Islam dengan peradaban Barat, atau antara Timur dan Barat. Akan tetapi anti tesa ini pelahan bergeser dan berubah dengan anti tesa antara Islam dan Amerika. Sehingga Islam diwacanakan sebagai common enemy (musuh bersama). Atau meminjam istilah Ibnu Kholdun sebagai konspirasi penafsiran sejarah (at-Tafsir at-Ta’amury li at-Tarikh). Tak aneh, jika suatu saat ada anekdot pilihan menjadi manusia hanya dua; menjadi pluralis (yang mengakui persamaan/penyatuan semua agama) atau menjadi teroris (yang selain itu[?])

Serangan globalisasi budaya bila disikapi dengan pendekatan antropologi terhadap penafsiran al-Qur’an bisa mengakibatkan mindset terbalik yang bertujuan desakralisasi nilai-nilai dan sangat propagandis. Sebagai misal, sebut saja pengalihan wacana pertikaian dan kepentingan politik Amerika di Timur Tengah menjadi seruan perhatian dunia terhadap lingkungan hidup. Ini ajakan yang bagus. Hanya saja shâhib fikrahnya adalah perusak lingkungan maka dagangan politik ini cenderung kurang laku meski tak henti-hentinya didengungkan.

Karena itu perlu penyikapan realitas sosial dengan bijak. Pembacaan minor internal umat Islam dengan sikap mental inferior, meminjam istilah Malik ben Nabi sikap qâbiliyah umat untuk dijajah akan memperparah menjadi inferiority complex. Akibatnya, dengan serta merta mengikut dan mengadopsi budaya eksternal dengan filter terlalu lebar atau tidak sama sekali. Demi melihat glamournya kemajuan dan kemapanan kehidupan sebuah komunitas sosial seperti di Eropa dan Amerika. Hal senada ditegaskan Syeikh Muhammad al-Ghazali ([24]).

Penyalahgunaan Pendekatan Antropologi dalam Kajian al-Qur’an

Pada prakteknya sosiologi maupun antropologi modern tak jarang dijadikan senjata untuk mereduksi otoritas al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi dalam Islam. Karena metode yang ditonjolkan adalah fungsi akal dan nalar di atas segala-galanya.

Karena dominasi pandangan hidup sekuler-liberal-ultra liberal seperti di atas, maka nilai-nilai yang ada pada tradisi dan agama –yang sudah mapan- menjadi terpinggirkan bahkan dibongkar. Renè Descartes, -bapak filsafat modern- dengan prinsip aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum) menjadikan rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Wahyu dalam struktur epistimologi menjadi terpinggirkan. Sekularisasi epistimologi semakin bergulir dengan munculnya filsafat Hegel dan Marx yang mengangap realitas sebagai perubahan dialektis. Akhirnya, sekularisasi epistimologi memasuki ruang lingkup agama. Hasilnya tidak ada lagi yang benar-benar sakral, abadi dan universal. Semuanya manusiawi belaka ([25]). Manusia lebih tahu tentang dirinya sehingga tak perlu campur tangan kitab suci dan aturan dari Tuhan.

Oleh kelompok liberal, antropologi dijadikan ilmu alat untuk mereduksi kemapanan sebagian tafsir al-Qur’an. Lihat saja bagaimana tafsir emansipatoris yang berkembang –justru- dibidikkan untuk menggugat ayat-ayat yang diopinikan misogini dan memberi peran sub-ordinat bagi perempuan. Penyuaraan penyetaraan gender yang berlebihan dengan dalih porsi ini masih minim dalam penafsiran al-Qur’an para ahli tafsir salaf. Pada tataran ekstrim ada yang menyuarakan amandemen ayat-ayat di atas. Na’udzubillah min dzalik. Dr. Muhammad Belatagy menambahkan bahwa pemikiran seperti ini lebih masuk karena disuarakan oleh orang-orang Islam yang terkontaminasi oleh pergolakan budaya internal dan serangan budaya eksternal yang hedonis. Mengingat bahwa tema-tema perempuan menjadi salah satu sasaran empuk desakralisasi teks-teks al-Qur’an ([26]) . Sebagai contohnya, dengan pendekatan sosial menyuarakan penafian poligami oleh al-Qur`an sendiri, dengan dalil penasakhan hukum aslinya. Ayat yang digunakan adalah surat an-Nisa, ayat 129 ([27]). Tentunya pembacaan seperti ini tidak dibenarkan. Final destinasinya adalah penyetaraan gender dan penguapan supremasi laki-laki atas perempuan dalam praktek-praktek keberagaman ([28]).

Dalam konteks lebih luas, penggunaan metode ini akan menjadi kurang tepat bila mengadopsi peleburan istilah kata. Karena kata-kata dalam al-Qur’an ada haqiqah lughawiyah (makna bahasa) dan haqiqah syar’iyyah (makna syar’i). Seperti kata ash-shalah, al-jihad, al-Islam dan seterusnya. Penghapusan dua limit inilah yang menjadi masalah.

Sebagai contoh, klasifikasi kata (lafazh) Arab, seperti majâz (kiasan) dan haqîqah (hakiki), memang dibahas oleh teori hermeneutika, sebagaimana kajian ilmu tafsir, tetapi teori hermeneutika tidak mengenal haqîqah syar’iyyah. Padahal, realitas tersebut ada di dalam al-Qur’an, ketika lafadz tersebut telah direposisi oleh sumber syara’ dari makna bahasa menjadi makna syara’. Karena teori hermeneutika tidak mengenal haqîqah syar’iyyah, maka kedua lafadz tersebut tetap diartikan sebagai haqîqah lughawiyah, sehingga masing-masing diartikan dengan kerja keras untuk jihâd, dan berdoa untuk shalâh atau kepasrahan total untuk al-Islam.

Dengan kerangka yang sama, kaidah bahasa: muthlaq-muqayyad, seperti dalam kasus hukuman pencuri yang muthlaq ([29]) kemudian di-taqyîd dengan hadits: majâ’ah mudhtharr (kelaparan yang mengancam nyawa), tidak diakui. Tentu, karena kedudukan Rasul saw hanya dianggap sebagai tokoh sejarah, bukan sebagai bagian dari as-syâri’ (sumber hukum otoritatif). Akibatnya, tindakan ‘Umar ketika tidak memotong tangan pencuri yang mencuri pada tahun paceklik (‘âm ar-ramâdah) dianggap sebagai tindakan tak menerapkan hukum potong tangan dan kemudian dijadikan justifikasi untuk keluar dari sakralitas teks alQur’an ([30]). Padahal, ini bagian dari konteks muthlaq-muqayyad. Dengan Rasul saw yang diposisikan sebagai tokoh historis, berarti konteks mujmal-mubayyan juga tidak bisa diterima. Padahal seperti tutur al-Qurthubi, hal ini pernah dilakukan juga oleh Rasululla saw dan khalifah Abu Bakar ra ([31]). Hanya saja Umar ra populer dengan pernyataannya: ”Aku tidak memotong (tangan) pada tahun ini([32]).

Tak kalah serunya, juga ketika Umar ra memiliki penilaian khusus tentang menikahi perempuan ahli kitab. Saat sebagian besar ulama shahabat membolehkanya, bahkan Usman bbin Affan ra memperistri kitabiyah Nasrani, Talhah memperistri kitabiyah Yahudi; Umar melarang Hudzaifah. Hanya saja, pertanyaan cerdas Hudzaifah menjadi solusi polemik hukum ini. Hudzaifah menanyakan: Apakah ini halal atau haram? Umar menjawabnya: bukan, masalahnya tidak di situ. Hal ini halal. Hanya saja aku takutkan mereka berbuat makar dan mengalahkan perempuan-perempuan kalian sehingga kalian lebih tertarik pada mereka ([33]) . Sebuah pandangan sosiologis yang matang. Sebuah langkah prefventif sosial yang cerdas. Dan tidak harus melawan otoritas teks yang memang benar menghalalkannya.

Obyektifitas: Bagian dari Hermeneutika?

Pendekatan antropologi dalam kajian epistimelogi bisa berkaitan erat dengan hermeneutika. Dalih obyektifitas –yang ambigu- juga digunakan dalam pendekatan ini. Semua anggapan harus dibuang, padahal obyek kajian yang dihadapi bukanlah realitas empiris yang bisa diuji dengan kaidah eksperimental layaknya obyek kajian ilmiah. Kesalahan inilah yang menyebabkan kesalahan-kesalahan berikutnya, termasuk ketika teori ini digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an. Dengan kata lain, obyektivitas tafsir al-Qur’an ditentukan oleh tunduk dan tidaknya akal dalam melakukan pembacaan terhadap teks. Karena akal hanya berfungsi untuk memahami, maka dikatakan obyektif, jika tafsiran akal tunduk pada kedua sumber di atas—syara’ dan bahasa— tersebut. Jika akal tidak tunduk pada kedua sumber tersebut, berarti al-Qur’an —seperti yang diklaim Arkoun— hanya menjadi alat justifikasi. Justru inilah yang menyandera tafsir hermeneutika Fazlur Rahman, Arkoun, Nash Abû Zayd dan kawan-kawannya. Di sinilah letak persoalan metode tafsir hermeneutika yang mereka kembangkan, ketika anggapan-anggapan dasar yang seharusnya digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an semuanya dibuang, seperti akidah dan syariat Islam, misalnya. Jadi pendekatan kultur yang dipakai dalam penafsiran al-Qur’an adalah memaknai letak berlakunya tafsir secara elegan bagi masyarakat setempat dan bukan berdasar kaidah universal sebagaimana dipahami para para mufassirun.

Adanya peleburan istilah syara’ dalam budaya atau adat sebuah komunitas sebagai patokan perilaku dan akhlak, misalnya; juga akan mendatangkan penafsiran yang melenceng. Padahal al-Qur’an telah menurunkan kerangka umum dan batasan-batasanya. Sifatnya mulzam (wajib diikuti dan dilaksanakan) serta mendapatkan balasan sesuai kriteria yang ada, yang baik akan diganjar pahala dan yang buruk akan diancam siksaan-Nya ([34]).

Ikhtitam.

Al-Qur’an sebagai ruh –seperti ungkap Muhammad Quthb- akan memengaruhi cara pandang dan pola hidup seseorang. Terlebih bila ia sangat dalam merasakannya. Siapa yang hidup dengan al-Qur’an berarti ia hidup bersama Allah ([35]). Tak kenal takut dan minder. Meski berhadapan dengan kebudayaan yang bagaimana pun atau di depan kedigdayaan seperti apapun. Apalagi dengan keyakinan bahwa kitab Allah ini dijaga-Nya sebagaimana Ia berjanji. Dan jug akarena Islam adalah sebuah agama, bukan sebuah gerakan pemikiran atau fenomena sosial yang bersifat sementara ([36]).

Karena itu semoga kajian kita tentang antropologi ini tidak –malah- menjauhkan kita dengan al-Qur’an. Karena tujuan pengajian al-Qur’an dan perintah untuk menadabburinya adalah untuk melunakkan hati dan selanjutnya mudah menerima kebenaran dan hidayah al-Qur’an dan bukan dengan mengangkuhkan diri dengan mendewa-dewakan superioritas akal yang terbatas.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan bisa membantu kita –penulis khususnya- untuk lebih rajin rajin membaca dan mengkaji sehingga tidak terjebak pada stigmatisasi golongan. Karena sampai orang-orang yang menempatkan diri sebagai kaum netral dan obyektif secara tak sadar telah menelan sebuah subyektifitas tertentu. Wallâhu al-Musta’ân wa`a’lam bi ash-Shawâb.

Kampung Sepuluh, Siang Menjelang Sore

Cairo, 01 Oktober 2007 M/ 19 Ramadhan 1428 H

Endnotes


* Disampaikan dalam kajian reguler FORDIAN (Forum Studi al-Qur’an) Cairo, di Hay. 7 , Cairo pada hari Selasa, 2 Oktober 2007.

** Peserta program doktoral Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar, Cairo


([1]) Lihat: KBBI, Balai Pustaka, Edisi Ketiga, cet. I, 2001, h. 58

([2]) Ibid., h. 1085

([3]) Dr. Muhammad Hussein adz-Dzahabi, at-Tafsîr wa al-Mufassirûn, vol. II, h. 588

([4]) Dr. Hamdy Zaqzouq, al-Islam wa Qadhâyâ al-Hiwâr; Buhûs wa Dirâsât fi Dhaui al-Qur’an al-Karim, Cairo: Kementrian Wakaf, Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Mesir, Cet. 2002 h. 160

([5]) Syeikh Muhammad al-Ghazali,Kaifa Nataámal ma’a al-Qur’an, Mansoura: Dar al-Wafa-Virginia: IIIT, Cet. V , 1997, h. 46

([6]) Diulang sebanyak 6 kali

([7]) Diulang sebanyak 43 kali

([8]) Diulang sebanyak 6 kali

([9]) Diulang sebanyak 15 kali

([10]) Diulang sebanyak 6 kali

([11]) Diulang sebanyak 50 kali

([12]) Diulang sebanyak 1 kali

([13]) Dr. Muhamad Abu Syahbah, al-Madkhal li Dirasat al-Qur’an al-Karim, Cairo: Maktabah as-Sunnah, Cet. I, 1992, h.13

([14]) Dr. Jum’ah Ali Abd. Qader, Ma’âlim Suar al-Qur’ân wa Ithâfat Durarihi, t.t. ,vol. I, h. 90-91

([15]) Jamhari Ma’ruf, Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam [makalah]

([16]) Ibid.

([17]) Ibid. (dengan sedikit tambahan dan perubahan)

([18]) Ini yang perlu kita kritisi. Karena Islam mengajarkan kita untuk meyakini sesuatu dengan dalil dan argumen yang kuat. Dan karena realitas kebenaran agama tidak –serta merta- bisa diteorikan secara empiris sebagaimana berbagai eksperimen-eksperimen dalam kajian ilmiah. Karena selalu ada ruang ghaib yang tak mampu ditembus manusia dan hanya berbekal pada wahyu. Meskipun porsi sosial yang membicarakan manusia tentu sangat dan jauh lebih lebih banyak.

([19]) Muhammad Rasyid Ridha, Tafsîr al-Manâr, Beirut: Dar al-Fikr, 1998, Vol. I, h. 24

([20]) lihat QS. Al-Baqarah, ayat: 219.

([21]) lihat QS. An-Nisâ’, ayat: 43

([22]) lihat QS. Al-Mâ’idah, ayat: 90

([23]) Sejarah Amerika dapat dibagi menjadi beberapa periode, pertama: periode keluar dari dataran Eropa menuju benua baru yaitu benua Amerika sekarang ini, kedua: permusuhan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, ketiga: penyebaran budaya Amerika ke seluruh penjuru dunia. (lihat: Muhammad Abdul Munim, Al-Islam Wa Hadaiq As-Syaithon, Kitab Mahrajan lil-Jami’, Cairo: Maktabah Usrah, 2000, h. 98-99

([24]) Syeikh Muhammad al-Ghazaly, Op. Cit, h. 59

([25]) Adnin Armas, MA, Gagasan Frithjof Schuon tentang Titik Temu Agama-Agama, Jurnal ISLAMIA, Thn. I, No. 3/ September-November 2004, h.10

([26]) Dr. Muhammad Beltagy, Makânah al-Mar`ah fi al-Qur`an al-Karim wa as-Sunnah ash-Shahihah, Cairo: Darussalam, Cet. I, 2000, h.13

([27]) Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Kaifa Nataámal ma’a al-Qurán al-Azhim, Beirut: Dar el- Syourouq, Cet. III, 2000, h. 318.

([28]) Muhammad Quthb, Wâqi’unâ al-Mu’âshir, Beirut: Dar el- Syourouq, Cet. I, 1997, h. 239

([29]) lihat. QS. Al-Ma`idah, ayat: 38

([30]) Syeikh Muhammad al-Ghazaly, Op. Cit, h. 167

([31]) Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi (W. 761 H), al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadis, 2002, vol. VI, h. 160

([32]) Dr. Muhammad Beltagy, Manhaj Umar ibnu al-Khaththab fi at-Tasyri’, Caio: Darussalam, Cet. VIII, 2003, h. 214

([33]) Ibid., h. 259, 260

([34]) Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Op. Cit, h. 61

([35]) Muhammad Quthb, Dirasat Qurániyyah, Beirut: Dar el-Shourouq, Cet. 8, 2004, h. 509

([36]) Dr. Mahmud Hamdy Zaqzuq, Al-Islam Fi ’Asri Al-’Aulamah, Bunga Rampai diterbitkan oleh Kementerian Waqaf Mesir, Cairo, edisi 53 tahun 1420/1999, h. 8

Tulisan Sebelumnya »

Kategori