Oleh: saiful bahri | Mei 2, 2012

GENDER VS FAMILY MAINSTREAMING

KESETARAAN GENDER DAN DESAKRALISASI AGAMA

Dr. Saiful Bahri, M.A.[1]

Pendahuluan

Tak sedikit orang mengklaim dirinya sebagai pembela kaum perempuan, atau sebagai pejuang penyetaraan gender. Sebagian lain meyakini bahwa pembelaan terhadap kaum perempuan merupakan hal yang baru yang belum pernah dilakukan oleh siapapun. Praduga dan perasaan seperti inilah yang kemudian menggerakkan sekelompok orang untuk –dengan berani- mengritisi nash-nash Al-Quran dan hadis, karena keduanya dianggap belum memberikan porsi yang cukup dalam memberikan pembelaan terhadap kaum perempuan. Di antara ayat-ayat yang dianggap dan diklaim misoginis itu adalah:

Artinya, ”dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan…” (QS. Ali Imran [3]: 36)

Ayat di atas dianggap mengandung makna perlakuan diskriminatif terhadap perempuan, padahal kata “tidaklah seperti” (ليس كـ) berarti umum. Perbedaan yang dimaksud bisa dari struktur fisik, fungsi-fungsi yang diperankan, serta fitrah dan tabiatnya sudah tentu tidak bisa sama persis. Maka, perbedaan antara keduanya adalah suatu keniscayaan. Namun, perbedaan di atas tak menandakan bahwa derajat perempuan di bawah kaum laki-laki. Ada banyak kesamaan lainnya dalam hak dan kewajiban. Seperti yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah [9]: 71)

Maka, menjadi hal yang sangat prinsipil untuk dikatakan bahwa antara perempuan dan laki-laki terdapat banyak perbedaan sebagaimana juga tak sedikit persamaan di antara keduanya. Keduanya tak mungkin disamakan secara mutlak sebagaimana tak juga bisa selalu dibedakan dalam segala hal. Keseimbangan dalam hal persamaan dan perbedaan inilah yang menempatkan perempuan di bawah naungan syariat Islam menjadi mulia dan bermartabat. Sebelumnya, perempuan tak pernah mendapatkan hak warisnya. Islam datang untuk mengatur hal-hal ini, termasuk memberikannya hak waris yang merupakan sebuah aturan menyeluruh. Perempuan juga mendapatkan hak belajar dan menuntut ilmu, hak keluar rumah dan beraktivitas, hak meriwayatkan hadits dan pergi ke medan peperangan sebagai paramedis maupun pejuang, sebagaimana ia mendapatkan jatahnya dari harta rampasan perang (ghanimah)([2]). Islam bahkan tak pernah melarangnya untuk berpenghasilan dan bekerja.

Sebagian orang menjadikan kewajiban shalat jumat bagi laki-laki -saja- tidak termasuk bagi perempuan, sebagai bentuk diskriminasi lain. Padahal tidak diwajibkannya perempuan Shalat Jumat adalah sebuah bentuk keringanan (rukhshah) yang diberikan kepada perempuan. Namun, bukan berarti Islam melarang perempuan untuk mendatangi Shalat Jumat. Karena ada sebuah kaidah “man shahha zhuhruhû shahhat jum’atuhû” (Barang siapa yang shalat zhuhurnya sah, maka sah pula Shalat Jum’atnya)([3]).

 

Istilah dan Sejarah Gender

Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.([4])  Istilah gender berasal dari “Middle English”, gendre, yang diambil dari era penaklukan Norman pada zaman Perancis Kuno.  Kata ‘gender’ berasal dari bahasa Latin, genus, berarti tipe atau jenis. Kedua istilah gendre  dan  genus, memiliki arti tipe, jenis, dan  kelompok. Gender adalah himpunan karakteristik yang terlihat membedakan laki-laki dan perempuan. Kata Gender dapat diperpanjang dari sekedar kata “seks” sampai dengan “peran sosial atau identitas gender.” Kata, ‘gender’ memiliki lebih dari satu definisi yang valid. Dalam pidato umum, biasa digunakan bergantian dengan ‘seks’ untuk menunjukkan kondisi fisik sebagai laki-laki atau perempuan. Dalam ilmu-ilmu sosial, kata ‘gender’ secara khusus mengacu pada konstruksi sosial dan perbedaan kelembagaan, seperti perbedaan peran gender([5])([6]).

Hingga saat ini belum ada kesepakatan dari berbagai kalangan untuk mendefinisikan gender. Maka sebagai sesuatu yang baru, batasan-batasan gender menjadi sangat debatable. Gender bisa merupakan peran-peran yang diakibatkan dari jenis kelamin seseorang (laki-laki atau perempuan).Dan tak bisa dipungkiri, peran-peran ini tentu memiliki sudut pandang dan implementasi yang berbeda dari suatu komunitas masyarakat dengan masyarakat yang lainnya. Biasanya merujuk pada kepatutan dan etika sosial yang berlaku di sebuah masyarakat.

Adapun di Indonesia, sejarah gender tak bisa dilepaskan dari kisah emansipasi, pembebasan perempuan dari keterkungkungan dan perjuangan meraih hak yang adil dan sejajar dengan laki-laki. Secara personal, wacana emansipasi mencuat dengan diterbitkannya surat-surat pribadi RA. Kartini dengan istri Gubernur Hindia Belanda di Indonesia, Abendanon antara tahun 1899-1904 M. Terbitan dalam Bahasa Belanda itu diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) dicetak sebanyak lima kali sejak tahun 1911 M. Dan pada tahun 1912 M Gubernur Van Deventer mendirikan “Yayasan Kartini”([7]).

Geliat emansipasi perempuan ini kemudian dilanjutkan secara berkelompok dan dalam Aisyiyah Muhammadiyah (1917 M), Fatayat NU (1950 M), dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) (1954 M) sebuah under bow PKI.

Gerakan emansipasi perempuan di Indonesia mengalami perubahan orientasi dari sekedar menuntut hak pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang laik, menjadi sebuah arus feminis. Yaitu gerakan yang menuntut penyetaraan dan persamaan mutlak antara kaum laki-laki dan perempuan. Gerakan ini pun berubah menjadi sangat liberal dengan berkembangnya aliran liberal di Indonesia, terutama pasca euforia kebebasan pasca reformasi 1998.

 

Sasaran Penyetaraan Gender

Wacana Pengarusutamaan Gender (PG) atau kemudian menjelma di mana-mana menjadi perjuangan membela kesetaraan gender di berbagai sektor kehidupan, tidaklah muncul sebagai sebuah gerakan independen dan bermula dari kesadaran perempuan atau pembela hak-hak perempuan. Tapi hal tersebut lebih merupakan desain global yang memiliki target jangka panjang. Di antaranya yang paling mendasar adalah desakralisasi nilai-nilai yang ditanamkan dan dipegang dalam pernikahan yang dalam agama Islam dikenal sebagai ”mîtsâqan ghalîdhan”. Maka wacana-wacana tersebut diperjuangkan sampai final memasuki ranah konstitusi di tingkat internasional. Sebagai sebuah lembaga representasi perkumpulan paling bergengsi di dunia, PBB pun akhirnya takluk di tangan para pejuang kesetaraan gender.

Komitmen PBB untuk menjamin hak-hak perempuan secara khusus ditunjukkan ketika Majelis Umum PBB menyetujui Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women) yang kemudian dikenal dengan CEDAW pada tanggal 18 Desember 1979. Konvensi tersebut memuat tiga puluh poin materi yang terbagi menjadi enam pokok tema; mengatur segala hal perbedaan perlakuan yang berkaitan dengan perempuan, langkah-langkah apa saja untuk menghilangkan dan menghapuskan diskriminasi tersebut, kemudian membicarakan hak-hak pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, perilaku seksual, hak bekerja, perlindungan dalam rumah tangga, perkawinan. Selain menjelaskan tatacara merealisasikan kesepakatan ini, diatur juga bentuk pengawasan bersama baik dari pemerintah maupun NGO untuk berkomitmen menghapuskan segala bentuk perbedaan perlakuan dan diskriminasi terhadap perempuan([8]).

Pemerintah Indonesia pun telah menandatangani konvensi tersebut pada tanggal 29 Juli 1980 pada saat mengikuti Konferensi Perempuan se-Dunia II di Kopenhagen. Konvensi tersebut kemudian diratifikasi  menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita atau lebih dikenal dengan Konvensi Perempuan pada tanggal 24 Juli 1984. Di samping meratifikasi Konvensi Perempuan, Indonesia bersama 188 negara lainnya telah menyepakati Deklarasi dan Landasan Aksi Beijing (Beijing Declaration and Platform for Action/ BPFA) yang merupakan hasil Konferensi Perempuan se-Dunia IV yang diselenggarakan di Beijing pada tahun 1995. BPFA merupakan landasan operasional yang disepakati bagi pelaksanaan Konvensi Perempuan yang bertema kesetaraan, pembangunan, dan perdamaian (equality, development, and peace). Dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan PBB dalam Millenium Summit yang diselenggarakan pada bulan September 2000, juga tak luput dari isu dan tekanan kesetaraan gender sebagaimana sebelum-sebelumnya.

Dengan isu gender, terselubung proteksi terhadap perilaku penyimpangan seksual, dengan dalih kebebasan melakukan aktivitas seksual. Perilaku menyimpang tersebut kini sudah diakui  di PBB dengan tajuk besar kebebasan orientasi seksual. Dampaknya, sebuah pernikahan tak lagi dibatasi hanya terjadi antara dua jenis manusia, tapi memungkinkan untuk dilakukan dengan sesama jenis. Kriminalisasi terhadap perilaku seksual seperti ini (homoseks dan lesbian) dianggap sebagai pengekangan dan pelecehan terhadap Hak Asasi Manusia ([9]).

 

Tema-Tema yang Ditarget Para Pejuang Gender

1.      Asal kejadian manusia

Dalam persoalan manusia pertama yang diciptakan Allah pertama kali, para pejuang gender beranggapan bahwa Adam ‘alaihissalam bukanlah manusia pertama tersebut. Penafsiran ayat Al-Quran yang mengarah pada hal tersebut dianggap sangat diskriminatif. Maka, klaim yang disosialisasikan adalah bahwa “nafsun wahidah” lah yang pertama kali diciptakan oleh Allah, dan bukan laki-laki (Adam). Menurut Musda Mulia pemahaman distortif dan sarat dengan bias gender ini muncul dari penafsiran literal terhadap ayat Al-Quran. Dan sayangnya pemahaman seperti ini justru dianut oleh kebanyakan kaum muslimin([10]). Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud ”nafsun wahidah” dalam awal surat An-Nisa’ adalah Adam alaihissalam. Sebagian kecil saja dari para ulama yang berpendapat selain itu. Di antaranya adalah Al-Qadhi Abdul Jabbar al-Mu’tazily, ”Jika Allah mampu menciptakan Adam dari debu/tanah, maka tentu Allah sanggup mencipta Hawa juga dari tanah. Jika demikian, lalu apa faidah penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam”([11]). Sedangkan Abu Muslim al-Asfahany (254-322 H) mengatakan, ”lafazh ‘nafs’ di dalam Al-Quran diulang sebanyak 295 kali. Dan tidak ada yang mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah Adam ‘alaihissalam. Demikian juga kata ”nafsun wahidah” yang diulang sebanyak lima kali. Tak ada satupun yang mengindikasikan bahwa yang dimaksud adalah Adam ‘alaihissalam([12]).

Para pejuang gender ini merasa makin kuat ketika mendapatkan dukungan dari Muhammad Syahrur yang sangat terpengaruh teori evolusi Darwin. Menurutnya bahwa Allah menciptakan manusia setidaknya melalui dua tahap. Pertama, Allah ciptakan semua unsur jantan (dzakar) dan betina (untsa) dari semua makhluk-Nya, yang berakal maupun yang tidak. Pada tahap kedua, Allah membedakan antara jenis manusia dan yang lainnya ketika meniupkan ruh. Kemudian Allah menegaskan kemuliaan manusia tanpa memandang perbedaan jenis kelamin (QS. Al-Isra’: 70)([13]).

Adapun kebanyakan pakar tafsir dan ulama menyepakati bahwa Adam lah manusia pertama yang diciptakan Allah, seperti penuturan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30 dan 31. Kemudian penegasan bahwa perumpamaan Isa dan Adam itu sama-sama merupakan mukjizat dan tanda kekuasaan Allah([14]). Pendapat ini juga didukung dalil-dalil hadis yang kuat yang menunjukkan bahwa Adam adalah manusia pertama ciptaan Allah yang akan mendapat pengaduan anak-anak Adam ketika hari kiamat([15]).

Adapun penciptaan Hawa, di dalam Al-Quran secara implisit disebut sebanyak tiga kali dengan redaksi ”khalaqa minhâ” atau “ja’ala minhâ([16]). Sedangkan secara eksplisit hadits Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki([17]).

Pilihan penulis terhadap pendapat jumhur bukan hanya karena banyak yang berpendapat demikian. Tapi karena pendapat ini argumentatif dan didukung dalil yang kuat. Dan permasalahan penciptaan ini tidak berhubungan dengan kualitas manusia. Karena kualitas manusia tidaklah ditentukan oleh jenis kelaminnya juga oleh urutan penciptaannya. Nabi Muhammad SAW, yang diciptakan Allah jauh setelah Adam dan nabi-nabi utusan-Nya bahkan menjadi utusan pamungkas dan nabi akhir zaman, justru ditahbiskan dan dinobatkan sebagai manusia terbaik dan pimpinan para nabi dan rasul.

2.      Tema perwalian dan mahar dalam nikah

Adanya perwalian dan mahar dalam pernikahan, menurut para pejuang gender dianggap sebagai bentuk diskriminasi lain yang harus diamandemen aturannya.

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 30 disebutkan, “calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah, bentuk dan jenisnya disepakati kedua belah pihak”. Musdah Mulia mengusulkan amandemen pasal ini dalam Counter Legal Draft  (CLD), pasal 16  dengan menawarkan, ”(1) Calon suami dan calon istri harus memberikan mahar kepada calon pasangannya sesuai dengan kebiasaan (budaya) setempat. (2) Jumlah, bentuk dan jenis mahar disepakati oleh kedua belah pihak sesuai dengan kemampuan pemberi([18]). Hingga saat ini usulan CLD ini masih belum diterima, tetapi jika suatu saat RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) disahkan tidak mustahil butir-butir aneh tersebut termasuk usulan-usulan lainnya akan kembali diperjuangkan.

Mahar yang merupakan salah satu syarat nikah, maka hukum memberikan mahar adalah wajib, baik tunai ataupun ditunda. Mahar bukanlah sebuah simbol hegemoni atau “harga” seorang perempuan. Justru Islam menjadikannya simbol penghormatan dan pemuliaan. Maka mahar adalah kepemilikan penuh bagi istri yang tak boleh diotak-atik oleh suami atau pihak lainnya.

Selain masalah mahar, mereka juga banyak menyebut unsur-unsur diskriminatif lain dalam ajaran agama Islam. Masalah perwalian misalnya, juga hak menolak atau meminta hubungan badan (jima’) atau menikmatinya sama seperti suaminya (laki-laki). Maka hak aborsi juga perlu diberikan kepada perempuan, bahkan kesediaan untuk hamil atau menundanya atau menolaknya adalah hak setiap perempuan. Sebagaimana hak untuk keluar rumah dan beraktivitas serta mendapatkan pendidikan yang lain.

Tentunya pembahasan masalah mahar, perwalian juga aborsi (pengguguran janin) tidaklah bisa disamakan dengan masalah hak perempuan dalam pendidikan, ekonomi dan aktivitas publik. Terlebih masalah hubungan badan yang merupakan hak keduanya secara sama, yang oleh Rasulullah SAW ditegaskan ”pada kemaluan kalian terdapat shadaqah([19]). Karena Rasul menambahkannya bahwa jika dilampiaskan pada yang haram maka akan berdosa. Hasrat seksual sengaja Allah ciptakan pada manusia sekaligus diberikan jalan pemenuhannya secara halal dan aman. Sedangkan, wacana kesetaraan gender punya kepentingan untuk melegalkan kebebasan seksual tanpa batas.

Poin lain dalam masalah sensitif ini adalah tentang masalah nusyuz yang sering disalahartikan dan tak jarang justru dituduhkan sebagai dasar normatif KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dalam Islam. Menurut bahasa, nusyuz diambil dari suatu dataran tinggi di bumi. Maka bisa diartikan nusyuz terjadi bila salah satu pihak dari masing-masing suami maupun istri merasa lebih tinggi dari yang lainnya. Nusyuz disebut secara spesifik sebanyak dua kali, yaitu dalam QS. An-Nisa: 34-35 bila terjadi dari pihak istri (perempuan) dan di dalam An-Nisa’: 128, jika terjadi dari pihak suami (laki-laki).

Ini adalah solusi penawaran dalam sebuah masalah yang terjadi di tengah keluarga. Jika permasalahan berat atau kesalahan dari pihak perempuan maka sebagai pemimpin rumah tangga laki-laki disarankan untuk menyeselaikannya dengan santun, melalui tiga tahap: menasehati dan berdialog, jika tak mempan maka diambil langkah berikutnya yaitu “pisah ranjang”. Adapun langkah ketiga “memukul” terdapat banyak aturan, di antaranya: tidak menyakiti dan tidak memukul wajah serta tidak menghinakan. Imam Malik bahkan menyaratkan boleh memukulnya dengan sehelai tisyu. Hal tersebut bukan dimaksudkan sebagai pelampiasan kemarahan atau hukuman tapi untuk mencairkan suasana dan mengembalikan keakraban serta keharmonisan. Imam al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan hadis Nabi SAW, ”Orang-orang pilihan di antara kalian takkan pernah memukul –istrinya-”([20]). Nusyuz istri ini tidaklah dikarenakan semua bentuk kesalahan istri, tapi kesalahan besar yang mengganggu keharmonisan rumah tangga. Ar-Ragib Al-Asfahany menegaskan, ”bahwa nusyuz terjadi bila istri merasa tinggi di depan suaminya sehingga berdampak ketidaktaatan, atau jika hatinya sudah tak berhasrat padanya dan berpaling pada laki-laki lainnya([21]). Demikian sebaliknya jika tanda-tanda nusyuz ditemukan seorang perempuan dalam diri suaminya, serta ada masalah disharmonisasi di tengah biduk rumah tangga, maka cara damai diutamakan untuk ditempuh. Jika dalam dua kondisi nusyuz di atas tak terelesaikan secara internal, maka dibolehkan minta mediasi (dari keluarga masing-masing mereka) untuk ikut menyelesaikan masalah. Dan jika cara ini tak menemui solusi yang baik, maka berpisah pun diperbolehkan dengan cara yang makruf. Sedang ketiadaan tahapan-tahapan penyelesaian nusyuz (bagi perempuan) mengandung hikmah yang sangat arif. Karena, jika perempuan disarankan memukul tentu rumah tangga akan berubah menjadi ring pertarungan yang tak seimbang. Dengan hal ini justru perempuan dilindungi dari kekerasan dan pelecehan martabatnya sebagai manusia yang terhormat.

Tak jarang, sebagian orang menukil beberapa data perceraian yang diakibatkan oleh KDRT sebagai argumen untuk mendelegitimasi aturan agama. Mereka mengatakan bahwa perilaku KDRT ini meningkat bisa jadi karena sandaran aturan normatif yang salah. Padahal, jika mau jujur orang-orang yang melakukan KDRT tesebut sama sekali tidak memahami aturan agamanya, bahkan mungkin tidak terbersit bahwa apa yang mereka lakukan memiliki pembenaran dan dalil. Dengan demikian kesimpulan di atas menjadi sangat prematur dan merupakan bentuk generalisasi yang tidak argumentatif.

3.      Masalah thalaq (perceraian)

Sebagai tindak lanjut masalah sebelumnya, kali ini talak atau perceraian diklaim sebagai bentuk lain perlakuan diskriminatif Islam terhadap perempuan atau bentuk hegemoni lain laki-laki terhadap perempuan. Karena –menurut mereka- laki-laki dan perempuan tidak memiliki hak talak yang setara.

Maka menurut para pejuang penyetaraan gender, sebagai bentuk keadilan yang mutlak adalah jika hak percerian hanya bisa dilakukan oleh pengadilan. Maka, pelucutan hak talak dari laki-laki merupakan bunyi keadilan dan kesetaraan gender. Di samping itu mereka juga menghendaki adanya iddah yang diberlakukan juga bagi laki-laki. Salah satu pejuang penyetaraan gender, Nawal Sa’dawi mengatakan, ”Sesungguhnya talak merupakan salah satu solusi untuk menyelesaikan sebagian masalah rumah tangga. Tapi apakah sebuah keluarga hanya berisi satu pihak saja yaitu laki-laki? Mengapa penyelesaian masalah justru merugikan pihak lain?([22]). Sementara yang lain –Aminah Wadud- memandang bahwa peraturan ini hanya bersifat temporer, mengingat kondisi saat turun wahyu sangat tidak memihak perempuan([23]). Maka di zaman saat kesetaraan dijunjung tinggi hal itu perlu direvisi dan diubah.

Talak adalah salah satu solusi disharmonisasi dalam rumah tangga, bahkan merupakan solusi terakhir yang ditempuh jika solusi alternatif lainnya tidak menghasilkan solusi yang memuaskan kedua pihak yang bertikai. Meskipun hak talak ini aslinya dipegang laki-laki, tapi diikuti batasan dan aturan yang sangat ketat. Karena ada kondisi tertentu yang tidak diperbolehkan menjatuhkan talak pada istri, demikian halnya kewajiban nafkah dan tempat tinggal tidak dengan otomatis berhenti seketika bagitu talak dijatuhkan pada sang istri. Secara normal dan umumnya pasangan, laki-laki yang selama ini menafkahi akan menakar-nakar ulang sebelum menjatuhkan pilihan antara mentalak atau menahannya. Tentu berbeda kasusnya jika penyikapannya hanya memperturutkan perasaan yang emosional. Biasanya perempuan lebih emosional dan lebih sering menuntut untuk diulangkan ke rumah orang tuanya. Bahkan dalam kondisi ia mampu menyumbangkan pemasukan bagi keluarga sekalipun. Maka pelucutan sepihak seperti di atas adalah bentuk kezhaliman. Ini belum membicarakan hak asuh anak dan masalah-masalah yang berkaitan dengan persusuan serta persoalan rujuk, jika terjadi keinginan antar keduanya untuk memulai membangun kembali mengurai disharmonisasi.

Di samping itu, jika dalam kondisi perempuan menjadi pihak yang dirugikan jika terpaksa bertahan dalam keadaan disharmonisasi yang menjeratnya, ia bisa melakukan khulu’ (tuntutan cerai kepada suaminya).

4.      Hijab/Jilbab

Menutup aurat yang menjadi salah satu tanda iffah dan usaha merealisasikan ketakwaan. Namun, kewajiban kaum muslimah ini didesakralisasi oleh para slogan perangusutamaan gender dengan meluaskan wilayah khilafiyah (perbedaan pendapat) dari yang sudah maklum di kalangan umat Islam; yaitu antara wajah dan kedua telapak tangan muslimah. Khilafiyah ini diperluas dengan redefinisi dan pembatasan aurat perempuan (di depan publik dan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya) menjadi lebih luas dari itu; yaitu bukan hanya sekedar wajah dan dua telapak tangan.

Orang-orang yang sering menyebut diri mereka kalangan modernis, di antaranya Muhammad Syahrur, meredefinisi ”az-zinah” yang dikecualikan dalam ayat (ولا يبدين زينتهنّ إلا ما ظهر منها) [QS. Al-Ahzab: 31] terbagi dalam dua hal: yaitu, 1. Az-zinah yang zhahir dan 2. Az-Zinah yang tersembunyi. Lalu apakah yang dimaksud zinah di sini yang sesuai dengan ruh dalam ayat QS. An-Nisa’: 22 dan 23. Setelah membagi jenis-jenis perhiasan/zinah, Syahrur juga menjelaskan apa yang dimaksud kata ”juyub” dalam Al-Qur’an yang dianggapnya aurat kubra. Ia lalu mengatakan, ”Jika ada pertanyaan: bolehkah seorang perempuan membuka auratnya (telanjang) di depan mahram-mahramnya. Maka saya jawab: boleh, jika tidak mengganggu atau ada keperluan. Jika ada rasa tak enak maka itu termasuk bagian dari adat, kepatutatan/aib atau malu. Tapi hal ini tidak ada hubungannya dengan halal dan haram, karena suami dan ayah termasuk di dalamnya. Jika seorang ayah melihat anak perempuannya demikian, ia jangan mengatakan: ini haram. Tapi katakanlah hal tersebut aib!([24]).

Sementara Muhammad Said al-Asywamy mencoba mengritisi argumen disyariatkannya jilbab yang menurutnya secara global bermula dari dua hal: melindungi kaum muslimat yang merdeka dari pelecehan seksual atau disamakan dengan budak atau pelacur pada saat mereka hendak menunaikan hajat (buang air). Inilah –menurut Asymawy- maksud yang sesungguhnya dan bukan untuk mewajibkan pakaian islami sebagaimana banyak diklaim orang. Apalagi saat ini untuk membedakan identitas seseorang sangat mudah karena ada kartu identitas, juga karena hampir semua model kamar kecil (toilet) sekarang berada di dalam rumah atau ruang yang sangat tertutup (privasi). Dengan demikian perlu peninjauan ulang terhadap klaim kewajiban jilbab([25]).

Penulis takkan menjawab syubhat ini, karena kewajiban tentang jilbab sudah demikian jelas sejelas kewajiban shalat dan zakat. Jika ada perdebatan maka wilayahnya menjadi sangat kecil, yaitu hanya wajah dan kedua telapak tangan. Jika sebagian muslimah atau banyak di antara mereka enggan mengenakan pakaian iffah ini maka tidak menjadi tolok ukur bahwa kewajiban jilbab kemudian tereduksi dan mengalami perubahan hukum atau dikatakan hukumnya belum final.

5. Waris

Satu-satunya wacana klasik yang diperdebatkan dalam masalah waris dalam frame kesetaraan gender adalah bahwa dalam masalah perwarisan seorang perempuan –hanya- mendapatkan jatah setengah bagian laki-laki. Maka ini merupakan bentuk perlakuan diskriminatif yang lain.

Padahal dalam agama Islam hukum waris adalah sebuah sistem komprehensif dan tidak boleh dipahami dan dilaksanakan secara parsial saja. Aturan-aturan tersebut dikemas dalam al-Qur’an yang kemudian dipelajari perkembangan kasus-kasusnya yang oleh para ulama kemudian dinamakan dengan sebuat disiplin ilmu ”Fara’idh”. Para pejuang gender tersebut hendak menggeneralisasi kondisi perwarisan, atau dimaksudkan untuk memblow up, beberapa kondisi yang sangat sedikit saja sehingga mendukung tujuan mereka serta menempatkan Islam dalam posisi tembak dan tak ubahnya seperti perundang-undangan yang bisa direvisi dan diamandemen.

Secara umum Islam mengatur hak perempuan dalam waris sebagai berikut, jika diperhatikan justru yang terjadi sebaliknya, perempuan menjadi sangat dimuliakan dan dijunjung derajat dan martabatnya.

  1. Hanya ada 4 kondisi saat perempuan menerima setengah bagian laki-laki
  2. Ada 8 kondisi saat perempuan menerima bagian sama sempurna seperti laki-laki
  3. Ada 10 kondisi saat perempuan menerima bagian lebih banyak dari laki-laki
  4. Bahkan ada beberapa kondisi saat itu perempuan menerima bagian, sementara laki-laki tidak mendapatkannya([26]).

6. Poligami

Adapun poligami yang dihalalkan Allah sudah tentu menjadi musuh utama para pejuang gender. Karena selain dianggap perlakuan diskriminatif terhadap perempuan, poligami dianggap tidak manusiawi dan merendahkan martabat perempuan. Tak heran, jika di mana-mana poligami disosialisasikan untuk diperangi, karena merupakan bentuk perbudakan dan perlakuan tidak adil yang dialami perempuan. Juga karena perempuan tidak diperbolehkan memiliki pasangan lebih dari satu.

Termasuk pula dalam pengertian ”mâ anzalallah” adalah hukum poligami. Dalam banyak pandangan di dalam masyarakat hukum poligami bukan sekedar dibolehkan, tetapi juga sunnah karena pernah dipraktekkan oleh Nabi SAW ([27]).

Gerakan anti poligami ini sangat mudah untuk digulirkan. Dengan memanfaatkan sisi emosional perempuan yang memang sulit menerima untuk diduakan, maka tak perlu berpikir panjang seolah-olah poligami adalah dilarang dan dimusuhi bersama. Di saat yang sama para pejuang gender tersebut ingin melegalkan dan melindungi praktek perselingkuhan dan perzinahan, termasuk perilaku seksual yang sangat bebas tanpa batasan tertentu karena dipandang sebagai wilayah yang sangat privat.

Padahal poligami adalah sebuah solusi sebagaimana perceraian yang diperbolehkan dalam Islam. Adanya syarat keadilan yang tak bisa ditawar merupakan bentuk pengetatan dan rem keberanian seorang laki-laki sebelum melangkah mengambil keputusan untuk menikah lagi. Nabi Muhammad SAW sendiri tetap bertahan monogami selama kurang lebih 27 tahun. Sulitnya kondisi perceraian tak menyebabkan seseorang harus mengatakan bahwa talak diharamkan. Maka demikian halnya dengan poligami, yang jika –terpaksa- dilakukan karena suatu sebab dan diikuti dengan pemenuhan keadilan yang maksimal maka adalah bentuk prestasi. Meski pandangan yang mengatakan bahwa poligami adalah sunnah, tetap harus dikritisi dan dikaji ulang. Karena poligami merupakan salah satu solusi masalah sosial dan juga kebutuhan pribadi di waktu yang sama. Maka secara proporsional –justru- akan kembali menempatkan perempuan dalam kehormatannya. Berbeda dengan perselingkuhan dan perzinahan yang merupakan bentuk hubungan yang sulit dipertanggungjawabkan secara manusiawi sebelum di hadapan hukum Allah.

7. Kepemimpinan (qawwamah)

Masalah qawwamah cenderung dibahasakan sebagai penguasaan atas perempuan. Kepemimpinan yang dimaksud adalah pengayoman didistorsis sebagai hegemoni dan diktatorisme. Parahnya pembahasan kepemimpinan lokal dalam skup rumah tangga kemudian diluaskan ke mana-mana seolah menjadi genderang perang terhadap Al-Quran yang diklaim menutup hak politik dan publik para perempuan.

Gerakan dan perjuangan para pembela kesetaraan gender ini bahkan sangat berlebihan. Sebagai contohnya, ranah politik dipaksakan harus mengakomodir 30% jatah khusus perempuan. Ini di Indonesia, di saat negara-negara maju di dunia ini tak sampai menetapkan kuota dengan angka seperti itu.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik[28] mengakomodasi beberapa paradigma baru Indonesia. Pasal 2 ayat (2) dan ayat (5) yang menyebutkan :

(2)   Pendirian dan pembentukan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyertakan 30% keterwakilan perempuan.

(5)   Kepengurusan Partai Politik tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dengan menyertakan paling rendah 30% keterwakilan perempuan.

Islam tak melarang perempuan untuk menggunakan hak politiknya juga tak melarang rincian-rincian di atas. Namun, jika ditilik dari munculnya undang-undang tersebut maka tak bisa dilepaskan dari semangat pengarusutamaan gender, atas nama kesetaraan gender.

8. Persaksian perempuan

Isu yang diangkat dalam masalah persaksian juga tak jauh berbeda seperti poin-poin sebelumnya, perlakuan tak adil (diskriminatif) terhadap perempuan dalam masalah persaksian didakwa sebagai pembedaan/diskriminasi perempuan sekaligus sama halnya menempatkan perempuan sebagai setengah manusia.

Banyaknya wilayah perbedaan dalam masalah ini di kalangan para ulama mengindikasikan bahwa terjadi perkembangan yang konstruktif. Dan semakin menegaskan pemahaman para ulama akan hal-hal yang konstan (tsâbit) yang tak bisa berubah yang tidak menjadi wilayah ijtihat serta mana yang termasuk wilayah yang berubah (mutaghayyirât). Sebagai contoh sederhana, seorang murid yang sangat setia pada gurunya seperti Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, banyak berbeda pendapat dengan gurunya, Ibnu Taimiyah dalam masalah ini([29]).

 

Metode yang Digunakan

Untuk disebut sebagai sebuah metode, dalam kajian apapun yang diperlukan adalah konsistensi dan nilai ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Secara khusus penulis tidak menemukan metode yang digunakan para pejuang gender untuk mencari sandaran normatif dalam rangka mendukung dan menguatkan propaganda mereka dari perspektif agama. Meskipun pada dasarnya agama dan etika adalah dua hal yang dihindari, dikritisi dan dijauhi.

Secara global pembahasan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan perempuan dikaji dalam perspektif kesetaraan gender dengan beberapa pendekatan dan metode berikut.

1. Hermeneutika

Secara umum hermeneutika adalah penakwilan bebas dan tak ada yang final dalam penafsiran teks (relativisme). Wahyu telah berubah menjadi teks dan masuk ke dalam ranah manusia karena sudah diturunkan ke bumi. ”Sebuah ilmu tentang penakwilan teks-teks suci atau teks agama manusia, seperti sebuah tafsir atau ilmu filologi, pemaknaan literal (harfiyah), atau pendekatan marfologi dan gramatikal. Atau yang dikenal sebagai penafsiran per lafazh([30]). “… yaitu dengan menanyakan banyak hal dari sumbernya atau dari pembacaan di lain sisi([31]). Maka bagi para penganut ”tafsir hermeneutika” ada lima unsur pokok: (1). Matinya pengarang, karena penakwilan dibebaskan sesuai pembacaan pembaca; (2). Wahyu telah beralih menjadi teks manusia, maka bisa dikritisi sebagaimana karangan manusia; (3). Tak ada yang zhahir, semuanya bisa ditakwilkan; (4). Relativisme dan tidak ada yang final dalam penakwilan, karena akan terus berkembang; (5). Maka sebagaimana para mufassirun berkarya, semua yang datang setelahnya boleh berkata apa saja. Di antara pelopor hermeneutika: Schleirmacher (1768-1834 M), Martin Heidegger (1889-1976 M), Gadamer (1900-2002 M). Oleh para sarjana muslim yang belajar ke Barat, hermeneutika dianggap sebagai penemuan atau ilmu baru yang dibutuhkan dalam penafsiran Al-Quran.

2.      Kritik sastra dan kebahasaan Al-Quran

1. Strukturalisme (al-binyawiyah):

Dengan pendekatan strukturalisme, Al-Quran bagaikan teks yang berdiri sendiri terlepas dari berbagai ikatan ideologis. Atau menjadikan teks harus dikembalikan kepada kaidah kebahasaan yang memiliki aturan gramatikal dan sebagainya. Tidak finalnya Al-Quran ditunjukkan dengan adanya qira’ah sab’ah (tujuh) atau asyrah (sepuluh). Maka bagi kritikus strukturalis tidaklah memiliki misi mengungkap hakikat sesuatu yang terkandung dalam bahasa teks, tapi misinya adalah menyesuaikan bahasa teks dengan bahasa modern saat ia hidup di tengahnya([32]).

Di antara para pelopor aliran kritik sastra ini: Ferdinand De Sausure (1857-1913 M) dan Roland Barthes (1980-1915 M).

2. Dekonstruksi (at-tafkîkiyah): adalah sebuah metode pembacaan teks yang beranggapan, setiap teks/ungkapan selalu kontekstual. Di antara tokohnya: Jacques Derrida (1930-2004 M) menunjukkan bahwa kita cenderung untuk melepaskan teks dari konteksnya. Satu term tertentu kita lepaskan dari konteks (dari jejaknya) dan hadir sebagai makna final. Inilah yang Derrida sebut sebagai logosentrisme, yaitu, kecenderungan untuk mengacu kepada suatu metafisika tertentu, suatu kehadiran objek absolut tertentu. Dengan metode dekonstruksi, Derrida ingin membuat kita kritis terhadap setiap teks. Derrida sendiri banyak terpengaruh oleh Nitche (1844-1900 M)([33]) dengan filsafat nihilismenya([34]).

3. Stylistik (al-uslûbiyah):

Yaitu dengan menempatkan Quran dalam kritik sastra dan kebahasaan. Wahyu yang semula adalah kalam Allah, ketika disampaikan kepada Muhammad (manusia), maka yang digunakan adalah bahasa manusia. Adanya kesenjangan antara dua bahasa tersebut (antara sumber dan penerima) dimediasi oleh Jibril. Maka yang menjadi pusat kritik bukan asal sumbernya (wahyu/kalam Allah), juga bukan penerimanya (Nabi Muhammad), juga bukan mediatornya (Jibril), tapi teks yang sampai kepada Umat Islam. Al-Quran yang diterima Nabi Muhammad dari Jibril, pasti berbeda pemaknaan dari yang diterima sahabat langsung dari Nabi SAW, demikian seterusnya para tabi’in hingga sampai ke zaman sekarang. Maka kritik gaya bahasa (uslub) dijadikan poin penting dalam kritik. Meski terjadi perbedaan serius di antara para pelopor aliran ini([35]), tapi tetap bisa dipakai para pejuang gender untuk mengangkat kebenaran relatif dan perlunya amandemen isi al-Quran.

4. Semiotika (as-simiya`iyyah):

Dengan metode ini yang dipusatkan adalah unsur bahasa yang sering disebut kode atau simbol([36]). Maka unsur-unsur yang dimuat dalam al-Quran juga demikian, menjadi sangat relatif. Sebagai contoh: definisi khamr, aurat dalam kebahasaan Arab akan berkembang dan mungkin berubah jika dilakukan dengan pendekatan bahasa lain dan di tengah komunitas lain.

 3.      Pendekatan sejarah

Dengan pendekatan sejarah, agama (Islam) dimasukkan sebagai unsur sejarah([37]) dan budaya yang mengalami perkembangan. Maka kandungan ajaran-ajaran yang dibawa harus dikritisi dan direvisi untuk menyesuaikan perkembangan sejarah. Tak heran jika kemudian muncul istilah ”muntaj tsaqafi” (produk budaya) sebagai padanan Al-Quran([38]). Artinya sebagai produk budaya Al-Quran juga tak bisa lepas dari kritik dan revisi. Termasuk di dalamnya tema-tema perempuan dan gender.

Tak heran jika kemudian, para pejuang kesetaraan gender mencoba memperjuangkan persamaan antara laki-laki dan perempuan termasuk dalam wilayah budaya dalam RUU KKG (Kesetaraan dan Keadilan Gender). Jika nantinya RUU ini disahkan, maka bisa dijadikan pintu untuk merevisi atau mengamandemen aturan-aturan agama yang sudah pakem. Apalagi jika ditekankan bahwa Islam adalah bagian dari sejarah dan budaya([39]), maka sudah selaiknya ditinggalkan dan diganti dengan yang baru. Atau jika tak memungkinkan setidaknya diperbarui dan diubah kandungannya.

4.      Pendekatan sosiologis dan antropologis

Dengan pendekatan ini, dipahami bahwa agama adalah fenomena sosial([40]), maka perilaku keagamaan orang Arab tak bisa disamakan dengan perilaku keagamaan orang Indonesia. Targetnya adalah lokalisasi ajaran agama (nasionalisasi). Termasuk di antaranya kondisi perlakuan terhadap perempuan dan kentalnya sistem laki-laki dalam Arab. Maka dengan sendirinya, dalam konteks keindonesiaan atau tatanan sosial modern perlu diatur perlakuan manusiawi yang lebih bermartabat kepada perempuan.

5.      Pendekatan psikologis

Dalam pendekatan ini, yang diutamakan dalam tataran realita adalah hasil dari perilaku keagamaan. Tanpa melihat seseorang memeluk agama tertentu apa. Dari sini akan dimunculkan sebuah madhab baru dalam beragama, yaitu madzhab pluralisme([41]). Yang terpenting adalah keshalihan dan kebaikan individu tanpa memandang agama yang dianutnya. Atau dengan kata lain mereka mengklaim mengambil intisari kebaikan dari berbagai agama.

RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG)

Target dari pengesahan RUU KKG adalah kriminalisasi segala bentuk pelanggaran dan perlakuan diskriminatif terhadap perempuan([42]), tanpa memandang kondisi. Maka dengan rujukan RUU ini kelak akan berimplikasi terevisi dan teramandemennya beberapa Undang-Undang di negara ini, khususnya secara mendasar akan terjadi perubahan besar dalam UU Perkawinan (Ahwal Syakhshiyyah). Target dan sasaran ini bisa diendus dengan masuknya unsur budaya dalam berbagai poin dalam RUU tersebut. Dengan pendekatan budaya dan sejarah, maka segala bentuk aturan agama adalah unsur budaya yang terus mengalami perkembangan.

Meskipun belum bisa digeneralisir, namun patut dicermati sebuah fakta yang mencengangkan sekaligus menyedihkan. Angka perceraian di Indonesia pasca reformasi (di atas tahun 2000) meningkat empat hingga sepuluh kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2009, terdapat 250 ribu perkara perceraian, atau sebanding dengan 10% angka pernikahan di tahun yang sama. Tujuh puluh persen di antara perceraian tersebut adalah bentuk cerai gugat, yaitu pihak istri (perempuan) yang menggugat cerai suaminya dengan berbagai sebab([43]). Padahal para pejuang dan pembela kesetaraan gender sering mengemukakan bahwa terjadi perbaikan dan peningkatan dalam penerapan kesetaraan gender serta penekanan angka perlakuan diskriminatif terhadap perempuan.

Penutup

Di antara bukti Islam menghargai dan menghormati perempuan, di dalam Al-Qur’an secara khusus terdapat sebuah surat bernama Surat an-Nisa’, wasiat terakhir Nabi Muhammad SAW adalah berkaitan dengan perlakuan yang baik terhadap perempuan, serta banyak kesempatan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang memerinci penempatan mulia serta menjunjung martabat perempuan. Maka, kita tak menafikan perjuangan dan kegigihan para pejuang gender, tapi yang kita perlu waspadai jika aksi tersebut berbau politis dan ideologis, dengan membawa misi anti kemapanan, relativisme serta mendobrak nilai dan tatanan agama serta memerangi kemapanan keluarga dalam masyarakat.


([1]) Alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Quran, Wakil Ketua Komisi Seni Budaya MUI Pusat, Divisi Kajian Sharia Consulting Center (SCC) Jakarta, Dosen di Sekolah Tinggi An-Nuaimy, Jakarta, Dosen Pasca Sarjana PTIQ Jakarta, aktif di Asia Pasific Community for Palestina di Jakarta.

([2]) Dr. Ali Muhammad Shalabi, As-Sirah An-Nabawiyyah; Ardh Waqa’i wa Tahlil Ahdats, Darut Tauzi’, Cairo, Cet. II, 20023 M-1424 H, Jilid 2, hlm. 363-364. Suhailah Zainal Abidin, al-Mar’ah al-Muslimah wa Muwajahah Tahaddiyat al-Aulamah, Ubaikan, Riyadh, Cet.I, 2003 M-1424 H, hlm. 190-191.

([3]) An-Nawawi, Minhaj al-Qashidin wa Umdatu al-Muftin, Darul Ma’rifah, Beirut, 1986 M-1406 H, J.1, h. 21.

([4]) Lihat Helen Tierney (Ed.), “Women’s Studies Encyclopedia”, Green Wood Press, New York, Vol. I, hlm. 153.

([5]) Lihat Wikipedia Online, dengan alamat http://en.wikipedia.org/wiki/Gender, diakses tanggal 17 September 2010.

([6]) dikutip dari Naskah Akademis RUU KKG (Kesetaraan dan Keadilan Gender), Tim Kerja PUU-Deputi Perundang-undangan DPR RI, 24 Agustus 2011, hlm. 11

([7]) M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1200 – 2008 M), Serambi, Jakarta, Cet. I, 2008, hlm. 341

([8])United Nations, The CEDAW and its Optinal Protocol-Handbook for Parlimentarians, Switzerland, 2003,  hlm. 9, 13

([9])International Commision of Jurists, Sexual Orientation, Gender Identity and International Human Rights Law-Practitioners Guide No. 4, Geneva, 2009, hlm. 52, 53

([10]) Siti Musdah Mulia, Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender, Kibar Press, Yogyakarta, Cet.II, Agustus 2007, hlm. 62, 63

([11]) sebagaimana dinukil oleh Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya (Mafatih al-Ghaib, Darul Fikr, Beirut, Cet. I, 1980 M – 1401 H, Jilid 9, hlm. 167)

([12]) Yaitu QS. An-Nisa’:1, QS. Al-An’am: 98, QS. Al-A’raf: 189, QS. Luqman: 28, QS. Az-Zumar: 6

([13]) Muhammad Syahrur, Al-Kitab wa Al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah, 596-597

([14]) QS. Ali Imran: 59

([15]) HR. Bukhori dalam shahihnya, Bab Lima Khalaqtu bi Yadayya, hadis nomer 6975, dan Muslim dalam Kitâb al-Iman, Bâb Adnâ Ahli al-Jannah Manzilatan, hadis nomer 193.

([16]) QS. An-Nisa’: 1, QS. Al-A’raf: 189 dan QS. Az-Zumar: 6

([17]) HR. Bukhori, Kitâb Bad’i al-Wahyi, Bâb Wa Idz Qâla Rabbuka, hadis nomer: 3084, Muslim, Kitâb Ar-Radha’, Bâb al-Washiyyah bi an-Nisa`, hadis nomer: 1468, At-Tirmidzi, Kitâb Ath-Thalâq, Bâb Mâ Jâ`a fi Mudârah an-Nisa`, hadis nomer: 1188, hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim, Imam Ahmad dan ad-Darimy.

([18]) Siti Musdah Mulia, Menuju Hukum Perkawinan yang Adil: Memberdayakan Perempuan Indonesia, dalam Sulistyowayi Irianto, Perempuan dan Hukum, Yayasan Obor, Jakarta, Cet II, 2008, hlm. 158

([19]) HR. Muslim, Kitâb Az-Zakâh, Bâb Bayân Ismi as-Sadaqah, hadis nomer: 1006, hadis ini diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar al-Ghifary ra.

([20]) Al-Hakim dalam al-Mustadrak dan mengatakan bahwa sanadnya shahih (2/208), juga Imam Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, hadis nomer: 14553

([21]) Ar-Raghib, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, Maktabah Nazar Musthafa, Riyadh, Cet.I, 1997, hlm. 493.

([22]) Dr. Nawal Sa’dawi, Qadhaya al Mar’ah wa al-Fikr wa as-Siyasah, Maktabah Madbuli, Cairo, 2002, h. 218.

([23]) Dr. Aminah Wadud, Al-Qur’an wa Al-Mar’ah: I’adah Qira’ah an-Nash al-Qur’any min Manzhur Nisa’iy, Maktabah Madbuli, Cairo, Cet.I, 2006 hlm. 129-132.

([24]) Dr. Muhammad Syahrur: Al-Kitab wa al-Quran: Qira’ah Mu’ashirah, Syarikah al-Mathbu’at li Tauzi wa an-Nasyr, Beirut, Cet.I, 1992 M – 1412 H, hlm. 605-606.

([25]) Muhammad Said al-Asymawy, Ma’alim al-Islam, Sina li an-Nasyr, Cairo, Cet.I, 1989, h. 124-125

([26]) Shalah Sultan, Mîrâts al-Mar’ah wa Qadhiyatu al-Musâwâh, Nahdhah Misr, Cairo, Cet.I, 1999, hlm. 10-11

([27]) Husein Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan, Penerbit LkiS, Yogyakarta, Cet. II, 2007, h. 29-30

([28]) Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2 Tentang Partai Politik

([29]) Seperti yang beliau tulis dalam karyanya, Ath-Thuruq al-Hukmiyah fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah, Tahqiq: Nayif Ahmad al-Hamd, Dar Alam al-Fawa’id, Makkah, Cet.I, 1428 H.

([30]) Dr. Ahmad Idris Ath-Tha’an, Al-Qur’ân al-Karîm wa at-Ta’wîliyah al-Almâniyyah,  hlm. 2.

([31]) Dr. Nashr Hamib Abu Zaid, Isykaliyât al-Qirâ’ah wa Âliyât at-Ta’wîl, Al-Markaz Ats-Tsaqafi al-Araby, Casablanca, 2005, hlm. 13

([32]) Manal Shalih al-Muhaimid, Tahawwulât an-Nash Baina al-Binyawiyah wa at-Tafkîkiyah, hlm. 1.

([33]) lihat: Megan ar-Ruwaily, Dalil an-Naqid al-Adaby, al-Markaz ats-Tsaqafy al-Araby, Casablanca-Maroko, Cet.III, 2002, hlm. 108

([34]) Nihilisme (al-Adamiyah) sebuah paham dan aliran yang didasarkan pada pengingkaran/penafiyan terhadap nilai-nilai atau pemikiran sebagai sesuatu yang absolut, nilai atau norma tersebut sangat relatif, maka tak perlu diatur oleh undang-undang atau negara karena menyangkut kebebesan dan privat (Akademi Bahasa Arab Mesir, al-Mu’jam al-Falsafy, Al-Mathabi’ al-Amiriyah, Cairo, 1983 M- 1403 H, hlm. 118)

([35]) Seperti yang ditulis oleh Dr. Shalah Fadhl, Manâhij an-Naqd al-Mu’âshir wa Mushtalahâtihi, Merit, Cairo, Cet. I, 2002, hlm. 111-112.

([36]) Ibid, hlm. 121-122.

([37]) Nuruzzaman Shiddiqie, Pengantar Sejarah Muslim, Nur Cahaya, Yogyakarta, 1983, hlm. 13.

([38]) Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an, Elsaq Press, Yogyakarta, Cet.I, 2005, hlm. 100.

([39]) Lihat, misalnya: BAB I (Ketentuan Umum), Pasal 1, dan BAB III (Hak dan Kewajiban) pasal 14 dalam RUU KKG (Kesetaraan dan Keadilan Gender)

([40]) Sayyed Hossein Nasr, Knowledge and the Scared, Suhail Academy, Lahore, 1988, hlm. 66.

([41]) Madzhab yang memandang bahwa semua agama adalah sama benar, terpengaruh dengan falsafah relativisme yang menafsirkan eksistensi, perilaku dengan perspektif yang berbeda-beda (Al-Mu’jam al-Falsafi, Ibid, hlm. 48).

([42]) Seperti termaktub dalam: BAB IX (Ketentuan Pidana), Pasal 70-72 dalam RUU KKG .

([43]) lihat: International Islamic Commitee for Women and Child (IICWC), Tatanan Keluarga dalam Islam, Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Jakarta, 2012, hlm. vii

Oleh: saiful bahri | Mei 18, 2011

SIDANG DISERTASI

Munaqosyah

Banner Sidang Disertasi S3 di Al-Azhar Univ

Mohon Doa Restu

Insya Allah akan dilaksanakan Sidang Disertasi saya

“Deskripsi dan Kritik atas Metodologi Penafsiran

Ayat-Ayat Perempuan dalam Alquran Perspektif Sekuler”

Hari/Tanggal : AHAD, 22 Mei 2011

Jam : 11.00 CLT – selesai

Tempat : Auditorium Grand Syeikh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, Fakultas Ushuluddin, Al-Azhar Uni. Cairo

Terimakasih atas doa dan dukungannya

Saiful Bahri

Oleh: saiful bahri | April 28, 2011

LELAKI BERMENTAL BAJA

Rabu, 27.04.2011
Hari ini terasa berjalan sangat lambat. Penyebab utamanya mungkin karena sejak pagi kepalaku terasa sedikit pening. Kurang teratur istirahat dan makan, mungkin, yang secara otomatis membuat jadwal olah raga juga tak seimbang. Saat dituntut kondisi prima fisik dan psikis.
Usai memberikan pengantar dalam sebuah acara pelatihan manajemen, aku kembali ke rumah menyelesaikan sisa pekerjaan yang tertunda kemarin. Alhamdulillah, beberapa menit sebelum zhuhur selesai. Kepalaku makin berat. Aku bertahan untuk tidak memejamkan mata, karena ada seorang teman yang akan bertamu ke rumah. Tapi sepertinya kali ini aku tak bisa menerimanya karena masih ada beberapa urusan setelah itu.
Menjelang ashar aku mulai ragu… Ikut rapat apa tidak?
Sebenarnya, aku bisa saja izin, toh -sebelumnya- aku telah mendelegasikan rapat ke sekretaris, Ustadz Fakhri, karena aku ada urusan sebentar dan akan sedikit terlambat. Bisa saja jika kemudian diteruskan untuk tidak hadir. Tapi aku teringat wajah-wajah tegar panitia MUSAT IX Orsat ICMI Kairo. Etos tak kenal lelah ditunjukkan oleh mereka sejak dua pekan lalu, dan sangat terlihat di acara-acara perlombaan dan pelatihan pra MUSAT. Wajah-wajah itu membuatku kuat…
Tanpa harus menunggu lama, aku segera menaiki bis ke arah Wisma Nusantara. Aku bahkan tak ingat naik bis nomor berapa. Karena hatiku benar-benar ”dicuri” oleh seorang pria bermental baja.
Setelah mengambil karcis aku segera mengambil posisi duduk di deretan kursi belakang. Karena itu satu-satunya kursi kosong yang masih tersisa. Sebelum aku duduk, tiba-tiba seorang lelaki di hadapanku melakukan gerakan aneh. Ia mengambil dompet dari saku baju atasnya dengan mulutnya. Kemudian ia memberi isyarat agar aku mengambilnya. Ternyata dia tak bisa bicara, -maaf- seorang tuna wicara. Bahkan ia sangat kesusahan menggerakkan kedua tangannya. Aku terheran, dengan sikapnya. Aku dibantu orang-orang di sekitarku, memahaminya. Ternyata ia minta diambilkan uang 1.5 Le untuk membayar karcis bis.
Deg. Aku kaget. Setelah kupastikan ia menggenggam uang itu ia berjalan ke depan –dengan susah payah- juga. Ia meninggalkan tas plastik dan beberapa barangnya di sampingku. Aku bertanya ke seorang perempuan tua di sampingku, kenapa ia tak mau saya bayarkan tadi? Sang Ibu menjawab, ”Ia tak mau, karcisnya dibayarkan orang”. Aku mengangguk. Pantasan ia berteriak -mungkin protes- ketika uangnya akan kuberikan ke depan secara berantai sebagaimana biasa. Ia lebih memilih berjalan ke depan sendiri menjemput karcis setelah membayarnya.
Masya Allah sampai segitunya…
Tak lama setelah itu, ada sekelompok remaja, laki-laki dan perempuan, sepertinya siswa-siswi SLTA. Aku perhatikan tingkah laku mereka, seperti umumnya anak-anak ABG. Mereka memang tak membicarakan laki-laki disampingku, tapi dari cara mereka melihat aku bisa merasakan bahwa mereka memandang negatif terhadap lelaki di sampingku. Jika aku jadi dia aku kan terasa bahwa mereka benar-benar merendahkan. Sang lelaki itu hanya tersenyum. Kemudian ia mendekap erat tas plastiknya dengan erat. Kulihat ada beberapa butir keringat keluar dari keningnya. Itu mungkin karena tadi ia berjuang keras mengeluarkan dompetnya dari saku baju. Juga sangat kesusahan ketika ia berdiri dan kemudian berjalan ke depan.
Aku tak mau memandang laki-laki di sampingku saat ia sibuk dengan barang-barang bawaannya. Saat ia memandangku aku membalas senyumannya. Kemudian aku kembali dengan lamunanku. Hingga halte tujuanku mendekat. Aku segera memberi isyarat padanya, mohon izin hendak melewatinya. Ia tersenyum dan kemudian -susah payah- untuk berdiri. Kemudian aku segera bangkit. Aku membalikkan badan. Kali ini kulihat ia kembali tersenyum padaku. Aku membahasakan bahasa tubuhnya, “Terimakasih”. Aku membalas senyum ramahnya, “Justru akulah yang harus berterima kasih. Hari ini aku belajar padamu”
Ah… lelaki itu sangat luat biasa bagiku. Mentalnya benar-benar baja.
Lelaki “tak sempurna” itu begitu tegar, ia bahkan tak mau dibantu orang lain. Ia bahkan tak marah jika orang meremehkannya atau merendahkannya. Karena mereka mungkin tak mengetahui sedikit “kelebihannya” yang tak terlihat, namun menurutku sangat luar biasa. Di mata banyak orang ia sangat terlihat banyak kekurangan, bahkan laik untuk dikasihani. Mungkin kebalikan dengan kondisiku, tak sedikit orang-orang di sekelilingku banyak yang melihat kelebihanku dan -mungkin- sedikit yang tahu keburukan-keburukan serta kekuranganku. Minimalnya kedua kaki dan tanganku normal. Aku juga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan dan aku inginkan dengan mulut atau tanganku… Berbeda dengannya.
Sungguh aku sangat malu, jika karena kelelahan sedikit kemudian menghentikan aktivitasku untuk sebanyak-banyaknya berbuat, agar sisa waktuku di Mesir bisa lebih banyak manfaatnya, untuk orang di sekelilingku.
Itulah yang membuatku bertahan hari ini… bahkan sampai lewat tengah malam saat kubuka pintu rumahku. Alhamdulillah, bayangan lelaki bermental baja itu masih terus terbayang.
Usai shalat… setelah mendoakan keluargaku, guru-guru dan teman-teman serta adik-2 panitia agar Allah kuatkan dan jaga mereka serta karuniakan keikhlasan serta taufiq-Nya. Aku ingin mengirim doa untuknya. Doa untuk lelaki bermental baja yang menginspirasiku hari ini.
Terima kasih ya Qawiyy… Kau kuatkan aku dengan mengirim orang sepertinya didekatku. Aku memaksa menulis ini agar pagi nanti atau siangnya, atau kapan saja. Setruman semangat itu masih sangat terasa. Ternyata kadang aku kurang bersyukur dengan keadaanku. Ya Allah jadikanlah aku hamba-Mu yang pandai bersyukur.

Jelang rehat, meski tetap sulit pejamkan mata
Rumah cinta, Kamis Dini Hari, Cairo 28.04.2011

Oleh: saiful bahri | September 26, 2010

Jika Engkau

Jika engkau lelah. rebahkan dirimu dalam pangkuan-Nya. Niscaya kan kau temukan berjuta ketenangan.

Jika engkau gundah, dinginkan dengan bacaan ayat-ayat-Nya.

Jika engkau gelisah temuilah orang-orang shalih yang engkau percaya.

Jika engkau tak tau harus apa. Bacalah buku. Sinarilah hidupmu dengan membaca dan menuntut ilmu. Dimanapun.

Jika engkau merasa sendiri. Hitunglah orang-orang yan mencintaimu, menghargaimu dan berjasa dalam hidupmu.

Jika engkau merasa tak tau apa yang kau rasakan…. Renungilah ayat-ayat kauniyah. Fenomena alam. Hewan-hewan dan tumbuhan semua bertasbih dengan riang.

Maka bagaimanapun kondisimu usahakan bermanfaatlah bagi orang disekelilingmu.

dedicated to

Jiwa-jiwa yang terus bekerja untuk kemanfaatan sesama

Cairo, 26.09.2010

Oleh: saiful bahri | Agustus 27, 2010

RENUNGAN NUZULUL QUR’AN

SENTUHAN-SENTUHAN BERKAH*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Renungan Kemuliaan

Sungguh, seseorang yang menghamba pada Yang Maha Mulia maka akan ikut menjadi mulia. Karena Yang Maha Mulia telah memberikan kemuliaan-Nya dengan berkah kasih sayang dan cinta serta ampunan-Nya terhadap kesalahan dan kekhilafan.

Di awal bulan istimewa-Nya ini, Allah menurunkan kasih sayang untuk para pemburu cinta-Nya. Saat sepuluh hari pertama telah kita lewati dan seandainya Dia mengumumkan daftar nama orang-orang yang dirahmati-Nya, apakah kita mampu mencari nama kita termasuk di dalamnya?

Kemudian, ketika kita memasuki peluang hari berikutnya untuk memburu ampunannya, mencari maghfirah-Nya. Karena di sepertiga kedua ini Allah melapangkan dan melebarkan pintu maaf dan ampunan-Nya.

Wahai sang pemburu kebaikan terimalah. Wahai para pelaku keburukan berhentilah…

Seruan langit membahana memenuhi rongga-rongga hati orang-orang yang sadar akan peluang. Peluang untuk mengejar ketertinggalan. Peluang untuk memperbaiki catatan prestasi. Peluang untuk sebuah pertemuan dengan Pemilik segala kemurahan dan kemudahan, Sang Penyayang makhluk-Nya meski telah berkali-kali mengkhianati dan mendurhakai-Nya.

Seandainya Allah mengumumkan list nama-nama yang diampuni oleh-Nya, pada akhir hari ke dua puluh nanti, apakah kita bisa yakin bahwa nama kita benar-benar tertera di sana?

Mungkin tiada yang berani menjawabnya. Karena tiada pula ada yang bisa memastikan hal tersebut.

Maka, nantinya pada saat kita memasuki etape terakhir kursus pembekalan ini, ada daya juang yang mesti lebih kita kerahkan lagi. Ini merupakan rute tersulit yang di dalamnya –kadang– orang telah kehilangan konsentrasi. Sebagian justru jauh berpikir dan berorientasi duniawi ke depan, bagaimana mempersiapkan dan memeriahkan suasana lebaran dan jauh memikirkan berbagai keadaan setelah selesai berpuasa. Padahal Ramadan belum benar-benar pergi dan meninggalkan kita.

Sepuluh malam terakhir ini merupakan babak final yang menjadi akibat dari dua level sebelumnya.

Rahmah dan kasih sayang Allah membawa ampunan untuk para hamba-Nya. Seandainya ia merasa belum maksimal merasakannya serta memburunya di sepertiga pertama, ia akan memburu ampunan tersebut. Dan ampunan tersebutlah yang nantinya menghantarkan menuju pembebasan dari kemurkaan-Nya yang dahsyat. Pembebasan dari api neraka dan murka yang tiada seorang pun sanggup menghalangi dan melindungi diri darinya.

Sentuhan Keberkahan

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. 97:1)

Allah menurunkan Al Qur’an pada sebuah malam yang mulia yang “… lebih baik dari seribu bulan” . (QS. 97:3)

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya.

Malam yang hanya bersentuhan sesaat saja dengan Al Qur’an, nilainya digandakan Allah lebih baik dari 30.000 malam yang tidak bersentuhan dengan lailatul qadr tersebut.

Hati mana yang tak berbinar meraih jutaan rahmat dan cinta yang tak terbilang. Harapan ampunan yang tak tersia-siakan. Permohonan lindungan dari kemurkaan yang dikabulkan.

Ambil contoh sederhana. Al Qur’an, terdiri dari 318.304 huruf. Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa satu huruf mendapatkan sepuluh kebaikan. Disamping itu amal baik dibulan ini dilipatkan menjadi 70 kali lipat. Jika kita mengkhatamkan–sekali saja–bacaan Al Qur’an di bulan ini, maka kita akan mendapatkan angka fantastis: 222.812.800 kebaikan. Itu belum hitungan huruf-huruf yang dobel. Belum lagi kalau kita mau mentadabburinya. Belum lagi kalau kita baca dalan shalat. Dan seterusnya. Sedang shalat wajib kita selama sebulan ini bila kita hitung secara matematis, juga akan menghasilkan angka yang cukup besar:10.500.

Dan di dalam al-Qur’an malam tersebut dikenal dengan malam lailatul qadar yang dinali dan kadar kualitasnya, “lebih baik dari seribu bulan”. Seberapa lebihnya tak diberikan penjelasan lebih lanjut oleh Allah. Mungkin bagi seseorang ia akan mendapat kelebihan kebaikan setara dengan seribu lima ratus bulan. Sebagian lagi mungkin akan mendapatkan kesetaraan dengan dua ribu bulan. Bahkan ada yang mendapatkan kelebihan-kelebihan yang melebihi itu semua. Itulah malam misteri yang penuh kebaikan.

Betapa beruntungnya malam itu. Lebih beruntung lagi, bagi mereka yang menggunakan kesempatan ini. Bagi para pemburu kebaikan seribu bulan, pasti dijadikan sebuah peluang emas untuk menutupi keterbatasan dua etape sebelumnya di 20 hari yang telah lewat.

Lantas bagaimana dengan seorang mukmin yang tenggorokannya dilewati oleh huruf-huruf Al Qur’an. Tentu tenggorokan tersebut lebih baik dari tenggorokan-tenggorokan lainnya. Satu hurufnya saja diberi insentif ukhrâwi berupa sepuluh kebaikan. Ada berapa huruf di dalamnya. Telinga yang mendengarkannya, lebih baik dari telinga yang menjauh darinya. Mata yang membacanya, lebih baik dari mata yang menghindarinya. Dan mata ini menjadi akumulasi ketiganya… ia meneteskan air mata karena mendengarkan, melihat dan membacanya. Air mata kesyahduan. Ada ketakutan di sana. Ada pengharapan. Ada kenikmatan. Ada seribu ada, tak terungkap dengan kata-kata. Sungguh, tetesan itu hanya dinikmati oleh mereka yang sanggup meneteskan air mata; sedang orang disekelilingnya keheranan mengapa hal itu bisa terjadi.

Itulah kenikmatan bersentuhan dengan keberkahan. Bagaimana seorang mukmin yang seluruh hidupnya selalu bersentuhan dengan Al Qur’an. Dadanya menjaga dan menghafalnya. Perilakunya mencerminkan keberkahan itu. Sungguh, orang seperti ini lebih baik dari seribu orang yang tak pernah bersentuhan dengan keberkahan itu.

Buah yang Manis dan Harum

Kedekatan dengan al-Qur’an juga akan memuliakan kedudukan seorang mukmin, sebagaimana Allah muliakan malam yang bersentuhan dengan kalam-Nya.

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Maka di bulan ini selaiknya lah seorang mukmin memiliki komitmen untuk semakin mendekat dengan al-Qur’an. Bagi yang belum bisa membacanya, setidaknya ia berusaha dan belajar untuk mampu membacanya. Bagi yang sudah bisa membacanya, ia akan memasang target untuk bisa membaca lebih banyak dari hari-hari sebelum Ramadan. Jika ia sudah terbiasa maka ia pun akan menaikkan target menjadi mengkhatamkannya di bulan ini. Sekali, dua kali atau lebih dari itu. Yang lain berusaha untuk menadabburinya. Yang lainnya juga mendermakan kemampuannya untuk mengajarkan al-Qur’an. Itulah syiar yang dimiliki umat Islam dan laik untuk dibanggakan. Karena ia akan menjadi harum dan wangi serta manis rasanya, bagaikan buah Utrujah (sejenis Jeruk Sankis).

Malam Kemuliaan dan Keberkahan

Menurut berbagai riwayat malam keberkahan tersebut terjadi di sepuluh hari terakhir ini, di etape terakhir madrasah pembekalan ini. Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu.

Pemburu seribu bahkan tiga puluh ribu keberkahan…

Syeikh Mubarakfuri dalam buku Bigografi Nabi Muhammad yang berjudul ar-Rahîq al-Makhtûm, mempunyai analisis yang bagus, berkenaan dengan malam keberkahan tersebut. Di hari ke berapakah Al Qur’an turun pertama kali kepada Rasulullah Saw.?

Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, mengapa beliau sering berpuasa pada hari Senin. Beliau menjawab karena pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku menerima wahyu dari Allah untuk pertama kali.

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa al Qu’ran diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dinashkan Al Qur’an dan Hadits. Allah telah mengabadikan hal itu “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”. (QS. 2:185). Berikutnya Allah menegaskan lagi, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. 44:3)

Pada bulan Ramadhan tahun itu, hari Senin terulang sebanyak empat kali. Yaitu pada tanggal ke 7, 14, 21, dan 28. Dalam hadits-hadits nabawi dianjurkan untuk mencari lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan ada yang lebih spesifik lagi, yaitu pada hari-hari ganjil. Dengan demikian, lailatul qadr terjadi pada malam ke 21. Karena 7, 14 dan 28 tidak memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam gabungan hadits-hadits yang ada. Lantas benarkah, malam keberkahan tersebut terjadi pada hari itu. Allahu a’lam. Sangat banyak pendapat yang mengatakannya. Ada yang menjadikan bulan Ramadhan secara umum. Ada yang mengkhususkan pada sepuluh hari terakhir. Ada yang mengkhususkan lagi pada hari-hari ganjil di sepuluh hari tersebut. Ada yang berpendapat pada hari 27. Dan seterusnya.

Rahasia Keberkahan Itu

Mengapa Allah merahasiakan malam keberkahan tersebut? Sungguh hikmah Allah Swt. demi keseriusan hamba-hamba-Nya dalam berusaha. Kesungguhan dalam mencari malam keberkahan tersebut. Seandainya hijab tersebut dibuka dan malam tersebut diketahui siapa saja, kemungkinan besar hari-hari dan malam-malam lain akan ditinggalkan oleh mereka yang malas. Karena demikianlah tabiat manusia. Kikir dan malas berusaha serta sangat ingin menerima lebih banyak dari yang seharusnya.

Kesungguhan beribadah pada malam keberkahan tersebut tak lain adalah pemaknaan kepasrahan yang dalam dari seorang hamba yang menyerahkan segala-Nya pada Sang Pencipta.

Penghambaan yang terefleksi dalam kesungguhan beribadah dan totalitas penjiwaan di dalamnya. Ada kekhusyukan. Ada ketakutan. Ada pengharapan.

Kepasrahan dalam menerima cinta dan kasih sayang-Nya serta berharap atas keampunan-Nya terhadap kekhilafan manusiawi yang dilakukannya.

Masihkah setelah ini ada keraguan? Atau bahkan keputusasaan?

Sungguh, saatnya sekarang inilah bagi kita untuk memburu hari pembebasan kita dari kemurkaan dan kemarahan Allah. Karena kita telah memiliki cinta-Nya. Yakinlah itu. Kita sedang memburu ampunan-Nya. Dan kemudian pembebasan itu benar-benar diberikan kepada kita. Saatnya sudah dekat. Jangan kita jauhkan dengan kelalaian, kesalahan bersikap, keteledoran dan berbagai kebodohan. “Wahai pemburu kebaikan gunakan kesempatan ini, wahai para pendosa berhentilah”.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. (QS. 55:13)

Wisma Appia, Sabtu Siang

Jenewa, 21.08.2010


*Sebuah kado peringatan Nuzulul Qur’an di Jenewa yang diadakan di Ruang Nusantara, PTRI Jenewa, Sabtu, 18 Ramadan 1431 H/ 28 Agustus 2010 M.

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu al-Qur’an, Universitas Al-Azhar, Cairo.

Oleh: saiful bahri | April 19, 2010

Tadabbur Surat Al-Ghasyiah [88]

TERTUNDUK MALU ATAU BERSERI-SERI

(Dua Penghuni Keabadian)*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Hari Yang Menggemparkan

Surat Al-Ghasyiah diturunkan Allah di Makkah setelah Adz-Dzariyat([1]). Dinamakan demikian karena dibuka dengan berita hari pembalasan (Al-Ghasyiah) yang merupakan satu rangkaian kejadian di hari kiamat. Menurut arti bahasa, al-Ghasyiah berarti sesuatu yang dahsyat yang bisa menggoncangkan hati manusia([2]).

Tema utama surat ini masih seperti pembahasan surat-surat makkiyah sebelumnya, yaitu menekankan pada aspek keimanan pada hari kiamat. Dan pada kesempatan ini lebih ditekankan pada fase pembalasan amal yang sangat diperinci dengan menggambarkan dua kondisi yang berbeda yang akan dialami oleh orang-orang baik dan orang-orang yang buruk perilakunya. Di samping itu dalam surat ini juga disebut dalil dan tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah([3]). Adapun yang disebut kali ini adalah penciptaan unta, kemudian langit, gunung dan bumi. Secara terperinci insyâ`allâh akan kita tadabburi satu persatu.

Adapun fadhilah atau keutamaan surat ini sebagian sudah disinggung dalam tadabbur surat terdahulu, yaitu surat al-A’la. Di antaranya; sebuah hadits masyhur yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Semua riwayat tersebut berasal dari sahabat Nu’man bin Basyir ra. yang menyebutkan bahwa dalam Shalat dua Id dan Shalat Jum’ah pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la kemudian pada rakaat kedua membaca al-Ghasyiah([4]).

Kisah Penghuni Neraka

Sudah datangkah kepadamu berita hari pembalasan?” (QS. 88: 1)

Dalam ayat ini secara zhahir menggunakan kalimat Tanya, demikian pendapat sebagian besar pakar bahasa, sebagaimana ditegaskan Imam al-Alusy dalam tafsirnya([5]). Meskipun sebagian pakar Bahasa Arab seperti Quthrub mengatakan bahwa justru ayat ini menggunakan kalimat penguat dengan bentuk yang zhahirnya adalah istifhâm (pertanyaan).

Banyak muka hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan” (QS. 88: 2-3)

Penggunaan kata “khasyi’ah” di sini sebenarnya memberi isyarat tidak tepatnya penyesalan. Hari itu tak lagi diperlukan kekhusyu`an, karena hari itu bukan hari beramal namun hari pembalasan. Maka muka mereka tertunduk sebenarnya bukan karena khusyu’ namun lebih karena merasa terhina dan dihinakan. Karena mereka sangat sadar posisi dan seperti apa balasan yang akan mereka terima.

            Seberapa keras mereka melakukan kepayahan dan kekhusyuan tak akan memberi manfaat untuk menyelamatkan mereka dari murka Allah swt. Ibnu Abbas menafsirkannya dengan amal yang mereka lakukan di dunia memang banyak tapi justru akan mendatangkan kepayahan dan memberatkan mereka ketika berada di akhirat([6]).Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan kepayahan yang akan mereka terima. Setidaknya ada tiga hal yang disebut di sini:

  1. Memasuki api yang sangat panas” (QS. 88: 4) Sebagai balasan dari perbuatan yang mendatangkan murka Allah. Api yang sangat panas mengelilingi mereka dalam kekekalan kesengsaraan dan sebenar-benarnya celaka yang menistakan.
  2. Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”. (QS. 88: 5)

Dalam kondisi yang demikian panas. Tak sedikit pun ada persediaan air dingin yang bisa menyejukkan tenggorokan. Yang ada justru sumber air yang sangat pas yang menambah penderitaan mereka bertambah dna bertingkat-tingkat. Tak sedikit dalam ayat lain bahkan dijelaskan bahwa minuman yang disediakan adalah darah dan nanah. Baik air panas maupun nanah tidaklah bisa menghilangkan dahaga dan mengusir haus. Dan itulah penderitaan dan kepayahan yang kesekian kalinya yang diterima orang-orang kafir.

Dalam ayat lain disebut dengan redaksi “ghislin” seperti dalam surat al-haqqah ayat 36. “Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

  1. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri. Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar” (QS. 88: 6-7)

Jika mereka lapar tak sedikit pun ada persediaan makanan yang membuat mereka kenyang. Yang disediakan adalah pohon berduri yang hewan saja enggan memakannya, apalagi manusia. Sebagian mufassir menyebut bahwa pohon tersebut beracun dan mematikan, setidaknya menyakitkan([7]). Dalam ayat 43-44 surat Ad-Dukhan disebutkan jenis pohon yang ada di neraka, yaitu pohon Zaqqum. “Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa”. Bagaimana mungkin pohon seperti ini bisa membuat gemuk atau mengenyangkan dan mengusir rasa lapar. Yang terjadi adalah membuat rasa lapar hilang karena sakit yang teramat sangat menggantikannya. “Dhari’” ini dikenal oleh orang Arab bisa membuat unta gemuk, tapi gemuknya penuh dengan racun karena mematikan([8]).

Penduduk Surga Bergelimang Karunia dan Ketentraman

            Setelah penuturan yang mengerikan tentang kabar dan berita orang-orang yang dimurkai Allah maka dalam 9 ayat berikutnya Allah mengabarkan kondisi yang sebaliknya. Yaitu kebahagiaan dan ketentraman yang dijanjikan Allah yang kelak akan diterima hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Nikmat dan karunia Allah tersebut berupa:

  1. Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya” (QS.88: 8-9)

Orang-orang baik hari itu laik untuk berseri-seri dan berbahagia menerima kabar gembira. Atas usaha yang telah mereka lakukan di dunia. Menahan nafsu dan mengikuti ajaran dan petunjuk Allah. Kata “na’imah” menunjukkan bekas nikmat yang Allah akan berikan terhadap mereka. Padahal mereka belumlah mendapatkannya baru sekedar kabar gembira dan muka mereka seketika cerah, lantas bagaimana jika mereka benar-benar telah menikmati kebaikan di atas kebaikan yang telah Allah sediakan untuk mereka. Mereka tentu akan semakin puas dan senang bahwa usaha mereka tidak sia-sia. Kesyukuran ini bertambah ketika mereka merasa bahwa perbandingan yang jauh lebih buruk dari bayangan mereka diterima oleh orang-orang yang berkelakuan jelek. Yang dalam surat ini berita mereka di dahulukan. Padahal lazimnya sebuah berita kelulusan biasanya yang ditampakkan adalah yang berhasil. Sedang dalam surat ini sebaliknya, didahulukan berita kegagalan dan kesengsaraan. Tujuan-nya adalah menyelaraskan tema besar surat ini, yaitu memberikan peringatan yang menggetarkan jiwa([9]). Sesuai dengan namanya “al-ghasyiah

  1. Dalam surga yang tinggi” (QS.88: 10)

Mulailah mereka menikmati karunia yang benar-benar tak terlukiskan kenikmatan-nya sebelumnya. Yaitu surga yang tinggi. Kata tinggi ini dimaksudkan menjunjung kedudukan mereka dan untuk menghormatinya. Abu Hayyan menggabungkan dua makna sekaligus. Bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah tempat yang memang secara fisik tinggi dan ditambah dimuliakan oleh Allah.

  1. Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna”. (QS.88: 11)

Tidak ada perkataan yang sia-sia terdengar. Semuanya adalah ungkapan syukur dan kebahagiaan. Mereka tenggelam dalam kenikmatan dan kemuliaan yang diberikan Allah. Kata-kata yang didengar dan diperdengarkan di antara mereka hanya ungkapan yang baik yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar merasakan kebahagiaan. Mereka pun ridha dengan keadaan demikian dan Allah juga meridhai mereka.

  1. Di dalamnya ada mata air yang mengalir”. (QS.88: 12)

Di saat penghuni neraka kepanasan dan berada dalam kondisi antara mati dan hidup menahan siksaan, dahaga dan lapar, penduduk surga diberikan mata air yang bermacam-macam. Melimpah. Dan kata “jâriyah” mengisyaratkan bahwa mata air tersebut terus mengalirkan air tiada terputus sedikit pun.

  1. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan”. (QS.88: 13)

Mereka menduduki singgasana dan tahta yang tinggi dan ditinggikan. Mereka lebih mulia dari raja yang paling mulia di dunia ini. Semua yang berada dalam rumah dan tamannya tunduk dan patuh terhadap titahnya. Semuanya menuruti dan melayani keinginannya.

  1. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya)”. (QS.88: 14)

Mata air yang mengalir tersebut di atas bukan hanya menghias mata mereka. Namun, jika mereka menginginkan untuk meminumnya maka sudah tersedia gelas-gelas yang segera penuh air dan siap untuk dihidangkan dan dinikmati. Seketika berada di tangan mereka begitu mereka menginginkan untuk meminumnya dan menikmatinya.

  1. Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun”. (QS.88: 15)

Jika mereka ingin membaringkan tubuhnya sambil melihat dan menikmati indahnya taman dan surga Allah maka telah tersedia sandaran empuk dan bantal-bantal dan membuat nyaman. Semua tersusun rapi.

  1. Dan permadani-permadani yang terhampar”. (QS.88: 16)

Jika di dunia orang-orang berlomba-lomba mengeluarkan uang yang banyak demi berbangga-bangga atas permadani yang mereka miliki dengan kualitas yang sangat bagus. Halus. Mewah dan berkelas serta membuat mata sejuk memandangnya. Maka Allah menyediakannya. Luas, terbentang dan ia bisa memilikinya sesukanya. Semua diperuntukkan Allah sebagai balasan amalnya. Sesuka dia tanpa dibatasi oleh harga.

Empat Tanda Kekuasaan Allah

Setelah Allah menjelaskan kondisi penghuni neraka dan penduduk surga Allah me-maparkan empat tanda kekuasaannya. Yaitu penciptaan unta, langit, gunung dan bumi.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS.88: 17-20)

Apa rahasia Allah menyebut empat hal ini?

Orang-orang Arab jika bepergian jauh kendaraan yang mereka andalkan adalah unta. Bahkan ketika berperang mereka juga membawa unta. Selain digunakan sebagai kendaraan unta juga mampu menampung air, dagingnya juga bisa mengenyangkan banyak orang. Dalam peperangan badar Rasulullah saw memperkirakan jumlah tentara quraisy dengan menghitung unta yang mereka bawa. Maka selaiknya mereka berpikir bagaimana Allah menciptakan unta.

Saat mereka di atas punggung unta mereka juga bisa memandang langit lepas. Bukankah itu ciptaan Allah yang sangat dahsyat. Tinggi menjulang tanpa tiang penyangga. Bahkan tiada seorang pun mampu mencapainya dengan ketinggian dan kecanggihan teknologi mutakhir sekali pun.

Di atas unta mereka juga bisa memperhatikan gunung-gunung yang kokoh. Siapa yang menjadikannya juga menjulang.

Di atas punggung unta mereka juga menapaki tanah. Bumi yang mereka pijak, siapakah yang menghamparkannya.

            Keempat hal di atas jika digabungkan –seharusnya- sudah cukup membuat manusia kemudian sadar dan bersegera taubat, kemudian memperbaiki keadaannya dengan amal baik, sebelum semuanya terlambat.

Kontinyuitas Tugas Dakwah

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan” (QS. 88: 21)

Nabi Muhammad saw tak dibebankan untuk membuat mereka sadar dan kembali kepada fitrah. Namun Allah menugaskan Nabi Muhammad untuk terus dan tak henti untuk mengingatkan kaumnya. Karena pada dasarnya ia sudah dikenal baik dan dipercaya. Hanya ketika ia membawa ajaran Allah kaumnya berbalik mencibir dan menuduhnya berdusta. Mereka memungkiri hati nurani dan realita. Tapi Allah tak meminta beliau untuk membuat mereka berubah. Yang diinginkan Allah adalah kontinyuitas dalam berdakwah.

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir” (QS. 88: 22-23)

Memang benar. Bahwa Nabi Muhammad tidaklah sanggup menguasai jiwa mereka. Beliau takkan pernah bisa memberi petunjuk. Apalagi terhadap orang-orang yang berpaling dan sentiment serta berlaku melampaui batas. “Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar”. (QS. 88: 24)

Abu Bakar al-Wasithy mengatakan, “Nabi Muhammad diutus sebagai da’i (yang mengajak) dan bukan sebagai hâdi (yang memberi petunjuk)” demikian sebagaimana disitir oleh As-Sulamy([10]).

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka”. (QS. 88: 25-26)

Allah telah mengutus sebaik-baik orang bahkan yang terbaik yang pernah dan akan ada, yaitu Nabi Muhammad saw. Juga Allah turunkan sebaik-baik peringatan dan kitab, yaitu al-Qur’an. Allah juga memberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bisa langsung dirasakan dan dilihat oleh mata. Jika mereka tetap saja lalai maka tetaplah Allah adalah tempat kembali mereka. Dan Allah sudah menyiapkan hisap dan hitungan amal mereka untuk mendapatkan balasan yang setimpal. Dengan perhitungan ini, sedikit pun Allah tidak menzhalimi mereka. Tapi diri mereka sendiri yang men-zhaliminya.

Penutup

            Sebaik-baik hamba Allah adalah yang bisa mengambil i’tibar dan pelajaran. Allah telah mengisahkan dua nasibyang berbeda yang akan dialami oleh orang baik dan orang buruk. Allah menjelaskan akhir mereka sebagai penghuni neraka atau penduduk surga. Selain itu Allah telah menyebut tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia bisa berpikir. Sekarang keputusan untuk berbuat ada di tangan kita. Ingin menjadi penduduk surga atau penghuni neraka? Berbuatlah. Setelah itu bertawakkal dan berdoa.

Jakarta, Selasa, 19 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-Ghasyiah (Hari Pembalasan): [88], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.793 

([2]) seperti dituturkan Adh-Dhahhak (dalam tafsirnya, Tafsir adh-Dhahhak, 2/957) juga disepakati penafsirannya oleh Jumhur Ulama. Seperti yang ada dalam firman Allah Surat Ibrahim ayat 50. “Pakaian mereka adalah dari pelangki dan muka mereka ditutup oleh api neraka”.

([3])Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 295.

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm.183. Lihat juga (Shahih Muslim Syarh Nawawi, Kitab Jum’ah Bab Ma Yuqra`u fi Shalati al-Jum’ah, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 1994 M-1415 H, Vol.III, hlm. 432)

([5]) Syihabuddin al-Alusy, Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm. 200.

([6]) Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 447

([7]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm, 203-204

([8]) Ibid.hlm, 204. Lihat Juga Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 243

([9]) Ruh al-Ma’any, Op.Cit, Vol.30, hlm, 205

([10]) As-Sulamy, Haqa`iq at-Tafsir, Tahqiq Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M- 1421 H, Vol. II, hlm. 393

Oleh: saiful bahri | April 19, 2010

Tadabbur Surat al-A’la [87]

KEBERUNTUNGAN

DARI GENERASI KE GENERASI*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Yang Maha Tinggi

Surat Al-A’lâ menurut jumhur mufassirin (ulama tafsir) diturunkan di Makkah setelah Surat At-Takwir (إذا الشمس كوّرت)([1]). Sebagian ulama ada yang berpendapat surat ini diturunkan di Madinah karena memuat berita tentang Shalat Id dan zakat ftrah. Tapi pendapat ini dilemahkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Ibnu Sa’d dan Ibnu Abi Syaibah.

Surat ini sebagaimana surat makkiyah lainnya, masih menekankan aspek akidah dan kei-manan, hanya saja isinya sangat umum. Berisi tentang tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah swt serta membicarakan wahyu dan kitab serta suhuf yang diturunkan kepada para nabi. Juga disinggung mengenai nasib yang baik bagi orang yang suka menyucikan dirinya dengan amal kebaikan([2]). Karena tema pesar surat ini adalah tasbih (penyucian). Bahkan diawali dengan sebuah perintah “sabbih” (sucikanlah) Maha Suci Allah dari segala tuduhan yang tidak benar.

Surat al-A’la memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya; disukai oleh Rasulullah saw:

  1. Seperti riwayat Imam Ahmad, al-Bazzar dan Ibnu Marduyah dari riwayat Imam Ali bin Abi Thalib ra. bahwa beliau menyukai surat sabbihisma. Dalam riwayat Abu Ubaid bahkan disebut sebagai afdhalu al-Musabbihat (surat yang diawali dengan tasbih yang paling afdhal).
  2. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Aisyah binti Abi Bakar ra. bahwa dalam shalat witir pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la, kemudian pada rakaat kedua membaca al-Kafirun dan pada rakaat ketiga membaca al-Ikhlas.
  3. Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Nu’man bin Basyir ra. bahwa dalam Shalat dua Id dan Shalat Jum’ah pada rakaat pertama Rasulullah saw sering membaca surat al-A’la dan pada rakaat kedua membaca al-Ghasyiah.
  4. Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Harits beliau berkata: Shalat berjamaah terakhir Rasulullah saw adalah Shalat Maghrib dan pada rakaat pertama beliau membaca al-A’la sedang pada rakaat kedua beliau membaca al-Kafirun([3]).

Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tentang fadhilah surat al-A’la dengan redaksi seperti ini: Barang siapa membaca surat ini maka akan mendapat ini atau pahalanya akan dilipatkan menjadi sekian karena hurufnya diistimewakan atau yang sejenisnya, kebanyakan riwayat tersebut lemah bahkan bisa digolongkan sebagai hadits maudhu’ (hadits palsu).

Bertasbihlah

Surat ini termasuk salah satu surat yang diawali dengan tasbih. Surat-surat tersebut ada yang dibuka dengan tasbih dalam bentuk past tense (fi’il madhi) “سَبَّحَ” ada yang berbentuk present tense (fi’il mudhari’) “يُسَبِّحُ” dan ada yang berbentuk kata perintah (fi’il amr)“سَبِّحْ” seperti surat yang sedang kita tadabburi kali ini.

Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi” (QS. 87: 1)

Dan siapa yang lebih berhak untuk ditinggikan dan disucikan melainkan hanya Dzat yang serba maha ini. Tuhan yang maha tinggi, kemuliaan-Nya tiada yang melangkahinya, keperkasaan-Nya tiada yang sanggup menandinginya.

Dalam setiap ruku’ dan sujud kita selalu membaca tasbih, mengakui kesucian dan ketinggian-Nya, maka di luar shalat seharusnya kita lebih menyucikan dan meninggikan Allah. Dan ketinggian di sini bukanlah sebuah ketinggian materi dan tempat atau kedudukan. Namun ketinggian dengan segala maknanya. Berkuasa, serba mampu bertindak dan melakukan apa saja.

Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya)” (QS. 87: 2)

Allah lah Sang Pencipta dengan sebenar makna penciptaan yang selalu menyempurnakan ciptaan-Nya. Apalagi ciptaan Allah yang bernama manusia, Allah bekali dengan segala kesempurnaan([4]).

Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk” (QS. 87: 3)

Asy-Syibli dan Abu Bakar al-Wasithy mengatakan “Allah menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan, Dia tunjuki jalan kebahagiaan dengan mudah untuk orang-orang yang berbahagia. Dan Dia mudahkan jalan kesengsaraan bagi orang-orang yang celaka ([5]). Al-Baghawi memberikan penafsiran lain, “Allah tentukan kemanfaatan dan memberikan jalan serta petunjuk bagi manusia untuk mengeluarkan dan memanfaatkannya ([6]).

Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan. Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman” (QS. 87: 4-5)

Dialah yang menumbuhkan dan menghidupkan rumput basah dan menjadikannya rizki serta makanan untuk binatang ternak. Dia juga yang sanggup mematikannya, mengubahnya dari segar dan basah menjadi kering kehitaman([7]).

Ghutsa`” artinya kering sehingga mudah terbawa air atau tiupan angin dan “Ahwa” berarti hitam, dan tidak seperti aslinya yaitu berwarna hijau([8]). Ibnu Manzhur mengatakan aslinya adalah hitam, dipakai untuk tumbuhan yang kering. Beliau menukil dari al-Jauhari bahwa ahwa dipakai untuk warna hitam campuran karena warna aslinya tidak demikian([9]). Az-Zamakhsyari menambahkannya ia menjadi kering dan kemudian hancur([10]).

Tanaman yang tadinya hijau. Indah dipandang mata. Ranting dan daunnya terlihat gagah dan kencang, kemudian bisa berubah menjadi kering dan berwarna hitam. Hitam yang mengerikan. Tanda kematian.

Seharusnya manusia berpikir. Sebagaimana tumbuhan berotasi, ia pun akan mengalaminya. Dari tak berdaya saat menjadi bayi kemudian menjadi gagah ketika berusia remaja dan dewasa. Ia juga akan seperti tanaman, kering dan kemudian mati. Siapakah yang membuat rotasi usia ini.

Allah Menjaga Wahyu dan Kitab-Nya

Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS. 87: 6-7)

Allah menjaga wahyu dan kitab-Nya dengan menurunkan malaikat Jibril yang terus memantau hafalan Nabi Muhammad saw dan mengeceknya terus. Sebagian ulama mengartikannya bahwa Nabi Muhammad saw dikaruniai hafalan yang sangat kuat sehingga tidak akan lupa. Kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Dzat Yang Maha Tahu. Dan hal tersebut tidak terjadi.

Yang menarik dalam ayat ini adalah perpindahan kata ganti dari kata ganti pertama“سنقرئك” yang berarti “akan Kami bacakan” menjadi kata ganti ketiga “إلا ما شاء الله” yang berarti “kecuali yang Allah kehendaki”. Al-Alusy mengomentari hal ini, “gaya bahasa (uslub) iltifât (berganti) ini untuk menandai pendidikan ketuhanan dan untuk menampakkan kemahabesaran Allah. Karena lafzhul jalalah (Allah) terasa melekat dengan berbagai nama dan sifat ketuhanan ([11]).

Dan kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah” (QS. 87: 8)

Allah lah yang memudahkan jalan bagi Nabi Muhammad saw untuk menghafal-kan kalam dan wahyu-Nya. Dengan menurunkan malaikat Jibril seperti yang disinggung sebelumnya. Juga dengan memudahkan dalam menghafalnya. Ibnu Katsir dan al-Qurthuby menafsirkannya lebih umum yaitu memudahkan jalan kebaikan([12]).

Maka lakukanlah dan amalkanlah yang kau terima dengan terus berdakwah. “Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat” (QS. 87: 9)

Lakukanlah terus mengingatkan kaummu wahai Muhammad, meskipun bagi sebagian orang peringatan itu tidak membuatnya mengubah sikap dan pendirian. Sebagaimana yang ditegaskan Imam al-Wahidy. Beliau menambahkan bahwa Nabi Muhammad bertugas mengingatkan saja. Kemanfaatan peringatan itu dikembalikan kepada Allah juga sikap orang-orang yang mendengarnya, apakah percaya atau mendustakannya([13]).

Dua Sikap yang Selalu Ada

Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup” (QS. 87: 10-13)

Peringatan dan risalah yang dibawa Nabi Muhammad akan mudah diterima oleh orang yang takut Allah. Karena orang yangtakut kepada Allah maka ia akan berhati-hati dalam bertingkah laku.

Sementara orang yang selalu menjauhinya sesungguhnya orang tersebut mencelaka-kan diri. Karena sikapnya itu akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Dan hidup di neraka tidak bisa didefinisikan. Mereka tidak bisa disebut hidup juga tak bisa disebut sebagai mayyit.

Orang-orang yang takut di atas adalah orang yang beruntung. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)” (QS. 87: 14) Karena dari waktu ke waktu mereka selalu berusaha menyucikan diri. Bertasbih dengan lisan dan anggota tubuhnya. Kata-kata yang dikeluarkannya juga bersih karena keluar dari hati yang bersih. Apalagi ia mengimani dan percaya kepada peringatan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kemudian setelah itu ia mampu menjaga hidupnya secara konsisten dalam keistiqamahan sikap. Dan kali ini Allah menyebut dua amal yang dilakukan oleh orang beruntung yang selalu menyucikan jiwanya. Yaitu dengan zikir dan dan shalat. “Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat” (QS. 87: 15)

Hal ini bertolak belakang dengan sikap orang-orang yang selalu menjauhi peringatan Nabi saw. “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. 87: 16-17)

Hanya orang-orang yang bodoh saja yang memilih keindahan yang semu. Karena kehidupan dunia ini adalah permainan yang ada batasnya. Hal senada juga dipesankan oleh guru besar tarekat asy-Syadziliyah, Ibnu ‘Athaillah as-Sakandary:

أرح نفسك من التدبير، فما قام به غيرك عنك لا تقم به لنفسك

Istirahatkanlah dirimu dari mengatur urusan duniawi dengan susah payah. Karena, hal yang sudah diurus oleh orang selain engkau (yaitu Allah), maka tak perlu lagi kau turut mengurusnya ([14]).

Jika Allah telah menyiapkan segalanya untuk kita di dunia ini maka kita tinggal menjemput nasib kita dengan berusaha dan kemudian memasrahkannya kepada Allah apapun hasilnya. Sikap ini akan terlihat dari pola hidup yang kita jalani. Orang yang matang dalam menerima takdir ini akan senantiasa bersyukur terhadap karunia Allah. Ia akan selalu memper-barui rasa syukurnya. Penerimaan takdir ini juga tidak membuatnya apatis dan gampang menyerah karena dia tahu bahwa Allah menurunkan segala sesuatu dengan sebab. Allah yang mencipta sebab dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu untuk menjemput sebab-sebab diturunkannya karunia dan pertolongan Allah. Pukulan tongkat Nabi Musa yang tak seberapa dijadikan Allah sebagai sebab turunnya pertolongan-Nya. Air laut berubah menjadi jalan yang dibentangkan untuk Musa dan kaumnya yang ketakutan dari kejaran Fir’aun yang sangat zhalim. Demikian juga goyangan lemah tangan Maryam terhadap pohon kurma di saat tubuhnya keletihan dan jiwa didera sakit karena difitnah dijadikan sebab turunnya pertolongan Allah berupa buah kurma yang lezat dan siap dimakan.

Orang-orang inilah yang digambarkan oleh Rasulullah sebagai orang cerdas “al-kayyisu” yaitu orang yang memikirkan dan merancang sesuatu untuk berbekal di kehidupan setelah ia mati. Bahkan ia menyiapkan untuk anak keturunannya sebagaimana persiapan Nabi Ya’kub untuk mengondisikan anak-anaknya agar senantiasa menyembah dna mengenal Tuhannya.

Orang-orang yang demikian adalah orang yang benar-benar laik mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan abadi.

Kebenaran yang Selalu Dibawa Oleh Utusan-Nya

Sudah menjadi sunnah Allah bahwa peringatan-peringatan seperti disebut di atas selalu dibekalkan kepada setiap utusan-Nya dari masa ke masa.

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa” (QS. 87: 18-19)

Karena al-Qur’an bukanlah kitab yang pertama diturunkan Allah pada Rasul-Nya. Sebelumnya Allah pernah menurunkan kitab-kitab juga shahifah (pluralnya: shuhuf) kepada Nabi dan Rasul-Nya. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim. Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang jumlah kitab Allah. Beliau menjawab: “ada 104. 10 diturunkan kepada Nabi Adam as. 50 kepada Nabi Syits, 30 kepada Idris. Ibrahim mendapatkan 10. Musa juga mendapatkan 10 sebelum diturunkan Taurat kepadanya. Dan Allah turunkan Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an ([15]).

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Shuhuf Musa adalah merupakan nama lain dari Kitab Taurat([16]).

Dan dalam surat ini sebagaimana dalam surat an-Najm disebut dua Nabi ini saja. Hal ini karena mereka berdua (Nabi Ibrahim dan Nabi Musa) yang paling dikenal oleh bangsa Arab waktu diturunkannya al-Qur’an. Nabi Ibrahim as. dikenal dengan syari’ah dan ajarannya yang kemudian disebut dengan hanif. Sedangkan Nabi Musa adalah nabi yang paling dikenal di kalangan ahli kitab yang saat itu juga berinteraksi langsung dengan umat Islam.

Adapun didahulukannya Nabi Musa dalam penyebutan karena beliau membawa syariah dan ajaran yang banyak. Sementara Nabi Ibrahim hanya diberikan shuhuf yang banyaknya hanya 10 lembar saja([17]).

Al-Imam al-Akbar Syeikh al-Maraghi merinci bahwa isi Shuhuf Ibrahim dan Musa ini dijelaskan Allah. Ada 14 hal yang kemudian disebut Allah dalam surat an-Najm ayat 38-54([18]). Ini adalah penjelasan kedua shuhuf yang disebut dalam surat an-Najm ayat 36 dan 37 dan diulang kembali di akhir surat al-A’la. Dan keempat belas hal tersebut intisarinya ada pada ayat 14 dalam surat al-A’la. Bahwa orang-orang beriman yang menyucikan dirinya akan meraih kemenangan Allah dan orang yang memusuhi mereka akan berkesudahan dengan nasib yang sangat buruk.

Secara umum sebagian besar ulama tidak membedakan antara Kitab dan Shahifah. Demikian menurut sebagian besar pakar bahasa, sebagaimana disebutkan dan dinukil oleh Ibnu Manzhur. Shahifah secara bahasa adalah yang didalamnya dituliskan sesuatu. Sedangkan shahifah yang dimaksud di dalam al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi-Nya([19]).

Hanya saja kitab yang dikenal diturunkan Allah kepada para nabinya ada empat yaitu: Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an. Mungkin ada benarnya pendapat yang menyebutkan bahwa bisa jadi shahifah yang diberikan kepada nabi jumlahnya lebih sedikit dari yang diturunkan dengan sebutan al-kitab.

            Terlepas dari perbedaan pendapat tentang terminologi kitab dan shahifah. Kandungan kedua shahifah yang dimuat dalam surat an-Najm dan surat al-A’la menegaskan bahwa:

  1. Manusia diperintahkan berusaha dan berbuat, kelak ia akan dibalas dan diberi ganjaran sesuai amalnya. Tidak seorang pun dari mereka yang menanggung dosa orang lain.
  2. Keberuntungan, kebahagiaan semua Allah yang memilikinya. Allah juga yang memberi jalannya. Namun, tidak sedikit dari manusia yang memilih jalan kesengsaraan.
  3. Allah adalah akhir dari segalanya. Semua akan kembali kepada Dzat yang kekal ini. Semuanya akan hancur dan binasa.
  4. Kehancuran di dunia Allah timpakan kepada para pendusta dan pembangkang yang selalu melawan para utusan-Nya.
  5. Kebahagiaan dan keberuntungan ditulis Allah sebagai bagian dan nasib untuk orang-orang beriman yang senantiasa menyucikan jiwanya.

Semoga kita termasuk dalam catatan keberuntungan dan kebahagiaan yang dikabarkan Allah dalam al-Qur’an, juga shahifah Musa dan Ibrahim serta yang diturunkan kepada para nabi-Nya. Amin.

Jakarta, Selasa, 12 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-A’lâ (Yang Paling Tinggi): [87], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 26; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.786 

([2]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 293-294

([3]) Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm.183

([4])Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 241

([5]) seperti disitir oleh Abu Abdirrahman as-Sulami (Haqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.II, hlm. 389)

([6]) al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 444

([7]) Az-Zajjaj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Op.Cit, 5/241

([8])Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 143

([9]) Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, Cairo: Dar al-Ma’arif, tt. Vol. II, hlm. 1061

([10]) Jarullah abu al-Qasim Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, Tahqiq: Syeikh Adil Abdul Maujud dan Ali Muawwadh, Riyadh: Maktabah Ubaikan, Cet.I, 1998 M-1418 H,Vol.VI, hlm. 357

([11]) disarikan dari Ruh al-Ma’any, Op.Cit, 30/191

([12]) al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 276. lihat juga: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Al-Mansoura: Maktabah al-Iman, 1996 M-1417 H, vol.VIII, hlm. 216

([13]) disarikan dari perkataan Imam al-Wahidy dalam tafsirnya (Al-Wahidy,al-Washit fi Tafsiri al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, Cet.I, 1994 M-1415 H, Vol.IV, hlm. 470)

([14]) Ibnu Atha’illah as-Sakandary, Kitab al-Hikam, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, Juni 2008, hlm. 8

([15]) hadits ini dengan redaksi yang mirip disitir oleh Imam az-Zamakhsyari dan al-Alusy dalam tafsirnya. Sebagian ada yang membenarkan sanad haditsnya tapi kebanyakan ulama hadits melemahkan hadits ini. (al-Kasyaf, Op.Cit, 6/360. Ruhul Ma’any, Op.Cit, 30/198.) Imam Suyuthi dan Ibnu al-Jauzi (Abdurrahman Ibnu al-Jauzi, Zadul Masir, Beirut: al-Maktab al-Islamy, Cet.III, 1984 M-1404 M. Vol.VIII, hlm. 79)

([16]) Seperti Abu Hayyan dalam tafsirnya ketika menafsiri surat an-Najm ayat 36. (Lihat: Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1993 M-1413 H, Vol.VIII, hlm. 164), Juga Ibnu Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Tunis: Ad-dar at-Tunisiah li an-Nasyr, 1984, Vol.27, hlm. 129-130.

([17])Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Ibid. hlm.130.

([18]) Syeikh Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Cairo: Mustafa al-baby al-Halaby, Cet.I, 1946 M-1365 H, Vol. 27, hlm. 63

([19]) Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, Op.Cit, Vol. 27, hlm. 2404

Oleh: saiful bahri | April 19, 2010

Tadabbur Surat Al-Fajr [89]

DEMI WAKTU FAJAR*

Dr. H. Saiful Bahri, M.A**

Mukaddimah: Waktu yang Penting

Menurut jumhur mufassirin Surat Al-Fajr diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Al-Lail([1]). Dinamakan demikian karena dibuka dengan sumpah Allah yang menggunakan waktu fajar([2]). Surat ini memuat tiga pokok tema besar: pertama, setelah bersumpah Allah mengisahkan tentang umat terdahulu yang mendustakan para utusan-Nya serta menjelas-kan kondisi tragis yang menimpa mereka sebagai akibat dari sikap sombong dan pembangkangan mereka. Kedua, surat ini membicarakan sunnah (hukum) Allah yang ada di dunia ini. Yaitu cobaan yang akan dijalani setiap manusia, dari kesenangan atau kesulitan; kelapangan atau kesempitan hidup, kemiskinan dan tabiat manusia yang sangat mencintai harta dan dunia. Ketiga, surat ini ditutup dengan pembicaraan tentang hari akhir dengan berbagai macam perniknya([3]). Jika dalam surat al-Ghasyiah dibahas dan ditengarai penduduk neraka atau penghuni surga, maka dalam surat ini juga ada perbedaan antara an-nafs al-muthma`innah (jiwa yang tenang) dengan jiwa yang buruk yang selalu mengajak pada keburukan. Pada saat berpisah dengan jasad terjadi perbedaan yang mendasar.

Sumpah-Sumpah Allah

Dalam surat ini Allah membukanya dengan sumpah dengan menggunakan waktu fajar. “Demi fajar” (QS. 89: 1)

Yang dimaksud di dini adalah fajar yang sesungguhnya. Karena kita mengenal ada dua jenis fajar. Yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Dan yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang shadiq. Yaitu waktu shubuh. Dinamakan demikian karena ia membuyarkan waktu malam, dan dengan datangnya fajar maka malam segera berakhir. Allah juga menggunakan nama lainnya untuk bersumpah, yaitu seperti yang terdapat dalam surat at-Takwir ayat 18, “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. : 18). Dan ini terjadi setiap hari, sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ikrimah, Mujahid, Abu Shalih dan as-Suddy([4]). Dengan sumpah ini tentu fajar merupakan suatu waktu yang diistimewakan Allah. Di dalamnya kita memulai kehidupan. Di dalamnya kita diwajibkan bersujud dan shalat pada-Nya. Di dalamnya rizki-rizki Allah dibagikan.

Kemudian Allah bersumpah  “Dan demi malam yang sepuluh” (QS. 89: 2).

Menurut sebagian para pakar tafsir yang dimaksud di sini adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah([5]). Sebagian lagi ada yang menafsirkannya dengan 10 hari terakhir di bulan Ramadhan([6]) karena di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud di sini adalah 10 hari pertama bulan Muharam karena di dalamnya terdapat hari Asyura([7]), hari ketika Musa as dan Bani Israel diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun. Allah menenggelamkan Fir’aun bersama bala tentaranya.

Kemudian Allah melanjutkan sumpah-Nya. “Dan yang genap dan yang ganjil” (QS. 89: 3)

Ada banyak pendapat yang menafsirkan sumpah ketiga ini. Sebagian ulama menafsirkannya dengan hari Arafah dan Hari Idul Adha. Sebagian lagi mengatakan bahwa genap menunjukkan makhluk Allah dan witir mengisyaratkan penciptanya (khâliq). “al-watru” dalam ayat ini dibaca fathah wawu-nya sebagaimana bacaan jumhur qurra`. Yaitu bacaan kabilah Quraisy. Sedang bacaan yang menggunakan kasrah pada huruf wawu adalah bacaan kabilah Tamim([8]).

Ala kulli hal, dua bilangan di atas digunakan manusia dalam kehidupannya. Dan Allah bersumpah dengan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Karena manusia, demikian juga makhluk-Nya masuk dalam bilangan tersebut. Genap atau ganjil.

Keempat kalinya Allah bersumpah. Kali ini dengan mengulangi menyebut waktu malam. “Dan malam bila berlalu” (QS. 89: 4)

Malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sebagaimana waktu malam yang setiap hari kita lalui dan selalu diakhiri dengan terbitnya fajar. Meskipun ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah malam Idul Adha.

Keempat hal yang dipergunakan Allah dalam bersumpah sangat menarik untuk diperhatikan. Terlebih penegasan untuk memperhatikannya dalang setelah Allah bersumpah dengan keempat hal tersebut. “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal” (QS. 89: 5)

  1. Waktu Fajar
  2. Sepuluh malam
  3. Bilangan ganjil dan genap
  4. Waktu malam bila berlalu.

Pertama Allah bersumpah dengan fajar, waktu yang dimuliakan Allah. Kemudian Sepuluh malam mengindikasikan jumlah dan waktu. Bahwa di antara malam-malam yang dilalui manusia setiap hari pasti ada sebagian waktu yang dimuliakan Allah. Yaitu sepuluh malam yang dipakai bersumpah dalam ayat ini terlepas dari perbedaan ulama mengenai maksud dari malam-malam tersebut. Inti dari pembatasan ini adalah bahwa ada waktu-waktu tertentu yang diistimewakan Allah. Manusia yang cerdas akan menggunakannya dengan baik. Menginvestasikan waktunya untuk bekal masa depannya. Kemudian bilangan genap dan ganjil mengindikasikan adanya pasangan dalam kehidupan manusia. Ini adalah sunnah Allah. Allah menciptakan sebagian besar ciptaan-Nya secara berpasangan. Selain itu dengan bilangan ini seolah Allah juga mengingatkan bahwa manusia berada dalam batasan dua jenis bilangan tersebut. Maka gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.

Bila malam telah sirna dan hari berganti terang. Ini akan bermakna jika kita mau memikirkannya secara mendalam. Bahwa kegelapan akan selalu berganti dengan cahaya yang terang. Menandakan bahwa tiada kekekalan dalam kehidupan dunia. Maka bersabarlah dan teruslah berusaha. Akan datang setelah malam cahaya yang dinanti-nantikan manusia, waktu ia akan menggunakannya bekerja. Sebaliknya, kelelahan bekerja akan sirna bila waktu malam datang. Saat sebagian besar manusia menggunakannya untuk beristirahat.

Demikianlah, Allah memberikan karunia kepada manusia berupa waktu. Tapi waktu tersebut selalu ada batasnya. Hanya orang cerdaslah yang bisa memanfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan baik. Dan menjadi tabiat serta karakteristik waktu adalah selalu berputar dan tidak pernah berhenti sejenak pun.

Kisah-Kisah Kaum Terdahulu

            Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.  Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain”. (QS. 89: 6-8)

Kaum Ad adalah kaum Nabi Hud as. Keturunan Ad bin Ash bin Iram bin Sam bin Nuh. Penamaan ini menggunakan penamaan kakek moyang mereka. Yaitu orang-orang yang terkenal kuat. Yang menjadikan kota Iram sebagai kota yang sangat me-nakjubkan. Mereka menjadikannya pusat peradaban. Maka mereka bangun gedung-gedung yang menjulang tinggi dan kokoh yang tidak dijumpai di manapun saat itu. Kota Iram([9]) mereka sulap dengan gemerlap dan kemegahan yang luar biasa. Orang-orang yang menyaksikannya akan langsung tahu ketinggian peradaban mereka. Namun, ketinggian peradaban dan kekuatan fisik mereka tidaklah berarti jika mereka mendus-takan ajaran Allah swt. Nabi Hud yang diutus untuk mengingatkan mereka dan menun-jukkan jalan hidayah, mereka dustakan. Padahal sebelumnya mereka mengenal Hud sebagai saudara yang baik serta terpercaya. Tetapi setelah Hud mendakwahi mereka dengan risalah yang dibawanya dari Allah, sikap mereka berbalik memusuhinya. Maka, Allah musnahkan mereka. “Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah lapuk” (QS. 69: 6-7)

            Kekuatan fisik dan ketinggian peradaban tak mampu menolong mereka untuk menghalangi dan menghindarkan dari murka Allah yang murka-Nya tiada terbendung oleh siapa dan apapun.

            “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” (QS. 89: 9)

            Adapun kaum Tsamud yang datang setelah Kaum ‘Ad musnah, tidaklah pandai mengambil pelajaran dan ibrah dari peristiwa dan sejarah keangkuhan serta kesombongan. Mungkin karena mereka memiliki fisik yang kuat mereka bahkan mampu memahat gunung-gunung batu dan kemudian menjadikannya sebagai hunian yang asri dan nyaman([10]).

            Nikmat dan karunia yang sangat dahsyat ini tidaklah dibalas dengan kesyukuran dan perilaku yang baik. Hati mereka membatu. Jika mereka bisa memahat dan mengukir batu, tidaklah demikian hati mereka yang menjadi keras melebihi batu. Hal ini pun tercermin dari keangkuhan mereka ketika meminta Nabi Shalih untuk menunjukkan mukjizat Allah dan tanda kerasulannya. Mereka meminta batu-batu yang ada di hadapan mereka bisa mengeluarkan seekor unta. Dan setelah mukjizat ini benar-benar terjadi. Unta yang dipesankan oleh Nabi Shalih supaya tak disakiti, dengan sengaja mereka sembelih. Hanya sekedar untuk menyelisihi perintah dan petuah sang nabi. Maka, hati dan watak orang-orang yang membatu seperti ini memang sangat laik jika kemudian diadzab oleh Allah([11]).

Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak. Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu”. (QS. 89: 10-12)

Demikian juga contoh ketiga yang Allah ceritakan dalam surat ini. Fir’aun, bukanlah orang pertama yang angkuh dan sombong yang kemudian mematut-matutkan diri sebagai Tuhan padahal ia sangat ringkih dan penakut. Betapa ia lebih laik untuk disebut sebagai penakut. Karena ia sangat menakuti dan mencemaskan seorang bayi laki-laki dari kalangan Bani Israel. Hanya karena satu bayi laki-laki itu saja, ia kemudian mengerahkan segala kekuatan dan pengaruhnya untuk membunuh ribuan manusia dan sebagian besar adalah anak-anak kecil yang tak berdaya. Melawan tentaranya dengan persenjataan lengkap. Dan ketika kekhawatirannya menjadi nyata ia kemudian gelap mata. Untuk menutupi ketakutannya ini kemudian ia kumpulkan semua rakyatnya dan dengan congkak ia kemudian “…. berkata: Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi”. (QS. 79: 24)

Ia memang memiliki pasukan yang sangat banyak dan kuat. Ia juga bisa membangun peradaban yang terus diingat orang-orang yang hidup setelahnya. Karena ia memiliki para teknokrat yang brilian yang dikomandoi Haman. Juga para ekonom dan akademisi serta kalangan profesional yang lain serta futurolog-futurolog, peramal dan para tukang sihir yang semuanya menopangnya menjadikan Mesir menjadi salah satu negara yang disegani saat itu. Tapi mengapa ia kerahkan semua kelebihan-kelebihan itu untuk memerangi Musa, anak tirinya yang hidup dan tumbuh dewasa di istananya. Yang para pengikutnya adalah kumpulan orang-orang lemah. Hanya karena Musa membawa risalah pengesaan dan penghambaan kepada Allah swt. Ia kejar Musa dan kaumnya, Bani Israel hingga perbatasan darat dengan laut merah. Pertolongan Allah pun datang. Musa membelah laut dengan tongkatnya. Fir’aun pun segera menyusulnya. Namun, Allah lebih cepat mengembalikan Laut Merah menjadi seperti semula. Fir’aun dengan segala kekuatan pasukan dan semua keangkuhannya tenggelam. Tak mampu menghadapi tentara Allah yang kali ini bernama air.

Adapun pasak-pasak yang dimaksud di sini adalah yang disediakan untuk menyiksa orang-orang yang membangkang. Jumlahnya empat digunakan untuk mengikat kaki dan tangan dan terdapat diberbagai tempat dan dijaga oleh tentara-tentara Fir’aun yang kejam. Sebagaimana yang dituturkan Imam al-Alusy([12]).

Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi ([13]). (QS. 89: 13-14)

Orang-orang yang diberi kenikmatan seperti di atas dan kemudian tidak mau bersyukur. Tidak juga bersedia mengindahkan peringatan Allah melalui utusan-utusan-Nya. Maka, adzab Allah lebih tepat untuk mereka. Dan Allah terus mengawasi mereka dari waktu ke waktu. Namun, mereka tidak juga melakukan perubahan.

Kemuliaan dan Kehinaan

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata: Tuhanku meng-hinakanku”. (QS. 89: 15-16)

Inilah standar kebanyakan manusia dalam menilai Allah. Betapa pendeknya pandangan mereka. Kesalahan persepsi ini didasarkan pada beberapa penilaian:

  1. Membatasi rizki Allah hanya berbentuk materi yang bisa dilihat dengan kasat mata, padahal rizki Allah sangat luas. Selain berbentuk materi rizki Allah bisa berupa: kesehatan, ilmu, ketenangan jiwa dan sebagainya
  2. Standar kemuliaan tidaklah dilihat dari materi yang ada pada seseorang. Demikian juga bahwa kehinaan tidaklah selamanya melekat pada orang miskin yang tak berharta. Tak sedikit orang kaya yang hina di mata sesamanya juga dalam pandangan Allah swt karena perilakunya yang buruk. Juga tidak sedikit orang miskin yang mulia karena akhlak dan kualitasnya.
  3. Ujian Allah disikapi dengan prasangka buruk. Padahal seharusnya karunia Allah yang dianugerahkan mesti disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik. Bila ada yang tidak sesuai dengan kehendak, maka sabar adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapinya. Karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah pada manusia dengan kondisi yang berbeda-beda.

Dengan persepsi yang salah tentang rizki ini akan berdampak pada sikap dan perilaku manusia. Mereka menjadi kikir dan sangat mencintai dunia. Secara lebih spesifik Allah menggambarkannya sebagai berikut:

Pertama, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” (QS. 89: 17)

            Penyimpangan pertama yang terjadi akibat salah persepsi mengenai rizki dan harta adalah menyia-nyiakan anak yatim dan menerlantarkan mereka. Padahal anak yatim yang miskin secara fisik dan psikis itu perlu dilindungi dan disayangi.

Kedua, “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (QS. 89: 18)

            Rasa kikir ini berlanjut dengan tidak mau memberi makan kepada fakir miskin. Bah-kan ia menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan hal tersebut. Keburukan tabiat dan perilakunya membuatnya juga berusaha membentuk komunitas yang buruk. Yaitu komunitas yang menginginkan kekayaan hanya digenggam di tangan beberapa orang saja, supaya mereka bisa mengendalikan segalanya dengan harta. Apa yang mereka inginkan –dalam pandangan mereka- pasti selalu bisa didapatkan dengan harta dan uang.

Ketiga, “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil)” (QS. 89: 19)

            Yang lebih buruk dari dua hal tersebut adalah perbuatan memakan harta warisan. Ini adalah orang yang paling buruk. Ia memakan harta yang tidak menjadi haknya, kemudian harta yang dimakannya tersebut adalah hak saudaranya([14]). Ia melakukan dua penyim-pangan sekaligus. Penyimpangan harta dan penyimpangan ukhuwah. Terlebih penggunaan kata “ta’kuluna” yang berarti memakan mengindikasikan kerakusan untuk dinikmati sendiri dan memperturutkan syahwat perut tanpa peduli kondisi dan hak saudaranya.

            Ibnu Zaid mengatakan: tambahan kata “lamma” ini untuk menguatkan kerakusannya. Ia memakan tanpa memperdulikan apakah yang dia makan itu halal atau haram, sehingga ia kehilangan rasa malu([15]).

Keempat, “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. 89: 20)

Kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang didasarkan atas sifat kikir di atas jika tidak dilawan maka akan mengkristal. Pada saat sudah menjadi watak maka seseorang akan benar-benar sulit melepaskan diri dari materi. Saat itu ia benar-benar sangat mencintai dunia dengan kecintaan yang berlebihan yang akan menghancurkan-nya. Tidakkah cukup kisah Qarun menjadi cermin atas petaka yang diakibatkan oleh kecintaan yang berlebihan terhadap dunia?

Imam al-Qurthuby menafsirkan  kecintaan ini maksudnya adalah kecintaan yang berlebihan dalam mengumpulkan harta serta tidak menunaikan haknya dengan sedekah dan zakat([16]).

Berhentinya Kecintaan Pada Dunia

            “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (QS. 89: 21-22)

            Keniscayaan yang tak bisa dihindari oleh manusia dan semua yang bernafas adalah menjumpai kematian. Bila ia mati, maka ia dipisah paksa dengan dunia yang sangat dicintainya. Sebelumnya ia tak sadar bahwa sikap salahnya tersebut kelak akan menghancurkannya. Karena kematian bukalah akhir dari segalanya. Nantinya, saat semua manusia dibangkitkan kembali dari matinya. Allah mendatangi mereka semua untuk meminta pertanggungjawaban. Para malaikat berbaris, ditugaskan Allah menjadi panitia pengurusan hari akhir.

            “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” (QS. 89: 23)

            Saat semua tersingkap barulah orang-orang yang lalai tersadar. Panasnya neraka sudah terasakan, dan mereka segera mengingat kesalahan demi kesalahan yang dilakukan. Penyesalan dan mengingat hal yang demikian pada saat itu tidaklah berguna. “Dia mengatakan: Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (QS. 89: 24). Karena penyesalan di saat yang demikian menjadi sia-sia dan akan semakin membuat mereka menderita. Penderitaan di atas penderitaan. Fisik dan jiwa merana karena salah memilih sikap di dunia.

            “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (QS. 89: 25-26)

            Dzat yang serba maha hari itu terlihat dengan jelas kekuasaan-Nya. Orang yang tadinya beriman dan yakin akan kebesaran dan kekuasaan-Nya akan semakin puas. Dan orang yang mengingkari-Nya pada hari itu terpaksa mengakuinya dengan berjuta penyesalan. Karena murka dan azdab-Nya sangat pedih dan menyakitkan. Tiada yang sanggup menghindar dari siksaaan-Nya. Tidak pula ada yang sanggup menghalangi-Nya untuk berbuat apa saja. Semua hijab telah dibuka. Karena hari itu adalah hari pembalasan. Selesailah hari perjuangan dan amal. Hanya tinggal menunggu hasil dan ganjarannya saja.

Jiwa yang Tenang

            “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. 89: 27-30)

Adapun orang-orang beriman yang memiliki jiwa yang tenang, saat perpisahan dengan jasad pun malaikat-malaikat-Nya memperlakukan dan memanggilnya dengan lembut. Sang pencabut nyawa juga berusaha tidak menyakiti saat memisahkan ruh dari jasad orang baik tersebut. Meskipun tetap saja usaha tersebut tidak berhasil, karena perpisahan jiwa dan raga tetap menyisakan rasa sakit yang tak terperikan. Saat raga di pendam di dalam perut bumi, jiwa yang tenang tersebut mi’raj ke langit.

Jiwa yang tenang tinggalkanlah dunia dengan segala kepenatannya. Dengan tenang temui Tuhanmu” Demikian Abu Abdirrahman As-Sulamy mengomentari ayat di atas([17]).

Ia telah ditunggu penduduk langit yang menantikannya. Ia disambut dengan senyum. Ia segera bergabung dengan kafilah orang-orang salih dan bertaqwa. Kemudian ia nikmati fasilitas yang serba mewah yang telah Allah sediakan untuknya dan hamba-hamba-Nya yang baik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan jiwa yang tenang. Amin.

Jakarta, Selasa, 26 Januari 2010


* Tadabbur surat Al-Fajr (Waktu Fajar): [89], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.797 

([2]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Op.Cit, hlm. 799.

([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 296.

([4]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 204. Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 450.

([5]) Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ikrimah, Masruq, Adh-Dhahak, Ibnu Zaid (Jami’ al-Bayan, Op.Cit, hlm. 205-206) Menurut Imam Qurthuby, juga merupakan pendapat As-Suddy, Mujahid dan al-Kalby (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 291)

([6]) Pendapat ini mengacu pada riwayat Aisyah ra yang menjelaskan tentang ibadah Nabi saw yang lebih giat di sepuluh terakhir bulan Ramadhan (Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 215-216)

([7]) Ini juga karena ada anjuran berpuasa sunnah pada hari Asyura’ dengan menambah satu atau dua hari sebelum atau sesudahnya (Ibid. hlm. 216)

([8]) Ibid. hlm. 217-218

([9]) Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud Iram adalah kota di Syam (Damaskus). Ada juga yang mengatakan: Alexandria (lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 842) Namun, dua pendapat ini dilemahkan oleh para ulama. Karena Ad merupakan kaum Arab al-Baidah yang telah punah. Mereka berada di semenanjung Arab di bagian selatan (Ruhul Maani, Op.Cit, Vol. 30, hlm. 221). Juga Syeikh Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiq al-Makhtum, terjemah: Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cet.II, Januari 2009, hlm. 2

([10]) Mereka diberi kelebihan kekuatan fisik dan mampu memahat gunung-gunung batu serta menjadikannya tempat tinggal (Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 246, juga lihat: Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 150)

([11]) Simaklah kisah mereka dalam surat al-A’raf “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”. (QS. 7: 76-78).

([12]) lihat Ruh al- Ma’any, Op.Cit, Vol. 30, hlm 223-224.

([13]) Tak ada sesuatupun yang tidak diketahui oleh Allah. Dia takkan pernah melewatkan sedikitpun per-kataan dan perilaku manusia. Karena Dzat Yang Maha Hidup ini tidak pernah tertidur atau mengantuk barang sekejap. Demikian penjelasan Imam al-Kalby (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol.IV, hlm. 453) dan disitir al-Qurthuby dalam tafsirnya (al-Qurthuby, Op.Cit, Vol.X, hlm. 300)

([14]) Terutama ahli waris yang perempuan atau yang masih anak. Pada zaman Jahiliyah orang Arab tidak memberikan warisan kepada perempuan dan anak-anak (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, Op.Cit, Vol.IV, hlm. 454)

([15]) Ibid.

([16]) Kurang lebih seperti yang dituturkan al-Qurthuby dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Op.Cit, Vol. X, hlm. 303.

([17]) Haqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.II, hlm. 394

Oleh: saiful bahri | April 19, 2010

Tadabbur Surat An-Nazi’at [79]

SANG DURJANA DAN SANG PENCABUT NYAWA*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Tentara-Tentara Allah

Surat An-Nâzi’ât (Malaikat Pencabut Nyawa) diturunkan di Makkah([1]), setelah surat An-Naba’ sebagaimana susunannya dalam mushaf([2]) yang beredar di tengah-tengah umat Islam. Tema utamanya sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, yaitu penekanan keimanan terhadap akhir akhir yang merupakan lanjutan dari sebelum-sebelumnya.

Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut. Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat. Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang. Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)”. (QS. 79: 1-5)

Sebagian besar ulama dan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dalam lima ayat pertama di atas yang dipakai Allah untuk bersumpah adalah para malaikat dengan berbagai spesifikasi tugasnya. Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, Muqatil, Masruq, Said bin Jubair, Abu Shalih dan Suddy mengatakannya demikian([3]), meski ada juga pendapat yang mengurainya satu persatu serta membedakannya satu dengan lainnya; sebagian ditafsirkan sebagai malaikat dan yang lainnya adalah bintang-bintang, jiwa orang beriman atau yang lainnya.

Semua yang disebut di atas adalah tentara Allah yang akan bertugas sesuai titah-Nya. Setidaknya ada 4 uraian tugas yang disebut dalam pembuka surat ini; mencabut nyawa, bergerak dengan cepat, mendahului apa saja dengan cepat dan mengatur urusan dunia. Bahkan untuk urusan pencabutan nyawa Allah membedakannya, ada yang bertugas mencabut nyawa dengan keras dan kasar dan ada yang mencabutnya dengan lemah lembut. Ini membuka pikiran yang mendengarnya, mengapa ada perbedaan. Tentulah Allah juga akan membedakan orang-orang baik dan buruk, bahkan pada saat ajalnya datang pun pasti berbeda-beda. Ada menjalani sakaratul mautnya dengan sangat mengerikan. Sebagian lagi melewatinya dengan ketenangan. Meski kematian tetaplah menyakitkan. Nabi saw pun menggambarkannya lebih dahsyat dari tiga ratus kali bacokan pedang. Hanya orang berpikirlah yang sanggup menerima pesan Tuhan seperti ini.

Sangkakala Kehancuran dan Kebangkitan: Ketakutan yang Nyata

Siapapun orangnya, seberapa pun ia memiliki harta dan kekuasaan, takkan bisa terhindar dan terjaga dari kehancuran dan kebinasaan. Saatnya nanti, ia pun takkan mampu menyembunyikan ketakutannya. Di mana kedigdayaannya saat ia menjadi angkuh dengan harta dan pengaruhnya. Atau congkak dengan memamerkan kepandaian ilmunya yang tak seberapa. Di manakah sang durjana yang mengaku-aku menjadi Tuhan yang perkasa. Tak malukah ia, saat itu nyalinya benar-benar akan menciut. ”(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut. Pandangannya tunduk”. (QS. 79: 6-9)

Satu tiupan saja dan semua yang ada menjadi sirna. Kemudian disusul satu tiupan saja semua dibangkitkan oleh Dzat yang serba maha. Yang melindungi para kaum tertindas serta berkuasa dan mampu berbuat apa saja terhadap para durjana.

Pikiran orang-orang baik sekalipun –hari itu- menjadi berat. Ia tak tahu bagaimana kesudahan nasibnya di hari pengadilan ini. Bagaimana ia akan menerima vonis sebentar lagi. Lantas ketakutan seperti apa yang dialami para durjana dan pendusta itu? Padahal seolah dulunya mereka tak mengenal rasa takut sedikit pun. Dengan sombongnya –bahkan- mereka memusuhi dan menyakiti para kekasih-Nya; nabi-nabi dan para rasul yang diutus kepada mereka. Masih ingatkah mereka akan olok-olokan yang dulu senantiasa mereka ucapkan dengan nyinyir.

(orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” (QS. 79: 10-11). Itulah cibiran mereka ketika menghina Rasulullah saw dan para sahabatnya, ketika ihwal hari kebangkitan dan pembalasan disampaikan. Seolah-olah mereka sangat tahu bahwa takkan ada suatu ketakutanpun yang akan hinggap di hati mereka. Sebuah anggapan yang tidak benar. Mereka tertipu oleh kebodohan dan kekerdilan jiwa mereka sendiri.

Nantinya mereka pun segera tahu siapa sesungguhnya di antara mereka yang merugi. ”Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan“. (QS. 79: 12). Sungguh, sebuah kerugian yang sangat besar. Karena mereka kembali kepada Allah dengan tangan hampa, bahkan bergelimang dosa. Tak ada tabungan yang bisa mereka andalkan dalam menjalani hari-hari sulit tatkala menyambut pengadilan yang Maha Adil.

Karena bagi Allah hanya dengan sekali tiupan semua ritme kehidupan akan benar-benar menemui kehancurannya. Satu tiupan pula yang akan membangkitkan makhluk-Nya yang telah binasa([4]). Tiupan kebangkitan ini, diistilahkan oleh Imam Hasan al-Bashry dan Ibrahim at-Taimy sebagai tiupan kemarahan pada orang-orang yang mendurhakai-Nya([5]) di dunia.

Belajar dari Kisah Terdahulu

Sejenak, Allah mengalihkan pembicaraan tentang hari kebangkitan yang merupakan salah satu silsilah yaumul akhir. Allah kembali mengisahkan perhelatan abadi antara rezim kezhaliman dan risalah kebenaran. Kali ini kisah dakwah Nabi Musa as kepada Firaun yang diketengahkan. Supaya kaum Nabi Muhammad bisa belajar dari kisah ini. Yaitu, ”Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci Thuwa” (QS. 79: 16)

Musa pun menerima risalah kebenaran yang akan merobohkan kezhaliman dan menggantinya dengan keadilan. Mandat kenabian pun diterima Musa yang telah tertempa kedewasaan sebelumnya. Ia telah terusir dari kampungnya kemudian merantau di tempat yang jauh selama lebih dari sepuluh tahun([6]). Kemudian ia pun harus kembali untuk mengemban misi dan risalah Allah. Dan Allah pun memerintahkannya, ”Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. 79:17-20)

Musa pun dibekali dengan mukjizat yang agung dari Allah. Namun, hal tersebut tak membuat hati Sang Durjana yang membatu menjadi lunak. Respon Firaun pun tak sesuai dengan harapan Nabi Musa as. Firaun yang angkuh itu mendustakan dan mendurhakai Musa as. “Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi“. (QS. 79: 22-24)

Itulah klimaks kezhaliman, ketika seseorang mengaku-aku Tuhan padahal tak sedikit pun ia laik dengan siifat-sifat ketuhanan. ”Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.” (QS. 79: 25)

Allah menghukumnya dengan menenggelamkannya beserta segala kesombongannya. Setelah itu Allah kekalkan jasadnya agar bisa dilihat oleh orang-orang setelahnya. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)”. (QS. 79: 26)

Dan hanya orang-orang yang takut Allah saja yang mampu mengambil pelajaran dari akhir cerita kezhaliman yang naas seperti yang dialami oleh Firaun tersebut. Hal ini merupakan salah satu fungsi kisah-kisah al-Qur’an yang memerankan pembaruan suasana untuk menyegarkan ingatan terhadap sebuah peristiwa yang telah terjadi di masa lampau([7]).

Tanda Kekuasaan yang Bisa Dilihat dan Dirasakan

            Terkadang manusia lupa dan sering merasa bahwa dirinya demikian hebat. Atau menyombongkan penciptaan dirinya, atau setidaknya berbangga karena menyandang makhluk mulia, sementara tak juga ia melaksanakan misi penciptaannya. Karena itu ia tak layak menyombongkan diri.

            Manakah yang lebih sulit dan rumit, penciptaan manusia atau langit yang tanpa atap. Allah telah benar-benar membangunnya bahkan berlapis tujuh dan, ”meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya”. (QS. 79: 28) Dan sepanjang mata telanjang memandang kita tak sanggup mencari permulaannya saja, bagaimana mungkin kita sanggup menemukan ujungnya. Dan langit telah benar-benar ada. Allahlah penciptanya. Bahkan menciptakannya dengan kesempurnaan, kecantikan dan kemegahannya.

            Dia juga yang, ”menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh”. (QS. 79: 29-32)

            Gelap dan terang adalah rekayasa Allah dan pengaturan-Nya, semuanya demi kemaslahatan manusia. Lalu hamparan bumi yang terbentang nan luas. Juga untuk manusia. Mata air yang memancar, tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Juga gunung-gunung yang kokoh berdiri melawan terpaan angin yang kencang. Allah lah yang mengaturnya. ”(semua itu) untuk kesenanganmu”.(QS. 79: 33) bahkan diteruskan kemanfaatan itu juga untuk ”hewan-hewan ternakmu”. Dan kita tahu bahwa hewan ternak itu nantinya juga dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesenangan serta kemaslahatan manusia. Sebagian disembelih dan dimakan, sebagian digunakan untuk melakukan perjalanan panjang. Yang lain digunakan untuk berlomba, berburu dan berperang. Bahkan ada yang digunakan sekadar untuk kebanggaan dan kemewahan serta bermegah-megahan.

            Allah yang sangat kasih sayang terhadap manusia terkadang dilupakan begitu saja. Apalagi saat-saat mendapatkan karunia dari-Nya. Memang manusia sering lupa. Saat senggang dan bahagia mereka melupakan Tuhannya. Tatkala terjepit dalam kesempitan mereka kadang baru mengingatnya. Kealpaan dan kelalaian ini kelak akan membawa kerugian dan penyesalan.

Malapetaka dan Karunia

            Berapa lama manusia sanggup menikmati hidupnya. Jika dia terlahir ke dunia ini pada usia nol, ia baru bisa berjalan setelah 1-2 tahun kemudian, kemudian ia akan pada usia belasan tahun ia baru mencari eksistensinya. Pada usia duapuluhan ia bahkan belum mampu eksis kecuali sebagian kecil. Mungkin pada usia 30 atau 40 ia baru menikmati hidupnya. Ia bahkan hanya bisa menimkati hidupnya sedikit saja. Sisanya ia pakai untuk bekerja keras. Hartanya ia relakan untuk keluarganya. Sebagian digunakan untuk memenuhi tuntutan prestise dan posisi sosial di tengah masyarakat. Hanya sedikit saja yang benar-benar bisa ia nikmati. Itupun nantinya tak ia bawa ke liang lahatnya.

            Maka, pada saat datang hari yang dijanjikan Allah. ”Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat”. (QS. 79: 34-36)

            Saat itu semua manusia bisa merasakan betapa beratnya hari yang dijalaninya sekarang. Ia mulai berhitung apa yang diperbuatnya untuk menghadapi hari ini.

Ketakutan yang demikian dahsyatnya akan menimpa siapa saja. Karena tak satupun yang tahu kasudahan nasibnya. Terlebih bagi orang yang angkuh dan sangat zhalim serta melampaui batas ketika hidup di dunia. ”Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat (nya)”. (QS. 79: 37-39). Itulah seburuk-buruk akhir cerita.

            ”Sedangkan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (QS. 79: 40-41).

            Berbahagialah orang-orang yang mampu menahan diri dari yang dimurkai Allah. Fudhail bin Iyadh mengatakan, “sebaik-baik amal adalah menyelisihi hawa nafsu([8]). Demikian pula orang-orang yang bersabar menjalankan apa yang dikehendaki-Nya yang menjadi misi penciptaannya di muka bumi sebagai khalifah Allah untuk memakmurkan bumi dan isinya. Bukan untuk merusak dan saling bertikai. Bukan pula untuk saling membunuh dan menghancurkan.

Peringatan Hanya Ada di Dunia Saja

            Saat orang-orang kafir tersebut melecehkan peringatan Nabi saw. “(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?” (QS. 79: 42)

            Takkan pernah ada yang tahu, tidak juga ada yang mengetahuinya sebelum kejadian yang sesungguhnya. Bahkan sampai Nabi Muhammad saw pun tidak juga mendapatkan berita waktu kepastiannya. “Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?” (QS. 79: 43). Beliau hanya penyambung lidah, sang pembawa amanah dan , ”hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kebangkitan)” (QS. 79: 45).

            Saat nanti semua manusia dibangkitkan, semuanya bersiap diri menyongsong pengadilan dan vonis untuk menerima pembalasan yang setimpal dari semua yang dilakukannya ketika berad di dunia ini. Saat itu semua merasa betapa pendeknya umur mereka di dunia yang tak seberapa. Apalagi bagi mereka yang durhaka dan pendusta. Hari-hari menyulitkan itu terasa demikian panjang dan melelahkan. Padahal mereka belum lagi menerima vonis. Ketakutan dan kengerian sudah mereka rasakan. Kenikmatan dan kemakmuran yang mereka rasa di dunia menjadi tiada berarti. “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari”. (QS. 79: 46)

            Perbandingan yang tak seimbang. Karena kehidupan fana di dunia menjadi tiada artinya. Bagaikan satu detik dalam hidup kita. Diumpamakan di sini bagaikan waktu pagi atau petang. Ini perumpamaan singkatnya waktu yang dilalui manusia setiap harinya, seperti tutur ath-Thayyiby([9]). Pagi hari manusia sibuk mempersiapkan hari urusan itu dari mencari nafkah dan sebagainya. Semuanya terasa singkat. Sedang sore harinya ia gunakan untuk kembali ke rumah bertemu dengan keluarganya. Maka ia juga merasakan betapa cepatnya waktu sore berlalu.

            Sebenarnya manusia pun tahu bahwa setelah kehidupan dunia ini ada kehidupan lagi. Setelah jasadnya ditinggal ruh dan nyawa ada kehidupan lain yang dialaminya. Karena saat di dunia ia pun merasakan, ketika bekerja keras ia mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapannya. Ia pun berharap jerih payahnya dihargai sesuai usahanya. Ada juga orang-orang tertindas yang belum mendapatkan keadilan bahkan sebagian terbunuh dengan ternista atau terinjak-injak harga dirinya. Di mana mereka akan mendapatkan keadilan, jika tidak di hari akhir([10]) yang hanya Allah saja berkuasa atas segalanya. Karena bila seorang hamba telah mampu mematri keimanan terhadap hari akhir ini, ia akan berhati-hati menjalani sisa hidupnya dan memenuhinya dengan kemanfaatan bagi seluas-luas makhluk-Nya. Senada dengan ungkapan Ibnu Atha’illah as-Sakandary, ”Seandainya cahaya keyakinan menerangimu, niscaya engka dapat melihat akhirat itu lebih dekat padamu daripada engkau berjalan ke arahnya. Dan engkau punmelihat keindahan dunia telah tertutupi oleh gerhana kefanaan yang gulita ([11]).

لو أشرق لك نور اليقين لرأيت الآخرة أقرب إليك من أن ترحل إليها ولرأيت محاسن الدنيا قد ظهرت كسفة الفناء عليها

Penutup: Hari Berbekal dan Menabung

            Jika kita telah menyadari dan mengimaninya dengan sepenuh hati, kita juga akan menganggapnya sangat dekat. ”Sedangkan kami memandangnya dekat” (QS. Al-Ma’ârij: 7) Sehingga kita tidak pernah menganggap diri kita teramankan dari murka dan azab Allah sekalipun. Maka yang terbaik dilakukan saat ini adalah berbenah diri dengan menabung amal sebanyak-banyaknya dengan kualitas yang sebaik-baiknya untuk menghadapi hari pacekik yang dahsyat yang dikatakan sebagai ath-Thammah al-Kubra (malapetaka yang besar). Saat itu yang bisa diandalkan adalah amal yang telah kita kerjakan. Meskipun seandainya kemudian Allah mengampuni semua kekhilafan dan doa kita serta menerima amal kebaikan kita itu semata karena keluasan rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga kelak kita benar-benar mendapatkannya. Amin.

Jakarta, Selasa, 17 November 2009


* Tadabbur surat An-Nâzi’ât (Malaikat Pencabut Nyawa): [79], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, vol.30, hlm.36, Imam al-Baghawy, Ma’âlimu at-Tanzîl, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, vol.4, hlm.410, Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M/1417 H, Vol.8, hlm.178, Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âny, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1997 M/1417 H, Vol. 30, hlm. 39-40. 

([2]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.743

([3]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsûr fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur, Beirut: Darul Fikr, Cet.1, 1987 M/1403 H, Vol.1, hlm.403.

([4]) seperti yang difirmankan dalam ayat ke 13 dalam surat ini. Proses pengembalian itu suatu hal yang sangat mudah bagi Allah. Hanya dibutuhkan satu tiupan saja, dan secara tiba-tiba semua yang telah mati terhimpun di padang mahsyar, padang kebangkitan (lihat Tafsir al-Muntakhab, al-Azhar-Kementrian Wakaf Mesir, Cairo, 2001 M/1422 H, hlm.1201)

([5]) seperti disitir Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 4/470

([6]) yaitu ketika merada di negeri Madyan. Bahkan ia menikah dan berkeluarga di sana, kemudian bersama mereka ia kembali ke Mesir untuk melanjutkan misi reformasinya, berdakwah melengserkan kezhaliman.

([7]) seperti ungkap Dr. Abdurrahman an-Nahlawy, At-Tarbiyah Bil Qishshah, Damaskus: Darul Fikr, Cet.1, 2006 M/1427 H hlm. 16

([8]) disitir al-Alusy dalam tafsirnya, Ruhul Ma’any, Op. Cit, Vol.30, hlm. 63

([9]) Ibid, Vol.30, hlm. 66

([10]) lihat: Dr. Yusuf al-Qaradhawy, Al-Iman wa al-Hayah, Cairo: Maktabah Wahbah, Cet. XVI, 2007 M/1428 H, hlm. 36.

([11]) sebagaimana termujat dalam kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandary, terj. Dr. Ismail Baadillah, Jakarta: Khatulistiwa Press, Cet.II, 2008 M/1429 H, Hikmah ke 124. hlm. 168

Oleh: saiful bahri | April 19, 2010

Tadabbur Surat An-Naba’ [78]

BERITA BESAR YANG DIPERTANYAKAN*

Dr. H. Saiful Bahri, MA**.

Mukaddimah: Jawaban Atas Berbagai Keraguan

Dalam surat sebelumnya (al-Mursalât) Allah mengulang-ulang ayat ”wailun yaumaidzin lilmukadzdzibîn” yang artinya ”kecelakaan yang besar pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” sebanyak sepuluh kali; maka dalam surat ini Allah lebih banyak menjelaskan tentang hari kebangkitan dan kemudian pembalasan bagi para manusia sesuai amal dan perbuatannya. Hari yang didustakan oleh banyak orang sejak para rasul sebelum Nabi Muhammad menyampaikannya pada kaum mereka.

Dengan hal inilah Allah menyampaikan pesan dalam surat An-Naba’ (Berita Besar) di awal juz 30. Juz terakhir dari al-Qur’an yang didalamnya terdapat 37 surat. Sebagian besar surat tersebut diturunkan Allah di masa kenabian pertama yang dikenal dengan periode Makkah. Hanya dua saja –yang disepakati oleh para ulama- merupakan surat madaniyah, yaitu surat al-Zalzalah dan surat An-Nashr yang turun pada periode Madinah.

Surat an-Naba’ diturunkan setelah surat al-Ma’arij([1]). Surat ini memuat sebuah berita besar yang dipertanyakan dan didustakan oleh orang-orang kafir([2]). Yaitu berita tentang hari kiamat yang selalu membuat manusia penasaran dan mencari tahu kapan datangnya([3]).

Hari Kiamat: Misteri Yang Takkan Pernah Terkuak Waktunya 

            Siapapun orangnya takkan pernah mengetahui kapan tiba masanya hari kiamat; bahkan Nabi Muhammad saw sekalipun. Karena itu bila ada yang mengaku-aku mengetahui kapan datangnya hari kiamat, sudah bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah seorang pendusta, hanya pembual yang bermulut besar.

            ”Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui”. (QS. 78: 1-5)

            Imam al-Alusy menyebutkan bahwa kata ganti ketiga yang berbentuk plural di sini tanpa didahului penyebutan mereka sebelumnya bisa jadi dimaksudkan untuk menghinakan mereka yang mendustakan hari kiamat. Yaitu orang-orang kuffar quraisy. Sehingga mereka perlu dihadirkan dalam kesempatan ini. Atau bisa jadi justru merekalah yang meneror kaum muslimin dengan pertanyaan yang bernada penghinaan. Pada hakikatnya mereka bukanlah bertanya, karena sikap mereka sudah sangat jelas. Mendustakan adanya hari kiamat([4]). Apapun maksud mereka Allah sudah menegaskan bahwa penentuan hari kebangkitan sudah dilakukan Allah dan tak seorang makhluk-Nya pun yang mengetahui rahasia tersebut. Tidak juga orang terdekat-Nya, baginda Rasulullah saw atau malaikat Jibril as.

Dengan ini Allah sekaligus mengancam para pendusta tersebut bahwa kelak yang mereka olok-olokkan akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat mereka akan segera mengetahui dan menyesal saat itu. Dan penyesalan seperti ini tidaklah berguna, karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang sebelumnya terbuka luas ketika di dunia.

Tanda-tanda Kekuasaan Allah

            Sejenak Allah memalingkan pembicaraan tentang hari kebangkitan. Para pendusta itu –khususnya- dan para manusia secara umum melalui Rasulullah dan orang-orang mukmin, diajak berpikir, melihat berbagai fenomena alam yang diciptakan Allah. Dengan pikiran jernih, dapat menghantarkan manusia untuk sampai pada keyakinan kebenaran hari kiamat.

            “Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan, Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Dan kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, Dan kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, Dan kebun-kebun yang lebat?” (QS. 78; 6-16)

Ayat-ayat di atas –sebagaimana tutur Imam Qatadah- merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang sekaligus sebagai pembuka pembicaraan yang lebih serius tentang hari kebangkitan([5]).

Bumi yang terhampar luas ini pada hakikatnya tidaklah seberapa jika dibanding dengan luasnya alam semesta ciptaan Allah. Gunung-gunung yang dipasang sebagai pasaknya kelak akan dicabut bagaikan bulu-bulu ringan. Allah jualah yang menciptakan apapun serba berpasangan. Menjadikan sebuah perbedaan yang bahkan sangat mencolok, menjadi sebuah keserasian. Ia juga yang sanggup menentukan hari kehancuran bagi apa saja.

            Menariknya Allah menyebut tidur sebagai sebuah nikmat istirahat bagi manusia. Sekaligus sebagai tanda hari kebangkitan. Bahwa tidurnya manusia di malam hari bagaikan sebuah kematian. Dan ketika ia terbangun di pagi hari Allah telah membangkitkannya dari sebuah kematian. Maka kelak hari kebangkitan yang sesungguhnya setelah mati juga demikian. Hanya saja tiada yang tahu kapan terjadinya.

            ”Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan”. (QS. 6: 60)

Dalam surat al-An’am ini, Allah menggunakan kata ”yatawaffâkum” (mematikan kalian), yaitu menidurkan di malam hari. Ibnu al-Anbary mengatakan, “tidur disetarakan seperti kematian karena semua kegiatan manusia terputus” ([6]). Allah juga menjadikan malam seperti halnya pakaian yang menutupi. Karena pada malam hari manusia beristirahat, dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk privasi diri dan tak ingin diketahui oleh orang lain. Sedangkan siang Allah jadikan sebagai waktu bagi manusia untuk beraktivitas. Keduanya berpasangan dan diganti Allah secara bergiliran untuk kepentingan manusia. Siapakah yang menggilir kedua waktu tersebut secara bergantian? Bagaimana seandainya sepanjang waktu menjadi malam yang gelap? Atau menjadi terang selamanya, menjadi siang tanpa malam. Itulah hikmah penciptaan pergantian waktu. Dzat yang mampu melakukannya tentu juga mampu membangkitkan manusia setelah kematiannya.

Dialah sang pencipta tujuh lapis langit tanpa tiang yang berada di atas bumi secara kokoh. Pernahkah manusia membayangkan satu saja dari tujuh lapis langit tersebut terjatuh dan menimpa bumi, tempat manusia berada dan melangsungkan kehidupannya.

Allah juga yang menjadikan pelita sangat terang, yaitu matahari. Tanpa pernah padam sejenak pun. Semua manusia merasakannya dengan kadar yang berbeda-beda. Semua telah di tentukan Allah sehingga sesuai untuk manusia. Pernahkah kit abayangkan seandainya jarak antara matahari dan bumi tempat kita berada dijauhkan Allah sedikit saja. Mungkin dunia ini akan segera membeku kedinginan. Atau sebaliknya jaraknya didekatkan sedikit saja, maka semua yang ada di bumi akan terbakar kepanasan. Dzat yang sangat detil memperhitungkan hal tersebut tentu saja mudah dalam membangkitkan makhluk-Nya setelah kematian.

Allah juga yang menurunkan dari awan-awan yang membawa air menjadi hujan yang mengguyur bumi. Dari air yang satu itu kemudian diterima oleh tanah yang bermacam-macam jenisnya. Dari sana kemudian tumbuh berbagai jenis biji-bijian dan tumbuhan yang macamnya sangat beragam dan sangat banyak, sebagian diantaranya menjadi perkebunan dan taman-taman yang indah dan lebat. Dan setiap waktu selalu saja ditemukan jenis tanaman dan tumbuhan baru. Semuanya berasal dari satu jenis air. Yaitu air dari awan. Dzat yang bisa melakukannya tentu saja mampu membangkitkan manusia setelah kebinasaannya.

Hari yang Ditunggu-Tunggu

            Bila hari penentuan itu datang, semuanya menjadi berubah. Karena saat itu para manusia sudah tak lagi dibebani dengan tugas dan taklif.

            “Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. Dan dijalankanlah gunung-gunung maka ia menjadi fatamorgana”. (QS. 78: 17-20)

            Bila datang hari kebangkitan, manusia pun segera terjaga dari kematian. Kehidupan sesungguhnya baru akan dimulai. Hari pembalasan menanti mereka. Mereka dibangkitkan secara berkelompok sesuai dengan perilaku dan amal mereka ketika hidup di dunia([7]). Masing-masing kelompok terdapat pemimpinnya, yang mereka ikuti ketika di dunia. Hal ini senada ungkapan Allah dalam firman-Nya, “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka Ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun” (QS. 17: 71)”

            Langit-langitpun membuka diri atas titah Tuhan-Nya. Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang sangat banyak. Gunung-gunung yang menjadi pasak bumi pun terserabut terbang dan dijalankan Allah bagai bulu. Ia pun seperti fatamormana. Ada keberadaannya tapi seolah terlihat tidak di alam nyata. Karena gunung yang demikian kokohnya terseret juga oleh arus dan mesti mengikuti titah dan perintah Tuhannya. Gunung-gunung itu menjadi seperti fatamorgana. Seperti ada dan seperti tiada. Seolah menjadi demikian ringannya. Ini adalah satu dari sekian gambaran kedahsyatan hari kemusnahan dan kiamat. Dan setelahnya diikuti dengan datangnya hari kebangkitan kemudian dilanjutkan dengan pembalasan.

Hari Pembalasan

            Hari kebangkitan membawa misi keadilan. Agar setiap manusia mendapatkan balasan yang setimpal dan adil atas semua perbuatannya yang dilakukannya ketika ia hidup di bumi.

            ”Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguhnya. Dan segala sesuatu telah kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab”. (QS. 78: 21-30)

            Orang-orang zhalim yang melampau batas kewajaran, yang lalim, penindas yang lemah, culas dan serakah. Bagi mereka neraka jahannam. Seburuk-buruk tempat kembali di akhirat kelak. Yaitu neraka yang selalu ada pengintainya. Menjaga mereka tanpa belas kasihan sama sekali. Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farra’ menafsirkannya dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan ”la bardan”, takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun([8]). Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya([9]). Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

            Itulah balasan yang setimpal bagi perbuatan mereka. Yaitu mendustakan ayat-ayat dan tanda kebesaran serta kekuasaan Allah. Bumi, langit, ditidurkannya manusia, gunung-gunung, awan dan air serta berbagai tanda yang lainnya seperti yang disebutkan. Seolah tak memberikan bekas dan pengaruh bagi mereka. Padahal kesempatan taubat yang berulang-ulang dibuka oleh Allah tak juga digunakan dengan baik sampai akhirnya dating masa yang tak lagi bisa diperdengarkan alasan dan udzur. Akibatnya, orang-orang yang melampaui batas tersebut berlaku zhalim. Menindas yang lemah, menipu, culas, ringan melakukan kesalahan, berbuat semaunya dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena mereka sudah berkeyakinan takkan ada pembalasan. Namun anggapan tersebut tidaklah benar. Semua bahkan terekam dalam catatan amal yang kelak tak lagi bisa dipungkiri, karena malaikat pencatat pun disertai saksi anggota tubuh manusia sendiri yang berbicara atas titas keagungan Allah. Saat itu, takkan lagi ada pendusta yang sanggup berdusta. Dan orang-orang yang zhalim tersebut tak laik mendapatkan tambahan melainkan kepedihan adzab yang tak terperikan.

Kemuliaan dan Kemenangan Orang Bertaqwa

            Sebaliknya orang-orang yang mau menahan hawa nafsunya dan memilih ketaqwaan sebagai perilaku hidupnya semasa di dunia, mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, yaitu berupa kemuliaan dan kemenangan hakiki.

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak”. (QS. 78: 31-36)

Bagi mereka kepuasan dan kebahagiaan selain disertai berbagai ganjaran materi yang sangat gamblang disebutkan di sini. Yaitu kebun-kebun yang sangat lebat nan indah serta buah anggur yang sangat menggiurkan. Ditemani bidadari-bidadari yang cantiknya tak tertandingi dan tak pernah tua. Umur mereka selalu sebaya. Yang tak pernah jemu dan bosan melayani mereka, menyodorkan aneka gelas indah yang selalu penuh dengan berbagai jenis minuman, sesuai keinginan mereka.

Selain itu semua, para penghuni surga jua mendapatkan kenikmatan psikis berupa perkataan yang baik. Tak ada lagi dusta dan kata-kata kasar terdengar di sana. Semua santun, kata-kata indah selalu didengar dan diperdengarkan. Telinga mereka menjadi termanjakan oleh hiburan-hiburan yang sangat membahagiakan. Terutama untuk ketenangan jiwa. Karena kata-kata kasar dan dusta serta kebohongan adalah siksaan bagi jiwa. Bagi para pembohong sekalipun kata-kata tersebut sangat berat. Abu Bakar Asy-Syibli menuturkan bahwa semua percakapan dan perbincangan penduduk surga adalah kebenaran([10]).

Itulah anugerah dari Dzat yang serba maha. “Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; yang Maha Pemurah.”. (QS. 78: 37)

Hari Kebenaran dan Keadilan

            Pada hari itu takkan ada dusta. Takkan ada yang mampu menutup-nutupi kebenaran. Semuanya akan terungkap. Keadilan benar-benar ditegakkan untuk siapapun tanpa terkecuali.

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang Telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya”. (QS. 78: 38-39)

Hari itu semuanya tunduk pada titah Sang Perkasa yang Berkuasa penuh atas kendali bagi siapapun dan apapun. Dan penegakan hukum benar-benar dilakukan secara transparan dan adil tanpa ada pemihakan dan kecondongan bagi siapapun.

Meski demikian Allah tetaplah sebagai Dzat yang Maha Pemurah bagi hamba-hamba-Nya yang mau berusaha berbuat baik dan bersabar ketika mengarungi kehidupannya di dunia. Sekaligus Dzat yang Maha Benar yang akan membuktikan janji-Nya, dengan memberikan balasan yang adil dan setimpal. Yang zhalim tak dilebihkan hukumannya, sedang yang baik dilipatkan pahalanya. Itulah kemurahan dan cinta Sang Rahman yang tiada pernah habis.

Penutup: Penyesalan-Penyesalan

Sesungguhnya kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah“. (QS. 78: 40)

Siapapun orangnya pasti kelak akan menyesali semua perbuatannya. Bagi yang diberikan nikmat surga dan kemuliaan ia akan menyesal mengapa tak lagi giat dan terus menambah dan meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shalihnya. Apalagi bagi yang zhalim dan melampaui batas. Mereka justru berharap seandainya menjadi debu saja. Karena debu tak dimintai pertanggungjawaban amal. Kelak manusia bahkan jin akan dimintai pertanggujawaban atas perbuatannya.

Perkataan orang kafir di atas menggambarkan penyesalan yang sangat dalam. Ibnu Umar, Abu Hurairah dan Mujahid mengatakan hal itu mereka katakana saat melihat hewan-hewan menjadi debu([11]). Namun sebaiknya ditafsirkan lebih umum. Karena baik jin dan manusia diciptakan untuk beribadah semasa hidupnya seperti tutur al-Qur’an([12]) dan semuanya akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya ([13]).

            Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang dimuliakan dengan balasan pahala kebaikan dan semua kekhilafan serta kesalahan kita diampuni dan ditutup oleh Allah swt dengan kasih saying-Nya. Amin.

 Jakarta, Selasa, 10 November 2009


* Tadabbur surat An-Naba’ (Berita Besar): [78], Juz Amma (30)

** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo

([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 250.

([2]) Menurut Imam Qatadah, juga jumhur mufassirin mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah hari kebangkitan (lihat: Ibnu Jarir ath-Thabary, Jâmi’ al-Bayân, Beirut: Dar Ihya Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M/1421 H, vol.30, hlm.5, Imam al-Baghawy, Ma’âlimu at-Tanzîl, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, vol.4, hlm.405, Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Mansoura: Maktabah al-Iman, Cet.I, 1996 M/1417 H, Vol.8, hlm.170 )

([3]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.743

([4]) Syihabuddin al-Alusy, Rûhul Ma’âny, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1997 M/1417 H, Vol. 30, hlm. 4

([5]) Ibid, Vol. 30, hlm. 5

([6]) Imam al-Wahidy, al-Wasith fi tafsir al-Qur’an al-Majid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 1994 M/1415 H, Vol.4, hlm.412

([7]) Imam Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Ma’any, Op.Cit, Vol. 30, hlm. 19

([8]) Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.3, hlm.118

([9]) Az-Zajjâj, Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.5, hlm.213

([10]) seperti yang disitir oleh As-Sulamy dalam tafsirnya, Haqâ’iq at-Tafsir, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2001 M/1421 H, Vol.2, hlm.368

([11]) seperti dinukil oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, Cet.1, 2002 M/1423 H, Vol.10, hlm. 156

([12])Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

([13]) lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 779

Oleh: saiful bahri | Oktober 11, 2009

80 kali 40

80 kali 40

Tak terlalu lama aku berdiri di Halte Gami’, bis hijau bernomer 80 coret segera menghampiriku juga orang-orang yang berada di halte. Beberapa pasang kaki segera berlari memburunya. Entah mengapa tiba-tiba kakiku ikut bergerak. Dan akhirnya aku menjadi penumpang sebelum terakhir. Alhamdulillah, aku berhasil memasukkan setengah badanku dengan topangan tangan kiri yang sempat memegang tiang di samping pintu belakang. Entahlah. Biasanya jika ke kuliah aku lebih suka naik apa saja yang menghantarkanku ke Nadi Sikkah, atau ke Duwaiqoh. Kemudian aku sambung dengan mikro bis atau dengan naik taksi omprengan. Tapi rasanya sudah lamaaaaa sekali aku tak menikmati ”perjuangan” menaiki bis 80 coret yang selalu pasti berjejalan penumpang saat-saat aktif jam kuliah. Apalagi dengan adanya kelas sore seperti sekarang.

Pagi tadi, aku bersemangat. Karena promotorku saja yang tinggal di Thanta -ibukota propinsi Gharbea- punya komitmen untuk datang ke kampus sebelum jam 09.30. rasanya malu jika aku terlambat dan keduluan. Maka jam 8 pagi lebih sedikit aku sudah setia menunggu ”jemputan” ke kampus. Dan nampaknya aku berjodoh dengan 80 coret yang menyambangiku sudah dengan penumpang yang berjejalan. Karena jalan sedikit macet aku berani menggerakkan kakiku meski hanya setengah badanku saja yang bisa masuk bis. Setelah melewati dua halte aku baru bisa menggeser badanku. Aku bersyukur dikaruniai badan yang tidak terlalu besar. Sehingga tak harus menunggu lama aku bisa menyelinap di balik pintu belakang. Bahkan –alhamdulillah- tak begitu lama aku pun bisa mendapatkan temnpat duduk. Sambil merenung, berapa jumlah penumpang yang saat ini berada di atas bis bersamaku. Setidaknya kursi yang tersedia ada 32. Penumpang yang berdiri minimalnya 1 ½ kali lipat dari yang berdiri, karena formasi bis yang kunaiki adalah 2 – 1, sehingga bagian tengahnya agak lebar dan bisa menampung 2 atau tiga orang yang berdiri di setiap barisnya. 75% lebih penumpangnya punya jurusan sama. Kuliah di al-Azhar. Beberapa orang terlihat sedikit bisa bernafas ketika bis berhenti di depan halte Fakultas Kedokteran al-Azhar. Beberapa mahasiswa turun di sana. Penumpang bis juga mulai berkurang ketika bis berhenti di depan asrama pelajar asing. Dan saat itulah aku melihat kondisi bis jauh lebih baik. Meski masih lumayan banyak yang berdiri tapi badan mereka sudah bisa berdiri tegak. Aku melihat sepatuku. Yang kanan sudah banyak cap sepati/kaki di sana. Yang kiri juga demikian. Bajuku yang tadi lumayan rapi, tadi juga sempat jadi pegangan orang. Sehingga mulai kusut.

Aku hanya ingat saat berjuang memasuki bis aku meletakkan telapak tanganku melindungi saku celana kananku, tempat aku meletakkan Hp di sana. Sesekali aku melindungi kacamataku agar tidak jatuh atau tersangkut oleh tangan atau badan orang-orang di depan atau belakangku yang secara fisik jauh lebih besar dariku.

Saat aku turun di depan Rumah Sakit Hussein, sejenak kupandangi bis yang setia mengantarku itu. Sudah berapa kali ia mengantarku kuliah sejak dari 10 tahun yang lalu bahkan lebih. Ah, aku bahkan tak pernah menghitungnya. Sebagian kondekturnya bahkan belum berganti. Ia masih saja setia duduk manis di belakang pintu sambil mengomandoi penumpang untuk maju terus ke depan. Suaranya keras, tapi maksudnya baik; agar penumpang yang bergelantungan di pintu bisa memasuki bis. Tapi ketika mereka masuk, penumpang yang lain menyusul.

Aku pun merenung. Perjuangan yang tak ringan ini jika tidak disertai keikhlasan akan percuma dan sia-sia. Apalagi jika tidak ditambah sedikit sabar. Itu semua karena ”ilmu”. Dikejar dan diburu mati-matian. Karenanya kemudian aku paham, pantas saja Allah kemudian memuliakan orang-orang berilmu. Lihatlah, Ibu Imam Syafii dan Ibu Imam Ahmad bin Hambal. Mereka berdua adalah janda muda yang ditinggal mati suaminya masih dalam usia yang tidak terlalu tua. Oleh ibunya, Imam Syafii dibawa ke Makkah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Oleh ibunya, Imam Ahmad dinafkahi harta warisan keluarganya. Hanya untuk ilmu. Bahkan ibu mereka berdua pun memilih tidak menikah lagi. Hanya untuk ilmu anak-anaknya.

Barangkali pagi tadi aku memang sedang mencari semangat. Tepatnya menambah semangat. Saat berdebar-debar menunggu kelahiran anak keduaku. Minggu-minggu ini adalah perjuangan berat istriku. Saat ribuan mil, daratan dan lautan memisahkanku dengannya dan anak pertamaku. Semoga mereka selalu baik-baik saja. Allah Sang Penjaga. Sebaik-baiknya penjaga.

Aku baru memahami… kenapa tadi pagi kakiku sangat ringan melayang dan melompat. Tangan kiriku juga sigap mencengkram tiang pintu belakang. Ada sejuta makna kudapat. Ada berjuta kaset kenangan terputar. Ada sejuta asa dan perjuangan menyetrum nadiku. Ada berjuta semangat kudapati dari orang-orang yang berada di dekatku. Berlari, berjuang. Dan saling menolong, meluangkan tempat bagi sesama. Menarik dan memegang agar semua terlindungi meski oleh fasilitas yang seadanya. Meski ada tantangan tangan-tangan jahil di sana. Tapi dalam kondisi yang sangat padat seperti tadi ia pun akan kesulitan beraksi.

Aku baru memahami… rasanya memang sekali-kali aku perlu mencoba kembali untuk menaiki 80 coretku. Meski memang ada banyak alternatif menuju kampus al-Azhar di Husein. Mungkin aku tak begitu terasa, karena tidak setiap hari aku pergi ke sana. Lalu bagaimana dengan adik-adikku yang harus kuliah setiap hari. Lalu bagaimana dengan mereka yang budget transportnya terbatas.

80 x 40 = semangat yang luar biasa.

Jika hari ini aku menaikinya selama 40 menit. Lalu berapa menit jumlah total waktu yang kuhabiskan untuk menaiki bis 80 coret. He he he… itu belum dipotong waktu menunggunya. Saat masih S1 aku sangat setia menunggunya. Tapi sejak sudah banyak alternatif transportasi, aku sudah tak terlalu sabar menunggunya.

Aku segera bergegas memburu kantor jurusan tafsir. Ketika dosen pembimbingku datang, setelah bersalaman aku berusaha mencium telapak tangan kanannya. Tapi seperti biasa, beliau segera menariknya. ”Tunggu 10 menit ya” ujarnya melularkan semangat menuntut ilmu. Ku lihat senyum ramah,di ujung bibirnya.

Rasa penatku hilang begitu aku bisa duduk di samping beliau. Mendengarkan koreksi dan masukan beberapa bagian tulisan di Bab 2 yang kuserahkan pekan lalu.

Jam tanganku hampir menunjukkan jam 11 siang. Sebentar lagi temanku akan menjemputku, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Bank Faysal di Attaba. Untuk menyetor tabungan uang organisasi yang kupimpin.

Jeda waktu tunggu kugunakan melihat-lihat buku di depan auditorium Grand Syeikh Abdul Halim Mahmud. Hasrat membeli bukuku segera padam begitu aku tersadar aku lupa membawa dompetku. Alhamdulillah, aku ingat bahwa aku lupa membawa dompet dan bukan dijaili oleh tangan-tangan nakal seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Jika sedang luang dan bepergian di atas mobil yang lebih nyaman. Aku segera ingat bahwa masih banyak orang berjuang di atas kendaraan umum. Saat aku berganti-ganti transportasi ke kampus. Lebih nyaman dan praktis. Akupun segera ingat… bahwa perjuanganku pagi ini tak hanya menjadi kisahku saja. Ada banyak orang sepertiku. Bahkan mungkin ada sebagian yang kehilangan nyali untuk datang ke kampus. Hanya dengan alasan 80 coret. Mungkin juga ada yang sekedar mendengar berbagai mitos 80 coret, karena ia belum pernah menaikinya.

Ketika aku berjalan kaki. Berapa banyak orang yang tertatih-tatih berjalan. Aku bersyukur dikaruniai kesehatan hari ini.

80 coret kali 40 menit = benar-benar menginspirasiku.

Karena aku ”cukup” setia memanfaatkan jasanya. 15 piester, kemudian 25 piester, hingga sekarang 50 piester. Mungkin tak sepadan dengan jasanya mengantarkanku menjemput jutaan mutiara ilmu dan motivasi pembelajaran. Tapi, tak semua orang mampu menganggarkan budget seperti di atas karena keterbatasan atau karena suatu hal. Bahkan untuk sekedar berterima kasih dan tidak mencercanya… saya yakin masih banyak yang berat melakukannya.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55: 13)

 

Ahad Petang, Rumah Cinta, Kampung Sepuluh,

Cairo, 11.10.2009

Saiful Bahri

Oleh: saiful bahri | September 20, 2009

Khutbah Idul Fitri 1430 H

Kemenangan Para Pemaaf

H. Saiful Bahri, MA.

 

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر (9  مرات) . الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً. وسبحان الله بكرةً وأصيلاً. لا إله إلاّ الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد. حمداً لله الذي أمدّنا بأنواع النعم وفضلنا على سائر خلقه بتعليم العلم والبيان، والحمد لله الذي حبّب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا وكره إلينا الفسوق والعصيان واجعلنا اللهمّ من الراشدين. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده، صَدَقَ وعْدَه ونصَر عبْدَه وأعزّ جُنْدَه وهزَم اْلأحْزَابَ وحدَه، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله لا نبي بعد، فصلوات الله وسلامُه على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمّا بعد، فيا عباد الله أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين. يقول المولى عز وجل: « إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا» (النساء: 149). طِبْتُمْ وطابَ ممْشَاكُمْ وتَبَوّأتمْ مِن الجنّة منزلاً .

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Pada pagi hari ini, sebagian besar umat islam merayakan kemenangan. Mereka memang layak untuk berbahagia. Dan Rasulullah saw pun memerintahkan semua orang untuk berkumpul merayakan kemenangan ini. Orang-orang tua, muda, remaja, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka yang berhalangan syar’i pun dianjurkan untuk datang. Karena pada hari inilah kita meraih kemenangan sesungguhnya. Kala cinta mengalahkan iri dan dengki. Ketika dendam dan permusuhan terkikis oleh kasih sayang. Saat kesabaran dan kejujuran menyingkirkan ego dan dusta. Saatnya kita meraih kemenangan cinta dari Sang Pemilik cinta.  Inilah realisasi doa yang sering dibaca oleh Nabi Daud as

اللهم إني أسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربني إلى حبك

Ya Allah karuniailah hamba cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta segala sesuatu yang mendekatkanku pada cinta-Mu” HR Tirmidzi dari Abu Darda’ ra.

Selama Ramadhan kita benar-benar menyelami dan merasakan apa sesungguhnya arti cinta dan kasih sayang. Apa makna Rahmah yang sebenarnya. Rahmah Allah diturunkan setiap harinya di sepertiga malam terakhir, saat para pelantun istighfar memohon ampunan-Nya. Rahmah, sebagai tanda pembuka bulan Ramadhan yaitu sepertiga pertamanya. Kasih sayang ini pula yang menjadi tujuan pernikahan antara pasangan laki-laki dan perempuan, selain menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan Rahmah inilah yang kita ucapkan sebagai salam pembuka ketika bersua dengan sesama saudara. Dalam al-Qur’an pun surat Ar-Rahman menjadi satu-satunya surat yang diambil dari nama Allah (asmaul husna) yang maha penyayang.

Jika kita ingin tahu bagaimana Allah menyayangi kita dengarkan penuturan Rasulullah saw dalam hadits qudsi berikut:

 عن أبي هُرَيْرَةَ قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وما تَقَرَّبَ إليّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إليّ بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها وَإِنْ سَأَلَنِي لأعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأعِيذَنَّهُ وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي في قبض نفس عبدي الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ولا بد له منه (أخرجه البخاري في كتاب الرقاق باب التواضع)

Allah berfirman: Siapa yang memusuhi waliku maka aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiku dengan sesuatu yang aku cintai dari perbuatan yang aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga aku mencintainya. Ketika aku mencintainya, aku menjadi telinganya dengannya ia mendengar; aku jadi matanya dengannya ia melihat; aku jadi tangannya dengannya ia memegang dgn keras; aku jadi kakinya dengannya ia berjalan. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanku ketika hendak merenggut jiwa hambaku yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya padahal itu sebuah keharusan” (HR. Bukhori)

Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim, janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka yang tertimpa mushibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah mereka mengirimkan pesan pertolongan.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan diri. Rasa kasih sayang dan pemaaf kita bisa kemudian mengkristal dalam diri kita. Mari kita belajar menjadi pemaaf yang baik dari Yusuf Ash-shiddiq as. Saat saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke dalam sumur setelah sebelumnya sempat berniat untuk membunuhnya, kini berada di hadapannya. Ketika beliau sedang berada dalam kemuliaan yang diberikan Allah. Di hadapan Bapak dan Bibinya serta saudara-saudaranya ia pun menyenandungkan syukur.

« وَقَالَ يَا أَبَتِ هَـذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي » (يوسف: 100)

Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dulu. Sesungguhnya Tuhan telah menjadikannya kenyataan. Dan sesunggunya Tuhan telah berbuat baik padaku, ketika Dia membebaskanku dari penjara dan ketika membawa kalian dari gurun pasir setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku

Sungguh lembut hati dan perasaannya. Beliau tak mengatakan “idz akhrajani minal jubb” (ketika mengeluarkanku dari sumur) tapi yang beliau sebutkan adalah idz akhrajani minassijn (ketika membebaskanku dari penjara). Padahal kesalahan saudaranya sangatlah besar, tapi beliau tak sedikitpun menyimpan dendam, bahkan untuk sekedar menyebut perbuatan jahat itu sekali-kali beliau sangat menghindarinya.

Mampukah kita menjadi seorang pemaaf yang ikhlas & sanggup menjadikan masa lalu seperti debu yang dihembus angin maaf dan komitmen persaudaraan.

إِن تُبْدُواْ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُواْ عَن سُوْءٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (النساء : 149)

Di akhir ayat ini disebut ”Afuwwan Qadiran”. Ini sangat menarik sekali (kata maaf disandingkan dengan kekuasaan). Imam al-Alusy menyimpulkan pendapat al-Kalby. Allah yang maha pemaaf dan kuasa memaafkan kesalahan kita padahal Dia sanggup berbuat apa saja terhadap orang yang menzhalimi kita demikian terhadap kita.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di hari kemenangan cinta ini selayaknya kita senandungkan tahmid, tasbih dan takbir kepada Dzat yang serba maha, dari lubuk hati kita yang terdalam dan diikuti oleh amal perbuatan. (i’malu ala dzawuda syukro) Surat Saba’: 13.

Selesainya bulan Ramadhan bukan berarti misi meraih ketakwaan telah berakhir. Karena justru mempertahankan kualitas ketakwaan ini sangatlah berat. Apalagi jika kita mampu meningkatkannya, tentu merupakan prestasi yang luar biasa. Di bulan Ramadhan sesuatu yang bernilai lebih menjadi patokan dan nilai standar. Lihatlah: puasa, tilawah al-Qur’an, qiyam, menahan diri, mengendalikan nafsu. Ini menjadi standar. Untuk meraih nilai lebih masing-masing kita meningkatkannya dengan kualitasnya. Karena dari segi kuantitas mungkin bedanya tipis. Semua kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Tapi tak semua kita mampu meraih kualitas yang sama. Demikian pula qiyam (baik tarawih ataupun shalat tahajud). Coba lihatlah masjid dari sejak shubuh sampai shubuh lagi. Jumlah pengunjungnya berlipat dari hari biasa. Demikian juga al-Qur’an, masing-masing berusaha minimalnya mengkhatamkan sekali, ada yang dua, tiga dan seterusnya. Bahkan ada yang baru mulai menghafal atau menambah hafalan. Ada yang menjadikannya momentum untuk belajar membaca al-Qur’an. Di antara 29/30 malam di bulan ini Allah melebihkan nilai satu malam dari nilai 1000 bulan. Yaitu malam yang bersentuhan dengan kemuliaan dan keberkahan al-Qur’an. Tentu orang-orang beriman berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik nilainya dari 1000 orang yang tak pernah bersentuhan dengan al-Qur’an.

Alangkah indahnya jika nilai standar masyarakat seperti ini. Jujur, sabar, pandai menahan diri dan mengendalikan nafsu, disiplin, dermawan. Maka menjadi orang-orang pilihan dalam masyarakat seperti ini sangatlah luar biasa. Inilah puncak peradaban umat yang digambarkan al-Qur’an, tokoh-tokohnya adalah Ibadurrahman (Hamba-hamba Sang Maha Penyayang) yang sangat mendambakan kondisi ideal tersebut, melalui doa dan pengharapan mereka:

«وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا»

Dan orang-orang yang berkata: wahai Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penenang hati dan jadikan kami pemimpin orang-orang bertakwa” (al-Furqon:74). Menjadi pemimpin orang-orang bertaqwa adalah impian setiap kita.

 

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah 

Karena itu pengorbanan kita di bulan Ramadhan jangan pernah kita sia-siakan. Mata kita, kita biarkan menahan kantuk untuk melakukan shalat malam. Perut kita, tenggorokan, mulut, bahkan nafsu dan syahwat kita. Semua kita tahan dengan baik. Apakah setelah ini kita mencoba untuk melepaskannya kembali?

Tidak sayangkah kita dengan anyaman kesabaran yang kita selama sebulan.  Menahan lapar dan dahaga di musim panas yang cukup melelahkan. Bukankah ini sebuah pengorbanan. Siapa yang tahu kalau kita pura-pura berpuasa padahal bisa saja kita minum di tempat tersembunyi untuk menghilangkan dahaga dan haus kita? Tak salah jika bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan. Ibnu Mandhur dalam magnum opusnya ”Lisanul Arab” mengatakan bahwa bulan ini dinamakan Ramadhan sebab tenggorokan orang yang berpuasa terasa kering dan panas karena menahan haus dan dahaga. Akar katanya berasal dari ”ramadha” yang berarti sangat panas. Saat ini kita berpuasa di bulan Ramadhan yang sesungguhnya, meski di penghujung musim panas.

Selama itu pula, di bulan ini kita menganyam kejujuran, kedisiplinan, kepekaan dan solidaritas sosial. Lantas alasan apakah yang membuat kita hendak mengurai anyaman yang mulai menguat? Orang yang melakukan hal ini seperti halnya seorang perempuan bodoh yang mengurai anyamannya.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أنكاثا …

Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (Surat Annahl: 92)

Lihatlah, para sahabat Nabi saw selama enam bulan pasca Ramadhan selalu berdoa supaya amal yang mereka kerjakan di bulan Ramadhan diterima oleh Allah karena mereka mengetahui kualitas pahala dari Allah serta keberkahan bulan mulia ini. Enam bulan setelahnya mereka pun berdoa dan berharap supaya dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Mengapa persiapan tersebut perlu sejauh itu? Pernahkah kita berpikir atau setidaknya terlintas dalam benak kita. Vanus-nanus (lampu-lampu khas Ramadhan) kapan dibuat? Sebagian buatan China? Kapan mereka mengirimnya ke Mesir. Belum lagi sinetron dan film-film yang diputar sepanjang bulan Ramadhan. Kapan dibuat dan kapan disiapkan?

Jika para pedagang, bisnisman dan insan perfilman mempersiapkan dari jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, laikkah kita sebagai pelajar/mahasiswa yang mendalami ilmu agama atau pegawai atau pedagang atau siapa saja yang berada di negeri muslim ini bahkan mungkin terlambat menyadari kedatangan bulan suci Ramadhan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Bulan Ramadhan adalah benar-benar bulan kemenangan. Perang eksistensi, Perang Badar Kubra terjadi di bulan ini. Demikian juga Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Ramadhan bukanlah waktu untuk bermalas-malasan. Kita juga harus menyadari dahsyatnya konspirasi terhadap Islam. Isu terorisme yang dihembuskan bisa jadi akan berimbas marginalisasi kembali umat Islam yang pelahan mulai bangkit. Stigma negatif ini diharapkan mampu menggertak umat Islam supaya mempersempit makna keberagamaan mereka. Bahwa beragama yang baik berada di dalam masjid saja. Di luar itu agama tak perlu dibawa-bawa. Syubhat dan serangan pemikiran seperti ini akan mengebiri potensi kekayaan alam negeri kita yang sangat luar biasa. Tapi karena para pengelolanya kurang professional dan tidak jujur maka bangsa kita beberapa kali mengalami kebangkrutan. Demikian juga orang-orang pandai dan pintar di negeri kita tidaklah sedikit. Tapi sebagian diantara mereka terserang penyakit pragmatisme yang hanya mau tau diri sendiri dan memikirkan kepentingan pribadi. Dengan tambahan serangan stigma terorisme maka lengkaplah marginalisasi tersebut.

Namun kita tak perlu reaksioner menanggapi hal ini. Yang kita lakukan adalah dengan terus mendalami sekaligus menampilkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Karena Islam –demikian jug agama yang lain- sangat memerangi kekerasan dan penindasan. Kisah Musa dan Fir’aun yang paling sering diulang dalam al-Qur’an menjadi bukti bahwa Islam sangat anti dengan kezhaliman dan rezim kesewenang-wenangan.

 Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di bulan ini kita belajar berbagi. Antara si kaya dan si miskin. Di bulan ini kita dilatih untuk bersatu. Semuanya disuruh untuk membatalkan puasa begitu matahari tenggelam. Dan semuanya diharamkan untuk makan dan minum begitu adzan shubuh dikumandangkan. Maka saatnya kita cari titik-titik yang bisa menyatukan kita dan kita toleran dalam hal-hal yang mengharuskan kita berbeda. Di bulan ini kita kita dididik untuk mi’raj ke langit setelah selama sebelas bulan badan kita lebih menyukai berbaring di atas bumi. Di bulan ini kita perbanyak menengadah dengan penuh kekhusukan. Kepala kita, simbol kemuliaan; dibulan ini kita perbanyak untuk didekatkan ke bumi, bersujud pada Sang Maha Perkasa. Tak lain hanyalah untuk mengingatkan bahwa kelak di hari kiamat tak ada yang bisa kita andalkan selain tabungan amal kita.

Coba kita ambil pelajaran dari kisah Nabi Yusuf ketika menakwil mimpi Raja Mesir, datang 7 tahun kemakmuran yang diikuti 7 tahun paceklik yang akan menimpa negeri Mesir dan sekitarnya. Apa yang diandalkan orang-orang Mesir pada musim paceklik? Tentunya sikap dan pola hidup di 7 tahun yang penuh kemakmuran sangat membantu di masa-masa sulit yang akan datang berikutnya.

Seandainya Allah memberi kita kesempatan untuk hidup 60-70 tahun sanggupkah kita menyiapkan diri untuk menempuh keabadian nasib kita yang tidak kita ketahui di hari pembalasan kelak. Orang yang cerdas akan pandai merencanakan dengan baik dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang menjauhkannya dari tujuannya yang sesungguhnya.

Untuk memahami singkatnya hidup kita bisa kita lihat dari apa yang kita alami atau kita lihat fenomena di sekeliling kita. Saat sang bayi dilahirkan orang tuanya mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Saat kemudian ia mati ia dishalatkan orang-orang tanpa didahaului dengan adzan dan iqamah. Jadi ia mengarungi hidup, bagaikan orang yang akan shalat setelah iqamah dan menunggu imam bertakbiratul ikhram. Sungguh sangat singkat.

Dan nanti di hari kiamat tak lagi didengar alas an dan udzur ataupun rasionalisasi kesalahan dan dosa orang-orang zhalim. Karena pintu taubat dan amal telah benar-benar tertutup. Dan saatnya pembalasan akan segera dimulai setelah pengadilan benar-benar ditegakkan dengan transparan.

Maka hari-hari kita di dunia mestilah istimewa dan selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Imam Hasan bin Ali mengatakan : من كان يومه كأمسه فهو مغبون

Barangsiapa yang (kualitas) harinya sama dengan kemarin maka ia tertipu

Senada dengan apa yang dikatakan oleh Anthony Robbins “I challenge you to make your life a masterpiece. I challenge you to join the ranks of those people who live what they teach, who walk their talk.” Saat benar-benar kita realisasikan kita akan menjadi manusia yang bermanfaat buat sesama seperti sabdanya ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari ini Bulan Syawal menyambangi kita, artinya bulan Ramadhan telah pergi. Ada banyak materi short course yang kita dapatkan selama sebulan. Jujur, disiplin, sabar, toleran, bersyukur, bersedekah, tekun dan lain sebagainya. Dan satu hal yang menjadi tema pokok kita pagi ini, yaitu belajar memaafkan.

Sebelum khatib akhiri khutbah, sejenak kita simak kisah dua orang sahabat yang sedang bermain dan bercengkrama di tepian sebuah danau. Dalam suatu kesempatan terjadi perselisihan yang berakibat salah seorang diantara mereka menampar sahabatnya. Sang sahabat terkejut, ia kemudian berlari ke arah danau. Kemudian ia menuliskan sesuatu di atas pasir ”hari ini sahabatku menamparku”. Kemudian keduanya asyik dengan diri sendiri. Orang yang menampar segera menjauh, ia mengambil kail dan melemparkan ujung senar ke dalam danau. Pikirannya berkelana ke mana-mana, mungkin ia menyesali perbuatannya. Sementara sahabatnya lebih memilih mendinginkan badan dengan berendam dan berenang di danau. Mendadak kakinya kram, sementara ia semakin ke tengah. Ia hamper tenggelam. Segera ia berteriak minta tolong dengan keras. Tanpa pikir panjang sang sahabat melempar kailnya dan segera meluncur menyelamatkan sahabatnya. Setelah siuman, sang sahabat segera mencari batu yang cukup besar, kemudian ia menuliskan sesuatu di atasnya ”hari ini sahabatku telah menyelamatkanku”. Sambil keheranan ia bertanya pada sahabatnya. Kenapa tadi engkau menulis di atas pasir dan sekarang menulis di atas batu. Sambil tersenyum sahabatnya membalas, ”Tadi, bukan hanya fisikku yang sakit, hatiku juga sangat sedih. Tapi aku ingin segera melupakan mengusir perasaan ini dan melupakannya maka aku tulis di atas pasir. Kuharap bersamaan ombak yang menghapusnya kesedihanku pun sirna. Sementara saat engkau menyelamatku saat aku akan karam aku sangat bahagia dan berterimakasih. Aku ingin mengingatnya sepanjang masa, aku menulisnya di atas batu agar tak hilang”.

Inilah pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Sudahkah kita mampu memaafkan dengan baik. InnalLâh kâna afuwwan qadîran.

Karena kemenangan yang hakiki yaitu tatkala kita bisa mengalahkan nafsu dan ego kita. Kemenangan hakiki terjadi ketika kezhaliman tak mendapat ruang di negeri kita. Ketika negeri kita benar-benar terbebas dari segala bentuk penjajahan. Kita songsong kemenangan dengan terus memperbaiki diri dan berkorban.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسَلِّمْ . اللهمّ إنّا نسألُك بأسمائِك الحسنى وصفاتِك العلى ، نسألُك بكلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سمّيْتَ به نفسَك، أو أنزَلته في كتابك، أو علّمته أحداً مِنْ خلقِك، أو اسْتأثرْتَ بِه في علم اْلغيب عندَك أن تجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا وجلاء همومنا. أللهمّ انصر المسلمين وفرّجْ كربَهم واقضِ حاجاتِهم. اللهمّ اغفر لنا ذنوبنا ولوالدَيْنا ولجميع المسلمين والمسلمات. اللهمّ إنّا نسألك فعلَ الخيرات وتركَ المنكرات وحبَّ المساكين. اللهمّ إنك عفو تحب العفو فاعف عنا. اللهمّ آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها. اللهمّ يا سامع الصوت وياسابق الفوت ويا كاسيَ العظام لحماً بعد الموت، ارحمنا برحمتك إذا صِرنا إلى ما صار الأموات إليه تحت الجَنَادر والتراب وحدنا. اللهّم تقبل منا الصيام والقيام وقراءة القرآن. اللهمّ اعتق رقابنا من النار يا عزيز يا غفار.

Ya Allah, sejukkan dan lembutkan hati kami. Gantikan kesedihan saudara-saudara kami yang tertimpa musibah gempa, banjir, perang serta bencana lainnya. Gantilah  dengan ketenangan. Jadikan pagi ini sebagai kebahagiaan mereka. Sirnakan rasa takut di hati mereka. Dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan dan keimanan pada-Mu.

Wahai yang maha agung yang maha mendengar engkau. Engkau yang maha tahu yang apa yang kami perbuat. Ampuni jika selama ini kami tidak mengenal-Mu ya Allah. Ampuni jika kelebihan yang Engkau titipkan membuat kami takabbur. Ampuni jika yang Engkau karuniakan membuat kami riya dan sombong. Bukakan hati kami ya Allah agar kami lebih dapat mengenal-Mu.

Karuniakan kami taubat dan kesungguhan memperbaiki diri. Jadikan kami hamba yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk-Mu. Pilihlah kami jadi jalan kecukupan bagi hamba-Mu yang fakir. Tunjuklah kami jadi cahaya bagi hamba-Mu yang kegelapan. Pilihlah kami menjadi jalan kebahagiaan bagi hamba-hamba-Mu yang nestapa. Tunjuklah kami menjadi jalan perlindungan-Mu bagi hamba yang teraniaya. Kami berharap hidup yang sekali-kalinya ini dapat mempersembahkan yang terbaik, semata-mata karena Engkau, bukan karena ingin pujian atau kedudukan di sisi makhluk-Mu. Jangan biarkan kami menipu diri sendiri dengan menshalih-shalihkan diri di hadapan makhluk-Mu. Jangan kau murkai kami karena kelalaian menunaikan hak-hak-Mu

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, usirlah kegundahan dari jiwa kami.Ya Allah, lindungilah kami dari konspirasi, makar dan tipu daya musuh-musuh-Mu. Tukjukkanlah kekuasaan-Mu dihadapan mereka. Hindarkan-lah kami dari perselisihan, dengki, iri, dan saling menjatuhkan di antara kami. Satukan hati kami, tautkan kalbu kami.

Kami berlindung kepadamu dari setiap rasa takut yang mendera, hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakkal.

Tuhan yg mendengar jangan Kau biarkan kami terfitnah. Engkau yang meng-genggam diri kami. Selamatkan negeri kami. Pilihlah para pemimpin negeri kami yang menjadi tauladan bagi kami. Para pemimpin yang penuh kasih sayang, tulus dan bening hatinya. Engkau Maha Tahu. Berkahilah pertemuan ini catatlah mereka yang hadir menjadi hamba yang sangat Kau sayangi. Maafkan dosa-dosa kami. Ampunkan kebodohan kami yang tak jemu mendurhakai-Mu. Yang tak jera berbuat dosa.

 

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين

تقبل الله منا ومنكم وكل عام وأنتم بخير وإلى الله أقرب وعلى طاعته أدوم

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 Cairo, 1 Syawal 1430 H

          20 September 2005 M

KBRI Cairo – Masjid Assalam, Distrik 10, Nasr City-Cairo

Oleh: saiful bahri | September 9, 2009

SENTUHAN BERKAH

SENTUHAN BERKAH

Sungguh seorang yang menghamba pada Yang Maha Mulia akan ikut mulia. Karena Yang Mulia memberikan kemuliaan-Nya dengan berkah kasih sayang dan cinta serta ampunan-Nya terhadap kesalahan dan kekhilafan.

Di awal bulan istimewa-Nya Allah menurunkan kasih sayang untuk para pemburu cinta-Nya. Saat sepuluh hari pertama lewat dan seandainya Dia mengumumkan daftar nama orang-orang yang dirahmati-Nya, apakah nama kita termasuk di dalamnya? Kita pun segera memasuki peluang hari berikutnya untuk memburu ampunannya, mencari maghfirah-Nya.

Sepuluh hari kedua pun telah lewat. Seandainya Allah mengumumkan list nama-nama yang diampuni oleh-Nya, apakah nama kita ada di sana? Tak ada yang berani menjawabnya.

Saat ini, kita memasuki etape terakhir pembekalan ini. Rute tersulit yang di dalamnya–kadang–orang telah kehilangan konsentrasi. Sebagian justru jauh berpikir duniawi ke depan, bagaimana mempersiapkan keadaan setelah puasa. Padahal Ramadhan belum benar-benar meninggalkan kita.

Ini merupakan babak final yang menjadi akibat dari dua level sebelumnya. Rahmah dan kasih sayang Allah membawa ampunan untuk para hamba-Nya. Seandainya ia merasa belum maksimal merasakannya, ia akan memburu ampunan tersebut. Dan ampunan tersebutlah yang membawa pembebasan dari kemurkaan-Nya yang dahsyat. Pembebasan dari api neraka.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan”. (QS. 97:1)

Allah menurunkan Al Qur’an pada sebuah malam yang mulia yang “… lebih baik dari seribu bulan” . (QS. 97:3)

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh mahfuzh-Nya.

Malam yang hanya bersentuhan sesaat saja dengan Al Qur’an, nilainya digandakan Allah lebih baik dari 30.000 malam yang tidak bersentuhan dengan lailatul qadr tersebut.

Betapa beruntungnya malam itu. Lebih beruntung lagi, bagi mereka yang menggunakan kesempatan ini. Bagi para pemburu kebaikan seribu bulan, pasti dijadikan sebuah peluang emas untuk menutupi keterbatasan dua etape sebelumnya di 20 hari yang telah lewat.

Lantas bagaimana dengan seorang mukmin yang tenggorokannya dilewati oleh huruf-huruf Al Qur’an. Tentu tenggorokan tersebut lebih baik dari tenggorokan-tenggorokan lainnya. Satu hurufnya saja diberi insentif ukhrâwi berupa sepuluh kebaikan. Ada berapa huruf di dalamnya. Telinga yang mendengarkannya, lebih baik dari telinga yang menjauh darinya. Mata yang membacanya, lebih baik dari mata yang menghindarinya. Dan mata ini menjadi akumulasi ketiganya… ia meneteskan air mata karena mendengarkan, melihat dan membacanya. Air mata kesyahduan. Ada ketakutan di sana. Ada pengharapan. Ada kenikmatan. Ada seribu ada, tak terungkap dengan kata-kata. Sungguh, tetesan itu hanya dinikmati oleh mereka yang sanggup meneteskan air mata; sedang orang disekelilingnya keheranan mengapa hal itu bisa terjadi.

Itulah kenikmatan bersentuhan dengan keberkahan. Bagaimana seorang mukmin yang seluruh hidupnya selalu bersentuhan dengan Al Qur’an. Dadanya menjaga dan menghafalnya. Perilakunya mencerminkan keberkahan itu. Sungguh, orang seperti ini lebih baik dari seribu orang yang tak pernah bersentuhan dengan keberkahan itu.

Abu Musa al Asy’ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur’an bagaikan buah Tamr, tak ada baunya dan rasanya manis….” (HR. Bukhari Muslim)

Menurut berbagai riwayat malam keberkahan tersebut terjadi di sepuluh hari terakhir ini, di etape terakhir madrasah pembekalan ini. Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, ”Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, “Rasulullah Saw. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan keluarganya” (HR.Ahmad)

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari. Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu.

Pemburu seribu bahkan tiga puluh ribu keberkahan…

Syeikh Mubarakfuri mempunyai analisis yang bagus, berkenaan dengan malam keberkahan tersebut. Di hari ke berapakah Al Qur’an turun pertama kali kepada Rasulullah Saw.?

Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, mengapa beliau sering berpuasa pada hari Senin. Beliau menjawab karena pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku menerima wahyu dari Allah untuk pertama kali.

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa al Qu’ran diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dinashkan Al Qur’an dan Hadits. Allah telah mengabadikan hal itu “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…”. (QS. 2:185). Berikutnya Allah menegaskan lagi, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. (QS. 44:3)

Pada bulan Ramadhan tahun itu, hari Senin terulang sebanyak empat kali. Yaitu pada tanggal ke 7, 14, 21, dan 28. Dalam hadits-hadits nabawi dianjurkan untuk mencari lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan ada yang lebih spesifik lagi, yaitu pada hari-hari ganjil. Dengan demikian, lailatul qadr terjadi pada malam ke 21. Karena 7, 14 dan 28 tidak memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan dalam gabungan hadits-hadits yang ada. Lantas benarkah, malam keberkahan tersebut terjadi pada hari itu. Allahu a’lam. Sangat banyak pendapat yang mengatakannya. Ada yang menjadikan bulan Ramadhan secara umum. Ada yang mengkhususkan pada sepuluh hari terakhir. Ada yang mengkhususkan lagi pada hari-hari ganjil di sepuluh hari tersebut. Ada yang berpendapat pada hari 27. Ada ….

Mengapa Allah merahasiakan malam keberkahan itu.

Sungguh hikmah Allah Swt. demi keseriusan hamba-hamba-Nya dalam berusaha. Kesungguhan dalam mencari malam keberkahan tersebut. Seandainya hijab dibuka dan malam tersebut diketahui siapa saja, kemungkinan besar hari-hari dan malam-malam lain akan ditinggalkan mereka yang malas.

Kesungguhan beribadah pada malam keberkahan tersebut tak lain adalah pemaknaan kepasrahan yang dalam dari seorang hamba yang menyerahkan segala-Nya pada Sang Pencipta.

Penghambaan yang terefleksi dalam kesungguhan beribadah dan totalitas penjiwaan di dalamnya. Ada kekhusyukan. Ada ketakutan. Ada pengharapan.

Kepasrahan dalam menerima cinta dan kasih sayang-Nya serta berharap atas keampunan-Nya terhadap kekhilafan manusiawi yang dilakukannya.

Masihkah setelah ini ada keraguan? Atau bahkan keputusasaan?

Sungguh, saatnya lah sekarang bagi kita untuk memburu hari pembebasan kita dari kemurkaan dan kemarahan Allah. Ya, karena kita telah memiliki cinta-Nya. Yakinlah itu. Kita sedang memburu ampunan-Nya. Dan kemudian pembebasan itu benar-benar diberikan kepada kita. Saatnya sudah dekat. Jangan kita jauhkan dengan kelalaian, kesalahan bersikap, keteledoran dan berbagai kebodohan. “Wahai pemburu kebaikan gunakan kesempatan ini, wahai pemburu dosa berhentilah”.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. (QS. 55:13)

SAIFUL BAHRI

Oleh: saiful bahri | September 9, 2009

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

KETIKA TETESAN ITU TERHENTI

“Maukah kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa?” Tanya seorang syeikh kepada audiens yang ada di depannya.

Kontan saja mereka mengiyakan. Hanya saja–entahlah–jawaban itu tak terlihat keluar dari lubuk terdalam. Justru terasa pertanyaan yang aneh. Siapa sih yang tak mau?

Syeikh menuturkan sebuah kisah pengalaman hidup seorang tâbi’iy.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga mekar tersenyum menebar aroma. Sinar matahari menyambangi pelataran rumput menghijau. Banyak sapi dan unta di sana. Ternak milik Abdullah bin Jad’an, salah seorang tabi’in yang shalih, zuhud meski dengan gelimang harta yang cukup melimpah. Ia tersenyum. Kemudian memandang langit. Cerah sekali, sejernih isi hatinya yang melantunkan gema syukur kepada Allah, Sang Pemurah. Sang Pemberi Rizki telah mengaruniainya nikmat yang berbilang namun tak terhitung. Keluarganya sehat wal afiat serta ternaknya berkembang pesat. Bahkan, ia melihat banyak dari unta-unta betina melimpah cadangan susunya.

Pelahan ia mendekati unta terbaiknya. Unta betina yang gemuk dan melimpah susunya itu segera diambil dan diberikan kepada tetangganya yang fakir.

Sang tetangga pun bahagia. Ia dan keluarganya tak hanya bisa meminum susu tapi bisa langsung memerahnya dari sumber aslinya. Bahkan bukan hanya itu, ia pun bisa saja menyembelihnya dan mengambil dagingnya. Hanya saja tetangga tersebut lebih suka memelihara unta pemberian Abdullah. Sebagai bukti dan tanda kasih sayang serta solidaritasnya yang tinggi.

Hingga …

Putaran waktu pun berjalan. Alur dan cerita kehidupan berganti. Musim paceklik dan kekeringan pun datang. Sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengganti hari-hari-Nya.

Kedatangan musim ini pun tak pandang derajat dan kedudukan. Ia sambangi semuanya. Tak terkecuali Abdullah bin Jad’an, hamba Allah yang shalih dan zuhud itu.

Suatu ketika ia bersama kedua anaknya berjalan mencari air bersih untuk keperluan keluarganya. Hingga mereka bertiga sampai pada sebuah sumur yang sangat dalam. Abdullah yakin bahwa sumur tersebut masih berfungsi. Ia meyakinkan kedua anaknya, masih ada air dalam sumur itu. Bahkan ia pun yang akhirnya turun untuk mengambil air itu.

Abdullah merasakan bahwa sumur itu sangat dalam. Ia merasakan kegelapan yang sangat. Sesampai di dasar sumur, ia pun meraba-raba seraya menemukan tanah basah yang berair. Meski tak banyak. Namun, apa daya, suasana demikian gelapnya sehingga ia pun tak tahu apa yang ada di sekelilingnya. Sedang jarak ke atas pun sangat jauh. Suaranya tak cukup keras untuk di dengar oleh kedua anaknya. Ia tak mampu lagi meneruskan usahanya untuk mencari jalan kembali ke atas. Kegelapan itu benar-benar sangat pekat. Ia rebahkan badannya di dinding-dinding sumur.

Kedua anaknya yang sudah lama menunggu pun tak sabar. Matahari pun semakin mengecil hendak berpamitan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk meninggalkan ayah mereka. Mereka berpikir sang ayah telah meninggal karena tak sanggup kembali ke atas. Mereka segera bergegas kembali ke rumah dan bermaksud menghitung kekayaan ayah mereka; hendak di bagi dua. Namun, mereka mengingat ada seekor unta yang pernah diberikan ayah mereka pada tetangganya. Harta mahal ini–menurut mereka–mesti diambil kembali.

Mereka berdua segera mendatangi tetangga tersebut dan meminta kembali unta pemberian sang ayah. Sang tetangga pun tak terima dengan perlakuan yang tak berbudi tersebut. Bahkan keduanya mengancamnya jika tak mau memberikan unta tersebut.

“Akan kuadukan tingkah laku kalian ini kepada ayah kalian!” sang tetangga mengeluh.

Kedua anak Abdullah tertawa.

“Adukan saja! Bapak sudah meninggal!”

Kontan saja sang tetangga kaget.

“Apa yang kalian katakan?” ia bertanya sekali lagi

“Ya, Bapak sudah meninggal empat hari yang lalu?” keduanya menjawab.

“Tunjukkan padaku dimana ia meninggal dan di mana pemakamannya?”

Keduanya pun segera menunjukkan tempat ayah mereka terjebak. Dalam sebuah sumur yang cukup dalam.

Sang tetangga segera menuruni sumur tersebut. Sesampainya di bawah, ia pun meraba-raba, mencari jasad Abdullah. Ia segera menemukannya. Ia dekatkan lagi telinganya ke jasad tersebut. Ia masih mendengar tanda-tanda kehidupan. Segera… ia pun membawa Abdullah ke atas.

Usbû’ walam tamut… (Seminggu dan kamu belum mati)” tetangga tersebut keheranan.

Abdullah dibawa dan dirawat oleh tetangganya dengan baik. Beberapa saat setelah tubuhnya menghangat dan bangun dari ketidaksadarannya, sang tetangga segera ingin tahu kisah sesungguhnya.

Abdullah bertutur…

“Ketika aku sampai bawah aku menemukan air. Setelah aku meminumnya, aku baru sadar bawa aku harus kembali ke atas dan membawa air itu. Namun, aku tak kuasa melakukannya. Setelah berkali-kali aku mencoba akhirnya aku pasrahkan pada-Nya. Kusandarkan tubuhku di dinding-dinding sumur. Sehari dua hari kucukupkan dengan beberapa teguk air. Hari berikutnya tubuhku sangat lemah.

Tapi ada hal aneh yang ku alami. Aku memohon kepada Allah agar tubuhku kuat menahan semuanya. Ketika aku dahaga kurasakan ada segelas susu yang disodorkan ke mulutku. Aku meminumnya. Dan ketika aku kembali haus, tetesan susu itu sudah ada ditepi bibirku.

Kecuali sehari ini. Tetesan susu itu tak lagi kurasakan. Tetesan susu itu terhenti.”

Sang tetangga pun mengangguk. Tak dirasakannya tetesan air matanya membahasahi pipinya. Ya, ia tahu mengapa tetesan susu itu terhenti. Kedua anak Abdullah lah yang merampasnya.

…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”. (QS. 65:2-3)

*****

Itulah pengalaman Abdullah bin Jad’an seorang hamba-Nya yang bertaqwa. Sarat dengan keikhlasan dan tawadhu’. Sang syeikh kembali melontarkan pertanyaan yang dilontarkannya beberapa saat yang lalu. Kali ini audiens mengangguk-anggukkan kepala. Sungguh ketakwaan itu sangat manis akibatnya. Lantas mengapa kita enggan meraihnya.

Bukankah Allah memberi peluang dengan membuka madrasah pembekalan menuju ketakwaan. Hanya dibuka selama sebulan, tak lebih.

Ada sebuah analog sederhana. Seorang anak yang selalu saja kurang berhasil ditegur oleh orang tuanya.

Sang anak pun berapologi, ”Jika Ayah menginginkanku berhasil, Ayah mesti mendatangkan seorang guru privat yang mengajariku!”

Sang ayah pun mengabulkan permintaan anaknya. Setahun kemudian hasil yang dicapai sang anak tak menunjukkan adanya peningkatan yang berarti.

Dapatkah kita membayangkan apa yang dirasakan oleh sang ayah. Karena sang anak memang pemalas. Ia tak bisa lagi berapologi untuk kedua kalinya.

Walillâhi matsalul a’lâ. Bagaimana ketika kita menginginkan sebuah predikat ketakwaan. Kemudian kita meminta sarana pembinaannya. Allah mengabulkan dengan membuka madrasah-Nya. Apakah kita tak malu ketika usai madrasah ini kita belum menjadi seorang yang bertakwa? Sungguh, betapa lemahnya diri kita berhadapan dengan hawa dan nafsu.

Khalîfah Umâwiyah Sulaiman bin Malik pernah bertandang ke Madinah hanya untuk mencari tahu jawaban dari dua pertanyaannya. Tak dijumpainya sahabat Nabi Saw. satu pun. Yang ada hanya seorang tabi’iy yang sudah lanjut. Satu dari dua pertanyaan tersebut: Mengapa kita sangat betah untuk tinggal di dunia ini?

Sang tabi’iy menjawab, ”Karena kita lebih mencintai rumah yang kita bangun di dunia yang hanya dihuni sementara dari pada rumah kita di akhirat yang kita huni selama-lamanya.”

Jutaan bahkan dengan milyaran, kita bermegah-megahan mengumpulkan harta dan membangun istana. Menghiasnya. Memenuhinya dengan perabot mewah. Supaya terlihat indah dan nyaman. Bagaimana kita tak betah dan mencintainya. Kita tak sadar rumah seperti ini maksimal hanya kita huni selama kurang lebih 60,70,80 tahun.

Kita lupa bahwa kita harus mempersiapkan rumah kita di akhirat dengan tabungan amal shalih. Maka dengan perbandingan seperti ini saja ketika seserang yang cinta dunia ditawari: Maukah Anda menghadap Allah sekarang? Ia pun akan segera mengelak, ”Aduh, saya belum siap!”

Madrasah pembekalan ini belum tutup masih ada waktu untuk memperbaiki diri.

Kembali saya ingin melontarkan pertanyaan,”Maukah kita menjadi orang bertakwa?

SAIFUL BAHRI

Oleh: saiful bahri | September 9, 2009

PERSIMPANGAN CINTA

PERSIMPANGAN CINTA

Perputaran waktu yang terjadi–sungguh–sangat cepat. Belum lama kita menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.

Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu hanya tinggal kenangan.

“Sepertiga pertamanya rahmah” demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan barakah ini.

Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan “Dengan menyebut asma Allah yang Rahman dan yang Rahim”. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang mukmin,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Rahmah yang menjadi sebab kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al-`asmâ’ al-husnâ.

Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta dan kasih sayang-Nya.

Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersama-sama muhasabah.

Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita. Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita.

Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian. Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan?

Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang di langit”… dan malaikat pun akan menyayangi kita.

Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi”. Bila kita tak pernah mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani ‘mengemis’ cinta-Nya. Sungguh, sangat malu.

Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta. Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayat-ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.

Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?

Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang berputus asa.

Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam kesibukan”.(QS.55:29)

Allah selalu sibuk. Setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit. Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya pencuri.

Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim. Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang dizhalimi. Mendengar kepanikan mereka yang dikejar-kejar kezhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah.

Disamping itu dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya.

Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janji-Nya,”… Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. 2:186)

Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah  benar-benar ada di hadapan kita. Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah?

Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya. Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.

“… dan tengahnya adalah maghfirah” demikian Rasulullah Saw. menyambung keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta. Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba ghaib dan menjadi rahasia Allah.

“Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikan-Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hari-Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka-Mu”

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)

SAIFUL BAHRI

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.